Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Malaikatku
0
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

PROLOG

Hari ini, tepat setahun lalu... aku bertemu seorang malaikat. Aku menyebutnya malaikat, karena bagiku kehadirannya mengubah seluruh kehidupanku. Seolah-olah dia diutus dari langit untukku, membuatku mengerti mengapa sesuatu mesti terjadi, meskipun itu bukan sesuatu yang menyenangkan... bahkan menghancurkan mimpi-mimpiku.

*

Ughhh...!

Tubuhku membentur seseorang dan tak ayal lagi... terjatuh.

"Kau tidak apa-apa?"

Tangan itu terulur. Aku mengangkat kepala. Jemari-jemari yang langsing dan kokoh. Aku bangkit tanpa menerima uluran itu. Kubersihkan sisa-sisa debu yang melekat di lututku.

Aku memandang orang itu, dan menyergap seringaian geli dari geligi rata putih. Dia cocok buat iklan pasta gigi....

"Apa...?!" Aku benci sekali melihat cengiran itu. Seolah-olah orang tak dikenal ini menertawaiku.

"Pakai ini...!" Selembar sapu tangan ditodongkan ke depan hidungku. "Ada noda di hidungmu." Sebelum sempat kucegah, dia sudah mengangkat daguku dan mengusap hidungku dengan sapu tangannya. Lalu dia tertegun sendiri.

Aku melengos. Dia pasti melihat jejak hangat yang mengaburkan mataku. Aku menunggu komentar jahilnya. Tapi dia cuma diam. Mengangguk dan menaruh sapu tangan itu di tanganku.

Dia berbalik begitu saja. Pergi memunggungiku.

"Hey, tunggu! Saputanganmu...!"

Aku mengejarnya.

"Ini...."

Aku mengulurkannya, setelah dia berhenti di depanku. Dia menatapku tanpa ekspresi. Kami saling diam. Tanganku masih teracung begitu saja. Aku jadi keki. Dasar orang aneh!

"Ini...!!"

Aku menghempaskan sapu tangan itu ke tangannya. Lalu berbalik dan mengambil langkah lebar-lebar. U-uh! Semakin cepat aku lepas dari orang gila itu, semakin baik...!

"Tunggu...!" panggilnya.

Aku tak peduli. Semakin mempercepat langkahku.

"Jangan pergi...!"

Aku menghentikan ayunan langkah. Berdiri diam.

"Temani aku. Please...."

Perlahan, aku berbalik. Jarak di antara kami sekian meter. Dia menatapku memelas.

"Please...?"

*

Dia masih bersidekap. Menatap jauh ke horison laut lepas. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi aku tahu, dia tidak sekadar tengah menerawangi ombak lautan. Dan tololnya aku! Berdiri di sampingnya dengan patuh. Seolah aku tak punya kerjaan lain saja!

"Hey, kenapa kau mengajakku ke sini?"

Dia masih diam.

"Hey, kau tidak budek, kan?"

Aku menghentakkan kaki. Kesal. Kalau tidak menjawab juga, aku akan minggat dari hadapannya. Entah aji apa yang dimiliki orang ini hingga membuatku mau saja mengikutinya ke pantai ini. Tanpa mempertimbangkan siapa tahu saja dia seorang maniak!

Tapi ada sesuatu pada dirinya; sesuatu yang membuatku yakin dia bukan seorang psikopat semacam Hanibal Lester! Ada aura bisa dipercaya dan rasa nyaman yang aneh. Kalau menyangkut hal-hal seperti itu, menurut teman-temanku aku ahlinya. Miss Intuisi, itu julukanku.

"Ssstt.. jangan ribut! Tidak bisakah kau diam tanpa banyak cincong?"

Aku melotot.

Dasar orang aneh! Lalu kenapa mengajakku untuk digratisin begitu saja?

"Lihatlah...." Dia menggerakkan kepala ke arah lautan di depan kami. "Ada hal-hal yang akan terasa semakin dinikmati dalam keheningan...."

Aku mengerutkan kening.

"Biarkan alam yang bicara denganmu...."

Dasar orang gila! Aku tidak tahan lagi....

*

"Apa yang kau pikirkan?"

Aku menunduk. Menyunggingkan seulas senyum.

"Ayo, kita kembali...."

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

Aku tertawa

"Ada hal-hal yang menjadi rahasia seorang gadis."

"Ah! Kau membalikkan kata-kataku, Nuke."

Dia merapatkan jaket tebalnya. Lalu mencari tanganku. Menggenggamnya erat. Kehangatan yang lembut mengalir di antara kami. Itu melebihi segudang kata-kata. Aku menarik napas dan menghembuskannya, membiarkan gumpalan uap menyatu dengan udara.

"Aku ingat, pertama kali kau membawaku ke mari...." Aku tertawa. "Orang sinting yang bahkan tak kutahu siapa namanya. Membuat gigiku gemeretak menahan dingin selama lima jam."

"Salah sendiri kenapa kau tak pergi...."

Aku mendelik. Teringat, hari itu aku sudah hampir beranjak, tapi tiba-tiba dia menarikku dalam pelukan. Aku terlalu shock untuk berontak dan ketika kesadaranku sudah kembali, tiba-tiba aku mendapati dia menangis sambil memelukku erat-erat. Aku cuma bengong, diam dalam kebingungan....

Dia mendongak dan nyengir menatapku. Kilatan jahil yang pernah kutangkap di hari pertama itu kembali. Oh, God, aku sudah lama tidak melihatnya begini.

"Terima kasih, kau mau menemaniku hari itu...."

Aku mengangguk. Aku yang harus berterima kasih, Tristan. Seandainya tak bertemu denganmu di depan cafe waktu itu, aku pasti sudah nangis bombay di kamar. Meratapi musim gugur yang terlalu cepat datang sedetik setelah melihat Reza berbagi es kelapa muda dari batok yang sama dengan seorang gadis.

"Kau masih dendam padanya...?"

Aku melengak, memandangnya tak mengerti.

"Reza. Ketua kelasmu itu...."

"O." Aku mengangguk, mengerti. Menggeleng pelan. "Sudah lewat. Kau sendiri bilang, jangan mengingat yang sudah-sudah...."

Tristan tersenyum lucu.

"Sejak kapan kau mendengar kata-kataku...?"

Aku tertawa. Angin dingin meriapkan rambutku. Kurapatkan jaket. Menepuk bahu Tristan lembut.

"Kita balik, Tristan," bujukku. "Sudah terlalu dingin. Mamamu pasti bingung mencari kita."

Tanpa meminta persetujuannya, kudorong kursi roda Tristan. Berbalik menuju villa panggung di ujung pantai.

Di belakang kami, senja mulai jatuh memburaikan rona jingga di permukaan air.

*

Debur ombak terdengar di tengah pekat malam. Aku menengadah ke langit. Bintang penuh bertaburan membentuk gugusan rasi. Cantik.

Lihat Tristan, ada Orion!

Berbaring menghadap langit gelap, aku mengangkat tangan. Langit seperti sejengkal di atas.

Tristan..., aku merindukanmu!

Kututup mataku. Membiarkan air mata mengaliri pipi.

Aku beranjak dan menyusuri pantai. Bersidekap memeluk sweater kedodoran milik Tristan yang kupakai. Angin berkesiuran mempermainkan rambutku yang semakin panjang. Aku ingat bagaimana Tristan sering iseng menariknya kala kami bicara.

"Kalau waktu itu aku tak menabrakmu, entah bagaimana aku bisa menghadapi berita itu, Nuke...," prolog-nya ketika pertama kali berusaha memberitahuku keadaannya.

"Berita apa?"

Tristan tersenyum sedih.

"Aku sekarat, Nuke...."

Aku ternganga. Tristan menatapku serius. Aku tahu ini tidak main-main. Aku terguncang!

"Oh, Tuhan, Tristan!"

Aku spontan memeluknya. Perlahan..., dengan tersendat... Tristan menceritakan segalanya. Dan aku terhenyak. Tak ingin percaya! Kalau kamu orang yang begitu lepas dan 'segokil' Tristan, bagaimana reaksimu ketika orang tua dan doktermu 'mengayunkan' kampak yang mengakhiri semua keoptimisanmu akan masa depan?

Itu terkuak lima bulan setelah kami saling mengenal. Setelah Tristan sadar waktu yang dimilikinya terbatas dan tak adil bagiku jika tahu saat sudah terlambat.

"Kenapa mesti kamu...?"

"Jangan menangis, Nuke...." Tristan menonjok pipiku main-main. Masih bisa bercanda dia, sementara aku merasa setengah hidupku terenggut paksa.

Kami duduk di tanggul batu. Membiarkan keheningan yang menyakitkan memerangkap kami, sampai... Tristan menghela napas.

"Aku tahu kondisiku lemah sejak kecil. Kupikir aku sudah berhasil mengalahkan kelemahanku, dengan hidup sepenuh-penuhnya."

Aku terdiam.

Tristan menggenggam tanganku.

"Mengenalmu, membuatku kuat. Terima kasih...."

Aku mendongak. Mencari matanya yang bersinar. Bahkan kanker otak tak bisa merenggut gemerlapnya.

"Kamu membantuku belajar menerima itu, Nuke...."

Aku ingin sekali berteriak saat itu. Aku tidak berbuat apa-apa! Tidak membantunya apa-apa! Aku bahkan tak tahu mesti bersikap bagaimana! Yang kuinginkan cuma membawa Tristan lari sejauh-jauhnya, menghindari semua ini....

"Nuke...?"

"Aku menyesal mengenalmu...," isakku tersendat. Tak tahu lagi harus berkata apa....

Tristan menarik kepalaku ke dadanya. Memejamkan mata dan mendesah kelu, "Ya, Nuke, aku juga...."

*

Kurun waktu setelah itu berlalu cepat. Kondisi Tristan semakin lemah. Dia bahkan terpaksa berhenti kuliah. Setiap hari sepulang sekolah, aku mengunjunginya. Menemaninya. Membacakan berita terkini atau bercerita tentang kegiatanku hari itu. Pada saat-saat seperti itu kadang kupergoki Tristan memandangku dalam-dalam. Membuatku jengah.

"Ada apa?"

Tristan menggeleng. Dia cuma berbaring seharian ini, memandangi debur ombak dari jendela lebar sebelum kedatanganku.

Aku menatapnya, menuntut.

Tristan tersenyum.

"Tetaplah seperti ini, Nuke. Walau aku sudah tak ada, jangan pernah berhenti tersenyum...."

Aku tercekat. Menelan kesedihanku di kerongkongan. Lalu... perlahan mengangkat kepalaku. Tersenyum ceria.

Tristan kelihatan lega dan mengacak rambutku dengan sayang.

Setelah hari itu, sebelum masuk ke kamarnya, aku berusaha memakai topeng senyumku. Menyembunyikan jauh-jauh kepedihan di dasar kulitku. Kami mengobrol, tertawa, dan bahkan bermain monopoli. Dengan nakal Tristan bahkan mencurangiku bermain poker yang sempat diajarinya beberapa hari lalu.

"Kegembiraan itu ada di mana-mana, Nuke. Kau bisa mendapatkannya tanpa harus membayar mahal. Cukup nikmati hidupmu sepenuh-penuhnya… selagi bisa.”

Aku tercekat. Kami terdiam lama. Tiba-tiba Tristan meraih tanganku cepat. Dia bangkit dari pembaringan setelah melepas selang infus-nya. Ditariknya aku ke jendela lain dan membukanya.

“Tristan, apa-apaan! Kau tidak boleh kabur…!” cegahku saat melihatnya mengangkat satu kakinya ke ambang jendela yang terbuka. 

 Tristan menatapku memohon sambil nyengir. 

 “Nuke… please. Kau boleh ikut, atau lapor pada Mama. Sama saja, aku tetap pergi….”

Setelah berkata begitu, Tristan meloncat keluar. Aku gelagapan, bingung memilih yang mana. Akhirnya, mau tak mau aku mengekorinya juga. 

 *

Sepanjang jalan aku merongrongnya untuk kembali. Kubayangkan bagaimana Mama Tristan akan panik menemukan ranjang anaknya kosong! Tapi Tristan tetap bersikukuh. Mau tak mau aku terus membututinya.

 Napak tilas dalam sehari. Tristan mengajakku merunut kehidupan yang sudah dilaluinya. Rumah sakit tempat dia dilahirkan. SD, SMP, SMU, bahkan lapangan rumput tempat dia bermain ketika kecil. Kami berdiri melekat ke pagar kawat, memperhatikan anak-anak kecil menendang bola. 

 “Waktu seusia mereka, aku pernah bercita-cita jadi pemain bola.” Tristan nyengir, menerawang. 

“Kapten Tsubasa atau Inzaghi yang mengilhamimu...?"

  Tristan tertawa. 

“Salvatore Silanchi, pemain Italia yang bersinar di piala dunia ’90. Tapi cedera kaki menghentikan impianku. Melihat kepanikan di wajah Mama saat di rumah sakit... cukup sudah! Ternyata tekadku cuma sampai segitu.” Dia melirikku. “Aku lemah ya, Nuke...?”

 Aku meremas tangannya.

 “Aku pernah bermimpi jadi Odette-Odill di Swan Lake, sejak menonton balet saat kecil. Tapi mimpi itu cuma bertahan seminggu. Latihan pertama membuat jari-jari kakiku berdarah. Sakitnya membuatku menangis semalaman.” Aku mengangkat bahu. “Aku harus bilang ‘bye-bye’ pada Odette-Odill. Ternyata lebih mudah menonton daripada melakukannya....” 

 Tristan ngakak. 

 “Menyamakan skor...?” 

“Bukan, pengakuan dosa....” 

Tristan tertawa panjang. Aku senang mendengarnya. Begitu hidup. Seolah-olah kami berhasil memukul mundur Dewa Maut.

Tiba-tiba... tawa Tristan berhenti mendadak. Disusul erangan kesakitan. Tristan memegangi kepalanya. Lalu jatuh terkulai.... 

 Aku mendekapnya panik.

 “Tristaaan...! Tristan, kau kenapa...?! Tristaaaan...!!!!?”

 Satu-satunya yang terakhir kuingat, orang-orang berlarian ke arah kami....

  * 

Aku tak ingat, apa saja yang terjadi setelah itu. Segalanya berlangsung terlalu cepat, sementara aku mirip zombie, mengikuti apa saja yang terjadi tanpa benar-benar menyadarinya.   

“Maafkan saya, Tante....” 

Mama Tristan memelukku erat. Kami bertangisan tanpa suara di depan ruang ICU. Sementara Papa Tristan duduk terpekur menghitung lantai.

“Berdoalah, Nak. Berdoalah....” 

“Saya seharusnya lebih keras mencegahnya....”“

Bukan Tristan kalau niatnya bisa dihalangi, Sayang....” 

“Tapi saya....”“

Kamu menemaninya. Tante sangat berterima kasih, Nuke....”

Aku memejamkan mata. Rasa pedih itu datang lagi. Tristan..., kalau saja kamu tahu...? Harapan untuk melihatmu bangkit dari tempat tidur yang dipasangi selang-selang yang membelit tubuhmu itu membumbung begitu besar ketika kau membuka mata malam esoknya.

Aku terisak ketika matamu mencari dan terpaut dengan tatapanku.

Saat itu..., seolah-olah dunia mengabur dan cuma menyisakan kita berdua. Kau tersenyum lemah dan mengisyaratkan untuk mendekat. Sekilas kau meremas tanganku sambil berusaha menggerakkan mulut.“

Kau tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga!” cegahku.

"Nu-ke..., a-ku....”

Cuma sampai di situ, kau memejamkan mata, seperti menahan sakit. Aku menggigit bibir, merasa tersiksa. Lalu... bibirmu bergerak pelan, dibantu mamamu yang sigap, melantunkan doa. Matamu berkaca-kaca, tapi kau masih berusaha tersenyum. Perlahan... matamu terpejam lagi, terseret dalam alam mimpi.

Aku tergugu.

Papamu menggamitku keluar. 

“Kita biarkan Tristan istirahat dulu, Nak. Kau juga harus makan, ayo...! Nanti kalo dia bangun, Tristan akan sangat senang kau tidak ikut sakit...."

*

Tapi... kau tidak pernah bangun lagi, Tristan! Tidak malam itu, tidak esoknya, juga hari-hari selanjutnya! Malam itu juga... kau pergi! Meninggalkan aku duduk tertidur di sisimu, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Tanpa pernah tahu, apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku.... 

Hari-hari setelah itu berlari tanpa mampu kurasa. Aku hidup dalam ilusi, dunia di mana kau masih ada. Aku melihatmu di mana-mana. Tersenyum dan tertawa. Mengulurkan tangan dan berlarian bersamaku menjejak pasir.

Tapi pada akhirnya... kau menguap di udara terbuka, meninggalkanku menangis sendirian.

Aku merasa dikhianati!

Keluargaku mulai cemas, tapi aku tak merasa. Sampai... aku seolah melihat sosokmu yang transparant dalam cahaya mentari membangunkan tidurku, “Hiduplah sepenuh-penuhnya, Nuke. Walau aku tak ada, teruslah tersenyum....”

Dan aku menangis! Seperti terjaga dari tidur panjang yang menyedihkan.

Hari itu... aku bangkit dan membuka jendela, siap memulai hari dalam lembaran yang nyata. Tak kan pernah melihatmu lagi....

*

EPILOG

Hari ini... tepat setahun lalu aku bertemu seorang malaikat.

Aku menyebutnya malaikat, karena meski cuma tujuh bulan kebersamaan kami, dia meninggalkan jejak yang tak ‘kan terhapus dalam goretan panjang kehidupanku.

Kau pernah bilang, karenakulah kau bisa menegakkan diri. Tapi tahukah kau Tristan, bahwa itu sebenarnya berlaku sebaliknya?

Di batas horison laut lepas di depanku, langit gelap mulai tersingkir oleh semburat keemasan di ufuk timur.

Sudah mau pagi, Tristan....

Aku menarik napas panjang, menengadah langit. Angin laut pagi menggulung dan menghantarkan bisikan lembut, “Tersenyumlah dan hiduplah sepenuh-penuhnya, Nuke....”

Tristan....

Sekarang aku mengerti... kenapa kau memasuki kehidupanku, Malaikatku....

*The end*

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Malaikatku
Raha Kurnia
Novel
Two Continents Between Us
Ntalagewang
Novel
Gold
Milan
Bentang Pustaka
Novel
Airlangga Romance in Highschool
Tari Oktavian
Komik
High School Love Story
zhang pitcher
Novel
Pacarku Pecinta Angst
Allen Nolleps
Novel
Bronze
IMY Grandma
Afifah Muthiah Unga waru
Komik
Bronze
Kaleng Kosong
Alvino Saktiawan
Novel
Bronze
LANGIT MERAH MUDA
Najma Gita
Cerpen
Seminggu Sebelum Pernikahan
Al Balinda Ulin Dya
Novel
M I R A G E
Noficha Priyamsari
Cerpen
Saat Sedang Basah-basahnya
Cléa Rivenhart
Flash
Rembulan dan Sepotong Cinta Satu Sisi
Arini Putri
Novel
Tentang Kita
Nur Rahma
Skrip Film
Mentari untuk Elang
Widayanti
Rekomendasi
Cerpen
Malaikatku
Raha Kurnia