Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
0
Suka
3,547
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab 1: Titik Jenuh

Hawa Makassar di pertengahan tahun selalu sama: lembap, lengket, dan membawa aroma asin laut yang samar bercampur asap kendaraan. Dr. Anya Paramita menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa berat itu. Pukul setengah delapan pagi, namun sinar matahari sudah terasa menyengat di kulit. Gedung tinggi tempat Rumah Sakit Jiwa Paramarta berdiri megah, seolah menjadi mercusuar ketenangan di tengah hiruk pikuk kota. Sebuah ironi, pikir Anya, mengingat betapa seringnya ia merasa badai justru bergejolak di dalam dinding-dinding itu, bahkan di dalam dirinya sendiri.

Usianya baru menginjak tiga puluh dua tahun, namun lingkaran gelap di bawah matanya dan sorot lelah di balik kacamata berlensa tipisnya menceritakan kisah yang lebih tua. Anya adalah psikiater yang cemerlang. Lulusan terbaik dari fakultas kedokteran bergengsi, dengan spesialisasi psikiatri yang ia tekuni dengan sepenuh hati. Empatinya tinggi, ia bisa merasakan beban emosional pasien-pasiennya seolah itu miliknya sendiri. Kecerdasannya di atas rata-rata, memungkinkannya menganalisis kasus-kasus paling rumit dengan presisi tajam. Dedikasinya? Tak perlu diragukan. Ia mencintai pekerjaannya, meyakini bahwa menyembuhkan jiwa adalah panggilan mulia.

Namun, cinta itu perlahan mulai mengikisnya. Enam tahun berkarier di Paramarta, menangani kasus-kasus yang paling menantang: skizofrenia akut yang membuat pasien berhalusinasi mengerikan, depresi berat yang merenggut semangat hidup, gangguan bipolar yang membolak-balik dunia pasien antara euforia dan jurang keputusasaan. Ia tak hanya mengobati, ia mendampingi. Ia harus mendengar kisah-kisah hidup yang dipenuhi trauma, kekerasan, kehilangan, dan keputusasaan. Ia harus menjadi tonggak bagi mereka yang rapuh, wadah bagi emosi yang meluap, dan harapan bagi jiwa yang hancur.

Jam kerjanya seringkali tak kenal waktu. Sesi terapi individu bisa berlangsung berjam-jam, diikuti dengan rapat tim medis, kunjungan keluarga, dan tumpukan rekam medis yang harus ia baca dan analisis. Pasien-pasiennya, dan bahkan kerabat mereka, seringkali menghubunginya di luar jam kerja, menumpahkan kecemasan, meminta nasihat, atau sekadar berbagi kabar buruk. Anya, dengan sifatnya yang tak tegaan, selalu berusaha melayani. Ia tahu betapa putus asanya mereka.

Belakangan ini, batas antara profesionalitas dan pribadi terasa semakin kabur. Kisah tragis pasien-pasiennya mulai meresap ke dalam kehidupannya sendiri. Ia seringkali mendapati dirinya merenung tentang nasib buruk mereka saat sedang memasak di dapur apartemennya yang sepi, atau bahkan saat mencoba bersantai menonton televisi. Kebahagiaan kecil yang dulu mudah ia dapatkan kini terasa tumpul, tertutupi awan kelabu.

Malam-malamnya diisi mimpi buruk. Bukan tentang monster atau kejadian aneh, melainkan potongan-potongan dari kisah pasien yang paling mengerikan. Ia sering terbangun dengan napas terengah-engah, mengingat jeritan pasien dalam episode psikotik, atau wajah putus asa seorang ibu yang kehilangan anaknya karena depresi.

Suatu pagi, saat ia sedang meregangkan otot di ruang kerjanya sebelum sesi pertama, ia melihat pantulan dirinya di jendela kaca. Wajahnya tampak lebih tirus, tulang pipinya menonjol. Matanya menunjukkan kelelahan yang mendalam, bahkan setelah ia yakin sudah tidur delapan jam penuh semalam. Rambut hitam sebahu yang biasanya rapi, kini tampak sedikit berantakan, seolah ia baru saja bangkit dari ranjang.

"Stres," gumamnya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan. "Hanya stres."

Ia menyalakan komputer, membuka file rekam medis pasien pertamanya hari itu, seorang pria muda bernama Rio yang menderita skizofrenia. Rio adalah kasus yang kompleks. Ia sering berhalusinasi visual dan auditori, meyakini bahwa ada entitas jahat yang mengikutinya. Anya telah menghabiskan berbulan-bulan untuk menstabilkan kondisi Rio, dan kemajuannya sangat lambat. Beban kasus seperti Rio adalah salah satu yang paling menguras tenaganya.

Saat ia membaca laporan kemajuan Rio, tiba-tiba sebuah sensasi aneh melingkupinya. Bukan pusing, bukan mual. Lebih seperti gelombang dingin yang merambat dari tengkuk hingga ke ujung jarinya. Ruangan kerjanya yang biasa hening, kini terasa lebih hening, seolah udara di sekitarnya menjadi lebih padat.

Dan kemudian, ia mendengarnya.

Bisikan samar. Sangat lirih, seperti hembusan angin yang nyaris tak terdengar. Dari sudut ruangan, di dekat lemari arsip tua yang penuh tumpukan berkas. Anya meno...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Flash
BLUE EYES
Hary Silvia
Novel
Gagarasuk dan Dunia Roh Seni
AndarA
Flash
Satu Lembar Kertas
Rimadian
Cerpen
Bronze
Tragedi Kampus yang Terlupakan
elfrida romaganti pasaribu
Cerpen
Bronze
Pohon-pohon Yang Berbicara
Eko Hartono
Cerpen
Bronze
Orang Senja
Lian lubis
Flash
Ledakan
Aneidda
Cerpen
RENCANA TERAKHIR
Setiyarini
Cerpen
Bronze
Suara Seruling
Hekto Kopter
Flash
Senja Gerimis di Dekat Laut
Tazkia Irsyad
Flash
Bronze
BURUNG PUTIH YANG TIDAK KEHILANGAN WARNANYA
Mu Xuerong
Novel
Bronze
Pintu Rahasia Sang Ibu
Randy Arya
Flash
Bronze
LOG OUT
Keita Puspa
Novel
HUAT123 Terbaik No 1
Huat 123
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rig Minyak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kamera Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Saksi Semuanya
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jerat Senyap
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kereta Cepat Whoosh
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bunker Jepang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Atau Dia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kakek Memanggil
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kutukan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin