Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Menanam Harapan di Tengah Krisis
0
Suka
12
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hari Minggu adalah satu-satunya hari di mana alur waktuku terasa sedikit melambat. Biasanya, alarm ponsel sudah melengking nyaring sejak pukul lima pagi. Dalam kondisi nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku harus bergegas mandi, merapikan berkas, dan bersiap menerjang jalanan menuju kampus sebelum gerbang perkuliahan ditutup. Namun pagi ini berbeda. Ketika mataku terbuka dan melihat angka di layar ponsel menunjukkan pukul setengah enam pagi, tidak ada rasa panik yang menjalar.

Aku berjalan menuju jendela kamar dan menyibak tirainya tipis-tipis. Cahaya matahari pagi menerobos masuk dengan lembut, membawa hangat yang pas tanpa rasa menyengat. Langit masih bersih, menampakkan warna biru muda keabu-abuan yang sejuk. Sebelum melangkah keluar kamar, aku meluangkan waktu sekitar sepuluh menit untuk melakukan peregangan otot. Badan yang kaku akibat seharian duduk menatap layar laptop dan mencatat materi kuliah perlahan melunak. Aku melanjutkannya dengan olahraga ringan sekitar lima belas menit—beberapa gerakan beban tubuh sederhana untuk memompa aliran darah agar kantuk benar-benar menguap.

Keringat tipis mulai membasahi dahi saat aku melangkah ke area samping rumah. Di sana, sebuah pemandangan hijau menyambutku. Kebun kecil milikku berdiri dengan rapi di lahan yang sangat terbatas.

"Wah, tanaman-tanamanku yang aku rawat selama ini tidak sia-sia. Mereka berkembang berwarna-warni dan tumbuh subur. Tanaman yang awalnya tidak berbuah mulai menunjukkan tanda-tanda munculnya buah," ucapku pelan dengan perasaan lega yang membuncah.

Melihat deretan pot sederhana itu selalu berhasil menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Hobiku dalam berkebun ini sebenarnya baru dimulai sejak semester pertama perkuliahan. Waktu itu, aku merasa prihatin melihat begitu banyaknya limbah dapur yang terbuang sia-sia setiap harinya. Aku mulai mengumpulkan sisa-sisa olahan masakan Ibu. Sisa potongan bawang merah, siung bawang putih yang mulai bertunas, hingga bagian akar dari sawi dan kangkung yang biasanya berakhir di tempat sampah, aku ambil kembali. Aku menanamnya di wadah-wadah bekas yang ada di sekitar rumah.

Tidak berhenti di situ, aku juga memutar otak untuk mengolah limbah organik sisanya menjadi pupuk. Dari sisa kulit sayuran, racikan dedaunan, hingga ampas yang tak terpakai, aku olah secara mandiri. Memang, keterbatasan lahan rumah membuatku belum bisa memaksimalkan pengolahan limbah ini dalam skala besar. Namun, aku menetapkan komitmen pribadi: setidaknya aku harus bisa mengurangi dan menghemat sekitar 0,5% sampai 1% dari total pengeluaran limbah rumah tangga normal yang biasanya langsung dibuang begitu saja.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terdengar sangat kecil dan tidak berarti. Tapi bagiku, ini adalah langkah nyata. Setidaknya, keluarga kami sudah berusaha mengolah limbah dengan cara yang benar dan mengembalikannya ke alam sebagai pupuk organik. Sampai hari ini, kebun kecil di samping rumah menjadi bukti hidup. Pengolahan limbah organik menjadi pupuk alami jauh lebih efektif, menyehatkan, dan bermanfaat bagi kesuburan tanaman dibandingkan hanya mengandalkan taburan penyedap rasa atau bahan kimia instan.

Saat aku sedang asyik memetik beberapa lembar daun yang kering dan memeriksa kelembaban tanah, langkah kaki terdengar dari arah pintu pagar. Ibu baru saja kembali dari pasar tradisional dengan membawa beberapa kantong plastik belanjaan di tangannya. Wajahnya menyiratkan sedikit keheranan. Beliau langsung berjalan menuju dapur luar dekat kebun tempatku berada dan mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan untuk menyiapkan sarapan pagi.

"Pasar sekarang sepi banget. Sangat jarang tadi ada penjual. Nggak kayak biasanya yang banyak dan ramai," ucap Ibu sambil meletakkan seikat bayam dan tempe di atas meja dapur.

Ayah yang baru saja keluar dari rumah membawa cangkir kopi hangatnya ikut bergabung di area dapur terbuka. Beliau menyeruput kopinya perlahan sebelum menanggapi ucapan Ibu.

"Iya, emang ekonomi lagi tidak baik-baik saja. Salah satu tanda ekonomi tidak baik-baik saja adalah sepinya pasar tradisional dan ramainya mall tapi penjualan menurun," kata Ayah dengan nada suara yang dalam dan serius.

Aku yang sedang memegang gayung siram langsung menoleh dan tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana meskipun topik yang dibahas cukup berat.

"Iya, mana IHSG sekarang juga menurun drastis sejak terpilihnya dirinya. Aku juga kena dampaknya wkwkwk, emitenku merah di mana-mana," timpalku menggebu.

Sebagai seorang mahasiswa yang coba-coba mengalokasikan sedikit tabungan di pasar modal, melihat portofolio investasi berwarna merah membara tentu menyisakan rasa perih tersendiri. Namun, aku tidak panik sampai harus melakukan penjualan rugi secara gegabah. Alasan utamaku bertahan dan belum melepas emiten-emiten tersebut adalah karena seluruh saham yang aku pilih memiliki fundamental bisnis yang jelas, berbasis bagi hasil atau dividen rutin, dan bukan saham 'gorengan' yang harganya dipermainkan spekulan. Jadi, walaupun nilainya saat ini sedang turun dan memerah, setidaknya aset tersebut masih akan memberikan imbal hasil secara berkala. Di dasar hatiku, aku memiliki keyakinan bahwa kondisi pasar modal dan IHSG akan perlahan membaik serta kembali normal.

Percakapan kami di pagi hari itu akhirnya bergulir makin jauh, melintasi berbagai isu perekonomian yang sedang menyelimuti negeri. Kami bertiga duduk di bangku kayu dekat kebun, membicarakan bagaimana kebijakan demi kebijakan terasa makin menekan masyarakat kecil. Kami sangat menyayangkan keputusan pemerintah yang memecat menteri keuangan lama dan menggantinya dengan sosok yang baru, di mana perubahan tersebut justru memicu ketidakpastian pasar yang makin tinggi. Belum lagi, praktik korupsi seolah tanpa henti berkeliaran di berbagai tingkatan birokrasi, menggerogoti uang rakyat yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan.

Faktor lain yang paling dirasakan dampaknya secara langsung oleh masyarakat adalah tingginya beban pajak. Kebijakan tarif pajak yang makin mencekik membuat banyak masyarakat dari kalangan kelas menengah perlahan terperosok turun menuju kelas bawah. Daya beli masyarakat tergerus habis, sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik tanpa kendali.

Kemarin sore saja, ketika aku berjalan mengelilingi sudut kota, aku melihat pemandangan yang cukup miris. Ada begitu banyak orang yang mendirikan lapak jualan di pinggir jalan, namun hampir tidak ada pembeli yang singgah. Menurut sudut pandangku, fenomena menjamurnya orang yang berjualan secara mendadak justru menjadi salah satu tanda jelas bahwa ada yang sedang salah dalam sistem perekonomian kita. Banyak orang kehilangan pekerjaan formal sehingga terpaksa berjualan apa saja demi bertahan hidup. Meskipun sektor informal ini sering disebut sebagai penyokong utama ekonomi, ada logika dasar yang tidak bisa diabaikan: jika semua orang terpaksa menjadi penjual demi mencari uang, lantas siapakah yang tersisa untuk menjadi pembeli?

Masalah ini kian memprihatinkan karena ditambah oleh faktor cuaca ekstrem. Gelombang panas yang melanda selama beberapa minggu terakhir membuat suhu udara melonjak tinggi. Di beberapa daerah, kekeringan parah menyebabkan lahan perkebunan dan sawah-sawah milik petani terbakar hebat. Kebakaran lahan tersebut merusak hasil panen total dan seketika melumpuhkan perekonomian para petani lokal yang bergantung sepenuhnya pada hasil bumi. Mereka kehilangan mata pencaharian utama di saat harga bahan pokok justru sedang membumbung tinggi.

Suasana di area kebun kecil kami sempat hening sejenak setelah pembahasan panjang itu. Angin pagi berembus pelan, menggoyangkan dedaunan tanaman bawang dan kangkung yang tumbuh subur di dalam pot plastik bekas. Di tengah segala ketidakpastian global, inflasi yang membayangi, dan hiruk-piruk kondisi politik negeri yang kian tak menentu, kebun kecil ini menjadi tempat perlindungan teramanku.

"Yahh, aku berharap semoga ini segera berlalu dan perekonomian menjadi baik-baik saja," ucapku dalam hati sambil memandangi hijau daun yang menyegarkan mata. Aku kembali melanjutkan aktivitas menyiram tanaman, membiarkan tetesan air meresap ke dalam tanah yang fertil, membawa harapan sederhana agar esok hari membawa kabar yang lebih baik bagi kita semua.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Menanam Harapan di Tengah Krisis
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Bronze
SAATNYA KEMBALI
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Bronze
Kumpulan cerita inspiratif
Banana with Cucumber
Cerpen
Bronze
Lukisan Kucing Berseragam Perwira
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh Part-4
Munkhayati
Cerpen
Bronze
OH MY BOSS
ELI WAHYUNI
Cerpen
Buku-Buku di Penjara
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Impian Sang Burung
Celica Yuzi
Cerpen
Bronze
Mutasi
Nadya Wijanarko
Cerpen
Wannabe
Zaki S. Piere
Cerpen
Bronze
Kepak Sayap Gurindam
Supriyatin Yuningsih
Cerpen
HALTE
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
My Scary Boss
Duna Izm
Cerpen
Bronze
Istri Sebelah Kaki
Arif Sufyan
Cerpen
Kisah Aksara
Alda Kusmono
Rekomendasi
Cerpen
Menanam Harapan di Tengah Krisis
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Penjaga Detik yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Di Antara Deras Hujan dan Secangkir Harapan
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Kedai Kopi di Ujung Dermaga
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Melodi di Antara Helai Bunga
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Pelabuhan Kata yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Diantara Sunyi dan Resonansi
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Langit Kuning Borneo
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Senandung Rindu di Batas Waktu
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Di Antara Detik yang Berlari dan Tatapan yang Meneka
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Kolektor Memori di Rak Nomor 7
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Algoritma Malam Ke-13
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Chronicles of Aethelgard
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Lembah Gemuruh dan Jantung Senja
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Pustaka di Bawah Pohon Purba
Amir Ghozaly Prasetyo