Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore di Yogyakarta selalu punya cara sendiri untuk membuat rumah terasa lebih tua daripada usianya.
Cahaya matahari yang mulai condong menyusup di antara daun mangga di halaman rumah Papa Morgan. Angin membawa aroma tanah yang baru disiram, bercampur dengan wangi bunga melati yang tumbuh di dekat pagar. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan melewati jalan kampung, sesekali diselingi suara penjual makanan yang menawarkan dagangannya.
Di rumah sederhana bercat putih itu, hanya ada dua orang yang tinggal.
Papa Morgan dan Kyara.
Mama sudah lama tiada.
Sejak kepergian Mama, rumah itu tidak pernah benar-benar menjadi rumah yang sama. Tidak ada lagi suara piring beradu dari dapur pada pagi hari. Tidak ada suara perempuan yang mengingatkan Papa membawa payung ketika hendak pergi. Tidak ada seseorang yang berdiri di depan pintu, menunggu Kyara pulang sambil bertanya apakah ia sudah makan.
Namun Papa Morgan tidak pernah membiarkan rumah itu kehilangan kehangatannya.
Ia belajar memasak meski hanya mampu membuat sayur bening, telur dadar, dan sambal sederhana. Ia juga belajar memahami anak perempuannya yang tumbuh menjadi perempuan dewasa dengan kehidupan sendiri.
Kyara kini berusia dua puluh sembilan tahun.
Ia bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah di Yogyakarta. Setiap pagi, ia mengenakan pakaian kerja dengan rapi, membawa tas hitam, lalu berpamitan kepada papanya sebelum berangkat.
Pagi itu pun demikian.
Kyara berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya.
"Kyara, jangan lupa sarapan," panggil Papa dari ruang makan.
Kyara keluar kamar sambil tersenyum.
Kyara: "Sudah, Pa. Tapi kalau Papa yang masak, saya agak takut."
Papa Morgan tertawa.
Papa: "Kamu ini. Papa sudah tua masih saja dihina anak sendiri."
Kyara: "Bukan dihina. Saya cuma menjaga kesehatan Papa."
Papa: "Alasan."
Kyara duduk di depan sepiring nasi goreng.
Papa memperhatikannya beberapa saat.
Papa: "Kamu sudah hampir tiga puluh."
Tangan Kyara berhenti.
Kyara: "Nah, mulai."
Papa: "Mulai apa?"
Kyara: "Ceramah pernikahan."
Papa tersenyum kecil.
Papa: "Papa cuma ingin kamu punya seseorang."
Kyara: "Saya punya Papa."
Jawaban itu membuat senyum Papa perlahan menghilang.
Ia menatap anak perempuannya cukup lama.
Papa: "Papa tidak selamanya bisa menemani kamu."
Kyara menunduk.
Kalimat itu selalu menjadi bagian yang paling tidak ingin ia dengar.
Beberapa bulan terakhir, Papa Morgan semakin serius mencari calon suami untuk Kyara.
Bukan karena ia tidak percaya pada pilihan anaknya.
Justru karena ia terlalu mencintainya.
Papa ingin laki-laki yang bukan hanya memiliki pekerjaan baik, tetapi juga mampu berdiri di samping Kyara ketika kehidupan tidak lagi mudah.
Dan akhirnya, datanglah empat laki-laki.
Yang pertama adalah Arman.
Arman merupakan teman dekat Kyara sejak beberapa tahun terakhir. Ia baik, suka membantu, dan sebenarnya memiliki hati yang tulus. Hanya saja mulutnya sering membuat Kyara ingin melempar bantal.
Arman selalu berbicara terus terang.
Terlalu terus terang.
Suatu sore, Arman datang membawa buah tangan.
Arman: "Pak, saya membawa buah."
Papa: "Wah, terima kasih. Kamu memang perhatian."
Arman: "Saya bukan perhatian, Pak. Saya cuma takut kalau datang ke rumah Bapak dengan tangan kosong, nanti Kyara bilang saya tidak punya masa depan."
Kyara yang sedang membawa teh langsung menatap tajam.
Kyara: "Man!"
Arman tertawa.
Arman: "Nah, itu. Kalau marah begini, berarti masih sehat."
Papa Morgan tertawa lepas.
Namun malamnya, ketika Arman sudah pulang, Papa berkata serius.
Papa: "Dia baik. Tapi mulutnya perlu diservis."
Kyara tertawa.
Kyara: "Itu Arman, Pa."
Papa: "Papa tahu. Tapi suami bukan hanya teman bercanda."
Laki-laki kedua adalah Wisnu.
Wisnu sudah berkeluarga sebelumnya. Ia seorang duda dengan lima orang anak. Istrinya telah meninggal dunia.
Ia bekerja di instansi pemerintah, sama seperti Kyara.
Wisnu datang dengan sikap tenang. Tidak banyak bicara. Ia membawa buah tangan dan berbicara kepada Papa Morgan dengan penuh hormat.
Wisnu: "Saya tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Bapak. Saya memiliki lima anak. Kehidupan saya tidak sederhana."
Papa Morgan mengangguk.
Papa: "Saya menghargai kejujuranmu."
Wisnu: "Saya datang bukan untuk menjanjikan kehidupan mewah kepada Kyara. Saya hanya ingin jika suatu hari kami bersama, saya bisa menjaganya dengan kemampuan saya."
Kyara diam.
Ia melihat kesungguhan di mata Wisnu.
Namun setelah Wisnu pulang, Papa Morgan menghela napas panjang.
Papa: "Dia lelaki baik."
Kyara: "Lalu?"
Papa: "Kehidupannya berat."
Kyara: "Bukankah semua orang punya beban?"
Papa: "Benar. Tetapi Papa tidak ingin kamu masuk ke dalam kehidupan yang belum selesai."
Kyara terdiam.
Laki-laki ketiga adalah Mario.
Berbeda dari dua pria sebelumnya, Mario datang dengan mobil mewah, pakaian mahal, dan cara bicara yang sangat meyakinkan.
Ia seorang pebisnis sukses.
Rumahnya besar.
Usahanya berkembang.
Ia memiliki segala sesuatu yang selama ini sering disebut orang sebagai kemapanan.
Mario: "Saya ingin Kyara hidup nyaman, Pak."
Papa: "Nyaman itu menurutmu apa?"
Mario tersenyum.
Mario: "Tidak perlu memikirkan uang."
Papa menatapnya.
Papa: "Kalau begitu, kamu pikir kebahagiaan bisa dibeli?"
Mario terdiam sesaat.
Mario: "Bukan begitu maksud saya."
Papa: "Papa hanya bertanya."
Kyara memperhatikan percakapan itu dari dapur.
Ia tahu Mario menarik.
Ia tahu Mario mapan.
Namun Kyara juga mendengar cerita tentang kebiasaannya bermain hati.
Ketika Mario pergi, Papa Morgan langsung berkata:
Papa: "Papa tidak suka."
Kyara: "Kenapa?"
Papa: "Laki-laki yang punya uang tetapi tidak mampu menjaga hati, tidak akan membuat rumah menjadi tenang."
Kyara tersenyum kecil.
Kyara: "Papa ternyata masih romantis."
Papa: "Papa hanya pernah mencintai satu perempuan seumur hidup."
Kalimat itu membuat Kyara terdiam.
Ia tahu siapa yang dimaksud.
Mama.
Lalu datanglah Dewo.
Tidak ada mobil mahal.
Tidak ada jam tangan mewah.
Tidak ada pakaian bermerek.
Dewo datang menggunakan motor tua. Kemejanya sederhana. Sepatunya bahkan tampak sudah lama dipakai.
Namun ketika duduk di ruang tamu, ia tersenyum kepada Papa Morgan dengan wajah terbuka.
Dewo: "Maaf, Pak. Saya datang agak terlambat."
Papa: "Tidak apa-apa. Duduklah."
Dewo: "Terima kasih, Pak."
Mereka berbicara hampir satu jam.
Dewo bercerita tentang pekerjaannya.
Tentang keluarganya.
Tentang bagaimana ia membantu orang tuanya.
Tentang cita-citanya.
Ia tidak pernah membanggakan dirinya.
Bahkan ketika Papa bertanya mengenai penghasilan, Dewo menjawab jujur.
Dewo: "Saya memang belum mapan, Pak."
Papa diam.
Dewo tersenyum.
Dewo: "Tapi saya sedang berusaha."
Papa: "Kalau nanti menikah dengan Kyara, apa yang bisa kamu berikan?"
Dewo berpikir sebentar.
Dewo: "Saya tidak bisa menjanjikan rumah besar."
Dewo menarik napas.
Dewo: "Saya tidak bisa menjanjikan Kyara hidup mewah."
Papa memperhatikannya.
Dewo: "Tapi saya bisa menjanjikan bahwa ketika keadaan sulit, saya tidak akan pergi."
Ruangan mendadak sunyi.
Kyara yang sejak tadi berada di balik pintu dapur menahan napas.
Dewo melanjutkan.
Dewo: "Saya juga tidak akan meminta Kyara meninggalkan keluarganya. Papa adalah bagian dari hidup Kyara. Kalau suatu hari saya menjadi suaminya, saya ingin Papa juga menjadi keluarga saya."
Mata Papa Morgan mulai berkaca-kaca.
Sudah lama sekali tidak ada seseorang berbicara kepadanya seperti itu.
Papa: "Kamu tahu kamu belum mapan?"
Dewo tertawa kecil.
Dewo: "Tahu, Pak."
Papa: "Kamu tidak takut Papa menolak?"
Dewo: "Takut."
Papa: "Lalu kenapa tetap datang?"
Dewo tersenyum.
Dewo: "Karena saya lebih takut kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan Kyara."
Di balik pintu, air mata Kyara jatuh.
Bukan karena Dewo sempurna.
Justru karena ia tidak sempurna.
Ia hanya jujur.
Malam semakin larut.
Setelah Dewo pulang, Papa Morgan duduk sendirian di teras.
Kyara datang dan duduk di sebelahnya.
Kyara: "Papa suka Dewo?"
Papa tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit Yogyakarta yang gelap.
Papa: "Papa mencari lelaki yang mapan."
Kyara tersenyum.
Papa: "Papa mencari lelaki yang baik."
Kyara diam.
Papa: "Papa mencari lelaki yang bertanggung jawab."
Ia kemudian menatap anak perempuannya.
Papa: "Tapi ternyata Papa salah."
Kyara: "Salah bagaimana?"
Papa tersenyum.
Papa: "Papa pikir calon suami yang baik harus punya banyak hal."
Kyara menunggu.
Papa: "Padahal mungkin yang paling penting adalah lelaki yang tetap tinggal ketika semua hal lain tidak ada."
Kyara menangis.
Ia menyandarkan kepala di bahu Papa.
Kyara: "Papa masih mau menemani saya memilih?"
Papa mengusap rambutnya.
Papa: "Sampai kapan pun."
Kyara: "Kalau nanti saya salah pilih?"
Papa: "Papa akan tetap menjadi rumahmu."
Angin malam bergerak pelan melewati halaman.
Di rumah kecil itu, untuk pertama kalinya sejak Mama pergi, Papa Morgan merasa bahwa mungkin ia tidak sedang kehilangan seorang anak.
Ia sedang belajar melepaskan seseorang yang sangat dicintainya.
Dan bagi seorang ayah, tidak ada pekerjaan yang lebih berat daripada itu.