Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Me Vs Perokok Idiot!!!
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jam 08.15 WIB. Aku terbangun dengan jantung yang berdegup kencang, seolah baru saja lari maraton dikejar Debt Collector. Mataku melirik jam dinding. "MAMPUS!" teriakku, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Kantor masuk jam 08.30. Jarak kosan ke kantor 10 kilometer. Secara logika matematika, fisika, dan geografi, aku sudah pasti telat. Tamat riwayat bonus kehadiranku.

Semalam, Si Botak (Bosku yang kepalanya lebih licin dari lantai marmer lobi) memaksaku merevisi laporan keuangan sampai jam 3 pagi. Akibatnya, alarm HP yang sudah kusetel 10 kali (dari jam 6.00 sampai 6.30) sukses kulewatkan. Aku curiga aku mematikannya dalam keadaan tidak sadar, mungkin arwahku yang matiin saking capeknya.

Aku mandi bebek (asal basah), sikat gigi secepat kilat (sampai gusi berdarah dikit), memakai kemeja kerja yang untungnya sudah disetrika, menyambar tas, dan lari keluar kamar. Tanpa make-up. Wajahku pucat seperti pasien tifus. Rambutku kucir kuda asal-asalan. Aku memesan Ojol (Ojek Online). Dapat! Driver: Mas Wahyu. Motor: Honda Beat (Merah). Rating: 4.9.

Mas Wahyu datang 3 menit kemudian. "Mbak Devi ya?" sapanya ramah dengan senyum santun. "Iya Mas! Mas, tolong ngebut ya! Saya udah telat parah! Kalau perlu terbang, terbang Mas! Saya bayar lebih!"

Mas Wahyu tersenyum bijak. "Waduh Mbak, alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal selamat). Kita utamakan keselamatan ya, Mbak. Keluarga menunggu di rumah."

Hatiku mencelos. Aku dapat tipe driver "Safety Riding Ambassador". Aku naik ke boncengan. "Tolong usahain cepet ya Mas..." rengekku putus asa.

Mas Wahyu menjalankan motornya. Kecepatannya: 38 km/jam. Stabil. Sangat stabil. Saking stabilnya, siput di pinggir jalan rasanya bisa menyalip kami. Aku menggigit bibir, kakiku gemetar menahan emosi. Setiap detik yang berlalu adalah potongan gaji yang melayang.

 

Kami melaju di jalan raya yang padat merayap. Mas Wahyu tetap konsisten di lajur kiri, sopan, menyalakan lampu sein 100 meter sebelum belok. Malaikat pasti bangga padanya. Tapi setanku sedang bergejolak.

Tiba-tiba, dari sisi kanan, terdengar suara knalpot brong yang memekakkan telinga. BREM... BREM... BREMMMM! Sebuah motor RX-King butut yang dimodifikasi seenak jidat menyalip kami dengan jarak tipis. Pengendaranya: Dua orang lelaki muda. Ciri-ciri: Tidak pakai helm, rambut dicat warna jagung (kuning norak), pakai celana jeans sobek-sobek, dan... Yang dibonceng sedang Merokok.

Tangan si pembonceng menjuntai santai ke samping, memegang batang rokok yang menyala. Bara apinya merah menyala tertiup angin. Mereka menyalip tepat di depan motor Mas Wahyu.

Tiba-tiba... FLICK. Si pembonceng menjentikkan abu rokoknya ke belakang. Angin membawa butiran abu panas dan bara api kecil itu terbang lurus ke arah wajah Mas Wahyu. Mas Wahyu yang helmnya half-face dan kacanya dibuka (biar adem katanya), tidak sempat menghindar.

"ADUH!" Mas Wahyu berteriak kesakitan. Motor Beat oleng. Stang bergoyang liar ke kiri dan ke kanan. Kami hampir menabrak trotoar. "MAS! AWAS!" teriakku.

Mas Wahyu dengan sisa penglihatannya berhasil mengerem mendadak di pinggir jalan. CIIIIIT! Kami berhenti tepat 5 sentimeter dari lubang galian telkom. Nyaris.

Mas Wahyu langsung membuka helmnya, memegangi mata kanannya. Matanya merah, berair deras. "Perih Mbak... Perih banget... Kemasukan bara..." rintihnya.

Aku melihat ke depan. Dua pemuda "Jamet Knalpot Brong" itu tidak berhenti. Mereka malah menoleh ke belakang, melihat kami yang nyaris celaka, lalu TERTAWA. "Hahaha! Lemah lu!" teriak si pembonceng sambil mengacungkan jari tengah. Lalu mereka tancap gas. NGUENGGGG! Kabur.

Saat itulah, sesuatu di dalam diriku patah. Rasa kantukku hilang. Rasa takut telatku hilang. Yang tersisa hanyalah KEMURKAAN. Darah mendidih naik ke ubun-ubun. Bayangan Si Botak yang menyuruhku lembur, bayangan gaji yang dipotong, dan bayangan Mas Wahyu yang kesakitan karena ulah manusia sampah itu, semuanya bersatu menjadi bahan bakar nuklir di dadaku.

Aku turun dari motor. "Mas Wahyu, minggir," perintahku. Suaraku rendah, tapi menguarkan aura membunuh.

"Mbak... mata saya sakit..." Mas Wahyu masih merintih.

"Saya tau Mas. Makanya minggir. Pindah ke belakang. Sekarang."

"Hah? Maksudnya gimana Mbak?"

"SAYA YANG BAWA MOTORNYA. SAYA MAU KEJAR BANGSAT-BANGSAT ITU."

Mas Wahyu melongo, matanya yang satu merah, yang satu kaget. "Ta-tapi Mbak... Bahaya... Saya gak bisa..."

Aku merogoh dompet. Mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu (uang terakhirku sebelum gajian, bodo amat). "Ini 200 ribu. Ongkos saya bayar lunas sekarang. Nanti di aplikasi saya kasih bintang 5, tip maksimal, dan ulasan pujian sepanjang novel. Sekarang DUDUK DI BELAKANG ATAU SAYA BAJAK MOTOR INI SECARA ILEGAL!"

Aura "Budak Korporat Stress" yang keluar dari tubuh mungilku begitu pekat sampai Mas Wahyu merinding. Dia tidak berani membantah. Dengan gemetar, dia pindah duduk di boncengan.

Aku naik ke kursi pengemudi. Kakiku jinjit sedikit (nasib orang pendek), tapi begitu motor jalan, itu tidak masalah. Aku membetulkan posisi spion. Aku mengikat rambutku lebih kencang. Aku menurunkan kaca helm Mas Wahyu (yang sekarang kupakai).

"Pegangan yang kenceng, Mas. Kalau perlu peluk behel motornya. Jangan lupa dzikir," kataku dingin.

"Mbak... pelan-pelan ya..."

Aku menyeringai. "Pelan itu mitos."

Aku memutar selongsong gas sampai mentok. NGUOOOONG!!! Honda Beat merah itu menjerit. Mesin 110cc-nya dipaksa bekerja melampaui batas wajar. Kami melesat bagaikan roket yang telat orbit.

Jalanan Jakarta adalah medan perang. Dan aku adalah Jenderalnya. Dua motor Jamet itu sudah jauh di depan, sekitar 500 meter. Mereka menyelip di antara mobil-mobil.

"TARGET TERKUNCI," gumamku.

Aku memacu motor. Speedometer menyentuh angka 80... 90... 100 km/jam. Mas Wahyu di belakang berteriak, "ASTAGHFIRULLAH! SUBHANALLAH! ALLAHU AKBAR! MBAK REM MBAK! ADA TRUK!"

Di depan ada Truk Kontainer yang berjalan lambat. Celah di sebelah kirinya sempit. Normalnya, orang akan ngerem. Tapi aku bukan orang normal hari ini. Aku adalah Dominic Toretto versi kearifan lokal.

Aku tidak ngerem. Aku memiringkan badan. SWUSH! Kami menyelinap di celah sempit antara ban truk dan trotoar. Spion motor berjarak cuma 1 sentimeter dari bodi truk. "LAA ILAHA ILLALLAH!" teriak Mas Wahyu, suaranya bergetar hebat.

Kami berhasil lolos. Target terlihat lagi. Mereka sedang tertawa-tawa sambil merokok lagi.

"Kena kalian," desisku.

Ada belokan tajam di depan. Lampu merah menyala. Dua Jamet itu menerobos lampu merah. Aku? Tentu saja ikut menerobos. Persetan dengan tilang elektronik. Keadilan harus ditegakkan manual.

Aku melakukan manuver Cornering ala Marc Marquez. Lututku hampir menyentuh aspal (hiperbola dikit, padahal cuma miring dikit). Ban cacing Honda Beat berdecit. CIIITT! Mas Wahyu sudah tidak berteriak lagi. Dia sudah pasrah, mungkin sedang merapalkan syahadat.

Jarak semakin dekat. 50 meter. 20 meter. 10 meter. Aku bisa melihat merek rokok yang mereka hisap. Aku bisa melihat ketombe di rambut kuning mereka.

Aku mensejajarkan motor di samping mereka. Si pembonceng kaget melihat ada cewek mungil bermuka iblis di sampingnya dengan kecepatan 100 km/jam. "WOY!" teriakku.

Mereka kaget. Stang motor mereka goyang. Aku melihat celah di depan. Ada mobil angkot yang berhenti. Ini momennya. Aku menyalip mereka, lalu memotong jalur mereka secara tajam (Cut Off) dan melakukan pengereman mendadak di depan mereka. Teknik: Brake Check.

CIIIIIIIIIITTTT!!! Aku berhenti sempurna. Dua Jamet di belakang panik. Mereka ngerem mendadak, ban belakang mereka ngesot, motor oleng, dan akhirnya... GUBRAK! Mereka jatuh terguling ke aspal (untungnya kecepatannya sudah turun karena ngerem). Motor RX-King butut mereka terseret beberapa meter, memercikkan bunga api.

Aku menurunkan standar samping dengan gaya cool. "Mas Wahyu, tunggu di sini. Jangan turun. Ini urusan saya."

Aku turun dari motor. Berjalan perlahan menuju dua onggok manusia yang sedang mengaduh kesakitan di aspal. Di kepalaku, lagu tema The Good, The Bad, and The Ugly berputar.

Dua Jamet itu bangun. Luka lecet di siku dan lutut. Mereka marah besar. "HEH! GILA LU YA?! MAU MATI LU?!" teriak si Pengemudi (Si Helm Putih - eh ga pake helm deng, Si Rambut Kuning). Si Pembonceng (Si Perokok) juga bangun, rokoknya sudah jatuh entah kemana. "CEWEK STRESS! MOTOR GUE LECET NIH! GANTI RUGI LU!"

Aku berdiri di depan mereka. Tinggi badanku cuma sebatas dada mereka. Tapi nyaliku setinggi Monas. Lalu lintas di belakang mulai macet. Klakson bersahutan. Orang-orang mulai menonton.

"Ganti rugi?" tanyaku tenang. "Gue bakal ganti rugi. Tapi sebelumnya, gue mau nanya. Kalian tau fungsi asbak?"

"Hah? Apaan sih lu bacot!" bentak si Perokok.

"Jalan raya bukan asbak nenek moyang lo," kataku. "Abu rokok lo tadi kena mata driver gue. Dia hampir buta. Kita hampir nabrak. Lo sadar gak kalau abu rokok itu kena angin, kecepatannya bertambah, gesekannya bisa merobek kornea?"

"Halah! Lebay lu! Cuma abu doang! Kena angin juga ilang!" sanggah si Perokok dengan logika jongkoknya.

"Ilang kemana?" tanyaku sinis. "Ilang ke dimensi lain? Hukum Kekekalan Massa, Mas! Materi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan! Abu lo itu benda padat! Kalau masuk mata, dia jadi proyektil! Lo kira mata manusia itu terbuat dari Kevlar anti peluru?!"

"Ya suruh siapa kaca helmnya dibuka!" balas si Rambut Kuning.

"SURUH SIAPA LO MEROKOK DI MOTOR TANPA HELM?!" bentakku balik, suaraku menggelegar. "Menurut UU LLAJ Pasal 106, pengemudi dilarang melakukan aktivitas yang mengganggu konsentrasi! Merokok itu mengganggu! Dan membuang sampah (abu) sembarangan itu melanggar etika peradaban manusia purba sekalipun! Monyet aja kalau makan kulit pisangnya dibuang ke tanah, bukan dilempar ke mata temennya!"

"Bodo amat! Ini jalan umum! Suka-suka gue!"

"Nah! Justru karena jalan umum, hak lo dibatasi hak orang lain! Kebebasan lo mengayunkan tangan (dan rokok), berhenti tepat di ujung hidung (dan mata) orang lain! Paham gak lo konsep HAM?! Atau otak lo udah kebanyakan nikotin sampe sinapsisnya putus?!"

Penonton di pinggir jalan mulai bersorak. "MANTAP MBAK! SIKAT TERUS!"

Si Perokok dan si Rambut Kuning kehabisan argumen. Wajah mereka merah padam karena malu kalah debat sama cewek kecil di tengah jalan. Harga diri preman mereka terusik.

"Ah, bacot lu! Kebanyakan teori! Sok pinter!" Si Perokok maju, tangannya mengepal. "Minta dihajar nih cewek!"

"Wah, main fisik?" Aku tersenyum tipis. "Bagus. Gue udah muak ngomong sama tembok."

 

Dunia melambat. Waktu seolah berhenti. Suara klakson mobil di kejauhan terdengar distorted dan berat. Aku masuk ke dalam "The Zone".

Di mataku, muncul teks-teks analisis digital (imajinasi doang) bercampur dengan naluri Devi sibudak korporat mode killer telah aktif

[TARGET 1: SI PEROKOK (THE SMOKER)]

Status: Agresif, Bodoh.

Senjata: Tangan kosong, napas bau naga.

Analisis Fisik: Tinggi 170cm, Kurus. Kuda-kuda terbuka lebar (amatir). Bahu kanan tegang (mau mukul hook kanan).

Titik Lemah: Ulu hati (terbuka), Lutut (kopong sering begadang), Mata (target balas dendam).

Rencana Eksekusi:

  1. Tangkis pukulan kanan.
  2. Serangan ke tenggorokan (menyebabkan sesak napas/batuk - ironi perokok).
  3. Discombobulate (Bikin bingung).

[TARGET 2: SI RAMBUT KUNING (THE DRIVER)]

Status: Menunggu giliran, pengecut.

Analisis Fisik: Lebih pendek, gemuk.

Titik Lemah: Telinga (keseimbangan), Kemaluan (standar cowok).

Rencana Eksekusi: Environment Kill (Gunakan motor mereka sendiri).

[COMBAT START]

Detik Pertama Si Perokok mengayunkan tinju kanannya ke arah wajahku. Lambat. Penuh emosi tanpa teknik. Aku tidak mundur. Aku memiringkan kepala ke kiri sedikit. Tinjunya meleset.

Aku menangkap pergelangan tangannya dengan tangan kiri. Tangan kananku membentuk knife-hand (pisau tangan). CHOP! Aku menghantam tenggorokannya (Adam's Apple). Tidak terlalu keras untuk membunuh, cukup untuk membuatnya merasa menelan durian utuh.

"HUKK!" Matanya melotot. Dia terbatuk-batuk hebat. "Sakit kan tenggorokan? Itu simulasi kanker paru-paru instan," bisikku.

Belum selesai. Aku melepaskan tangannya, lalu melakukan gerakan memutar. Siku kananku meluncur deras. BAM! Siku menghantam ulu hatinya (Solar Plexus). Dia membungkuk, kehabisan napas. Wajahnya sejajar dengan lututku. "Say hello to my knee." DUAGH! Lututku menghantam hidungnya. Dia terhuyung ke belakang, darah mengucur dari hidung, lalu jatuh terduduk dengan tatapan kosong. Neutralized.

Detik Kelima, Si Rambut Kuning melihat temannya tumbang dalam 3 detik. Dia panik. Dia mengambil helm (yang tadi dia gantung di motor, gak dipake) dan mau memukulku pakai helm. "MATI LU!"

Aku melihat spion motor RX-King mereka yang copot di aspal. Aku menendang spion itu ke arah kakinya. Dia tersandung spion sendiri. Keseimbangannya goyah.

Aku berlari mendekat. Aku melompat, menggunakan bahunya sebagai tumpuan (parkour style). Tanganku menepuk kedua telinganya secara bersamaan dengan telapak tangan terbuka. Teknik: Box the Ears. PLAK! Gendang telinganya berdengung hebat. Keseimbangannya hilang total. Dunia berputar baginya.

Dia sempoyongan, berputar-putar seperti gasing mabuk. Aku berdiri di belakangnya. Aku menendang pantatnya sekuat tenaga. THIS IS SPARTA! Dia terdorong ke depan, menabrak motor RX-King-nya sendiri yang sudah jatuh. Wajahnya mendarat di jok motor yang panas terkena matahari. "Aduh... Panas..." Dia pingsan (atau pura-pura pingsan karena malu).

Detik Kesepuluh,  Dua lawan tumbang. Kerumunan bersorak. "WOOOO! MANTAP MBAK JAGO!"

Aku mengatur napas. Merapikan kemeja kerjaku yang sedikit kusut. Aku melihat sebungkus rokok yang jatuh dari saku Si Perokok. Bungkusnya sudah penyok. Aku memungutnya. Mengambil satu batang yang patah. Aku meminjam korek dari abang tukang bakso yang lagi nonton. "Bang, pinjem korek." "Siap Neng Jago!"

Aku menyalakan rokok itu. Menghisapnya sedikit (uhuk, aku gak ngerokok sebenernya, jadi batuk dikit). Ujungnya membara. Aku membiarkan abunya menumpuk sedikit.

Aku berjalan ke arah Si Perokok yang masih sadar tapi lemas memegangi hidung. Aku berjongkok di depannya. Aku membuka kelopak mata kanannya paksa dengan jari.

"Mata dibayar mata," kataku dingin. "Tadi lo kasih driver gue abu. Sekarang gue balikin. Keep the change."

Aku meniup abu rokok itu tepat ke bola matanya. FUH. "AAAAAAARGHHH! PERIH! PERIH!" Si Perokok menjerit histeris, guling-guling di aspal. "Rasain! Itu rasanya mata driver gue!"

Aku mematikan rokok itu dengan menginjaknya di aspal. Membuang puntungnya ke tempat sampah terdekat. "Buang sampah pada tempatnya, goblog."

 

Adrenalin mulai surut. Tubuhku kembali terasa pegal-pegal sisa lembur semalam. Aku berjalan kembali ke arah Mas Wahyu yang masih duduk di boncengan motor dengan mulut menganga. Dia sepertinya lupa kalau matanya sakit saking kagetnya melihat penumpangnya berubah jadi John Wick.

"Mas Wahyu," panggilku lembut. Mas Wahyu tersentak. "I-iya Mbak? Ampun Mbak..."

"Mas masih sakit matanya?"

"Masih perih dikit Mbak... Tapi udah mendingan liat Mbak hajar mereka. Sembuh 50% rasanya."

Aku tersenyum. Aku menoleh ke kerumunan warga. "Bapak-bapak! Ibu-ibu! Tolongin Mas Ojol ini ya! Bawa ke Puskesmas atau Klinik mata terdekat! Matanya kena abu rokok orang-orang itu! Biaya pengobatannya..."

Aku merogoh saku celana Si Perokok yang lagi guling-guling. Mengambil dompetnya. Mengambil semua uang tunai yang ada (sekitar 300 ribu). "...Pake uang ganti rugi dari mereka! Kurang lebihnya minta sama keluarganya!"

Warga bersorak setuju. "SIAP MBAK!" Beberapa bapak-bapak langsung memapah Mas Wahyu. Mas Wahyu menatapku berkaca-kaca (bukan karena abu, tapi terharu). "Makasih Mbak Devi... Mbak Devi pahlawan saya..."

"Sama-sama Mas. Maaf ya tadi saya bawa motornya ugal-ugalan." Aku menyerahkan kunci motor Beat ke salah satu warga yang mau nganterin Mas Wahyu.

Aku melihat jam tangan. 09.15 WIB. Telat 45 menit. Si Botak pasti sudah meledak.

Aku memesan Ojol baru. Dapat. Driver: Mas Budi. Motor: Vario.

Mas Budi datang, melihat kekacauan di jalan, melihat dua preman terkapar, dan melihatku yang berdiri santai. "Mbak... itu ada apa ya?" tanya Mas Budi takut-takut.

"Oh, itu Mas. Ada syuting film The Raid 3. Saya stuntman-nya," jawabku asal. "Yuk jalan Mas. Ke kantor PT Maju Mundur. Santai aja Mas, gak usah ngebut. Saya udah pasrah telat."

Mas Budi mengangguk. Kami melaju meninggalkan TKP. Aku duduk di boncengan, merasakan angin menerpa wajahku. Aku memang telat. Sampai kantor pasti kena omel. Tapi kepuasanku hari ini? Tak ternilai harganya.

Aku membuka HP. Memberikan rating ke Mas Wahyu. Bintang 5. Ulasan: "Drivernya ramah, motornya enak (terutama pas saya yang bawa), dan sangat tabah menghadapi cobaan hidup. Cepet sembuh Mas matanya. Maaf tadi saya drifting dikit di tikungan."

Dan untuk dua perokok tadi... semoga mereka belajar, bahwa karma itu ada, dan wujudnya adalah wanita mungil yang sedang PMS dan telat ngantor.

 

Pesan Moral: 1. Merokoklah pada tempatnya. Jalan raya bukan asbak pribadi anda. 2. Jangan pernah membuang abu rokok sembarangan, kecuali anda siap menerima balasan instan berupa tinju ulu hati. 3. Jangan remehkan wanita yang sedang telat kerja. Mereka lebih berbahaya daripada singa yang belum makan 3 hari.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Me Vs Perokok Idiot!!!
cahyo laras
Flash
Bronze
Bolu untuk Awan
Rie Yanti
Cerpen
Akew yang Menyakiti
E. N. Mahera
Flash
LIDAHMU MEMBUNUHMU
Ratna Arifian
Flash
Bronze
SAWERAN
Emma Kulzum
Cerpen
Kisah Maling yang Tolol
Muhammad Ilfan Zulfani
Flash
Dravoryans :Diberkati Dewa
Darian Reve
Flash
Bronze
An-Je-Lo (Antar Jemput Lontong Sate)
Sunarti
Cerpen
Shingeki No Parkiran
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Lestari Pedagang
Aviskha izzatun Noilufar
Flash
Bronze
ASTRONOT OGAH KEMBALI KE BUMI. NASA: BELIAU TERLILIT UTANG PINJOL.
Ade Anugrah
Flash
KUE 1.. 2.. 3..
Kiki Isbianto
Cerpen
Menunggu Hukuman Mati
Noer Eka
Flash
Bronze
Standar Tiktok
Ron Nee Soo
Flash
Menahan Berak
Alviandromeda | DigitAlv
Rekomendasi
Cerpen
Me Vs Perokok Idiot!!!
cahyo laras
Cerpen
Shingeki No Parkiran
cahyo laras
Cerpen
Tertangkap Razia Pelajar
cahyo laras
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Sepatu Mangap di Marathon 10k
cahyo laras
Novel
Kontrak Terakhir
cahyo laras
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras
Cerpen
Temen Papah Zone
cahyo laras
Cerpen
Fotografer Dadakan Yang Jatuh Hati Diam-Diam
cahyo laras
Novel
Catatan Harian Budak Korporat
cahyo laras
Cerpen
Perang Dingin Melawan Mbak Google
cahyo laras
Cerpen
Jangan Ge-Er, Dia gitu ke semua orang
cahyo laras
Cerpen
Asam Lambung dan Cinta Buta
cahyo laras
Cerpen
Datang Bawa Malu, Pulang Bawa Duit (lagi)
cahyo laras
Cerpen
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
cahyo laras