Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Katakan, siapa yang kuat hidup dalam kegelapan? Sudah menjadi takdir yang dituliskan oleh Tuhan yang Maha Agung, menjadikan cahaya sebagai suatu yang teramat istimewa. Saat warna hitam diciptakan, putih menemaninya sebagai pasangan yang tak terpisahkan. Memang begitulah kodratnya. Tidak bisa dibantah lagi.
Gelap yang menyelubungi hidup hari ini, ingin cepat-cepat untuk ditinggal pergi. Bukan penduduk setia suatu negeri. Yang walau hantaman menerjang mereka tetap bertahan. Percayalah ada alasan untuk pergi atau pun tinggal harapan menanti cahaya yang tak pasti. Tidak perlu menghakimi.
Dalam gelapnya duniaku, engkau menjadi satu-satu cahaya yang Tuhan anugerahkan begitu saja. Menatapmu dari kejauhan memang melelahkan, tetapi itu satu-satunya hal yang menyenangkan. Senyum bisa terukir dengan mudah saat gelap semakin nyata mencengkram diri.
Tas-tas telah aku siapkan. Saat mereka nyenyak lelap dalam tidur. Air yang tak jernih lagi aku teguk membuang dahaga. Hanya untuk bertahan di negeri yang dulunya pernah jadi surga. Aku hanya bisa menyimpan sisa-sisa surga itu dalam tangkapan kamera. Sungguh nostalgia yang dirindukan.
Semua rencana telah aku lakukan untuk melindungi kesejahteraan mental ini. Bergerak sendiri saat sepi. Berjalan menjauh meninggalkan gelap di belakangku. Rasa sesak di dada ingin segera lepas tanpa validasi dari mereka dalam kelam.
Kendali akal aku pertahankan. Tetap percaya pada dia di alam cahaya. Menungguku di pintu gerbang dengan senang. Impian kebahagian di depan mata. Sunyi tersenyum menyaksikan aku yang telah mengapai pintu. Keluar tanpa hambatan.
“Tunggu aku di sana,” bisikku dalam pesan suara yang aku kirimkan pada dia yang di sana.
Kabut abu-abu kini mulai menipis seiring dengan jauhnya langkah kaki ini melangkah. Ada kelegaan hadir menyelungi di dada. Jejak dia yang menawan di sana memang sangat mengiurkan mata. Siapa yang mampu menolaknya?
Walau semua itu bisa saja sebuah ketidakpastian. Namun kemungkinan itu nyata. Dalam metodologi rasanya memang sering terjadi. Sehingga kecemasan tak layak untuk dipikirkan. Apa lagi itu demi kamu.
“Lihatlah terus ke depan. Nanti akan kamu temukan ujung cahaya, di sana aku berdiri menantimu,” dia merespon pesan suara.
Telingaku merasa bergidik saat suara lembut itu berkata-kata. Akh... aku terlalu dalam terjerat rindu. Perasaan yang terasa ranum saat digigit. Aku tak mampu lagi untuk menunggu lama. Aku memilih berlari dengan ransel berat yang punggung dan dua tas pada masing-masing tangan.
“SAN!”
Telingaku mendengar suara dari belakang yang memanggil. Aku memilih untuk menguatkan diri untuk tidak menoleh. Begitulah syarat untuk meninggalkan apa yang telah lalu, dengan tidak melihat ke belakang. Langkah kaki yang berjalan, kini berganti lebih cepat. Aku berlari sekuat apa yang aku bisa.
Tak ingin lagi terjebak di tempat yang sama, di negeri yang semakin hitam. Bahkan paru-paruku telah lelah berteriak untuk lari dari neraka itu. Keputusan sudah bulat. Tak lagi dapat ditawar menawar.
Kakiku yang berlari kencang berhasil membawaku menjauh. Hingga tak ada lagi suara yang tadi aku dengar. Aku mulai memerintahkan kaki untuk menurunkan kecepatannya. Berjalan seperti biasanya untuk menghemat energi untuk menjangkau jejaknya di sana.
*
Ilona berjalan gontai menuju pos penjagaan lintas batas negeri cahaya. Dia memilih untuk duduk di kursi panjang bermaterial besi yang diletakkan pada teras pos itu sendirian. Seorang petugas pria keluar menemuinya.
“Jadi kamu masih menunggu dia?” tanya petugas itu pada perempuan berwajah oval.
Ilona menoleh menatap pria muda yang bersandar di pintu pos. Kemudian Ilona menganggukkan kepalanya, “iya, Aku masih menunggunya.”
“Luar biasa! Kamu seyakin itu dia akan datang?” tanyanya lagi sambil menyilangkan tangannya di dada.
Ilona diam sejenak kemudian dia mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Aku di sini karena aku ingin menepati janjiku. Jika dia datang, itu bagus. Kalau tidak datang, berarti dia tidak menepati janjinya. Sesederhana itu.”
Pria itu menganggukkan kepalanya seraya mendesah, “baiklah. Nikmati waktumu menunggu. Semoga dia segera tiba. Aku dengar negeri mereka kini menjadi lebih gelap dari biasanya. Bahkan ada badai yang akan datang.”
Ilona membulatkan matanya. “Benarkan begitu?”
“Iya. Ada beritanya.” Angguk pria itu lagi. “Berdoa saja, dia aman. Tidak mudah keluar dari sana. Saat dia tidak tiba jangan kamu pikir dia tidak menepati janjinya. Karena bisa jadi ada hal yang terjadi. Siapkan dirimu untuk setiap kemungkinan itu.”
Wajah Ilona berubah tampak cemas.
“Sudah jangan terlalu dicemaskan, dia pasti salah satu orang beruntung yang bisa keluar dari sana. Jadi tenanglah.” Pria itu mendekati Ilona sambil menepuk pundaknya.
Ilona menganggukkan kepalanya. “Semoga saja.”
“Baiklah, kalau butuh bantuan panggil saja. Aku akan masuk dulu.” Pria itu memilih untuk beranjak masuk ke dalam pos. Dia yang mengenal lama Ilona tak ingin melihat perempuan itu hancur karena harapan yang sia-sia. Menyampaikan kenyataan, dia rasa penting untuk diungkapkan. Setidaknya Ilona bisa mempersiapkan dirinya.
Ilona menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi yang tidak empuk. Jauh dari lubuk hatianya ada bisikan yang terucap. “San, kamu bisa keluar dan mengejar jejakku di sini. Entah itu berat. Tapi percayalah, kamu mampu.”
Ilona menciptakan ruang baru dalam lubuk hatinya untuk menerima kenyataan. Hingga membangkitkan indera sensoriknya yang menyebabkan otak kembali membuka rekaman dalam ingatannya. Sebuah data tentang pertemuan yang indah dengan dia yang di tunggu dengan harap.
Di sebuah taman bunga yang luas, Jauh di negeri seberang. Mereka bertemu diantara warna warni yang juga memberi banyak variasi warna di hati. Kedua insan itu sama-sama merasakan perasaan yang indah saat mata bertemu mata. Bibir pun tak mau ketinggalan mengambil peran. Melengkung indah di sudut wajah, terpahat sempurna.
“Indah.” Itu menjadi kata pertama dia saat menatap Ilona.
Perkenalan pun terjadi menjadi babak baru dalam cerita kehidupan keduanya. Semua yang dimulai dengan keindahan yang sempurna harus menghadapi babak gelap nan kelam. Awalnya semua abu-abu lama kelamaan berubah semakin pekat dan pekat. Hingga menjadi hitam dan mencekap. Kondisi itu mencengkram dengan sangat kuat. Memisahkan keduanya dengan sangat kejam.
Renungan Ilona terganggu saat handphone tiba-tiba saja berbunyi nyaring dari saku celananya. Dia segera menarik keluar alat komunikasi itu. Ada nama orang yang dia tunggu tertera pada layarnya. Sandi.
“Hallo San,” sapanya dengan segera.
Terdengar suara napas yang terengah-engah ketika sambungan telepon terkoneksi. “Ilona...”
“Iya? Apa yang sedang terjadi? Kamu dimana sekarang?”
“Tadi ada suara yang mengikutiku. Aku tidak tahu siapa itu.”
“Kamu tidak menoleh kebelakang, kan?” Ilona terdengar khawatir.
“Tidak. Aku sedang berusaha keluar dari sini. Tunggu aku. Walau harus aku tidak tahu kapan akan tiba, bersabarlah.”
“Aku tetap di sini, menunggumu di ujung kota cahaya. Cepatlah datang.”
Setelah itu hanya ada suara tut...tut... yang terdengar di telingan Ilona. Koneksi terputus. Walau rasa khawatir menyelimuti hati Ilona, tapi dia lega dapat mendengar suara orang yang dia tunggu beberapa hari ini.
Ilona menarik napas panjang. Dia kembali menaruh handphonenya di saku celananya. Kemudian perempuan itu berdiri dan berjalan beberapa langkah seraya menatap bagian yang gelap dengan tatapan mata yang penuh harap.
Dalam keheningan perbatasan negeri, Ilona berbisik lirih, “San, kamu pasti bisa keluar dari sana.”
**
Gelap menghampiri kota di mana aku lahir dan di besarkan. Entah dari mana awalnya. Tidak pernah ada dalam ingatanku. Tapi paling aku ingat kegelapan terburuk itu datangnya dari dalam diri. Itu sebabnya aku menyiapkan diriku untuk pergi. Sudah terasa lelah hidup begini. Mengenal dia, membuatku memutuskan untuk mengejar jejaknya.
Walau aku tidak pernah tahu akan seperti apa hidupku nanti. Semua masih tak ada dalam bayanganku. Satu hal yang aku inginkan sekarang hanyalah keluar saja. Aku percaya akan ada hal baik yang menanti saat aku berhasil mencapati titik perbatasan ujung cahaya.
Dengan sejuta harapan yang aku gengam aku kembali mempercepat langkahku. Mataku tetap menatap lurus ke depan. Dimana ujung cahaya itu berada. Tidak sekali pun aku tergoda menoleh ke kanan dan kiri, apa lagi menoleh ke belakang.
Bruk....
Sebuah pukulan kuat menghantam kepalaku bagian belakang. Rasa sakit menyerangku detik itu pula aku ambruk tanpa dapat melawan atau pun melarikan diri. Dalam kesunyian dan kegelapan itu aku menyesal memperlambat laju langkahku. Harusnya aku tetap berlari, berlari dan berlari.
Tapi apa yang mau dikata, semua sudah terjadi. Kegelapan itu menjadi semakin gelap dan akhirnya lenyap. Tak ada warna yang bisa aku lihat. Kosong. Hanya ruang hampa saja. Tidak ada suara, tidak ada cahaya. Aku jatuh entah kemana. Perjalanan keluarku terganggu. Akan lama lagi aku bisa keluar.
Mataku yang tertutup rapat kini terbuka. Aku mendapati diriku sedang berbaring di sebuah sofa yang empuk. Ruang yang terang benderang menyambut. Bibir tak bisa menyembunyikan rasa senang.
“Ilona.”
Aku teringat pada perempuan yang menarikku keluar. Takdir yang mempertemukan aku dengannya, hingga aku jatuh pada rasanya nyaman yang mendalam hanya pada satu sosok indah itu. Jejaknya yang menapak jauh dariku di negeri cahaya, aku kejar dengan sisa energi yang aku punya. Dan hari ini aku tiba.
Dalam dekapan cahaya ruangan yang memaparkan sinarnya, aku bangkit dari pembaringan. Perasaan bebasku berganti dengan detak jantungku yang sontak menjadi tidak beraturan. Sosok perempuan asing di mataku tersenyum tepat di depanku. Dia duduk di kursi yang ternyata sedari awal berhadapan dengan sofa dimana aku terbaring.
Perasaan sakit dari bagian belakang kepalaku terasa. Tadi itu adalah nyata. Ada orang yang memukulku dalam kegelapan. Deretan pertanyaan pun hadir dalam benakku. Namun aku tahan. Tatapan perempuan itu menghentikan gerakanku. Untuk beberapa saat kami saling tatap tanpa bicara.
Kemudian dia yang menggenakan pakaian formal dengan celana kain dan jas berwarna senada – hijau, menurunkan kakinya yang tadinya menyilang. Dia melemparkan senyum lebarnya padaku. Memperlihatkan betapa rapinya susunan giginya. Cantik sekali. Aku akui itu senyum yang sangat menawan.
Sesaat aku melupakan serangan rasa sakit pada kepalaku dan juga Ilona. Senyumnya sungguh menghipnotis diriku untuk hanya menatap kearah satu titik saja, dimana ada dirinya saja. Dan dengan sukarela bibirku juga bergerak, membentuk sebuah senyum. Memberikan balasan pada senyum indahnya.
“San,” suaranya yang lembut keluar di antara senyum menawannya.
Aku bergidik kesenangan. Pertahananku sukses hancur dengan sempurna. Lembut suara perempuan itu masuk hingga ke kalbu. Enggan rasanya untuk membuang kesempatan itu. Suasana yang mendukung menggelitik sanubariku.
“Iya...” aku juga menjawab dengan suara yang tak kalah lembut.
Aku puas telah tiba di negeri cahaya yang merupakan impian. Benar-benar indah semua yang ada di sini. Bahkan ruang terang dengan dinding berwarna putih bersih terasa begitu menenangkan. Ingatan akan gelap sedikit sudah terbuang begitu saja.
“Mau minum apa?” tanya perempuan yang aku tidak tahu siapa dia.
Pertanyaan itu mengingatkan akan tenggerokanku yang terasa kering. Aku pu telah lupa kapan terakhir air masuk membasahi rongga leherku. Aku segera menganggukkan kepalanya. Dengan bersemangat aku merespon. “Ada banyak hal yang ingin aku minum.”
Perempuan itu tersenyum. “Baiklah,” masih dengan suara yang lembut. “Katakan apa pun yang ingin kamu inginkan. Sebisa mungkin akan aku berikan.”
Aku diam sejenak memikirkan apa yang benar-benar aku inginkan.
“Katakan saja,” dia mendesakku dengan suara manja.
“Ada keinginan untuk meneguk air lime atau orange juice dengan es yang banyak. Biar segar. Tapi rasanya minum cola juga menyegarkan. Eh, Juice buah-buah segar sepertinya juga enak di leher.” Aku menyebutkan apa yang sedang aku pikirkan.
Dia menganggukkan kepalanya. “Iya, aku sudah mengerti apa yang kamu mau.” Dia segera bangkit menuju lemari pendingin. Sekaleng kola dia keluarkan dari sana. Dan meletakkannya di depanku.
Aku tersenyum senang. “Apa aku bisa meminta tambahan es?”
“Tentu.” Sahutnya cepat. “Kamu tunggulah di sini. Aku akan membawakan apa yang kamu mau.” Dia beranjak keluar dari ruangannya yang serba putih.
Sementara aku melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan. Funiture di sana tampak disusun rapi. Aku tergoda untuk menjelajahi isi ruangan itu. Aku berjalan kearah meja kerja yang di atasnya aku temukan papan nama yang bertuliskan ‘DR. PRASTANIA’.
“Oh, dia seorang dokter.” Gumamku. Aku mengingat bagaimana aku bisa berakhir di ruangan itu. “Akh mungkin Ilona yang membawaku ke rumah sakit.”
Ilona. Akhirnya aku mengingat perempuan itu, setelah hampir tergoda dengan visual menawan dari sang dokter.
“Tapi mana Ilona? Bagaimana mungkin dia meninggalkan aku sendirian di sini.”
Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari kepalaku. Sontak hal itu membuat kepalaku terasa sakit. Segera tangan kananku bergerak menyentuh bagian belakang dari kepala. Namun tanganku tidak merasakan apa pun. Tidak ada perban yang terasa. Bahkan bekas luka pun tidak ada tanda-tandanya. Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Aku harus bertanaya pada Ilona.
Gak...Gak....Gakk...
Suara burung gagak mengaung keras di telingaku. Membuyarkan semua pertanyaan dalam benakku. Dengan cepat aku bergerak menarik gorden berwarna hitam yang menutup rapat jendela. Firasatku pun terasa tidak enak.
Dan benar saja. Saat kain gorden itu tersibak lebar-lebar. Aku mendapati kenyataan yang menghujam jantungku. Terangnya ruangan pun berganti dengan gelap yang merayap memenuhi setiap sudut. Semua kamuflase telah sirna. Tanpa menunggu apa pun aku menarik kursi dan melemparkannnya ke jendela dengan sekuat tenaga.
Bruk...
Suara keras itu terdengar bersamaan dengan pecahnya kaca jendela. Aku segera mengambil kesempatan itu. Dalam dekapan gelap yang semakin erat mencengkram aku melompat keluar. Berlari sejauh mungkin dari bangunan itu tanpa melihat ke belakang atau pun berhenti.
Tak lagi ada kata beristirahat. Aku terus berlari walau tidak tahu kemana arah yang aku tuju. Satu harapanku hanya dapat melihak Ilona yang berdiri di gerbang negeri cahaya, untuk menantiku.
“ILONA.... TUNGGU AKU!”
-the END-