Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan rintik di luar membuat bau tanah menyeruak malam itu. Aku tak perlu risau setiap kali melihat jendela, jalan begitu sepi malam ini. Tidak seperti malam minggu kemarin yang cukup cerah untuk pergi kencan. Parahnya, jendelaku menampilkan pemandangan romantis itu tanpa mengetahui derita jomblo sepertiku.
Suasana ini cukup baik. Cukup bagus meminum kopi susu jahe lalu kemudian.. pets!
“Mati lampu!!!”
Lalu seisi kos langsung heboh.
“Mana senternya?”
“Adaw! Kaki gue keinjek!”
“Woy! Siapa yang ngeraba gue! Nggak! Gue nggak perawan!”
“Perjaka bego!”
“Gue kejepiitt!!”
“Diaaaammmm!!!!!!”
Lalu orang yang berteriak itu menyorotkan senternya ke arah kami yang ‘tidak karuan’.
“Maho lo! Jangan peluk-peluk gue!”
“Ooo.. jadi elo yang nginjek kaki gue?”
Kemudian setelah kebenaran terungkap, ia lalu menyorotkan senter itu kewajahnya yang putih.
“Setaaannn!!”
“Diaammm!!!”
Hening lagi.
“Tante ya?” tanyaku.
“Yaiyalah!”
Yah.. kami lega karena itu bukan kuntilanak malam minggu. Itu hanya ibu kos kami yang lebih suka bila dipanggil tante, agak genit ya? Tapi ini lebih baik daripada sebulan lalu, kami dipaksa memanggilnya ‘Nona’, hueks.. nggak cocok!
“Kalian beli lilin gih, biar hemat senter!” perintahnya.
Singkat cerita, akhirnya kami mendapat tugas ekspedisi pencarian lilin di sejumlah toko. Setiap kelompok berisi tiga ekor eh tiga orang. Kebetulan aku satu kelompok dengan Rendi dan Bima.
“Huft! Tokonya tutup!” dengus Bima.
Kami berdua hanya berpandangan melihat sikap emosional teman kami itu. Kemudian kami berjalan melintasi beberapa gang kecil, dan sesekali bertemu kelompok lain yang belum mendapat lilin. Huuh.. dasar tante!
“Eh! Ada yang buka tuh!” seru Bima.
“Alhamdulillah..” ujarku senang.
“Ayo!” ajak Rendi.
Dan, lilinya habis. Singkat cerita, kami mendapat lilin di toko lainnya. Lalu masalah pun muncul.
“Bro, kok gue jadi bingung ama jalannya.” Ujar Rendi yang disambut anggukan Bima.
Aku mulai panik, “lho? Jangan-jangan kita nyasar lagi?”
Belum habis rasa panik kami, tiba-tiba hujan deras datang mengguyur dan mengacaukan segalanya. Lalu kami berlarian menuju pos ronda terdekat yang sepi. Basah, basah, basah.
“Cuy, hape gue mati.” Ujar Rendi.
“Sama gue juga, nah lo Bim, hape lo mati?” tanyaku.
“Nggak.” Jawab Bima, “nyalain lilinnya, dingin.”
“Korek, korek.” Ujarku.
“Lho? Koreknya ada lilinnya mana?” tanya Rendi panik.
“Gimana sih? Lo jatuhin lilinnya di mana?” Bima mulai marah.
“Mana gue tahu.”
“Lo gimana sih?!!”
Aku pun melerai, “udah-udah gue aja yang nyari.”
Dengan berbekal senter hape Bima yang tahan air, akhirnya aku mencari lilin di tengah hujan. Aku mencari di jalanan dan selokan. Melelahkan. Karena tidak tahan, aku memutuskan kembali ke pos ronda nista itu.
“Gimana? Ketemu?” tanya Rendi.
Aku menggeleng dan mengembalikan hapenya Bima. Lalu ia memasukkannya ke dalam saku celana.
“Apaan nih?” Bima meraba sakunya dengan penasaran.
Barang itu!
“Nah! Tuh lilinnya!” seru Rendi.
OMG! Jadi selama ini lilinnya ada di sakunya Bima?
“Soriii... Gue lupa.hehehehehe..” Bima mulai bergurau.
Setelah itu masalah baru pun muncul.
“Waduh! Lilinnya gak bisa nyala lagi.” Dengusku.
Ah, lengkap sudah penderitaan kami. Kami pun menunggu hujan reda dalam gelap, Bima mematikan hapenya untuk menghemat baterai. Dan makin lama hujan makin deras. Bima yang pemberani itu pun mulai mewek dengan indahnya.
“Huu.. gimana kalo kita nggak bisa pulang?” ujarnya sambil mewek.
“Nanti pulang kok!” seruku.
“Atuuutt..”
“Nggak gentle, masbuloh!”
“Masbuta lah!” seru Rendi.
“Kok masbuta?” tanyaku.
“Masalah buat kita.”
Aku mengecek jam di tanganku. Hoho, jam tanganku bisa nyala loh. Dan sudah jam sembilan. Akhirnya hujan pun reda, dan kami melanjutkan perjalanan mencari jalan pulang. Suasana begitu gelap, demi tuhan, apa PLN marah sama kita gara-gara nggak bayar tagihan listrik? Sampai-sampai listrik aja dimatiin.
“Lama-lama gue bingung!” seru Bima frustasi.
“Yaelah Bim, gue juga bingung.” Sambung Rendi.
“Apalagi gue.” Ujarku.
Semakin lama berjalan, semakin nyasarlah kita. Gang-gang kecil yang kami lalui seakan menarik kami masuk lebih dalam lagi, dan tempat ini seperti labirin yang sulit dilalui.
“Gue mau pulaaanggg!!” Rendi pun ikut menarik rambutnya.
Dan akhirnya, kami sampai di sebuah jembatan. Di sana cukup remang, penerangan diganti dengan obor kayu. Dan kami melihat seorang perempuan berambut panjang berdiri di tepi jembatan.
“Mbak?” aku pun menyapa duluan.
Ia menoleh.
“Aaaaa.. sotong! Eh sotong!” Serunya latah.
“Aaaaa... bencong!” seru kami yang langsung berlari.
Lalu kami berlarian lagi. Suasana gelap dan asing. Entah ini di mana, tapi memeriksa kelengkapan kami bertiga adalah yang paling penting.
“Woy! Siapa yang pegang lilin, nyalain!”
Api lilin pun mulai menyala dan menyinari wajah kami yang abstrak itu.
“Coba kita berhitung, satu.” Ujarku.
“Dua.” Sambung Bima.
“Tiga.” Sambung Rendi.
“Empat.”
Lho? Kok empat? Bukannya tadi bertiga? Jangan-jangan..
“Cuy, lo jangan nakut-nakutin dong..” Bima mewek lagi.
“Ish! Siapa juga yang nakutin? Orang gue aja takut.” Rendi pun ikut bergidik.
“Psst. Gue denger sesuatu.” Ujarku.
Dalam keheningan itu terdengarlah suara orang menyanyi. Suara desahan wanita.
“Lingsir wengi..sliramu..”
“Ada yang nyanyi lingsir wengi!” seruku.
“Plis, kita tenang jangan lari.” Ujar Rendi.
Lalu setelah berkata seperti itu, ia malah lari terbirit-birit. Bima pun spontan berlari. Aku pun berlari, lalu kakiku tersandung dan lilinnya jatuh. Buruk sekali! Saat tanah tersinari lilin dan memperlihatkan gundukan tanah yang bertabur bunga mawar. Kuburan! Spontan aku berteriak.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!”
Kami berlari dan berlari. Untungnya kami bertiga bisa kabur dan bergandengan pula! Lalu kami berhenti entah di mana dan suasana saat ini cukup gelap.
“Oke, oke kita berhitung lagi, satu.” Ujarku.
“Dua.”
“Tiga.”
“Empat.”
Dan suara terakhir yang bernomor empat itu cukup berat. Aneh, perasaan suara kita bertiga cempreng semua deh.
“Coba nyalain lilinnya.”
Dan lilin menyala.
“Rendi cek, Bima cek, Aku cek, Genderuwo cek, loh?”
Habislah.
“Aaaaaaaaa!!!!!!”
“Groaaa!!!”
Saat kami akan berlari, kami tidak bisa. Kakiku tak bisa digerakkan. Jangankan bergerak, mau berkedip saja susah. Nyala lilin yang kupegang mulai bergerak kesana-kemari. Dan sosok itu makin mendekat, mendekat, oh bau busuknya sudah kucium, sial aku tidak bisa berteriak. Dia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat.
Plek!
“Lho? Adek-adek ini pada kenapa sih?” tanya seorang bapak-bapak yang menyadarkan kami.
“I.. ini lho pak, ada genderuwo.” Jawabku.
“Ngibul kali ya? Orang Cuma kalian bertiga kok.”
Setelah itu, kami berterimakasih kepada bapak-bapak itu. Saat kami meninggalkannya, sosoknya seolah hilang ditelan malam.
“Cabut!” seru Bima.
“Kita gandengan aja.” Ujar Rendi.
Kami kembali menyusuri jalan yang lengang sambil bergandengan. Lilin kedua telah dihabiskan, dan Bima menyalakan hapenya untuk penerangan.
Krruyuuukkk..
“Gue laper hehe..” Cengir Rendi.
“Ngerepotin aje lo!!” dengus Bima.
Singkat cerita, kami pun menemukan tukang nasi goreng yang memiliki penerangan cukup. Tempat itu cukup ramai, untungnya dompetku masih tebal, tanggal muda.
Tiga piring nasi goreng pun tersaji di meja kami. Makan..makaann..!!
“Makasih bang.” Ujar Rendi.
“Sama-sama ganteng..”
Busyet! Banci lagi! Dan tukang nasi goreng itu melirik ke arah kami dengan tatapan super genit ala cabe.. hiiyyy..
Akhirnya, kami pun selesai dengan ‘acara’ kami dan melanjutkan perjalanan.
“Eh? Lu kentut ya?” tanyaku jijik.
“Bukan gue! Dari tadi gue juga kebauan!” seru Bima.
“Sori pren! Bukan gue tapi pantat gue.” Rendi pun nyengir dengan nistanya.
Beuh! Nih anak masih aja bercanda disaat kita bertiga nyasar di tempat antah berantah sialan ini. Aku ingin pulaangg..
Aku pun mengecek jamku, dan sudah jam setengah duabelas. Byar! Sring. Sring. Sring. Wala! Listrik menyala!
Rendi pun berteriak, “mau lisrik nyala kek! Mati kek! Gue kagak peduli! Percuma kalo gak pulang!”
“Terus kita mau nyalahin siapa dong?!” tanyaku keras.
Hening lagi. Aku ingin semua ini berakhir dan kami pulang dengan selamat. Jalan ini semakin panjang dan tak ada habisnya.
“Cukup!” seu Bima yang mendahului dengan cepatnya.
“Gue juga Kev.” Ujar Rendi yang mengikuti Bima.
Apa boleh buat? Keluar bertiga pulang bertiga. Aku pun mengikuti mereka. Lama-kelamaan, kaki-kakiku mulai lemas, dan aku jatuh karena hilang tenaga.
“Lo kenapa lagi sih Kev?” tanya Bima kesal.
“Gue capek.” Jawabku.
“Gue juga!”
“Kita istirahat bentar aja.”
“Lo kayak cewek aja! Mau pulang gak?!”
“Istirahat bentar Bim.”
“Lo mau pulang gak?!”
“Ya mau Bim!”
“Jalan!” serunya lalu menarik tanganku.
“Gue capek Bim!”
“Kita semua tuh capek! Jalaann!!”
“Lo berdua bisa diem nggak sih? Ha?!” Rendi pun berseru keras, “kita semua tuh capek, kita semua pengen pulang!”
“Kita tanya orang aja? Ha?” aku pun mulai memanas.
“Percuma bego! Ini udah tengah malem!” Bima memukulkan tangannnya ke aspal sampai berdarah.
“Gila lo pada!” seru Rendi yang mendahului.
Seteleh itu, kami melanjutkan perjalanan dengan tidak berbicara satu sama lain. Lalu kami memasuki gang yang gelap. Bima pun menyalakan senter hapenya. Listrik masih mati, dan aku sepertinya tidak asing dengan tempat ini. Belok belok. Dan satu belokan lagi. Aku kenal belokan itu!
“Kita pulang!” seruku.
“Pulang! Pulang!” seru Bima.
“Wuhuu!!!” Rendi bahkan lebih senang dari kami berdua.
Mati lampu masih berlanjut. Dan kami sampai di depan kos. Kami mengetuk pintu dan nampaklah tante.
“Kemane aje lo pada? Masuk! Ditungguin lilinnya!” seru Tante.
Pahlawan lilin. Kami semua berkumpul di meja dan menyalakan lilin.
“Kan enak kalo begini.” Ujar Tante.
Tak lama kemudian. Byar! Lisrtik menyala.
“Haha listriknya udah nyala!”
“Gue mau nonton drama dulu!” What? Cowok apaan ini?
“Mau maen game!”
“Ngeringin rambut..”
Dan tinggal kami bertiga saja di meja.
“Kita ngapaen neh?” tanyaku.
“Matiin aja lilinnya, hemat.” Ujar Rendi.
“Kita ke teras yuk.” Ajak Bima.
Wah, sejak konflik ini berakhir kami bertiga jadi sahabat. Ah, malam yang indah. Mari bergadang.
Tamat.
(koleksi 2016, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)