Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tubuhku berguncang—entah masih patutkah kusebut seluruh bagian dariku kini sebagai tubuh—ketika mataku bertemu pandang dengan perempuan Kaili itu. Dalam balutan gaun kusam dengan warna ungu yang pudar, dia berdiri tanpa teman di tepi Anjungan Pantai Talise yang porak poranda. Mimiknya yang hambar membuatku merasa terkhianati; tidak tahukah dia bahwa aku mengkhawatirkannya sampai setengah mati. Tapi dua manik matanya yang sewarna tanah tak pernah bisa mendustai rasa rindu.
Desir ombak dan embus angin darat menjadi sesak di antara para relawan yang mulai mengevakuasi seorang gadis tak bernyawa di pesisir Talise. Seorang mayat gadis bergaun ungu yang pudar. Sementara, aku hanya bisa bergeming meresapi bagaimana bisa pertemuan kami setelah terpisah jauh harus diawali oleh sebuah bencana.
Pada akhirnya tak ada yang bisa kutahan; renjana, kerisauan, takut, kehilangan, dan bahagia. Tak kusangka, buncahan itu mampu mendorongku terbang untuk merengkuh tubuh ringkihnya. Kupeluk dia erat, deras air mataku mengalir menjadi bah. Beban-beban gilaku meraung bersama isak tangis, melolong bersama rasa bersalah yang berjengit sakit.
Dua hari aku menggila. Dua Hari! Mencarinya di berbagai tempat pengungsian dan wilayah yang hancur lebur. Sampai habis harapku ketika yang kutemukan hanyalah kematian dari wajah-wajah yang kukenal—pecah di bawah reruntuhan, karam di sebalik lumpur hitam, dan membusuk di dalam genangan sisa ombak besar. Ya Tuhan, tidak bisa kubayangkan jika salah satu dari wajah itu adalah milik perempuan ini.
Akan tetapi, Lafaye yang kutemukan hanya balik bergeming,
... seperti sudah hilang nyawanya.
Kutilik matanya yang mulai basah ketika pelukan kami mulai renggang, ketidakberdayaan menguar di sana, menerjang seperti tsunami dan bobol membasahi tiap permukaan pipinya yang kusam. Dia terisak panjang, kedua bibirnya bergetar. Kurasakan dengan jelas ketakutan dan ketidakmengertian dirinya terhadap apa yang sudah dan sedang terjadi di sekeliling kami.
Erat, kupeluk ia semakin erat.
***
Seperti Palu, Lafaye bagiku adalah rumah yang nyaman tapi penuh kejutan; satu dua kali dia bisa setenang ombak di teluk, di lain waktu menjadi sangat mengguncang dan mendebarkan seperti lindu yang kerap datang. Kali ini, duka citanya yang terasa tidak terbatas mencubit ulu hatiku. Perih yang sama ketika harus meninggalkan perempuan ini tiga tahun silam kembali membuatku menjadi pesakitan. Begitu pula ketika kusadari, tak ada yang tersisa dari Balaroa tempat keluarganya hidup selama ini.
Tak ada satu pun.
Balaroa adalah tempat yang selama dua hari terakhir ini kujelajahi bersama serombongan relawan gabungan dari TNI, Basarnas, dan pemuda setempat sebelum aku memutuskan untuk ikut para relawan ke daerah pantai. Tak terbayangkan bagiku bagaimana sebuah wilayah hidup penuh hunian kini berubah menjadi kota mati, benar-benar mati.
Selayang pandangku jatuh, hanya ada bukit-bukit tanah baru dengan nisan-nisan yang terbuat dari reruntuhan bangunan. Air-air entah datang dari mana, menggenang dan menyuguhi kami berpetak-petak minuman pembuka dengan sajian jasad-jasad mengenaskan di dalamnya. Angin berdesau dari segala penjuru, menyampaikan duka cita yang membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Air mataku bergelayut hendak tumpah. Andai kudengar sepelan apa pun suara tangisan, sudah buyar semua pertahananku.
Namun yang kudengar hanyalah teriakan-teriakan dari pemimpin gabungan. “Bapak-bapak, ibu-ibu, jika kalian mendengar suara ini berteriaklah sekencang-kencangnya! Kami akan menolong Anda secepat mungkin.” Tidak henti kami mencari tanda-tanda dari sisa kehidupan yang bisa diselamatkan.
Lolongan ‘tolong’ bersahutan memenuhi udara; mulai dari yang terasa dekat hingga jauh ke ujung pandangan kami, mulai dari yang terdengar jernih hingga penuh isak tangis dan kepiluan. Semua relawan bergegas mencari titik suara, aku terpelanting ke berbagai arah karena tidak tahu harus menjadi bagian dari kelompok mana. Sebab tujuanku mengunjungi Balaroa adalah untuk mencari Lafaye, sementara rumah bercat ungu miliknya tak sedikit pun bisa kutemukan.
Tubuhku tertarik kerumunan menuju reruntuhan sebuah rumah yang berjejalan dengan lapisan aspal yang terkelupas. Hingga aku tidak bisa memastikan apakah rumah roboh itu yang amblas ke dalam tanah atau tanah itu yang terdorong ke langit. Meski sudah kulihat pemandangan ini selama dua hari terakhir, batinku masih kerap tergigit, nyeri! Apalagi jika ketakutanku membentuk sekelebat halusinasi bahwa Lafayelah yang terhimpit di dalamnya. Lafaye terhimpit di dalamnya. Sendirian. Kesakitan. Meraung. Mencari pertolongan namun yang ditemukannya hanyalah sekelebat visual malaikat pencabut nyawa.
Sebagian reruntuhan berhasil dipindahkan dengan susah payah. Hamparan rambut hitam legam tampak bercampur dengan debu dan percikan darah. Seorang pemudi terdampar di bawah beton rumahnya sendiri, tungkai kaki kanannya robek dan meresapkan darah yang tidak sedikit ke dalam tanah. Dia pias, dan wajahnya yang tidak berdaya membuat rupa Lafaye tak bisa kuenyahkan dari dalam kepalaku. Mengetuk-ngetuk kesadaranku dengan lolongan tolong yang menyakitkan.
Kami mengangkatnya setelah semua hambatan dibuang. Pemudi itu masih bernapas dan lekas dilarikan untuk mendapatkan pengobatan. Selepas lebih sadarkan diri, dia meraung sang ibu tertimbun lebih dalam darinya. Dia meraung minta ibunya diselamatkan. Tapi ketika kami menggali lebih dalam, satu mimpi pemudi itu telah binasa ditelan bencana.
Hanya ada jasad.
Aku terhuyung, seluruh sarapan seadanya yang kutelan dengan susah payah tadi pagi terasa bergelinjangan di dalam perut. Rasa lemas yang tiba-tiba mendera bercampur dengan pening yang membuat kepalaku mati rasa. Kesedihan ini terlalu luar biasa, duka cita ini terlalu besar untuk ditampung oleh hatiku yang tidak lebih besar dari apa pun.
Aku terpental ke tanah ketika kakiku menendang reruntuhan, lebam pipiku hingga membiru. Semua orang sibuk dengan korban mereka masing-masing sementara aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Sepicing mataku menemukan sesuatu yang tidak asing. Pagar dengan teralis berwarna gading ini, dulunya bukankah setinggi tubuhku, kini dia melesak ke tanah hingga tingginya tak lebih dari mata kakiku.
Kupandangi sederet atap yang sudah tidak berbentuk. Hatiku mencelus, yang tengah kuhadapi kini adalah rumah Lafaye. Persis rumah Lafaye. Aku meraung, “Lafaaayye! Lafaaayye! Lafaaayye!” sambil menggali tanah seperti orang gila dengan cakarku-cakarku. Sedalam tiga puluh sentimeter, kutemukan seraut wajah yang membuatku terjengkang ke belakang.
Paman Adhyaksa, ayah Lafaye.
Batinku menjerit.
Beberapa gerombolan relawan menyadari keberadaan korban yang kutemukan. Mereka mulai menggali dan menemukan beberapa jenazah berbalut lumpur yang menyerupakannya dengan sculpture usang. Namun hingga malam menjelang, tak kutemukan keberadaan Lafaye di sana.
Hancur!
Sudah tidak tersisa rasanya kehidupanku setelah tak kutemukan apa-apa di lokasi rumah Lafaye berdiri atau entah terkubur. Malam yang kami habiskan di pengungsian terasa lebih lama dari sewindu. Setiap detik yang berlalu menusuk-nusuk tubuhku dengan rasa khawatir, merajam batinku hingga lebur dengan kehampaan. Kebas rasanya, hingga rasanya aku bisa melihat dengan jelas segerombolan malaikat pencabut nyawa tengah mengintip kami dari kegelapan panjang di antara tenda-tenda pengungsian yang temaram.
Beberapa sudut dapur umum masih menyala, wangi mi instan bercampur duo sale[1] tanpa ikan teri yang layak berseliweran bersama angin malam yang membawa gigil. Mulutku kering ketika berbaring di atas selembar karpet yang sudah koyak. Mataku menatap langit, lalu berganti dengan seraut wajah penuh keriput milik seorang lelaki tua yang entah datang dari mana.
“Ane raja madago, maria rasi[2],” tekannya. “Jangan pernah sekali-kali berputus asa sebab manusia yang baik akan selalu mendapat kebaikan bahkan dari yang tidak disangka-sangka—asala n tau belo kana mabelo[3]. Buyut-buyut orang Palu adalah manusia-manusia Kaili terpilih yang kuat dan bersahaja. Mereka selalu percaya dengan kekuatan Yang Maha Besar.”
Aku terpekur, duduk kembali.
Kerontang perutku bisa kuabaikan namun semangkuk kaledo[4] yang ditawarkan oleh lelaki tua itu membuatku berselera. Kaledo tampak menjadi makanan yang sangat mewah di tengah kondisi penuh keterbatasan seperti ini. Namun bukannya lahap setelah menghirup bau pedas asam dari uapnya yang mengepul, air mataku luruh. Awalnya hanya setitik, lalu berubah tangis yang tidak tertahankan.
Aku lupa sudah berapa kali menangis setelah gempa mengguncang tubuh dan kehidupanku.
Tangan dingin lelaki tua itu menyisir pundakku. “Belo raelo belo rakava[5], yang kau cari adalah kebaikan maka kebaikan pula yang akan kau temukan. Tapi jika Tuhan sudah memintamu untuk berhenti mencari, hanya ada dua pilihan; kau harus segera pergi atau yang kau cari akan tiba-tiba muncul di hadapan untuk menggenapkanmu, menggenapkan kalian.”
Kulahap satu suap pertama makanan kesukaan Lafaye dari mangkuk di pangkuanku. Rasa kuahnya yang gurih dari sumsum tulang kaki lembu bercampur dengan pedas dan asam dari rempah. Lidahku merasa dihidupkan oleh daging-daging lembut yang pecah tanpa harus kukunyah. Pengar yang kurasa karena terlalu memforsir diri berangsur pulih. Mataku hanya menyisakan perih, tangisnya sudah kering.
“Meski semua yang mati tak bisa hidup kembali, percayalah bahwa semua yang hancur akan pulih, semua yang hilang akan berganti.”
Lelaki tua itu beranjak pergi tanpa kusadari.
Ketika sadar malam sudah begitu larut, kukemas kaledoku yang tidak kunjung habis ke dalam sekantong plastik. Seorang anak kecil terjaga dan menatapku dari pojok tenda pengungsian. Aku hendak menawarinya satu suap kaledo tapi dia berlari menuju ibunya yang sudah lebih dulu mendengkur.
***
Gong berdengung keras ketika aku mengintip kediaman lama Lafaye di sisi kaki gunung Balaroa, malam sudah sangat larut tapi rumah berangka kayu dan beratap seng itu masih ramai. Aku ingat dengan benar sebelum malam itu, seorang bule[6] seharian sibuk mencari daun go di hutan. Kini, daun itu terpasang di tengah-tengah mereka.
Mata masa kecilku masih awas untuk menemukan Lafaye yang lemah sedang terduduk penuh balutan kain di sana. Wajahnya selalu pias dan tampak berbeda, membuat orang berkata bahwa satu-satunya perempuan yang berani kuajak bermain itu didera sakit keras. Aku percaya Lafaye sakit tapi tidak terima jika penyebabnya adalah gangguan roh jahat, namun begitulah apa yang diyakini oleh sebagian dari kami.
Gong kembali berdengung. Suara-suara perkusi lainnya kemudian saling menyahut di tengah hening malam. Kidung disenandungkan dengan penuh permohonan dan kepasrahan diri. Kutelan ludahku paksa ketika para sando[7] tampak mulai melakukan sesuatu, tak bisa kupahami dengan nalar seorang bocah. Ketika Lafaye tiba-tiba bergerak seperti kerasukan, jeritan yang kutahan kuat-kuat tak lagi terbendung.
Malam kembali hening selepas jeritanku yang memekakkan telinga. Tubuhku terperosok ke atas tumpukan daun kering dan bonggol jagung di halaman rumah mereka. Nyeri dari luka di daguku tidak lebih menyakitkan dari pada tertangkap basah. Tidak seharusnya anak lelaki dari pegawai desa berjalan-jalan sendirian di tengah malam, apalagi mengintip rumah temannya yang seorang gadis.
Ketika itu usiaku baru sembilan tahun lebih tiga bulan.
Apa yang terjadi malam itu menjadi aib yang tidak bisa kututup. Tidak hanya membuatku diisolasi oleh Ayah selama beberapa hari, tetapi mereka juga menjauhkanku dari Lafaye. Namun kami masih bertemu secara diam-diam di kebun jagung selama perjalanan pergi atau pulang sekolah.
Sakit membuat Lafaye hanya bisa mengikuti orang tuanya berkebun, dia tidak mampu bersekolah. Tapi ada waktu-waktu tertentu yang membuatnya terguncang dan tidak terkendali, menungguku menemuinya selalu menjadi katarsis yang membuatnya setenang ombak teluk.
Aku pernah menariknya ke Festival Teluk Palu sepulang sekolah, mencicipi kaledo dengan sisa uang jajan yang kutabung mati-matian. Ada sebuah warung sederhana yang biasa menjadi tempat persembunyianku. Pemiliknya lebih memihakku dari pada memihak Ayah—si pegawai desa—yang kerap menjewer telingaku untuk pulang dan mengembalikan Lafaye ke rumahnya. Setiap kami berpisah, kuteriakkan kencang-kencang pada perempuan Kaili itu bahwa dia tidak sakit, Lafaye tidak perlu ritual balia dan dia hanya perlu menungguku datang.
Ucapanku ternyata bertuah. Aku membuatnya menunggu selama bertahun-tahun, terperangkap dalam pemahaman keluarganya yang keliru, serta menjalani ritual balia yang tidak pernah menyembuhkan. Roh jahat yang membuat Lafaye tersiksa tidak berada di dalam kepalanya, melainkan di dalam kromosomnya. Namun ketika kesadaran itu sudah kurengkuh erat, takdir menarikku terbang ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Aku pergi dengan rasa sesal dan janji untuk menemuinya setiap festival di pantai Talise digelar.
Tapi janji hanya sebatas janji.
Penyesalan itu yang menggantung erat di dalam batinku selama berhari-hari setelah bencana, merayap dan menancapkan rasa hampa yang keterlaluan menggigitnya. Menjadi satu dari sekian kecil yang kuingat ketika pada senja Jumat lalu seusai mandi, lindu membanting tubuh dan hari pertamaku di Palu tanpa ampun. Memontang-mantingkan manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa dari rumah-rumah mereka yang lekas roboh, seperti segerombolan semut yang berlarian menjauh dari gula-gula yang diguncang manusia pemiliknya.
Hingga kusadari, aku tinggal sendiri di jalanan yang tidak lagi kukenali. Kakiku pincang, kepalaku pening, tubuhku lemas seperti baru keluar setelah bertahun-tahun diombang-ambing sebuah wahana permainan. Dadaku tertusuk sebuah batang besi, tapi tidak terasa nyeri. Terseok, kutemukan sekumpulan orang di sebuah tenda pengungsian. Tak ada yang mengenaliku, aku pun tak benar-benar bisa mengenali mereka.
***
Tinggal di tempat pengungsian membuatku merasa aman, tapi kerap memunculkan satu dua mimpi buruk yang membuatku terjebak dalam tidur. Matahari sudah cukup tinggi ketika aku terbangun keesokan harinya. Beberapa pengungsi sudah mulai beraktivitas, begitu juga dengan para relawan dari berbagai satuan. Aku bergabung tanpa melewatkan sarapan, kucari sisa kaledoku tadi malam tapi hanya ada ruang hampa di dalam kantungnya yang menggelembung.
Entah ingatan atau mimpi semalam mengenai Lafaye membuatku urung mengikuti gabungan relawan menuju Balaroa. Aku mencari sekumpulan orang yang bersiap pergi menuju pesisir. Barangkali di pantai Talise, Lafaye si perempuan Kaili itu bisa kujemput. Sebab aku pernah menjanjijkannya demikian. Toh, segerombolan relawan menuju Balaroa itu tidak pernah mengindahkan keberadaanku.
Gempa susulan yang cukup besar adalah salah satu kendala kenapa proses evakuasi di pantai Talise sulit dilakukan, belum lagi dengan medan yang sungguh berantakan. Dulu setiap mengunjungi pantai ini, yang kutemukan adalah sekumpulan masyarakat Palu yang sedang menikmati indah alam pemberian Tuhannya. Kini, aku hanya menemukan reruntuhan; bangunan rusak, kendaraan penyok, perahu lapuk, dan pengguna-penggunanya yang mulai mengeras di antara itu.
Mataku menyisir tepian laut dan tempat sekitarnya yang bisa kujangkau. Ketika itulah tubuhku—entah masih patutkah kusebut seluruh bagian dariku kini sebagai tubuh—tiba-tiba berguncang. Aku menemukan Lafaye si perempuan Kaili yang sudah kutinggalkan selama bertahun-tahun di tepi Anjungan Pantai Talise yang porak poranda. Dia mengenakan gaun berwarna ungu pudar, gaunnya setiap mengunjungi festival.
Kami berpelukan, lama.
Kutangkup dua pipi pada rupa wajahnya yang tidak pernah berubah hingga tangisnya mereda. Kuseka sisa air matanya yang jatuh dengan ujung ibu jari. Banyak hal yang ingin kujelaskan padanya; tentang kepergianku yang lama kembali, keluarganya yang tak tersisa di Balaroa, juga tentang jasadnya yang tengah diangkut dari bawah tumpukan pasir oleh para relawan—tak jauh dari Anjungan Pantai Talise tempat kami kembali berpelukan diselimuti jingga matahari terbenam.
“Aku kembali, dan semuanya sudah selesai, Lafaye,” bisikku.
Semuanya sudah benar-benar selesai.
Kuharap dia memahaminya.
***
[1] Sambal khas Palu yang terbuat dari ikan teri kering
[2] Kalau budi baik, banyak untung
[3] Asal orang baik selalu berbuat baik
[4] Makanan sejenis sup khas Sulawesi Tengah yang terbuat dari sumsum tulang lembu
[5] Jika kebaikan yang dicari, maka kebaikan pula yang diperoleh
[6] Pendamping Sando
[7] Dukun Balia