Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
2
Suka
7,962
Dibaca

Bab 1: Ruang Sunyi Berdebu

Udara di Perpustakaan Daerah Mandaraka selalu memiliki aroma khas yang disukai Ardan: campuran kertas tua, debu yang mengendap di sela rak, dan bau kayu lapuk yang samar-samar, seperti napas waktu yang terperangkap dalam serat-serat buku. Aroma itu bukan sekadar bau; ia adalah sebuah kenangan purba yang menenangkan, sebuah napas dari masa lalu yang berbisik lembut di antara lorong-lorong sunyi. Bagi Ardan, seorang pemuda berusia dua puluh enam tahun dengan kecenderungan introvert yang kuat, perpustakaan ini adalah rumah. Bukan rumah fisik yang ia tinggali, melainkan rumah bagi jiwanya yang selalu haus akan cerita dan keheningan. Ia tidak pernah merasa senyaman ini di keramaian, di antara tawa dan obrolan yang riuh. Baginya, keheningan adalah melodi terindah, dan bisikan halaman yang dibalik adalah simfoni yang sempurna.

Sejak kecil, Ardan telah menemukan pelipur lara dalam tumpukan buku. Sementara anak-anak lain sibuk berlarian di luar, ia sering meringkuk di sudut kamar, tenggelam dalam dunia imajinasi yang diciptakan oleh kata-kata. Ia belajar lebih banyak dari kisah-kisah di buku daripada dari interaksi sosial yang canggung baginya. Oleh karena itu, ketika surat penerimaan dari Dinas Perpustakaan tiba di mejanya, hati Ardan berdesir seperti daun kering yang jatuh dari ranting di musim gugur—pelan, namun penuh makna, membawa serta janji akan ketenangan dan penemuan. Ia diterima sebagai pustakawan di Mandaraka, sebuah bangunan yang lebih mirip museum kolonial daripada perpustakaan modern. Dinding-dindingnya tinggi dan kokoh, dibangun dengan batu bata merah tua yang seolah menyimpan sejarah di setiap pori-porinya. Jendela-jendela lengkung besar dihiasi kaca patri kusam, menyaring cahaya matahari menjadi bintik-bintik oranye dan ungu yang menari-nari di lantai marmer dingin. Rak-rak kayu jati yang menjulang tinggi, gelap karena usia, penuh sesak dengan buku-buku yang tampaknya sudah menghabiskan seabad di sana. Beberapa masih terbungkus plastik kusam, menanti sentuhan tangan pertama setelah puluhan tahun.

Ardan melangkah ke dalam perpustakaan itu pada hari pertamanya bekerja dengan perasaan gembira yang langka. Punggung tangannya terasa dingin saat menyentuh pegangan pintu kuningan yang berat, diukir dengan detail rumit yang sudah pudar. Suara denting kecil terdengar saat ia melangkah masuk, seolah perpustakaan itu menyambut kedatangannya dengan bisikan rahasia. Kepala Perpustakaan, Bapak Rahmat, seorang pria tua dengan kacamata berbingkai tanduk dan kumis tebal yang sudah memutih, menyambutnya dengan senyum hangat namun agak lelah. Matanya yang keruh seolah telah melihat begitu banyak pergantian generasi, dan setiap kerutan di wajahnya adalah peta dari pengalaman panjang.

"Ardan, selamat datang di Mandaraka," katanya, suaranya sedikit serak namun ramah, bergema pelan di aula yang luas. "Kami sudah menunggu Anda. Ada banyak pekerjaan di sini, terutama di ruang arsip lama. Kamu sepertinya cocok untuk itu. Kamu terlihat seperti jiwa tua yang mencintai buku."

Ardan mengangguk pelan, rasa hormat menyelimuti dirinya. Ia telah membaca tentang sejarah Mandaraka. Didirikan di era kolonial Belanda, dulunya adalah rumah seorang jenderal VOC yang terkenal kejam, Jenderal Karel van der Voerman, sebelum akhirnya dihibahkan kepada pemerintah daerah sebagai perpustakaan pada awal abad ke-20. Konon, ada lorong-lorong rahasia dan ruang bawah tanah yang dulunya digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga, atau mungkin, rahasia-rahasia gelap keluarga Voerman. Sebuah aura misteri selalu menyelubungi bangunan ini, menarik para sejarawan lokal dan pencari cerita.

Pekerjaan Ardan sebagian besar melibatkan penataan kembali ruang arsip lama. Ruangan itu terletak di bagian belakang perpustakaan, tersembunyi di balik sebuah pintu kayu ek yang tebal dan kokoh, dihiasi ukiran naga yang tampak mengerikan, seolah bertugas menjaga sesuatu di dalamnya. Saat pintu itu terbuka, dengan engselnya yang berdecit pelan, aroma debu yang lebih pekat menyeruak, menusuk hidung Ardan hingga ia bersin. Lampu pijar kuning yang redup di langit-langit tinggi, tertutup sarang laba-laba, hanya sedikit menerangi kekacauan rak-rak baja yang berkarat dan tumpukan kotak-kotak karton yang menjulang tak beraturan hingga hampir menyentuh plafon.

"Di...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp14.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Novel
Pasar Malam Terkutuk
Yaraa
Novel
Live Plastic
Voidham Kreator
Novel
KOL (Karang Ombak Laut)
Hendrakur
Flash
Penaka Dongeng
Yuli Harahap
Novel
Bronze
Don't See Me
Valianti
Flash
Tidak Terdefinisi
Ryan
Cerpen
Bronze
Kegelapan yang Meringkus Bulan
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Sepatu emas yang hilang
Zeyene de fayette
Novel
Not Everything is As It Seems
Erika Angelina
Cerpen
Somad, Hujan, dan Kasih Ibu yang Tak Sampai
amunanjar
Cerpen
Bronze
Suara Seruling
Hekto Kopter
Novel
Alif Lam Mim
Zainur Rifky
Flash
Aku Tidak Gila!
Miss Rain
Flash
Perahu Langit
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Insomnia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Lonceng Berdentang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Maut Di Kapal Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ada Apa Dengan Diriku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pulau Terasing
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tak Ada Percaya Pada Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Galeri Lukisan Oscar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pusaka Naga Hitam
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Di Balik Tirai
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 03
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin