Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Menanti Pesan dari Pelabuhan Cinta
0
Suka
31
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pertengahan 2020.

Sebenarnya bukan seperti ini akhir yang aku inginkan di antara kita, Papa. Tapi seperti yang pernah Papa bilang, ini bukanlah kiamat dan Papa memang benar. Aku sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan ini. Maafkan aku atas ledakan kata-kataku yang menorehkan luka begitu dalam di hatimu. Kalau Papa saat ini di hadapanku, aku akan sujud di hadapanmu dan kucium kakimu. Luka di hati kita semua tidak akan ada yang benar-benar sembuh. Sepertinya, saling melupakan itu lebih baik daripada saling menyakiti. Ini Whatsapp terakhir dariku. Sesuai permintaan Papa, aku tidak akan kirim apapun lagi. Mari kita saling blokir nomor telpon supaya tidak ada kesempatan bagi kita untuk saling menyakiti lagi. Selesaikanlah urusan Papa dan Mama dengan sebaik-baik cara dan sedamai-damainya. Aku dan Kakak hanya anak-anak, kami mundur. Tapi kami akan selalu ada di belakang ibu kami karena kalau bukan kami siapa lagi yang akan membelanya. Sekali lagi, aku minta maaf untuk semua luka yang aku buat. Terima kasih sudah memberiku kehidupan, memberiku pengalaman dan pelajaran hidup yang paling berharga. Hiduplah berbahagia dengan keluarga Papa di sana. Kami (aku, Mama, Kakak) di sini akan survive dan move on. Dari aku, Dinda, anak yang akan selalu mendoakanmu.

Kirim. Dinda mengirim pesan Whatsapp terakhirnya kepada sang ayah dengan mata berkaca-kaca. Ia tatap layar ponselnya dan melihat tanda centang dua berwarna kelabu di samping pesan yang baru saja ia kirim, tanda kalau pesannya sudah diterima di ponsel ayahnya. Tak berapa lama, ia lihat tanda kalau ayahnya sedang online dan tanda centang dua tadi berubah warna menjadi biru, tanda kalau pesan darinya sudah dibaca oleh sang ayah. Setelah itu, tanpa ragu, Dinda meng-clear chat semua percakapan antara dirinya dengan sang ayah di Whatsapp dan memilih menu untuk memblokir nomor telpon ayahnya.

Setelah itu, Dinda menangis sejadi-jadinya dengan suara yang ia tahan supaya tidak tembus keluar kamar. Ia takut putra sulungnya, Prabu, yang sedang belajar mengaji dengan guru ngajinya, akan mendengar ibunya yang saat ini menangis sebagai seorang anak, karena dalam hatinya sedang berkecamuk perasaan antara perasaan berdosa, terluka, hancur dan rapuh.

Dinda butuh sekali pelukan saat itu. Ia butuh pegangan yang menjaganya agar tidak jatuh ke dalam jurang kepedihan dan kesedihan terlalu dalam. Tiba-tiba, ada tangan kecil yang mengangkat wajahnya pelan. Dinda menatap sepasang mata bening milik Hana, putri bungsunya yang berusia empat tahun dan mengidap autis. Wajah polos Hana langsung mendekati wajah Dinda yang penuh air mata dan mengecup pipi Dinda seolah Hana ingin membersihkan air mata yang mengalir di sana. Dinda seperti telah menemukan pegangannya. Ia memeluk putrinya erat-erat sambil terus menangis dengan suara yang ditahan.

Di tempatnya, Heri, ayah Dinda, menatap layar ponselnya dengan wajah yang kaku. Ia seperti tak menyangka akan menerima balasan Whatsapp seperti itu dari putrinya. Putrinya, yang selama ini tidak pernah sekalipun berkata kasar kepada siapapun. Putrinya, yang paling lembut bicaranya. Heri meng-scroll layar ponselnya ke arah atas, membaca kembali rentetan percakapan seminggu terakhir dengan Dinda. Begitu banyak luka di sana, begitu banyak kata-kata tajam dari Dinda yang tak terbayangkan oleh Heri kalau kata-kata itu berasal dari putrinya yang selama ini paling halus tutur katanya.

Pertengkaran ayah dan anak di layar Whatsapp menjadi saksi bahwa perselingkuhan yang dilakukan oleh orangtua mampu membuat jiwa yang halus menjadi jiwa yang kasar dan kejam. Tak peduli di usia berapa sang anak mengetahui perselingkuhan orangtuanya, apakah di saat sang anak masih kecil ataupun sudah dewasa, luka itu tetap terasa sama.

Awal 2020. Itulah akhir dari segala rahasia yang selama ini disimpan Heri selama puluhan tahun. Tahun 2020 adalah tahun kegelapan bagi hampir seluruh penduduk muka bumi, tak terkecuali bagi Heri. Virus COVID yang mengerikan membuat alur kehidupan di bumi ini berubah seketika. Sebelum muncul COVID, di hadapan istri sahnya, Ratna dan kedua putri mereka yaitu Shanti dan Dinda, Heri adalah sosok suami dan ayah yang sering bepergian keluar kota terkadang keluar negeri dalam rangka mencari nafkah.  

Heri pernah mengalami kejayaan dalam pekerjaan dan kehidupan ekonominya saat Dinda dan kakaknya, Shanti, masih bersekolah. Ratna sebagai istri yang saat itu selalu tercukupi kebutuhannya, selalu mempercayai Heri setiap kali Heri pamit pergi untuk perjalanan bisnisnya selama beberapa hari bahkan terkadang beberapa minggu. Tak ada kecurigaan sedikitpun kepada Heri. Di mata Ratna, Heri adalah sosok suami yang bertanggungjawab. Bahkan untuk kepemilikan semua harta yang pernah mereka punya seperti rumah dan mobil pun Heri percayakan kepada Ratna, semuanya atas nama Ratna.

Namun ternyata masa keemasan Heri dalam kehidupan keuangannya mulai merosot saat Dinda di bangku SMA. Heri mulai meminjam uang kepada bank untuk mempertahankan bisnisnya. Satu per satu mobil dan rumah pun dijual untuk melunasi hutang Heri kepada bank, untuk biaya hidup sehari-hari dan modal Heri sedikit demi sedikit untuk tetap bisa melakukan pekerjaannya. Mereka membeli rumah di pinggir kota, ke rumah yang lebih kecil di lingkungan yang lebih sederhana dibandingkan lingkungan rumah mereka dulu. Dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti itu, Heri tetap rutin pamit kepada Ratna selama beberapa hari terkadang beberapa minggu untuk urusan pekerjaan. Heri mengaku kepada Ratna kalau semua biaya perjalanannya dibiayai oleh perusahaan yang memakai jasanya. Meskipun Ratna seringkali tidak melihat uang hasil kerja Heri, Ratna tetap percaya bahwa Heri memang bepergian untuk urusan pekerjaan. Heri berkata kalau ia sedang merintis kepercayaan dari perusahaan yang baru bekerja sama dengannya supaya ke depannya nanti perusahaan itu akan tetap memakai jasanya.

Ketika Shanti putri pertama Ratna dan Heri mulai bekerja, keadaan ekonomi mereka sedikit membaik meskipun tidak mewah dan tidak berlebihan. Dinda saat itu sedang kuliah. Biaya kuliah Dinda terkadang dibantu oleh Shanti. Keuangan Heri yang tidak stabil pun seringkali dibantu oleh Shanti.

Karakter Shanti berbeda dengan Dinda. Ketika dia terlalu lelah, dia mudah kesal. Namun Shanti tetaplah anak yang baik, seringkali merelakan gajinya untuk kepentingan keluarganya. Ia bekerja keras sering lembur bahkan melupakan kehidupan pribadinya dan tidak memikirkan soal jodohnya. Mungkin karena merasa perannya cukup besar dalam keluarganya, Shanti lebih berani dalam mengeluarkan pendapat dan mengatur kehidupan keluarganya. Shanti yang lebih banyak mengurus pekerjaannya, mengikhlaskan adiknya, Dinda, untuk menikah duluan. Sementara Shanti sampai saat ini masih sendiri.

Suatu saat, pada akhir tahun 2016, tanpa sengaja, dalam sebuah event pekerjaannya, Shanti mendapati kenyataan yang membuatnya shock bagai tersambar petir di siang bolong. Kenyataan yang mengubah hubungannya dengan sang ayah, yaitu bahwa Heri memiliki keluarga lain, bahwa Heri selama ini punya kehidupan ganda, bahwa selama puluhan tahun ini Heri punya istri muda bahkan punya anak dan cucu dari istri mudanya.

Rahasia Heri itu diketahui oleh Shanti saat Ratna menginap beberapa hari di rumah Dinda yang baru saja melahirkan anak keduanya, Hana. Saat di rumahnya hanya berdua dengan ayahnya, Shanti menuntut penjelasan kepada Heri. Heri pun tak punya pilihan kecuali mengakui rahasianya selama ini kepada Shanti mengenai keluarganya yang lain. Dari istri mudanya, Heri punya sepasang anak perempuan dan laki-laki bahkan dari kedua anak itu, Heri sudah punya tiga orang cucu.

Betapa hancurnya perasaan Shanti sebagai anak saat menyadari bahwa selama puluhan tahun ayahnya membohongi dirinya, ibu dan adiknya. Ternyata selama ini, setiap kali Heri pamit untuk urusan bisnis, tidak sepenuhnya benar sebab saat melakukan perjalanan itu, Heri ternyata bersama keluarganya yang lain.

 Meskipun sudah mengetahui rahasia Heri, Shanti belum berniat memberitahu Ratna maupun Dinda saat itu karena ia tidak mau pikiran Dinda terganggu akibat kabar ini. Shanti takut kabar ini bisa membuat Dinda stres dan mempengaruhi produksi ASI Dinda sehingga akan berdampak tidak baik untuk Hana yang baru lahir. Namun Shanti menuntut Heri agar suatu saat pada waktu yang tepat, Heri harus mengakui semuanya kepada Ratna. Meski ragu, Heri menyetujui permintaan Shanti.

Awal 2020. Saat itu virus COVID dikabarkan sudah masuk ke Indonesia. Semua orang panik, mulai membatasi diri untuk bepergian keluar rumah. Shanti mulai WFH (work from home). Dalam kondisi seperti itu Heri tetap pamit kepada Ratna dengan alasan pekerjaan. Ratna ragu melepas kepergian Heri karena khawatir. Namun Heri meyakinkan Ratna kalau ia akan menjaga dirinya sendiri dengan baik dan Heri tidak mungkin melepaskan kesempatan atas pekerjaan yang ditawarkan padanya. Heri tetap pergi meski situasi di luar sana tidak menentu.

Shanti yang menyaksikan ayahnya pergi, hanya bisa geleng-geleng kepala, menahan kekesalannya seorang diri sebab ia tahu Heri saat ini tidak punya pekerjaan, tidak ada perusahaan yang menggunakan jasa konsultasinya. Shanti tahu Heri pamit bukan untuk urusan bisnis melainkan untuk menemui keluarga dari istri mudanya. Shanti heran bagaimana bisa ibunya selugu itu, percaya begitu saja kepada Heri.        

Februari 2020. Ratna tiba-tiba menerima telpon dari Via, keponakannya dari pihak keluarga Heri. Via memberi kabar kalau Heri dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, karena sakit. Ratna kaget karena terakhir pamit, Heri bilang ia akan ke Bali. Via pun berusaha menenangkan Ratna, mengatakan bahwa kondisi Heri tidak mengkhawatirkan, bukan kena COVID juga, hanya butuh istirahat yang intensif.

Via meminta kepada Ratna untuk tidak khawatir karena urusan Heri di rumah sakit sudah ditangani oleh keluarga besar Heri. Namun Via tetap merasa Ratna wajib mengetahui keadaan Heri karena itulah ia mengabari Ratna kalau Heri masuk rumah sakit. Ratna bersikeras pada Via minta diberitahukan di rumah sakit mana Heri dirawat. Via dengan ragu mengatakan, “Nanti aku beritahu Tante, tapi nggak sekarang karena…” Via ragu meneruskan ucapannya.

“Karena apa??” desak Ratna. “Karena ada hal lain yang harus Tante tahu juga mengenai Om Heri,” Via menyudahi telponnya, meninggalkan Ratna dalam kebingungan.

Ratna yang sedang campur aduk perasaannya antara cemas dan bingung, langsung memanggil Shanti keluar dari kamarnya. Ratna mengatakan kepada Shanti mengenai kabar yang baru saja ia dapat dari Via, termasuk kalimat terakhir yang diucapkan Via di telpon. Shanti curiga. Apakah Via tahu kalau Heri punya istri muda?

Saat itulah Shanti tidak mampu lagi menutup mulutnya rapat-rapat. Shanti merasa inilah saatnya membongkar rahasia Heri kepada Ratna. Sambil terisak-isak, Shanti menceritakan kepada Ratna semua rahasia Heri yang ia pendam sendiri selama empat tahun terakhir. Di hari itu juga, terungkaplah kebenaran di hadapan Ratna mengenai suaminya selama ini. Belum selesai rasa kagetnya karena kabar Heri yang masuk rumah sakit, kini Ratna kembali dibuat shock dengan kebenaran mengenai Heri. Apakah ini yang dimaksud oleh Via tadi, bahwa ada hal lain yang mesti ia tahu tentang Heri? Kalau begitu, selama puluhan tahun, Heri berselingkuh dan keluarga besarnya tahu? Ratna berusaha mencerna semua itu dengan pikirannya yang masih kalut. Ia bingung harus bereaksi seperti apa, teriak, menangis, atau bagaimana?   

Ketika melihat Ratna sudah dalam kondisi lebih tenang, Shanti mulai menghubungi sepupunya Via melalui Whatsapp. Melalui percakapan intens dengan Via, tersingkaplah kebenaran baru tentang Heri. Bahwa selama ini pihak keluarga besar Heri tahu kalau Heri punya istri muda dan anak-cucu dari istri mudanya. Bahkan saat masih hidup, almarhumah ibu Heri pun tahu. Namun semua saudara Heri bungkam di hadapan Ratna karena mereka tidak mau menjadi pihak yang bertanggungjawab kalau sampai rumah tangga Heri dan Ratna retak. 

Shanti memperlihatkan semua isi percakapannya dengan Via di Whatsapp kepada Ratna. Untuk beberapa saat, Ratna terpaku, menganggap betapa bodoh dirinya selama ini. Saat terdengar adzan Ashar, Ratna bergegas wudhu dan sholat. Dalam sujud terakhir, ia menangis, mengadu kepada Rabb-nya. Selesai sholat, Ratna mengirim pesan Whatsapp kepada Heri. Saya tahu sekarang kamu di rumah sakit di Jakarta. Saya doakan kamu lekas sembuh. Saat keluar dari rumah sakit nanti, kamu nggak usah pulang kesini lagi. Pulanglah kepada istri dan anak-anakmu yang lain.

Di ranjang rumah sakit, Heri membaca pesan dari Ratna. Heri yang masih lemah kondisinya, langsung ketakutan, takut akan kehilangan Ratna dan anak-anaknya. Ia sadar kalau Shanti pasti sudah mengungkapkan rahasianya kepada Ratna. Dengan sisa kekuatan yang ada di tubuhnya, Heri mengetik pesan Whatsapp yang cukup panjang kepada Dinda. Di akhir pesannya kepada Dinda, Heri berkata, Apapun yang terjadi kepada keluarga kita, papa ingin kamu tahu, rasa sayang papa kepada kalian tidak pernah berkurang sedikitpun. 

Dinda sedang berada di tempat terapi Hana ketika membaca Whatsapp dari Heri dan juga dari Shanti yang menyuruhnya segera pulang ke rumah Ratna karena ada sesuatu yang harus dibicarakan tentang Heri. Saat itu Hana berada di ruang terapi sementara Dinda berada di ruang tunggu. Dinda kaget mendapat pesan seperti itu. Dinda yang perasaannya begitu lembut, langsung merasakan guncangan dalam keluarganya. Ia spontan menangis di ruang tunggu, mengusap air matanya berkali-kali. Ia berusaha kuat dan tetap tenang.

Keesokan harinya, Dinda sudah di rumah Ratna. Dinda hanya membawa Hana. Ia tinggalkan suaminya, Adi, dan putra sulungnya, Prabu, di rumah. Adi mengerti ada hal penting yang harus dibicarakan antara Dinda dengan orangtuanya sehingga ia mengijinkan Dinda pergi ke rumah orangtuanya.

Dinda sedih dan terpukul begitu tahu rahasia ayahnya selama ini. Dinda menatap Ratna lekat-lekat, menanyai Ratna, apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ratna tampak begitu tenang di hadapan kedua putrinya. Ketidakhadiran Heri di rumah itu lumayan membuat Ratna kondusif. Jika Heri ada di hadapan Ratna saat rahasianya terbongkar mungkin akan lain ceritanya, Ratna bisa meluap-luap emosinya. Ratna dengan sedih menatap Shanti dan Dinda, berkata kalau ia tak punya pilihan lain kecuali bercerai dengan Heri.

Di antara Shanti dan Dinda, Dinda-lah yang paling terpukul dengan rencana perceraian orangtuanya. Dinda masih berupaya menjembatani Ratna dan Heri agar tidak berpisah, sedangkan Shanti menyerahkan segalanya kepada Ratna.

Mereka semua hidup terpisah. Ratna dan Shanti di Bogor, sementara Dinda bersama keluarganya di Bandung, sedangkan Heri berada di Tangerang, di tempat tinggalnya bersama istri mudanya. Pembatasan kegiatan masyarakat karena COVID membuat mereka semua sulit bertemu. Hanya melalui pesan Whatsapp mereka berkomunikasi. Bahkan Ratna menyampaikan niat cerainya kepada Heri pun hanya melalui Whatsapp.

Setelah keluar dari rumah sakit, kondisi Heri masih agak lemah, ditambah ia tidak punya uang juga karena sebenarnya dalam beberapa bulan terakhir ia sudah tidak punya pekerjaan. Kehidupan rumah tangganya dengan istri mudanya pun ternyata tidak lebih baik. Dulu Heri dan istri mudanya pernah punya rumah dan mobil namun semuanya sudah habis terjual.

Kini mereka tinggal di rumah kontrakan. Sebagian besar hidup mereka disokong oleh kedua anak mereka yang sudah berumah tangga namun masih merangkak membangun kehidupan ekonominya masing-masing.

Meskipun begitu, Heri masih berusaha mempertahankan rumahtangganya dengan Ratna. Ratna sempat bilang kalau Heri meninggalkan istri mudanya, Ratna masih mau menerima Heri kembali. Tapi rupanya ada yang membuat Heri tidak mampu meninggalkan istri mudanya, yaitu putri sulung Heri dengan istri mudanya ternyata sedang sakit parah.

Ratna pun tidak memaksa Heri untuk kembali. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dengan Heri. Heri seperti kalut saat menyadari kalau ia benar-benar sudah kehilangan Ratna. Bukan Cuma kehilangan Ratna sebagai istri, tapi juga kehilangan dukungan dari anak-anaknya—Shanti dan Dinda—kehilangan dukungan dari keluarga besar Ratna yang selama ini kebaikannya luar biasa kepadanya.

Di mata keluarga besar Ratna, Heri selalu dihargai, saat ia sedang punya uang maupun saat ia pailit. Heri sudah bisa membayangkan reaksi keluarga besar Ratna begitu tahu pengkhianatannya selama ini.

 Heri pun akhirnya setuju berpisah dari Ratna. Ia sampaikan hal itu kepada Shanti dan Dinda. Dinda sudah pasrah tidak memaksa orangtuanya untuk rujuk lagi.

Sejak menyetujui keinginan Ratna untuk bercerai, Heri seperti kehilangan pegangan. Bukan Cuma itu, ia kehilangan rasa malu dan harga dirinya. Keadaan Heri serba terjepit. Ia dalam himpitan ekonomi, putri sulung dari istri mudanya kritis di rumah sakit, dan istri mudanya terbiasa dengan gaya hidup hedonisme. Hal itu memaksa Heri tanpa malu menuntut uang dari Ratna. Ia meminta Ratna segera menjual rumah mereka dan meminta uang dua ratus juta rupiah dari hasil penjualan rumah itu.

Tentu saja sikap Heri ini yang memicu ketegangan antara Ratna-Shanti-Dinda dengan Heri. Ratna bersikeras kalau rumah yang ia tempati adalah miliknya, sertifikatnya juga atas namanya. Ratna bahkan mengingatkan Heri bahwa dulu di hadapan notaris, Heri berkata bahwa segala yang ia punya sudah ia serahkan kepada Ratna, termasuk rumah mereka. Ratna juga mengingatkan Heri kalau selama ini Heri tidak pernah dengan sengaja mengeluarkan uang untuk membeli rumah. Mereka bisa punya rumah karena Ratna yang memutar otak, supaya sisa uang belanja dari Heri bisa ia gunakan untuk mencicil rumah. Segala urusan beli rumah pun Ratna yang urus sendiri karena Heri lebih sering bepergian.  

Masalah uang memang benar-benar sensitif. Karena urusan uang, hubungan ayah dan anak jadi renggang bahkan hancur. Hingga pertengahan 2020, hari-hari Shanti dan Dinda dipenuhi dengan merespon pesan Whatsapp dari Heri yang terus-menerus merongrong minta uang ratusan juta kepada mereka. Bahkan Heri tidak malu lagi meminta Shanti untuk mengajukan pinjaman uang ke bank sebesar seratus juta rupiah dengan sertifikat rumah mereka sebagai jaminannya.

Shanti menolak dengan tegas bahkan menyarankan Heri agar minta tolong saja kepada keluarga besar istri mudanya. Dinda yang tadinya selalu berusaha menjaga kata-katanya kepada ayahnya pun akhirnya tidak tahan lagi. Dalam salah satu responnya terhadap pesan Whatsapp Heri, Dinda pernah berkata : Papa sudah selingkuh dan mengkhianati mama kami, apakah perselingkuhan yang papa lakukan, sepadan dengan apa yang papa dapatkan?  

     Heri tidak pernah menjawab pertanyaan Dinda itu. Sejak Dinda mulai berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepada Heri, Heri semakin menyadari ia sepenuhnya sudah kehilangan pelabuhan cintanya. Bukan Ratna, bukan Shanti, bukan pula istri mudanya, melainkan Dinda yang ia anggap sebagai pelabuhan cintanya, tempat ia bersandar, karena selama ini di mata Dinda, Heri selalu baik. Apapun kondisi Heri, Dinda selalu menjadi pribadi yang paling mencintai Heri dan tidak pernah marah kepada Heri.

Karena itu ketika Heri sudah gagal mempertahankan hati Ratna, Heri paling banyak berkomunikasi dengan Dinda. Bahkan dalam usahanya mendapatkan uang dari Ratna, Heri berharap Dinda mampu menolongnya. Namun Dinda juga seorang anak yang terluka akibat pengkhianatan ayahnya. Jiwanya yang tadinya halus lama-lama menjadi tajam akibat jengah dengan sikap ayahnya yang makin lama makin terlihat seperti pecundang.

Puncaknya, sehari setelah putri Heri dari istri mudanya meninggal dunia karena sakit, Heri memaksa Dinda agar mengusahakan rumah ibunya segera dijual. Kesabaran Dinda habis. Ia menulis pesan Whatsapp kepada Heri dengan penuh emosi. Segala amarahnya kepada Heri ia ketik di ponselnya. Dinda mengakhiri pesannya kepada Heri dengan kalimat : Gak pernah aku bayangkan akan ada  hari-hari seperti ini, yaitu hari di mana aku merasa malu terhadap ayahku. Papa jangan takut, kalau rumah ini terjual, Papa akan mendapatkan bagian juga. Kami nggak akan biarkan ibu kami mengambil apa yang bukan haknya karena orang yang merebut sesuatu yang bukan haknya akan kena karma!

Itulah kalimat pamungkas dari Dinda yang menyulut emosi Heri. Ia balas kata-kata Dinda dengan sama tajamnya. Heri mengutuk Dinda dan menyuruh Dinda untuk tidak pernah mencari-cari dirinya lagi dan jangan pernah mengirim apapun lagi kepadanya.  Tanpa Heri sangka, Dinda memberi balasan pesan yang justru menjadi penutup pintu komunikasi Heri dengannya.

Sepanjang 2020, kehidupan berjalan bak di neraka. Penuh emosi dan kekesalan. Dengan bantuan keluarga besarnya, Ratna bisa melewati sidang perceraian. Heri tidak pernah hadir dalam persidangan. Ia sendiri yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan hak atas harta gono-gini—meskipun harta gono-gini yang mereka punya hanya satu buah rumah. Akhirnya pada bulan Desember 2020, hakim mengetuk palu : Ratna dan Heri resmi bercerai. Ratna, Shanti dan Dinda lega.

Hampir dua tahun sejak orangtuanya resmi bercerai, Dinda menjalani hidupnya dengan tenang tanpa “gangguan” dari Heri. Tanpa sepengetahuan Dinda, Heri sesekali menghubungi Ratna lewat Whatsapp, bukan untuk minta uang, tetapi untuk menanyai kabarnya dan juga kabar Shanti serta Dinda.

Ratna menjawab seperlunya. Ratna menyuruh Heri untuk langsung menghubungi Shanti dan Dinda kalau ia mau berkomunikasi dengan anak-anaknya. Meskipun karakter Shanti lebih keras daripada Dinda, Shanti tidak pernah memblokir nomor telpon ayahnya di Whatsapp. Namun Heri merasa segan menghubungi Shanti karena ia sudah bisa menebak reaksi Shanti. Hanya kepada Dinda-lah ia berharap masih bisa berkomunikasi layaknya ayah dan anak. Sebenarnya Heri bisa menghubungi Dinda lewat SMS atau telpon langsung tapi Heri tidak punya pulsa. Putra bungsu dari istri mudanya hanya memberi jatah pulsa untuk berkirim kabar lewat Whatsapp. Sejak keluar dari rumah sakit pada awal 2020 dulu, kesehatan Heri semakin menurun sehingga ia tidak bisa bekerja lagi. Heri tidak punya uang sama sekali. Biaya hidupnya ditanggung semampunya oleh putra bungsu dari istri mudanya. Istri muda Heri pun mengurus Heri dengan kesal karena mereka hidup susah di masa tua mereka.   

Heri begitu rindu dan butuh Dinda. Ia menyesali kutukan dan ucapan yang pernah ia tuliskan kepada Dinda. Sementara Dinda sendiri masih trauma untuk berkomunikasi lagi dengan ayahnya. Heri menulis pesan Whatsapp kepada Dinda yang isinya mengatakan kalau Dinda adalah putri terbaiknya. Heri memohon agar Dinda mau berbicara lagi kepadanya. Namun pesan itu tidak pernah terkirim karena Dinda masih memblokir nomor telponnya.

Heri minta tolong kepada Ratna untuk menyampaikan kepada Dinda agar tidak memblokir nomor telponnya dan bacalah pesan darinya. Ratna sudah sampaikan pesan itu kepada Dinda. Namun setiap kali Heri menatap layar ponselnya, tidak ada tanda Dinda sudah membuka blokirnya. Heri tidak bisa mengetahui apakah Dinda sedang online atau tidak. Heri cuma bisa membaca-baca kembali percakapannya dulu dengan Dinda di Whatsapp.   

Februari 2022. Tepat dua tahun sejak rahasia Heri terbongkar. Heri menatap layar ponselnya, membuka halaman chatting dengan Dinda di Whatsapp. Tiba-tiba, di kiri atas layar ponsel, tepat di bawah nama DINDA, muncul tulisan : ONLINE.

Heri pun tersenyum bahagia.

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Romantika
Wahid Irawan
Cerpen
DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU
Prasetya
Cerpen
Menanti Pesan dari Pelabuhan Cinta
Dwitia Yanuanti
Novel
Siapa Tau?
Airlangga Kusuma
Skrip Film
Script Film : Al Kahfi Land - Delusi
indra wibawa
Flash
Bronze
Cermin Waktu
DMRamdhan
Flash
Danau
Fatimah Ar-Rahma
Flash
Bronze
Jangan Mengolok Rengasdengklok!
Silvarani
Cerpen
Hanggada
Lily N. D. Madjid
Cerpen
Jalan Tikus
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Gunting
Yuditeha
Flash
Bronze
Cemburu yang Aneh
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Sibolga Kota Ikan Story : Ikan Melautku untuk Opung
Silvarani
Cerpen
Bronze
Rain Shower
𝔧 𝔞 𝔫 𝔱 𝔢 .
Cerpen
Bronze
KEPERAWANAN
Iman Siputra
Rekomendasi
Cerpen
Menanti Pesan dari Pelabuhan Cinta
Dwitia Yanuanti
Novel
Yang Tidak Kita Pilih
Dwitia Yanuanti
Novel
Protokol Cinta -Season 1-
Dwitia Yanuanti
Novel
Cukup
Dwitia Yanuanti