Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Melodi Desiran Ombak
1
Suka
5,395
Dibaca

Bab 1: Nada di Atas Pasir

Langit di atas Selat Makassar selalu menawarkan kanvas kebiruan yang tak terbatas, namun bagi Elang, keindahan sejati tersembunyi dalam simfoni abadi yang dimainkan oleh ombak. Ia adalah Elang, seorang komposer jalanan. Bukan musisi yang mencari panggung megah, melainkan seorang penjelajah bunyi, pengembara yang mengumpulkan melodi dari alam. Rambutnya gondrong dan diikat asal, kulitnya kecokelatan terbakar matahari, dan matanya selalu memancarkan intensitas seorang seniman yang melihat dunia lebih dari sekadar visual. Tas punggungnya selalu berisi peralatan rekaman: mikrofon kondensor ultra-sensitif, headphone berkualitas tinggi, sebuah laptop tua yang setia, dan synthesizer portabel yang menemaninya ke mana pun. Elang hidup berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain, dari satu pantai ke pantai berikutnya, mencari suara yang murni, yang belum terjamah oleh polusi dan kebisingan manusia.

Misinya kali ini adalah sebuah proyek yang sangat pribadi, yang ia beri judul "Ode Lautan". Sebuah album instrumental spiritual yang seluruhnya berbasis pada suara ombak. Bukan ombak biasa, melainkan ombak yang memiliki resonansi, frekuensi, dan mungkin, jiwa. Misi Elang adalah merekam lima komposisi musik alam dari lima lokasi pesisir berbeda di Nusantara, masing-masing dengan karakteristik ombaknya sendiri. Setelah berbulan-bulan riset dan penjelajahan, ia sampai pada sebuah nama: Desa Labuang. Sebuah desa pesisir terpencil di sebuah sudut tersembunyi di Sulawesi Selatan, jauh dari keramaian Makassar, yang dikenal di kalangan nelayan sebagai tempat di mana suara ombaknya "paling indah dan bersih." Konon, desiran ombak di sana memiliki melodi tersendiri, sebuah nyanyian kuno yang bisa menenangkan jiwa.

Perjalanan ke Labuang bukanlah hal yang mudah. Elang harus menempuh berjam-jam perjalanan darat yang berliku, kemudian dilanjutkan dengan perahu motor kecil yang melintasi perairan biru gelap. Setibanya di sana, ia disambut oleh desa nelayan yang sederhana. Rumah-rumah panggung berjejer rapi di sepanjang pantai, jaring-jaring ikan dijemur di bawah matahari, dan aroma garam laut bercampur dengan bau ikan bakar. Penduduk desa, dengan kulit legam terbakar matahari dan senyum ramah yang tulus, menyambutnya dengan rasa ingin tahu. Mereka adalah orang-orang yang lugu, hidup selaras dengan laut, dan sedikit terkejut dengan kedatangan seorang asing yang membawa peralatan aneh.

"Selamat datang, Nak," kata seorang kakek tua dengan jenggot memutih, yang memperkenalkan diri sebagai Pak Harun, kepala desa. Matanya yang keriput menatap Elang dengan pandangan ingin tahu. "Ada keperluan apa jauh-jauh datang ke desa kami ini?"

Elang menjelaskan misinya, tentang album "Ode Lautan" dan tentang bagaimana ia mencari suara ombak yang sempurna. Ia menunjukkan peralatannya, dan Pak Harun mengangguk-angguk, meskipun jelas tidak sepenuhnya memahami.

"Jadi, kamu ingin merekam suara laut kami?" tanya Pak Harun, tersenyum. "Laut kami memang istimewa, Nak. Memberi kami makan, memberi kami hidup." Ada nada kebanggaan dalam suaranya.

"Saya dengar ombak di sini berbeda, Pak," kata Elang, mencoba memancing informasi. "Lebih... bersih, lebih indah katanya."

Senyum Pak Harun sedikit memudar. Ia bertukar pandang dengan beberapa penduduk desa lain yang berdiri di dekatnya. Ada sedikit keraguan di mata mereka, sebuah ketidaknyamanan yang samar.

"Ah, itu kan cuma kata orang, Nak," jawab Pak Harun, sedikit tergesa-gesa. "Ombak ya ombak. Di mana-mana sama saja. Tapi memang, di sini airnya jernih, pantainya sepi. Bagus untuk orang seperti kamu yang suka ketenangan."

Meskipun Pak Harun mencoba terdengar santai, Elang merasakan adanya sedikit keengganan dalam jawabannya. Ada sesuatu yang tak terucap, sebuah rahasia kecil yang mereka enggan bagikan. Tap...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp13.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
My Doll
SalsaShafa
Cerpen
Bronze
Melodi Desiran Ombak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Malam Terakhir di Rumah Tua
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Bronze
Tumbal Keempat
Arjun
Novel
Gold
Hilang
Bentang Pustaka
Flash
Lukisan Rendra
Rafael Yanuar
Skrip Film
Thalatha
Devichy
Flash
Uang berdarah
Bungaran gabriel
Flash
seringai masa lalu
lusi anda sudjana
Flash
Udah Belum?
irishanna
Flash
Bronze
setan
Rere Valencia
Novel
TUNNEL
Embart nugroho
Flash
Bronze
Rencana Besar
Carolina Ratri
Cerpen
Bronze
Annelise van Dijk
Allamanda Cathartica
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Melodi Desiran Ombak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Radio Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rig Minyak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dharmawangsa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jurnal Kosong
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Labirin Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pusaka Naga Hitam
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Yamero
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
#fyp Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Catatan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Cermin Kedua
Christian Shonda Benyamin