Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
MATA DARI IBU
Semua tokoh dan peristiwa dalam cerita ini hanyalah hasil khayalan penulis. Jangan menghubungkannya dengan siapa pun di dunia nyata. Karena ini bukan kisah nyata ðŸ¤
°°°°°
Kehadiran Cahaya 2020
Suara mesin jahit itu selalu terdengar setiap waktu, pagi, siang, dan malam.
Klek ... klek ... klek ... seperti detak jam yang menolak berhenti meski waktu sudah lelah berjalan.
Aku membencinya.
Bukan karena suaranya, tapi karena setiap bunyinya mengingatkanku pada sebuah penyesalan.
Kami tinggal di rumah kecil di ujung gang sempit. Dindingnya retak di sana-sini dan cat kusam yang mengelupas seolah menempel pada kenangan lama. Lantai kayu berderit ketika diinjak dan jendela berbingkai besi hanya setengah menutup, menyisakan lubang-lubang tempat angin masuk dan debu menari-nari. Di halaman yang sempit, beberapa pot tanaman layu berusaha bertahan hidup, tetapi lebih sering mati karena air yang jarang sampai.
Dari gang terdengar suara tetangga yang saling berteriak menuntut utang atau anak-anak yang berlarian mengejar kucing. Bau masakan sederhana, sayur rebus dan nasi hangat, tercium dari dapur, bercampur dengan aroma kain yang lama tak dicuci. Setiap benda di rumah ini seolah menanggung kerasnya hidup, dari kursi reyot hingga rak yang miring menahan piring-piring agar tak pecah.
Aku, Ibu dan bayi perempuanku yang baru berumur setahun tinggal di sana. Ibu menua bersama jarum dan kain, sementara aku menua bersama penyesalan. Usiaku masih sembilan belas tahun, tapi rasanya sudah setua Ibu. Kadang aku ingin memeluknya, tapi entah kenapa tangan ini selalu lebih cepat menutup diri. Mungkin karena gengsi atau mungkin karena aku terlalu takut melihat mata Ibuku, mata yang tak pernah marah, tapi selalu membuatku merasa bersalah.
Di rumah ini seolah menyimpan segala kelelahan dunia, menempel di setiap sudut dan aroma tua yang tak bisa hilang. Kini rumah itu hanya menyisakan suara. Tak lagi cahaya pagi yang menembus celah jendela, tak lagi warna kain yang Ibu jahit setiap hari. Sejak setahun lalu, semuanya berubah gelap.
Aku tak tahu bagaimana rasanya bersyukur karena melihat cahaya, sampai akhirnya dunia benar-benar padam. Baru aku mengerti nikmat penglihatan ini sudah diambil oleh-Nya, aku tersadar, kehampaan gelap ini sangat menyiksaku setiap detik, menggerogoti hidupku perlahan.
Lelah, aku lelah, dengan kegelapan ini.
Anehnya setiap kali aku memejamkan kelopak, yang paling sering muncul bukan bayangan anakku, bukan pula wajahku sendiri, melainkan Ibu. Ibu, dengan tangan keriputnya, duduk di depan mesin jahit tua, menjahit entah untuk siapa. Aku selalu mendengar suaranya dalam ingatan: Klek ... klek ... klek ...
Aku tak bisa membenci suaranya. Tidak akan pernah bisa benci.
°°°°°
Flashback ke tahun - 2018
Malam itu aku pulang lewat tengah malam. Hujan baru saja reda, dan udara masih bau tanah basah. Aku membuka pintu pelan-pelan, berharap Ibu sudah tidur. Tapi tidak. Ia masih di depan mesin jahit. Lampu redup menyorot wajahnya yang lelah, rambutnya sebagian memutih.
"Udah jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" tanyanya pelan, tanpa menoleh.
Nada suaranya seperti selalu tenang, tanpa tuntutan. Tapi justru itu yang membuatku jengkel.
"Iya, baru, namanya juga beberes kafe, jadi lama lah," jawabku cepat. Aku menggantung tas dan membuka sepatu dengan kasar.
Ibu tidak menegur. Tangannya tetap bergerak, menuntun kain melewati jarum.
"Udah makan?"
"Udah," jawabku pendek. Padahal belum. Tapi aku terlalu gengsi untuk jujur.
Ibu diam. Suara mesin jahit mengisi jarak di antara kami. Aku menatap punggungnya lama, ingin marah tapi tak tahu kenapa. Mungkin karena aku lelah. Mungkin karena hidupku berantakan. Atau mungkin ... karena di hadapan Ibu, aku selalu merasa seperti anak kecil yang gagal jadi dewasa.
"Aku nggak suka Ibu kayak gini terus!" ucapku akhirnya.
"Kayak gini, apanya?"
"Ya ... bawel, cerewet, semua Ibu mau tau kegiatan aku. Aku risih, nggak suka!"
Ibu menghentikan jahitannya, menoleh pelan. Mata sendunya menatapku lembut, tetapi dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuatku ingin berbalik pergi.
"Ibu cuma nanya aja, salahnya dimana?" tanyanya.
"Aku nggak butuh diperhatiin," sahutku cepat.
Ibu menghela napas.
"Karena Ibu khawatir, kamu selalu pulang malam."
Aku membanting pintu kamar dengan geram. Di balik pintu, aku bisa mendengar jarum mesin jahit menembus kain tipis, suaranya menyelinap ke seluruh rumah yang sepi dan lembap.
Klek ... klek ... klek ...
Aku benci dia. Selalu sok sibuk dengan jahitan yang tak habis-habis. Sementara aku harus putus sekolah dan kerja jadi tukang cuci piring di kafe, untuk ikut memenuhi kehidupan ekonomi kami berdua yang tanpa henti.
Dua tahun aku bekerja di kafe itu dan setiap piring yang diangkat terasa lebih berat daripada rasa lelah yang menempel di tulang.
Ayah? Jangan tanyakan dia. Ia sudah pergi meninggalkan kami, seolah menyerahkan dunia ini padaku dan Ibu. Dia pergi bersama wanita itu. Wanita tua, kaya, tanpa anak. Dunia mereka, bukan dunia kami.
Menjijikkan.
°°°°°
Sudah tiga hari aku jarang bicara dengan Ibu. Kami seperti dua orang asing di rumah yang sama. Dia di ruang tamu, aku di dapur. Kadang bertukar pandang, tapi tak satu pun dari kami yang bicara lebih dari tiga kata. Ibu tetap menjahit. Aku tetap bekerja. Dan di antara kami, cuma ada suara mesin jahit yang jadi saksi betapa keras kepala kami berdua.
Kadang, waktu malam datang, aku mendengar Ibu batuk-batuk kecil. Kupikir itu hanya kelelahan. Aku tidak peduli. Aku cuma menarik selimut, memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Tapi sebenarnya aku mendengarnya jelas, batuknya makin parah, seolah ada yang menggerus dari dalam.
Suatu malam, aku terbangun. Rumah sepi. Tak ada suara mesin jahit, tak ada batuk. Aku keluar kamar. Di ruang tamu, Ibu tertidur di kursi, kepalanya miring, tangannya masih menggenggam kain setengah jadi. Aku menatapnya lama. Ada rasa sesak yang aneh, sesuatu yang menekan dadaku. Tapi gengsiku terlalu tinggi, terlalu keras kepala untuk sekadar menyelimuti tubuh tuanya. Aku kembali ke kamar, pura-pura tak peduli, tapi air mata ini tiba-tiba menetes tanpa izin.
Menyebalkan.
°°°°°
Malam Tahun baru di Bar - 2019
Malam itu seharusnya cuma makan bareng teman kerja. Katanya, untuk refreshing. Aku ikut karena nggak enak hati, juga karena butuh lupa sejenak dari hidup yang makin berat setiap hari. Seharusnya cuma itu. Tapi hidup kadang kejam pada orang yang sedang lelah. Aku masih ingat tawa, musik dan gelas-gelas yang beradu. Lampu-lampu bar berpendar kekuningan, asap rokok menari di udara. Setelah itu, gelap.
Saat aku membuka mata, di ruangan ini seorang diri, suasana itu asing. Langit-langitnya putih, terlalu terang. Bau alkohol menusuk hidung, seperti ingin menghapus semua jejak malam sebelumnya. Dan di sisi kasur, noda merah kecil, menempel di sprei putih. Jantungku berhenti berdetak. Aku terpaku diam. Tenggorokanku kering. Air mataku jatuh tanpa suara. Aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin, aku memang tidak ingin tahu.
Aku mengenakan baju dengan tangan gemetaran. Setiap gerakan terasa berat, seolah dunia ikut menatapku dengan jijik. Aku keluar dari kamar hotel itu tanpa menoleh, menembus udara pagi yang lembap. Langit mendung, jalanan basah dan dunia rasanya kabur. Setiap langkah terdengar hampa.
Saat sampai di rumah, pintu terbuka setengah. Rumahku sunyi, hanya ada suara tetesan air dari atap yang bocor. Aku memanggil Ibu, tapi tak ada jawaban. Dinding rumah yang kusam terasa lebih gelap dari biasanya. Lalu terdengar suara langkah dari luar tergesa-gesa. Tetangga keluar dari rumah sebelah, wajahnya sangat panik.
"Tata, ibu kamu dibawa ke rumah sakit barusan. Batuk berdarah."
Suara itu menembus dadaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa campuran aneh antara takut dan lega. Takut karena kabar itu, tapi juga lega, karena Ibu tak di rumah, tak ada yang akan menatapku dan bertanya kenapa aku tak pulang semalaman. Aku berlari ke rumah sakit dengan langkah goyah.
Udara pagi dingin menusuk kulit dan setiap langkahku terasa berat. Di ruang rawat, kulihat Ibu terbaring. Selang infus menempel di tangannya, wajahnya pucat, dan napasnya pelan. Tapi begitu melihatku, ia tersenyum. Senyum yang lembut, seolah rasa sakitnya tak berarti.
"Kenapa kamu nggak pulang tadi malam, Ta? Ibu nungguin kamu," suaranya serak tapi hangat.
Aku menahan tangis. Ibu masih sempat memikirkan aku dan bahkan khawatir padaku. Padahal sekarang yang seharusnya dikhawatirkan itu kondisi tubuhnya. Sementara itu, aku bahkan tak tahu bagaimana caranya memaafkan diri sendiri.
°°°°°
Aku masih ingat hari itu. Setelah keluar dari rumah sakit, Ibu tampak lebih lemah, tapi tetap berusaha tersenyum seperti biasa. Ia pulang membawa tubuhnya yang ringkih dan aku pulang membawa beban yang lebih berat daripada dunia.
Beberapa minggu kemudian, aku menyadari bahwa tubuhku mulai berubah. Mual setiap pagi, pusing yang tak kunjung hilang, dan lemas yang menempel di tulang. Kupikir itu cuma kecapekan, tapi ketika Ibu menatap wajahku lama-lama, aku tahu, ia sudah mengerti tanpa aku harus bicara.
"Tata ...," katanya pelan, "kamu mau ngomong sesuatu, nggak sama Ibu?" Aku diam. Tenggorokanku tercekat. Lalu, tangis itu pecah, panjang dan keras, seperti semua air mata yang kutahan selama ini tumpah dalam satu malam. Ibu tak bertanya apa-apa. Ia hanya memelukku. Pelukannya gemetar, tapi hangat. Embus napasnya berat dan aku menyesal.
Pelukan yang dulu sering kuhindari karena gengsi, kini ingin kuhabiskan selamanya. Sejak hari itu, hidupku seperti berhenti. Aku tak berani keluar rumah, bukan karena malu pada dunia, tapi karena aku bahkan tak sanggup menatap langit.
Setiap malam aku menangis. Bukan sehari dua hari, tapi berbulan-bulan. Aku menangis sampai penglihatan mulai kabur. Awalnya buram di pagi hari, lalu makin parah, hingga akhirnya gelap total.
Ibu membawaku kembali ke rumah sakit. Dokter berkata pelan, "Kornea matamu rusak parah akibat infeksi dan stres berat. Tapi, ada kemungkinan bisa disembuhkan lewat donor kornea yang cocok."
Aku cuma duduk di kursi, menggenggam tangan Ibu. Ia tak menangis. Tapi dari genggamannya, aku tahu ia sedang patah. Biaya pengobatan terlalu mahal. Kami pulang dengan hati remuk dan kantong kosong. Sejak itu, Ibu merawatku sepenuh tenaga. Ia menuntunku ke kamar mandi, menyuapiku, bahkan menyisir rambutku setiap pagi. Tangannya kasar, tapi sentuhannya lembut.
Gang kami tetap hidup seperti biasa, biar pun semua tetangga tahu keadaan kami. Mereka menatap dari jauh dengan diam dan penuh hormat. Tidak ada yang berani menyinggung, karena selama tinggal di gang itu, Ibu Hanum yang sering mereka panggil selalu menjadi sosok yang dihormati, keras tetapi baik hati.
Kadang, malam-malam aku terbangun karena suara batuknya di ruang tamu. Suara mesin jahitnya kembali hidup, padahal dokter bilang dia harus istirahat.
"Ibu, jangan kerja lagi," ucapku lirih.
"Gapapa, bentar lagi selesai kok," jawabnya pelan.
Klek ... klek ... klek ...
Suara itu terdengar seperti doa yang tak pernah selesai.
°°°°°
Sembilan bulan berlalu. Aku melahirkan seorang bayi perempuan. Rasanya seperti tubuhku dihancurkan perlahan. Kontraksi yang tajam, nyeri yang menjalar ke seluruh punggung dan perut, napas yang tersengal-sengal. Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan, setiap detik terasa seperti selamanya. Aku menggenggam tangan Ibu dengan erat. Pasti ia juga lelah, tapi ia tetap sabar di sampingku.
"Tarik napas ... tarik ... satu ... dua ... tiga...," suara bidan terdengar samar di antara gemuruh sakit.
"Sakit ... bu, sakit ...," jerit ku
Air mata menetes, tapi bukan hanya karena sakit. Aku menyesal, menyesal karena dulu sering kesal pada Ibu tanpa alasan. Kini, tanganku gemetar, tubuhku lelah dan aku merasa bersalah telah menyia-nyiakan waktu bersamanya, sementara ia selalu berada di sisiku, tanpa pernah mengeluh.
Ketika tangisan pertama bayi itu terdengar, hatiku hancur dan lega sekaligus. Aku bisa merasakan, Ibu menimang cucunya dengan lama dan menatapnya dengan mata basah, lalu berbisik lembut ke arahku.
"Namanya siapa?"
Aku menjawab lirih, "Cahaya,"
Aku tahu Ibu pasti tersenyum dan air mata menetes di pipinya, "Semoga dia bisa jadi cahaya untukmu," Aku bisa merasakan bayi itu di dekatku. Tubuhku lelah, pikiranku campur aduk. Rasa sakit masih menggigit, penyesalan masih menekan, tapi di depanku, ada kehidupan baru yang harus kusayangi.
Rumah kecil kami kini selalu diisi dengan dua hal: suara mesin jahit dan tawa kecil bayi itu. Setiap kali mendengar keduanya, aku merasa Tuhan masih mengizinkanku untuk sedikit bahagia.
°°°°°
Entah kenapa Ibu ... mulai sering pingsan. Kadang aku mendengar batuknya berdarah lagi, dan hatiku hancur karena tak bisa berbuat apa-apa. Aku buta. Aku cuma bisa meraba wajahnya setiap malam, berharap esok masih bisa mendengar suaranya.
"Bu ..." panggilku suatu malam.
"Hmm?" jawabnya singkat.
"Maafkan aku ya, belum bisa membuat ibu bahagia," tuturku lembut penuh penyesalan.
"Kamu udah buat ibu bahagia, kok." Ibu mengusap lembut pipiku.
"Kapan?" aku bertanya dengan nada heran.
"Saat kamu lahir, itu adalah kebahagiaan ibu ...,"
Tak terasa air mataku mengalir tanpa permisi. Dengan suara bergetar, aku utarakan isi hatiku.
"Kalau aku bisa lihat lagi, aku pengen yang pertama kali kulihat itu wajah Ibu,"
Ia diam. Suaranya pelan sekali waktu menjawab,
"Kalau suatu hari kamu bisa lihat lagi, lihatlah Cahaya. Jaga Cahaya, kayak ibu jaga kamu. Lihat dia, dengan tatapan cinta. Jangan hidup seperti kita. Beri Cahaya kasih sayang, ya?"
Aku tak paham maksudnya saat itu.
Tapi malam itu, aku merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan.
Ibu duduk di sampingku, membimbing tanganku untuk menimang Cahaya, mengajarkanku cara memeluknya dengan lembut, cara menyusuinya perlahan demi perlahan dan cara menepuk punggungnya ketika menangis.
Setiap kali tanganku ragu, tangannya menempel di tanganku, menuntun dan menenangkan. Aku merasakan detak jantungnya yang lembut berpadu dengan napas bayi itu, aroma kain bersih yang Ibu lipat, dan suara mesin jahit yang perlahan berderik di ruang sebelah.
Di kegelapan kamarku, aku bisa merasakan kasih tulus Ibu, yang menyalurkan semua cinta yang ia miliki untukku, untuk Cahaya dan untuk hidup yang terus harus kami jalani. Aku tak bisa melihat, tapi aku tahu: Ibu ada disini, menjaga, membimbing dan menyayangiku tanpa syarat dan dalam genggaman tanganku, aku merasakan tanganku sendiri bisa menjadi perlindungan untuk bayiku, karena sentuhan Ibu telah menanamkan cinta dan keberanian dalam diriku.
°°°°°
Tahun 2023
Sudah berapa tahun, aku tak tahu. Gelap telah menelan semua hari, semua cahaya, bahkan waktu sendiri seakan berhenti untukku. Aku lupa kapan dimulainya semua ini. Tapi pagi ini, Ibu bilang, kami harus ke rumah sakit. Ada pendonor kornea yang cocok. Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun gelap, ada percikan harapan yang menelusup ke hatiku. Jantungku berdebar, tangan ini gemetar dan entah kenapa, udara di sekeliling terasa lebih hangat.
"Beneran? Aku bisa lihat lagi?"
Ibu diam, kurasa dia sedang tersenyum, suaranya lembut, meski ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.
"Iya, Ta. Insya Allah. Doakan aja, ya." Ibu menggenggam tanganku.
Kami akan berangkat bersama. Hangatnya menenangkan, tapi entah kenapa terasa seperti ada gejolak di hatiku. Entahlah, aku tak tahu mengatakannya seperti apa. Cahaya kutitipkan pada Bik Jum, tetangga sebelah rumah, sambil melangkah jauh ke arah pintu. Rasanya aneh, meninggalkan balita yang baru saja kugendong, tapi aku percaya pada tangannya yang hangat dan penuh perhatian.
Di rumah sakit. Operasi berjalan cepat. Aku tak ingat banyak selain dinginnya ruang operasi, aroma antiseptik yang menusuk hidung dan suara monitor yang berdetak seperti jantung ku sendiri yang menunggu jawaban. Saat sadar, aku menyadari Ibu tidak ada di sekitarku. Yang kudengar hanyalah suara Bik Jum, menenangkan tapi jauh. Aku menelan ludah, jantungku berdebar. Aku mendengar suaranya, walaupun mataku masih diperban.
"Bik, Ibu mana?"
"Udah, Ta, jangan banyak nanya dulu. Ibu kamu lagi urus sesuatu. Istirahat, ya," katanya pelan, suaranya bergetar.
Beberapa hari kemudian, perban mataku dibuka. Cahaya pertama setelah gelap yang menyiksa, menusuk mataku, tapi indah. Aku menangis. Segalanya terasa baru. Dunia, udara, bahkan wajah kecil Cahaya yang digendong Bik Jum.
"Lihat, Ta, Cahaya nungguin kamu," katanya.
Aku tertawa di antara air mata.
"Aku bisa lihat, Bik ... aku bisa lihat lagi ...,"
Tapi keanehan muncul ketika kami bersiap pulang. Ibu tak datang menjemput. Kupikir mungkin beliau di rumah, menyiapkan makan, atau menungguku di ruang tamu dengan senyum khasnya.
Namun begitu sampai di ujung gang, langkahku terhenti. Rumah kami terlihat sepi. Tak ada suara mesin jahit, tak ada panggilan lembut dari Ibu seperti biasanya. Hanya tirai jendela yang bergerak pelan, tertiup angin sore, dan aroma kain yang lama tersisa di udara. Aku mengetuk pintu. Tak ada jawaban.
"Bik ... Ibu nggak di rumah, ya?" tanyaku pelan.
Bik Jum terdiam sejenak. Suaranya serak ketika menjawab,
"Ibumu ... udah tenang sekarang, Ta." Tangannya menyentuh pundakku.
Aku menatapnya bingung. "Maksud Bibik apa?"
Ia menunduk, menahan tangis. "Ibumu meninggal ... waktu kamu masih di rumah sakit. Detak jantungnya tiba-tiba melemah setelah operasi selesai. Sebenarnya ... Ibu kamu yang mendonorkan korneanya untuk kamu."
Dunia seperti berhenti berputar. Suara di sekelilingku lenyap. Yang terdengar hanya degup jantungku sendiri, pelan, patah, lalu hancur. Aku melangkah masuk ke rumah dengan tubuh gemetar. Semua masih sama seperti terakhir kali kutinggalkan. Mesin jahit tua masih di pojok ruangan, diam tapi seolah menunggu.
Kain setengah jadi masih menumpuk di atas meja, menunggu jarum Ibu menyambungnya. Segelas air putih dan dua butir obat tergeletak di meja, seolah ia baru saja pergi sebentar. Aku duduk di kursi yang biasa ia tempati. Tanganku menyentuh permukaannya yang dingin.
Air mata menetes tanpa bisa kutahan, menetes di pipi dan ke tangan yang menempel di meja. Aku merasakan keheningan rumah itu tenang, senyap, seakan penuh dengan kehadiran Ibu yang masih terasa di setiap sudut.
Dan untuk pertama kali, aku benar-benar menyadari, cinta Ibu itu abadi, meski raganya sudah tiada. Ibu, setelah tiada aku baru sadar, kehilanganmu sangat menyakitkan. Rasa penyesalan dan kerinduan seperti hukuman yang tak akan ada habis-habisnya. Ingin rasanya menyusulmu, Ibu, tapi aku sadar sekarang aku kini seorang ibu.
Air mata menetes tanpa bisa kutahan.
"Ibu ...," suaraku parau.
"Ibu ... aku udah bisa lihat sekarang ...,"
Sunyi, tak ada jawaban. Hanya angin sore yang menyentuh pipiku, seolah tangan Ibu sendiri yang menghapus air mataku.
Bik Jum datang membawa sebuah amplop yang lusuh.
"Ibu kamu nitip ini sebelum dibawa ke ruang operasi," katanya pelan, "dia minta dikasih ke kamu... kalau matamu sudah bisa melihat lagi."
Tangan ku bergetar saat menerima amplop itu. Saat membuka amplop lusuh, aku ragu. Kertasnya sudah agak kusam, tapi tulisan tangan Ibu masih rapi seperti biasa-huruf "T" miliknya sedikit melengkung di ujung.
Aku membaca setiap kata pelan-pelan, seolah takut terlalu cepat, suaranya akan hilang. Di setiap kalimat, aku bisa mendengar suaranya lagi. Lembut, tenang, penuh kasih. Suara yang dulu sering ku abaikan, kini jadi hal paling berharga yang pernah kudengar. Air mataku jatuh, membasahi tinta yang mulai pudar. Rasanya dadaku sangat sesak. Tulisan tangan Ibu di depan kertas masih sama rapi, tapi agak goyah di ujung-ujung hurufnya.
Untuk Tata, anak Ibu tersayang.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah bisa melihat lagi. Alhamdulillah ... doa Ibu dijawab, Allah.
Ibu minta maaf kalau selama ini Ibu nggak bisa jadi orang tua yang sempurna. Ibu cuma bisa menjahit, berdoa, dan mencintai kamu dengan cara yang sederhana. Tapi percayalah, setiap jahitan yang Ibu buat, setiap bunyi dari mesin itu, semuanya adalah doa. Doa supaya kamu kuat, supaya kamu tetap hidup, dan supaya kamu nggak sendirian.
Ibu tahu hidupmu tak mudah, sayang. Ibu tahu kamu sering merasa marah sama Ibu. Tapi Ibu nggak pernah marah balik. Karena dari awal, Ibu cuma ingin kamu bahagia.
Nak, ayahmu ... meski ia tak lagi di sini, ia turut menanggung biaya operasi mata kamu. Jangan benci ayah, jangan salahkan dirimu. Semua sudah takdir. Lihatlah dunia dengan mata yang Ibu wariskan padamu.
Ibu tak memiliki harta lain, tapi Ibu rela memberikan mata ini agar kamu bisa menata hidup dan bahagia bersama Cahaya.
Kalau suatu hari kamu bisa melihat lagi, lihatlah dunia dengan hati yang terbuka. Jangan hanya melihat luka, lihat juga cinta. Karena cinta itu ada dalam tawa kecil Cahaya, dalam setiap hembusan angin dan di dalam hatimu sendiri.
Ibu titip Cahaya padamu. Jaga dia seperti Ibu menjaga kamu dulu. Ajari dia tentang kasih sayang, bukan penyesalan; tentang maaf, bukan marah.
Jangan menangis, sayang. Kalau rindu Ibu, dengarkan suara mesin jahit itu dalam ingatanmu. Di sanalah, Ibu akan selalu ada, menjahit doa-doa kecil dari surga, untukmu dan Cahaya.
Dengan seluruh cinta,
Ibu.
°°°°°
Aku menatap sekeliling, rumah kecil itu hening. Mesin jahitnya diam di pojok ruangan, seolah ikut beristirahat bersama pemiliknya. Di kursi tempat ia biasa duduk, masih tergantung potongan kain terakhir yang belum sempat dijahit-kain kecil biru muda, warna kesukaan Ibu. Aku duduk di lantai, memeluk surat itu di dada, dan tangisku pecah tanpa suara.
"Bu ... aku bisa lihat sekarang ...," bisikku lirih. "Tapi Ibu malah pergi ninggalin aku ..."
Cahaya menangis kecil-kecil dari pelukan Bik Jum. Aku menoleh dan menatap wajah mungilnya yang polos, matanya bening, seperti dua cahaya kecil yang menatap langsung ke jantungku. Aku tersenyum dalam tangis, kupeluk dia erat-erat. Untuk pertama kalinya, aku sadar, mungkin beginilah cara Tuhan menebus luka. Bukan dengan menghapus kehilangan, tapi dengan menghadirkan alasan untuk tetap hidup.
Klek ... klek ... klek ... entah dari mana, aku mendengar suara itu lagi. Pelan, dari jauh, tapi cukup untuk membuat dadaku bergetar. Seolah-olah aku merasakan sosok ibu ada di sekitarku. Ibu duduk di depan mesin jahit, tersenyum lembut padaku. Lalu semuanya perlahan memudar, tinggal keheningan dan rasa hangat di dada. Cahaya menggenggam jariku. Aku tersenyum.
Makasih ibu, untuk mata yang ibu hadiahkan padaku ...
Aku menutup mata dan dalam gelap yang kini sudah tak lagi menakutkan.
Tamat