Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Butiran bedak dingin berterbangan di udara remang, memantul di bawah pendar bohlam kuning 40 watt yang bergoyang pelan. Di balik panggung Gedung Senisono Yogyakarta, bau kapur barus, cat minyak yang belum kering, dan keringat yang mengendap di lipatan kostum menyengat hidung. Dari balik dinding papan, dentang kursi-kursi kayu yang diseret dan derap langkah ratusan kaki bertabrakan dengan gemuruh hujan yang mulai reda di luar.
Ratih menatap cermin rias yang ujung atasnya meretak diagonal. Tangan kanannya memegang spons basah, terhenti di dekat tulang pipi. Kulit di bawah matanya mencekung hitam, memperlihatkan jejak tiga malam tanpa tidur yang pulas.
Setiap kali angin berembus dari ventilasi atas, kertas stensil lusuh di samping tempat bedak bergulung sendiri. Pada lembar kertas itu, berjejer coretan tinta hitam yang tebal dan agak cakar ayam, tulisan Bung Retjo, sang sutradara gaek yang hilang entah kemana tak kentara rimbanya dari kelompok teater ini dua hari lalu, meninggalkan naskah setengah jadi.
"Ratih?!"
Singatan kain beludru di ambang pintu berdesir. Sumitro berdiri di sana. Riasan putih di wajahnya retak di bagian dahi, tergerus oleh bulir-bulir keringat yang terus meleleh menetes ke kerah kemejanya.
"Penonton sudah tumpah sampai ke lorong," bisik Sumitro. Napasnya berbau rokok kretek. "Para Nayaga bingung. Kita mau pakai penutup lakon yang mana? Akhir asli buatan Bung Rejto belum jelas, Ratih. Kau tahu sendiri babak tiga kemarin selalu berhenti di tengah jalan saat latihan."
Ratih berdiri. Kursi kayu berderit keras menggeser lantai. Ia meraba lembar kertas di meja bertulis catatan bait puisi yang ditinggalkan Bung Retjo di atas meja latih sebelum ia menghilang.
Ratih melipat kertas itu menjadi empat bagian kecil, lalu menyelipkannya ke balik lipatan stagen ketat yang melilit pinggangnya.
"Kita tidak akan membawakan dialog monolog biasa di akhir," katanya pelan, menatap mata Sumitro di cermin. "Aku akan membawakan puisi terakhir Bung Retjo."
Sumitro terbelalak, memegang bingkai pintu. "Tapi puisi itu tidak pernah kita rehal! Itu terlalu berat, terlalu mencekat. Kau bisa membuat alur pertunjukan ini mati di adegan puncak!"
"Denyut teater ini akan mati kalau kita cuma mengulang dialog yang sama tanpa jiwa, Mitro," jawab Ratih. Ia melangkah melewati Sumitro dan menyibak tirai menuju sayap panggung.
Gedung kesenian itu mendadak kehilangan suara. Lampu-lampu dinding dari kaleng bekas padam satu per satu, menyisakan bau gosong dari serat kawat panas yang mendingin.
Di tengah panggung yang membisu, seberkas cahaya tunggal jatuh dari lantai dua. Cahaya dari lampu sorot tua itu mengaluri jutaan partikel debu yang menari-nari di dalam garis lampunya yang kuning pucat.
Ratih melangkah ke dalam lingkaran cahaya itu. Kain tenun hitam yang membalut tubuhnya terasa ketat, menyerap hawa panas yang dipancarkan sorot lampu tepat di atas jidatnya.
Dari atas panggung, pandangannya membentur lautan kegelapan. Ratusan pasang mata penonton tak terlihat, namun panggung itu bernapas bersama mereka. Ratih bisa merasakan hembusan napas serentak, derit gesekan pakaian, dan ketegangan yang mengampai di udara menantikan bagaimana cerita yang menggantung ini akan diselesaikan.
Ratih memejamkan mata. Udara di tenggorokannya terasa kering. Ia meraba lipatan stagen di pinggangnya, merasakan sudut kertas yang tajam menekan rusuknya. Ketika ia membuka mata kembali, ia membiarkan dirinya lebur sepenuhnya menjadi vokal bagi naskah yang terluka itu.
Ratih menarik napas. Dadanya naik turun secara teratur sebelum suaranya pecah, memantul pada dinding-dinding di sekeliling gedung.
Menenun Iblis
Segala nista bermula dari satu mula yang lumat.
Jemari yang lancang meraba hak yang tak beralamat.
Ketamakan tak pernah melengking di awal laga.
Ia bernapas lamat,
menyaru bisik yang menawar murah murad nurani,
menunda iba,
lalu membujuk sang aku bahwa ujung berhak menebus cara.
Satu demi satu, tapal batas runtuh,
dan rengkuh yang semula malu, kini menjelma tuntut.
Dari rahim itu, semena-mena menyalak.
Di balik sayap panggung, Sumitro memegangi tiang penyangga dekorasi. Matanya tak berkedip. Irama diksi yang dibawakan Ratih tidak meluncur seperti hafalan naskah, melainkan seperti helaan napas berat yang merayap di atas lantai papan.
Ratih mengambil satu langkah maju. Ujung jempol kakinya menyentuh batas luar lingkaran cahaya lampu sorot.
Ketika takhta merasa kebal kutuk.
Ketika pundi menyangka hukum bisa ditekuk.
Ketika manusia memadamkan tatap sesamanya,
lalu menjadikannya sekadar bidak, sesesapan,
atau tumbal yang habis sekali sepah.
Kezaliman tak pernah tegak sebatang kara.
Ia rimbun karena tangan-tangan yang menyiramnya,
mata yang mendadak buta,
telinga yang pura-pura tuli,
atau mereka yang merunduk aman di balik sunyi.
Di barisan tengah penonton, seorang lelaki sebaya yang memegang buku naskah teater perlahan menurunkan bukunya ke pangkuan. Cengkeramannya pada sandaran kursi di depannya makin mengencang.
Derit kipas angin gantung di atas seakan tenggelam oleh irama kata yang meluncur dari panggung.
Suara Ratih melebar, tidak lagi datang dari tenggorokan, melainkan bergetar dari rongga dadanya. Setiap penekanan kata membuat badannya sedikit terguncang ke depan.
Tiap gores tinta palsu,
tiap dusta yang diaminkan,
tiap ngeri yang dipelihara,
adalah pasak yang menghujam jantung keadilan.
Lalu mengerak luka perih yang tak bertajuk,
tak berwajah di meja hakim,
tak bersua kata maaf.
Ia membusuk dalam ceruk senyap,
hingga suatu pekat, ia menyublim jadi kesumat.
Dendam kerap mengenakan jubah keadilan.
Ia merapal perihal pembalasan,
pajak darah,
dan lara yang musti lunas setimpal.
Ratih mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. Cahaya kuning keras menghantam pelipisnya, membuat bulir-bulir keringat di dahi dan lehernya berkilauan seperti kaca pecah. Pementasan teater malam itu tak lagi sekadar pertunjukan drama rekaan, melainkan sebuah katarsis atas luka kemanusiaan yang disampaikan tanpa topeng.
Namun kesumat tak pernah menjahit sayat.
Ia hanya mengoper belati dari satu jemari ke jemari yang lain.
Dan kala dendam didaulat menjadi pandu,
ia menyesatkan jalan pulang.
Ia melebur batas antara algojo dan mangsa,
hingga keduanya mengidap buta arah.
Yang satu kehilangan sukmanya,
yang lain kehilangan esoknya.
Tak ada iblis yang merosot dari langit mendekap sangkur.
Iblis ditenun perlahan oleh loba yang luput ditegur,
oleh kuasa yang lolos dipasung,
oleh durjana yang dibiarkan meluas tanpa palang.
Manusia memahat berhala ngerinya sendiri,
lalu menggigil menatap bayang itu akhirnya tegak menjulang di pelupuk matanya.
Di balik kegelapan balkon paling atas, sesosok pria berambut putih dengan surjan lurik berdiri bersandar pada pembatas besi. Bung Retjo datang diam-diam dan menyaksikan pertunjukan dari sudut tergelap gedung. Ia menangkupkan satu tangannya di depan mulut, menatap panggung dengan mata yang berkaca-kaca.
Suara Ratih merendah. Bukan lagi sebuah seruan, melainkan bisikan berat yang merayap di atas lantai papan panggung, merembes ke celah-celah ubin gedung.
Dan ketika lakon telah purna,
ketika anyir darah mengering,
ketika pekik lumat digulung waktu,
yang tersisa hanyalah hening yang menyalang,
bertanya tanpa suara:
Apakah angkara telah benar-benar sirna,
atau sekadar bersalin rupa?
Apakah keadilan telah mengetuk pintu,
atau hanya kesumat yang sedang rebah membatu?
Sebab di dunia yang lupa merawat sukma,
memedi tak selalu gentayangan tanpa raga.
Kadang ia berjalan tegap di terik siang,
tersenyum tipis,
menggenggam titah,
dan tak pernah mengenal arti bersalah.
Cklek.
Operator di balkon atas menarik tuas sakelar utama. Cahaya lampu sorot tersedot habis dalam sekejap. Panggung tersapu kegelapan total.
Hawa panas dari lampu masih tertinggal menggantung di udara. Satu detik ... dua detik ... lima detik ... tak ada suara napas yang terdengar jelas. Hanya derit baling-baling kipas angin tua di atas yang terus berputar: kriet ... kriet ... kriet ....
Lalu, di barisan paling belakang dekat pintu keluar, sebuah telapak tangan menghantam telapak tangan lainnya.
Plak.
Suara tunggal itu memecah keheningan. Dalam hitungan sekejap mata, suara itu disusul oleh suara gesekan puluhan tubuh yang berdiri serentak dari kursi kayu. Gemuruh gemertak papan lantai bergetar hebat saat ratusan orang menepuk tangan mereka tinggi-tinggi di udara. Sorakan-sorakan tanpa kata pecah, memantul dari sudut ke sudut atap gedung.
Lampu panggung perlahan dinyalakan kembali. Seluruh pemain keluar memberi penghormatan.
Di tengah sorak-sorai yang tak kunjung padam itu, Ratih berdiri di tengah panggung. Dadanya naik turun cepat. Air mata yang menetes dari pelupuk matanya melintasi riasan bedak dingin, meninggalkan dua garis jalur jernih di sepanjang pipinya yang hangat. Di atas balkon yang remang, Bung Retjo bertepuk tangan pelan, menganggukkan kepalanya memberi hormat pada keajaiban teater yang baru saja terlahir di atas panggung.