Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
0
Suka
1,189
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG

CERPEN EDISI I

─────────────────   

REG INDEX : 011-121-220-320-410

─────────────────

DIREKTORAT DOKUMENTASI

═════════════════

─────────────────  

PERINGATAN DOKUMEN

Dokumen ini merupakan arsip yang telah dibuka untuk kepentingan publik.

Seluruh nama tempat, tokoh, dan institusi berasal dari Negeri Sonoharu.

Setiap kemiripan dengan dunia nyata merupakan cerminan persoalan yang memang dapat ditemukan di banyak tempat.

Status Arsip : OPEN ARCHIVE

─────────────────  

Lumbung itu telah lama berhenti menjadi lumbung. Sekarang ia adalah ruang antara hidup dan mati, tempat di mana dinding-dinding kayu yang lapuk menyimpan aroma gabah yang sudah basi, dan di mana Pak Darman duduk bersila di antara karung-karung kosong yang perutnya menganga seperti mulut orang kelaparan. Hujan di luar telah reda sejak satu jam lalu, tapi tetesan air masih merembes melalui celah-celah atap, jatuh dengan irama yang teratur tik... tik... tik seperti detak jantung yang terlalu lambat.

Pak Darman menatap layar ponselnya. Layar itu retak, retakan-retakan kecil menyebar dari sudut kiri atas seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah, dan dari balik retakan itu, cahaya kuning pucat menyinar, menerangi wajahnya yang kurus. Kulitnya telah kehilangan lemaknya selama tiga bulan terakhir, pipinya cekung, tulang rahangnya menonjol seperti tebing di bawah kulit yang tipis. Matanya ia hampir tidak mengenali matanya sendiri saat ia melihat pantulannya di layar yang retak. Mata itu dulu cokelat tua, hangat, yang sering berbinar saat anak-anaknya berlarian di antara karung-karung padi. Sekarang mata itu redup, kosong, seperti dua lubang yang menganga di tengah wajahnya.

Tangannya gemetar. Bukan gemetar karena dingin, meskipun udara malam memang dingin, tapi gemetar karena sesuatu yang lain kekosongan di perut, mungkin, atau kekosongan di dada, atau kekosongan di kepala yang telah digantika...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Tangguh Perkasa
Rival Ardiles
Novel
Integritas Penyelenggara Pemilu
Yovinus
Novel
ImouKano: Imouto vs Kanojo
Diva Amane
Flash
Bronze
Bukan Milikku
Rahmayanti
Flash
Gema yang Redup
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Enigmatic Soul
Nanas-imnida
Cerpen
Takdir Dari Rahim
Temu Sunyi
Novel
RUANG DAMAI PANCAWARNA
Nurul Awaliyah
Novel
Ai-Mouto
Diva Amane
Novel
[FAKE] IDOL
Diva Amane
Flash
Sandaran
FS Author
Flash
Bronze
Dua Cabang Sungai
Afri Meldam
Cerpen
PERNIKAHAN KERTAS
hadi wiyono
Novel
Bronze
Bioskop Bahagia
Herman Sim
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Flash
NODA KACA RETAK
Tourtaleslights
Novel
Warisan Tanah Keluarga
Tourtaleslights
Novel
Pejabat Negeri Sonoharu
Tourtaleslights
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Flash
#4. Rasa dari Keputusan yang Belum Terungkap
Tourtaleslights
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Flash
KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights
Novel
MOREKEY: Kisah Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Novel
SILOMBRA: Catatan Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
Kitab Manhyang
Tourtaleslights