Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Mati Dua Kali
1
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jagat tidak pernah berpatokan pada satu objek atau subjek terkait lukisannya. Ia melukis apapun yang terbayang di otak. Pemandangan, buah-buahan, bangunan tua pinggir jalan, seorang nenek buta pedagang kerupuk, istana tikus di tempat yang kumuh, tokoh-tokoh terkenal, hewan, tumbuhan, benda mati, atau hanya goresan pola-pola abstrak yang di matanya terlihat bagus. Ia tidak pernah membatasi lukisannya hanya pada objek atau subjek yang bersifat komersial.

Ia tidak pernah mau menerima lukisan pesanan sekalipun dibayar mahal—sebab itu artinya, tak ada kebebasan baginya dalam melukis. Klien akan mengarahkan sapuan kuasnya, pemilihan warna, pemilihan ukuran kanvas, hingga teknik melukis apa yang harus ia pakai. Maka dari itulah, tak banyak lukisannya yang laku karena ia tak pernah fokus melukis satu objek atau subjek saja, tapi sebaliknya, sekali saja lukisannya laku, pasti itu terjual dengan harga yang fantastis dan menghasilkan uang yang wangi—istilah yang Jagat ciptakan sendiri untuk banyaknya uang yang dihasilkan dari satu buah lukisan yang terjual.

Kata seseorang yang realistis, menjadi penulis, sastrawan, filsuf, pelukis, atau seniman tidak bisa dicapai oleh semua orang yang menginginkannya, sebab orang-orang yang menjadikan bidang-bidang itu sebagai profesi biasanya dari kalangan orang yang berkecukupan. Orang dari kelas menengah ke bawah tidak banyak yang masuk jurusan sastra sekalipun ia ingin jadi penulis, sebab ia akan memilih jurusan yang prospek kerjanya jelas setelah lulus supaya bisa menghasilkan uang dan menyambung hidup. Itulah mengapa ada istilah bahwa menjadi seniman hanyalah pekerjaan untuk orang-orang yang berkecukupan. Orang yang tidak memikirkan besok masih bisa makan atau tidak, orang yang selalu punya uang, pasti punya waktu luang untuk mendiskusikan tentang ide-ide dan buku-buku, musik, lukisan, dan menikmati seni berlama-lama di museum atau galeri seni, serta datang ke pertunjukan teater, orkestra, atau mungkin menonton salah satu teater di Broadway.

Dan karena itulah Jagat mantap menjadi pelukis—sebab ia dan keluarganya tidak pusing memikirkan uang. Mamanya adalah keturunan seorang Belanda yang punya gudang tembakau yang cabangnya tersebar di kota-kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, sementara Papanya adalah adalah keturunan salah satu keluarga konglomerat low profile di Indonesia—yang punya bisnis di tambang batu bara dan bisnis properti. Papanya sendiri, sekarang dikenal sebagai “tuan tanah” di Bali. Ia adalah jembatan bagi siapapun yang hendak membeli tanah di sana, baik pembelinya adalah bule atau orang lokal.

Karena tidak pernah tahu bagaimana kehidupan orang kelas bawah, Jagat suka berlama-lama di pinggir jalan, berpakaian sederhana, dan duduk di salah satu warung kopi hanya untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan dan bagaimana kehidupan di sekitar mereka. Ia tak membawa kamera atau buku sketsa ke mana-mana. Ia hanya mengandalkan memori visual untuk bahan lukisannya. Kadang ia membaca majalah dan buku untuk mengetahui bagaimana kemiskinan itu digambarkan. Ia mempelajari distopia dari novel-novel klasik terkelam seperti No Longer Human karya Osamu Dazai, novel-novel Dostoevsky, Franz Kafka, George Orwell, hingga Charles Bukowski yang memilih kelaparan daripada berhenti menulis.

Bagi Jagat, mudah untuk melukis tentang keindahan, kesenangan, kebahagiaan, dan ingar bingar pesta kalangan borjuis, tapi susah sekali untuk menggambar sosok yang matanya menyimpan kesedihan, kekecewaan, dan kegelapan seperti salah lukisan legendaris yang menggambarkan Fyodor Dostoevsky. Ia harus latihan bertahun-tahun untuk melukis tentang kemiskinan, tempat-tempat kumuh, gelandangan, keputusasaan, dan kekecewaan. Bagian yang paling sulit ia lukis dari tema ini adalah mata. Sebab mata bisa bicara banyak hal daripada objek mana pun di sekitar orang yang ia lukis.

“Tapi kau aneh,” ujar seorang temannya yang kala itu berkunjung ke rumah sekaligus galerinya. “Orang-orang membeli lukisan untuk menambah keindahan rumah mereka. Yang dibeli pasti lukisan tentang keindahan, mana ada orang yang tertarik memajang lukisan seorang pengemis tua renta yang sekarat karena kelaparan di ruang tamu rumahnya? Mereka pasti akan menganggap lukisan semacam itu nggak menarik dan hanya akan mendatangkan kesialan. Dan kalau kamu masih mau hidup dari melukis, lupakanlah soal melukis tentang kemiskinan. Lukislah yang indah-indah supaya banyak yang beli lukisanmu.”

“Aku tahu,” balas Jagat. “Tapi kadang aku bosan melukis yang indah-indah. Segala sesuatu yang indah itu punya kesamaan, jadi terkesan monoton. Sementara ketidakelokan punya banyak perbedaan dan lapisan—walaupun tetap membosankan untuk sebagian orang, tapi bagiku tidak.”

“Kalau begitu, kau lukis yang indah-indah khusus untuk dijual dan menarik pembeli, sementara lukisan yang tidak indah biarlah jadi pajangan dan koleksimu sendiri—anggap saja jadi media dimana kau bisa bermain-main dengan kuasmu.”

“Memang begitu rencananya.” Jagat mengangguk.

“Akhir-akhir ini lukisanmu tentang perempuan telanjang. Kenapa? Kau sedang kenal perempuan cantik?” Sam menyenggol bahunya, membuat kopi di genggaman Jagat tumpah sedikit mengenai celemek yang ia kenakan agar tidak terkena banyak cat saat melukis.

“Enggak. Cuma iseng aja.” katanya. “Aku pengin coba lukis sesuatu yang berani dan erotis. Ingin coba hal baru.”

“Tapi, kalau aku perhatikan, semua lukisan perempuan telanjangmu ini wajahnya selalu sama. Benar nggak?”

Jagat mengangguk. “Memang.” Kemudian ia mengangkat bahu ringan sambil menyesap kopi hitam tanpa gulanya. “Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentang wajah perempuan yang sama. Wajahnya cantik dan terlalu jelas untuk ukuran mimpi, dan kamu tahu kan, apa yang paling mahal dari sebuah karya?”

“Narasinya.” sahut Sam mantap dan Jagat pun mengangguk setuju.

“Menurutku, yang jadi nilai dari sebuah lukisan itu bukan objek yang dilukis, tapi narasinya. Kalau ada calon pembeli nanya, wajah perempuan di lukisan telanjangmu itu terinspirasi oleh wajah siapa? Kalau aku bilang itu hanya salah satu modelku, nggak akan ada yang spesial, tapi kalau aku bilang perempuan itu sering datang ke mimpi, nilai jualnya bisa bertambah.”

Sam mengangguk-angguk. “Sayang kakek dan papaku sudah meninggal dan aku sudah punya istri. Kalau aku masih bujang, aku akan pajang lukisan perempuan telanjang banyak-banyak di ruang tamu dan kamarku.”

“Memang istrimu nggak memperbolehkan beli lukisan perempuan telanjang?”

Sam menggeleng lesu. “Padahal itu bagian dari seni interior, menurutku.”

“Istrimu payah.” sahut Jagat sambil terkekeh dan Sam tidak tampak tersinggung. Ia hanya mengangkat bahu dan berjalan ke arah lain untuk melihat lebih banyak lukisan, sementara Jagat kembali duduk di depan kanvas untuk melanjutkan salah satu lukisan yang belum rampung.

Sam tampak keluar untuk mengangkat telepon yang rupanya dari sang istri. Tak lama, ia kembali menemui Jagat hanya untuk pamit pulang dan meletakkan kaleng minuman yang masih sisa sedikit ke atas meja kerja temannya, membuat Jagat berdecak pelan kemudian membuang sisanya ke wastafel agar bisa membuang kalengnya ke tong sampah.

Satu jam setelah kepergian temannya, datangnya seorang lelaki berusia pertengahan 30 tahunan yang langsung disambut oleh Agas—satu-satunya karyawan yang dipekerjakan oleh Jagat untuk mengurus penjualan dan pembelian lukisannya. Agaslah yang lebih banyak menjelaskan lukisan-lukisan Jagat tentang apa dan berapa harganya, sementara sang pelukis lebih pilih mendekam di ruangannya untuk melukis, membaca buku, nonton film, tidur, atau memantau pasar saham di tabnya.

Ketukan pintu di ruangan melukisnya membuat Jagat sempat tercekat kaget, tapi ia mempersilakan orang yang mengetuk untuk masuk—yang tidak lain adalah Agas. “Bang, masa ada yang mau borong semua lukisan elu? Dia mau beli empat sekaligus, Bang!  Semuanya yang perempuan telanjang.”

“Ya nggak papa, kasih aja. Pastikan harganya bagus.”

“Dia nggak masalah soal harga, Bang. Kayaknya sih orang kaya. Tapi dia mau ketemu sama lo tuh, di depan. Ada urusan penting.”

“Ya udah, bentar.”

Agas mengangguk dan segera meninggalkan Jagat yang kini mematikan rokoknya di asbak untuk kemudian melepas celemek dan merapikan sedikit penampilannya, baru setelah itu ia pergi menemui si pembeli. Ternyata, pembeli itu sedang melihat-lihat lukisannya sambil merokok, dan Jagat sedikit mengerutkan dahi karenanya sebab tanda di setiap sudut galerinya sudah sangat jelas. Area itu tidak diperuntukkan bagi perokok. Agas di balik meja kasir melirik bergantian pada Jagat dan si pembeli. Ia tidak berani menegur sebab takut kalau tegurannya akan membatalkan kesepakatan untuk membeli empat lukisan Jagat sekaligus, yang sebenarnya Jagat tidak akan memarahi Agas, tapi bagi Agas, kehilangan uang sebanyak itu sangat disayangkan, sehingga ia memilih diam.

“Kamu yang mau beli lukisan saya?” tanya Jagat dan langsung membuat lelaki itu berbalik.

“Kamu pasti Jagat. Saya Seno.” Ia mengulurkan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang rokok.

Jagat hanya melirik sekilas uluran tangan itu dan mengabaikannya. Alih-alih menjabat tangannya, ia malah berkata, “Di setiap sudut galeri ini sudah ada tulisan jelas kalau nggak boleh merokok. Kalau mau merokok di luar saja.”

“Oh, sorry.” kata Seno kemudian membuang puntung rokoknya ke lantai galeri begitu saja—membuat Jagat hampir mengomel dan Agas sudah bersiap meninggalkan meja kasir untuk melerai keduanya kalau-kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi, tapi semuanya urung ketika salah satu orang berpakaian serba hitam, yang mereka tebak adalah sopir pribadi Seno, datang tergopoh dan mengambil puntung rokok yang sudah mati itu dengan tangannya. Ia menyimpan benda itu ke sebuah tisu kemudian dilapisi dengan plastik dan dimasukkan dalam kantongnya. Sopir itu membungkuk santun kemudian kembali menunggu di luar.

Jagat terkekeh pelan sambil membuang pandang ke arah lain. Dalam hati ia membatin, arogan banget orang ini.

“Saya terlalu terpesona sama lukisanmu, jadi nggak baca sign no smoking di ruangan ini. Ya saya kira tadi boleh merokok di sini, mengingat pelukisnya kan merokok juga. Tapi ya sudah, nggak papa. Makasih sudah menegur saya.” kata Seno panjang lebar. Dari balik jasnya, ia memberikan selembar brosur pada Jagat. Ketika lelaki itu hendak mengambilnya, entah sengaja atau tidak, brosur itu jatuh dari tangan Seno seperti kapas, membuat Jagat harus memungutnya di kaki lelaki itu. Agas menahan diri untuk tidak menghajar si Seno dari balik meja kasir sebab dengan jelas ia lihat sendiri kalau lelaki itu sengaja menjatuhkannya.

“Itu undangan buat kamu. Keluarga saya jadi sponsor salah satu pameran lukis yang akan diadakan minggu depan. Masih ada satu slot kosong kalau kamu mau datang dan memamerkan lukisan-lukisan kamu. Lumayan. Yang datang kebanyakan orang penting. Siapa tahu ada kurator konglomerat yang tertarik borong semua lukisan kamu. Kalau setuju, kamu bisa hubungi narahubung yang tertera di sana supaya slotnya nggak saya lempar ke orang lain.”

“Apa alasan kamu kasih saya undangan ini?”

“Nggak ada alasan khusus, Jagat,” jawab Seno. “Saya cuma suka sama lukisan-lukisan kamu dan ini kesempatan emas yang nggak boleh diabaikan. Saya tahu kamu nggak terlalu memusingkan uang, tapi soal karir, saya yakin kamu nggak akan buang kesempatan untuk nggak memperluas karir ini.” Ia kemudian beralih menatap Agas dan melemparkan kartu ATM-nya pada si kasir, membuat lelaki itu agak tergopoh untuk menangkapnya. “Kalau sudah, kartunya nanti titipkan saja sama sopir saya. Biar dia yang bawa sekalian angkut semua lukisannya.” kata Seno dan Agas langsung mengangguk berulang kali sambil mengatakan terima kasih.

“Kalau kamu nggak punya tata krama, nggak usah beli lukisan saya.” kata Jagat, membuat Agas melongo dan mengurungkan niat untuk menggesek kartu ATM itu. Saat itu juga, Seno berhenti melangkah dan berbalik.

“Kamu ini siapa, Jagat? Kok berani komentarin tata krama saya. Kamu bukan siapa-siapa tanpa kekayaan orang tua dan keluargamu.”

“Begitu pun kamu.”

“Memang,” kata Seno sambil mengangguk. “Itulah kenapa saya nggak akan komentarin tata krama kamu karena saya sama sepertimu—bukan siapa-siapa tanpa titel orang tua.”

“Tapi di tempat saya ada tata krama. Kamu bertamu ke rumah saya dan dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

“Jangan terlalu kaku, nanti pembelimu pada kabur semua.” Seno tersenyum kecil dan berjalan meninggalkan galeri itu.

Baru saja ia ingin bilang pada Agas untuk membatalkan pembelian dengan Seno, tapi ia teringat kata-kata lelaki itu yang menggema seperti suara teriakan orang di goa yang kosong. Ia bukan siapa-siapa tanpa orang tuanya. Sial. Kata-kata itu menamparnya. Kalau bukan karena orang tuanya, Jagat tidak akan berani bermimpi jadi pelukis dan menjadikan bidang ini sebagai profesi utamanya. Ia pasti akan bekerja di bidang yang tidak ia sukai demi dapat uang untuk menyambung hidup. Setelah perjuangan keras orang tuanya menghidupinya dengan layak hingga ia boleh bekerja pada bidang yang ia sukai, masihkah Jagat boleh bersikap arogan hanya karena orang-orang seperti Seno? Jagat menggeleng pelan tanpa sadar.

“Bang? Gimana, Bang? Boleh nggak lukisannya dibeli sama Pak Seno?”

Jagat membuang napas pelan dan mengangguk. “Lo atur aja, Gas. Gue balik ke ruangan dulu.”

“Siap, Bang.” Agas sumringah dan langsung menyelesaikan pembayaran menggunakan kartu ATM pemberian Seno. Tak lama, sopirnya datang untuk mengangkat keempat lukisan itu dibantu dengan Agas dan memasukkannya ke sebuah mobil khusus.

“Lho, Pak, Bapak Seno nggak di mobil ini?” tanya Agas lugu.

“Ya enggak, lah, Mas. Mana ada anak orang kaya yang mau sempit-sempitan bareng lukisan? Dia tadi naik mobil yang lain. Mobil yang ini cuma buat angkut lukisan yang dia beli aja.”

“Gila, mobilnya pasti ada banyak di rumahnya ya, Pak.”

“Puluhan, Mas. Udah kayak showroom.”

“Dia pasti punya Alphard ya, Pak?”

“Saya nggak ngerti merek mobil mahal, Mas. Ada kali. Oh, ya, Mas, ini lukisannya udah semua?”

“Udah, Pak. Aman. Eh, ya, ini kartu ATM-nya Pak Seno tadi. Jagain, Pak. Jangan sampai hilang.”

“Sebenarnya saya agak ngeri, sih, tapi gimana lagi? Udah amanah dari Tuan Muda, jadi saya nggak berani ngelawan. Ya udah, kalau gitu saya pamit. Makasih, Mas. Mari.”

“Monggo.”

Sepeninggal mobil itu, ia bergegas berlari menghampiri Jagat di ruangannya. Ia sudah bekerja selama 15 tahun dengan lelaki itu, dan memang cuma Agaslah yang bisa bebas keluar masuk ruangan melukis Jagat kapan saja.

“Bang, lu bakalan nerima tawarannya Pak Semo tadi, kan? Lumayan, Bang. Walaupun gue tau keluarga lu mampu-mampu aja ngadain pameran buat lu sendiri, yang lebih mewah bahkan, tapi lu sendiri kan yang bilang kalau lu nggak mau terlalu menonjolkan titel orang tua lu. Lu mau orang taunya lu Jagat si pelukis aja. Latar belakang keluarga lu kayak apa, lu cuma ngasih tau ke orang-orang terdekat lu aja. Lo pengin latar belakang keluarga lu stay lowkey aja. Makanya ini kesempatan bagus, Bang.”

“Menurut lo gitu, Gas?”

“Iya, Bang. Gue tahu Pak Seno tadi memang ngeselin, tapi orang-orang kayak dia bakalan selalu ada di dunia, Bang, nggak bakalan bisa musnah seketika kayak kecoa. Kalau bisa abadi, bakalan dibikin abadi dah kayaknya orang kayak Pak Seno tuh. Makanya lupain aja kejadian tadi, ambil kesempatan ini. Di depan mata lu ini, Bang, ya kali diabaikan.”

“Nanti gue pikirin lagi. Oh, ya, nanti kalau galeri udah tutup, minta tolong lu beliin gue keperluan ngelukis, ya. List-nya udah gue kirim barusan ke WhatsApp.”

“Beres, Bang. Aman. Kalau gitu, gue balik ke depan yak. Jangan lupa, Bang. Pikirin baik-baik.”

Jagat hanya mengangguk dan membiarkan Agas kembali ke meja kasir.

...

“Ternyata kamu datang.” Seno menyapa dan mendatangi stand pameran milik Jagat yang hanya dijaga berdua dengan Agas. Jagat ingin berpura-pura tidak melihat lelaki itu, tapi tak ada guna juga sebab tempat ini terlalu lengang untuk mengabaikan eksistensi Seno yang tinggi menjulang itu.

“Berkat undanganmu juga, kan, saya bisa masuk ke sini.”

Seno mengangkat bahu ringan sambil melihat-lihat beberapa lukisan yang dibawa Jagat dalam pameran kali ini. “Kamu tidak ada niatan punya kekasih dan menikah?” Pertanyaan Seno membuat Jagat mengerutkan dahinya dalam. Sekarang ia menduga kalau sifat Seno selain suka bertingkah seenaknya, ia pun kerap bertanya seenaknya.

“Kenapa aku harus jawab pertanyaanmu? Lagipula itu ranah pribadi. Bukan urusanmu juga.”

“Siapa tahu kalau kau punya istri, dia bisa jadi inspirasi lukisan-lukisanmu kelak. Ah, ya, kalau kau mau kukenalkan dengan beberapa teman perempuanku, tinggal bilang saja. Kau ini rupawan, Jagat, kaya raya pula. Urusan jodoh itu tinggal tunjuk.”

Jagat hanya mendengus pelan. Ia melengos dan memilih menghampiri beberapa orang yang datang ke stand pameran lukisannya dan menjelaskan dengan telaten lukisannya tentang apa saja–padahal itu menjadi pekerjaan Agas sehari-hari sebab Jagat paling benci kalau harus menjelaskan lukisannya tentang apa dan idenya dapat dari mana, sebab menurutnya, itu hanya mematikan interpretasi penikmat seninya kalau ia turun tangan menjelaskan dengan terlalu gamblang apa makna setiap lukisannya. Selama ini, Agas telah menghapal narasi yang dibuat Jagat untuk setiap lukisan yang ia lukis sebab walaupun ia tak suka menjelaskan tentang makna lukisannya, ia menyadari bahwa narasi di balik lukisan juga salah satu daya tarik magis bagi penikmatnya.

Kali ini ia mengambil peran itu semata-mata untuk tidak memberi Seno kesempatan mengobrol dengannya. Agas hanya tersenyum formal kepada Seno–seolah bilang tanpa suara lewat senyumannya bahwa maklumilah sikap Jagat, ia memang seperti itu. Sebelum enyah dari stand pameran lelaki itu, ia sengaja berkata dengan nada agak keras, “Kalau kau cari jodoh, hubungi aku! Jangan malu-malu!” Jagat menoleh dengan tatapan berang, tapi Seno justru tertawa dan melambaikan tangan.

Untunglah di menit-menit berikutnya sampai berakhirnya acara, Seno tidak menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan Jagat, sehingga sisa pameran itu bisa dilaluinya dengan normal, walaupun ia jadi melamun di menit-menit tertentu, apa sebenarnya maksud kedatangan Seno dan apa makna sikapnya. Apakah ia hanya orang yang datang untuk membeli lukisannya saja, atau ia akan terus menganggu hidupnya? Jagat tidak tahu. Tapi yang jelas, ia tidak akan menoleransi sikap Seno lain kali jika ia masih menyebalkan.

Empat hari setelah pameran seni itu, Jagat Art Gallery kedatangan seorang perempuan yang katanya ingin melihat-lihat lukisan. Agas–yang menerima kedatangan perempuan itu, sempat mengernyitkan dahi dalam. Ia merasa tidak asing dengan wajah perempuan itu, tapi ia tidak yakin pernah bertemu dengannya atau tidak, mengingat penampilannya yang anggun dan berkelas membuat Agas ragu dengan ingatannya–sebab ia sadar ia bukan berasal dari kalangan keluarga seperti Jagat, yang terbiasa dengan perempuan-perempuan cantik berparas Aphrodite dengan pakaian elegan yang harganya bisa mencapai sepuluh kali lipat gaji bulanannya di sini.

Ia menelepon Jagat lebih dulu menggunakan telepon rumah yang disediakan di meja, yang akan tersambung dengan telepon rumah di ruangan Jagat melukis. Semua tamu yang ingin mengunjungi ruangan itu harus minta izin pelukisnya. Kalau Jagat setuju, maka ia boleh masuk, dan sebaliknya.

Biasanya, Jagat memperbolehkan pengunjung masuk ke ruangan lukisnya ketika suasana hatinya membaik. Sebab ketika suasana hatinya memburuk, Jagat akan gampang kesal dengan kehadiran orang di ruangannya. Ia cenderung akan menyendiri dan tidak ingin melihat siapapun. Dan karena hari ini suasana hatinya sedang baik, maka Jagat memperbolehkannya.

Pintu diketuk pelan oleh Agas dan setelah Jagat mengatakan “masuk”, barulah ia mengangguk ke arah si perempuan. Perempuan itu membuka pintunya agak lebar, kemudian menutupnya dengan cara paling anggun, bahkan nyaris tanpa suara. Ia berjalan perlahan mennghampiri lelaki itu–yang masih membelakangi dirinya. “Sedang melukis perempuan telanjang lagi?” tanya perempuan itu.

Jagat menghentikan sejenak kegiatannya, kemudian menoleh, bermaksud menjawab pertanyaan si perempuan, tapi kata-kata yang telah dipikirkan otaknya mendadak tidak pernah keluar dari mulut itu sebab kini ia terpaku di hadapan si perempuan anggun yang belum diketahui namanya. Pegangannya pada kuas nyaris terlepas karena syok.

Bagaimana bisa perempuan ini punya wajah yang sangat mirip dengan perempuan telanjang yang aku lukis akhir-akhir ini?

Merasa malu, Jagat langsung menutupi lukisan yang belum rampung itu menggunakan kain merah marun.

“Kenapa ditutup? Karena belum selesai? Atau karena malu karena kamu tertangkap basah sedang melukis perempuan telanjang di hadapan perempuan?” tanya perempuan itu, kemudian tersenyum. Tangannya disodorkan pada Jagat sambil menyebutkan namanya, “Aku Shangrila. Kamu pasti Jagat, kan?”

Sekonyong-konyong, Jagat hanya mengangguk kikuk. Dan ketika ia sadar bahwa jabatan tangan itu masih terayun di udara, dengan telapak tangan yang dingin ia menjabatnya, “Benar. Aku Jagat.” katanya. “Namamu bagus.”

“Banyak yang bilang begitu. Papaku pernah tinggal di Shangrila lama sekali, sebelum akhirnya ia pulang ke tanah air. Saat menikah dengan ibuku, dia berjanji kalau anaknya perempuan, maka akan ia beri nama Shangrila.”

“Pasti karena Papamu terpesona oleh kecantikan Shangrila.”

“Dan juga Ibuku.”

Keduanya tertawa kecil.

“Duduk, Rila.” Jagat menarik sebuah kursi kayu. Perempuan itu bilang makasih dan duduk di sana. “Mau minum apa? Soft drink? Kopi? Teh?”

“Soft drink aja.”

Jagat mengangguk dan mengambil dua botol soft drink dari kulkas di pojokan ruangan, menyodorkan satunya untuk Shangrila.

“Diminum.” katanya, dan perempuan itu mengangguk. “Kenapa kamu bisa sampai ke sini?”

“Berita tentang lukisanmu di pameran waktu itu ramai sekali. Katanya, gaya lukisanmu mirip mendiang Ketut Pambudi, pelukis terkenal dari Bali itu. Kalian sama-sama melukis perempuan telanjang. Banyak yang mengaitkan bahwa kau akan jadi penerusnya.”

“Dalam dunia seni, aku nggak percaya dengan istilah penerus. Karena semirip apapun karya seni yang dibuat oleh seniman, pasti ada ciri khas yang cuma dia sendiri yang punya, sehingga walaupun karya A dibilang punya kesamaan dengan karya B, bukan lantas B adalah penerusnya A. Itu label yang nggak masuk akal.”

Shangrila tersenyum dan menyesap soft drinknya. Menyisakan sedikit bercak merah bekas gincu yang ia kenakan. “Masuk akal,” balasnya. “Kamu pernah bosan melukis tidak?”

“Sejauh ini belum.”

Perempuan itu mengangguk dan menyapu sekeliling ruangan ini dengan matanya sambil menyesap minuman. “Jadi, sebagian besar waktumu dihabiskan di sini? Menjauhi ingar-bingar kehidupan anak konglomerat?”

Jagat tersenyum. “Nggak banyak yang tahu tentang latar belakangku. Ketika kamu bilang kalau aku ini anak konglomerat, itu sudah membuktikan kalau kamu bukan dari kalangan biasa.”

“Aku anak sulung dari keluarga Bratakusuma. Pernah dengar?”

Lelaki itu mengangguk santai.

“Kalau tidak salah … sekilas yang kulihat tadi, perempuan yang kamu lukis mirip denganku.”

Jagat berdeham pelan, kemudian meneguk minumannya banyak-banyak. “Kamu mungkin salah lihat.”

“Aku berteman akrab dengan Seno. Sehari setelah ia menyelenggarakan pameran itu, aku main ke rumahnya. Hanya kunjungan sahabat lama. Dan ia mengajakku ke ruangan khusus yang menyimpan koleksi barang-barang antik miliknya, dan empat lukisanmu ditempatkan di sana, seolah hanya ia yang boleh menikmati lukisan itu sendiri. Aku kaget bukan main saat lukisan perempuan telanjang itu punya wajah yang mirip sekali denganku.”

“Aku minta maaf, Shangrila.” kata Jagat dengan cepat. “Aku benar-benar nggak ada maksud untuk melecehkan kamu atau apapun itu. Sama sekali nggak. Aku … cuma … gini, aku tahu kamu nggak akan percaya ini, tapi jauh sebelum kamu ke sini, aku sering mimpi wajah perempuan yang aku nggak tahu kalau dia mirip kamu. Aku merasa … dia cocok untuk projek lukisanku selanjutnya. Kupikir, mana ada orang yang mirip dengan perempuan yang kulukis–toh dia hanya muncul dalam mimpi. Kalau tahu kalau di dunia ini ada orang yang mirip dengan perempuan dalam mimpi itu, aku berani bersumpah tidak akan mau melukisnya! Aku benar-benar minta maaf.

“Kalau kamu mau aku bakar semua lukisan itu, bahkan yang sudah dibeli oleh Seno sekalipun, aku akan lakukan. Kamu boleh nggak maafin aku, yang penting kamu nggak malu lagi. Dan sejauh ini, yang membeli lukisan itu cuma Seno. Nggak ada yang lain. I swear to God, i am not lying to you! Atau … atau kamu bilang sekarang–apa yang bisa aku lakukan supaya kamu nggak malu.”

Bukannya marah atau mencakar wajah Jagat seperti yang lelaki itu bayangkan, Shangrila malah duduk di pangkuan lelaki itu, melingkarkan tangannya di leher Jagat, dan tanpa ragu mengecup bibirnya. Jagat mati kutu, tapi ia tak mengelak.

“Memangnya aku kelihatan seperti orang marah?”

Jagat merasakan kalau otaknya seperti tidak berfungsi selama sepersekian detik. Memang, Shangrila tidak menampakkan wajah marah dan menyuruh Jagat menarik semua lukisan perempuan telanjang yang wajahnya kebetulan sangat mirip dengannya, tapi tetap saja ia tak paham mengapa perempuan itu tidak marah atau paling tidak malu.

“Kamu nggak perlu bohong. Kalau memang malu, itu wajar. Dan aku bakalan langsung menarik semua lukisan itu.” Jagat masih berusaha mengendalikan diri dan menjawab dengan waras setelah apa yang dilakukan oleh Shangrila barusan.

“Aku sama sekali nggak malu, justru aku senang kalau wajahku diabadikan dalam lukisan.”

“Orang tuamu bisa saja marah.”

“Orang tuaku nggak sekaku itu. Lagipula, mereka nggak terlalu peduli apa yang kulakukan. Selama itu nggak merugikan perusahaan dan mengancam harta mereka, aku bebas lakukan apa saja.”

“Bagaimana kalau temanmu tahu? Kekasihmu?”

“Aku nggak punya teman. Orang-orang berteman denganku dengan kepalsuan–semata-mata untuk bisa bekerja di perusahaan keluargaku atau paling tidak kecipratan sedikit uang dariku untuk hidup mereka yang pura-pura mewah di media sosial. Soal kekasih … aku juga tidak punya.” Shangrila terkekeh, menatap mata Jagat tepat. “Aku nggak akan menciummu kalau aku sudah punya kekasih, bukan?” Perempuan itu kemudian pindah posisi duduk menjadi di sebelah Jagat tepat, tidak lagi di pangkuannya.

“Jadi, kamu mau aku apa sekarang?”

Shangrila menggeleng pelan. “Nggak ada. Kecuali mungkin … berkenalan denganku. Kenapa kita nggak berteman? Temanmu cuma Agas, dan aku nggak punya satu pun.”

“Selama kamu nggak mengganggu pekerjaanku, silakan datang kapanpun kamu mau.” Setelah mengatakan itu, Jagat pindah tempat duduk. Kini ia sudah ada di depan kanvasnya, siap melanjutkan lukisannya. “Jadi, lukisan ini boleh aku lanjutkan menggunakan wajahmu? Atau kamu mau wajahnya diganti saja? Aku janji ini lukisan yang terakhir.”

“Kenapa harus jadi yang terakhir? Kalau kamu butuh aku sebagai model, aku bisa menyanggupi itu.”

Jagat berdeham pelan, tidak menjawab. Merasa kalau mungkin saja lelaki itu salah paham, Shangrila buru-buru menjelaskan, “Maksudku–bukan model telanjang. Kamu bisa pakai ekspresi wajahku saja untuk lukisanmu.”

“Kayaknya kamu harus pulang.”

Shangrila tersenyum kemudian meninggalkan kartu namanya di meja dekat sofa. “Siapa tahu kamu mau pesan buket bunga. Aku florist, by the way. Kapan-kapan aku datang lagi.” Setelah mengatakannya, perempuan itu melenggang meninggalkan Jagat yang kembali sendiri. Pintu yang baru saja tertutup itu mengeluarkan aroma parfum mawar yang ia yakini itu adalah parfum yang dikenakan oleh perempuan itu. Jagat menatap pintu ruangannya dengan dahi mengernyit. Perempuan itu hampir sama seperti Seno–kedatangannya misterius, seperti tamu tak diundang dan masing-masing meninggalkan kesan yang beragam.

Jagat mengambil ponselnya kemudian menelepon Agas. “Gas, minta tolong cari informasi lengkap tentang Seno dan perempuan barusan, namanya Shangrila. Mereka cuma kenal doang atau kerja sama. Minta bantuan Pak Beni kalau kesusahan. Maksimal seminggu udah kelar, kira-kira bisa nggak?”

“Bisa, Bang. Aman.”

….

Menurut hasil penelusuran Agas dan Pak Beni, tidak ada kecurigaan yang berdasar atas kedekatan Shangrila dan Seno. Tidak ada fakta apapun di lapangan yang bisa dihubungkan menjadi satu kesatuan teori bahwa keduanya bersekongkol mengacaukan kehidupan Jagat. Shangrila dan Seno memang dekat, tapi hubungan mereka hanya hubungan pekerjaan. Seno mengelola sebuah agensi model dan Shangrila pernah menjadi salah satu model terbaiknya selama lima tahun berturut-turut sebelum akhirnya ia memilih berhenti dan menjadi florist untuk membuat hidupnya lebih privat dan bukan untuk konsumsi publik. Setelah Shangrila tidak lagi bekerja sebagai model di bawah naungan agensi milik Seno, pertemuan mereka bisa dihitung jari. Paling banyak hanya lima kali dalam setahun.

Ketiadaan bukti yang cukup untuk menuduh Shangrila dan Seno bersekongkol membuat Jagat mengenyahkan asumsi itu. Walaupun ia masih merasa tidak enak pada perempuan itu karena sudah menggunakan wajahnya sebagai model dari lukisan telanjangnya dan Shangrila tidak merasa malu karenanya dan membuat Jagat semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan, ia tidak bisa berbuat banyak sebab ia sudah mengerahkan banyak waktu dan tenaga selama sekian minggu untuk menyelidiki mereka berdua dibantu Agas dan Pak Beni–membuatnya tidak bisa melukis selama masa itu, padahal tadinya ia hanya menargetkan bahwa masalah penyelidikan ini akan berakhir dalam seminggu, tapi karena ia masih merasa ada banyak hal yang perlu digali dan diketahui, ia memperpanjang masa penyelidikannya, dan sekarang ia kelihatan seperti penguntit konyol kurang kerjaan.

Maka dari itu, Jagat memutuskan untuk menutup dan mengubur segala kecurigaannya pada mereka berdua dan fokus pada pekerjaannya sebab tadi pagi ada seorang Ibu yang datang kepadanya, memintanya melukiskan anak lelakinya yang sudah meninggal sebulan yang lalu supaya ia bisa terus mengingatnya. Awalnya Jagat ingin menolak karena ia kurang suka kalau harus melukis apa yang dipesan oleh pembelinya, tapi melihat sang Ibu memohon sampai menangis-nangis dan harus ditenangkan oleh Agas, bahkan Ibu itu mengatakan bahwa ia rela membayar tiga kali lipat lebih besar dari harga jasa melukis di luaran sana, Jagat merasa iba dan akhirnya setuju. Bukan karena uang, tapi karena sedetik sebelum ia menolak Ibu itu untuk ketiga kalinya, ia sadar bahwa dari sini ia bisa merasakan perasaan yang lain sekaligus belajar. Ia tidak pernah melukis orang yang sudah meninggal sebelumnya sebab tak ada alasannya untuk melakukan itu sekalipun ia mengalami beberapa kali kehilangan dalam hidupnya.

Namun, tantangan itu datang hari ini, dan ia ingin belajar bagaimana dirinya bisa mengatasi perasaan apa yang akan ia rasakan saat melukisnya nanti, baginya itu semua adalah pengalaman baru yang tidak salah untuk dicoba. Maka, di sinilah ia. Di ruangannya melukis, menghadap canvas berukuran 10R dan di sampingnya sudah ada sebuah foto anak lelaki berusia 17 tahun yang sebulan lalu meninggal karena kecelakaan tunggal yang ia alami sepulang sekolah. Ibu itu tidak memintanya melukis anaknya persis dengan foto yang ia berikan pada Jagat. Lelaki itu bebas melukis anaknya seperti apa, yang jelas wajahnya tidak boleh diubah dan selama posenya masih wajar.

Membuang napas, Jagat baru saja mendapatkan ide untuk melukis wajah riang remaja lelaki itu ketika akhirnya ia lulus SMA.

Ada perasaan aneh yang dirasakannya sekarang. Semacam perasaan sedih–seolah kehilangan yang dirasakan oleh sang Ibu sekarang terserap olehnya, membuatnya harus menyetel lagu-lagu riang supaya ekspresi wajah remaja lelaki itu menjadi riang, bukannya sendu karena terbawa perasaan pelukisnya. Ia juga melukis wajah sang Ibu sedang duduk di sebelahnya, seolah mereka sedang berfoto bersama beberapa jam setelah anaknya dinyatakan lulus dari SMA.

Lukisan itu akhirnya selesai dalam kurun waktu 108 jam. Jagat sampai menghabiskan lima gelas kopi untuk menyelesaikannya tepat waktu sebelum vibes yang dengan susah payah ia bangun menghilang seketika. Kantung matanya bertambah tebal ketika akhirnya ia selesai dengan lukisannya. Agas ditelepon olehnya untuk selanjutnya diteruskan pada kontak sang Ibu–memberitahukan kepada wanita itu bahwa lukisannya sudah selesai dan bisa diambil.

Ibu itu menangis terharu dan menyalami Jagat sambil mengatakan terima kasih berulang kali saat menjemput lukisan anaknya. Ia sampai bilang bahwa ini adalah hari paling menyenangkan yang pernah ia rasakan setelah kepergian anaknya yang kedua. “Sekarang aku bisa menjalani hidup dengan tenang. Ya. Aku bisa kembali menjalani hidupku. Anakku sudah lulus. Ia sudah tenang di sana.” Ibu itu mengangguk-angguk, seolah memberi sugesti pada diri sendiri.

Ia kemudian menyerahkan sejumlah uang yang jumlahnya tiga kali lipat dari yang ia janjikan dan Jagat hendak mengembalikannya, tapi sang Ibu menolaknya lalu buru-buru meninggalkan galeri itu sambil memasukkan lukisan anaknya ke mobil dibantu oleh Agas.

Baru saja mobil itu meninggalkan galerinya, sebuah mobil lainnya datang dan kali ini, sosok Shangrila keluar dari kursi kemudinya. Ia memberikan kunci mobilnya pada Agas dan minta tolong untuk memarkirkan mobil itu di tempat yang lebih aman. Agas mengangguk saja dan melakukan apa yang diperintahkan perempuan itu.

“Pelangganmu barusan?”

Jagat mengangguk.

“Lukisan mana yang ia beli?”

“Dia datang untuk mengambil lukisan anaknya yang sudah meninggal sebulan yang lalu.”

“Kukira kamu nggak menerima pesanan lukisan?”

“Hanya sekali. Ibu itu adalah pengecualian.”

“Karena?”

“Karena aku belum pernah melukis orang yang sudah meninggal. Aku cukup banyak belajar dari pelanggan barusan.” Jagat kemudian berbalik dan menuju ruangannya, diikuti oleh Shangrila di belakangnya, dan Agas yang berjalan cepat untuk mencapai meja kasir setelah memarkirkan mobil perempuan itu di tempat paling aman di galeri yang berada di ketinggian ini.

“Kalau begitu, kamu akan dapat pelanggan yang kedua.” kata Shangrila dan menarik sebuah kursi kemudian duduk di sana. “Bagaimana aku harus berpose supaya tampak bagus di lukisanmu nanti?”

Jagat mendengus pelan. “Memangnya masih belum cukup wajahmu kupakai untuk model lukisan perempuan telanjangku?”

“Belum. Buatlah versi aku yang berpakaian lengkap. Khusus untuk koleksiku sendiri. Aku akan membayarmu mahal, walaupun aku tahu, uang tidak terlalu penting untuk anak konglomerat sepertimu.”

Jagat tidak langsung menjawabnya. Ia hanya duduk di sofanya, menyeruput kopi yang hanya diberi gula sepucuk sendok teh, dan menatap Shangrila lekat-lekat–memperhatikannya yang masih berpikir tentang pose apa yang harus ia praktekkan.

“Kalau mau dilukis, lebih baik kamu serahkan saja fotomu ke pelukisnya, nggak perlu duduk berjam-jam sampai lukisanmu selesai.”

“Aku mungkin akan melakukannya dengan pelukis lain, tapi nggak dengan kamu. Aku ingin melihat bagaimana kau melukisku secara langsung. Bukannya ini hal paling romantis yang bisa dilakukan oleh pelukis? Apa coba yang lebih intim dibanding ini?”

Jagat mengangkat bahunya ringan. Ia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil salah satu kanvas ukuran 10R dan mulai memasangnya di meja lukisnya. Biasanya ia akan membelakangi Shangrila ketika melukis, tapi sekarang ia berhadapan dengan perempuan yang akan ia lukis, yang dengan sukarela menjadikan dirinya sebagai objek lukisananya.

“Bergerak sedikit saja, hasilnya akan beda. Kamu bakalan capek dan pegal-pegal, dan belum terlambat kalau kamu mau berubah pikiran.”

Shangrila tersenyum dan mengangkat bahunya. Ia mulai berpose dengan nyaman. Hanya menyilangkan kakinya dan duduk dengan punggung tegak, tatapannya lurus menatap Jagat seolah sepasang mata lelaki itu adalah kamera yang akan mengabadikan setiap bentuk dirinya. “Aku pernah jadi model, dan aku nggak akan menyesalinya. Kamu bisa mulai sekarang.”

“Oke, kalau memang itu maumu.”

Jagat perlahan mulai melukis perempuan itu dan berulang kali secara bergantian harus memandang ke arah Shangrila dan kanvasnya. Perempuan itu tidak berbohong bahwa tidak ada yang lebih intim daripada melukis seorang perempuan yang kau tahu kau akan jatuh dalam pesonanya cepat atau lambat.

Jagat lupa kapan terakhir kali ia jatuh cinta pada perempuan sampai pikirannya hanya dipenuhi oleh perempuan itu. Yang ia ingat hanyalah … momen itu sudah lama sekali. Dan untuk kesekian kalinya, ia kembali merasakannya, bersama Shangrila. Lantaran usianya sudah sangat matang untuk menikah, maka terang-terangan ia berkata pada perempuan itu–kalau ia melamarnya untuk menikah dengan Jagat, apakah Shangrila akan menerimanya. Pada sebuah acara makan malam romantis yang hanya dihadiri mereka berdua diiringi dengan alunan musik jazz yang memberikan kesan romantis yang natural, tanpa ragu, dengan malu-malu perempuan itu mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jagat tersenyum sumringah. Malam itu juga sepulang dari makan malam, ia langsung membawa Shangrila ke salah satu toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan mereka.

Hari-hari selanjutnya, mereka berdua disibukkan dengan acara pernikahan yang hanya akan mengundang keluarga inti dan beberapa kolega penting dari kedua belah pihak. Tidak ada media yang diperbolehkan meliput acara itu untuk tetap menjaga privasi kedua belah pihak dan untungnya, orang tua Shangrila dan Jagat tidak masalah dengan itu. Mereka tidak haus pengakuan publik pada pencapaian yang dicapai anak-anak mereka, sehingga Jagat dan Shangrila punya keleluasaan sendiri untuk merancang pernikahan ala mereka sendiri.

Jagat bahkan berinisiatif untuk melukis sendiri foto pre-weddingnya. Ia hanya membutuhkan foto Shangrila saat mengenakan gaun prewedding dan selebihnya, Jagat yang akan mengeksekusi pose itu sesuai imajinasinya sendiri–membuatnya sedekat mungkin seperti foto pre-wedding hitam putih, padahal semuanya adalah hasil tangan salah satu mempelainya. Selama proses melukis itu pula, Shangrila selalu datang ke galerinya untuk menemaninya makan–sebab Jagat bisa lupa makan bila tak ada orang yang secara langsung mengajaknya makan secara langsung.

Karena galeri itu sangat luas dan letaknya berada di ketinggian dengan pemandangan bukit di belakangnya, dan jika malam kau bisa melihat keadaan jalanan kota dan lampu-lampu gedung serta kendaraan yang lalu lalang, dan karena Jagat lebih banyak tidur di sana daripada rumah masa kecilnya, maka galeri itu sendiri sudah dilengkapi dengan rumah dan fasilitasnya yang lengkap. Bahkan di bagian belakang terdapat kolam yang kanopinya bisa dibuka tutup menggunakan remote apabila sewaktu-waktu ingin berenang saat cuaca terlalu terik atau sedang hujan. Rumah dan galeri itu bukan saja artistik, tapi juga memberikan kesan mewah dan elegan.

Sebagai seseorang yang suka dengan seni, Shangrila tidak keberatan kalau harus tinggal satu lingkungan dengan galeri tempat suaminya bekerja dan menghabiskan waktu. Justru menurutnya, itu adalah nilai plus untuk kesan romansa mereka berdua. Mengenai pekerjaannya sebagai florist, Jagat memperbolehkannya tetap melakukan apapun yang ia inginkan, apapun yang ia suka, selama Shangrila tidak mengabaikan kesehatan dan waktu kebersamaannya dengan Jagat, lelaki itu akan mendukungnya.

Pernikahan mereka berlangsung dengan tenang dan diakhiri dengan bulan madu ke Bali selama tujuh hari tujuh malam di salah satu villa di daerah Ubud. Tadinya, Jagat hanya ingin bulan madu tiga hari dua malam, tapi karena ia baru sadar tidak pernah mengambil cuti kerja, ia memutuskan untuk memperpanjang bulan madu itu supaya ia bisa sekalian ambil cuti dan Shangrila tidak masalah.

Semua orang pasti tahu bahwa malam pertama sebagai sepasang pengantin adalah malam yang tak pernah terlupakan. Malam pertamanya dengan Shangrila memang berkesan, dan ia bersumpah bahwa itu adalah malam yang paling indah dan kalau ia harus mengulangnya sampai seribu kehidupan selanjutnya, ia tanpa pikir panjang akan menyetujuinya. Walaupun begitu, Jagat tetap terbangun di pagi hari yang seketika membuatnya cemas ketika baru membuka mata. Bukan karena Shangrila tak ada di sebelahnya, tapi justru karena perempuan itu masih tidur di sebelahnya dengan damai, perasaan bersalahnya semakin mendalam.

Pagi itu, sengaja ia tidak membangunkan bininya dan beranjak ke luar villa hanya untuk menelepon Seno pagi-pagi.

“Halo, Jagat. Cukup kaget melihat nomormu meneleponku pagi-pagi begini. Bukannya pengantin baru memang sewajarnya bangun menjelang siang? Kudengar kau dan Shangrila bulan madu di Bali. Selamat atas pernikahannya. Sayang sekali mungkin kalian lupa mengundangku, tapi nggak masalah.”

“Kamu masih menyimpan lukisan-lukisan perempuan telanjang yang kamu beli dariku?”

“Tentu saja. Lukisanmu bagus. Mana mungkin aku merelakannya untuk orang lain.”

“Aku ingin membeli lukisan-lukisan itu kembali. Katakan saja berapa nominalnya. Akan aku tebus secepatnya.”

“Kamu lagi butuh uang ya? Ah, aku lupa. Kamu nggak pernah ada di posisi itu. Lantas, hanya karena dia sekarang binimu, kamu minta semua lukisan itu kembali padamu?”

“Ya. Katakan saja berapa nominalnya.”

“Bayar aku sepuluh kali lipat dari harga sebelumnya. Tapi jangan minta sepeser pun bantuan uang dari orang tuamu. Kamu harus menghasilkan uang itu dari hasil menjual lukisanmu. Aku tahu itu mudah buat kamu, Jagat. Kamu itu pelukis berbakat. Aku beri kamu waktu … dua bulan. Lewat dari itu, lukisannya akan aku pajang di kantor supaya semua orang tahu kalau perempuan telanjang itu sekarang jadi binimu sendiri. Gimana?”

“Kamu pasti nggak mau memperpanjang deadlinenya, kan? Jadi, nggak ada gunanya kalau aku menawar. Oke. Aku terima tantanganmu. Dan kamu juga harus tepati janjimu begitu aku sudah siapkan uangnya. Pulang dari Bali, aku akan segera kirimkan perjanjian soal ini untukmu.”

“Aku tunggu. Dan kamu baru bisa bekerja setelah kita berdua menandatangani kontrak itu.”

“Oke.”

Jagat menjadi orang yang berbeda ketika ia pulang dari Bali. Ia tidak bertingkah semanis saat bulan madu. Shangrila tidak mengetahui apa yang dipikirkan lelaki itu dan apa yang akan dilakukannya setelah sampai di rumah, yang jelas, ia banyak berdiskusi dengan Agas sehari setelah mereka pulang dari Bali. Ia tampak menandatangani selembar kertas yang sepertinya penting kemudian menyuruh Agas memberikannya pada Pak Beni dan Pak Beni yang akan mengirimkannya pada seseorang yang dituju oleh Jagat, yang sayangnya tidak diketahui oleh Shangrila. Setiap kali ia bertanya Jagat sedang mengerjakan apa, lelaki itu hanya menjawab singkat: urusan pekerjaan.

Tidak ada kecupan di bibir ketika Jagat bangun lebih dulu. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang ketika menyiapkan sarapan, tidak ada yang tiba-tiba menciumnya di dapur. Apa yang mereka sebut sebagai bulan awal yang manis dan panas dari pernikahan, hanya terjadi seminggu pertama saja. Setelahnya, Jagat lebih sering keluar bersama Agas dan pulang membawa banyak sekali kanvas dan peralatan lukis, mengangkutnya satu per satu menuju ruangannya.

Ia menjadi orang yang bangun lebih pagi dari ayam dan tidur di ujung malam menjelang pagi. Ia semakin tidak sempat menemani Shangrila sarapan bersama, menanyakan harinya, menanyakan pekerjaannya, terlibat dalam obrolan kecil. Ia hanya sempat membuat kopi untuk dirinya sendiri, kemudian membeli makanan instan yang bisa dimasak sendiri di ruangannya tanpa menunggu istrinya memasakkan untuknya. Bahkan saat makan malam, Jagat adalah orang yang makan paling cepat, menjawab pertanyaan paling cepat, menjawab obrolan pendek-pendek, dan setelah mencuci piring kotornya, ia kembali ke ruangannya alih-alih menemani Shangrila duduk di ruang tengah menonton TV atau kembali ke kamar mereka membaca buku atau sekadar berbincang-bincang atau bahkan bercinta lagi seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.

Seminggu berlalu, Jagat semakin lupa kamarnya dimana. Ranjang besar itu terasa sangat lengang dan dingin tanpa Jagat di sisinya sebab lelaki itu lebih sering tidur di ruangan lukisnya supaya tidak perlu berjalan melewati lorong panjang dari kamar menuju ruangan itu–supaya ia bisa menghemat waktu dan sisa waktu itu bisa digunakan untuk melukis lebih banyak lukisan. Shangrila memang menikahi Jagat, tapi semakin lama, sosoknya semakin asing. Bahkan Jagat menolak bercinta dengannya sekalipun Shangrila sudah berusaha menggodanya dengan membeli beberapa lingerie terbaru, termahal, dan yang paling seksi sekalipun. Secantik dan semolek apapun bentuk tubuhnya, Jagat seolah tak tergiur sama sekali, tidak seperti saat mereka bulan madu di Bali.

Dari Agas, Shangrila kemudian tahu bahwa sekarang suaminya mulai mau menerima lukisan pesanan dari beberapa klien. Ia tidak tampak seperti orang yang melukis karena ia menyukainya, tapi ia melukis seperti orang kesetanan dan butuh uang. Shangrila curiga ia punya perempuan lain di ruangan melukisnya, atau mungkin ia terlibat judi dengan salah satu teman entah yang mana. Maka dari itu, ketika Jagat mandi, Shangrila diam-diam masuk ke ruangan itu–yang tampak seperti rumah kosong yang ditinggal puluhan tahun saking berantakannya, dan berusaha mencari bukti perselingkuhan ataupun perjudian.

Tapi bahkan sampai Jagat selesai mandi dan kembali ke ruangannya dengan ekspresi wajah yang tidak terkejut dengan kelakuan istrinya, Shangrila tetap tidak bisa menemukan bukti apapun untuk membuktikan bahwa asumsinya benar. Sekarang perempuan itu bingung–siapa yang harus disalahkan dari perubahan sikap Jagat yang sangat drastis.

“Kamu kelihatan seperti orang yang mencari sesuatu. Sedang cari apa?” tanya lelaki itu sembari mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk yang dililitkan di leher.

“Sedang mencari bukti perselingkuhan atau perjudian yang mungkin kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”

“Kenapa kamu pikir aku melakukannya? Karena sepulang dari Bali aku berubah jadi orang lain?”

“Tentu saja, Apalagi memangnya?”

“Tapi kamu nggak menemukan satu buktinya, kan? Berarti aku nggak melakukannya.”

“Siapa tahu kamu menyembunyikannya di suatu tempat karena kamu tahu kalau hari dimana istrimu akan curiga oleh perubahan sikapmu akan terjadi juga. Siapa juga yang mau ketahuan selingkuh dan terlibat perjudian, Jagat? Itu adalah dua hal yang merusak harga dirimu sebagai lelaki. Dan nggak ada lelaki yang mau harga dirinya diinjak seperti keset.”

“Periksa tasku, jaketku, brankasku, dan mobilku kalau kamu masih curiga. Kata sandi brankasku adalah hari pernikahan kita. Kalau masih nggak percaya juga, kamu bisa tanya Agas dan Pak Beni. Toh, aku nggak akan marah atau memarahimu. Wajar kalau kamu curiga, karena aku juga tahu kalau aku memang berubah. Dan perubahan ini memang sengaja kulakukan untuk menjaga kehormatanmu sebagai istriku dan sebagai seorang perempuan. Tapi setelah semuanya selesai, aku akan kembali seperti dulu. Aku janji.”

Shangrila terkekeh pelan sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Kamu bahkan merencanakannya tanpa memberitahuku penyebabnya apa? Hebat sekali kamu, Jagat! Kamu pikir aku ini siapa? Aku ini istrimu atau hanya pajangan? Kamu sendiri yang bilang kalau kita harus saling cerita supaya kalau ada masalah, kita bisa cari jalan keluarnya sendiri, tapi sekarang apa? Kamu sok jagoan! Kamu seolah nggak butuh bantuanku. Kamu bahkan nggak menganggapku ada.”

Jagat terdiam selama sepersekian detik, baru menyadari kesalahannya sendiri. Ia pikir, sebagai lelaki, ia akan tampak bijaksana ketika mampu menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri tanpa memberitahu dan melibatkan istrinya. Ia hanya tidak mau Shangrila menghalangi rencananya karena sejak awal, perempuan itu bahkan tidak masalah kalau ia dilukis telanjang dan lukisannya dibeli oleh lelaki, bahkan mungkin ia tidak masalah kalau lukisannya dibeli oleh lelaki hidung belang dan tua bangka bau tanah sekalipun ia sudah bersuami. Shangrila tidak memedulikan kehormatannya sebagai perempuan dan istri, menurut Jagat, maka peran itulah yang coba ia ambil karena lukisan itu berasal dari dirinya sendiri. Jagat sendiri yang memutuskan untuk melukis wajah perempuan yang selalu muncul dalam mimpinya secara jelas.

Ia berpikir bahwa apa yang ia lakukan untuk Shangrila akan membuat perempuan itu terkesan dan memahami pilihannya pada akhirnya, tapi rupanya, apa yang Jagat yakini benar, belum tentu benar di mata istrinya.

“Aku minta maaf,” ucap lelaki itu sembari menunduk dan membuang napas pelan. “Aku salah. Tapi tolong, sekali ini aja kamu biarin aku menyelesaikan masalah ini sendirian. Karena masalah ini aku sendiri yang membuatnya, jadi aku yang harus menyelesaikannya. Aku nggak mau melibatkan kamu karena kamu bukan bagian dari masalah ini.”

Shangrila tidak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap lelaki itu dengan air mata yang mengalir deras di pipi. Ia menghapus jejak air mata itu dengan kasar dan meninggalkan ruangan suaminya dengan dada yang terasa seperti dicabik-cabik.

“Fuck!” kata Jagat tertahan. Ia mengambil vas bunga yang ada di salah satu meja kemudian melemparkannya ke tembok–dalam sekejap membuatnya hancur berkeping. Ia mengangkat salah satu kursi kayu dan membantingnya juga.

Ia tidak ingin memberitahu Shangrila tentang rencananya karena perempuan itu pasti akan mencegahnya bekerja keras untuk bisa membeli semua lukisan perempuan telanjang berwajah istrinya yang telah dibeli oleh Seno. Jagat tidak menceritakan rencananya pada istrinya sebab perempuan itu tidak menganggap masalah sebagai masalah besar–bahkan ia tidak menganggap lukisan-lukisan memalukan itu sebagai masalah. Ia akan tetap melihatnya sebagai seni erotik yang indah, tapi Jagat tidak bisa melihatnya seperti itu. Ia tidak bisa tinggal diam sebagai suami ketika tahu ia telah menjual lukisan telanjang perempuan yang telah menjadi istrinya. Padahal kalau saja Shangrila mau menganggap hal ini sebagai masalah, Jagat pasti lega.

Bukannya memperbaiki hubungannya dengan Shangrila, Jagat malah lebih keras bekerja. Dalam sehari, ia bisa mengerjakan tiga sampai empat lukisan sekaligus. Ia menggunakan segala macam cara untuk bisa tetap terjaga nyaris 24 jam. Penampilannya semakin kurus dengan kantung mata semakin tebal. Agas sudah menegur, menyuruhnya istirahat selama beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya, tapi lelaki itu seolah tidak mendengar apapun. Shangrila sudah berusaha membujuknya, tapi Jagat juga tidak mendengarkan. Ia hanya makan ketika Shangrila nyaris membunuhnya dengan tatapan mata yang memerah dan berkaca-kaca. Ia hanya tidur ketika Shangrila datang sambil membawa pisau dapur ke ruangannya–mengancam Jagat bahwa ia akan mengiris putus lehernya kalau lelaki itu tidak istirahat barang tiga jam saja.

Uang yang dihasilkan oleh Jagat memang banyak, tapi belum menyentuh angka yang telah disepakati oleh Seno. Jagat menolak untuk menawar harganya karena ia takut kalau Seno malah tidak akan memberikan lukisan itu padanya. Tubuhnya semakin melemah, tapi Jagat tetap memacunya sampai batas kemampuannya. Pada suatu pagi yang mendung, pintu ruangannya susah dibuka oleh Shangrila. Terkunci dari dalam. Ia meminta bantuan Agas untuk membukanya dengan kunci cadangan, tapi tidak bisa juga. Akhirnya, Agas dan Pak Beni mendobrak pintu yang terbuat dari kayu jati itu, dan menemukan Jagat sudah dalam keadaan terlentang di lantai ruangannya. Tubuhnya kaku dan dingin, napasnya mulai memendek, ia kehilangan kesadaran sepenuhnya. Shangrila yang panik langsung menyuruh Agas dan Pak Beni menemaninya ke rumah sakit, tapi sayang sekali, Jagat tidak selamat. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit tepat di pangkuan istrinya, tanpa bisa mengatakan pesan apapun.

Pagi itu tanggal 15 Maret adalah hari yang akan diingat oleh keluarga besar Jagat. Bagaimana bisa anak seorang konglomerat paling kaya di Indonesia meninggal karena terlalu bekerja keras sebab ia membutuhkan uang. Karena tidak mau dianggap konyol dan dianggap menelantarkan salah satu anak kebanggaannya, orang tua Jagat sengaja bilang bahwa penyebab kematiannya adalah kecelakaan tunggal. Sebagai istri dan asisten pribadi, baik Shangrila dan Agas dilarang bicara yang sejujurnya kepada para pelayat.

Sore hari itu juga, abu Jagat yang telah dikremasi, langsung dilarung di salah satu pantai yang memang khusus untuk melarung abu orang meninggal. Shangrila merasakan bahwa air matanya telah kering, kepalanya terasa berat, dan semuanya menjadi gelap. Hal terakhir yang ia lihat sebelum semuanya gelap adalah sosok Jagat yang mengenakan kemeja putih sedang tersenyum ke arahnya dengan wajah paling cerah yang pernah ia lihat sambil mengatakan “maaf” lewat gerakan mulutnya.

Tiga tahun setelah kepergian Jagat, keluarga intinya, yaitu orang tua yang telah menua dan kedua kakaknya, memutuskan pindah ke Norwegia. Di Indonesia hanya tinggal sanak saudara saja. Bisnis mereka di Indonesia tetap dijalankan oleh orang-orang kepercayaan, mereka hanya ingin menikmati hari tua di tempat yang saat Jagat masih hidup sempat dipilih sebagai tempat paling manusiawi untuk menghabiskan hari tua.

Karena tidak ada lagi yang menghasilkan lukisan semacam Jagat, Agas memutuskan resign dan pulang ke kota kelahirannya untuk menikah dengan seorang perempuan yang dijodohkan orang tuanya. Yang tinggal di rumah itu kini hanya Shangrila didampingi Pak Beni sebagai satpam sekaligus sopir pribadi yang kerap mengantarnya belanja ke swalayan atau ke tempat kerjanya sebagai florist.

Hubungan Shangrila dengan Seno semakin erat semenjak kepergian Jagat. Awalnya, Shangrila menceritakan penyebab kematian Jagat yang sengaja ditutupi oleh keluarganya di depan para pelayat untuk menjaga imej, dan karena itulah, Seno menceritakan semuanya.

“Ini tampak membuatku seperti pembunuh Jagat secara tidak langsung,” ujar lelaki itu.

Shangrila menggeleng. “Sama sekali nggak. Jagat sendiri yang memilih membeli semua lukisan itu dan menyanggupi tantanganmu, padahal dia sudah kuberitahu sejak kami belum menikah bahwa aku sama sekali tidak masalah dengan lukisan itu. Toh, lukisan itu dibuat jauh sebelum aku datang ke kehidupannya, jadi itu bukan salahnya yang melukis wajahku sebagai model untuk lukisan perempuan telanjangnya. Lagipula, aku suka lukisannya.”

“Jagat nggak menceritakan tentang rencananya padamu karena mungkin ia tahu kalau kamu pasti akan menghalanginya untuk membeli semua lukisan itu. Dia menganggap ini sebagai masalah, sementara kamu enggak. Itulah kenapa komunikasi kalian terputus.”

Shangrila mengangguk lesu.

“Tapi, kalau aku jadi Jagat, kurasa aku akan melakukan hal yang sama.” kata Seno.

Shangrila tersenyum kecil, “Kenapa lelaki selalu ingin dianggap sebagai pahlawan karena sudah melindungi kehormatan perempuan? Padahal aku sebagai perempuan tidak meminta Jagat melakukannya.”

Seno mengangkat bahu ringan. “Mungkin dengan melakukannya, Jagat merasa lebih berguna dan boleh jadi ia ingin membuktikan padamu juga dirinya sendiri, bahwa ia layak disebut sebagai suamimu, sebagai lelakimu.”

“Aku tidak paham dengan jalan pikiran lelaki. Dulu sekali kalian berperang menjarah negeri lain, membasmi semua lelaki dan menawan semua perempuan untuk kalian kawini dan jadikan budak, tapi kalian tidak pernah merasa bersalah karenanya. Sekarang, ada segelintir orang seperti Jagat yang bekerja keras sampai mati konyol di usia muda hanya untuk menyelamatkan kehormatanku sebagai perempuannya. Kadang aku berpikir, siapa yang Jagat selamatkan? Aku sebagai properti miliknya atau aku sebagai orang yang ia cintai.”

“Pikiranmu rumit dan kompleks, tapi aku menyukainya.”

Shangrila hanya tersenyum kecil. Ia hendak menyesap winenya, tapi Seno sudah menarik lembut dagunya, mengarahkannya pada bibir lelaki itu. Perempuan itu tampak kaget selama sepersekian detik, sebelum akhirnya larut juga dalam permainan Seno. Seno datang di waktu yang tepat. Ia menyediakan jalan keluar bagi hasrat perempuan itu yang sudah bertahun-tahun diabaikan dan dibiarkan tidur di dasar yang paling dalam, sebab menurut Shangrila, perempuan yang sedang berduka dan baru saja kehilangan suaminya tidak akan pantas mendapatkan kebutuhan biologis dalam bentuk apapun dan dari siapapun. Ia harus fokus berduka dan mendoakan mendiang suaminya. Tapi, bersama Seno di atas ranjang yang pernah ia tiduri bersama mendiang suaminya, Shangrila tidak merasa bersalah ketika membiarkan lelaki itu melucuti pakaiannya satu per satu dan membuatnya telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir.

Di luar hujan deras malam itu. Seolah semua air yang diserap oleh awan dari laut dan danau ditumpahkan sekaligus pada malam itu, menjadikannya hujan yang paling deras sampai kau tak akan mendengar erangan sepasang kekasih di atas ranjang mereka ketika sedang bercinta. Seolah malam itu, semesta memang menyetujui apa yang keduanya lakukan.

Di atas lemari pakaian yang berada di sudut ruangan, arwah Jagat yang tidak akan bisa dilihat siapapun, duduk diam menyaksikan persetubuhan istrinya dan Seno–dengan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan dengan kata-kata. Ia tidak senang melihatnya, tapi juga tidak bisa marah karena sekarang ia adalah arwah. Hanya arwah. Ia tidak bisa langsung melompat dan menonjok Seno sampai lelaki tampan itu babak belur dan koma di ICU. Tangannya hanya bisa mengepal dan dadanya hanya dibiarkan semakin berat dan berat.

Merasa oksigen di sekitarnya menipis hingga membuatnya kesulitan bernapas, Jagat memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dengan langkah kaki yang gontai, sementara di belakang sana, erangan keduanya tak bisa disamarkan oleh derasnya hujan dan gemuruhnya petir. Keluar dari jalanan rumahnya, Jagat langsung bertemu jalan besar dimana kendaraan masih berlalu lalang tanpa henti sekalipun jalanan menjadi semakin licin dan kecelakaan bisa saja meningkat.

Dari arah kanan, ia melihat sebuah truk tronton yang melaju cukup kencang. Maka tanpa ragu, ia menghadap truk itu dan membiarkan tubuhnya yang telah menjadi arwah, ditabrak kencang oleh benda itu. Ia terpental sekian meter dan berguling-guling di jalanan setelah kepalanya lebih dulu menghantam jalanan, membuat tengkoraknya retak dan mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya hancur, nyeri, dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Beberapa kendaraan lain yang tidak melihat kehadirannya pun seolah berlomba untuk melindasnya, menjadikannya semakin remuk dan remuk.

Sebelum ia mati untuk kedua kali, ia menatap langit malam yang kelam dan merasa konyol. Bagaimana bisa aku yang sudah jadi arwah dan sudah mengalami kematian, tetap merasakan sakitnya kematian yang merenggutku untuk kedua kalinya, seolah aku sempat hidup lagi setelah kematian yang pertama.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Stay With Me
Shinee
Cerpen
Mati Dua Kali
Ida Ayu Saraswati
Novel
HO'OPNOPONO (I'M SORRY, FORGIVE ME, THANK YOU AND I LOVE YOU
chaidar asqolani achmad
Flash
My Lovely Friend
Mata Panda
Novel
Bronze
Rotation de I'Horloge
It's Fairy
Skrip Film
The Infinite Love Jilid II
Evita Fitria Sukma
Cerpen
Bronze
Moon Moon (Bulan yang Hilang)
HAMDAN
Novel
KORONA
Raja Muda Hasibuan
Novel
Bronze
Jika Aku Di Pelukmu
Miss Anonimity
Novel
Bronze
Covered Princess
Alifia Salsabilla Diastari
Skrip Film
Siswi cantik yang berada di kelas ku
Hendrysutiyono
Cerpen
Bagaikan Langit dan Bumi
Heni Fitriani
Novel
Novel ini adalah Usaha terakhirku untuk Jatuh Cinta
kayu manis
Skrip Film
Privilése
Yuvitalya
Flash
Bronze
Reuni
Hesti Ary Windiastuti
Rekomendasi
Cerpen
Mati Dua Kali
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Riak Berjarak
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Risalah Cinta
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Testosteron
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Undressed
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Di Balik Kacamata Hitam
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Guess The Next
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Love at Second Sight
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Waktu Terbalik di Denpasar Utara
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Smoke
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Tamu yang Tak Pernah Datang
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
The Sketch
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Love Letter
Ida Ayu Saraswati