Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Mawar Kematian
0
Suka
7,588
Dibaca

Bab 1: Mawar Pertama

Kompleks perumahan Griya Arunika, sebuah enclave yang terletak di pinggiran kota, selalu membanggakan diri sebagai oase ketenangan. Dikelilingi oleh pepohonan rindang dan dikelola dengan ketat, Griya Arunika adalah definisi dari kedamaian suburban. Anak-anak bermain di taman tanpa pengawasan ketat, pintu-pintu dibiarkan sedikit terbuka di siang hari, dan gosip terbesar yang pernah beredar hanyalah tentang siapa yang paling cepat membayar iuran keamanan bulanan. Di sana, hiduplah Bu Ratna, seorang ibu rumah tangga paruh baya yang jadwalnya teratur seperti jam. Setiap pagi, pukul enam, ia akan menyirami anggreknya yang berjejer rapi di teras, dilanjutkan dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya, Pak Budi, seorang pensiunan guru yang hobi membaca koran pagi.

Pagi itu, Selasa yang cerah, Bu Ratna keluar dengan ember siraman aluminiumnya. Aroma embun dan tanah basah menyambutnya, seperti biasa. Namun, ada yang berbeda. Di ambang pintu rumahnya, tepat di atas keset "Selamat Datang" yang usang, tergeletak setangkai mawar merah segar. Kelopaknya masih berembun, seolah baru dipetik dari kebun yang baru saja disiram. Bu Ratna mengerutkan kening. Ia tidak memiliki kebun mawar, dan tetangga terdekatnya, Bu Wati, selalu memangkas habis mawar kuningnya begitu mekar. Siapa yang bisa meletakkan bunga seindah ini di depan rumahnya?

Ia membungkuk, mengambil mawar itu. Tangkainya berduri halus, tapi tidak menyakitkan. Aroma mawarnya kuat, manis, dan sedikit memabukkan. Sebuah sensasi aneh menjalari lengannya, seperti sentuhan dingin dari udara pagi yang lembab, namun lebih dalam, menusuk tulang. "Budi, lihat ini!" serunya, mengangkat bunga itu. Pak Budi yang sedang membaca koran di ruang tamu, hanya melirik sekilas dari balik kacamata bacanya. "Mungkin dari tukang kebun, Ratna. Dia kan suka merapikan tanaman di depan rumah," sahutnya, tanpa menaruh perhatian lebih.

Bu Ratna tahu itu bukan tukang kebun. Pak Joni, tukang kebun kompleks, hanya datang hari Kamis. Dan ia tidak pernah meninggalkan bunga. Rasa ingin tahu bercampur sedikit kegelisahan menggelayuti pikirannya sepanjang hari. Ia mencoba bertanya pada Bu Wati saat mereka bertemu di warung sayur Bu Sumi. "Bu Wati, apa ibu tahu siapa yang belakangan ini sering meletakkan bunga di depan rumah warga?" Bu Wati menggeleng. "Tidak ada, Bu Ratna. Palingan juga anak-anak iseng," jawabnya enteng, sibuk memilih terong ungu.

Bu Ratna pulang dengan mawar itu di dalam vas bunga di meja makan. Setiap kali ia melihatnya, perasaan tidak nyaman itu kembali. Ada sesuatu yang salah dengan bunga ini. Kelopaknya tampak terlalu sempurna, warnanya terlalu merah, dan wanginya terlalu intens. Malamnya, ia menceritakan kejadian itu kepada putra bungsunya, Rio, yang sedang menemaninya menonton televisi di ruang keluarga. Rio, yang masih remaja, hanya terkekeh. "Mungkin pengagum rahasia, Bu," godanya. Bu Ratna hanya tersenyum tipis, tapi hatinya tidak tenang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Bu Ratna beranjak menuju kamar tidur. Pak Budi sudah terlelap pulas. Ia memastikan semua pintu terkunci dan lampu padam, kebiasaan yang selalu ia lakukan. Di kamar, ia sempat melirik vas bunga di meja rias. Mawar itu seolah memancarkan cahaya redup dalam kegelapan. Sebuah bisikan samar, hampir tak terdengar, melayang di udara. Seperti gesekan daun kering, atau perhaps, bisikan dari dalam dirinya sendiri. Ia mengabaikannya, mengira itu hanya imajinasinya yang lelah.

Bu Ratna naik ke tempat tidur. Udara terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah dimatikan. Ia menarik selimut hingga ke leher, mencoba menemukan kenyamanan. Bisikan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih jelas, seperti desahan lembut yang merayap di sudut ruangan. Bulu kuduknya merinding. Ia memejamkan mata, berharap suara itu akan hilang.

Namun, suara itu tidak hilang. Ia perlahan berubah menjadi melodi aneh, sebuah dengungan rendah yang bergetar di telinganya. Seperti lagu nina bobo yang dinyanyikan oleh seseorang dengan suara serak, namun dengan nada yang mengerikan. Ia mencoba membuka matanya, tapi kelopak matanya terasa berat, seolah dilem. Ia merasa seperti terperangkap di antara tidur dan terjaga, dalam sebuah kabut yang kental.

Lalu, sebuah sensasi dingin yang familiar kembali. Dingin yang sama seperti ketika ia memegang mawar itu di pagi hari, kini merayap dari kakinya, naik perlahan, mengikat setiap sendi. Jantung Bu Ratna mulai berdetak tak beraturan, berpacu seperti drum yang dipukul tergesa-gesa. I...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Mawar Kematian
Christian Shonda Benyamin
Novel
Sebeh Pengasih
Iswara Putri Jilan
Novel
Gold
Fantasteen Shadow
Mizan Publishing
Novel
The Inner Eye
Dagzey hasy
Novel
DeadBell
Vanessa Berly
Novel
Tirakat
Eric Shandy Admadinata
Skrip Film
canadatopescorts
canadatopescorts
Flash
Gagal
Dark Specialist
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Komik
PESAN DARI NOMOR YANG HILANG
Rehab Abdullah
Novel
Gold
Fantasteen Scary: Daruma-San
Mizan Publishing
Cerpen
Possessed
Samuel Fetz
Cerpen
SMILE
IS KUN
Novel
Pendakian Terakhir
Uki.Sari
Novel
Penjual Nasi Goreng Rumah Hanto Darmo (Oneshot)
Faizal Ablansah Anandita, dr
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Mawar Kematian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Tidak Sakit
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dia Pembunuh
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jejak Pulang Yang Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ibu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kamera Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rantai Pemicu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retha
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terjebak Dunia Arwah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pulau Terasing
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jalan Buntu 404
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Keabadian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kereta Cepat Whoosh
Christian Shonda Benyamin