Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Luka yang Mengajariku Bertahan
0
Suka
31
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tak ada hal yang paling kurindukan di dunia ini, selain rindu kepada diriku yang dulu. Diriku yang bebas, tertawa lepas dan punya banyak mimpi. Namun, sialnya rindu itu tak pernah ada obatnya.

Dulu aku mengira cinta itu selalu indah, seperti pelangi yang memancarkan warna karena perbedaan. Aku lupa, pelangi hanya muncul setelah hujan dan tidak bertahan lama. Hingga akhirnya, aku merasakan betapa hampanya penjara tanpa jeruji. Duniaku berhenti semenjak statusku berubah menjadi seorang istri.

Status dan peran yang mungkin diimpikan oleh banyak wanita, tetapi bagiku tak lebih dari anak panah yang mematahkan sayap-sayapku, menahanku agar tak dapat lagi terbang. Impian yang dulu ada kini hanya sebatas mimpi. Keinginan yang dulu menggebu, kini hanya menjadi angan.

Aku merasa putus asa dan hilang arah, semua jalan terasa buntu. Luka-luka itu membayangi setiap langkahku, meneror di setiap kesendirianku. Kata-kata tajam yang pernah kuterima terus menikam hati ketika otak memutar ulang adegan yang sama, membuat hidupku dibayangi ketakutan.

Aku menghela napas berat menekan sesak yang menghimpit dada. Di luar, langit tampak indah dengan cahaya jingga lembut yang menyelimuti. Perlahan, perasaanku mulai terasa lebih tenang, aku membiarkan diri tenggelam dalam keindahan itu, sebelum akhirnya sebuah suara mengakhirinya.

“Isana!”

Aku tersentak mendengar suara penuh amarah itu. Aku menoleh ke arah sosok tinggi besar yang kini berdiri di hadapanku. Tatapannya mengoyak keberanianku dan menimbulkan rasa takut. Tubuhku sedikit gemetar. Apalagi yang akan kuterima kali ini?

“Kamu ngapain?” tanya suamiku.

Hanya kalimat singkat, tetapi dadaku seketika sesak, darahku mendesir, seluruh tubuhku menegang. Otakku mendadak kosong dan aku hanya bisa menunduk, takut menghadapi kemarahan yang selalu terekam di alam bawah sadarku.

“Sudah kubilang berkali-kali, berhenti melamun! Tapi kamu nggak pernah dengerin omonganku.”

Kalimat itu bagai peluru yang melesat ke hati, aku hanya diam dengan sudut mata mulai memanas. Aku sendiri tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak melamun, apalagi jika bayangan buruk kembali datang.

Aku mulai bangkit dari duduk, berjalan ke arah dapur hendak menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Mata elangnya mengikuti setiap langkahku, rasanya kakiku tak menginjak lantai lagi.

“Hari sudah hampir malam dan kamu masih sibuk melamun nggak penting! Padahal aku libur hari ini! Bukannya dilayani malah dibuat marah oleh kelakuanmu. Apa seperti ini cara ibumu mendidikmu?”

Jarinya tertodong padaku membuat sakit itu menjadi berkali-kali lipat, apalagi suami membawa-bawa ibuku. Ibu yang tak mungkin mengajarkan hal buruk. Hinaan itu begitu kejam.

Mas Abizar duduk di meja makan, melanjutkan amarahnya yang belum tuntas dan aku harus siap sebagai samsaknya. Aku tak tahu kehidupan seperti apa ini? Setiap deru napasku terasa seperti bara api.

“Aku ini laki-laki, perempuan itu gampang untukku. Bahkan perawan pun masih bisa kudapatkan!”

Kalimat itu mengoyak hatiku, membuatku merasa rendah, tak berharga dan tak layak dipertahankan. Apakah pernikahan ini baginya sebatas status semata? Entah sudah berapa kali aku mendengar kalimat itu dan setiap kali hati ini tetap saja terasa sakit.

Lidahku kelu, ingin rasanya aku berteriak dan memberontak, tetapi kata-kataku selalu tertahan di tenggorokan ketika mataku bertumbuk dengan sorot matanya.

“Harusnya kamu mikir, gimana caranya buat suami betah sama kamu. Kalau seperti ini, rasanya wajar kalau aku cari wanita di luar. Kamu di rumah nggak bisa menyenangkan suami,” lanjutnya.

Aku merasa harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku menggeleng pelan sambil terus memotong bahan makanan, membiarkan Mas Abizar mengoceh di balik punggungku. Setetes air mata meluncur begitu saja dan aku segera menghapusnya. Ini bukan waktunya untuk menangis, meski hatiku rasanya sudah tak sanggup lagi menahan.

*****

Pagi ini, Mas Abizar siap berangkat kerja dan aku mengantarnya sampai ke depan pintu. Aku mencium tangannya kemudian Mas Abizar mencium keningku layaknya pasangan yang harmonis. Aku tak merasakan apapun saat bibir suami menyentuh kulitku, debaran dalam dada yang dulu berirama kini entah kemana. Semua terasa hampa.

Beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur di depan rumah mencuri-curi pandang dan berbisik-bisik. Jujur, aku sedikit malu.

Selepas kepergian Mas Abizar, aku menuju tukang sayur untuk berbelanja.

“Duh, enak banget, ya jadi Mbak Isana. Di rumah aja nunggu suami pulang,” celetuk salah satu ibu yang membuatku tersenyum miris.

“Beruntung sekali kamu, Mbak. Dapat suami seperti Mas Abizar. Orangnya baik, lembut, perhatian,” sahut ibu lainnya.

“Seperti dapat durian runtuh kamu, Mbak.” Lagi, obrolan itu terus berlanjut.

Aku hanya diam tak menanggapi semua itu. Ingin rasanya kukatakan pada mereka apa yang sebenarnya kualami. Mereka melihat kehidupanku sempurna tanpa cela. Tak tahu seberapa besar retakan yang membentang dalam rumah tangga kami. Seberapa banyak air mata yang kusembunyikan agar dunia tak tahu.

Mbak, kok diam aja. Malu, ya?” salah satu ibu menyenggol leganku.

“O-oh, biasa aja kok, Bu,” sahutku gugup. Aku segera membayar belanjaanku dan pamit pulang.

Aku berjalan pelan, langkahku terasa berat seolah hendak memasuki rumah berhantu. Di dalam rumah, keheningan menyambutku. Tak ada sorot mata Mas Abizar yang mengintimidasi, tetapi dadaku tetap sesak. Semua tampak biasa dari luar, tetapi hatiku masih diliputi bayangan amarahnya, hinaan yang terucap dan rasa rendah yang tak kunjung hilang.

Aku menaruh belanjaan, duduk sejenak di meja dapur, menatap kosong ke luar jendela. Cahaya matahari masuk perlahan menerangi ruangan, tetapi tak mampu menembus kegelapan yang kurasakan di dalam diri.

Pernikahan yang baru berusia satu tahun ini terasa sudah sangat lama. Aku merasakan kelelahan sepanjang perjalanan dan mengalami luka tanpa jeda.

Aku menangis tersedu-sedu, menumpahkan beban sambil mengadu pada embusan angin yang masuk lewat jendela. Mengapa hidupku begitu kelam Tuhan? Katanya pernikahan itu membawa berkah, tetapi mengapa yang kualami terasa seperti bencana.

Aku menghentikan tangis tatkala mendengar suara pesan masuk di ponsel. Cepat-cepat kulihat siapa yang mengirim pesan, ternyata dari ibu. Ibu meminta aku dan Mas Abizar pulang kampung minggu depan, adikku lamaran. Aku mengembus napas panjang, bukan aku tak senang dengan kabar itu, tetapi lelah harus memasang topeng di depan mereka.

Minggu depan datang tanpa menunggu kesiapanku. Aku dan Mas Abizar tiba di kampung halamanku pagi itu. Senyuman ibu, sapaan hangat kerabat dan tawa yang memenuhi rumah, semua itu terdengar jauh, seolah bukan untukku. Aku berdiri di tengah-tengah mereka, tetapi hati terasa seperti berada di tempat lain, tempat yang gelap dan sunyi.

Aku membantu Ibu memotong bahan masakan di dapur. Tanganku bekerja, bibirku diam, tetapi kepalaku berisik. Otakku penuh dengan ucapan-ucapan Mas Abizar yang membuatku rendah diri dan tak berarti. Sudut mataku memanas dan cepat-cepat kuusap sebelum ada yang melihat.

Pisau di tanganku mengkilat kena cahaya lampu dapur. Sesaat aku terpaku, membayangkan betapa mudahnya sesuatu yang tajam mengakhiri rasa sakit ini.

Bayangan itu datang begitu saja. Singkat, senyap, seperti bisikan dari tempat gelap dalam diriku. Namun sedetik kemudian, wajah Ibu melintas di pelupuk mata. Senyumnya, caranya memanggil namaku dengan lembut dan tatapanya yang teduh.

Tidak! Aku tidak boleh membuat ibu menangis karena aku. Aku tidak ingin menjadi sumber luka baru di hidupnya. Aku menggeleng dan mengembuskan napas berat.

“Isana … kamu kenapa, Nak?” tanya ibu dengan suara lembutnya. Tatapan matanya membuatku merasa sedikit lebih tenang. Rasanya ingin aku menghambur dalam pelukannya dan menumpahkan air mata, tetapi keinginan itu hanya tertahan dalam hati.

“Ah, enggak kok, Bu. Isana cuma capek, habis perjalanan jauh tadi,” jawabku pelan. Aku tak ingin ibu khawatir.

“Sebaiknya kamu isti ….”

Ucapan ibu terpotong ketika tante dan beberapa kerabat muncul dengan kehebohan mereka.

“Isana … ya, ampun kamu makin cantik aja!” goda salah satu tante sambil menatapku dari atas sampai bawah. “Terima kasih, tante,” jawabku sambil tersenyum kecil.

“Pantas Abizar cinta banget sama kamu,” timpal yang lain, tetapi di telingaku pujian itu terdengar seperti ejekan.

“Suamimu itu lho … ramah, sopan, kalau ngomong lembut baget. Enak kalau diajak ngobrol,” sahut kerabat lainnya. Aku tersenyum kecil memaksa bibir ini melengkung, meski hatiku berdenyut perih.

“Mana mapan pula. Duh … pintar banget kamu milih suami, Isana,” tambah yang lain. Pujian itu jatuh seperti tamparan keras.

Tak lama kemudian, ibu mendekat dan memberitahuku kalau Mas Abizar mencariku. Aku menoleh ke arah pintu. Mas Abizar berdiri di sana, wajahnya begitu tenang, memakai topeng yang selalu berhasil memukau orang lain.

“Ada apa, Mas?” tanyaku.

“Sayang, tolong buatkan Mas Kopi,” katanya, lalu mengedipkan sebelah mata sebelum pergi. Di belakangku terdengar riuh sorakan dan godaan, seolah aku sedang hidup dalam kisah cinta yang indah, bukan luka yang kusimpan sendiri.

Acara keluarga akhirnya usai menjelang sore. Senyum yang kupasang sejak tadi mulai terasa kaku, pipiku pegal karena terlalu sering dipaksa tampak bahagia. Setelah berpamitan dengan semua orang, aku dan Mas Abizar pulang ke rumah.

Perjalanan terasa sunyi, tak ada percakapan berarti di antara kami. Hanya suara mesin mobil yang menemani pikiranku yang kembali gelap perlahan. Setibanya di rumah, aku turun lebih dulu, membuka pintu dengan perasaan yang sama seperti pagi tadi, berat dan menekan.

Rumah itu kembali menyambutku dengan keheningannya. Tak ada lagi hiruk pikuk keluarga, yang tersisa hanyalah aku dan kenyataan yang menunggu di balik dinding-dinding ini.

Aku mendaratkan bokong di sofa, berusaha menenangkan hati setelah hari yang panjang. Kepalaku terasa berat, tetapi isinya lebih berat dari itu

Tak lama kemudian, Mas Abizar datang dan duduk di sampingku. Gerakannya pelan, seolah ingin menunjukkan sikap yang lembut, tetapi bukannya membuatku lega, justru membuatku tegang.

“Kamu kenapa diam aja dari tadi?”

Suaranya terdengar tenang, entah kenapa itu membuatku semakin tak nyaman. Sudah terlalu sering aku melihat ketenangan seperti itu berubah menjadi badai dalam hitungan detik.

“Aku cuma capek, Mas.”

Aku menjawab seadanya. Tubuhku lelah, ya. Tapi hatiku lebih lelah lagi. Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya ingin bernapas seperti manusia lain.

“Aku ingin memperbaiki hubungan kita, tapi aku sendiri nggak tau mau mulai dari mana,” katanya, masih dengan nada hangat. “Apa kau mau sesuatu?” lanjutnya.

Mendengar itu aku terpaku sesaat. Kata-katanya terdengar baik, tetapi juga seperti pintu jebakan. Meski begitu, aku mencoba percaya, walau hanya sedikit.

“Aku … aku, mau ke mall,” ucapku, memberanikan diri meminta sesuatu yang sederhana. Sebuah permintaan kecil yang dulu sangat lumrah, tetapi kini terasa seperti menembus batas yang dilarang.

Dan benar saja, perubahan itu datang dengan cepat. Rahangnya mengeras, hangat yang tadi sempat muncul menguap begitu saja. Aku bisa melihat api itu di matanya, api yang sudah terlalu sering membakar ketenanganku. Namun, bodohnya aku kadang percaya.

“Kamu harusnya sadar diri! Kamu itu sudah jadi istri orang, sudah bukan masanya lagi. Seperti anak kecil saja!”

Kata-kata itu seperti gada besar yang menghantam tubuh dan menghancurkan harapanku. Sesederhana itu permintaanku dan sesulit itu untuk diterima.

Lalu kalimat berikutnya membuat napasku hampir berhenti. “Mungkin inilah alasannya mengapa Tuhan belum ngasih kita anak, karena kamu sendiri masih seperti anak kecil!”

Aku menunduk meresapi sakit yang kian menghunjam. Mataku berkaca-kaca. Rasanya seluruh diriku ditolak, dihina, dan dipatahkan dalam satu kali tarikan napas.

“Nggak apa-apa kok, Mas … kalau Mas mau cari yang lebih baik dari aku. Aku ikhlas.”

Tapi seperti biasa, kata-kata itu hanya terucap dalam hati dan tak pernah berhasil melewati tenggorokan. Sebuah perasaan bahwa aku tak pantas lagi menjadi pendamping hidup Mas Abizar, perlahan mulai tumbuh dan memenuhi ruang di dada. Bahkan, aku menyesali, tak seharusnya aku menikah dengannya. Aku banyak kekurangan. Aku tak sempurna.

Pagi datang dengan cepat, Mas Abizar sudah berangkat kerja, rumah terasa begitu sunyi. Heningnya seperti mengalir ke seluruh dinding dan menekan dadaku perlahan-lahan.

Aku mencoba menyibukkan diri. Mengambil sapu, berniat merapikan rumah seperti biasa. Namun, baru beberapa langkah, suara-suara dari semalam kembali menyerbu. Tatapannya, tuduhannya, seperti duri yang menancap di kepalaku dan tak bisa dicabut.

Tanganku melemah. Sapu terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Aku melangkah perlahan ke sudut ruangan dengan langkah gontai, kemudian duduk di sana memeluk lutut. Tangis yang kutahan sejak semalam akhirnya pecah.

Seiring air mata semakin deras, satu per-satu kata-kata jahat yang pernah kuterima bermunculan, menggema di kepala.

“Goblok!”

“Nggak becus!.”

“Manja!”

“Nyusahin!”

“Nggak tau diri!”

“Kamu nggak mau berkorban sedikitpun!”

Suara-suara itu berputar cepat, bertumpang tindih membuat dadaku terasa semakin sesak. Kepalaku rasanya mau pecah.

Aku menjerit. Jeritan yang tak pernah kukeluarkan di depan siapa pun. Di rumah yang kosong itu, akhirnya aku membiarkan semuanya meledak. Untuk sesaat, aku merasa benar-benar berada di titik terendah dalam hidupku. Napasku memburu, pikiranku kacau. Sebuah pikiran gelap melintas seperti bayangan hitam, cepat namun jelas.

Aku meraba laci kecil di samping, laci yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang kecil rumah tangga. Dengan tangan bergetar, aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah gunting, buku catatan, pulpen dan beberapa barang lainnya.

Aku terdiam cukup lama menatap benda-benda itu tanpa berkedip, sebelum akhirnya tanganku meraih gunting dengan gemetar. Ujung besinya mengkilat, tetapi rasanya itu adalah jalan keluar yang cepat untuk mengakhiri semua penderitaan. Aku mengangkatnya perlahan, benda itu menggantung di udara.

Namun detik berikutnya, sesuatu di dalam diriku seperti menahan. Entah itu ketakutan atau sisa-sisa kewarasan. Aku tak tau. Gunting itu jatuh dari genggamanku, menimbulkan bunyi di lantai. Aku kembali terisak.

Sebagai gantinya, aku meraih pena dan buku itu. Dua benda yang tampak tak berbahaya, tetapi pada saat itu menjadi tempat aku menumpahkan perasaan.

Aku mulai menggoreskan tinta di atas kertas, menceritakan apa saja yang telah kualami selama perjalanan rumah tangga ini. Dengan iringan air mata, tanganku bergerak semakin cepat, seolah ingin mengejar semua luka yang selama ini kupendam. Setiap kata yang kutulis terasa seperti membuka kembali bilur-bilur yang tak pernah benar-benar sembuh.

Air mataku menetes, jatuh membasahi kertas. Aku mengusapnya sekilas, tetapi percuma. Mereka tak berhenti. Justru mengalir semakin deras, seperti hujan yang akhirnya menemukan celah langit untuk turun tanpa ragu.

Aku membiarkannya. Aku terlalu lelah untuk melawan. Karena ternyata, ketika hati terlalu penuh, air mata adalah satu-satunya bahasa yang mampu keluar.

Mulai saat itu, setiap kali Mas Abizar melontarkan kata-kata kasar, aku selalu mencatatnya di buku. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk menenangkan hatiku sendiri. Catatan itu perlahan menjadi semacam ritual, tempatku menuangkan luka agar tidak menumpuk di dada. Aku melakukannya saat rumah sepi, saat aku sendiri.

“Untukku sendiri dan cukup aku yang tahu,” gumamku sambil menulis.

Suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan platform menulis di media sosial. Bibirku otomatis melengkung membentuk senyum, seolah mendapatkan angin segar di tengah panas yang melanda. “Ini dia.” Pikirku.

Aku mulai menulis cerita-cerita yang kukemas sedemikian rupa, membungkus setiap luka dalam tokoh fiksiku, agar tak seorang pun tahu bahwa itu curhat pribadi.

“Di sinilah aku bisa bercerita. Berkamuflase untuk menenangkan hati,” bisikku.

Bulan demi bulan berlalu, dan tak kusangka tulisan-tulisan itu mendapat banyak feedback positif dari pembaca. Kadang aku tersenyum, kadang menangis terharu membaca komentar mereka. Perlahan, aku mulai menemukan kekuatan lewat kata-kata.

“Ternyata aku nggak sendiri, walaupun mereka hanya sebatas teman online, tapi aku merasa mereka dekat.” Aku tersenyum kecil.

Selain menulis, aku mulai rajin membaca buku di perpustakaan online, artikel, dan menonton video pendek tentang psikologi untuk memperdalam karakter tokohku agar lebih hidup. Minatku tumbuh dan perlahan aku mulai memahami manusia, perasaan, dan dinamika emosi. Setiap ucapan kasar Mas Abizar kini kusulap menjadi sastra indah penuh makna, yang membuatku merasa lebih kuat dan terkendali.

Aku juga bergabung dengan beberapa komunitas kepenulisan, bertemu orang-orang positif yang mau mendengar dan memberi dukungan, walau dalam bentuk cerita dan hadir sebagai tokoh fiktif. Perlahan, pola pikirku terbuka. Aku menjadi lebih peka, lebih memahami diri sendiri, dan belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan jati diri.

Tak terasa, kegiatan itu sudah kulakukan selama enam tahun. Kini aku lebih kuat, tak mudah hancur ketika Mas Abizar berkata kasar. Menulis bukan hanya membantuku sembuh, tapi juga menjadi teman bertumbuh.

Gunting yang dulu kuinginkan kini beralih pada pena yang menuntunku berkembang. Senjata tak harus selalu tajam, yang bisa membawa pada arah yang lebih baik, itulah yang paling kuat.

Kini, kesendirian tak lagi membuatku terpuruk. Sebaliknya, ia memberiku ruang untuk bernapas, berimajinasi, dan membangun kekuatan dari dalam diri. Aku meregangkan otot-otot, sementara jari-jariku terasa kaku karena terlalu lama mengetik. Meski pegal, hatiku terasa lebih lega, bahkan lebih bahagia.

Suatu pagi, aku menemukan Mas Abizar tertidur di sofa. Tubuhku seketika tegang, mengingat bagaimana sikapnya padaku selama ini. Meski begitu, aku memberanikan diri membangunkannya karena ia hampir kesiangan. Jarum jam sudah menunjuk waktu yang tak bisa ditunda.

“Mas …” ucapku lembut, menyentuh lengannya. Tanganku sedikit bergetar, pikiranku memasang sinyal waspada.

Tiga kali kupanggil, barulah Mas Abizar membuka mata. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada api kemarahan di sorot matanya, melainkan hangat yang membuat dadaku sedikit lega. Matanya terlihat sembab, seperti habis menangis. Aku terdiam dengan tanda tanya besar di kepala.

“Sudah hampir kesiangan,” ucapku gugup sambil menunjuk jam dinding.

“Baiklah,” jawabnya datar tapi lembut, lalu mengubah posisi menjadi duduk. Tatapannya membuat tubuhku menegang, seolah menunggu ledakan kata-kata kasar. Namun detik berikutnya dia berkata singkat. “Terima kasih,” kemudian berdiri dan melangkah menuju kamar.

Aku menatapnya hingga hilang di balik pintu. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Napasku terasa lebih lega, meski masih ada rasa waswas di dada.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti kehidupan normal. Suara keras dan tatapan tajam yang dulu menghantui rumah itu hilang. Mas Abizar menjadi lebih sabar, pengertian, bahkan sering kuperhatikan beristighfar sendiri saat tergoda emosi. Rumah kami terasa lebih damai. Aku heran sekaligus bersyukur.

Selepas Mas abizar berangkat kerja, aku membereskan rumah yang sudah menjadi rutinitas pagiku. ketika membersihkan sofa, aku menemukan buku catatanku terselip di sana. Buku yang sudah lama tak kupegang sejak menulis di platform online. Mataku membulat. Aku menatap buku itu, lalu memeluknya di dada.

Sejenak aku terdiam, teringat perubahan sikap Mas Abizar beberapa hari terakhir. Apa dia membaca buku ini? Apa kata-kata yang kutulis selama ini membuatnya menyadari kesalahannya? Pikiran itu membuat hatiku hangat.

“Terima kasih, Tuhan,” ucapku penuh syukur. Aku terharu, mataku berkaca-kaca.

Detik berikutnya, aku tersenyum kecil, merasakan lega yang dalam. Cinta yang dulu membara mungkin sudah pudar, tetapi yang penting sekarang aku aman. Mas Abizar tak lagi menyakitiku, itu sudah cukup. Aku yakin, untuk saat ini, bertahan di sisinya adalah pilihan yang benar.

Luka telah mengajarkanku banyak hal, tentang sabar, tentang menerima dan tentang bertahan ketika segalanya terasa mustahil.

Pada akhirnya aku mengerti, luka itu seperti matematika. Ia membuat kepalaku sesak dan setiap soalnya terasa menyiksa, bahkan membuatku hampir menyerah karena aku belum menguasainya. Tapi ketika aku mulai memahami caranya, rumus yang rumit pun tak lagi menakutkan. Begitu pula hidup, semakin aku belajar, semakin ringan aku melangkah.

Selesai

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Sebuah Karya Tanpa Jiwa
fotta
Cerpen
Bronze
Memulung Murung
hidayatullah
Cerpen
Bronze
PRADUGA
Lirin Kartini
Cerpen
KARBAK 85
Sky Melankolia
Cerpen
Aku Si Pemberontak
Ra
Cerpen
Merayakan Nuha
Firlia Prames Widari
Cerpen
Bronze
Galau Mutasi Sang Peneliti
spacekantor
Cerpen
Bronze
Blaming The Victim
Dewi Fortuna
Cerpen
Sebelah
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Delusi
Nisa Dewi Kartika
Cerpen
Bronze
Larung Layang
Eva Maulidiyah BL
Cerpen
Bronze
I Careless
Langitttmallam
Cerpen
Bronze
Pertemuan dengan Takdir
Titin Widyawati
Cerpen
Messi, Jangan Pindah!
Serenade
Rekomendasi
Cerpen
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Cinta Tumbuh Dari Dompet
Dara Kirana
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Cerpen
Selamat Tinggal Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Dara Kirana
Cerpen
Semangkuk Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Simfoni Di Dapur Panas
Dara Kirana