Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Matcha-IN You
0
Suka
30
Dibaca

Matahari begitu terik menuntunku dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku tidak menyangka bisa terlambat seperti ini. Rasanya mengganjal membuat orang lain harus kembali lebih lama. Untungnya jarak tidak membuatku terbebani lebih jauh, hanya menghitung menit aku tiba dengan segera sebelum waktu pergantian shift datang.

”Duh, kak Sari kemana yah, bentar lagi gantian nih,” ucap Yaya yang saat itu sedang membereskan barang bawaannya. Aku rasa kesalahanku ini membuat shift pagi menjadi lebih gelisah.

Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa dan membopong segala perlengkapanku, aku pun tiba di IGD lalu segera ke ruang jaga untuk melapor.

”Aku sudah sampai, maaf kali ini aku telat,” ucapku dengan suara yang sesekali tersengal disertai senyuman pasrah jika kena teguran dari mereka.

”On time kok kak, nggak perlu minta maaf,” ujar Cila salah satu partner jagaku siang ini.

Udara sejuk mengendap di antara bed-bed kosong meski teriknya matahari masih menyelip melalui celah ventilasi. Para shift pagi sudah kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Kali ini beberapa monitor tanda vital berbunyi, namun langkah kaki perawat terdengar jarang. Demi memanfaatkan waktu, kami pun melakukan diskusi bersama. Namun, hingga diskusi dimulai, aku tidak melihat dirinya hadir, seseorang yang membuat hari-hariku dipenuhi rasa penasaran.

”Hei Cil, Cila,” panggilku dengan hati-hati saat yang lain masih melanjutkan topik laporan.

”iya kak, ada apa?” balasnya. Ia seperti terfokus pada laporan yang sedang diketiknya.

”Siang ini dokter jaga IGD nya siapa ya? Kamu tau nggak?” bisikku. Ia seperti mengerti raut wajah yang ku tunjukkan.

”Tadi kata kakak perawat sih dokter Fahri kak. Kenapa emangnya?” tanya Cila kembali dengan lirikan curiganya.

”Oke, makasih Cil,” jawabku pelan sambil menarik diri. Rasa senang itu muncul tanpa aba-aba. Hadirnya membuat pikiranku ribut—bukan karena hidupku yang kacau tapi karena senyumnya yang tenang, sikapnya yang minim perhatian dan parasnya yang sejuk terpaku erat dalam benakku. Aku ingin tahu banyak hal tentangnya, meski aku tidak termasuk dalam baris kehidupannya.

***

Hawa siang hari itu terasa sangat menyengat. Untungnya kali ini kami tidak mendapatkan banyak pengunjung. Kami memegang laporan masing-masing yang setelah ini akan dilaporkan kepada dokter jaga siang.

”Kak Sari.” Yaya memanggil nya dengan sedikit mencurigakan.

“Ya, kenapa Ya?” jawabku sembari menoleh ke arah Yaya

”Kak, yang jaga siang ini dokter Fahri loh,” ucapnya dengan tersenyum usil.

Aku dibuat bingung dengan tampang Yaya yang sedang menggodanya.

“Lalu? Apa hubungannya denganku Ya?” jawabku sambil membalas lirikan nakal Yaya. Aku tidak mengerti, sejak kemarin mereka selalu membicarakan dokter Fahri didepanku dengan sikap seperti yang Yaya lakukan sekarang.

Seakan telinganya menangkap topik hangat, Cila segera ikut berada diantara kita berdua, “Masih jomblo tahu kak, wajahnya juga ganteng loh,” Ujar Cila mengukir senyum jahil pada wajahnya. Aku tidak tahu rumor seperti apa yang tersebar tentang diriku sampai mereka terus berusaha menjodohkanku. Andai mereka mengerti bahwa bukan diriku yang ingin membatasi diri, tapi harapan yang sedang tidak berpihak padaku.

“Sstt, udah yuk, fokus kembali karena dokter Fahri udah datang tuh,” ucapku saat melihat dokter Fahri memasuki ruang jaga kami. Tanpa berlama-lama mereka akhirnya kembali ke tempat masing-masing.

Semua tampak menahan napas, kehadirannya membuat suasana ruang jaga sedikit tegang. Di hadapan banyak orang, ia lebih sering diam. Tapi saat berbincang dengan orang-orang yang ia percaya, bahunya mengendur, senyumnya muncul dan kata-katanya mengalir tanpa ragu. Bagi kebanyakan cewek pasti akan menjadikannya sebagai crush mereka. Tapi bagiku, rasa suka tidak bisa tumbuh saat hati dan pikiran tidak membuka kesempatan.

Langit terlihat semakin tebal, awan hitam tampak menumpuk dalam satu tempat pertanda hujan akan segera turun. Saat menyadari sinar matahari sudah sepenuhnya terhalang, pembacaan laporan kali ini akhirnya ditutup.

”Kita lanjut di shift saya selanjutnya saja ya,” ucap dokter Fahri sembari mengakhiri diskusinya.

Kami pun segera kembali ke dalam IGD dan melanjutkan kegiatan seperti biasa. Tidak menunggu waktu lama, seorang pasien di bawa masuk menuju ruang tindakan. Aku mengambil selembar kertas beserta perlengkapan tanda vital dan bergegas memeriksa pasien baru tersebut.

“Permisi dokter,” ucapku bersamaan dengan ketukan pintu. Seperti mengerti maksud kedatanganku, dokter Fahri segera menghampiri pasien dalam ruang tindakan tersebut. Aku ikut serta berdiri di samping bed pasien dan mulai melaporkan kondisi pasien tersebut.

”Dok, ini pasien laki-laki tiga puluh tahun. Keluhan penurunan kesadaran sejak 1 jam yang lalu setelah mengalami kecelakaan tunggal. Saat ini tanda vital menurun, tapi sudah dilakukan pemasangan infus untuk rehidrasi dan selang oksigen untuk memperbaiki saturasinya,” jelasku. Ia menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada pasien. Aku berusaha menjaga nada tetap profesional, meski ada perasaan aneh saat mata kami beradu pandang sekian detik.

Pemeriksaan berlanjut, ia mengarahkan beberapa hal untuk dilakukan lalu kami pun segera melaksanakannya. Aku mengikuti seorang perawat senior bernama Kak Kiki yang saat itu membantuku dalam menangani pasien tersebut. Hanya perlu beberapa detik kami sudah seperti akrab sejak dulu.

”Wajahnya kelihatan adem kan?” kata Kak Kiki tiba-tiba, padahal aku tidak mengharapkan obrolan tentang dia. ”Dok itu orangnya nggak ribet, sebenarnya orangnya pendiem banget tapi kalau udah klik sama orang bisa cerewet juga,” lanjutnya sebelum kami tiba di ruang pencitraan.

Aku hendak menjawab “Wajahnya memang nyaman di pandang kak.” Namun ku urungkan, aku merasa tidak pantas mengucapkannya saat hatiku belum terbuka untuknya.

”Oh iya, kelihatan kok Kak, seperti hidupnya berputar dalam rumah sakit aja.” Akhirnya hanya bisa menanggapi secukupnya saja. Menurutku tidak baik jika kita membicarakannya saat kita tidak benar-benar tahu latar belakangnya.

Mendengar jawabanku, Kak Kiki lalu menambahkan, “Betul. Hidupnya lurus aja. Rumah, rumah sakit. Jarang keluar, jarang cerita. Kalau nggak di ajak ya dia diem aja.”

”Aku bilang gini, soalnya kamu sering jaga bareng dia. Dia sering di sebut jutek padahal hanya susah ditebak aja, kalau baik mah baik banget dia tuh. Jangan sampai kalian salah paham aja sih,” lanjutnya. Cerita Kak Kiki membuatku sedikit mengenali dirinya yang tertutup itu.

Dalam benakku, ia tampak seperti bubuk matcha—hijau yang terlihat tenang dan tidak menawarkan manis apapun. Ketika susu putih dituangkan ke dalamnya, ia diam di dasarnya. Bukan karena menolak, tapi butuh dorongan untuk membuatnya berbaur.

Hasil pemeriksaan telah keluar, aku membawakan selembar hasil tersebut kepadanya. Ia lalu menghampiri pasien dan melakukan edukasi yang tepat untuk rencana tindakan mereka. Aku berdiri sedikit dibelakangnya, memperhatikan caranya menjelaskan. Tidak bertele-tele, tapi cukup untuk membuat pasien merasa dilibatkan

”Seperti itulah hasil pemeriksaan pasien, bu.” Suaranya datar tapi tidak dingin. keluarga pasien tak banyak bicara, seperti memasrahkan keadaaan kepada yang kuasa dan itu terlihat jelas pada air muka mereka. Setelahnya kami pun berpisah saling melanjutkan kerjaan yang sempat tertunda hingga waktu menunjukkan saatnya pulang.

Hari-hari terus berganti, teman-teman kelompok bulan ini pun akan segera bertemu dengan minggu ujian. Aku tahu ini waktu yang singkat, waktu jaga yang terus mengalir bersama pasien-pasien yang terus mengajarkan kami banyak hal, menjadi momen yang ingin terus di ingat. Saat itu aku sadar, aku tidak lagi sekadar memperhatikannya. Bukan karena yakin akan berhasil, yang aku tahu—aku hanya ingin mencoba.

Kali ini aku mendapat bagian shift malam. Laporan demi laporan harus segera aku selesaikan sebelum esok hari tiba. Suasana malam ini cukup tenang, tidak ada dering telepon, tidak ada suara obat yang saling bertabrakan, hanya beberapa perawat yang melakukan visite malam.

”Yaya,” panggilku sembari mendekatkan diri ke arahnya.

”Iya kak Sari, ada apa?” jawabnya setelah menoleh sesaat.

”Kemarin kamu bilang dokter Fahri masih jomblo kan ya?” ucapku secara langsung tanpa ragu sedikit pun.

Mendengar pertanyaan ku, Yaya segera meletakkan tablet yang sedari tadi ia mainkan. Dengan senyum yang penuh rasa penasaran ia menjawab,”Dari yang aku dengar sih masih kak. Ada apa nih? Kak Sari akhirnya sudah membuka hati gitu?” suaranya seperti sedang menahan tawa cekikikan.

”Aku juga belum tahu, aku hanya mau mastiin aja biar kalau memang beneran terjadi nggak ada rasa bersalah karena ngambil laki orang,” ucapku segera menjelaskan maksud dan tujuanku.

”Kak, mending kakak ikutin instagramnya aja deh,” katanya “Ini bisa jadi langkah pertama. Lagi pula nggak ada salahnya juga ikutin senior kan,” lanjutnya sembari memperlihatkan akun instagram dokter Fahri.

”Beneran nih aku yang follow duluan? Dia nggak bakal mikir aneh-aneh kan?” tanyaku dengan penuh keraguan.

“Nggak bakal kak, kami juga beberapa udah saling follow, kakak aja yang telat,” ucap Yaya yang juga menarik Cila untuk mendukung pernyataannya itu.

Wajah Cila yang awalnya kebingungan karena tiba-tiba diikut sertakan namun seketika berubah penuh senyum kemenangan, ia berkata “Kita sih udah duluan ya kak, kak Sari terlalu lama tahu tarik ulurnya.” Sambil memamerkan Instagram masing-masing, aku pun tak tahu ekspresi seperti apa yang harus ku gunakan.

Rasanya mereka benar-benar menang dari ku, untuk sesaat aku sadar: aku tertinggal. Bukan karena aku tidak mencoba, tapi karena aku datang belakangan. Selama ini aku jarang mengambil langkah duluan, bagiku yang seharusnya memulai duluan adalah pihak laki-laki. Namun, zaman sekarang walau sang lelaki sudah memulai dengan penuh keromantisan tidak menjamin akhir yang indah.

Kesibukan pun segera memanggil kami. Pertemuan kami semakin sering, ini membuat ku makin tenggelam ke dalam perasaan yang tak mendasar. Ia tidak acuh namun perhatiannya pun tidak pernah utuh, ia akan bertanya singkat lalu mengingat hal kecil dan pergi tanpa penjelasan. Sayangnya, aku selalu jatuh pada ketenangan yang tak berniat menahanku. Hingga sore hari saat hujan mematahkan semangat jaga, aku justru membangkitkan sinyal keberanian hanya untuk sedikit menggapai hatinya.

***

Aku memegang sebungkus cemilan itu terlalu lama. Setiap kali aku melirik ke arah IGD langkahku justru melambat.

”Kak, itu daritadi dibawa kenapa belum di kasi juga sih.” Suara Yaya terdengar santai, seolah yang kulakukan bukanlah hal yang besar. Aku tidak merasa berani, aku hanya lelah jika terus diam.

Rasanya bungkus cemilannya sudah sedikit hangat seperti menyerap segala keraguanku.

”Tapi di makan nggak ya? Atau jangan-jangan dia nggak makan cemilan?” ucapku penuh kegelisahan di hadapan mereka.

”Ya ampun kak, taruh aja terus bilang ini buat jaga, gitu.” Kata Cila, untuknya itu terlalu mudah namun bagiku perlu banyak pertimbangan alasan yang tidak perlu.

Aku akhirnya berdiri, walau hatiku terus menyuruh diam namun langkahku tetap berjalan penuh ketidakpastian.

”Permisi dokter, misi kakak-kakak.”

”Ini... buat cemil di sela jaga,” ucapku sedikit kaku. Tidak ada kalimat panjang, ia hanya membalas ”Oh iya terima kasih, dek.” sekadarnya. Aku tidak tahu apa artinya. Tapi untukku itu adalah satu langkah yang tidak pernah kuambil sebelumnya.

Setelah itu aku kembali ke tempatku, terasa jantungku masih berisik. Mereka pun tertawa kecil, bukan mengejek, tapi sepertinya orang-orang tahu yang aku butuh adalah dorongan lebih keras dari sekadar melewati garis start. Wajah ku mulai memerah dan senyum lebar terukir di sudut bibirku. Yaya dan Cila bahkan langsung menggodaku dengan segala kata-kata manis mereka. Aku hanya merasa itu bukanlah suatu gangguan lagi tapi dukungan agar aku bisa terus maju dengan diriku sendiri.

Sejak itu, tingkahku semakin tidak karuan. Aku akan mengecek catatan pasien dua kali, padahal tidak ada yang berubah sejak terakhir kubaca atau aku akan menjaga nada suaraku tetap datar meski detak jantungku memilih irama yang berbeda. Aku berusaha untuk tidak menjadi canggung di hadapannya. Tapi, setiap ia menyapaku tatapanku sering lari lebih dulu, tanganku akan sibuk dengan hal yang tak perlu, bukan karena takut hanya saja perasaan ini tumbuh tanpa aba-aba.

***

Tetapi waktu terus berjalan seperti biasa, bahkan tanpa bayanganku yang melekat untuknya. Aku tetap berada ditempat yang sama, melangkah dan melakukan banyak hal. Namun kenyataannya tidak semua yang kita perjuangkan akan berjalan ke arah kita. Aku sudah mencoba. Dengan caraku yang paling berani. Dengan hatiku yang terus terbuka. Tapi ia tetap tenang di dunianya. Pada akhirnya kita hanya dua orang yang sempat bertemu dalam diam lalu berpisah ke tujuan masing-masing.

Ternyata tidak semua yang dicampurkan memang ditakdirkan menyatu. Susu putih dan bubuk matcha itu tetap tidak memilih untuk berbaur. Meski rasanya sakit tapi akhirnya aku belajar: beberapa rasa hanya hadir untuk dikenang, bukan untuk dimiliki. Meski aku bukanlah tempatnya membuka hati, tapi setidaknya aku tidak menyesal karena diam tanpa memulai.

Ini bukan cerita tentang bersama, tapi tentang keberanian.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Bronze
BROKEN
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Matcha-IN You
faridhachacha
Skrip Film
Duda-Duda Durjana
Kinanti WP
Cerpen
My Razor Blade (from Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
Bronze
Swastamita
moran. a
Novel
Salvatrice
Billy Yapananda Samudra
Novel
Kesempatan Kedua
YeNaara
Novel
Sua
Shinystella
Novel
Bronze
YANG TERPILIH
Ratnasari
Novel
Bronze
Pilihan yang Tidak Berisik
Shavrilla
Skrip Film
Cakrawala
Thopan Diraja
Cerpen
Bronze
Bomb, Scam, eh Love Beneran
Nuel Lubis
Novel
Si Tampan dari Alaska
I R N A
Novel
The Chrysanthemum Promise
Yooni SRi
Skrip Film
Tetangga Satu Kampus
Intan Resvilani
Rekomendasi
Cerpen
Matcha-IN You
faridhachacha
Cerpen
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
faridhachacha
Cerpen
Angin Sore dan Pohon Kehidupan
faridhachacha
Cerpen
Gadis Pagi Bernama Nara
faridhachacha
Cerpen
Bronze
Rumah Lila
faridhachacha
Cerpen
Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik
faridhachacha