Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Marshmallow Merah Jambu
0
Suka
6,223
Dibaca

Dunia di sekelilingku seakan melambat bagai adegan slow motion. Sendok di tangan kananku membeku di udara. Napasku tertahan dan aliran darahku terhenti di tengah jalan. Degup jantungku menjadi satu-satunya organ yang tetap bekerja, bahkan lebih rajin dari biasanya.  

“Saya juga coffeeholic, rasanya kepala saya mau pecah kalau tidak minum kopi sehari saja!” Kulihat dari sudut mata, dia bergerak ke arah meja di samping washtafel. Meletakkan cangkir kosongnya di sana kemudian kembali beranjak mendekatiku.

Hmmm, sepertinya aroma arabika,” Katanya sambil menghirup aroma kopi yang baru kuseduh dengan mata terpejam. “Keasamannya bahkan sudah terasa sebelum kita mencicipinya.” Dia membuka mata. Senyumnya yang merekah sukses membuatku semakin salah tingkah. Dengan susah payah kutarik sudut bibirku ke atas. Entah membentuk senyuman atau malah seringaian aneh.

“Kebetulan saya masih menyimpan java preanger oleh-oleh dari teman di Jember, kalau kamu mau nyoba?” Aku hanya sanggup mengangkat sebelah bahu sebagai tanggapan.

“Tawaran saya serius loh,” Katanya dengan mimik wajah yang membuatku sontak tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia pikir aku tengah meragukan tawaran menariknya, padahal tentu saja tidak. Aku hanya sedang mengalami kelumpuhan otak sementara akibat kehadirannya.  

“Oke, kita bisa barter kalau begitu,” kataku pada akhirnya, setelah berhasil menguasai diri dan menemukan kembali suaraku yang tadi menghilang entah kemana. “Sepertinya saya masih menyimpan Kape Alamid oleh-oleh dari teman yang baru pulang liburan.”

Wow, kopi luwak dari Filipin?” Sepasang matanya membesar penuh minat. Aku mengiyakan dan kembali tertawa. Ekspresi wajahnya yang lucu benar-benar sangat membantu mempertahankan kewarasanku. Entahlah, aku juga tidak habis pikir bagaimana mungkin aku bisa begitu tergila-gila pada sosok lelaki yang bahkan usinya kutaksir jauh lebih muda dariku.       

Begitu kembali ke ruangan, aku langsung menghubungi Tiara. Dia satu-satunya sahabat yang masih bersedia menjadi pendengar setia untuk cerita-cerita konyolku. Bayangkan saja, di usia yang hampir mendekati kepala tiga dimana nyaris seluruh perempuan sebayaku sudah sibuk bercerita mengenai suami dan anak-anaknya, aku masih saja berkutat pada cerita cinta diam-diam layaknya anak SMA.  

Lelaki itu, karyawan baru di divisiku. Sejak awal bersitatap dengannya, aku sudah terjebak pada pusara di manik matanya. Dia seperti dewa Narcissus dalam mitologi Yunani yang bisa meluluhkan hati wanita hanya dalam satu kedipan mata. Secara tidak sengaja aku menabraknya ketika tengah terburu-buru melintasi lapangan parkir. Jam di tanganku sudah menunjuk ke angka sembilan kurang dua menit, sementara jarak area parkir ke ruang absensi memakan waktu kurang lebih lima menit dengan berlari-lari kecil. Jangan bayangkan adegan seperti di sebuah sinetron, tidak ada sama sekali kejadian romantis antara aku dan dia. Aku hanya sempat meminta maaf tanpa benar-benar menatapnya. Lalu tiba-tiba saja kudengar dia memanggil namaku.

“Naila!” Aku menoleh spontan. Alisku terpaut heran, bagaimana mungkin lelaki asing itu bisa mengetahui namaku. Padahal aku hanya pekerja kantoran biasa yang tidak pernah mucul di acara televisi manapun. Aku juga bukan salah satu model produk kecantikan yang gambarnya dipajang pada billboard-bilboard besar di pinggir jalan.

Dia melangkah menghampiriku. Senyum simpul tersungging di bibir tebalnya.

Name tag kamu...” Katanya begitu tiba di hadapanku sambil mengacungkan name tag di tangannya. Aku hanya terpaku, menatap gagu seperti orang dungu. Dia mengernyit sesaat, sebelum akhirnya meraih tanganku dan meletakkan name tag itu ke dalam genggamanku.

Thanks!” Aku mendesis sendiri setelah dia berjalan melewatiku. Rupanya name tag-ku terjatuh sewaktu aku menabraknya tadi.

 

***

 

Jam lima lewat lima belas, aku sudah duduk manis di depan meja pantry. Biasanya, dia selalu lembur di tanggal kelipatan lima setiap bulannya atau dikenal dengan istilah heijunka. Sudah kusiapkan bermacam topik pembicaraan untuk kulontarkan begitu berhadapan dengannya nanti. Secangkir kopi beraroma woody telah kuseduh demi melengkapi usahaku, meskipun jujur saja aroma khas kopi robusta sebenarnya tidak begitu kusukai. 

Lima menit menjelang adzan Magrib, belum juga ada tanda-tanda langkah kakinya yang berderap dari ujung lorong menuju pantry. Kopiku sudah mulai dingin, persis seperti hatiku yang mulai menggigil. Ada perasaan tidak nyaman yang kini menyergapku pelan-pelan. Tidak biasanya dia melewati ritual menyeduh kopi favoritnya ketika jadwal heijunka tiba, kecuali ada teman yang memaksanya ber-espresso ria di coffee shop depan kantor sana. Tetapi kulihat beberapa teman minum kopinya sejak tadi sudah keluar masuk pantry untuk menyeduh kopi, lalu kemana dia pergi?  

 “Hey, Nai...” Aku sontak mendongak. Suara itu sudah kuhapal di luar kepala. Akhirnya dia muncul juga. Tanpa sadar aku menarik napas lega.

“Kamu heijunka juga, Nai?” Kali ini aku membeliak. Bukan hanya karena pertanyaannya yang terdengar aneh, tetapi karena suara itu bukan berasal darinya. Suara itu milik perempuan yang berdiri tepat di belakang punggungnya. Sebelah tangannya tampak bergelayut manja di lengan lelaki yang sejak tadi kunantikan kehadirannya.

Hey, Ve.” Aku menyapa dengan senyum terpaksa. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu padamu? Aku kan satu divisi dengan Juno.” Kutunjuk lelaki itu dengan dagu. Dia hanya menatapku dengan sorot mata kaku.

“Silakan, pantry-nya memang terlalu sempit untuk kita bertiga!” Kataku setelah meneguk sisa kopi di cangkirku dan bangkit dari kursi. Berjalan cepat meninggalkan mereka yang hanya bisa terpana mendengar keketusanku. Aku bahkan masih terus menggerutu sepanjang lorong menuju ruang kerjaku. Menyesali kebodohan yang baru saja kulakukan. Harapan yang berlebihan saat menanggapi sikap manis Juno selama ini benar-benar kenaifan yang tidak termaafkan. Ternyata dia sama saja dengan lelaki flamboyan yang banyak berkeliaran. Sikap tebar pesona menjadi senjata andalannya tanpa peduli sama sekali pada efek samping yang dirasakan korbannya.  

Kubanting pintu ruanganku hingga berdebam. Lalu menghempaskan diri ke atas kursi hingga menimbulkan bunyi berderak. Kuraih stoples kaca di ujung meja dan dengan rakus memasukkan beberapa marshmallow ke dalam mulutku hingga penuh. Mengunyahnya dengan tergesa hingga mengeluarkan air mata. Setidaknya rasa manis dari gelatin biasanya mampu meredakan rasa nyeri di dalam dada. Meskipun bukan patah hati, tetapi aku perlu stimulus untuk bisa menyembuhkan diri. Ini memang bukan sepenuhnya kesalahan Juno, mungkin aku yang terlalu berekspektasi tinggi. Selama ini kupikir kedekatan kami merupakan sinyal bahwa dia memiliki ketertarikan yang sama, ternyata aku salah.     

 

***

 

Harum bubuk kopi yang baru diseduh menyeruak masuk ke dalam ruang kerjaku. Mataku seketika terpejam meresapinya. Meskipun aroma kopi jenis Arabika tidak lebih kuat daripada Robusta, tetapi aku tidak pernah gagal mengenalinya pada menit pertama.

“Malam...”

Aku sedikit tersentak. Namun enggan untuk membuka mata. Suara itu? Tidak mungkin dia. Sejak kejadian di pantry beberapa waktu lalu dia tidak pernah lagi menegurku. Lebih tepatnya, aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk bisa bertegur sapa denganku.

“Malam, Nai…” sapaan kali kedua ini membuatku terpaksa mengerjap. Kukedipkan mataku berkali-kali, demi meyakinkan diri bahwa aku tidak sedang bermimpi. Di depan meja kerjaku tengah berdiri sosok Juno dengan cangkir kopi di tangannya. Dia tersenyum sambil meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan menarik kursi di hadapannya. Aneh, aku sama sekali tidak mendengar suara langkahnya saat memasuki ruanganku.

“Ngopi dulu biar semangat.” Dia menyorongkan cangkir kopinya ke arahku.

Aku mengernyit. “Buat saya?”

Dia menjawab dengan sebuah senyuman dan anggukan kecil.

“Serius?” Tanyaku masih tak percaya.

“Kamu tahu saya kurang menyukai kopi Arabika, termasuk kopi Mandailing ini, Nai.” Aku mencibir dan memajukan tubuh demi menghirup sekali lagi aroma kopi di atas meja.

“Kopi khas dari tempat kelahiran nenek moyangmu, Jun?” Kuraih cangkir kopi yang disodorkannya dan menyeruputnya perlahan. Kudengar suara tawanya yang berderai.

“Konon kopi Mandailing ini akan terasa jauh lebih nikmat bila diminum sambil menunggu sore di atas Menara Pandang Tele, Pulau Samosir.”

“Opungmu yang bilang begitu?”

Juno kembali tertawa menanggapi pertanyaan retorisku. “By the way, makasih ya, Jun?”

“Sama-sama, Nai.” Dia mengangguk kemudian beranjak bangun.

“Selamat lembur, ya?!” Katanya mengedipkan sebelah mata lalu berbalik keluar dari ruanganku. Aku menjerit tertahan. Kutangkupkan wajahku pada kedua tangan. Bibirku tak kuasa menahan luapan rasa yang berdesakan di dalam dada. Semudah itu, Jun? Aku bahkan lupa bila beberapa hari lalu kamu pernah menghancurkan hatiku hingga nyaris tak berbentuk. Tetapi tunggu dulu, nyatakah semuanya ini? Andaipun hanya sekedar mimpi, rasanya aku lebih memilih untuk tidak pernah terbangun lagi.

Entahlah, hal apa yang membuat seorang Juno Candra Pandiangan, tiba-tiba saja kembali bersikap semanis ini padaku. Sebenarnya aku sedang tidak ingin berpikir, kejadian indah yang baru saja terjadi rasanya terlalu berharga untuk dirusak dengan konspirasi jenis apapun.

Kuhirup lagi kopi yang telah dibuatkannya untukku. Mataku kembali terpejam. Inilah kopi Mandailing terenak yang pernah kucicipi. Bahkan tanpa perlu jauh-jauh terbang ke tepi Danau Toba seperti yang dikatakannya. Bila mungkin, rasanya aku ingin sekali memaksa lambungku untuk terus menyimpannya dan tidak pernah membuangnya keluar dari dalam aliran darahku.

Suara ketukan tangan di atas meja menginterupsi anganku seketika. Sensasi imajinasi yang tercipta dari secangkir kopi buatan Juno langsung sirna ketika aku membuka mata. Kudapati sosok tinggi Juno sudah kembali berdiri di hadapanku dengan stoples kaca berisi marshmallow merah jambu kesukaanku. Astaga, jangan-jangan sejak tadi dia sudah memperhatikan tingkah konyolku.

“Sebenarnya aku ingin sekali menemani kamu lembur,” Katanya sambil lagi-lagi duduk di hadapanku. “Tetapi mungkin lain kali saja, untuk hari ini biar marshmallow buatanku yang menemanimu.” Dia letakkan stoples kacanya ke atas meja setelah menjatuhkan beberapa isinya ke atas telapak tanganku. Aku benar-benar kehabisan suara dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kejutan demi kejutan yang terjadi membuat kinerja otakku tak mampu berfungsi.

“Ada pendapat konyol yang bilang, menikmati marshmallow sensasinya sama dengan sebuah ciuman!” Dia terkekeh sambil melirikku. Kemudian memasukkan beberapa marshmallow ke dalam mulutnya. Aku sendiri hanya bisa meringis dan ikut memasukkan sebuah marshmallow ke dalam mulutku. Rasa manisnya yang langsung lumer di lidah sedikit menenangkan gejolak perasaanku yang campur aduk.

“Kalau saya biasanya lebih suka menikmati marshmallow dengan cara dicelup-celupkan ke dalam kopi.” gumamku pelan.

Dia tertawa mendengarnya. “Itu curang, Nai. Kopi-mu akan kalah telak dengan rasa manis si marshmallow!”

“Cobalah dulu agar kamu tahu kalau rasanya bisa lebih dahsyat dari sebuah ciuman!” 

Juno tertawa keras. “Baiklah,” Dia bangkit dari duduknya. Merapikan lengan kemejanya sekilas sebelum kembali menatapku. “Kita harus membuktikan bersama kalau rasa bitter sweet dari kolaborasi marshmallow dan kopi bisa lebih dahsyat dari berciuman!” Katanya mengedipkan sebelah mata.   

Aku langsung tergugu. Mati kutu. Yang mampu kulakukan hanya menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Oh Juno, teganya kamu membolak-balikkan hatiku hingga begitu tak tahu malu.

Kutatap sekali lagi stoples berisi marsmallow yang konon merupakan hasil kreasinya itu. Senyumku belum juga mau pergi. Apalagi ketika melihat tulisan tangan yang tertera pada kartu yang terikat pada leher stoples yang diberi pita berwarna-warni. Aku hanya sanggup geleng-geleng kepala membaca deretan pesan singkatnya. Masih tidak percaya pada kenyataan yang tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.

 

Untukmu, Marshmallow merah jambu-ku

 

Semoga kamu menyukai kopi dan marshmallow buatanku, tapi sebenarnya lebih bagus lagi kalau kamu juga menyukai pembuatnya, aku tentu saja... #smile#

 

Juno, call me on 0852614XXXX

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Senyum Windy
Ramayoga
Novel
The Puberity
Gusniarni megawati
Cerpen
Bronze
SENANDUNG SENDU CINTA BISU
Darryllah Itoe
Cerpen
Marshmallow Merah Jambu
Tri Wahyuningsih
Novel
GIORA
Salwa Auralyra H
Novel
Renjana
Arbiana
Skrip Film
Tetangga Satu Kampus
Intan Resvilani
Skrip Film
KOFFEIN, less or more you still needed
Evy Andriani
Flash
Pria yang Mendua
Dhea FB
Novel
Ekstrovert Me & Introvert Nelo
Eun Yasmien
Flash
Angan Selintas
Ralali Sinaw
Flash
Di Kafe Kala Ini
Lisnawati
Flash
10 Menit Bersama
Elkanara K.
Skrip Film
Lebih Dari Egoku
Yunita
Flash
Terahasia
Donquixote
Rekomendasi
Cerpen
Marshmallow Merah Jambu
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Lelakiku
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Senja di Bontang Kuala
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Siluet
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Valentine Untuk Baskara
Tri Wahyuningsih
Novel
Siluet
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Rahasia Hati
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Euforia Hipokampus
Tri Wahyuningsih
Novel
Bronze
KULMINASI
Tri Wahyuningsih