Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Alkisah raja Paramarta, Prabu Kusumaatmaja mempunyai dua orang putra dari dua permaisuri. Pangeran tertua bernama Pancakusuma, sementara adiknya diberi nama Wijayakusuma.
Sejak kecil, mereka dididik berbagai strategi perang, cara berkuda sambil menombak atau memanah, hingga bagaimana menjadi telik sandi yang mumpuni. Kedua pangeran ini juga diajari ilmu-ilmu pemerintahan, tata negara, dan diplomasi antar kerajaan.
Ketika beranjak dewasa, Pangeran Pancakusuma mulai merasa iri kepada adiknya karena selalu mendapat predikat unggul pada semua mata pelajaran. Tidak hanya itu, hampir semua rakyat Paramarta menginginkan Pangeran Wijayakusuma kelak meneruskan tahta kerajaan. Sifatnya yang ramah, rendah hati, dan tidak segan berbaur dengan rakyat jelata, membuat Wijayakusuma dicintai banyak orang.
Pangeran Pancakusuma merasa dirinyalah yang paling berhak naik tahta karena statusnya sebagai pangeran tertua. Karena itu, muncul ide jahat dalam kepalanya untuk mencoreng nama baik Wijayakusuma. Dia mengatur strategi seolah-olah adiknya itu telah menodai seorang gadis. Dengan demikian, dia dapat mengambil kesempatan meneruskan tahta kerajaan tanpa ujian kelayakan.
Sebagai raja yang adil, Prabu Kusumaatmaja menjatuhkan hukuman penjara kepada putra bungsunya. Tentu saja setelah melewati persidangan dan keterangan para saksi, yang tiada lain simpatisan Pangeran Pancakusuma. Wijayakusuma yang dikenal baik dan ramah itu ditempatkan di penjara khusus bawah tanah.
Terjeblosnya Pangeran Wijayakusuma ke dalam bui, memantik huru-hara di segenap penjuru Kerajaan Paramarta. Mayoritas rakyat yang merupakan pendukung Wijayakusuma, tidak percaya begitu saja pangeran berbudi baik dan paras rupawan itu berbuat nista. Sementara pendukung Pancakusuma terus mengembuskan isu-isu tak sedap agar Wijayakusuma kehilangan perbawanya.
Satu tahun lamanya Paramarta dirundung perang dingin. Kedua kubu terus berseteru membela jagoannya. Kemelut di negeri itu kian pelik ketika penyakit merebak di mana-mana. Demam tinggi disertai kulit melepuh begitu cepat menular. Tabib-tabib andal tidak mampu menanggulanginya.
Suatu malam, sang prabu bermimpi wabah akan segera berakhir jika Paramarta mempunyai mestika Zamrud Khatulistiwa. Dalam mimpinya, orang yang terjangkit penyakit itu sembuh seketika setelah meminum air rendaman mestika tersebut.
Prabu Kusumaatmaja merasa mendapat wangsit dan memutuskan mencari mestika Zamrud Khatulistiwa. Konon, mestika itu ada di hutan larangan dan dijaga oleh dua makhluk yang belum diketahui benar bagaimana wujudnya.
Pagi harinya, tersiar kabar ke seantero negeri bahwa Prabu Kusumaatmaja menggelar sayembara. Semua laki-laki dikumpulkan di alun-alun. Barang siapa yang dapat menemukan dan membawa mestika Zamrud Khatulistiwa ke istana, maka akan diangkat menjadi keluarga kerajaan.
Akan tetapi, tidak satu pun laki-laki Paramarta di desa, kota, kaya, miskin, tua maupun muda yang menyanggupi permintaan raja. Bahkan di antara ribuan prajurit pasukan khusus, tidak seorang pun berani ambil risiko. Sejak dahulu, sudah banyak orang pergi ke hutan larangan dan tidak satu pun yang kembali. Mereka hilang bagai ditelan bumi.
Prabu Kusumaatmaja terduduk di atas singgasananya. Dia memejam dan memijat dahinya. "Kita harus bagaimana lagi, Patih? Semua laki-laki di kerajaan ini, masa iya tidak ada yang sanggup?!"
Patih Padmanegara hanya menunduk. Pikirannya melayang, mencari cara apa yang bisa dilakukannya untuk membantu raja.
"Mohon izin, bagaimana jika hamba sendiri yang pergi mencari mestika itu, Tuanku?" Patih Padmanegara menjura.
Sang Prabu menggeleng. "Jangan!"
"Tuanku tidak percaya lagi kepada hamba?" Patih Padmanegara masih dalam posisi menjura. "Kalaupun hamba tidak berhasil, setidaknya nyawa ini tidak hilang sia-sia, demi keselamatan negeri.'
"Bukan begitu. Perjalanan menuju hutan larangan tentu memakan waktu. Kau patih andalanku. Kalau kau pergi, siapa yang membantuku di sini?"
"Mohon maaf, Tuanku. Kalau tidak salah, ada satu orang lagi yang belum Tuanku tanyai." Patih Padmanegara mengangkat wajahnya.
"Siapa?" Sang Prabu mengerutkan keningnya.
"Putra Tuanku sendiri."
"Pancakusuma sudah paling dulu menyatakan tidak sanggup, Patih," sahut Prabu Kusumaatmaja dengan nada penuh penekanan. "Apa lagi yang harus kulakukan untuk menyelamatkan rakyat dari pagebluk yang semakin menggila ini?"
Patih Padmanegara kembali menjura. "Mohon maaf, Tuanku. Pangeran Wijayakusuma yang belum Tuanku tanyai."
"Ah, kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Sang prabu menepuk sisi singgasananya yang berukir. "Bawa dia menghadapku!"
"Perintah segera dilaksanakan, Tuanku!" pungkas Patih Padmanegara sebelum mundur perlahan dengan menyoja.
Patih Padmanegara bersama beberapa pengawal dan prajurit segera menjemput Wijayakusuma di penjara bawah tanah. Dengan tangan terikat, pangeran itu digiring menuju istana untuk menghadap raja.
"Hormat hamba, Ayahanda." Dengan tangan masih terikat di belakang, Wijayakusuma berlutut dan menunduk di hadapan raja.
Prabu Kusumaatmaja mengusap kepala putranya cukup lama. "Apa kabarmu, Nak?"
"Atas doa Ayah dan Ibu, hamba senantiasa dalam keadaan baik, tak kurang suatu apapun."
"Sudah tahu mengapa kupanggil engkau ke sini?"
Wijayakusuma menggeleng. "Ampun Ayah, tidak tahu."
Prabu Kusumaatmaja menarik napas dalam-dalam. "Begini, Nak. Negeri kita ini sedang dilanda wabah penyakit aneh yang belum pernah ada sebelumnya. Tiada lain penyebabnya karena kau telah berbuat kesalahan fatal. Maka dari itu, kau harus bertanggung jawab mengembalikan ketentraman Paramarta."
"Bagaimana caranya, Ayah?"
"Kau harus mengambil mestika Zamrud Khatulistiwa di hutan larangan, di sebuah goa yang belum diketahui benar letaknya. Apa kau sanggup?"
"Demi kebaikan Paramarta, nyawa pun sanggup kukorbankan, Ayah."
Bulu tengkuk raja seketika meremang. Dia takut kehilangan putranya. Namun, demi kedamaian Paramarta, dia berusaha keras mengesampingkan perasaannya sendiri.
"Pengawal, lepaskan dia!"
Wijayakusuma mengibaskan lengannya yang kesemutan. "Kapan aku harus pergi, Ayah?"
"Sekarang juga, Nak. Kau bawalah si Jatisura, kuda hitam kesayanganku!"
***
Berhari-hari Wijayakusuma menempuh perjalanan, melintasi hutan, bukit, dan menyeberang sungai. Hutan larangan tidak begitu jauh lagi ketika dia sampai di tepi sungai paling lebar dan deras yang ditemuinya sepanjang perjalanan.
Wijayakusuma menarik tali kekang pelan-pelan, dilihatnya hutan itu sangat rapat dan gelap. Dia melompat turun, menuntun Jatisura menembus pohon-pohon besar. Tanah yang dipijaknya terasa lembap. Dia menyapu pandangan ke segenap penjuru mata angin, hanya sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus sela-sela dahan.
"Hahaha ...." Suara tanpa rupa tiba-tiba membahana, lalu kembali hening tanpa meninggalkan gema.
"Hai, siapa di sana?" Wijayakusuma hanya mendengar pantulan suaranya sendiri. "Tampakkan wujudmu!"
"Ada keperluan apa kau datang ke sini, Hah?"
Wijayakusuma mencabut anak panahnya dan merentangkan busur. Dia menajamkan penglihatan, menyisir setiap celah-celah pohon.
"Aku hendak mencari mestika Zamrud Khatulistiwa."
"Simpan saja jemparingmu itu, Anak Muda!" Suara itu kembali terdengar bersama kemunculan dua yaksa hitam dan putih.
"Siapa kalian?" Wijayakusuma mengambil sikap waspada dan mundur beberapa langkah.
"Kami Yaksa Kresna dan Yaksa Seta, penjaga hutan ini. Kau menginginkan mestika Zamrud Khatulistiwa?"
"Aku memintanya dengan baik-baik untuk kebaikan negaraku. Tolong tunjukkan di mana mestika itu berada?"
"Mestika Zamrud Khatulistiwa ada di tempat kami. Tidak semudah itu kau mendapatkannya, Anak Muda!" ujar Yaksa Seta.
"Ya, kau boleh membawa pulang mestika Zamrud Khatulistiwa jika bisa mengalahkan kami berdua." Yaksa Kresna menghampiri Wijayakusuma sambil memutar-mutar tombak Baswara miliknya.
Wijayakusuma menambatkan Jatisura pada dahan pohon. Dia mengambil ancang-ancang, mengeluarkan jurus ilmu beladirinya. Yaksa Kresna terus menohok-nohokkan Baswara, dibantu Yaksa Seta yang menyerang tanpa menyentuh dengan ajian Upasanta. Satu dua terjangan berhasil dia patahkan.
Akan tetapi, pertarungan tidak seimbang membuat Wijayakusuma kehabisan tenaga. Ajian Upasanta mendorongnya mundur beberapa depa. Yaksa Kresna melembingkan Baswara. Mata tombak berbentuk bulan sabit itu menembus rongga jantung Wijayakusuma. Pangeran muda itu jatuh berlutut, memegangi dadanya yang terasa basah, hangat, dan nyeri. Kemudian, dia tersungkur dan tidak bergerak lagi.
Yaksa Kresna dan Yaksa Seta segera menghampiri Wijayakusuma yang tergeletak di tanah. Yaksa Seta berjongkok memeriksa tubuh pangeran itu, lalu mencabut Baswara yang masih menancap. Seketika itu juga, sebongkah hablur hijau kebiruan tersembul, terdorong cairan seperti susu yang memancar dari lubang luka Wijayakusuma.
Yaksa Seta terperanjat. "Darah putih ... dan ini sepertinya potongan mestika Zamrud Khatulistiwa yang hilang itu. Dia bukan orang sembarangan."
Yaksa Kresna turut berjongkok di samping jasad Wijayakusuma. Dia kemudian membalik kepala pangeran itu. "Sumping kecil di telinganya khas corak Kerajaan Paramarta," katanya. "Tidak ada bekas luka di tubuhnya. Jadi, selain kita, tidak ada yang mengetahui perihal darah putih ini."
"Ya." Yaksa Seta mengangguk. "Tapi, apakah dia Pangeran Pancakusuma atau Wijayakusuma?"
Yaksa Kresna mencabut badik di pinggang Wijayakusuma. "Jika dilihat dari badiknya, badik ini milik Pangeran Wijayakusuma."
"Ya, siapa pun itu, mari kita bawa dia! Kita cocokkan dua potong mestika ini."
Yaksa Kresna dan Yaksa Seta membawa Wijayakusuma ke pertapaannya. Jasad yang masih bergeming itu dibaringkan di atas dipan batu. Kemudian, Yaksa Kresna mengambil cupumanik tempat potongan mestika Zamrud khatulistiwa disembunyikan.
"Sangat cocok!" seru Yaksa Seta saat menyatukan kedua potong mestika itu. "Dialah pemilik asli Mestika Zamrud Khatulistiwa."
Yaksa Kresna mengangguk. "Jadi, bagaimana? Sekarang dia sudah mati. Kita telah melakukan kesalahan fatal."
"Kembalikan sepotong mestika ini ke dalam jantungnya!" perintah Yaksa Seta.
Yaksa Kresna segera menanamkan kembali mestika hijau itu ke dalam dada Wijayakusuma. Segera setelah menyentuh luka, darahnya yang berwarna putih menghisap mestika itu masuk ke dalam tubuh sang pangeran. Jika manusia berdarah putih menjadi raja, diyakini akan menjadi pemimpin yang bijaksana. Demikian kepercayaan masyarakat di banyak kerajaan.
"Mestikanya sudah masuk, dia juga sudah bernapas lagi, Seta."
"Sekarang cepat bersihkan bekas luka dan sisa darahnya dengan air Telaga Perwitasari. Dia tidak perlu tahu darahnya berwarna putih, agar tidak menjadi sombong dan jemawa!"
Tidak lama setelah Yaksa Kresna mengobati lukanya, kelopak mata Wijayakusuma mengerjap beberapa kali. Dia mengitar pandangannya. Kedua Yaksa melonjak senang.
"Pangeran!" Kedua Yaksa menyoja. "Kami mohon maaf!"
"Hai, tempat apa ini?" pekik Wijayakusuma seraya bangkit duduk di hadapan kedua Yaksa.
"Pangeran berada di tempat kami. Minumlah dulu air Telaga Perwitasari ini, supaya tenaga Pangeran pulih kembali!"
"Haaa, tidak mau. Jangan-jangan kalian mau meracuniku, ya?"
"Pangeran jangan risau. Setelah ini, Pangeran boleh membawa pulang mestika Zamrud Khatulistiwa," ujar Yaksa Seta sembari memperlihatkan cupumanik berisi mestika yang dicari.
Wijayakusuma bergumam takjub. Dia meraih benda itu dengan tangan bergetar karena kagum dengan pesonanya. Namun, Yaksa Seta segera menepisnya. Sang pangeran meraba pinggang, mencari badiknya.
"Ini badik dan panahmu, Pangeran." Yaksa Seta mengacungkan badik milik Wijayakusuma. "Sudah kubilang, minumlah dahulu air suci ini. Setelah tenagamu pulih, kau boleh pulang membawa mestika Zamrud Khatulistiwa."
Wijayakusuma meraih air dalam batok kelapa itu. Meskipun masih dibayangi keraguan, dia meminumnya juga demi mendapat mestika yang diminta sang ayah. Kesegaran perlahan-lahan kembali menjamah sendi-sendi tubuhnya.
"Bagaimana, Pangeran?"
"Ya, sekarang aku percaya kalian."
Yaksa Seta menyerahkan cupumanik itu kepada Wijayakusuma. "Tahukah Pangeran, mengapa mestika itu diberi nama Zamrud Khatulistiwa?"
Wijayakusuma menggeleng sambil mengamati batu kristal yang tersimpan dalam cupumanik. Cahaya hijau kebiruan terbias ke langit-langit gua.
"Mestika itu sebenarnya tinggal separuh, terbelah tepat di garis tengahnya. Separuh lagi sudah berada di tempat yang semestinya dan tidak bisa diambil lagi," jelas Yaksa Seta.
"Di mana itu?" Wijayakusuma mengangkat wajahnya.
"Pangeran tidak perlu tahu, yang penting mestika ini sudah bertemu takdirnya, yaitu Paramarta dan Pangeran Wijayakusuma sendiri," tambah Yaksa Kresna.
"Hai, kalian ini sebenarnya siapa dan dari mana tahu namaku?"
Yaksa Seta tertawa kecil. "Sebaiknya Pangeran segera pulang, sebelum wabah memakan semakin banyak korban!"
Tiba-tiba Wijayakusuma ingat kembali, untuk apa dia mencari mestika itu. Istana Paramarta dan ayahnya pasti sudah lama menunggu.
"Di mana kudaku?"
"Di sebelah sana, Pangeran." Yaksa Kresna menunjukan tempat Jatisura ditambatkan. "Mari kami antar sampai keluar hutan!"
"Terima kasih, Yaksa!" Wijayakusuma menjura di hadapan Yaksa Seta dan Yaksa Kresna, lalu keduanya mengiring pangeran sampai ke tepi hutan.
***
Kepulangan dan keberhasilan Wijayakusuma disambut gembira oleh segenap rakyat Paramarta. Wilmuka, si elang berjambul telah membawa kabar baik itu beberapa hari sebelum Wijayakusuma sampai. Karenanya, istana mempersiapkan pendopo untuk rakyat berkumpul. Semua orang yang sakit diberi minum air rendaman mestika itu tanpa kecuali.
Keesokan harinya, kabar baik terdengar di mana-mana. Warga yang terjangkit wabah mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Prabu Kusumaatmaja tersenyum lega.
Di atas singgasana, sang prabu menyambut Patih Padmanegara yang diperintahkan menjemput Wijayakusuma dari peristirahatannya.
Patih Padmanegara bersama Wijayakusuma bersimpuh menjura di kaki singgasana. Kemudian, sang patih mundur beberapa hasta.
"Bagaimana istirahatmu, Nak? Pasti lelah sekali setelah menempuh perjalanan jauh?"
"Atas doa Ayah, saat ini hamba dalam keadaan baik."
Prabu Kusumaatmaja mengangguk-angguk. "Ayah bangga atas keberanianmu, Nak."
Wijayakusuma tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Ayah."
"Apa hadiah yang kaupinta? Ayah pasti akan memberikannya. Kebebasan? Banyak rakyat yang meminta supaya engkau dibebaskan saja."
"Tidak, Ayah." Wijayakusuma menggeleng. "Hamba tidak menginginkan apa-apa. Kembalikan saja hamba ke penjara untuk menggenapkan masa tahanan!"
"Apa kauyakin?"
Wijayakusuma mengangguk cepat. Dia masih menyimpan sakit hati atas fitnah yang dilemparkan sang kakak dan belum sudi bertemu muka dengannya. Lebih baik menempa diri dengan tirakat dalam penjara, begitu pikirnya.
Prabu Kusumaatmaja merenung lama sekali. Demi menjunjung keadilan, dia akhirnya mengambil keputusan.
"Patih, panggil beberapa pengawal, masukkan kembali putraku ke dalam penjara!"
Patih Padmanegara mundur menyoja. Tidak berapa lama, dia kembali bersama sepuluh pengawal. Mereka membelenggu kedua tangan Wijayakusuma dengan rantai dan menggiringnya kembali ke penjara bawah tanah.
Sementara Prabu Kusumaatmaja mengiring mereka dengan kedua matanya. Dadanya terasa sesak. Sesak dan remuk sendirian.(*)