Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Arga, 17 tahun, adalah seorang melankolis tersembunyi yang bersembunyi di balik tumpukan buku kalkulus. Selalu berusaha memecahkan rekornya sendiri untuk pelajaran Fisika. Musik adalah satu-satunya pelariannya, dan gitar akustik adalah teman setianya. Ia merasa tempat yang sakral baginya adalah di bawah pohon flamboyan di sudut belakang sekolah, tersembunyi dari hiruk pikuk kantin.
Suatu sore di bulan Agustus, saat jari-jarinya menari di atas senar, menciptakan melodi yang terasa sendu, ia mendengar suara lembut.
“Itu lagu apa?”
Suara Mawar yang lembut mengagetkan Arga yang sejenak berfikir untuk lirik yang cocok. Mawar berdiri di sana, tas punggungnya berisi buku-buku yang hampir tumpah, mengenakan kemeja putih yang sedikit kebesaran. Dia bukan tipe yang mencolok, wajahnya polos tanpa riasan terlihat ayu dan teduh, matanya yang cokelat gelap dan penuh perhatian membuat Arga langsung kehilangan fokus.
“Bukan lagu. Baru melodi,” jawab Arga gugup, meletakkan gitarnya.
Mawar duduk di rumput tanpa diundang. “Aku suka. Jadi inget waktu senja yang hangat setelah hujan deras.”
Percakapan yang singkat itu berlanjut setiap hari. Entah kenapa duduk bersama orang lain tidak lagi membuatnya merasa sesak. Melipat origami, mendengarkan musik, makan cemilan bersama dan hal-hal kecil lainnya sekarang justru membuatmya bahagia.
Sejak hari itu, petang mereka menjadi milik berdua. Arga akan memetik melodi, dan Mawar akan membaca puisi atau hanya diam mendengarkan, memberikan judul-judul puitis pada setiap karya Arga yang belum selesai. Tentunya itu semua kini membuat hidup Arga lebih berwarna. Tempat sakral yang biasanya hanya ada melodi dari petikan gitarnya kini mulai memiliki lirik yang nyata. Melodi menjadi lirik, dan Arga mulai menemukan irama dalam dunianya yang semula datar.
Mawar selalu minum coklat panas yang ia masukan ke dalam tumbler berwarna merah jambu. Aromanya terlalu jelas untuk diabaikan “Kenapa kau suka sekali cokelat panas?” tanya Arga suatu kali, saat mereka membeli es teh di warung Bu Siti.
Mawar tersenyum, senyum yang membuat detak jantung Arga tergelincir. “Karena cokelat panas itu seperti pelukan dalam cangkir. Hangat, menenangkan, dan selalu ada di saat yang tepat.”
Tiga bulan. Sebuah rentang waktu yang terlalu singkat dalam kalender, tetapi terasa seperti seumur hidup dalam hati mereka. Mereka telah berbagi rahasia yang tak terhitung, mimpi-mimpi SMA yang naif, dan janji-janji kecil. Mereka merencanakan kunjungan ke pameran seni di kota sebelah, sepakat untuk memecahkan rekor nilai Fisika, dan berjanji untuk selalu menertawakan lelucon buruk satu sama lain.
Arga mulai menulis lagu pertamanya yang utuh, yang ia beri judul ‘Mawar Senja’. Liriknya sederhana, tentang sepatu kets putih, rambut dikepang, dan mata yang menyimpan sejuta kisah.
“Aku bakal nyanyiin di panggung pensi nanti, buat kamu,” janji Arga, memegang tangan Mawar di bangku taman.
Mawar bersandar di bahu Arga. “Aku akan menjadi penonton paling berisik. Pastikan liriknya sempurna, dan indah.”
Segalanya terasa tak terpecahkan, tak tertandingi. Mereka adalah dua not yang ketika dipukul bersamaan menghasilkan kord yang sempurna. Mereka yakin, kisah mereka adalah epik yang baru saja dimulai.
Malam Rabu itu, telepon genggam menjadi penghubung antara mereka. Arga dan Mawar berbicara hingga lewat tengah malam, suara mereka berbisik di antara tawa dan kelelahan.
“Aku lupa motorku hari ini masuk bengkel,” kata Mawar, sedikit cemberut. “Jadi, besok aku harus naik bis sekolah.”
“Hati-hati, Mawar-ku. Bis itu selalu penuh sesak,” ujar Arga. “Tapi aku punya penawar untuk kesibukanmu besok.” lanjutnya
“Oh ya? Apa itu?”
“Cokelat panas buatan Mama, di dalam termos kesayanganku. Kita akan minum di bawah flamboyan, dan kau bisa membuktikan teorimu tentang ‘pelukan dalam cangkir’.”
Mawar terkekeh. “Itu janji yang tidak boleh dilanggar. Aku akan menagihnya.”
“Janji Mawar Senjaku sayang,” Arga mengulangi, janji kecil mereka sambil tersenyum.
“Sweet dream, Melodiku. Mimpikan aku dalam kord yang indah.”
“Okey, Mawar-ku. Sampai ketemu besok.”
Arga menutup telepon, hatinya berdebar-debar karena kegembiraan sederhana. Ia mengambil termos dan menyiapkan cokelat panas. Senyumnya tidak hilang bahkan saat ia tertidur.
Kamis pagi yang indah dan cerah. Arga bangun lebih awal, membawa termos yang mengepul hangat. Di jalan menuju sekolah, ia menyenandungkan bait-bait lagu ‘Mawar Senja’. Semua tampak normal, pedagang sarapan yang sibuk, anak-anak sekolah yang bergegas.
Namun, beberapa ratus meter dari gerbang sekolah, lalu lintas macet total. Sirene ambulans dan polisi meraung-raung, membelah udara pagi.
Arga melihat gumpalan asap hitam dan kerumunan yang semakin membesar. Ada kecelakaan besar. Sebuah bis sekolah berwarna kuning terbalik di persimpangan.
Seketika, melodi di kepala Arga mati. Intuisi yang dingin, tajam, dan mengerikan menyerangnya. Arga berusaha menyangkal mawar ada di bis itu, walaupun sebenarnya itu adalah rute bis yang Mawar sebutkan tadi malam.
Arga meninggalkan sepedanya di pinggir jalan dan berlari. Setiap langkah kakinya terasa berat, seperti menapak di lumpur. Pemandangan itu, saat ia berhasil menembus barisan petugas, adalah neraka yang nyata. Logam bengkok, kaca pecah, dan jeritan yang tertahan.
Arga berjalan seperti kesurupan, menolak untuk melihat terlalu jelas, namun matanya terus mencari. Ia mencari jaket yang familiar, rambut kepang yang longgar.
Di dekat puing-puing, di samping bangkai bis yang hancur, ia melihatnya.
Sebuah tas sekolah kanvas yang penuh stiker band indie usang. Itu adalah tas Mawar. Di sebelahnya, terlempar ke semak-semak, ada satu sepatu kets putih yang tali sepatunya diikat dengan simpul ganda, ciri khas Mawar.
Arga tidak merasakan kakinya lagi. Ia hanya merasakan kehampaan yang luar biasa. Ia melihat seorang guru Bimbingan Konseling yang dikenalnya menangis sambil menelepon. Guru itu melihat Arga, dan matanya penuh kesedihan.
“Arga... Ya Tuhan. Jangan ke sini, Nak.”
“Mawar?” Suara Arga terdengar seperti rintihan, bukan pertanyaan.
Guru itu menggeleng pelan, air mata mengalir deras. Kata-kata tidak diperlukan. Keheningan, aroma bensin, dan sepatu kets putih itu adalah semua yang Arga butuhkan sebagai bukti.
Cokelat panas di ranselnya kini terasa panas membakar, meskipun isinya pasti sudah mulai dingin. Pelukan dalam cangkir itu tidak akan pernah terkirim. Janji mereka, kini hanya tinggal janji yang menguap bersama asap.
Hari-hari berikutnya adalah kabut. Arga bergerak melalui sekolah dan rumah seperti bayangan. Kelas Fisika, yang dulu ia kuasai, kini menjadi kumpulan simbol yang tidak berarti. Gitar akustiknya teronggok di sudut kamar, tertutup debu. Ia tidak bisa menyentuhnya.
Menyentuh gitar berarti memanggil Melodi Mawar Senja. Dan memanggil melodi itu berarti mengakui bahwa ia tidak akan pernah menyelesaikannya untuk Mawar.
Ia menghabiskan waktu di bawah flamboyan, sendirian. Flamboyan itu kini terasa asing. Ia adalah saksi bisu kebahagiaan yang dicuri.
Arga mengeluarkan termosnya. Cokelat panas itu sudah sangat dingin, seperti emosinya. Ia membukanya, menyesap sedikit. Rasanya hambar, pahit, tidak ada kehangatan, tidak ada pelukan.
Ia teringat kata-kata Mawar: “Cokelat panas itu pelukan dalam cangkir.”
Jika Mawar benar, maka termos yang dingin ini adalah lambang dari hati Arga sekarang, wadah yang seharusnya penuh kehangatan, kini kosong, dingin, dan kaku.
Satu minggu setelah pemakaman, Arga akhirnya memberanikan diri. Ia membuka tas Mawar yang sudah dikembalikan padanya. Di dalamnya, terselip sebuah buku catatan kecil. Itu bukan buku puisi, melainkan buku catatan berisi lirik-lirik yang Arga tulis untuknya.
Di halaman terakhir, dengan tulisan tangan Mawar yang rapi, tertulis sebuah catatan:
“Melodiku, jangan pernah berhenti memainkan kord. Bahkan jika aku tidak bisa mendengarnya lagi, hatimu adalah panggungku. Aku mencintai Melodi Mawar Senja. Teruslah berkarya hingga senja kembali datang. Jadilah yang paling indah dan bersinar.”
Air mata Arga tumpah, namun kali ini, air mata itu membawa sedikit kelegaan. Mawar tidak ingin ia berhenti.
Ia mengambil gitar, membersihkan debunya, dan duduk di pinggir tempat tidur. Jari-jarinya gemetar, tetapi ia mulai memetik melodi ‘Mawar Senja’. Ia menambahkan kord yang suram, minor, yang mewakili rasa sakit, tetapi ia tidak membiarkan lagu itu berakhir di sana.
Arga memainkan lagu itu hingga selesai. Lirik tentang janji cokelat panas, tentang mata cokelat, tentang tawa, semuanya ada. Dan di bagian akhir, ia menambahkan sebuah nada resolusi, sebuah harapan yang getir.
Kisah cinta mereka baru tiga bulan, terlalu singkat, terlalu pedih. Itu adalah pertemuan yang indah dan kecelakaan yang meninggalkan luka. Tetapi Arga tahu, ia harus hidup. Ia harus menjadi Melodi yang Abadi, lirik berjalan untuk Mawar Senja-nya. Angin semilir bertiup, menggoyangkan daun flamboyan. Arga merasa Mawar ada di sana, dalam keheningan senja, dalam aroma tanah basah, dan dalam melodi yang kini akan selalu dimainkan untuknya, meskipun kini ia telah menjadi ‘Mawar Senja’ yang abadi. Kisah mereka memang berakhir cepat, tapi pedihnya, akan tinggal abadi, merangkai lirik abadi di hati Arga yang patah.
Mawar telah pergi, tetapi cintanya kini menjadi fondasi baru bagi musik Arga, sebuah melodi yang akan ia mainkan selamanya, di bawah cahaya senja mana pun yang ia temui.