Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
0
Suka
810
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG

CERPEN EDISI I

─────────────────   

REG INDEX : 011-121-220-320-410

─────────────────

DIREKTORAT DOKUMENTASI

═════════════════

─────────────────  

PERINGATAN DOKUMEN

Dokumen ini merupakan arsip yang telah dibuka untuk kepentingan publik.

Seluruh nama tempat, tokoh, dan institusi berasal dari Negeri Sonoharu.

Setiap kemiripan dengan dunia nyata merupakan cerminan persoalan yang memang dapat ditemukan di banyak tempat.

Status Arsip : OPEN ARCHIVE

─────────────────  

Lumbung itu telah lama berhenti menjadi lumbung. Sekarang ia adalah ruang antara hidup dan mati, tempat di mana dinding-dinding kayu yang lapuk menyimpan aroma gabah yang sudah basi, dan di mana Pak Darman duduk bersila di antara karung-karung kosong yang perutnya menganga seperti mulut orang kelaparan. Hujan di luar telah reda sejak satu jam lalu, tapi tetesan air masih merembes melalui celah-celah atap, jatuh dengan irama yang teratur tik... tik... tik seperti detak jantung yang terlalu lambat.

Pak Darman menatap layar ponselnya. Layar itu retak, retakan-retakan kecil menyebar dari sudut kiri atas seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah, dan dari balik retakan itu, cahaya kuning pucat menyinar, menerangi wajahnya yang kurus. Kulitnya telah kehilangan lemaknya selama tiga bulan terakhir, pipinya cekung, tulang rahangnya menonjol seperti tebing di bawah kulit yang tipis. Matanya ia hampir tidak mengenali matanya sendiri saat ia melihat pantulannya di layar yang retak. Mata itu dulu cokelat tua, hangat, yang sering berbinar saat anak-anaknya berlarian di antara karung-karung padi. Sekarang mata itu redup, kosong, seperti dua lubang yang menganga di tengah wajahnya.

Tangannya gemetar. Bukan gemetar karena dingin, meskipun udara malam memang dingin, tapi gemetar karena sesuatu yang lain kekosongan di perut, mungkin, atau kekosongan di dada, atau kekosongan di kepala yang telah digantika...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Batu Selomita
YOHS SUWONDO
Cerpen
Bronze
Toko Kue Buka Hari Lebaran
Nabilla Shafira
Cerpen
Ngidam Yang Berakhir Luka
Amelia Purnomo
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Sanubari
Imajiner
Novel
Numpang Hidup
Bksai
Novel
The Last Destination
Firsty Elsa
Flash
Jalur Tiga
Martha Z. ElKutuby
Cerpen
Bronze
Tahun Berlalu
AndikaP
Cerpen
Bronze
Pelangi Transparan
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
MEMBUANG IBU
Darryllah Itoe
Novel
15th VOLTAGE
Indah Dwi Y
Novel
DIA, AZHARKU
Nina Nola Boang M
Novel
CITY LIGHTS
Robin Wijaya
Novel
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
Lilis Alfina Suryaningsih
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Komik
SILOMBRA: Tangan-Tangan yang Tak Tercatat
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Akar Tumbuh
Tourtaleslights
Flash
DENGUNG YANG TAK PERNAH TIDUR
Tourtaleslights
Flash
SIMPUL YANG KUAT
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Lembar Catatan dari Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta III
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Novel
MOREKEY: Kisah Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Cerpen
SBDM-MCFP
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights