Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Matched
1
Suka
54
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Siang itu, udara Bandung terasa sejuk dan menenangkan, namun suasana di Sweety Cake justru terasa memanas bagi Kinza Ulema Foujina. Wanita bertubuh mungil itu sedang berusaha menghabiskan nasi goreng pedasnya saat Irmi—sahabatnya—tiba-tiba menyodorkan ponsel tepat ke depan wajahnya dengan binar mata yang mencurigakan.

​"Fou, kamu harus lihat ini. Mine App," cerocos Irmi antusias. "Aplikasi ini lagi booming banget karena sistemnya beda. Kamu nggak bisa pilih sendiri, tapi algoritma mereka yang bakal jodohin kamu berdasarkan kriteria paling detail. Seratus persen akurat!"

​Fou menghentikan kunyahannya, lalu menelan nasi gorengnya dengan susah payah. Ia mengelap sudut bibirnya dengan tisu sebelum menjawab dengan nada datar.

​"Aku nggak minat, Mi. Pacaran itu investasi waktu yang buruk kalau nggak ada rasa. Aku lebih baik baca buku daripada main ginian," tolak Fou tegas.

​"Ayolah! Kamu sudah 22 tahun, jomblo dari lahir. Masa kamu mau kalah sama Arman yang sudah pacaran sama Fai?" Ucap Irmi tidak menyerah sembari menggoyang-goyangkan ponselnya di depan mata Fou.

​"Arman itu cuma kakak-kakakan aku, Mi. Lagian, aku belum ketemu orang yang bisa bikin jantung aku mau copot cuma karena satu tatapan. Itu saja standarku," sahut Fou santai. Ia menarik napas dalam sembari membenarkan letak pasmina abu-abunya yang sedikit miring.

​Tiba-tiba, tanpa izin, Irmi menyambar ponsel Fou yang tergeletak di atas meja.

​"Eh! Mi! Mau ngapain kamu?" Sentak Fou sambil tangannya mencoba menggapai ponsel, tapi Irmi lebih gesit menjauhkan ponsel itu.

​"Pinjam sebentar, jangan pelit!" Jemari Irmi menari lincah di layar ponsel Fou. "Nama... Kinza. Umur... 22. Tinggi... pendek tapi menggemaskan. Kriteria... yang tinggi, pintar masak, dan... submit!"

​"Irmi! Kembalikan ponselku! Itu privasi, tahu!" Ucap Fou mulai panik. Ia berusaha berdiri, tapi tinggi badannya yang hanya 150 cm membuatnya kesulitan menjangkau tangan Irmi yang sengaja diangkat tinggi-tinggi.

​Beberapa detik kemudian, sebuah teriakan melengking keluar dari mulut Irmi, membuat beberapa pelanggan kafe menoleh kaget.

​"GILA! BARU DAFTAR SUDAH LANGSUNG MATCHING!"

​"Irmi! Kamu benar-benar, ya!" Fou berhasil merebut ponselnya kembali. Jantungnya berdegup kencang saat melihat layar yang menampilkan logo emas Mine App dengan status yang berkedip-kedip: MATCHED!

​"Sialan kamu, Mi! Hapus sekarang!" Fou menggeram, jempolnya sibuk mencari tombol uninstall.

​"Nggak bisa, Sayang," Irmi tertawa menang, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan. "Aturan mainnya, aplikasi itu baru bisa dihapus setelah kencan pertama selesai. Kalau kamu bolos, datamu bakal kena blacklist permanen di seluruh jaringan alumni kampus. Kamu mau reputasimu hancur cuma gara-gara satu blind date?"

Fou mendengus, dadanya naik-turun menahan emosi. Ia baru saja menarik napas dalam, siap memarahi Irmi habis-habisan, namun niatnya tertahan saat mendengar denting lonceng di pintu masuk.

​Tring!

​Secara ajaib, keriuhan kafe yang tadinya dipenuhi suara tawa dan denting sendok perlahan mereda. Pintu kaca terbuka membawa embusan angin sejuk Bandung, mengiringi langkah seorang pria yang baru saja masuk. Sosoknya seolah punya magnet kuat, memaksa siapa pun di dalam ruangan itu untuk menoleh.

​Laki-laki itu mengenakan seragam chef putih bersih yang terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang segar. Tingginya mencolok, sekitar 180 cm.

​Wajah pria itu benar-benar perpaduan sempurna, garis rahangnya tegas khas bule Amerika, tapi mempunyai sorot mata hangat asli Indonesia. Ia melangkah dengan percaya diri, membuat keriuhan di kafe langsung hening seketika.

​"Kak Awan!" seru salah satu pelayan dengan wajah bersemu merah.

​"Duh, Chef Awan... tingkat gantengnya naik seribu persen kalau lagi pakai baju kerja," bisik seorang pengunjung di meja sebelah yang terdengar sampai ke telinga Fou.

​Fou yang tadinya kesal pada Irmi, tanpa sadar ikut terpaku. Garpu di tangannya tertahan di udara, sejumput nasi goreng hampir saja jatuh lagi ke piring. Matanya terkunci pada pria itu—Awan. Pria itu kini berdiri di depan kasir, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk meja kayu sambil memeriksa tumpukan nota pesanan.

​Deg.

​Ada satu denyutan aneh yang menghantam dada Fou. Ia bukan tipe perempuan yang gampang terpesona hanya karena wajahnya yang tampan, tapi melihat cara Awan tersenyum tipis saat menyapa stafnya, membuat Fou mendadak lupa cara mengunyah.

​"Fou? Kamu kenapa? Kok bengongnya sampai segitunya?" Irmi menyenggol lengan Fou, membuat Fou tersentak kaget.

​"Eh? Nggak... nggak apa-apa," jawab Fou gugup. Ia buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya sedalam mungkin ke layar ponsel sampai hidungnya hampir menempel di sana.

​Tepat saat itu, profil pria yang dijodohkan oleh aplikasi Mine App muncul di layar: Al-labib Ghazawan. Fotonya masih terkunci di balik gambar gembok emas, hanya ada keterangan singkat: owner & patissier.

​"Abib... pattisier?" gumam Fou pelan.

​Tring!

​Ponsel di genggaman Fou bergetar hebat. Sebuah pesan baru muncul di layar dengan huruf merah tebal:

​"Kencan pertama dikonfirmasi: Taman Pelangi Bandung, Pukul 20.00 WIB. Jangan terlambat!"

​Fou meremas ponselnya, ujung jarinya mendadak terasa dingin. "Mi, kencannya malam ini jam delapan di Taman Pelangi," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.

​Irmi langsung bersorak senang. "Tuh, kan! Algoritmanya nggak main-main. Sudah, jangan cemberut terus. Siapa tahu si Abib ini nggak kalah keren dari Chef Awan yang di depan itu."

​​Fou melirik ke arah kasir sekali lagi, tapi Awan sudah berbalik. Sebelum menghilang di balik pintu dapur, pria itu sempat menoleh sebentar ke arah ruangan. Untuk sedetik, mata tajamnya seolah menyapu tempat duduk Fou, membuat napas gadis itu tertahan.

​Fou cepat-cepat meminum air putihnya sampai tandas, berusaha memadamkan rasa panas yang menjalar hingga ke pipinya. "Taman Pelangi, jam delapan malam," batinnya berulang kali.

Entah kenapa, ada rasa takut yang aneh, tapi rasa penasaran mulai menyelinap dan menetap di dadanya.

​Sisa hari itu dilewati Fou dengan perasaan yang tak menentu. Antara ingin membatalkan janji atau justru mempersiapkan diri, akhirnya ia menyerah pada rasa ingin tahunya.

​Malam pun tiba. Taman Pelangi Bandung berubah menjadi tempat yang magis dengan lampu warna-warni yang memantul indah di permukaan danau. Fou duduk di bangku kayu, mengenakan overall cream dan pasmina hitam yang senada. Jantungnya berdebar kencang, sebuah perpaduan antara gugup dan sedikit rasa kesal karena merasa "dijebak" oleh situasi ini.

"​Maaf, aku sedikit terlambat." Ucap suara laki-laki berat di samping kanan Fou.

​Fou tersentak, bahunya sampai terangkat kaget. Suara bariton itu berat dan sangat familier. Ia perlahan berbalik dan seketika napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar. Pria di depannya bukan lagi memakai seragam chef putih, melainkan kemeja kasual yang pas di tubuhnya.

​Itu Awan. Pria yang tadi siang membuatnya mendadak lupa cara mengunyah di kafe.

​Fou terpaku, lidahnya mendadak kelu. "Ka—kamu? Chef yang di kafe tadi siang?"

​Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan senyum tipis, lalu mengulurkan tangan dengan tenang.

​"Aku Al-labib Ghazawan. Tapi teman-teman biasa panggil aku Abib. Atau... ya, Awan, seperti yang kamu dengar di kafe tadi," ucapnya lembut.

​Fou tidak segera menyambut tangan itu. Ia menatap telapak tangan besar di depannya, lalu menatap wajah Awan bergantian dengan bingung. "Jadi... kamu Abib? Pemilik toko kue itu? Kenapa kamu bisa ada di aplikasi... maksudku, orang seperti kamu nggak mungkin nggak punya pacar, kan?"

​Abib terkekeh, suara tawanya terdengar seperti melodi yang menyenangkan di tengah kesunyian taman. Ia menarik kembali tangannya karena Fou tampak terlalu syok untuk bersalaman. "Nggak ada yang nggak mungkin, Fou. Lagipula, aplikasi itu menjanjikan kriteria yang detail, bukan? Aku mencari sesuatu yang spesifik."

​Setelah kecanggungan yang merayap selama beberapa menit, Abib akhirnya berhasil membujuk Fou untuk duduk. Awalnya, Fou hanya diam membatu, meremas jemarinya sendiri sambil memandangi danau. Namun, Abib punya cara bicara yang tenang; ia tidak memaksa. Lalu, ia mulai bercerita tentang kegagalannya saat pertama kali belajar membuat pastry, dan hal-hal manusiawi yang membuat sosok "Chef Hebat" itu terasa lebih nyata.

​Perlahan, pertahanan Fou mulai goyah. Suara Abib yang tenang membuat Fou tanpa sadar mulai menimpali, bahkan bercerita sedikit tentang kesulitan studinya. Namun, rasa nyaman itu justru menjadi bumerang bagi Fou.

​Setiap kali Abib mendengarkan, ia akan menoleh sepenuhnya, mencondongkan tubuh sedikit ke arah Fou dan menatapnya lekat dengan binar ketulusan. Abib tidak menyela; ia memberikan perhatian penuh yang belum pernah Fou dapatkan dari laki-laki mana pun.

​Deg.

​Jantung Fou kembali berdetak hebat. Ia mendadak sadar betapa dekatnya jarak mereka sekarang, sampai bisa mencium aroma samar vanila yang maskulin dari kemeja Abib.

​Fou merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia benci perasaan lemah ini—perasaan di mana logikanya kalah telak oleh debaran jantung yang tidak bisa diprediksi. Ia merasa terlalu terbuka, terlalu mudah dibaca oleh pria di sampingnya.

​Ketakutan itu memuncak saat Abib tersenyum tipis dan hendak membuka suara lagi. Sebelum Abib sempat berkata-kata, Fou menarik napas tajam dan berdiri dengan gerakan sentak.

​"Aku... aku mau pulang," ucap Fou tiba-tiba. Suaranya sedikit bergetar, tangannya meremas ujung tas selempangnya dengan kuat.

Abib terkejut. Ia ikut berdiri dan dengan sigap menahan pergelangan tangan Fou. "Tunggu, Fou. Apa aku salah bicara? Ada yang buat kamu nggak nyaman?"

​"Bukan!" Fou berusaha menarik tangannya, matanya mulai berkaca-kaca karena bingung dengan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya. "Aku cuma nggak suka perasaan ini! Aku mau batalkan semuanya, aku mau hapus aplikasinya sekarang juga!"

​"Kenapa, Fou? Beri aku alasan," Abib menghadang langkah Fou, berdiri tegap di depannya hingga Fou harus mendongak. .

​"Karena aku nggak kenal kamu! Dan jantung aku rasanya mau copot setiap kali kamu liat aku! Aku benci nggak bisa kontrol diri aku sendiri!" teriak Fou jujur dengan napastersengal.

​Abib terdiam. Keheningan menyergap mereka selama beberapa detik, sebelum perlahan sebuah senyum lembut terukir di wajah pria itu. Bukannya melepaskan, ia justru menggenggam tangan Fou sedikit lebih erat dan menariknya selangkah lebih dekat.

​"Fou, kamu pikir semua ini cuma kebetulan?" bisik Abib, suaranya rendah dan sungguh-sungguh.

​Fou tertegun, amarahnya sedikit mereda digantikan rasa bingung. "Maksudnya?"

​"Aku bukan cuma 'beruntung' dipasangkan sama kamu," Abib menarik napas panjang, menatap manik mata Fou dengan tulus. "Aku yang minta tim pengembang aplikasi itu untuk memasukkan namamu ke algoritma kriteria aku. Aku yang mencari kamu, Fou."

​Fou terbelalak, mulutnya sedikit terbuka. "Kamu... apa?"

​"Aku sudah memperhatikanmu di kafe selama tujuh bulan terakhir," aku Abib tanpa ragu. "Setiap kali kamu datang bersama Irmi, aku yang selalu memastikan kue tercantik dan paling enak sampai ke mejamu. Aku tahu kamu tipe yang sulit didekati secara langsung, jadi aku bekerja sama dengan Irmi untuk membujukmu memakai aplikasi itu. Aku cuma mau satu kesempatan, Fou."

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Fou. Rahasia di balik aroma vanila dan kue-kue manis yang selama ini ia nikmati akhirnya terungkap. Di bawah lampu Taman Pelangi, pria setinggi 180 cm itu ternyata sudah lama menunggunya untuk sekadar menoleh.

Fou terdiam, napasnya yang tadi memburu perlahan mulai teratur. Perasaan "terancam" yang sempat mengimpit dadanya perlahan mencair, berganti menjadi kehangatan asing yang menjalar ke seluruh tubuh.

​"Jadi, kamu sengaja merencanakan semua ini?" tanya Fou sembari memasang nada ketus.

​"Aku seorang Patissier, Fou. Pekerjaanku menuntut kesabaran ekstra," ucap Abib tenang sembari menatap Fou dengan binar mata yang jauh lebih lembut. "Aku terbiasa menunggu adonan mengembang sempurna sebelum dipanggang. Menunggu tujuh bulan hanya untuk bisa duduk berdua denganmu seperti ini... bagiku itu bukan masalah besar."

​Abib tersenyum tipis. Lalu, ia merogoh sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kotak kecil transparan berisi beberapa potong Macaron berwarna peach yang cantik.

​"Aku membuatnya sore tadi. Anggap saja ini bukti kalau kencan kita nyata, bukan sekadar hitungan algoritma komputer."

​Fou menatap kotak macaron itu dalam diam. Ada pergolakan batin di matanya, namun aroma manis yang samar dari kotak itu seolah meruntuhkan pertahanannya. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menerimanya.

​Saat jemarinya menyentuh permukaan kotak, dan tanpa sengaja bersentuhan dengan jari Abib yang hangat, Fou merasakan desiran halus yang membuatnya refleks menarik napas. Ia segera menarik kotak itu ke pelukannya, mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar.

​Abib tidak melepaskan tatapannya. Ia justru sedikit memiringkan kepala, memperhatikan wajah Fou yang kini sudah sewarna dengan macaron di tangannya.

​"Jadi... kencannya tidak jadi batal, kan?" tanya Abib dengan nada menggoda. Suaranya rendah, tipis, dan terdengar sangat tenang.

​Fou menunduk, pura-pura sibuk memeriksa simpul pita pada kotak macaron miliknya. Ia berusaha keras menahan senyum yang nyaris meledak.

​"Tergantung," sahut Fou, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga dirinya. "Besok aku mau cheesecake gratis di kafe sebagai biaya ganti rugi karena sudah membuatku jantungan malam ini."

​Abib tertawa lepas, suara tawanya terdengar tulus dan sangat pas di telinga Fou. "Hanya itu? Aku bisa memberimu lebih dari sekadar cheesecake, Fou."

​Fou mendongak, berniat membalas godaan itu, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan. Abib tidak lagi tertawa. Pria itu menatapnya dengan binar yang begitu dalam, lalu tanpa diduga, ia melangkah maju dan menarik Fou ke dalam pelukannya.

​Bukan pelukan yang menuntut, hanya sebuah dekapan hangat. Wangi vanila maskulin dari tubuh Abib seketika mengepung indra penciuman Fou, membuatnya merasa aman di tengah kegelisahannya sendiri.

​"Apapun untukmu, Fou," bisik Abib pelan tepat di atas kepala gadis itu.

​Setelah beberapa detik yang terasa seperti waktu yang berhenti, Abib perlahan melonggarkan pelukannya. Ia memberikan ruang yang cukup bagi Fou untuk kembali menarik napas lega,.

​​"Ayo," ajak Abib lembut. Ia tidak langsung menggandeng tangan Fou, melainkan hanya memberi isyarat kecil dengan kepalanya. "Kita jalan-jalan sebentar menyusuri danau. Udaranya sedang bagus."

​Mereka mulai melangkah bersisian di atas jalan setapak yang diterangi lampu taman. Suara gesekan sepatu mereka di atas kerikil dan suara jangkrik di kejauhan mengisi kesunyian yang sempat terasa canggung. Fou masih sibuk menata detak jantungnya saat Abib kembali memecah keheningan.

​"Kamu tahu?" tanya Abib tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah riak air danau yang memantulkan cahaya lampu. "Pita pasmina abu-abu yang kamu pakai di kafe bulan lalu... itu yang bikin aku makin yakin kalau aku harus kenal kamu lebih jauh."

​Fou sempat tersandung langkahnya sendiri karena terkejut. Ia menoleh, menatap profil samping wajah Abib dengan tidak percaya. "Bulan lalu? Itu kan saat aku sedang stres berat karena skripsi tidak di-ACC!"

​Abib terkekeh pelan. "Iya. Wajahmu terlihat sangat frustrasi, tapi hebatnya, kamu tetap sanggup menghabiskan dua potong kue Red Velvet dengan sangat lahap. Saat itu aku berpikir, 'Gadis ini unik. Sedih pun seleranya tetap bagus'."

​"Ih, nyebelin! Jadi selama ini kamu diam-diam jadi penguntit, ya?" Fou mendelik, mencoba terlihat marah meski matanya berbinar jenaka.

​​"Bukan penguntit, hanya pengamat yang teliti," koreksi Abib dengan nada santai. Ia melirik Fou sekilas, senyum tipis masih tertinggal di sudut bibirnya.

​"Lagipula, melihatmu makan itu adalah pujian paling jujur buat masakanku. Aku tahu kalau kamu sedang stres, pertahananmu biasanya turun, dan saat itulah kamu akan pesan kue tambahan." Abib terkekeh pelan. "Lidahmu itu jujur sekali, Fou. Meskipun suasana hatimu sedang buruk, kamu tetap tidak bisa menolak kalau kuenya memang enak, kan?"

​"Sangat percaya diri, ya, Chef," cibir Fou sambil menyikut lengan Abib pelan.

​"Harus. Karena meyakinkan kamu untuk mau kencan saja butuh usaha yang ekstra," balas Abib. Ia berhenti melangkah, lalu menoleh menatap Fou dengan jarak yang sopan namun intens. "Satu lagi... jangan panggil 'Chef' kalau kita sedang tidak di kafe. Panggil saja Abib. Biar terasa kalau aku ini teman kencanmu, bukan dosen pembimbingmu."

​Fou mengangguk pelan, merasakan pipinya kembali memanas. "Oke, Abib. Tapi beneran ya, besok-besok kencannya tidak boleh pakai aplikasi lagi. Jantungku bisa rusak kalau terus-terusan dapat notifikasi mendadak seperti tadi."

​Abib tersenyum, lalu merogoh ponselnya sebentar. "Setuju. Sekarang, coba cek ponselmu."

​Sebuah getaran terasa di saku overall Fou. Ia membukanya dan menemukan sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing.

​Abib: Besok jam 4 sore di kafe. Aku akan buatkan cheesecake khusus yang belum ada di menu. Kamu orang pertama yang akan mencicipinya.

​Fou mendongak, menatap Abib yang sedang menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menantang. "Dapat nomorku dari mana?"tanyanya penasaran.

​"Irmi," jawab Abib singkat tanpa rasa bersalah. "Dia bilang, itu 'biaya administrasi' karena dia sudah membuatmu tersedak nasi goreng siang tadi."

​"Irmi benar-benar... aku harus memberinya pelajaran nanti," gumam Fou kesal.

​"Jangan. Tanpa dia, mungkin sampai sekarang aku cuma bisa melihatmu dari balik jendela dapur," ucap Abib lembut, membuat Fou terdiam seribu bahasa.

​Abib berjalan mendahului dengan langkah santai menuju parkiran, memastikan Fou tetap aman di sampingnya. Fou mengikuti langkah besar pria itu, memperhatikan punggungnya yang terlihat kokoh di bawah cahaya lampu taman.

​"Jangan terlambat ya besok, Fou," ucap Abib tanpa menoleh, namun ada nada penuh kemenangan di suaranya.

​"Lihat nanti ya, Chef!" sahut Fou ceria, mempercepat langkahnya agar sejajar dengan pria itu.

Langkah mereka perlahan menjauh dari tepi danau, meninggalkan Taman Pelangi yang mulai sepi. Fou sesekali melirik kotak macaron di tangannya, lalu beralih pada pria jangkung di sampingnya yang berjalan dengan tenang.

​Fou sadar, jantungnya mungkin tidak akan pernah benar-benar tenang setiap kali berada di dekat Abib. Namun, jika rasa "kehilangan kendali" ini adalah bagian dari resep yang sedang pria itu racik untuknya, Fou rasa ia tidak keberatan untuk menikmati setiap keping kejutan yang akan tersaji di depan mata.

​Malam itu, Fou tidak hanya pulang membawa kenangan kencan pertama, tapi juga sebuah keyakinan baru: bahwa hidup terkadang menyajikan kejutan yang jauh lebih manis daripada kue mana pun yang pernah ia cicipi.​

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Thank You Dark Time
Nova Fatika Sari
Novel
BRAD
KH_Marpa
Skrip Film
Rupa Rasa (Script)
heriwidianto
Cerpen
Matched
Dear An
Cerpen
Bronze
Lentera Cinta Luna
Hilda Resina
Novel
Winterhearted
aya widjaja
Novel
Bronze
The Miracle of Villa
Aachim Mai
Flash
Pelangi di Ujung Senja
Ika Karisma
Cerpen
Bintang Mati
Galang Gelar Taqwa
Skrip Film
FRIENDZONE (SCRIPT)
Putri Widya
Skrip Film
LANDRA
Audhy R.H
Cerpen
Bronze
Terbungkus dalam Sunyi: Mencintai Dalam Diam
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Novel
Aku Mahasiswa
Adhi Saputra Batubara
Novel
Daddysitter?
V Missv
Novel
Bronze
The Testament
Venny Lestari
Rekomendasi
Cerpen
Matched
Dear An
Cerpen
Agenda Hati
Dear An
Novel
Hidden Bliss
Dear An
Cerpen
Keputusan Terindah
Dear An
Cerpen
Milikku Sejak Pandangan Pertama
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Terakhir Amaryllis
Dear An
Cerpen
Sagara Elang: Milikku malam ini dan selamanya
Dear An
Flash
Titik Balik Rasa
Dear An
Cerpen
Pelabuhan Langit
Dear An
Cerpen
Untuk Hati Yang Mencari Arah
Dear An
Cerpen
Hanya Satu Hari
Dear An
Cerpen
Sandiwara Reuni
Dear An
Cerpen
Game Pembuka Rahasia
Dear An
Cerpen
Sosok Pengganti
Dear An
Cerpen
Dua Hati Satu Janji
Dear An