Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
MENCARI SANG INTEL
0
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ada sebuah rombong baru di jalan depan sekolah SMA swasta itu. Letaknya berhadapan dengan penjual dawet enak milik Mas Bajang dan rombong bakso Cak Remek beberapa meter di sebelah kirinya. Seorang temanku bilang, “coba kamu ke rombong soto yang baru itu. Pasti kamu akan langsung membeli sotonya!”

Tentu aku tidak percaya omongan teman yang lebih suka mabuk dan percaya mistis itu. Maka hari ini aku pergi ke rombong soto itu. Baru juga aku sampai di depannya, aku langsung tahu mengapa temanku yang slebor itu mengatakannya.

Penjual soto itu membuat mataku tak berkedip. Semampai, lekuk tubuh dan busung dadanya terbalut gaun kuning berenda, dengan rambutnya jatuh terurai ke pundaknya, ia memandangku dengan matanya yang tajam namun teduh. “Sotonya, Mas, monggo . . .” ucapan ramahnya terlontar mengalun bak musik merdu nian.

Aku memesan semangkok lalu duduk di kursi plastik di samping rombongnya. Sengaja aku pilih kursi yang paling dekat dengan rombongnya. Gerakannya gemulai namun gesit menyiapkan mangkok, menaruh bihun, tauge, irisan kol, jerohan, dan suwiran ayam, lalu menyiramnya dengan kuah panas. Ketika ia menjumput irisan bawang, seledri, dan bawang goreng, pandanganku terjebak ke jemarinya yang panjang dan lentik namun kelihatan kokoh.

“Pakai telor, Mas?”

Aku tergeragap sejenak. “Boleh, Mbak.”

Sementara aku menyantap soto yang lumayan gurih itu, aku tak bisa menahan diriku untuk mencuri pandang ke arahnya. Di tengah kesibukannya melayani pembeli yang datang, ia akhirnya tahu. Ia membalas tatapanku dengan pandangan balik sangat singkat. Setelah pembeli mereda, ia mengambil secarik kain lalu membersihkan sisa-sisa kuah di mejanya. Mendadak sontak ia menghadap ke arahku, tersenyum tipis melihat pandanganku yang masih nanar, dan berkata.

“Mas nya dari mana?”

Oh, betapa beraninya ia memulai pembicaraan lebih dulu! Jantungku berdebar memompakan semangat.

“Saya dari sini aja, Mbak. Itu, ada toko kelontong seratusan meter dari sini, saya yang punya.”

“Oooh, . .” ia melihat sekilas ke arah yang aku tunjukkan dan mengangguk.

“Mbaknya baru datang ya disini? Dari mana, Mbak?”

“Dari Gondanglegi, Mas. Pergi ke kota cari peluang. Orang sini banyak yang suka soto.”

“Oh, iyaa, Mbak, apalagi kalau yang jualan kayak Mbak nya,” aku tersenyum, lebih tepatnya cengengesan. Wajahnya seketika bersemu merah.

“Saya Soojun,” aku sebutkan namaku. “Mbaknya?”

Dia menyebutkan namanya agak lirih sehingga aku bertanya lagi. “Kunai,” katanya lagi lebih keras.

“Anaknya ditinggal di desa kah, Mbak?”

Kunai tersenyum dan menundukkan wajahnya. Ia lalu berbalik badan menyambut seorang pelanggan yang baru datang mau memesan. Aku digantungnya di udara dengan wajah bertanya tanpa jawaban.

 

Beberapa hari berikutnya aku sudah mampir lagi ke rombongnya memesan semangkuk soto. Ia tak menyambut umpanku tentang suami dan anak, tapi dari bahasa tubuhnya bisalah aku simpulkan dia masih lajang, atau setidaknya tidak terikat pada hubungan pernikahan dengan orang lain. Wajahnya semakin sulit lepas dari benakku. Aku makin sering mengunjunginya dan makin betah berlama-lama di sampingnya. Memandangi Kunai dengan luwes dan gesit menyajikan soto untuk para pembelinya pun sudah memuaskan diriku.

 Sekali waktu ketika aku sedang senggang aku menawarkan beberapa bantuan ringan kepadanya. Matanya berbinar mengiyakan dan hatiku pun melonjak. Aku membantunya mencucikan beberapa mangkok, membuangkan sampah, bahkan membelikan beberapa bahan mentah untuk ia olah. Aku menikmati melakukan hal-hal kecil itu dan tanpa terasa perasaan sayang itu tumbuh makin kuat.

Suatu hari aku lihat beberapa pria seusiaku sedang berbincang dengannya. Aku sengaja mengendarai motorku bolak-balik di depan rombongnya. Setiap kali melintas aku lontarkan pandangan tajam ke arah mereka. Pada kali keenam, aku akhirnya memutuskan untuk menghentikan motorku di sebelah rombongnya. Kukeraskan gas motorku sesaat sebelum mematikan mesinnya.

“Mas Soojun,” Kunai setengah berseru menyambutku. Binar matanya serasa melambungkan diriku ke langit ketujuh. “Ini pelanggan setia saya,” ia memperkenalkan diriku dengan senyum lebar. Ujung mataku menangkap kilas pandangan tajam ditembakkan langsung ke wajahku dari seorang pria di depannya.

“Mbak Kunai,” sapaku tersenyum lebar sambil beranjak mendekati dirinya sampai dekat sekali. “Ayo, butuh bantuan kah? Aku siap membantu.”

Kami baru saja mau menyiapkan hidangan ketika sebuah sepeda motor besar datang. Pengendaranya, Narkos, seorang rekanku, memanggilku tanpa turun dari motornya.

“Ada yang perlu aku bicarakan!” katanya. Aku dengan langkah pelan dan kening berkerut terpaksa beranjak dari sisi Kunai dan mendekati Narkos. Kami berbincang beberapa lama dengan nada rendah.

“Jaga langkahmu, bro!” katanya. “kabar santer aku dengar daerah ini sedang diawasi aparat. Kayaknya mereka makin curiga!”

Aku menengok ke sekeliling jalan itu. Tak ada yang luar biasa. Tiga penjual itu di rombongnya masing-masing, beberapa anak sekolah bersama ibu mereka, beberapa pria dan wanita pekerja datang dan pergi setelah makan siang.

“Si Koboi sudah tertangkap,” ujaran Narkos membuatku terhenyak. “Kamu tahu sendiri betapa cerdiknya si Koboi dan toh mereka bisa menggulungnya!”

Kami saling berpandangan. Tanpa bertukar kata pun semua terasa jelas.

Intel.

 Aku mulai mengilas balik semua peristiwa di daerah operasiku ini sampai beberapa tahun sebelumnya. Cak Remek datang hampir bersamaan dengan Mas Bajang yang penjual dawet itu sekitar empat atau lima tahun silam. Setelah itu semuanya nampak baik-baik saja. Operasi kami tetap berjalan lancar. Pasokan mengalir sesuai dengan makin tingginya permintaan. Cak Remek selalu kelihatan sibuk melayani pelanggannya. Mas Bajang pun juga tak kalah gesitnya menyajikan segelas dawet segar kepada pembelinya yang mau makan di rombong Cak Remek.

Aku memutuskan untuk mengintai mereka berdua dari jauh. Kuparkir mobil boksku di tepi jalan agak jauh dari kedua rombong itu. Aku buka pintu mobil dan membaca sebuah harian. Beberapa kali aku turunkan lembar harian itu untuk dengan cermat mengawasi tingkah laku kedua pria penjual panganan laris itu.

Tak ada yang mencurigakan sampai tibalah hari kelima. Ada sesuatu yang tidak biasa. Sebuah mobil hitam mendekat dan berhenti di samping rombong mereka. Seorang pria tegap berkacamata hitam dengan jaket kulit hitam mendekati Cak Remek. Mereka berbincang singkat. Sang pria terlihat mengucapkan beberapa patah kata dan Cak Remek manggut-manggut saja. Pria itu lalu beranjak ke Mas Bajang dan melakukan hal yang sama.

“Itu pasti instruksi buat mereka,” gumamku dalam hati.

Si pria misterius itu lalu beranjak kembali ke mobilnya. Ia memutarkan mobilnya dan melintas di depan rombong Kunai. Mobil nampak agak melambat tepat di depan rombong perempuan molek itu. Kunai seperti menatap beberapa detik ke arah jendela mobil, lalu kembali sibuk meracik sotonya.

 

Sejak saat itu aku tidak lagi mampir ke rombong bakso Cak Remek dan rombong dawet Mas Bajang. Aku beberapa kali melewati mereka dan tidak mengacuhkan sapaan mereka.

“Sotonya satu, Mbak,” ujarku dengan nada datar tanpa senyum ke Kunai pada suatu siang yang terik. Ia mengujarkan beberapa kata dengan ramah seperti biasanya. Aku bergeming tidak menjawab atau pun sekedar tersenyum balik.

Aku menyantap soto itu tanpa melepas pandanganku ke pernak-pernik rombong Kunai. Tak ada yang istimewa di tengah-tengah barisan botol, toples bumbu, tumpukan sayur dan daging ayam, dan panci di atas api itu. Namun sekali waktu ia membuka laci kecil di bagian bawah rombongnya. Pandanganku mendelik ke arah isi laci itu. Gelap. Ia merogoh sesuatu. Ternyata plastik kresek hitam. Ketika ia sedang menutup laci itu, rupanya ekor matanya menangkap pandanganku.

Ia menoleh. Matanya yang elok memancarkan tanya dan bibirnya setengah terbuka.

“Tambah sotonya, Mas?” ujarnya. Nadanya yang sedikit gemetar tertangkap oleh antena telingaku.

Aku menggosokkan tanganku ke celana hitamku. Mataku memandang lekat ke arahnya. “Mbak,” kataku. “Dulu kok pindah dari kampung kenapa, Mbak?”

Ia memandangku dengan kerutan di keningnya makin dalam.

“Lha ya cari uang, Mas,” jawabnya. “Orang tua saya dah lanjut usia, masih butuh biaya buat berobat. Saya cari rejeki lebih, Mas.”

“Iyaa, lha kok dapatnya di daerah sini? Kan masih banyak daerah lain?”

“Lah, ya kan Mas sendiri tahu hanya disini boleh jualan pake rombong dekat sekolah. Ya biar laris, Mas.”

Aku terdiam. Wajahku pasti sudah masam karena ia kemudian bertanya, “Kenapa to Mas Soojun kok tiba-tiba kayak merengut gitu? Saya ada salah kah?”

Aku mengembalikan mangkok sotonya dan membayarnya tanpa senyum tanpa kata.

Beberapa hari aku mondar-mandir di depan rombong Kunai tanpa mampir. Sekali dua kali ia menoleh ke arahku. Aku membalasnya dengan raut wajah datar dan pandangan tajam. Sesekali senyum tipisnya terkuak lalu pudar berganti datar.

 

Pagi baru saja beranjak siang ketika kudengar suara ribut di ujung jalan. Beberapa pria berlarian. Aku menoleh dari jendela mobil boksku, memanjangkan leherku mencoba menemukan sumber kehebohan itu. Aku menyipitkan mataku mencoba melihat lebih jelas. Kulihat satu rekanku di antara pria yang sedang berlarian itu. Ia berlari tak tentu arah sebelum akhirnya menyerbu masuk ke belakang rombong Kunai.

Cepat aku nyalakan mesin mobilku. Aku tancap gas mendekati rombong Kunai. Ia sedang berbicara dengan rekanku itu, si Radom. Sekilas kudengar ucapannya, “Mas, jangan disini! Saya ndak mau kena masalah!”

Radom tergagap-gagap menyuruhnya diam dan mencoba menjelaskan. Aku bahkan tak bisa mendengar apa yang diucapkannya.

Suara letusan di kejauhan menyentakkan kami bertiga. Beberapa pembeli yang tadi duduk di kursi rombong langsung ambil langkah seribu. Aku melompat dari mobilku ke arah Kunai. Cepat aku renggut tangan kanannya dan kutarik ke mobilku.

“Ayo ikut aku!” bentakku. “Kamu nanti mati disini kena tembak!”

Aku renggut pintu penumpang dan aku dorong Kunai masuk sampai hampir terjungkal ke bak persneling. Aku berlari memutar untuk masuk dari sisi pengemudi. Si Radom berteriak memanggil namaku. Aku tulikan kedua telingaku. Beberapa saat sebelum mobilku melesat, ia melemparkan sesuatu bungkusan yang jatuh di kabinku lalu terhempas ke lantai mobil.

Aku tancap gas sejadi-jadinya menjauh dari tempat itu ke daerah atas. Kunai tak berhenti menanyaiku. Aku diam tak menjawab.

“Bahaya!” akhirnya aku berteriak ke arahnya. “Ada razia. Tempat itu diserbu polisi!”

Kunai terdiam seketika.

“Kita mau kemana, Mas?” akhirnya ia bertanya.

“Ke tempat aman,” jawabanku pendek saja seiring dengan gerakan tanganku membelokkan kemudi ke sebuah gang kecil nyaris tak kelihatan dari jalan besar. Aku berhenti di depan sebuah bangunan besar. Sebelum turun, aku tendang keluar bungkusan kecil yang tadi dijatuhkan Radom ke mobilku. Lalu aku buka pintu penumpang dan aku gandeng Kunai memasuki bangunan itu dari pintu sampingnya.

“Ini gudangku,” kataku dengan nafas tersengal. “Untuk sementara kamu disini ya?”

Perempuan itu hanya sanggup memandangku tanpa kata. Ia menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Baru aku sadar ia bercelana jins hari ini. Pandanganku terjebak erat bak lalat di jaring laba-laba di pinggul dan tungkai panjangnya di balik celana ketat itu.

Aku melangkah pelan mendekatinya. Nafasku memburu ketika tangan kananku terulur memegang dagunya. Ia setengah meronta namun tanganku memaksanya menatap wajahku. Kubelai pipinya yang halus. Ia menatapku dengan matanya yang lebar.

“Mas, . . .” desahnya. “Kok jadi begini? Jangan ah, Mas, kasihani saya.”

Aku merasakan gumpalan bara menyalakan api di selangkanganku, lalu perlahan naik ke dadaku setelah memastikan selangkanganku sudah berkobar hebat.

“Kamu manis,” aku berbisik. Aku tundukkan wajahku untuk mengecup pipinya, lalu beranjak ke bibirnya. Ia meronta. Ia jauhkan wajahnya sambil tangannya mencoba mendorong dadaku. Aku memaksakan wajahku ke wajahnya dan akhirnya menyentuh bibirnya dengan bibirku. Ia menolak namun pada detik terakhir ia seperti menyerah.

Semuanya terjadi begitu cepat setelahnya. Ia melepas ciumanku lalu menundukkan badannya. Tangan kanannya melesatkan pukulan pendek nan keras ke ulu hatiku. Aku melenguh keras seiring dengan disentakkannya udara keluar dari seluruh sel di tubuhku. Dengan gesit wanita itu berkelit keluar dari himpitan badanku lalu berdiri sigap. Baru juga aku bereaksi dan mau melawan ketika tendangan kaki kanannya melesat menghajar pinggangku. Aku jatuh terduduk dan ia menjauh beberapa langkah. Tangannya bergerak gesit ke belakang pinggangnya dan menarik sebuah benda hitam. Astaga!

“Berhenti! Polisi! Jangan bergerak!” suaranya keras bak lecutan petir. Aku terbeliak menatap moncong revolver itu. Lalu tanpa pikir panjang aku berbalik dan lari sekencang yang aku bisa. Aku menabrak pintu belakang yang langsung aku buka lalu lari secepat-cepatnya, melompati pagar pendek, menerabas jeruji besi yang menghunjamkan rasa perih di kakiku, dan menerjang entah apa lagi.

“Berhenti!!” suaranya terdengar lagi di belakang. “Atau saya tembak!”

Aku lari, dan lari, dan lari.

Juli 2026

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Cerpen
MENCARI SANG INTEL
Atis Dee Jay
Novel
THE MAN OF HUNTER KILLERS
Bang Staycool
Komik
Bronze
The Antagonist
morningmoonmoon.id
Cerpen
O2
Rian Widagdo
Cerpen
Bronze
Dua Wajah Samsu
Imajinasiku
Flash
Bronze
Mimpi Ibu Ikan dan Ayah Laba-laba
Alfian N. Budiarto
Novel
Saloma
myht
Novel
Hukuman Murid Ke - 38
Athiyah Nazifah
Novel
IDENTITY
Nana Tauran Sidik
Flash
Cheesecake
Soraya
Novel
Z FLAKKA 20
Adine Indriani
Skrip Film
Jika Bunuh Diri Tendang Saja Kakiku
Linggarjati Bratawati
Novel
Gold
The Good Neighbor
Noura Publishing
Novel
The Silent Gods of Srivijaya
Endri Irfanie
Skrip Film
Love's Hidden Peril
gustiana
Rekomendasi
Cerpen
MENCARI SANG INTEL
Atis Dee Jay
Cerpen
AYAT ITU
Atis Dee Jay
Novel
DUA DARA DI ATAS PRAHARA
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN HISTERIS MENJELANG UBUD
Atis Dee Jay
Cerpen
CERMIN DI POJOK RUANG TENGAH
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
MBAH PIRUS DAN KESEBELASAN ARGENTINA
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
MENJELANG LIMA PULUH
Atis Dee Jay
Cerpen
SUATU HARI DI MUSEUM PERJUANGAN
Atis Dee Jay
Novel
CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM
Atis Dee Jay
Cerpen
LES MISERAMBLES
Atis Dee Jay
Novel
MENDAMBA CAHAYA
Atis Dee Jay
Cerpen
SABER DAN SUKU PREMANSABAR
Atis Dee Jay
Cerpen
SETELAH TUJUH TAHUN
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
GEDORAN DI PAGAR TUAN CIAAT
Atis Dee Jay
Cerpen
Bronze
DI UJUNG ANCAMAN SANG SOPIR
Atis Dee Jay