Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Lullaby dari Ruang Hampa
0
Suka
79
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Kabin Modul Alpha terlalu hening malam ini—jika konsep "malam" masih punya arti di lintasan orbit geostasioner, sepuluh ribu kilometer di atas bumi yang terbakar. Satu-satunya suara yang tersisa adalah dengung monoton dari sistem daur ulang udara dan suara napas Rian yang berat, pendek-pendek, serta sedikit bergetar.

Di hadapannya, layar konsol berkedip hijau pucat. Sebuah garis gelombang suara datar perlahan menaik, membentuk kurva tipis setiap kali ia menekan tombol transmisi.

"Rian di sini. Alpha-01 memanggil Stasiun Komando Pasifik. Ada yang mendengar?"

Hening. Hanya white noise—desis radiasi kosmik yang terdengar seperti gesekan pasir di kaca—yang menjawab.

Sudah empat puluh dua hari sejak "Peristiwa Gempa Silang" menghancurkan seluruh infrastruktur komunikasi darat. Dari balik jendela observasi tebal yang melengkung, Rian bisa melihat Bumi. Planet itu tidak lagi biru terang seperti di buku-buku sekolah. Sebagian besar permukaannya kini diselimuti warna abu-abu keabu-abuan dan goresan oranye menyala dari abu vulkanik serta kebakaran hutan gergasi.

Sebagai satu-satunya insinyur pemeliharaan yang tersisa di Modul Alpha—setelah dua rekannya dievakuasi lebih awal dan kapsul mereka hilang kontak saat memasuki atmosfer—Rian bertugas menjaga satelit komunikasi darurat tetap beroperasi. Namun, apa gunanya pemancar jika tak ada lagi yang mendengarkan?

Rian menyandarkan kepalanya ke dinding logam yang dingin. Ia memejamkan mata, merasakan kesendirian yang menancap begitu dalam hingga rasanya seperti rasa sakit fisik di dadanya. Kehilangan bukan cuma tentang merindukan seseorang; kehilangan adalah saat kau memiliki begitu banyak cerita untuk dibagikan, tetapi dunia telah kehilangan telinganya.

Saat ia hampir tertidur dalam posisi duduk dengan sabuk pengaman terpasang, sebuah bunyi beep bernada tinggi memecah kesunyian.

Rian melonjak. Matanya melotot menatap panel frekuensi rendah. Garis audio yang tadi datar kini melonjak-lonjak. Sinyal masuk. Bukannya sinyal digital resmi dari militer atau pemerintah, melainkan sinyal analog frekuensi radio amatir—sangat lemah, bergetar, dan dipenuhi gangguan (noise).

Dengan jemari yang gemetar, Rian menggeser fader audio dan menekan headphone-nya erat-erat ke telinga.

"...Hallo? Apakah... ada orang di atas sana?"

Suara itu halus, tipis, dan terdengar seperti suara anak kecil, mungkin berusia delapan atau sembilan tahun. Suaranya timbul tenggelam di antara desis radiasi.

Jantung Rian berdegup kencang seperti drum. Ia hampir lupa cara berbicara. Ia menekan tombol pemancar cepat-cepat. "Ya! Ya, saya mendengarmu! Ini Rian dari Modul Alpha. Siapa ini? Di mana kamu berada?"

Terjadi jeda yang panjang. Hanya desis statis yang terdengar selama sepuluh detik yang terasa seperti ribuan tahun.

"Nama... namaku Maya," jawab suara kecil itu akhirnya. "Aku di bawah tanah. Di bunker radio milik kakek. Kakek bilang kalau aku kesepian, aku boleh menyalakan kotak hitam ini dan memanggil bintang."

Rian menahan napas. Tangannya menggeletar di atas konsol. "Maya, apakah kakekmu ada di sana? Apakah ada orang dewasa lain?"

"Kakek... kakek sudah tidur sejak minggu lalu," kata Maya polos, tanpa nada heboh, seolah tidur adalah hal paling alami yang dilakukan orang dewasa di masa hancurnya dunia. "Dia tidak bangun lagi. Makanan di kotak merah tinggal sedikit. Lampu-lampu mulai padam, Mas Rian. Aku takut gelap."

Air mata Rian menetes tanpa sempat ia cegah, mengapung menjadi butiran-butiran cairan kecil di ruang tanpa bobot sebelum mendarat di panel kontrol. Ia membayangkan seorang anak kecil, sendirian di bunker yang makin membeku dan gelap, dikelilingi mesin-mesin tua, menatap layar radio yang berkedip.

"Jangan takut, Maya," ujar Rian, mencoba membuat suaranya setenang dan sehangat mungkin. "Lampu di luarmu mungkin padam, tapi aku bisa melihat tempatmu dari sini. Aku berada di atas awan. Di tempat bintang-bintang berada."

"Beneran?" Suara Maya terdengar sedikit lebih terang. "Apakah bintang-bintang di sana indah?"

Rian menatap ke luar jendela. Ia melihat kehampaan hitam yang luas dan bertaburkan miliaran titik cahaya yang dingin dan tidak peduli. Namun, ia tidak ingin menceritakan kenyataan yang kejam itu pada Maya.

"Indah sekali, Maya," kebohongan Rian mengalir manis. "Mereka bersinar warna-warni. Ada yang biru seperti samudra, ada yang emas seperti lampu natal, dan ada yang merah seperti buah stroberi. Mereka sangat terang hingga kegelapan di bawahmu tidak akan bisa menyentuhmu kalau kau terus mendengarkan aku."

"Aku ingin melihatnya..." bisik Maya. Suaranya mulai melambat, terdengar lelah. "Mas Rian, bisakah kau menceritakan cerita sebelum tidur? Kakek biasanya menyanyikan lagu atau menceritakan bintang sebelum lampu padam."

Rian melihat indikator baterai transmisi analognya di konsol. Cadangan daya modul tinggal empat persen. Dalam sepuluh atau lima belas menit lagi, panel surya utama yang rusak tidak akan sanggup lagi menyuplai energi untuk pemancar. Ini akan menjadi percakapan terakhir mereka. Tidak akan ada pertolongan yang datang. Tidak untuknya di orbit, dan tidak untuk Maya di bumi.

Rian menyapu air matanya, menghirup udara yang terasa kian tipis, dan tersenyum pelan pada mikrofon.

"Tentu saja, Maya. Aku punya cerita tentang sebuah kapal terbang besar yang terbuat dari kaca dan perak," puji Rian lembut. Ia mulai mengarang cerita—tentang petualangan melintasi awan, tentang kota-kota di atas langit di mana tidak ada debu vulkanik, tidak ada dingin, dan tidak ada ketakutan.

Ia bercerita dengan detail yang intuitif dan kaya. Ia menceritakan baunya padang rumput setelah hujan, hangatnya sinar matahari pagi yang menerpa wajah, dan rasa es krim vanila—hal-hal sederhana yang mungkin belum sempat dicicipi Maya secara utuh sebelum dunia hancur.

"Apakah di sana kita bisa berlari tanpa memakai masker, Mas?" tanya Maya lirih.

"Bisa, Maya. Kau bisa berlari secepat angin. Dan di sana, lampu tidak akan pernah padam."

Napas Maya di ujung telepon terdengar semakin teratur dan berat. Ia mulai tertidur, terbuai oleh cerita Rian dan kehangatan palsu yang diciptakan oleh dua jiwa yang saling menemukan di ambang kehancuran.

Indikator daya pemancar berkedip merah. 1% Battery Remaining.

Rian mulai berbisik, melantunkan nada lagu pengantar tidur lama yang pernah dinyanyikan ibunya puluhan tahun lalu di sebuah desa kecil yang kini tinggal kenangan. Suaranya bergema tipis di dalam kabin perak Modul Alpha, berpadu dengan desis radio yang semakin menguat.

"Tidurlah, Maya... bintang-bintang sedang menjagamu..."

Di layar transmisi, garis gelombang suara Maya melambat, menjadi helaan napas halus yang konsisten, lalu perlahan terputus saat daya Modul Alpha benar-benar habis.

Layar menjadi gelap.

Suara desis radio mati total. Sistem pendukung kehidupan Modul Alpha meredup menuju mode mati total (shutdown). Kabin tenggelam dalam kegelapan mutlak dan suhu yang mulai merosot dingin.

Rian menyandarkan badannya kembali, memejamkan mata dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya dalam empat puluh dua hari, ia tidak merasa takut. Di ruang hampa yang dingin dan sunyi ini, ia telah menjalankan tugas terpenting dalam hidupnya: memastikan seorang anak kecil tidak tertidur dalam ketakutan.

Saat napasnya sendiri mulai melambat dan matanya terasa berat, Rian tersenyum. Di balik kelopak matanya, ia tidak lagi melihat bumi yang hancur atau ruang hampa yang gelap. Ia melihat bintang-bintang yang benderang, menunggunya di luar sana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Lullaby dari Ruang Hampa
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Bronze
Literatur Bernyawa
Rainzanov
Novel
Jodoh Pilihan Allah ~Novel~
Herman Siem
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Aku dan Beribu Kenangan di Sebuah Kedai Kopi
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Mimpi - Gadis Berkerudung Merah Muda
Imron Mochammad Alghufara
Novel
Gold
Frederica
Noura Publishing
Novel
LELAKI DITITIK NADIR
Bhina Wiriadinata
Novel
Selamat Tinggal, Dunia.
Rika Kurnia
Cerpen
LILIN
Fredhi Lavelle
Novel
Dear Mantan
riskafitrianis
Novel
Bronze
KENNIE
Asrina Lestari
Novel
Radio, Someone Still Love You
Jonem
Cerpen
Bronze
Meraih Cinta dan Asa
Topan Adiningrat
Novel
Bronze
Hari Bersama Raka
Mittah Latif
Rekomendasi
Cerpen
Lullaby dari Ruang Hampa
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Kolektor Memori di Rak Nomor 7
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Sketsa di Kafe Hujan
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Kedai Kopi di Ujung Dermaga
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Penjaga Detik yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Bronze
Pelabuhan Kata yang Hilang
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Melodi di Antara Helai Bunga
Amir Ghozaly Prasetyo
Novel
Chronicles of Aethelgard
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Arsip Suara di Frekuensi 108.4
Amir Ghozaly Prasetyo