Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Maya
0
Suka
23
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Maya duduk di teras depan rumah. Pagi masih muda, embun belum mengering. Angin pagi berembus pelan, menyapu rambutnya yang tergerai. Ia menatap jauh ke jalan kampung—ke warung kecil, ke jemuran tetangga, ke anak-anak yang berlari sambil tertawa. Tapi matanya tidak benar-benar melihat. Pandangannya kabur, pikirannya kembali ke kemarin sore di sekolah, saat ia naik ke atas panggung terima piala olimpiade, tersenyum lebar, bangga.

Tapi begitu turun, seorang teman berbisik keras, "Anak ojek kok sok jadi juara? Piala aja mungkin pinjem biar keliatan keren."

Tawa meledak. Beberapa ikut tertawa. Ada yang diam. Tidak ada yang membela.

Maya masuk ke dalam rumah pelan, tanpa suara. Ia duduk di lantai ruang tamu, punggung bersandar ke dinding dingin. Tangannya memeluk lutut erat-erat, seolah ingin menahan sesuatu yang retak di dalam dada. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.

"Aku kuat. Aku nggak boleh nangis. Ayah udah capek. Ibu udah khawatir terus. Aku nggak boleh bikin mereka tambah sedih," batinnya.

Tapi semakin ia menahan, semakin sesak dadanya. Seperti ada batu besar di tengah paru-paru. Matanya mulai panas. Kelopak matanya berkedut. Dan tiba-tiba—air mata itu turun. Satu. Lalu dua. Lalu deras, tanpa suara, hanya isakan kecil yang tertahan di tenggorokan. Pipinya basah. Hidungnya memerah. Ia menekan wajah ke lutut, berharap tidak ada yang dengar. Berharap tidak ada yang lihat.

Ia ingin jadi anak yang kuat. Tapi kali ini, hatinya terlalu berat untuk dipendam sendiri. Dan di lantai rumah sederhana itu, dengan cahaya pagi yang hangat, Maya akhirnya membiarkan dirinya rapuh—karena bahkan anak-anak hebat juga butuh menangis… meski hanya sendirian.

Air mata Maya terus mengalir, pelan tapi tak kunjung berhenti. Ia tidak menangis keras, hanya isakan kecil yang tersangkut di dada, seperti anak kecil yang sudah terlalu lama menahan rasa sakit. Pipinya basah, bahunya bergetar halus. Ia menunduk dalam, berharap lantai bisa menelannya, atau setidaknya menyembunyikannya dari dunia—dari omongan orang, dari tatapan sinis, dari rasa malu yang terus menggerogoti.

Tapi ia tidak menyadari—Ayah sudah berdiri di ambang pintu kamar, dari tadi memperhatikan. Ia tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri, dada sesak melihat putrinya yang selalu tersenyum, kini runtuh dalam diam. Ayah menarik napas, lalu perlahan duduk di lantai, berjarak dekat, tapi tidak langsung menyentuh. Memberi ruang. Memberi waktu.

"Kamu kira Ayah nggak dengar?" Suara Ayah pelan, tidak menuduh, hanya lembut. "Kamu kira Ayah nggak tahu orang-orang bilang apa soal kita?"

Maya mengangkat muka. Mata basah, hidung merah. Ia ingin pura-pura baik-baik saja, tapi mulutnya bergetar.

"Aku… aku cuma… mau bikin kalian bangga…" bisiknya, suara pecah. "Aku nggak mau jadi beban… aku nggak mau kalian malu punya anak kayak aku…"

Ayah langsung menariknya ke pelukan. Erat. Tidak bicara. Hanya memeluk, seolah ingin memindahkan semua kekuatan hidupnya ke tubuh yang rapuh itu. Ia mengusap punggung Maya perlahan, berulang, seperti menenangkan bayi yang menangis di tengah malam.

"Kamu nggak pernah jadi beban," kata Ayah, suaranya serak. "Kamu… kamu itu kebanggaan Ayah. Satu-satunya. Mereka yang hina kita… mereka nggak tahu artinya kerja keras. Tapi kamu tahu. Dan kamu buktiin. Setiap hari."

Maya menangis lebih keras di dada Ayah. Tapi kali ini, tangisnya berbeda—bukan karena rasa malu, tapi karena akhirnya dipahami. Akhirnya dipeluk tanpa diminta.

Dari dapur, Ibu berdiri diam memegang celemek, air mata mengalir tanpa suara. Ia tidak masuk, tapi senyum tipis muncul di bibirnya—karena kali ini, Ayah yang melindungi hati putrinya.

Dan di bawah teras yang mulai terang, dengan suara ayam jantan di kejauhan dan angin pagi yang membawa harapan, Maya belajar sesuatu: kuat bukan berarti tidak boleh rapuh. Mengizinkan diri untuk jatuh di pelukan orang yang mencintaimu… itu juga sebuah keberanian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
DIM
Raina Yasmine
Komik
Dragon's Swing
Ericc
Skrip Film
Rise
Annida Yasti Sari
Skrip Film
Setulus Cinta
Muhammad Riza Afthoni
Skrip Film
Adinda dan Warisan Bapak
Syifa Maulida Hajiri
Skrip Film
Cintai Cinta
Rina F Ryanie
Skrip Film
MENGEJAR BINTANG FILM
Bhina Wiriadinata
Skrip Film
KABAYAN MASUK BUI
Ade Bilal Perdana
Flash
Bronze
Tukang Emas Jadi Developer
Yovinus
Flash
Permen
Rena Miya
Flash
Salah Siapa?
Sri Marflowers
Flash
FACE RECOGNITION
Xianli Sun
Flash
Hilang
SAKHA ZENN
Flash
Dear, Crush!
Keyda Sara R
Flash
Bronze
Terserah
Reyan Bewinda
Rekomendasi
Cerpen
Maya
MHD Yasir ramadhan
Flash
Kisah Tanpa Tokoh Utama
MHD Yasir ramadhan
Cerpen
Balada Spare Part Kulkas
MHD Yasir ramadhan
Cerpen
Kisah Untuk Eko
MHD Yasir ramadhan
Novel
Saga Harimau Putih
MHD Yasir ramadhan
Novel
The Crucible
MHD Yasir ramadhan