Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Matinya Tuhan-ku
0
Suka
15
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namanya Galang, Muhammad Galang As-Samawi. Ia tumbuh di lingkungan yang nyaman dan religius. Ayahnya, Syekh As-Samawi, adalah ulama tersohor dan pendiri pesantren yang juga termasyhur, membuat hidupnya lebih dari berkecukupan. Galang, ayahnya, dan ibunya tinggal di dalam pesantren Syekh As-Samawi. Ia adalah putra semata wayang, sangat diperhatikan dan dimanja, namun dia adalah anak yang cerdas. Ia selalu mendapat nilai sempurna dalam pelajaran akidah dan fikih, bacaan Al-Qur'annya selalu dipuji guru-guru di pesantrennya dan menjadi contoh bagi santri lainnya. Adabnya pun tak kalah hebat, terkenal oleh warga sekitar sebagai pemuda yang santun dan sering membantu ketika sesekali berkeliling.

Ia tumbuh dari seorang anak yang periang dan gemar mengaji menjadi seorang remaja laki-laki yang gagah. Adabnya tak berubah, selalu santun. Pintarnya tak berubah, selalu mendapat nilai sempurna. Bacaannya pun kian merdu kini dengan jakunnya yang sudah besar. Ia digadang-gadang sebagai penerus Syekh As-Samawi. Wajahnya yang rupawan membuatnya terkenal di kalangan gadis desa dan para santriwati—meski sudah dipisah asrama. Namun, tetap, Galang selalu menundukkan matanya, sudah terbiasa sejak ia kecil.

Sahabatnya, Raka, selalu menemaninya ke mana pun. Raka tak kalah hebatnya dengan Galang, hanya lebih longgar dari Galang. Keduanya merupakan santri terbaik di pesantren itu. Guru mereka pernah bertanya kepada mereka berdua tentang hadis yang paling mereka sukai.

"Kayaknya enggak ada, deh. Tapi, aku selalu ingat kata Syekh, 'Segala sesuatu yang terjadi di dunia, bahkan debu yang tertiup angin, semua sesuai kehendak dan keinginan Allah,'" ucapnya sembari tersenyum memperlihatkan giginya.

"Kalau saya juga bukan hadis, tapi ayat. 'Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,'" Galang menjawab pertanyaan yang sama.

Lima tahun berselang setelah itu, pesantren mengalami musibah, musibah yang akan selalu diingat orang yang mengetahui pesantren tersebut. Kobaran api menjulang tinggi ke langit. Api itu menggila, menjalar ke seluruh penjuru bangunan tempat Galang tinggal. Galang tengah di masjid, membaca Al-Qur'an selepas salat Subuh. Lantas, ia berlari keluar setelah mendengar keributan. Api itu seakan langsung menyambar ke hatinya, terbakar dan hangus.

Galang mengangkat gamisnya, berlarian menuju bangunan itu. Ibunya! Ibunya masih ada di dalam. Ia sedang tak salat hari itu dan Galang menyuruhnya untuk tetap di rumah. Langkahnya terhenti, pintu sudah diselimuti api, tak akan bisa. Persis lutut Galang membanting tanah, Raka menerobos pintu berapi itu, masuk ke dalam rumah yang segera ditutupi api. Hari itu, jauh sebelum ia lulus, ia sudah berpisah dengan sahabatnya.

Ratusan santri laki-laki menggotong ember, mencoba memadamkan api itu. Naas, tak ada perubahan. Malah, beberapa gedung di sekitarnya sudah terbakar. Galang terus berlutut di hadapan kobaran api itu, tatapannya kosong, teriakan para santri sama sekali tak terdengar.

"SYEKH DI MANA?!"

Teriakan salah satu santri menerobos masuk ke gendang telinga. Benar. Di mana Syekh? Di mana ayahku?!

Galang berlarian ke semua gedung yang belum terbakar. Tak ada. Wajahnya berubah pucat, lantas sadar, itu juga saat terakhirnya melihat sang ayah.

Kebakaran itu tak padam hingga matahari meninggi. Lima truk pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api itu. Ratusan warga pesantren terluka, puluhan lainnya dinyatakan meninggal dunia, termasuk Syekh As-Samawi beserta istrinya dan Raka. Yang tersisa kini hanya lahan seluas tujuh hektar berisikan abu.

Berita tersebar luas, "Pesantren As-Samawi ludes terbakar, Syekh meninggal dunia." Lantas, umat Muslim Indonesia berkabung. Berita tentang anaknya, Galang, yang sebatang kara pun menyebar. Ia diutus bekerja di sebuah madrasah swasta sebagai guru. Hidupnya damai, ia sabar dengan ujiannya itu.

Namun, dua tahun setelah tragedi itu, Syekh mulai jarang dibicarakan. Galang pun akhirnya tak lagi mengajar—belum memiliki ijazah alasannya. Galang tetap sabar, ia pindah ke kontrakan kecil di sudut kota. Di hatinya terukir, "Sabar, ini ujian bagiku." Tiga tahun ia bekerja menjadi guru mengaji di sebuah musala, sembari bekerja serabutan agar kebutuhan tercukupi. Naas, ia jatuh sakit, tak mampu lagi bekerja, tak mampu membayar kontrakan, ia diusir.

Dengan sisa uangnya, ia tinggal di kos jauh dari kota. Ia mencoba untuk menjadi guru mengaji lagi, namun tubuhnya kini sudah berubah sangat kurus. Wajahnya tak lagi elok, membuatnya ditolak. "Anak kecil takut ngaji nanti," kata mereka. Dalam hatinya tetap berpegang, "Aku... harus sabar."

Belum genap dua tahun, ia diusir dari kos, tak cukup untuk membayar. Ia tidur di mana saja dan bekerja apa saja. Wajahnya sudah amat jauh dari Galang yang mendapatkan nilai sempurna di pelajaran. Hatinya sudah lama tak berpegang, "Aku... sudah tak bisa."

---

"Di tahun keempat, aku sadar." Galang menempelkan senjata api rakitannya makin keras ke kepala pria yang mengenakan setelan jas itu. "Hari itu adalah HARI MATINYA TUHAN-KU!"

Beberapa minggu sebelum kejadian itu, Galang tengah mengangkut kardus kembang api dari sebuah gudang. Lengan lidinya mengangkat kardus itu dengan cepat.

"Woi!" salah satu atasan di sana meneriakinya. "Pelan-pelan! Bisa meledak itu."

Galang tak perlu mencerna kalimat itu. Ia langsung meminta maaf, menunduk-nundukkan kepalanya. Ia melihat ke kardus itu, lantas teringat buku yang sering ia baca di pesantren. Salah satu bahan utama kembang api adalah mesiu, bahaya jika ia tak hati-hati.

Perlahan-lahan, ia mengangkat kardus itu dari tempatnya, menaikkan kardus itu ke truk. Selesai semua kardus telah naik, ia membantu rekannya menumpuk kardus-kardus itu di truk, sesekali meneguk air yang ia beli sendiri. Ia melapor ke orang yang tadi meneriakinya, menerima upah, lalu melangkah pergi entah ke mana. Galang membeli sebungkus makanan dan sebotol minuman, berjalan menuju masjid terdekat, dan menyantap makanannya di sana.

"Abis kerja, Mas?" Seorang laki-laki mengenakan gamis biru bersih menghampirinya. "Saya sering lihat Masnya tidur di sini."

Galang mencoba tersenyum ramah. "Iya, Pak. Izin, ya, Pak... saya udah gak punya tempat lagi."

Pria itu tertawa. "Gak apa-apa, Mas. Masjid emang kebuka buat semua orang, kok." Ia menepuk-nepuk punggung Galang. "Ingat, Mas, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

Galang berhenti mengunyah, senyumnya langsung mendatar. Ia hanya mengangguk pelan.

"Saya masuk, ya, Mas." Pria itu masuk ke dalam masjid tanpa melihat kembali wajah Galang.

Pria kurus yang tadinya tengah menyantap makanan itu berhenti, memilih membungkus nasi itu dan langsung angkat kaki dari sana. Langkahnya sepanjang jalan lemas, sandalnya terus berbunyi ketika kakinya menyentuh tanah.

"Allah bersama orang-orang yang sabar?" dumelnya.

"Apa artinya? Sabar? Sampai kapan? Allah bersamaku, lalu apa?"

Langkahnya makin cepat.

"Besok aku harus sabar lagi? Untuk apa? Agar besok lusa akan sabar lagi?"

Kini ia berlari kecil.

"Lalu, sampai kapan?"

Kakinya tiba-tiba berhenti.

"Apakah sabar ada batasnya?" pikirnya dalam hati sambil terengah-engah.

Ia berhenti tepat di depan saluran pembuangan air. Ia bersimpuh, lututnya menyentuh tanah, matanya tertuju pada bayangannya di air. Wajah rupawan itu hilang, kulitnya yang bersih pun berganti menjadi seorang laki-laki mengenaskan dengan tubuh memprihatinkan. Mata yang awalnya berair itu berubah melotot.

"Buat apa semua ini?" gumamnya.

"Apa yang kudapat dari semua ini? Kenapa aku harus sabar? Agar Allah bersamaku? Kalau Allah bersamaku, apakah aku tak perlu bersabar lagi?" Tangan tumpuannya di tanah gemetaran.

"Besok aku masih harus bersabar, berarti Allah tak bersamaku, kan? Atau... Tuhan-ku sudah mati?" Tangannya berhenti gemetar.

Galang bangun. Ia bergegas kembali ke gudang, bilang ada yang tertinggal. Lantas, pergi dengan membawa lima kembang api. Ia mengumpulkan pipa-pipa besi dan kayu, semua yang bisa ia temukan. Berminggu-minggu ia habiskan, bahan-bahan yang ia kumpulkan menjelma menjadi lima senjata api rakitannya.

Mengenakan kupluk yang ia ubah sedemikian rupa menjadi topeng, ia pergi ke bank di pusat kota. Mendobrak pintu kaca, menembakkan salah satu senjata apinya ke langit-langit.

"SEMUA DIAM! GAK ADA YANG JALAN KE MANA PUN, GAK ADA YANG PEGANG HANDPHONE!" Ia melangkah tegas ke petugas bank dan menyerahkan tas ke wanita berjas dan berkerudung rapi itu, memberikan kode.

Wanita itu mengambil tasnya, mengisi tas itu dengan uang merah dan biru. Gerakannya sekilas terlihat terburu-buru, namun prosesnya lambat. Lima belas menit berlalu, semuanya berjalan lambat karena si wanita harus menanyakan kata sandi brankas terlebih dahulu. Lantas, polisi sudah berada di luar, memerintahkan Galang untuk segera menyerah.

Galang tak tinggal diam. Ia menarik wanita tadi, menodongkan senjatanya ke kepala wanita itu.

"TAK ADA YANG BOLEH MASUK ATAU KELUAR!" teriaknya tegas.

Wanita itu hanya bisa menangis meminta ampun. Tak ada pilihan, polisi segera mundur.

Semua uang beserta beberapa emas telah masuk ke tas yang Galang gendong. Dua jam sudah Galang menyandera semua orang. Salah satu pria berbicara padanya, "Gak mau lepasin yang lain?"

"Mau ditembak?"

Pria itu tertegun. "Ayolah, biar saya dan dia yang jadi sandera, yang lainnya keluar, ya?" Pria itu menunjuk rekan prianya.

Galang melihat sekitarnya, anak perempuan menangis di pelukan ibunya, pria tua gemetaran sembari mengangkat tangannya.

"Boleh, tapi bukan dia." Galang menunjuk rekan pria itu, lalu pindah ke gadis di sampingnya. "Dia."

Dengan menelan ludah, sang pria mengangguk. Lantas, beberapa menit kemudian, seluruh orang selain mereka bertiga keluar dari bank. Polisi dengan pelindung lengkap berlarian memandu mereka ke tempat aman. Kini, gedung itu hanya tersisa tiga orang. Galang menodong kepala wanita itu dan pria berjas hitam berlutut dengan tangan terikat.

Jam menunjukkan pukul 15.17, samar-samar suara azan terdengar dari luar. Wanita itu terlihat cemas, Galang menyadarinya.

"Salat?" tanya Galang.

Si wanita mengangguk tanpa mengangkat kepala. Galang menariknya menuju tempat wudu, masuk ke tempat wudu, memeriksa setiap sudut, lalu berbalik badan, mempersilakan melakukan salat. Si pria juga ikut, hanya memperhatikan karena kini ia yang ditodong oleh Galang. Delapan menit, wanita itu keluar dari musala, lantas mengikuti langkah Galang menuju ruangan yang jauh dari pintu depan.

Lewat pukul 20.29, Galang juga mempersilakan si wanita untuk salat Magrib dan Isya, sama seperti saat Asar. Si pria masih dengan tangan terikat, sedari tadi memperhatikan Galang.

"Kenapa gak dibuka aja?" Si pria memecah hening.

Galang yang sudah dari awal masuk bank ini napasnya sangat berat pun menatapnya. "Pakai nanya?"

"Lagian, udah pasti gak lolos, kan?"

Galang tertegun. Benar, seluruh gedung bank pasti sudah dikelilingi oleh polisi, tak mungkin ia lolos dari mereka.

"Ayolah, bosan, nih."

Galang menatap sembarang, menghela napasnya, perlahan membuka kupluk modifikasinya itu. Wajah kurus dan kusamnya terlihat jelas sekarang, rambutnya basah penuh keringat.

"Nah, kan enak. Nama saya Dirga. Yang di sana, Afina." Dirga menunjuk wanita yang sedari tadi memperhatikan.

"Masnya?"

Galang tak menjawab.

"Ya udah, deh, ganti pertanyaan. Masnya gak salat?"

Galang mendengus. "Siapa yang bilang aku ini muslim?!"

Dirga tersenyum. "Masnya hafal jadwal salat soalnya."

"Kan ada azan."

"Telinganya Mas bagus juga berarti."

Galang tak menjawab, memalingkan wajah dari Dirga. "Agama itu cuma ciptaan manusia biar bisa tetap berharap."

"Enak—"

"Oh, Masnya gak percaya agama, toh." Dirga memotong ucapan Afina yang nadanya sudah tak enak.

Galang menggaruk kepalanya dengan kasar. "Ah, udah, diam!"

Dirga dan Afina langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Sudah cukup mereka bicara hari itu.

Esok harinya, matahari belum terbangun, namun Afina sudah memegang Al-Qur'an, melantunkan ayat-ayat suci. Galang menodongkan senjatanya ke Dirga dengan tangan yang agak gemetar.

"Dingin?" Dirga bertanya.

Galang menatap sinis, Dirga pun tak berbicara lagi. Afina dengan khidmat melantunkan ayat suci. Beberapa menit kemudian, ia mengakhirinya dan menutup kitab suci itu.

Pukul 06.23, polisi menggunakan pengeras suara untuk bernegosiasi dengan Galang. Akhirnya, tiga porsi makanan diletakkan di depan lobi bank. Galang keluar, menyeret Dirga yang masih ditodong untuk mengambil makanan itu, lalu kembali ke dalam.

Mereka bertiga melahap makanan itu, ikatan Dirga dilepas oleh Galang. Pria kurus itu makan dengan senjata rakitannya berada di dekat paha kanannya, menjaga barang itu tetap dekat, sedangkan empat senjata sisanya tetap berada di pinggang.

Ruangan berlantai marmer itu dipenuhi suara sendok yang bertabrakan dengan gigi. Galang terus memastikan pandangannya ke kedua sandera sembari sesekali menyuap. Hanya beberapa menit, makanan itu habis.

Ruangan menjadi lengang dengan Galang kini duduk di sofa. Dirga mengamatinya, perampok bank itu sesekali melamun, matanya menatap ke sembarang tempat.

"Hei, lagi ada masalah, ya?" Dirga memecah keheningan.

"Bukan urusanmu," jawab Galang ketus.

"Kawan, gak mungkin kau merampok bank kalau gak ada masalah. Ceritalah, bosan pula aku," bujuk Dirga, logatnya terselip.

Galang hanya diam beberapa saat.

"Udah jelas karena duit," jawabnya.

"Iya, tapi kenapa?"

"Kenapa harus dikasih tahu?"

Dirga mengangkat kedua bahunya. "Biar gak sepi?"

Galang menghela napas panjang. "Konyol."

"Masalahmu yang konyol?" Dirga langsung membalas.

Rahang Galang seketika menegang, otot rahangnya bergerak-gerak. Ia menghampiri Dirga dengan langkah yang menghantam lantai dengan keras. Galang menarik kerah kemeja Dirga.

"HAH?!"

"Wow, wow... santai, kawan." Dirga mengangkat kedua tangannya. "Aku kan gak tahu masalahmu, makanya ceritain."

Napas Galang berembus berat, matanya melotot dengan wajah merah padam. Perlahan, ia melepas kerah Dirga yang langsung dirapikan oleh Dirga. Galang mencoba mengatur napasnya beberapa detik, menatap Dirga lalu beralih ke lantai beberapa kali.

Mulutnya mulai terbuka. Ia menceritakan semuanya. Masa lalunya, hingga sampai ke titik semula.

"KAU TAHU BERAPA LAMA, HAH?! AKU SELALU SABAR, SABAR, SABAR DAN SABAR, TAPI APA?!"

Galang akhirnya menurunkan tangannya perlahan dan melepas senjatanya, mengusap wajahnya yang tak kepalang. Ia terduduk di sofa. Dirga memerhatikannya, bersama dengan Afina yang meringkuk ketika Galang berteriak.

"...kenapa...?" ucap Galang, kini dengan suara yang lebih pelan.

"Dulu mereka puji aku, hebat... paling pintar, saleh... tapi waktu aku gak berguna buat mereka? Hilang."

Kedua sandera hanya menyaksikan Galang yang nampaknya mulai meneteskan air mata, namun ia tutupi. Mereka memberi waktu Galang, lebih dari satu jam sampai suasana kembali normal. Mata Galang memanglah sembab, namun wajahnya lebih santai sekarang.

"Terus, kenapa milih rampok bank?" Dirga memutuskan bertanya kembali.

"Wajar, lebih baik aku bertindak sendiri daripada mati karena sabar."

"TAPI GAK NGERAMPOK JUGA!" Afina tiba-tiba berseru. "Ini salah!"

Galang perlahan menghampiri Afina. "Salah?"

"I-iya, salah." Gadis itu menelan ludahnya.

"Terus, apa yang benar?"

Afina tak menjawab.

"Dan kalau udah benar dan gak berubah, aku harus apa? Sabar? Sabar lagi?"

Afina makin menciut sejalan dengan Galang yang makin mendekat.

"Aku tahu orang yang lebih mirip denganmu, Galang," ucap Dirga.

"Oh, siapa?" Galang kini berbalik ke arah Dirga, empat pistol di pinggangnya seakan memberi musik latar sendiri.

"Orang terdekatku. Kau tak perlu tahu namanya. Ia punya penyakit dari lahir, sering kambuh."

"Lalu?"

"Lalu, kau tahu apa bedanya dia denganmu?"

"Apa?"

"Dia punya orang yang dia sayang dan menyayangi dia."

Galang berhenti melangkah, alisnya mulai menukik sedikit. "Aku juga punya. Tapi kau tahu apa? TUHAN MEREBUTNYA DARIKU!"

"Pernah coba cari yang lain?"

"Kau pikir mereka tergantikan?"

"Apa aku pernah bilang buat ganti mereka?"

Galang tertegun. Ia menggaruk kepalanya dengan amat kasar, lalu mendesah frustrasi. "Ah, aku muak! Cukup."

Sisa hari itu berlangsung sunyi, hanya ada satu-dua percakapan yang tak penting di antara mereka. Afina seperti biasa diperbolehkan melaksanakan salatnya, meskipun sekarang ia lebih menjaga jaraknya dengan Galang.

Genap sudah dua hari mereka disandera oleh Galang, kini hari ketiga. Seperti kemarin dan selumbari, polisi menggunakan pengeras suara untuk bernegosiasi dengan Galang. Hari ini adalah kesempatan terakhir, kata mereka. Afina melantunkan ayat suci lebih lama dari sebelumnya, hingga pukul tujuh.

"Kapan nyerah, nih? Kangen rumah aku," canda Dirga.

"Entah."

"Loh... kalau gak nyerah... mereka bakal ngapain?" Afina bertanya takut.

Dirga dan Galang mengangkat kedua bahunya yang sama sekali tak membantu Afina.

"Emang rencana awalnya apa?"

Galang mengangkat bahunya lagi.

"Loh? Serius? Orang gila." Dirga tertawa ketus.

Afina menggaruk-garuk kepalanya. Hari itu Galang lebih banyak diam. Melamun melihat ke tembok marmer. Senjata itu masih ia genggam di tangan yang membuat Dirga sedikit tertarik.

"Itu, buat sendiri?"

Galang mengangguk.

"Masih pintar ternyata."

"Kebetulan masih ingat bacaan di perpus aja."

Beberapa jam berlalu, Afina berkali-kali melihat ke jam analognya, lalu mengintip sedikit ke arah lobi meski akan diteriaki Galang. Ia semakin sering menggaruk kepalanya, tangis keringnya semakin keras terdengar.

"Bisa... lepasin kita sekarang aja... gak?" bujuk Afina. "Ayolah..."

Galang menggeleng.

"Umi sama Abi pasti udah khawatir banget... lepasin, ya?"

Galang menggeleng lagi.

"Emang apa susahnya sih, kerja keras terus sabar. Gak perlu ngerampok bank, kan?" dumel Afina yang sayangnya terdengar oleh Galang.

Galang berdiri menghampirinya. "Apa tadi?"

"E-eh? N-nggak apa-apa, kok!"

"Heh, jawab!" Galang menodongkan senjatanya.

Afina menutup mata dan kepalanya dengan tangan, meringkuk dalam-dalam. "MAAF! MAAF! MAAF!"

Dirga menarik napas dalam-dalam. "Sabar."

Galang langsung berbalik arah, menodong kepala Dirga dengan senjatanya.

"Coba aja." Pria yang telah melepas jasnya itu menatap mata Galang.

Galang gemetar, lantas akhirnya menurunkan senjatanya.

"Kamu ini temperamental, tapi baik hati." Dirga tertawa kecil. "Kau tahu? Cita-citaku sebenarnya jadi penulis. Aku suka sastra, tapi orang tuaku tak bisa dilanggar."

Galang menyimak. "Terus, kamu ngapain?"

"Aku sabar."

"Sabar gak mungkin cukup, Dirga!"

Dirga tersenyum. "Kau benar, Galang. Sabar aja gak mungkin cukup."

Mulut Galang sudah terbuka, namun kata-katanya kini tersangkut, tak mau keluar.

"Kau ingat dia, kan?"

Mulut Galang perlahan tertutup. Ia melihat kedua tangannya, langsung menjatuhkan senjata yang ia rakit. Ia meloncat ke belakang seakan itu adalah binatang buas yang kelaparan. Napasnya tak beraturan, ia terjatuh di lantai, lantai marmer putih yang membuatnya dapat melihat pantulan wajah sendiri. Matanya berair, sungguh berair, jatuh, menetes membasahi lantai itu. Ia menampar dirinya beberapa kali, menahan teriakan di dada.

Kemudian, ia bangun, berjalan menuju lobi. Keluar dari bank itu tanpa tangan berisi senjata untuk pertama kali. Kedua tangannya di udara, perlahan ia melepas kelima senapan di pinggangnya, jatuh ke tanah. Polisi segera menggiringnya, lantas membawanya masuk ke dalam mobil.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Matinya Tuhan-ku
NarekMan
Novel
Bagaimana Aku Bertemu Kematian
Achi TM
Cerpen
Bronze
Di Balik Piring "Kisah Perjuangan dan Kesuksesan Seorang Chef"
TATAN RUSNANTO
Flash
Bronze
Relativitas Ashabul Kahfi
Silvarani
Novel
Annerta : Part of Aquira
Ann Aizawa
Novel
Gold
Dekapan Kematian
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Yai Sepuh
Eko Hartono
Cerpen
Bronze
Syahid Tak Bernama
Oyenoyenmpus
Novel
Zabur
roma dhon
Novel
Cinta Dalam Mimpi
Muyassarotul Hafidzoh
Novel
Ijazah Untuk Ayah
Dwiyan Sebastian
Cerpen
Reinkarnasi Umar
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Bronze
Natal Gracia yang Berbeda
Nuel Lubis
Cerpen
Langit Masih Menunggu Doamu
Penulis N
Flash
Hari Lebaran Badru
Rudi Rustiadi
Rekomendasi
Cerpen
Matinya Tuhan-ku
NarekMan
Flash
Angin dan Tanya
NarekMan
Cerpen
Apakah Kamu Takut?
NarekMan