Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
MADILOG: Jalan Sunyi Si Pemikir Muda
0
Suka
148
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab 1: Logika yang Terluka

Kata orang, jadi pintar itu berkah. Tapi bagi Raka, itu lebih mirip kutukan.

Hari itu, langit SMA Negeri 8 terlihat mendung. Tapi bukan langit yang membuat suasana kelas tegang—melainkan satu pertanyaan yang keluar dari mulut Raka:

“Kalau semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan, kenapa ada orang yang memilih sendiri seumur hidupnya?”

Pak Gani, guru agama yang biasanya tenang, tampak menahan napas. Kelas terdiam. Mata teman-temannya menatap Raka seperti menatap makhluk dari planet lain.

“Raka,” suara Pak Gani terdengar berat, “itu bukan untuk dipertanyakan. Itu sudah ketetapan Tuhan.”

Raka tidak marah. Ia hanya menatap lurus, mencoba mengerti. Tapi dalam hatinya, ia tahu: ini bukan tentang benar atau salah. Ini tentang siapa yang berani berpikir di ruang yang tidak mengizinkan berpikir.

Besoknya, namanya ramai di grup WhatsApp wali murid. Ibu Raka dipanggil ke sekolah. Ayahnya diam tak berkata-kata saat makan malam, hanya menatap piring seperti sedang memikirkan cara menyelamatkan nama keluarga.

“Kamu itu harus tahu tempat, Ka,” kata ibunya sambil menahan tangis.

“Ayahmu malu. Katanya anaknya pintar, kok malah melawan guru.”

Raka tertunduk. Bukan karena merasa salah. Tapi karena sadar: orang yang berpikir tidak selalu ditunggu, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Malam itu, di kamarnya yang kecil, Raka menatap plafon. Ia mulai menulis di catatan digitalnya:

“Berpikir adalah bentuk paling jujur dari mencintai kebenaran. Tapi kebenaran itu menyakitkan kalau tidak sama dengan mayoritas.”

Ia tak tahu kenapa ingin menulis itu. Tapi ada dorongan untuk merekam keresahannya. Bukan untuk dibaca orang lain. Tapi untuk dirinya sendiri — agar ia tahu, ia belum gila.

Keesokan harinya, di kantin sekolah, Raka duduk sendirian. Biasanya dia duduk bareng Gita dan Dimas. Tapi kali ini, kursi di sebelahnya dibiarkan kosong.

“Gue gak ngerti sih, Ka. Lu keren, tapi kadang... serem,” ujar Dimas kemarin, sebelum pergi.

Serem? Karena berpikir? Karena bertanya?

Raka tersenyum kecut. Kadang, logika memang bisa lebih mengintimidasi dari senjata. Apalagi kalau dilempar di tempat yang terbiasa diam dan ikut arus.

Sore itu, saat pulang sekolah, Raka mampir ke taman kota. Ia butuh udara, butuh ruang yang tidak menghakimi.

Di salah satu sudut taman, ada seorang lelaki tua duduk di bawah pohon. Di depannya ada tumpukan buku tua di atas kain lusuh. Bukan pedagang, pikir Raka. Tapi juga bukan orang yang sedang menunggu siapa-siapa.

Raka iseng mendekat. Salah satu buku menarik perhatiannya: "Madilog - Tan Malaka."

“Boleh saya lihat, Pak?” tanya Raka pelan.

Lelaki itu hanya mengangguk. Sorot matanya tajam, tapi damai.

Raka membuka halaman pertama. Tak ada ilustrasi, tak ada warna, hanya baris-baris kata yang terasa... jujur. Rasional. Tegas.

Kalimat pertama yang membuat Raka berhenti membaca:

“Kita harus mengganti cara berpikir mistik dan dogmatis dengan logika dan ilmu.”

Entah kenapa, dadanya terasa hangat. Seperti menemukan cermin yang tak memantulkan wajah, tapi isi kepala.

“Anak muda sekarang jarang yang baca buku itu,” kata lelaki tua tiba-tiba.

“Kenapa, Pak?”

“Karena berpikir itu berat. Lebih gampang percaya kata orang.”

Raka membeli bukunya. Atau lebih tepatnya, diberi. Lelaki itu menolak uangnya.

“Ambil. Tapi jangan cuma dibaca. Rasakan,” ujarnya.

Di perjalanan pulang, Raka seperti membawa lebih dari sekadar buku. Ia membawa semacam kunci. Bukan kunci untuk membuka pintu orang lain, tapi kunci untuk masuk ke dirinya sendiri.

Malam itu, ia membaca Madilog di bawah lampu kamar yang temaram, ditemani secangkir teh dan keheningan yang akhirnya terasa akrab.


Bab 2: Dosa Bernama Rasional

 “Kau itu terlalu banyak mikir,” ujar ayahnya suatu malam, dengan nada pelan tapi dalam.

Ucapan itu datang setelah Raka mempersoalkan satu hal sederhana saat makan malam:

“Kenapa kita harus ikut tradisi yang kita sendiri gak tahu asal-usulnya?”

Tak ada yang menjawab waktu itu, hanya suara sendok dan piring yang bergesek — seperti sedang menyelamatkan suasana yang hampir runtuh.

Tapi malam ini, ayahnya bicara. Dan kalimat itu seperti vonis.

 “Dulu ayah juga sempat kayak kamu,” lanjutnya.

“Tapi hidup gak bisa kamu lawan pake logika doang, Ka.”

Raka hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu ayahnya tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Bagaimana jika seluruh hidup ini dibangun di atas fondasi yang rapuh? Jika semua keputusan diambil atas nama “sudah dari dulu begitu”? Apa kita harus diam hanya karena takut dianggap aneh?

Raka tidak sedang melawan. Ia hanya tidak ingin hidup seperti robot tradisi.

Di sekolah, rumor tentang “anak yang berani melawan guru” makin liar. Beberapa guru mulai mengawasi gerak-geriknya. Bahkan ada yang menyarankan Raka untuk pindah sekolah “agar lebih cocok dengan suasana yang dia butuhkan.”

Lucu, pikirnya. Karena yang dia butuhkan bukan suasana. Tapi kebebasan berpikir.

Ia bukan teroris. Ia hanya ingin tahu. Tapi kadang, ingin tahu saja bisa dianggap dosa — kalau logikamu menantang yang mapan.

Di kamar, Raka mulai menulis lagi:

“Berpikir rasional bukan berarti tidak punya hati. Justru logika yang jernih lahir dari hati yang jujur. Tapi mungkin, dunia terlalu takut pada orang yang berpikir karena mereka sulit dikendalikan.”

Kalimat itu ia baca berulang-ulang. Sampai akhirnya tertidur di atas catatan, ditemani angin malam yang diam-diam mendengarkan isi kepala anak muda yang kesepian.

Pagi hari di sekolah, Raka masuk kelas seperti biasa. Tapi kali ini, ada perubahan kecil yang ia sadari: tak ada satu pun tatapan mata yang menyapanya.

Dia bukan lagi Raka si pintar. Dia kini Raka si “pembangkang.”

Saat guru sejarah menjelaskan tentang kerajaan-kerajaan Nusantara, Raka menahan diri untuk tidak bertanya soal sumber-sumber sejarah yang digunakan. Dia ingin belajar, bukan menyerang.

Namun, diamnya pun jadi masalah.

“Kalau kamu gak tertarik, keluar aja, Rak,” kata Bu Santi, ketus.

Raka hanya menatap papan tulis. Ia tahu, kadang berpikir bisa jadi dosa. Tapi diam pun bisa dianggap pelanggaran.

Di perpustakaan, tempat yang dulu sunyi dan damai, kini terasa sempit. Seolah bisikan-bisikan orang menembus dinding.

“Katanya anaknya pintar, tapi berani lawan guru.”

“Jangan deket-deket. Nanti malah ikut sesat.”

Raka duduk di sudut paling pojok, membuka buku Madilog yang kini mulai penuh stabilo dan catatan kecil di pinggir halaman.

Salah satu catatan ia tulis begini:

"Pikiran bebas bukan untuk menghina, tapi untuk membebaskan."

Tapi dunia tidak suka dibebaskan, apalagi oleh anak SMA.

Di rumah, ibunya mulai sering menangis diam-diam. Ayahnya makin jarang bicara.

Sore itu, saat matahari baru saja turun di balik atap rumah tetangga, Raka duduk di teras.

“Apa salah ya, Bu, kalau aku gak mau ikut semua hal yang gak masuk akal?” tanyanya pelan.

Ibunya menunduk, tangan mengusap lututnya sendiri.

“Kamu bukan salah, Ka. Tapi... gak semua orang siap dengar kebenaran.”

Itu kalimat pertama yang membuat Raka merasa ibunya sebenarnya mengerti. Tapi juga kalimat yang paling membuatnya sedih.

Karena bahkan yang mengerti pun takut bicara.


Bab 3: Satu-Satunya Teman: Buku

Perpustakaan kota jadi tempat pelarian yang tak pernah menolak Raka.

Ia suka duduk di lorong paling belakang, di antara rak buku filsafat dan politik yang jarang disentuh siapa pun. Di sana, tak ada tatapan sinis, tak ada bisik-bisik, hanya sunyi yang bisa diajak berpikir.

Buku Madilog yang ia baca kini seperti sahabat baru — tak banyak bicara, tapi penuh makna. Di setiap halamannya, Raka menemukan kalimat-kalimat yang tidak sekadar mengajarkan, tapi membangkitkan.

“Filsafat adalah alat berpikir. Ilmu adalah bahan berpikir. Logika adalah cara berpikir.”

Ia membaca kalimat itu berulang kali, seperti mantra untuk bertahan hidup di dunia yang menolak rasionalitas.

Suatu hari, seorang perempuan duduk di bangku yang sama. Ia terlihat sepantaran dengan Raka, membawa buku tebal berjudul Sains dan Ideologi.

Raka melirik tanpa bermaksud sok tahu. Tapi si perempuan tiba-tiba berkata,

“Gue pernah baca Madilog juga. Bikin ngerasa gak sendirian.”

Raka terdiam. Perempuan itu tersenyum.

“Namaku Nala.”

Raka mengangguk. Untuk pertama kalinya, pikirannya merasa tidak sunyi.

Mereka jadi sering bertemu di perpustakaan. Bukan untuk pacaran seperti remaja kebanyakan, tapi untuk berdiskusi soal buku, kehidupan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban tunggal.

Nala bercerita bahwa ia juga sempat dianggap aneh karena suka mempertanyakan cara berpikir guru-gurunya. Tapi ia bertahan dengan caranya sendiri: menulis esai di blog, membaca, dan tidak memaksa siapa pun untuk setuju.

“Kita gak harus menang di depan publik, Ka. Kadang cukup menang di dalam kepala sendiri,” kata Nala sambil menutup bukunya.

Raka tersenyum. Kalimat itu seperti pelukan bagi pikirannya yang lama kedinginan.

Setiap pertemuan Raka dan Nala terasa seperti kuliah kecil yang penuh tawa, penuh tanya, dan tanpa nilai ujian.

Mereka membahas hal-hal yang jarang disentuh teman sebaya:

kenapa banyak orang lebih takut pada pertanyaan daripada kebohongan,

kenapa tradisi lebih dijaga daripada logika,

dan kenapa berpikir dianggap sombong.

“Menurut lo, orang-orang takut sama pemikiran kita karena gak paham, atau karena mereka sadar pemikiran kita benar?” tanya Raka suatu sore.

Nala tersenyum kecil. “Mungkin karena mereka udah nyaman dengan kebohongan yang diwariskan.”

Hari itu, mereka duduk di bangku taman belakang perpustakaan. Angin sore membawa aroma pohon akasia yang sudah mulai gugur.

Nala mengeluarkan catatannya dan menunjukkan puisi yang ia tulis:

Kita tidak sedang melawan dunia,

hanya ingin berdialog dengan suara yang tak terdengar.

Tapi dunia terlalu bising untuk mendengar bisikan logika.

Raka membacanya tanpa berkata apa-apa. Tapi dadanya terasa hangat. Bukan karena puisinya sempurna, tapi karena akhirnya ia merasa tidak sendiri dalam perjuangan yang tak kelihatan.

Sebelum berpisah, Nala memberikan satu buku kecil ke Raka.

“Ini bukan buku berat. Tapi isinya tajam. Baca kalau kamu lagi ngerasa dunia ini gak masuk akal,” katanya.

Judul bukunya sederhana: "Berpikir Itu Tidak Harus Ribut."

Raka mengangguk. Lalu dengan pelan berkata,

“Terima kasih, Na. Kamu gak tahu seberapa penting ini buatku.”

Nala tersenyum dan menjawab,

“Aku tahu, Ka. Karena dulu aku juga pernah berpikir aku gila. Tapi ternyata, aku cuma waras di tempat yang salah.”


Bab 4: Di Antara Dua Dunia

Popularitas memang bukan sesuatu yang Raka cari.

Tapi ketika salah satu tulisan blog Nala yang berjudul "Berpikir Tidak Berdosa" mendadak viral, hidup mereka berubah dalam semalam.

Tulisan itu membongkar kebiasaan sekolah-sekolah yang mematikan rasa ingin tahu murid dengan dalih “menjaga ketertiban.” Ia menyentil cara mengajar yang anti kritik dan lingkungan yang menilai patuh lebih penting daripada paham.

Nama Nala memang tidak disebutkan, tapi orang-orang mulai mencocokkan tulisan itu dengan gaya bicara dan ekspresinya.

Dan Raka? Namanya muncul di kolom komentar sebagai “inspirasi di balik tulisan.”

Pagi itu, Raka ditatap seperti orang asing saat masuk kelas.

Ada yang menertawakannya pelan.

Ada yang diam-diam memotret.

Bahkan guru-guru pun mulai bicara lebih hati-hati saat mengajar.

Di satu sisi, Raka merasa “menang.” Tapi di sisi lain, dadanya seperti dipeluk duri.

Dia tidak minta panggung. Dia hanya ingin ruang bernapas.

Tapi begitulah dunia—kalau kau terlalu diam, kau tak dianggap. Tapi jika terlalu terdengar, kau dianggap ancaman.

Di ruang OSIS, seseorang menempelkan selebaran:

"Jangan biarkan racun logika menghancurkan akhlak pelajar!"

Raka menatapnya sebentar, lalu berlalu. Ia tidak ingin berdebat.

Namun di dalam kepala dan dadanya, konflik mulai beradu. Ia mulai merasa lelah — berpikir bukan lagi seperti menyusun puzzle, tapi seperti berperang dalam gelap.

Saat bertemu Nala sore harinya, ia berkata,

“Gue takut, Na. Bukan takut dimusuhi. Tapi takut kalau ternyata gue beneran salah.”

Nala menatapnya dalam.

“Berpikir itu gak menjamin lo benar. Tapi setidaknya lo sadar kenapa lo berpikir.”

Hari-hari berikutnya, diam menjadi senjata Raka.

Ia hadir di kelas, mencatat, bahkan tersenyum. Tapi tidak lagi bertanya. Tidak lagi menggugat. Tidak lagi “menguji logika” seperti yang mereka sebut.

Banyak yang mengira dia sudah kalah.

Padahal, dalam diamnya, Raka sedang menyusun ulang keberaniannya. Ia belajar satu hal penting:

"Terkadang, perubahan tidak datang dari suara yang paling keras, tapi dari pikiran yang paling dalam."

Di rumah, Raka kembali menulis.

Tapi kali ini bukan catatan digital. Ia menulis di buku tulis biasa, dengan tinta hitam dan coretan yang penuh amarah.

“Dunia ini aneh. Orang yang berpikir dianggap berbahaya. Sementara yang tidak berpikir, malah diberi panggung.”

“Kenapa pertanyaan bisa dianggap lebih jahat daripada kebohongan?”

“Apakah aku harus menjadi seperti mereka hanya agar bisa diterima?”

Tulisannya bukan curhat. Itu semacam pelampiasan. Pelampiasan orang yang terlalu lama ditinggal sendiri oleh logika di tengah dunia yang berisik tapi kosong.

Suatu hari, Nala tidak datang ke perpustakaan.

Raka menunggu. Satu jam. Dua jam. Tak ada kabar. Tak ada pesan.

Hari berikutnya pun sama.

Dan yang lebih menyakitkan: blog Nala telah dihapus. Semua tulisannya lenyap. Seperti jejak-jejak pemikiran yang disengaja untuk dikubur.

Raka mencoba menghubungi Nala. Tidak diangkat. Ia mendatangi rumahnya, tapi hanya mendapat jawaban singkat dari ibunya:

“Nala butuh istirahat. Jangan ganggu dulu.”

 

Bab 5: Revolusi dalam Diri

Setelah dua minggu tanpa kabar dari Nala, Raka seperti kehilangan jangkar.

Setiap ia menatap buku Madilog di meja belajar, rasanya seperti menatap sahabat yang juga memilih diam. Sunyi yang dulu jadi ruang nyaman, kini berubah jadi ruang hampa.

Tapi justru dalam keheningan itulah, Raka mulai mendengar sesuatu yang tak pernah ia dengar:

suara dari dalam dirinya sendiri.

Bukan suara amarah, bukan juga kesedihan.

Tapi suara yang pelan berkata:

“Jika berpikir membuatmu sendirian, maka sendirian pun tak masalah—asal kau tetap berpikir.”

Hari itu, Raka menulis ulang semua catatan berpikirnya. Tapi kali ini, bukan untuk disimpan.

Ia merapikan tulisan, menyunting kata-kata, menyusunnya jadi satu esai:

“Berpikir Itu Tidak Berdosa.”

Judul yang sama seperti tulisan Nala, tapi dari perspektifnya sendiri.

Isinya padat. Lugas. Tapi tak menggurui.

Ia membahas bagaimana berpikir kritis bukan bentuk pemberontakan, tapi cinta pada kebenaran.

Bahwa logika bukan musuh iman, tapi pasangan yang harusnya berjalan bersama.

Ia unggah tulisan itu ke media daring, menggunakan nama samaran: Logika Bisu.

Dalam tiga hari, esainya dibaca ribuan orang. Dibagikan, dikomentari, diperdebatkan.

Ada yang memujinya, menyebutnya “udara segar di tengah polusi pikiran.”

Ada pula yang mencaci, menyebutnya “anak muda kurang ajar.”

Tapi yang paling mengejutkan: satu komentar masuk dengan akun tanpa nama, hanya bertuliskan:

“Akhirnya kamu menemukan caramu sendiri. -N”

Raka menatap layar cukup lama, bibirnya gemetar.

Ia tahu, itu Nala.

Dan ia tahu, bahkan dalam diam, logika tetap menemukan jalannya sendiri.

Beberapa hari setelah tulisan itu viral, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Pak Gani — guru agama yang dulu paling keras padanya — memanggil Raka ke ruang guru. Tapi kali ini bukan untuk marah.

“Duduk, Ka,” katanya singkat.

Raka duduk, jantungnya deg-degan. Tapi wajah Pak Gani terlihat berbeda: tak lagi kaku, justru lelah.

“Ayah kamu kirim tautan tulisan itu ke saya,” katanya sambil memandangi jendela.

Raka menunduk, bersiap untuk debat.

Tapi yang ia dengar malah:

“Tulisanmu mengganggu saya. Tapi dengan cara yang baik.”

Pak Gani melanjutkan dengan nada yang sulit ditebak,

“Dulu saya juga suka berpikir. Tapi makin lama, saya sadar... tidak semua orang siap mendengar pikiran. Jadi saya berhenti.”

Ia menatap Raka sejenak.

“Kamu mengingatkan saya pada diri saya yang lama.”

Hening. Raka tak tahu harus merasa senang atau sedih.

Tapi satu hal yang ia pelajari hari itu:

Bahkan yang terlihat paling keras kepala pun, mungkin sedang menahan gelombang pikirannya sendiri.

Malam harinya, ayah Raka datang ke kamarnya.

Tanpa suara, ia duduk di ujung tempat tidur. Lalu meletakkan ponselnya yang menampilkan laman tulisan Raka.

“Ayah baru baca ini,” katanya pelan.

Raka diam.

Ayahnya melanjutkan,

“Ayah gak sepenuhnya paham isinya. Tapi... Ayah ngerti satu hal: kamu bukan melawan. Kamu cuma bertanya.”

Dan itu adalah kali pertama Raka menangis.

Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya, ia merasa tidak perlu lagi menjelaskan siapa dirinya — cukup dipahami.

 

Bab 6: Dunia yang Belum Siap

Tiga minggu setelah esainya viral, nama “Logika Bisu” mulai jadi pembicaraan di berbagai forum.

Beberapa media pendidikan menuliskannya sebagai “fenomena anak muda yang berani bersuara lewat tulisan.” Beberapa guru diam-diam mengutip esainya dalam kelas. Bahkan ada dosen universitas yang mengajak kolaborasi—meski belum tahu siapa penulis aslinya.

Raka menyaksikan itu semua dari balik layar. Ia tetap menggunakan nama samaran. Bukan karena takut, tapi karena ingin idenya yang diperhatikan, bukan identitasnya.

Namun, dunia maya tak selalu adil. Tak lama kemudian, muncul video berjudul:

“Logika Bisu adalah Siswa SMA Pembuat Gaduh?”

Isinya tuduhan. Distorsi. Fitnah halus.

Dan sayangnya... viral juga.

Komentar-komentar mulai berubah:

“Anak SMA sok pintar.”

“Didikan barat yang menyesatkan.”

“Ini akibat terlalu banyak baca, bukan belajar agama.”

Raka tidak marah. Tapi ia kecewa.

Bukan pada mereka. Tapi pada dunia yang katanya butuh kebenaran — tapi hanya kalau sesuai dengan apa yang mereka suka.

Saat membaca salah satu komentar yang menyamakannya dengan “budak logika liberal,” ia tersenyum kecil.

“Kalau berpikir bikin gue dianggap liberal, berarti yang gak mikir itu apa? Netral?”

Ia menuliskannya di catatan pribadi — karena ia tahu, tak semua logika bisa ditaruh di kolom komentar.

Malam itu, Nala mengirim pesan pendek:

“Logika itu gak selalu bisa dilindungi. Tapi dia akan terus hidup — bahkan dalam pikiran yang sudah kamu bangkitkan.”

Raka membalas:

“Dunia belum siap.”

Nala menjawab:

“Memang. Tapi bukan alasan kita harus mundur.”

Di antara notifikasi dan badai digital, Raka kembali membaca ulang buku Madilog. Kali ini bukan untuk mencari pembenaran — tapi untuk mengingat dari mana semua ini dimulai: dari rasa ingin tahu.

Dan rasa itu tak pernah salah.

 

Bab 7: Madilog Tak Pernah Mati

Setahun setelah semua itu terjadi, Raka tidak lagi jadi bahan pembicaraan.

Namanya tenggelam dalam berita-berita baru. Dunia digital terus berjalan, mencari topik viral berikutnya. Tapi Raka tidak lagi mengejar perhatian.

Ia kini tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Tengah. Mengajar anak-anak kampung belajar membaca, menulis, dan... berpikir.

Bukan guru resmi. Tidak bersertifikat. Tapi setiap Sabtu sore, rumah kayunya jadi tempat berkumpul belasan anak dengan buku catatan dan kepala yang haus makna.

 “Kenapa langit biru?”

“Kenapa kita harus jujur?”

“Kenapa orang baik bisa kalah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan ceramah.

Tapi dibalikkan:

“Menurut kamu kenapa?”

“Apa yang bikin kamu mikir begitu?”

“Kalau kamu di posisi itu, kamu bakal gimana?”

Raka tidak sedang membentuk murid.

Ia sedang membentuk manusia.

Manusia yang berani ragu, berani salah, dan berani berpikir.

Suatu hari, seorang wartawan datang. Ia mendengar kabar tentang “seseorang yang pernah jadi viral karena tulisan logisnya, kini tinggal di desa kecil dan mengajar diam-diam.”

“Apa kamu Logika Bisu?” tanya wartawan itu.

Raka tersenyum.

“Enggak,” jawabnya pelan.

“Tapi kamu mirip,” desak si wartawan.

Raka hanya berkata,

“Kalau mirip, berarti kita sama-sama sedang mencoba berpikir.”

Wartawan itu tak puas, tapi tak memaksa. Ia pergi dengan satu catatan: mungkin, kebenaran memang tak selalu perlu diaku — cukup dijalani.

Malam itu, Raka menutup buku Madilog untuk kesekian kalinya.

Tak lagi ia tandai, tak lagi ia stabilo. Karena semua isinya kini sudah pindah ke kepala... dan hati.

Ia menulis di buku kecilnya:

“Berpikir itu kerja sunyi. Kadang dibalas tawa, kadang dibalas marah. Tapi kalau kamu terus berpikir, kamu tidak sendiri. Karena di mana pun, logika sedang mencari temannya.”

“Madilog mungkin buku tua. Tapi pikirannya tak pernah mati.”

“Dan aku, adalah buktinya.”

 


Di dunia yang terus berbicara tanpa henti, ia memilih mendengar. Di antara gelombang yang memaksa arus, ia menjadi batu yang diam tapi paham arah. Ia bukan ingin membuktikan, hanya ingin bertahan — sebagai manusia yang tak takut ragu, tak takut salah, dan tak pernah berhenti bertanya. Sebab dalam sunyi yang ia rawat, logika tumbuh seperti akar: tak terlihat, tapi menghidupi pohon masa depan.

 

Dan jika suatu hari, dunia ini lupa cara berpikir... semoga tulisan ini jadi jejak. Jejak kecil dari seorang pemuda yang percaya, bahwa berpikir adalah bentuk tertinggi dari keberanian. Ia tak butuh sorak, tak ingin gelar. Ia hanya ingin satu hal: agar generasi setelahnya tahu, bahwa pernah ada satu jalan sunyi — dan jalan itu bernama Madilog.



Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
MADILOG: Jalan Sunyi Si Pemikir Muda
Dede Nurrahman
Flash
Bronze
Dunia Tidak Berpihak Kepadaku
Ika nurpitasari
Cerpen
Roti Manis dan Kenangan Ibu
Hasbullah
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Flash
Seplastik Anggur Merah yang Dioplos Keinginan Insaf
Ryan Esa
Flash
Dansa Diketiadaan
Ninazyn
Cerpen
Bronze
Ibu Segalanya Tentangnya
Ricko Pradana
Cerpen
Saya Telah Difitnah
Syauqi Sumbawi
Cerpen
Yang Dia Pilih Saat Dunia Ditawarkan
Siti Sulha Darmaini
Flash
Dia Yang Bernafas
lidia afrianti
Cerpen
Langkah tanpa nama
Erlangga Putra
Novel
Berdiri Di Ambang Dunia
Asep Saepuloh
Komik
Hidup Sehat ala Haryanto dan Teman-teman
Miftah Faturrachman
Novel
Bronze
AKU TAK PERNAH MEMBENCI DIRIMU
Muhammad Abdul Wadud
Cerpen
Bronze
Tentang Cinta
Bang Jay
Rekomendasi
Cerpen
MADILOG: Jalan Sunyi Si Pemikir Muda
Dede Nurrahman
Novel
Di Ujung Pelukan Malam: Kata-Kata Indah dan Sajak Kehidupan
Dede Nurrahman
Skrip Film
Negeri yang Tak Pernah Selesai
Dede Nurrahman
Novel
Bayangan Terakhir
Dede Nurrahman