Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku, berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajahku yang semakin hari semakin asing.
Usia tiga puluh tahun, seharusnya menjadi gerbang menuju kematangan dan kebahagiaan, tapi yang kulihat hanyalah seorang wanita yang terperangkap dalam sangkar bernama "kehidupan rumah tangga".
Lingkaran hitam di bawah mata semakin kentara, senyumku terasa seperti topeng yang kupaksakan setiap hari, dan bahuku terasa remuk redam memikul beban tak kasatmata yang bernama "tuntutan".
Setiap pagi, ritual ini adalah pengingat pahit akan pertempuran tanpa akhir yang harus kuhadapi.
Bukan pertempuran fisik melawan musuh yang terlihat, melainkan perang psikologis melawan racun-racun halus yang menetes setiap hari, meracuni setiap aspek kehidupanku, mulai dari peran sebagai istri, ibu, hingga menantu.
Pagi selalu dimulai dengan simfoni rengekan Rania, si bungsu berusia tujuh tahun, yang selalu berhasil menguji kesabaranku.
"Mamaaa, pensil warnaku hilang! Padahal Rania mau gambar!" teriaknya dari kamar, memecah keheningan pagi yang baru saja kurajut.
Aku menghela napas panjang, meninggalkan secangkir kopi yang masih mengepul di meja makan, dan bergegas mencari pensil warn...