Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore ini Asti berada di rumah sahabatnya. Gadis kecil itu sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Tangan kirinya memeluk sebuah buku tulis, sedangkan tangan kanannya asyik memutar-mutar pulpennya. Ia sudah lama berjanji dengan sahabatnya untuk mengajarinya materi perkalian dan pembagian pecahan. Sofa yang Asti duduki menghadap ke televisi dan tangga menuju kamar Reka di lantai dua. Hatinya gelisah, ternyata sahabatnya lupa tentang janji temu mereka di hari ini. Ya, dirinya memang sudah mengetahui tabiat Reka yang sering keluyuran, apalagi ini masih sore hari.
"Entah dimana Reka berada sekarang, apa mungkin sedang di rumah Rezi lagi." Pikir Asti.
Tadi yang menyambut Asti di depan pintu adalah Mas Dima, abang kedua Reka. Kini Mas Dima sedang berada di kamarnya seusai mempersilahkan Asti masuk dan duduk. Terdengar suara Mas Dima sedang menyanyikan lagu pop barat mengikuti suara sang pemilik lagu. Asti terhanyut mendengarkan suara bass abang sahabatnya ini, mengalun lembut di intro; penuh emosi di bagian verse, kuat dan ekspresif di bagian bridge; kemudian melengking tinggi saat reff tapi tetap terkontrol. Suaranya bervibra. Sangat merdu. Asti kagum, ternyata selain tampan, abang sahabatnya ini juga pandai bernyanyi. Asti tak tahu lagu apa yang disenandungkan oleh mas Dima, lagu itu sangat asing ditelinganya, namun sangat indah melodinya.
Di rumahnya, Asti biasa mendengarkan lagu-lagu dari Panbers; Pance Pondaag; D'loyd; Broery Marantika dan kadang lagu berbahasa Mandailing. Semuanya berbahasa asli Indonesia. Karena memang hanya musik-musik itu yang sering diputar orangtuanya. Terkadang Asti juga mendengarkan lagu-lagu India di TV, lagunya Sulis & Haddad Alwi yang terputar di rumah tetangganya, dan lagu anak-anak yang sering ia tonton di rumah. Jadi lagu-lagu barat sangat aneh terdengar di telinganya. Asti heran ada orang yang selera musiknya musik-musik barat, seperti juga teman-temannya di sekolah yang sering menyanyikan lagu-lagu Westlife; Aqua; Nsync dan lain-lainnya yang Asti tidak mengerti. Ayah dan ibunya sama sekali tak suka dengan lagu barat. Namun Asti berpikir, sepertinya ia kurang gaul karena didikan orangtuanya yang terlalu konservatif dan mendikte.
Sepertinya mas Dima sedang sendirian di rumah, sebab tak terlihat anggota rumah lainnya wara wiri. Sepengetahuan Asti orangtua Reka selalu pulang malam. Kedua orangtua Reka bekerja, papanya PNS di kantor PUPR, sedangkan ibunya bidan PNS di PUSKESMAS. Abang Reka yang tertua sedang berkuliah di UI. Mas Dima sendiri masih kelas 3 di SMA favorit di Jakarta Barat. Dan Reka adalah anak terakhir dari 3 bersaudara.
"Gimana, Reka udah pulang?" Tanya mas Dima yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Asti terkejut. Wajahnya yang sedari tadi muram menatap ke arah jalan, sontak melihat ke sumber suara.
"Belum Mas." Jawabnya.
Mas Dima duduk di sofa di hadapan Asti. Wajahnya yang tampan membuat gadis kelas 5 SD itu gelagapan.
"Emang kamu mau belajar apa sama Reka?" Tanya mas Dima lembut.
Asti menunjukkan buku paket yang sedari tadi ia letakkan di atas meja. "Ini Mas, matematika." Jawabnya.
"Tentang apa?" Tanya mas Dima balik.
"Tentang perkalian dan pembagian pecahan."
"Emang kamu gak ngerti?"
"Iya Mas, gak ngerti."
"Emang janjian sama Reka kapan?"
"Janjiannya udah dari 3 hari lalu waktu dia main ke rumahku, sore ini janjinya. Mungkin dia lupa Mas."
"Paling lagi di tempat Rezi itu."
"Iya Mas." Asti bisa maklum.
Mata Asti kembali mengamati jalan. Dia nampak putus asa. Akhirnya Asti memutuskan, "Yaudahlah Mas, aku pulang aja."
"Ga apa itu gak ngerti pelajarannya?"
"Nanti aku belajar sendiri aja di rumah."
"Ya udah sini, Mas aja yang ngajarin."
"Gausah Mas, aku pulang aja." Asti canggung.
"Loh emang kenapa kalo Mas yang ngajarin?"
"Ga usah nanti Mas repot. Sama Reka aja besok-besok."
"Halah takut ngerepotin aku atau grogi berduaan sama aku ha...? ha...?" Alis mas Dima naik turun.
Asti tersenyum malu, pipinya yang cokelat memerah. Dia jadi salah tingkah digoda seperti itu.
"Ya udah buka!" Perintah mas Dima.
"Apanya Mas?" Asti bingung.
"Ya bukunya lah." Jawab mas Dima setengah tertawa.
Asti ikut tertawa, menertawakan dirinya yang canggung, gampang gelagapan dan terlalu kaku. Baru kali ini ia berdialog panjang dengan mas tampan satu ini. Dia mulai membuka halaman materi yang akan dipelajari kemudian menyodorkan buku itu ke hadapan si mas tampan. Mas Dima tampak mengamati lembar demi lembar halaman, mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bergumam. Pria muda itu menyuruh Asti mendekat. Asti menuruti perintah itu, ia beranjak dari tempat ia duduk merapat ke sofa pendek yang terletak di samping kiri depan si pria muda. Mas Dima memberi gestur siap menjelaskan materi. Asti turun dari sofa, duduk di lantai, segala peralatannya ia siapkan di atas meja kaca, kemudian buku tulisnya ia buka di lembar yang masih kosong, tangan kanannya yang memegang pulpen ia posisikan di atas lembar kosong itu, bersiap mencatat.
"Pertama, kita bahas yang perkalian dulu ya. Ini contohnya 1/2 × 1/3. Yang harus dikerjain pertama adalah pembilangnya dulu. Udah tau kan yang mana yang pembilang dan yang mana yang penyebut?"
"Udah Mas."
"Kalo cara mengalikan tau kan?" Tanya mas Dima sembari tertawa kecil.
"Tau Mas." Jawab Asti yang juga ikut menyunggingkan senyum.
"Bagus. Jadi, tadi pembilang dikali pembilang, 1 dikali 1, berapa?"
"1 Mas."
"Terus penyebut dikali penyebut, berarti 2 dikali 3, berapa?"
"6 Mas."
"Pinter, jadi 1/2 × 1/3 sama dengan?"
"1/6."
"Pinter. Tuh bisa. Sekarang kita bahas rumus dasar pembagian pecahan ya."
"Iya Mas."
"Nah, soalnya sama kayak yang tadi tapi sekarang dibagi, 1/2 ÷ 1/3. Kalo soal pembagian, caranya dikali silang. Maksudnya, pembilang dari bilangan pecahan pertama dikalikan dengan penyebut dari bilangan pecahan kedua, itu nanti hasilnya dijadiin pembilang. Kemudian penyebut dari bilangan pecahan pertama dikalikan dengan pembilang dari bilangan pecahan kedua, yang ini hasilnya dijadiin penyebut. Nah, soalnya kan 1/2 ÷ 1/3, berarti (1 × 3) / (2 × 1), hasilnya 3/2. Nah 3/2 disederhanakan menjadi pecahan campuran. Tau gimana caranya menyederhanakan jadi bentuk pecahan campuran?"
"Tau Mas."
"Jadi berapa hasilnya?"
"1 1/2 Mas."
"Pinter."
Asti sibuk mencatat rumus yang diberikan beserta segala penjelasan-penjelasannya. Mas Dima menunggu sampai sahabat adiknya itu selesai mencatat.
"Sudah?"
"Sudah Mas."
"Nanti kita lanjutin ke soal-soal yang rumit ya."
"Iya Mas."
Lama jeda diantara mereka. Asti melihat pada catatannya. Seketika ia mendongakkan kepala, mas Dima rupanya sedang menatapnya, entah sejak kapan. Asti malu, ia tersenyum kaku, "Kenapa Mas?"
"Yaudah sana bikinin Mas teh anget!"
Asti terdiam, tubuhnya yang kurus dibalut gaun merah muda itu menggeliat, bibirnya tersenyum canggung.
"Loh kok malah mesam-mesem cengengesan. Sana buat cepet! Tuh di dapur!"
"Aku gak bisa buat teh, Mas."
"Loh? Gimana sih anak gadis kok buat teh aja gak bisa. Katanya mau jadi istriku. Kalo mau jadi istriku harus bisa dong, buat teh buat kopi."
Asti tak membela diri, ia hanya tersenyum.
"Yaudah lah kalo gitu aku bikin sendiri aja. Halaaaah, percuma ada anak gadis di sini, mau teh pun aku harus buat sendiri." Mas Dima beranjak ke dapur.
Hati Asti menciut. Perasaannya tak enak. Wajahnya berubah masam. Dari sofa terlihat mas Dima sedang memanaskan air di dispenser. Kemudian ia mengambil panci dari dalam lemari kitchen set, mengisinya dengan air keran, meletakkannya di atas kompor gas yang menyala. Mas Dima mengambil sesuatu dari dalam kulkas, seketika ia menunjukkan pada Asti sebungkus mie instan sambil bertanya, "Kamu mau juga? Biar kumasakin sekalian?"
Asti menggeleng sekali. Kemudian ia mengamati kembali catatannya tadi. Menelitinya dan memahaminya sekali lagi.
Aroma rebusan bercampur bumbu mie instan menguar. Asti meneguk air liurnya, rasa gurih kuah mie seketika terasa di lidahnya, perutnya menjadi lapar, tapi ia ingat ia tak pernah suka makan mie instan. Asti memandangi mas Dima yang memunggunginya, tangan mas Dima sedang memotong-motong sesuatu di atas meja kitchen set. Punggung Mas Dima yang tegap dibalut kaos tipis-ketat berwarna putih polos. Otot-otot punggung bagian atas menyembul dari balik kaos tipis itu. Asti sangat menyukainya. Baru pertama kali di dalam hidupnya ia kagum kepada lawan jenis karena fisiknya. Lelaki yang baru menginjak usia dewasa awal itu sangat indah di mata Asti. Rambut belah pinggirnya, tatapan matanya yang tajam dengan kornea berwarna cokelat terang, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kemerahan, bentuk rahangnya tegas, ada kumis, jambang dan janggut tipis menghiasi wajahnya. Lehernya jenjang dengan jakun yang sangat menonjol. Kulitnya putih. Otot-otot lengan, paha dan betisnya menonjol. Tubuhnya tinggi jangkung mencapai 180 cm.
"Gagahnya." Gumam Asti dalam hati.
Baru kali ini ia melihat pria setampan ini. Di lingkungan rumahnya tak ada pria serupawan ini, apalagi di rumahnya. Baginya mas Dima terlihat seperti artis sinetron di TV.
Bukan suatu kebetulan pertemuan Asti dengan abang sahabatnya ini. Asti dan Reka merupakan teman seperguruan di kegiatan beladiri karate. Mas Dima sering terlihat mengantar-jemput adik semata wayangnya itu. Dulu, Asti tak tahu kalau mas Dima adalah abang Reka. Gadis kecil itu mengira mas Dima adalah papa atau om dari Reka. Pada suatu kesempatan, Asti bertanya pada sahabatnya itu, waktu itu sore hari di taman kota tempat latihan mereka, saat suasana masih sepi, hanya ada beberapa orang murid yang baru datang, termasuk Asti dan Reka. Asti duduk sendirian di bangku besi panjang bercat putih, Reka menghampirinya dari arah belakang. Asti ingat betul bagaimana percakapan memalukan itu, bagaimana Reka menjebaknya dalam dialog mereka.
"Hai! Masih sendirian? Yang lain belum pada datang?" Sapa Reka yang tiba-tiba muncul dari arah belakang lalu berdiri di hadapannya.
Asti terkejut, ia menoleh pada sumber suara. Rupanya Reka yang bicara. "Eh hai! Iya nih belum pada dateng Reza, Rezi sama yang lainnya. Lu darimana? Tadi bukannya lu udah sampe sini ya, tapi kok pergi lagi, kemana itu?"
"Iya gua pergi ke toko buku tadi beli ini." Reka menunjukkan kertas marmer dari dalam plastik hitam yang ditentengnya.
"O oh, gua kira tadi lu pulang lagi."
"Enggak. Eh lu bawa kan kertas warna-warni ini?"
"Iya, bawa ada dalam tas nih."
"Kalo gua lupa bawa dari rumah, baru inget pas udah nyampe, makanya gua minta anterin mas gua untuk anterin beli ke toko buku yang di sana itu."
"Eh iya, laki-laki yang tadi nganterin lu itu mas lu? Maksudnya abang gitu?"
"Iya abang, gua manggilnya mas karna kami kan orang Jawa."
Asti bingung. Keningnya berkerut. Reka yang peka akan kebingungan sahabatnya bertanya, "Kenapa, kok kayak mikir gitu?"
"Enggak, gua kirain selama ini itu bokap lu."
"Enggak lah itu mas gua. Emangnya mukanya keliatan udah tua apa?" Canda Reka setengah tertawa.
"Iya." Jawab Asti.
Reka terkejut, raut wajahnya berubah. Asti melanjutkan bicaranya, "Abisnya dia keliatan besar banget, jadi gua pikir dia bokap lu, atau mungkin om lu gitu, misal adek bokap atau nyokap lo yang paling kecil. Yang ikut tinggal di rumah kalian. Karna kerjaannya ga ada, mangkanya disuruh bokap-nyokap lu buat anter sama jemput lu gitu."
"O oh ha..ha...ha...ha..." Reka tertawa terbahak-bahak. Kedua tangannya memegangi lututnya, badannya berguncang, wajahnya memerah dan ada airmata mengalir dari kedua matanya. Asti ikut tertawa, gadis itu merasa penjelasannya yang panjang lebar memang lucu sehingga membuat Reka terbahak-bahak. Tubuh Reka semakin berguncang. Wajahnya makin memerah dan airmata semakin deras mengalir ke pipinya, tangannya memukul-mukuli kedua pahanya, tas yang tersandang di punggungnya ikut bergerak. Asti takjub melihat reaksi berlebihan Reka setelah mendengar argumennya yang sudah lama bertengger di dalam kepalanya itu. Lama juga mereka tertawa bersama, akhirnya Reka menghentikan tawanya. Ia mengusap mata dan pipinya yang basah oleh airmata. Dan sekali lagi menjelaskan pada Asti, "Dia itu memang mas gua. Abang kandung gua yang kedua, namanya Dima, kalo yang pertama namanya mas Fakhrul, gua anak terakhir. Mas Dima udah kelas 2 SMA jarak umur kami 7 tahun, mangkanya keliatan besar, badannya tinggi pula 187 cm. Mangkanya itu mungkin lu ngiranya dia bokap gua. Bokap gua gak setinggi dia sih, mas Dima paling tinggi di rumah kami." Sekali lagi Reka tertawa.
"O oh. Kalo mas lu yang pertama yang gendut itu ya, yang putih pake kacamata? Atau itu yang bokap lu? Pernah tuh gua liat nganterin lu."
Reka terkikik, dia berusaha menjawab pertanyaan Asti, "Nah, yang itu mas Fakhrul. Bokap gua gak pernah nganter jemput gua, dia sibuk selalu pulang magrib kadang malam. Kalo mas Fakhrul sekarang kuliah di UI, dia jarang banget pulang, sibuk praktikum katanya."
"Oh." Jawab Asti sekenanya. Akhirnya rasa penasarannya selama ini terjawab sudah.
"Ganteng gak?" Reka bertanya.
"Siapa?" Tanya Asti bingung.
"Itulah, mas gua, mas Dima?"
"O oh . Iya. Gantengan masnya malah daripada adeknya he..he..."
Reka terkekeh, "Banyak tuh yang naksir. Temen-temen sekolah gua yang cewek kalo pada main ke rumah tuh pada suka ngeliatin dia. Ganteng kata mereka. Pada pengen jadi pacarnya tuh mereka."
"O oh. Terus mas lu mau sama mereka, sama anak kelas 4 SD?"
"Ya enggaklah. Dia tuh gak pernah pacaran tauk. Cuek orangnya. Bahkan galak sama cewek."
"Aduh, serem dong." Asti memberikan gestur ketakutan.
"Tapi aslinya baik kok penyayang."
"O oh."
"Lu gak mau kirim salam gitu untuk dia?" Goda Reka sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ya udah, gua kirim salam ya buat dia. Salamnya salam sayang, eh enggak deh salam cinta. Sekalian gua mau daftar jadi ceweknya he..he..." Asti terkekeh.
Lagi-lagi Reka tertawa terbahak, wajahnya kembali memerah dan badannya berguncang. "Ya udah ntar gua sampein salam dari lu." Katanya sambil menyeka air mata di pipinya.
Reka berjalan menuju Asti, duduk di sampingnya, meletakkan tas dan kantong plastik hitam berisi kertas marmer di antara mereka. Tiba-tiba dari arah belakang ada suara bass seorang lelaki. Lelaki itu berkata, "Ya udah, Mas pulang dulu ya. Baek-baek latihannya. Ntar Mas jemput lagi."
Dan Reka pun menyahuti perkataan si lelaki, "Iya Mas."
Asti terkejut, ia menoleh ke belakang. Terlihat sosok laki-laki jangkung berdiri mengenakan baju berwarna merah dengan sablon wajah personel band dan tulisan nama band tersebut, Green Day. Asti terperangah, jadi selama ia dan Reka membicarakan mas Dima, sosok yang dibicarakan ada di belakang mereka. "Pantes aja Reka gak berenti ketawa sampe nangis gitu." Batinnya.
Asti sangat terkejut. Matanya tak lepas memandangi sosok itu yang terus menatap telepon genggamnya dengan kening berkerut, kedua jempolnya terlihat sibuk mengetik-ngetik tombol HP. Tanpa menatap kepada dirinya dan Reka, mas Dima beranjak ke belakang ke arah sepeda motornya, menyalakan motor, lalu pergi. Selama proses kejadian itu Asti tak mengalihkan pandangannya. Reka kembali terkikik. Asti merasa kesal terhadap sahabatnya itu. Rupa-rupanya sang sahabat sedang mengerjai dirinya. Ia begitu polos sehingga masuk ke perangkap jebakan sang sahabat. Lengan gadis itu ingin memukul pundak sang sahabat, namun tak sampai karena Reka mengelak. Asti memohon-mohon pada Reka supaya kejadian ini tidak diceritakan kepada sahabat-sahabat mereka yang lainnya. Reka mengiyakan permintaan Asti. Namun dirinya masih saja menertawai Asti.
Setelah kejadian itu, Reka selalu mengejek Asti dengan menyebut Mas Dima sebagai pacar Asti, yayang Asti, mamas Asti, ataupun laki Asti. Untung saja ejekan itu Reka layangkan kepada Asti jika mereka sedang berdua saja, jadi sahabat yang lain tidak tahu tentang gosip itu.
Tapi suatu hari, rahasia itu terbongkar juga. Saat itu lebaran idul fitri hari kedua. Asti beserta Rezi, Reza, Andri, Fajar dan satu teman wanita yang bernama Fitri bersilaturahmi ke rumah Reka. Hari itu Asti mengenakan kembali setelan baju muslimnya yang berwarna cokelat tua bermotif polkadot. Asti, Fitri, Andri, dan Fajar duduk di sofa yang menghadap tangga. Asti duduk paling ujung sehingga sikunya bisa bertumpu pada lengan sofa. Reza duduk di sofa tunggal samping kanan depan Asti, dan Rezi duduk di sofa tunggal yang berseberangan dengan Reza. Sedangkan Reka sebagai tuan rumah duduk di sofa yang berhadapan dengan Asti.
Terlihat dari tempat Asti duduk, di dapur ada papa, mama, mas Fakhrul dan mas Dima sedang makan bersama. Para sahabat asyik mengobrol membahas aktivitas mereka saat puasa kemarin, sambil ngemil kue-kue lebaran yang tertata di atas meja tamu. Asti memakan kue nastar, kastengel dan putri salju, kue-kue kesukaannya yang tak pernah sekalipun dibelikan ibunya untuk lebaran, alasan ibunya karena tidak enak, padahal Asti tau betul alasan sebenarnya karena mahal. Kue-kue itu baru bisa dinikmati Asti bila ia berkunjung ke rumah saudara ataupun tetangga.
Saat mereka sedang asik ngobrol, tiba-tiba mas Fakhrul keluar dari dapur, kemudian melayangkan pertanyaan, "Siapa kemaren yang kitim salam sama mas Dima?"
Semua yang hadir terdiam. Begitupun Asti, ia seketika mematung, sejenak menghentikan kunyahannya. Reka tersenyum melirik ke arah Asti, yang lainnya saling lirik. Mas Dima keluar dari dapur kemudian duduk di anak tangga ketiga, tangannya memegang HP, sambil matanya mengawasi anak-anak lelaki di ruangan itu, kemudian tatapannya kembali ke HP. Jantung Asti berdetak kencang, kedua tangannya bergetar. Ia buru-buru melanjutkan kunyahannya dan menelannya dibantu air sirup rasa melon. Mas Fakhrul yang berdiri di hadapan Asti memandang kepada Fitri, bukan tanpa alasan karena Fitri memang sedang tersenyum malu. "Mungkin mas Fakhrul nyangkanya Fitri. Baguslah. Mudah-mudahan gak ketauan." Batin Asti.
Tiba-tiba lelaki bertubuh tambun yang berdiri di hadapan Asti berbalik arah kepada mas Dima. Ia bertanya pada adik tampannya itu, "Yang mana Dim? Yang gaun merah ya?"
Asti menghela nafas pelan, hatinya lega. Ternyata abang Reka yang nomor satu itu memang mengira Fitri lah orangnya. Mas Dima menjawab, namun pembicaraan mereka tak dapat didengar oleh Asti. Mas Dima berbicara panjang dan pelan sambil tetap menatap pada layar HP. Tiba-tiba mas Fakhrul kembali menghadap ke depan. Matanya tertuju pada Asti kemudian ia berkata, "Oh yang ini, yang pake baju polkadot warna-warni." Lelaki tambun itu tertawa. Perutnya yang buncit berguncang. Anak-anak yang lainnya langsung menatap pada Asti seolah meminta jawaban. Dari dalam dapur ibu Reka berkata, "Eh siapa itu yang naksir-naksiran? Kok masih kecil udah pada centil?" Suaranya yang nyaring memenuhi ruangan. Asti malu, pipinya memerah karena tuduhan itu. Wajahnya menunduk, jari-jemarinya saling bertaut, dan ia juga menekukkan jari-jari kakinya. Tiba-tiba mas Fakhrul berkata lagi, "Ini Ma, ada temen Reka yang naksir Dima." Kemudian ia menoleh kembali pada mas Dima dan berkata, "Cantik loh Dim."
Mas Dima menjawab, "Halah, apaan sih, anak SD. Bocah cilik, lama nunggunya."
Mas Fakhrul menjawab, "Lah, baguslah Dim. Lu kan sekarang kelas 2 SMA, dia kelas 4 SD. Ntar lu lulus kuliah terus cari kerja. Emangnya gampang cari kerja, kan bakal lama. Ntar lu udah mapan, dia udah gede udah gadis. Udah makin cantik. Udah bisa dikawinin. Baguslah dapetnya yang muda. Seneng tauk dapet yang muda. Pride itu bagi laki-laki."
Asti tercengang mendengar percakapan itu. Yang lainnya tersenyum sambil menatap ke arah Asti. Reza tak hentinya menyoraki dengan kata, " Cie...cie..."
"Cantik Dim, senyumnya manis. Ntar udah gede cantik ini. Ayok taruhan kita, ntar ni anak kalo gede cantik banget. Lebih cantik dari si siapa nama cewek lu itu?" Lanjut mas Fakhrul.
"Paan sih lu?" Lanjut mas Dima sambil tersenyum kecut.
"Ma! Ma! Ini mantu Mama, calonnya Dima. Diantara kami bertiga, baru Dima yang udah jelas punya calon nih." Seru mas Fakhrul.
Kemudian ia bertanya pada Asti, "Ke sini mau nengokin mas Dima ya? Hayooo!"
Asti semakin tertunduk. Terdengar suara anak-anak lainnya yang ikut menggoda dan menyoraki.
"Udah salam tadi sama mas Dima?" Tanya mas Fakhrul.
"Belum Mas." Jawab Asti lirih.
"Salam dong! Kan calon suami."
Riuh suara anak-anak lainnya menyoraki Asti. Bahkan Reka ikut menertawakan dirinya. Mas Dima tersenyum menyeringai sambil memandang layar HP.
"Oh, nanti aja pas pulang ya salam, sekalian minta THR sama dia! Kemaren kamu kirim salam kan untuk dia? Salamnya apa? Salam sayang? Eh salam cinta ya? Cie..."
Mas Dima terkikik. Reka semakin terbahak. Yang lainnya juga sama. Bahkan mama dan papa Reka ikut tertawa menontoni kejadian ini.
"Ganteng ya mas Dima?" Goda mas Fakhrul, alisnya naik-turun.
Asti tersenyum canggung, lalu menggelengkan kepalanya sekali. Kening mas Fakhrul mengernyit, ia melanjutkan, "Ah bohong, waktu itu katanya kamu bilang mas Dima ganteng, lebih ganteng dari Reka."
Sorak sorai meramaikan suasana siang itu. Asti semakin malu, matanya menatap pada Reka yang sedang terbahak. Tatapan itu seolah menghakimi Reka karena telah mengingkari janjinya untuk tak bercerita kepada siapapun soal kejadian sore itu. Lalu Asti juga menatap pada mama dan papa Reka untuk melihat reaksi mereka, ternyata mereka sedang tersenyum. Kemudian mata Asti beralih kepada lelaki yang diejek bersamanya, rupanya juga sedang tersenyum sambil melihat padanya kemudian beralih ke handphone miliknya lagi. Mereka semua meledek Asti, mempermainkan gadis kecil pemalu itu sama seperti Reka yang mempermainkannya sore lampau di tempat latihan beladiri.
Siang itu selama berjam-jam Asti mengalami bully-an dari para sahabat dan keluarga Reka. Jam 12 tepat, Rezi memutuskan untuk berpamitan, yang lainnya mengikuti. Para sahabat saling bersalaman, saling meminta maaf. Tak lupa memohon maaf pada kedua abang Reka dan terakhir pada mama dan papa Reka yang masih duduk di ruang dapur. Asti mendapat jatah terakhir bersalaman dengan kedua abang Reka. Saat hendak berjabatan dengan mas Fakhrul, lelaki tambun itu mempersilahkan Asti untuk lebih dulu bersalaman dengan mas Dima. Asti mencium tangan mas Dima dengan perasaan yang kacau. Dan saat bersalaman dengan mas Fakhrul, lelaki itu menahan tangan Asti. Terus mengejeknya dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan menggoda, seperti, "Gimana, gemeter gak salaman sama mas Dima?"
"Tangan mas Dima bau opor ayam ya?"
"Kenapa naksir sama mas Dima? Karena sering ngeliat dia nganterin Reka ya ke tempat latihan? Cinta pada pandangan pertama dong ha.. ha.. ha..."
"Ganteng banget ya mas Dima?"
"Salamnya mau dibales gak sama mas Dimanya?"
"Mau daftar jadi ceweknya kan? Pas tuh, lagi jomblo mas mu."
"Mau ditungguin gak sama mas mu buat jadi jodohnya? Mau ya ditungguin ya?"
Mas Dima hanya tersenyum memandangi tingkah Asti yang selalu meronta menarik tangannya yang ditahan. Gadis itu terlalu gugup dan canggung. Sehingga lelaki tambun itu semakin senang mempermainkannya. Saat tangannya terlepas, ia buru-buru berlari ke arah dapur untuk menyalami mama dan papa Reka. Saking terburu-burunya ia sampai tak sempat menerima uang THR dari mama Reka. Gadis itu langsung berlari keluar. Mama dan papa Reka sampai meneriakinya untuk menerima dulu uang saku untuknya. Tapi ia tak berani kembali ke rumah itu, ia terus berlari mengejar teman-temannya yang sudah berjalan jauh di depannya. Ia sungguh tak bisa lupa pada peristiwa memalukan itu.
Mas Dima kembali duduk di hadapannya, membawa semangkuk mie rebus lengkap dengan telur potongan cabai rawit hijau dan irisan bawang merah. Ia juga meletakkan segelas besar teh manis hangat. Asap yang mengepul dari mangkuk mie dan gelas bercampur di udara dihembus angin dari AC. Ia menawari Asti sebelum menyantap makanannya, kemudian menyantapnya dengan lahap. Sesekali matanya menatap Asti yang sibuk memandangi buku paketnya.
"Gimana, kita lanjut? Sambil makan ya aku."
Asti mengangguk. Mas Dima menjelaskan contoh soal yang termudah sampai yang tersulit. Mereka menyelesaikan 20 soal latihan di halaman terdepan, dan 5 soal latihan sulit di halaman berikutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Rupa-rupanya mereka sudah menghabiskan waktu dua jam untuk membahas tuntas materi ini. Asti lega, akhirnya ia benar-benar paham. Bersama mas Dima semuanya begitu mudah.
Seminggu yang lalu ketika ada PR tentang materi penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut tak sama, guru di sekolahnya cuma menjelaskan rumus dasar dan memberikan contoh soal termudah, tanpa menjelaskan rumus turunan, dan langsung memberikan PR sampai puluhan soal. Sampai di rumah, Asti meminta izin untuk mengerjakan PR itu dengan bantuan guru privatnya yang pernah ia datangi sekali di minggu sebelumnya, namun ibunya menolak, alasannya bayaran guru privat itu sangat mahal, orangtua Asti tak sanggup. Padahal Asti senang belajar dengan Pak Otto yang merupakan tetangga belakang rumahnya.
Akhirnya PR itu dikerjakan bersama ibunya yang mengajarinya sambil marah-marah dan menoyor-noyor kepalanya. Itupun salah rumus, dimana kedua penyebut yg harusnya dibuat sama terlebih dahulu, malah main langsung saja dijumlahkan pembilang dengan pembilang, penyebut dengan penyebut. Asti bingung, dalam hatinya ia menolak untuk menerima, tetapi karena takut, semua yang diajarkan ibunya ia terima saja. Baginya, ibu guru di sekolah dan ibunya di rumah sama saja, hanya bisa marah-marah dan memerintah. Sampai di sekolah, Asti kembali mengerjakannya sambil sesekali bertanya kepastian rumus pada teman sebangkunya.
Untuk materi yang kali ini, Asti kapok belajar dengan ibunya yang sepertinya tak mengerti apa-apa. Jadi saat Reka main ke rumahnya 3 hari yang lalu, ia curhat tentang keadaannya dan Reka bersedia membantu dengan syarat Asti yang datang ke rumahnya, tujuannya biar mereka membahas materi itu bersama-sama, sebab di sekolah Reka mereka juga sedang membahas materi itu. Waktu itu Asti ragu, karena ia masih malu dengan kejadian lebaran tahun lalu. Tapi Reka menenangkannya, menyuruhnya untuk melupakannya. Tapi sepertinya kali ini Reka mengerjainya kembali. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu bukan orang yang pelupa.
Mas Dima sudah menyelesaikan makannya, ia mengelus-elus perutnya. Pelajaran hari ini untuk Asti juga sudah selesai. Asti berpamitan. Bahkan sampai jam segini Reka juga belum pulang. Mas Dima mengeluhkan Reka yang asik main dan jarang diam di rumah pada Asti. Karena langit sudah senja, mas Dima mengajukan diri untuk mengantar Asti. Mulanya Asti menolak, namun mas Dima memaksa, tak tega membiarkan seorang gadis yang masih kecil berkeliaran di luar saat langit sudah senja.
Mereka sudah sampai di jalan seberang komplek rumah mas Dima. Seketika mas Dima memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang sejak tadi ada diantara mereka.
"Kenapa gak mau kuantar? Malu ya jalan sama aku?"
Asti hanya menjawab dengan senyuman yang dikulum.
"Kan aku pacarmu." Ucap mas Dima lagi.
Lagi-lagi Asti hanya tersenyum. Matanya menatap pada wajah mas Dima yang menjulang di atasnya. Ujung kepala Asti hanya sejajar dengan dada bagian bawah mas tampannya.
"Nanti, kalo kamu udah gede kamu harus bisa masak ya. Kalo mau jadi isteriku syaratnya harus bisa masak. Soalnya aku suka makan. Harus bisa bikin teh sama kopi yang enak." Pesan mas Dima sambil tersenyum menatap Asti, lengannya yang besar merangkul pundak gadis kecil itu, merapatkan tubuh mungil gadis itu ke pelukannya. Asti bisa menghirup samar aroma deodorant dari tubuh abang sahabatnya itu. Asti terus menatap ke wajah masnya itu. Kening mas Dima mengernyit, seolah matanya bertanya ada apa pada Asti. Asti hanya mengucapkan satu kalimat pendek, "Mas wangi."
Senja itu Asti jatuh cinta kepada abang sahabatnya ini, padahal sebelumnya semua itu hanya ejekan untuknya, tapi kali ini perasaan itu mulai ada.