Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
MBG (Mari Berburu Genderuwo)
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Berburu burung? Ah, itu level amatir bagi seorang yang gemar berpetualang mencari mangsa di hutan. Babi, rusa? Itu sudah biasa. Hewan mangsa sama sekali tidak memberikan sebuah tantangan. Tinggal tunggu di tempat persembunyian dan padang rumput, sudah beres.

Kalau berburu hewan di dalam air? Kelihatannya itu seru bagi orang yang tidak bisa berenang. Itu bukanlah berburu, tetapi memancing dan menjebak. Tidak cocok bagi jiwa pemburu hewan liar.

Apalagi ya? Ah, sebuah ide pun tercetuskan. Pergi ke rumah teman bukanlah yang buruk. Siapa tahu di sanadapatkan ide yang menarik.

Di rumah Badrun, seorang yang alim tetapi ganas, sedang sepi. Walaupun kamu bukan anggota jemaat mereka, tetapi rutinitas kegiatan di sana sudah hafal. Itu semua karena pertemanan di sana sangat lama sehingga segala kegiatan tahu, bahkan sampai beberapa bukan berikutnya.

“Run, kamu ada ide nggak? Aku sudah bosan berburu seperti biasa,” katamu.

“Bagaimana kalau berburu bidadari surga. Kamu mau nggak, Ta?” tanya balik Badrun.

“Lho lho lho, kau pingin aku niru guru ngaji cadul? Nggak deh, mending aku jadi zombie aja.” Hal segila itu tentang saja tidak sesuai dengan prinsip hati yang selama ini kau pegang.

“Bukan itu caranya, belajar agama yang benar. Bukannya ikut orang sesat yang ngaku jadi waliyullah.”

Hmmm, itu menarik. Namun, kata hati dan kepercayaan tidak bisa dipaksakan.

Eh, bukan itu yang dimaksud Badrun. Lelaki itu hanya bermaksud untuk belajar agama yang kau anut dengan benar, bukan dari orang yang mengakui saja, tetapi di belakang malah malas beribadah dan rajin melanggar dengan alasan yang tidak jelas.

“Kau cuma berburu rusa saja? Lemah. Kalau berani, lawan tuh beruang di gunung Geronggong,” ejek seorang lelaki yang lewat di sana.

Ah, ide lain tercetus. Berburu beruang ide yang bagus. Namun, senjata di sana kurang memadai. Setidaknya butuh sebuah shotgun atau handcanon, bukan senapan angin dan panah tangan. Senjata yang ada di tangan itu pun di buang.

Eh, tidak jadi dibuang. Itu sangat berharga dan banyak kenangan di sana. Sayang kalau menjadi penghuni tempat sampah. Kamu pun mengambil kembali karena itu sangat berharga.

Sesampainya di rumah, kamu pergi ke gudang persenjataan. Di sana ada berbagai jenis senjata, mulai yang paling sederhana sampai modern. Mana pilihanmu?

Di sana juga ada gambar macan geni segoro. Bukan sejenis harimau amfibi, tetapi makhluk ghaib yang berwarna biru lautan. Pilihan yang tepat untuk menantang adrenalin. Eits, bukan itu yang kau pilih. Genderuwo lah yang paling menantang.

Tenang saja, di sana ada banyak pilihan senjata ghaib. Keris ada, pistol juga ada. Bahkan senjata laser juga ada. Namun, bukan itu yang cocok untuk berburu. Pilihan jatuh pada cetbang, panah Patiwasuh dan keris Rangganceng.

Persiapan senjata telah cukup, tetapi masih kurang satu. Itu adalah air suci yang telah habis dari gudang. Terpaksa menghubungi Badrun untuk mencarikan air suci.

Di malam sabtu legi, waktunya itu berburu. Yah, kalaupun harinya tidak tepat dan bukan yang terbaik, tetapi waktu yang senggang bagi sahabatmu. Hari itu sepi acara ibadah.

Setelah menempuh perjalanan satu jam dengan sebuah mobil, kalian tiba di kaki gunung Geronggong. Eh, bukan itu tujuanmu. Putarkan tubuh ke kiri. Sudah, kiri sedikit lagi. Arah pandangan ke waduk Cakung. Bukan itu, putar lagi ke kiri.

Kejutan, sesosok makhluk berwarna putih muncul. Area sekitar mata berwarna merah dengan kedua mata menyala. Mulut bbertaring panjang, wajah rusak dan jelek, sungguh menjijikkan. Ia melayang di udara.

“Boom!”

Kamu membuang sebuah peluru cetbang karena terkejut. Jantung berdetak kencang tak karuan. Seolah itu bergerak sendiri tanpa bisa dihentikan. Tubuh pun terjatuh akibat daya dorong yang dihasilkan.

“Ngapain kamu menembakkan cetbang pada layangan, Ta? Ada-ada aja kamu nih,” kata Badrun.

“Aku kagetlah. Mana tahu kalau itu cuma layangan, gasud.”

Salah target tentu saja membuat malu dan ingin marah saja.

Tujuan untuk berburu kali ini ada di hutan Pororoso, gunung Podokoro. Memang tidak sebesar gunung Geronggong, tetapi di sanalah tempat biasa genderuwo bersemayam. Itu juga sebelah beberapa minggu mencari.

Saat menyeberangi sungai. Sebuah nyanyian nan merdu terdengar. Kalian menoleh ke hulu. Muncullah sesosok makhluk hijau. Bentuknya seperti manusia, tetapi dengan ukuran tubuh lebih tinggi. Jumlah anggota gerak pun tidak jelas. Makhluk tersebut menyerang kalian bersamaan dengan angin hangat yang bertiup kencang.

Sudah terlambat untuk menghindar, tangan Badrun dipegang makhluk tersebut.

“Mampus kowe, minggato!”

Kau melihat kekonyolan Badrun. Akar gantung yang diselimuti lumut terus dibabat lelaki itu dengan sebuah parang panjang. Tak jarang, doa berbahasa arab pun sampai di telingamu. Gelak tawa pun tidak bisa ditahan.

“Hahaha, Badrun Badrun. Ngapain bacaan sholat kamu bawa segala.”

Yeah, teman itu tersadar atas apa yang dilakukan.

“Hei, aku paniklah. Itu pula doa perlindungan dari setan, bukan bacaan sholat. Bagaimana kalau yang menyerangku dryad?” Tampaknya temanmu itu marah karena tersinggung atas tertawamu.

“Ingatlah bro, kita ini tinggal di tanah Jawa, bukannya di Eropa. Ada-ada saja kamu ini. Mana ada dryad di mari?”

“Lihat belakangmu.”

Badrun menunjuk kepadamu. Bukan untukmu, lihatlah ke mana arahnya. Ya, kebelakangmu. Putar kepala ke belakang. Sudah mentok sampai ke kiri? Tambah lagi putar tubuh.

Kejutan, makhluk besar berwarna hijau hingga di pohon. Wajahnya begitu cantik bagaikan bidadari. Namun, sifat sangat berlawanan. Sesosok itu mengulurkan sulur tumbuhan.

Ah, sudah terlambat untuk menghindar. Benda itu mengikat tubuh. Mengambil cetbang percuma, butuh peluru yang ada di dalam tas. Benda itu juga tidak bisa terjangkau tangan. Busur panah? Anak panah yang tidak bisa diambil. Senjata yang menggunakan dua tangan tak mungkin bisa dilakukan di dalam keadaan itu.

Aha, masih ada keris Rangganceng di tangan kanan. Itulah senjata yang bisa digunakan untuk melawan sang dryad. Kamu pun menebaskan beberapa kali. Ternyata senjata itu terlalu pendek, target pun di luar jangkauan.

“Hahaha,” tertawalah sang dryad mengejek dirimu.

Sebuah benda melesat dari belakang. Anginnya terasa sampai di pipimu. Namun, efek yang terjadi malah pada dryad yang ada di depanmu. Makhluk yang semula menertawakanmu kini berhenti akibat tersedak. Entahlah, apa itu. Kamu harus cari tahu sendiri.

Berputar ke belakang. Ah, ikatan di tubuh tidak mungkin bisa melakukan itu. Namun, kamu masih bisa mencari itu dengan bersabar menunggu.

Oh, rupanya itu Badrun yang sedang maju menyerang dengan slingshot yang berbentuk seperti senapan sedang. Baguslah, itu memberikan kesempatan untuk membebaskan diri karena ikatan di tubuh sudah longgar.

Tidak ada lagi lilitan di tubuh, saatnya untuk menyerang balik. Kamu menebaskan keris beberapa kali ke tempat dryad bersemayam.

“Ngapain kamu, Bro. Dryad itu nggak kesakitan kalau pohonnya dibabat,” kata Badrun.

“Oh, salah ya. Kukira pohon itu bagian dari tubuh dryad,” katamu.

“Hahaha, nggak bisa bedakan mana dryad apa peri pohon. Nggak tahu kalau pohon nggak bukan tubuh peri hutan,” tawa makhluk pohon itu mengejekmu.

Senjata keris dibantikan cetbang. Bubuk khusus dimasukkan, lalu bola peluru. Isi di dalam senjata itu dipadatkan. Kamu pun membidik pada makhluk yang dianggap dryad. Tinggal menekan pelatuk saja.

“Boom!”

Bola peluru keluar dari cetbang. Efek yang ditimbulkan membuatmu mundur beberapa langka. Masih beruntung Badrun menghentikanmu biar tak masuk masuk ke dalam aliran air.

Yah, tembakanmu meleset. Efek yang dihasilkan mematahkan ranting pohon. Tidak apa-apa, yang terpenting makhluk pengganggu pergi dari sana.

Saatnya untuk masuk ke dalam hutan lebih dalam. Beberapa dupa kamu keluarkan dan dinyalakan. Tanah dan beberapa pohon menjadi tempat untuk benda yang terbakar secara perlahan tersebut.

“Aku belum pernah melihatmu gunakan cara ini untuk berburu hewan. Berapa lama kamu sembahyang? Aku tunggu sampai selesai.” Badron menurunkan tas.

“Bukan, ini obat nyamuk saja. Tanya dulu deh.”

Memang itu obat nyamuk, lebih tepatnya menghilang nyamuk. Memang sih kamu sudah antisipasi kalau ada nyamuk yang menyerang. Apalagi itu malam hari, iya kan?

Oh ya, sebenarnya kamu sudah pernah melakukan itu. Hanya saja antara Badrun lupa atau hanya ingin beristirahat saja.

Sesosok makhluk berwarna hijau dengan tinggi empat meter tak jauh dari tempatmu dan Badron berdiri. Itulah makhluk yang menjadi mangsa. Bukan hewan, tetapi makhluk ghaib yang menjaga tempat tersebut agar bisa lestari.

Berhadapan langsung dengan makhluk sebesar itu adalah tindakan yang konyol. Cara menyerang harus dipikirkan. Apa itu? Kamu pun mendapatkan ide untuk bersembunyi dan mencari titik lemah sang genderuwo.

Mangsa dirasakan telah lengah. Waktu yang tepat untuk menyerang. Kamu mengisi cetbang dan langsung menembakkannya. Efeknya? Sudahlah, kamu hafal sendiri. Mundur beberapa langkah hingga tertahan pada sebuah pohon. Punggung pun terasa sakit dan ingin putus saja.

Memang sih peluru tepat sasaran. Namun, makhluk itu seolah tidak merasakan sakit. Malah berbalik menyerangmu. Menghindarlah sebelum tubuhmu tercabik jadi sejuta.

Malam itu masih beruntung bagiku karena Badrun menyerang samping dengan slingshot, lalu diganti crossbow. Cepatlah lari agar selamat.

Tunggu dulu, kamu merasa ada yang aneh dengan serangan tersebut. Anak panah terselipkan secarik kertas tertju pada sang genderowu. Kamu berbalik arah dan mundur mendekat pada sang sahabat.

Yang dilihat? Makhluk tersebut tidak bergeming sama sekali. Malah anak panah ditangkap dan kertasnya dibaca sang genderuwo. “Tulisan apa ini? Kok kecil banget,” katanya.

“Lho, bukannya harus kepanasan karena itu tulisan arab?” Badrun keheranan.

“Mana mungkin tulisan arab bisa buat jin kepanasan. Sesat lu,” katamu.

“Hei, aku cuma ikut saja kata kiyai. Mana tahu kalau ini hasilnya,” sangkal Badrun.

Berbagai senjata tidak berhasil melukai sang genderuwo. Masih ada yang tersisa. Air suci yang dibawa Badrun diambil, kamu mencelupkan beberapa anak panah pada air tersebut.

Hal terbaik untuk menghindari serangan makhluk besar itu adalah berlari. Tentu saja, kamu menembakkan anak panah basah. Benda itu pun tepat sasaran. Bukan cuma satu, tetapi beberapa anak panah. Namun, tidak terjadi reaksi apa-apa.

Apa yang terjadi? Bukankah air suci bisa mengatasi makhluk gaib? Kamu pun bertanya di dalam hati.

“Air apa yang kamu bawa, Run?” tanyamu pada sang sahabat.

“Air sucilah, dari keran masjid. Itu belum terkontaminasi najis dan sejenisnya,” jawab Badrun.

“Duh Gusti kula nyuwun ngapura, bagaimana mungkin bisa seperti ini. Bukan air itu yang aku maksud.” Kamu pun kecewa karena Badrun salah paham.

Harapan sudah putus. Tidak ada lagi benda yang bisa digunakan untuk berburu. Hanya kepasrahan yang bisa kalian lakukan.

Entah kasihan atau bukan, sang genderuwo mengurungkan menyerangan kepada kalian berdua. Makhluk yang terlanjur mengangkat sebuah pohon membuangnya jauh darimu. Ada apa ini? Bukankah ia harus marah dan menyerang balik?

“Aku salut pada keberanian kalian berdua. Bisakah aku minta tolong?”

Lho lho lho, kok bisa makhluk sebesar itu mengharapkan bantuan pada makhluk kecil.

“Boleh saja, asal kau lepaskan kami berdua. Mau lawan dryad atau yang lain, ok saja.” Kamu terlalu percaya diri, padahal tidak ada lagi senjata yang ada di tanganmu.

Hutan ini tempat bangsa kami bernaung. Karena perusakan hutan yang masif dan mereka membawa senjata pemusnah, kami pun terdesak dan kalah. Kami mohon pada kalian untuk hentikan ini.”

Apa? Makhluk sebesar itu ketakutan menghadapi pengrusakan hutan? Kamu pun tidak heran pada hal itu. Memang mereka juga manusia tetapi jumlahnya lebih banyak. Pasti ada beberapa dari mereka yang bisa berburu makhluk mistis, atau menggunakan dukun.

Baiklah, itulah pilihan kalian untuk menghentikan kerusakan hutan demi makhluk di sana.

Pagi hari telah menjelang. Badrun selesai beribadah, senjata juga telah dipersiapkan. Saat yang tepat untuk berangkat. Kamu pun bersemangat melakukan itu bersama sang sahabat.

Yang dikatakan genderuwo benar juga. Di sana kamu melihat segerombongan manusia yang sedang menebang pohon di pinggir hutan. Bukan cuma sedikit, tetapi sangat luas. Itulah ulah para pengusaha besar.

Entah kebetulan atau sengaja dipasang untuk menakuti para pelapor, kendaraan penghancur di sana diberi nama genderuwo. Memang ukurannya besar, bentuk sangat, daya hancur tinggi. Tenaga yang dihasilkan sama dengan genderuwo yang kamu saksikan di sana. Jumlahnya ada tiga.

Takut? Tentu saja tidak. Itu malah membuat semangat di dalam hatimu membara. Saat untuk berburu.

“Run, muingkin ini genderuwo yang cocok jadi mangsa kita.” Kamu melirik pada sang sahabat yang siap untuk memangsa apa saja di sana.

“Ok, Serbu!”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
MBG (Mari Berburu Genderuwo)
Diantoro
Flash
Bronze
Kiri, Bang!
Reyan Bewinda
Flash
Batik Ranger
Molena Banana
Cerpen
Bronze
My Cat is My Handsome?!
zahro ikrima
Flash
Apel untuk Doktor
Adinda Amalia
Cerpen
Bronze
#Agak Lain
Muhammad Ghifar An Nafi
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Flash
Keran
Mata Panda
Cerpen
Salah Kirim Chat, Malah Jadi Gebetan
Aulia umi halafah
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Flash
Ketua RT Dadakan
Penulis N
Cerpen
Pak Tua Penunjuk Jalan
zain zuha
Cerpen
Bronze
Dongeng Ajisaka Versi Modern
kutipan.izs
Flash
Bronze
Lon-te "Lontong Sate"
Sunarti
Cerpen
Bronze
Liburan Villa Mewah
Mulyana
Rekomendasi
Cerpen
MBG (Mari Berburu Genderuwo)
Diantoro
Cerpen
Tarub dan Alien Planet Sekarat
Diantoro
Cerpen
Toba Samo
Diantoro
Cerpen
Broken
Diantoro
Cerpen
Predator di Kala Senja
Diantoro