Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ritual Jam Delapan Pagi
[Status Sistem: Sinkronisasi Memori Gagal]
[Status Pasien: Milena - Amnesia Anterograde Spesifik]
Aku mengerjapkan mata. Langit-langit putih itu adalah hal pertama yang kulihat. Kamar ini asing, tapi aromanya—campuran kopi dan kayu manis—terasa seperti pelukan yang kukenal. Di ujung tempat tidur, seorang pria duduk sambil menyesap cangkir porselen. Ia tersenyum, tapi matanya... matanya terlihat seperti buku tua yang terlalu sering dibaca hingga halamannya nyaris robek.
"Siapa kamu?" tanyaku, menarik selimut hingga ke dagu.
"Aku Arlan," jawabnya tenang. "Dan ini adalah bagian di mana kamu bertanya apakah aku pencuri yang masuk ke rumahmu."
"Apa kamu pencuri yang masuk ke rumahku?"
Arlan tertawa kecil, suara yang entah kenapa membuat dadaku bergetar sedikit. "Bukan. Aku suamimu, Milena. Kita sudah menikah tiga tahun."
"Tiga tahun? Tapi aku merasa baru kemarin merayakan ulang tahun ke-22. Sendirian."
"Itu lima tahun yang lalu, Mil. Sini, lihat ini."
Ia menyodorkan sebuah tablet. Di layarnya, ada ribuan foto. Kami di pantai, kami di depan penghulu, kami sedang bertengkar memperebutkan remote TV. Aku menyentuh layar itu dengan ujung jari yang gemetar.
"Kenapa aku nggak ingat?"
"Kondisi langka. Setiap kali kamu tidur dalam fase REM yang dalam, otakmu melakukan reset. Kamu mengingat masa lalumu, tapi tidak mengingat apa pun yang terjadi sejak kecelakaan itu. Termasuk aku."
"Jadi, setiap hari kamu melakukan ini?"
"Setiap hari."
"Nggak capek?"
Arlan meletakkan cangkirnya. Ia mendekat, duduk di tepi kasur, tapi menjaga jarak yang sopan agar aku tidak merasa terancam.
"Kadang-kadang. Tapi setiap kali kamu mulai menatapku dengan cara yang sama seperti di foto-foto ini, capeknya hilang."
"Gimana cara kamu bikin aku jatuh cinta lagi hari ini?"
"Biasanya kita mulai dengan sarapan omelet buatanmu yang gagal, lalu aku akan menceritakan bagaimana aku mengejarmu selama dua tahun hanya untuk mendapatkan nomor teleponmu."
"Aku sesulit itu?"
"Kamu luar biasa sulit, Milena. Dan itu yang bikin aku nggak bisa berhenti."
"Arlan?"
"Ya?"
"Bisa kamu ceritakan lagi soal hari pertama kita ketemu?"
Arlan tersenyum, tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. Ada garis lelah yang dalam di sudut bibirnya.
"Di perpustakaan kampus. Kamu menjatuhkan buku sejarah setebal bantal ke kakiku, lalu bukannya minta maaf, kamu malah memarahi sepatuku karena menghalangi jalanmu."
"Aku nggak mungkin seburuk itu."
"Kamu memang seburuk itu, dan aku langsung tahu kalau aku mau menghabiskan sisa hidupku dimarahi olehmu."
"Arlan, kamu kelihatan pucat."
"Cuma kurang tidur, Mil. Ayo bangun, omeletnya nggak bakal gagal sendiri kalau nggak kita masak."
"Arlan, tunggu..."
"Ya, Sayang?"
"Besok... apa kamu bakal datang lagi?"
Arlan terdiam di ambang pintu. Bahunya merosot sedikit, seolah memikul beban yang tak terlihat. Ia berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta yang meluap dan keputusasaan yang sunyi.
"Aku selalu datang, kan?"
Pagi yang Kosong
[Status Sistem: Sinkronisasi Memori Gagal]
[Status Pasien: Milena - Menunggu...]
Aku bangun. Putih. Sunyi.
Bau kopi itu tidak ada. Bau kayu manis itu menguap. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kamar ini masih sama, tapi pria bernama Arlan itu tidak ada di sana.
"Arlan?" panggilku pelan.
Tidak ada jawaban. Aku turun dari tempat tidur dengan kaki telanjang yang kedinginan. Di atas meja rias, ada sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat. Aku membukanya.
Halaman 1: Hai Milena, kalau kamu membaca ini, artinya aku sedang tidak ada di sampingmu. Namaku Arlan, aku suamimu. Jangan takut.
Aku membolak-balik halamannya. Ratusan halaman berisi instruksi harian. Apa yang harus kumakan, di mana kunci mobil, siapa nama tetangga sebelah. Tapi di halaman terakhir, tulisannya berbeda. Tintanya sedikit kabur, seperti terkena tetesan air.
Halaman 1.095: Milena, maafkan aku. Hari ini, aku cuma ingin menjadi orang asing yang tidak perlu menjelaskan diriku sendiri. Aku lelah menjadi hantu dalam ingatanmu. Aku di kafe tempat kita biasa bertemu, tapi tolong... jangan cari aku. Biarkan aku istirahat sebentar saja dari tugas mencintaimu.
Duniaku serasa runtuh. Aku tidak mengenalnya, tapi hatiku sakit seolah-olah baru saja diamputasi. Aku berlari ke kamar mandi, membasuh muka, dan melihat pantulan diriku yang berantakan.
"Kenapa aku merasa kehilangan sesuatu yang bahkan nggak aku punya?" gumamku.
Aku nekat. Aku mengenakan jaket yang tergantung di balik pintu—jaket pria, aromanya maskulin dan menenangkan. Aku keluar rumah, mengikuti alamat kafe yang tercatat di buku itu: Kopi Kenangan Senja.
Sesampainya di sana, aku melihatnya. Pria dari foto-foto di tablet itu. Arlan. Dia duduk sendirian di pojok kafe, menatap jendela dengan tatapan kosong. Di depannya ada dua cangkir kopi. Satu sudah dingin.
Aku melangkah mendekat. Jantungku berpacu. "Arlan?"
Ia menoleh. Matanya membelalak, tapi tidak ada binar kebahagiaan di sana. Hanya ada rasa letih yang teramat sangat.
"Kenapa kamu di sini, Milena? Kamu nggak seharusnya tahu jalan ke sini."
"Aku baca bukumu. Kenapa kamu pergi?"
"Aku nggak pergi. Aku cuma berhenti sejenak."
"Berhenti apa? Berhenti mencintaiku?"
Arlan tertawa pahit, sebuah suara yang membuat bulu kudukku merinding. "Berhenti berjuang sendirian. Kamu tahu rasanya melihat orang yang paling kamu cintai menatapmu seperti orang asing setiap pagi? Itu seperti mati berkali-kali, Mil."
"Tapi aku di sini sekarang! Aku mencarimu!"
"Karena kamu baca buku itu. Bukan karena kamu ingat aku. Besok, kamu akan bangun dan bertanya lagi, 'Siapa kamu?'."
"Arlan, tolong... jangan begini."
"Pulanglah, Milena. Ada perawat yang sudah kupesan untuk menjagamu hari ini."
"Aku nggak mau perawat! Aku mau suamiku!"
"Suamimu sedang hancur, Milena. Biarkan dia tenang."
"Apa kamu benar-benar mau menyerah sekarang?"
Arlan menatapku lama, lalu ia menghela napas panjang dan membuang muka ke arah jalanan yang ramai.
"Aku cuma mau satu hari di mana aku nggak perlu memperkenalkan namaku sendiri kepadamu."
Gema yang Tertukar
[Status Sistem: Kesalahan Tak Terduga]
[Peringatan: Pemulihan Memori Spontan Terdeteksi]
Kepalaku rasanya mau pecah. Kilatan cahaya, suara tawa, tangisan di rumah sakit, aroma parfum Arlan saat kami berdansa di pesta pernikahan teman—semuanya masuk tanpa permisi. Seperti bendungan yang jebol, ingatan tiga tahun terakhir membanjiri otakku dalam satu malam.
Aku terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi sprei.
"Arlan!" teriakku spontan.
Aku menoleh ke samping. Arlan ada di sana. Dia masih tidur. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari yang kuingat. Garis-garis halus di dahinya menceritakan kisah tentang tiga tahun penuh kesabaran yang menyiksa.
Aku menyentuh pipinya. "Arlan, aku ingat. Aku ingat semuanya. Omelet yang gagal, kencan di perpustakaan, janji suci kita... aku ingat."
Arlan mengerang pelan. Matanya terbuka perlahan. Aku menunggu binar kebahagiaan itu. Aku menunggu dia memelukku dan menangis karena keajaiban ini akhirnya terjadi.
"Arlan, ini aku! Milena! Aku nggak lupa lagi!" tangisku sambil memeluk lehernya erat.
Tapi tubuh Arlan terasa kaku. Ia tidak membalas pelukanku. Ia malah mendorong bahuku pelan, menciptakan jarak di antara kami. Matanya menatapku dengan kebingungan yang sangat kukenali. Kebingungan yang biasanya ada di mataku setiap pagi.
"Maaf," suaranya serak, terdengar asing. "Kamu siapa?"
Jantungku rasanya berhenti berdetak. "Arlan? Ini nggak lucu. Ini aku, Milena. Istrimu."
Arlan mengerutkan kening, memijat pelipisnya seolah sedang menahan sakit kepala yang hebat. Ia melihat sekeliling kamar dengan tatapan waspada, persis seperti yang kulakukan selama seribu hari terakhir.
"Istri? Saya belum menikah. Saya baru saja lulus kuliah kemarin... setidaknya itu yang saya ingat."
"Nggak... nggak mungkin. Arlan, lihat aku! Ini aku!"
Aku menyambar tablet di meja samping tempat tidur, menunjukkan foto-foto kami. Tanganku gemetar hebat hingga tablet itu nyaris jatuh.
"Lihat foto ini! Ini kita di Bali! Ini kita saat beli rumah ini!"
Arlan melihat foto itu tanpa ekspresi. "Pria itu memang mirip saya. Tapi saya nggak ingat pernah ke tempat ini. Saya nggak ingat kamu."
"Arlan, jangan bercanda! Kamu yang selama ini nunggu aku! Kamu yang bilang nggak bakal capek!"
"Mbak, tolong tenang dulu. Saya benar-benar bingung. Kenapa saya ada di kamar ini sama Mbak?"
Aku terduduk lemas di lantai. Rasa sakitnya lebih hebat dari apa pun yang pernah kurasakan. Apakah ini yang dirasakan Arlan setiap hari? Apakah ini beban yang ia pikul sendirian selama tiga tahun?
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Di atas meja kerja Arlan di sudut kamar, ada laporan medis yang belum sempat kubaca kemarin. Aku merangkak ke sana, membukanya dengan paksa.
Diagnosis: Sindrom Burnout Neurotik Berat yang memicu Dissociative Amnesia.
Dokter sudah memperingatkannya. Stres kronis karena menghadapi kondisi istrinya, ditambah kurang tidur dan beban emosional yang luar biasa, telah merusak pertahanan mentalnya sendiri. Otaknya telah memilih untuk membuang semua kenangan yang menyakitkan itu untuk melindungi dirinya sendiri. Dan kenangan tentangku adalah bagian paling menyakitkan dari hidupnya.
"Arlan..." bisikku, air mata jatuh membasahi kertas laporan itu.
"Mbak? Kenapa Mbak nangis?" tanya Arlan dari tempat tidur. Suaranya sopan, namun sangat berjarak.
Aku menghapus air mataku. Aku berdiri, mencoba menguatkan kaki yang terasa seperti jelly. Aku mengambil napas dalam-dalam, menelan semua kepedihan yang meluap-luap di tenggorokanku.
Aku berjalan mendekatinya. Aku mencoba tersenyum, meski itu adalah senyum paling pahit yang pernah kubuat. Aku harus melakukannya. Jika dia bisa melakukannya untukku selama seribu hari, aku akan melakukannya untuknya selamanya.
"Namaku Milena," kataku, suaraku bergetar namun pasti.
Arlan menatapku dengan rasa ingin tahu yang murni. "Milena?"
"Iya. Dan ini adalah bagian di mana kamu bertanya apakah aku pencuri yang masuk ke rumahmu."
Arlan terdiam sejenak, lalu sebuah senyum kecil yang tipis muncul di wajahnya. Senyum yang sama dengan yang kulihat setiap pagi, tapi kini peran kami telah bertukar tempat dalam panggung sandiwara takdir yang kejam ini.
"Apa Mbak pencuri yang masuk ke rumah saya?"
Aku tertawa di tengah tangis yang tak tertahankan. Aku mengulurkan tangan, menyentuh jemarinya yang hangat.
"Bukan. Aku istrimu, Arlan. Dan aku bakal bikin kamu jatuh cinta lagi sebelum jam delapan malam."
Arlan menatap tanganku yang menggenggam tangannya, lalu kembali menatap mataku dengan tatapan yang kosong namun mencari.
"Gimana cara Mbak ngelakuin itu?"
Aku mengambil cangkir kopi yang masih mengepul di meja, menyerahkannya padanya dengan tangan yang kini lebih kokoh.
"Biasanya kita mulai dengan sarapan omelet buatanmu yang gagal, lalu aku akan menceritakan bagaimana aku menjatuhkan buku sejarah setebal bantal ke kakimu di perpustakaan."
Arlan mengerutkan kening, mencoba menggali sesuatu di kepalanya yang kosong. "Saya suka sejarah?"
"Kamu benci sejarah, tapi kamu bilang kamu suka karena kamu mau punya alasan buat tetap duduk di depanku."
"Cerita yang aneh," gumam Arlan, tapi dia mulai menyesap kopinya. "Mbak... Milena, ya?"
"Iya, Arlan. Milena."
"Apa kita bakal selalu kayak begini?"
Aku menatapnya dalam-dalam, bersumpah dalam hati bahwa aku tidak akan pernah membiarkannya merasa sendirian lagi seperti yang dia rasakan selama ini.
"Sampai kamu ingat, atau sampai aku yang lupa lagi."
Arlan meletakkan cangkirnya, lalu menatap jendela di mana matahari mulai merayap naik, menyinari kamar yang kini penuh dengan gema ingatan yang hanya kumiliki sendiri.
"Bisa kamu ceritain lagi soal hari pertama kita ketemu?"