Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kenapa kau hobi sekali bermain petak umpet? Sampai kapan?
Jika itu dahulu, maka tidak masalah. Apalagi di usiamu yang belum dewasa, kau masih butuh kekanak-kanakan. Sebab kanak-kanak adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dan juga memulai hidup. Setidaknya dengan sifat kanak-kanak itu dewasa seseorang menjadi lapang penuh kebahagiaan. Jika ada masa kanak yang hilang, maka perlu dipertanyakan ke manakah dia pergi? Anehnya kau masih saja bermain petak umpet. Itu membuatku kesulitan mencari keberadaanmu yang terlampau penting untuk hidup ini.
Kusebut namamu, Rudi. Kau bertubuh atletis dengan senyum ramah membuat pemandangnya semringah. Lakumu lembut meski pergerakan langkahmu terlalu cepat, sampai tampil terburu-buru padahal kau sedang bersantai. Di, aku sangat mengenalmu. Dulu, kau sembunyi di kolong meja ketika kita bermain petak umpet. Aku sibuk mencarimu yang sering beralibi menyamar menjadi barang—jadikan kardus tempat sembunyi. Terkadang kau ngumpet di dalam lemari, bahkan pernah nyebur ke selokan dengan sengaja demi mengelabui anak-anak yang jaga. Mencarimu benar-benar sulit. Pernah suatu ketika kau tahan cekikan di atas atap ,kau menggantung tubuhmu di bawah balok-balok kayu, serupa spiderman yang melayang di jaring-jaringnya. Tidak ada yang mengira bahwa kau akan segila itu, bersembunyi di bawah atap. Anak-anak tentu fokus pada tempat persembunyianmu biasanya; selokan, kolong meja, kolong dipan, merambah ke alamari, ke dalam kardus, di semak-semak, di seluruh benda yang memiliki bilik untuk sembunyi. Rupanya kau mengambang seolah sedang terbang. Sungguh di luar nalar.
Kau anak riang—di luar rumah. Maaf jika menilaimu secara subyektif demikian. Bukan maksud apa-apa, Di, hanya saja aku ingin jujur. Kau tampak murung di dalam rumahmu, rumah yang seharusnya kau anggap surga, justru hadirkan neraka. Dari pandangku, ibumu adalah orang sibuk. Dia sering memakai seragam ASN. Rapi dan wangi, lalu cantik karena ada gincu merah pekat yang terlapisi di bibir. Sepatunya hak tinggi, tidak serupa alas langkah Mamakku, sekadar sendal jepit yang sudah disambung berulang-ulang kali. Ayahmu pemborong proyek, dia jarang pulang jika sedang bekerja di luar kota. Maka kusaksikan harimu di waktu malam adalah kesepian. Ibu yang lelah mendadak uring-uringan. Kau salah jika tidak belajar, kau salah jika bukumu berantakan, kau kena omel jika nilai buruk, kau keliru jika ngajimu belum lancar. Pernah ibumu yang cantik itu menjaga jarak pada pertemanan kita, katanya banyak bermain denganku dan teman-teman justru mengganggu prestasimu. Aku paham kau terkurung di bangunan berdinding cream itu. Sebuah rumah yang sangat mentereng di kampung kita. Demi menyelamatkanmu, kubantu dirimu lompat dari jendela kamar. Kakimu yang mulus tidak seburik milikku terkena lumpur. Pot lidah buaya kesayangan ibumu tumbang, tanahnya berserak tercampur dengan air krans yang kesenggol lalu kransnya copot. Sungguh dramatis masa itu. Lalu kita berdua lari tunggang-langgang menjauhi rumah seperti pencuri takut ketahuan. Senyummu amat lebar kala itu.
Sewaktu bermain aku melihat sisimu yang lain, begitu bahagia dan riang. Sayangnya, ketika langkahmu berdiri di dekat pintu trails rumahmu—baru saja pulang, kau undang mendung yang tak mau datang. Kau paksa guntur terbit dari langit di musim kemarau. Kau pendam senyum ke lubang paling dalam. Juga kau usir keriangan kanak-kanakmu. Entah apa sebabnya kau melangkah maju menuju pintu bercat putih itu dengan kepala tertunduk sementara bibirmu bungkam beribu bahasa.
Aku merasa kasihan padamu. Apalagi di akhir tahun 2029, ada kabar mencengangkan dari keluargamu, katanya ibu dan ayahmu pisah. Bukan sekedar pisah ranjang serupa di sinetron itu, Di. Pisah yang sulit dipertemukan lagi. Kalau saja ayahmu meninggal, mungkin kau lebih terima sekalipun sakitnya kehilangan orang yang dicintai butuh waktu panjang untuk sembuh. Sayangnya, ayahmu pergi yang masih bisa kau saksikan bentuk tubuhnya, kau dengar berisik suaranya, kau tatap kesibukannya bekerja. Semakin pilu aura di wajahmu. Jika berangkat ke sekolah, riangmu kembali pulang.
Pernah di masa-masa sulit, kau mengajakku melompati pagar sekolah. Kabur dari tanggung jawab belajar. Bersembunyi di warnet terdekat dengan mengganti seragam identitas menggunakan jemper kedodoran. Aku ditraktir jajan olehmu. Aku yang kala itu masih labil sangat senang dan merasa beruntung karena mendapat teman sepertimu. Lucunya, memang sewaktu kecil kau pandai bersembunyi. Ketika ada guru yang mencari keberadaan kita berdua, kau langsung tanggap, menarik kepalaku untuk membungkuk, lalu lebih merendahkan tubuh lagi untuk jongkok di bawah meja komputer. Warnet menjadi kurang aman, maka kau berpindah tempat lain, kau ajak aku nongkrog di pinggiran swalayan. Orang lalu-lalang, sibuk berbelanja maupun jalan-jalan. Untuk beberapa pekan aman. Sayang ada siswa yang lancing malaporkan karena secara tidak sengaja menjumpai kenakalan kita—biar kueskpos kau dan aku main asap rokok! Meniupnya menjadi lingkaran di udara lalu ditiup pelan-pelan.
Masa itu benar-benar berkesan di kepalaku, Di. Alangkah pahitnya kita harus berpisah, Di. Kau kuliah, aku bekerja karena prestasiku begitu buruk. Sebenarnya prestasi bukan masalah asalkan orang tuaku memiliki uang untuk membayar biayanya. Sayangnya, kau tentu paham darahku yang hanya mengalir dari buruh proyek dan ibu rumah tangga tulen, tidak miliki ipekerjaan sampingan, penghasilan keluargaku tentu pas-pasan untuk makan. Intinya sejak saat itu, aku tidak lagi berjumpa denganmu. Pandai sekali kau bersembunyi dari pencarian teman lamamu ini, Di. Aku menjelajahi dunia maya dengan namamu, Rudi. Muncul Rudi yang sangat banyak. Rudi ahli pancing, Rudi seorang guru, Rudi CEO sebuah perusahaan, Rudi mantan buronan, Rudi pembunuh, Rudi … Rudi banyak lagi. Mana Rudi yang dirimu? Aku tak paham di mana kau sembunyi atau memang ditelan bumi.
Setidaknya mari minum secangkir kopi panas. Sudah berapa anakmu kini, Di. Di mana kau dapat istri. Layak kita obrolkan masa-masa kala itu. Masa dirimu mengajakku nakal, masamu mengajakku bolos sekolah. Karena ulahmu yang terlalu menyenangkan itu, aku menjadi ketagihan bersenang-senang. Sampai lupa waktu belajar. Kadang aku berpikir bahwa dirimu bodoh, Di. Punya ibu yang mengingatkan belajar merupakan anugerah terindah. Setidaknya ada tameng yang menjagamu supaya tidak salah langkah. Jika dibiarkan bebas, dia hanya tahu bersenang-senang. Padahal menjadi dewasa tidak ubahnya menyiapkan mental untuk siap digertak. Hahaha.
Aku butuh dukunganmu, Di. Aku sedang demo kenaikan upah. Bertahun-tahun aku menjadi kuli sebuah perusahaan, tetapi gajiku tidak pernah diangkat, padahal kerjaan lembur terkadang kuangkut sampai rumah. Kau tahu? Istriku bahkan sampai ngomel-ngomel. Anakku yang nangis minta bopong sampai lupa kuberi kecupan. Aku menjadi linglung karena tanggung jawa kantor yang harus dibawa sampai ke tempat tidur. Sungguh kejam bukan pemilik perusahaan ini. Aku rindu dirimu, Di. Aku ingin tahu seberapa bahagia kau sekarang. Jelasnya aku ingin memberimu banyak cerita tentang lika-liku pekerjaanku yang tidak kelar-kelar. Ironi memang. Hidup harus setengah menjadi budak supaya bisa bertahan. Kau … kini kau menjadi apa, Di?
Kembali pada masalah demo tadi. Hari ini aku berangkat ke perusahaan bersama karyawan lain. Kami semua membawa spanduk dan papan berisi protes. Presdir perusahaan yang kami kerjai tidak pernah kelihatan di kantor. Entah di mana dia singgah, barangkali sedang duduk di Kanada, atau sedang tawaf di Mekkah. Aku tidak tahu, intinya aku dan rekan-rekan senasib meminta hak lembur yang selama ini belum diangsur.
Tiba-tiba saja ada mobil mewah parkir di halaman kantor, menyingkirkan peserta aksi demo. Penumpangnya turun, berjalan maju. Entah apa sebabnya jantungku sangat gemuruh, kupaksa pelan detaknya, tetap saja dia mau lompat. Aku sesak tidak tanggung-tanggung. Tubuhku lemas tiada takaran. Sebulan lalu akulah pencetus ide untuk mendemo perusahaan. Aku pula yang memanggil wartawan supaya mengekspos kegiatan hari ini.
Karyawan tetap yang sudah puluhan tahun menjabat, tentu yang tidak ikut aksi gila demo ini, berteriak lantang, “Beri Pak Rudi jalan! Beri jalan!”
“Halo Rangga, apa kabar?” tanyamu membuat langit seolah runtuh menimpaku.
Magelang, 15 Januari 2025.