Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Luka Salah Arah
1
Suka
19
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ada orang-orang yang datang membawa cinta. Ada yang datang membawa kehilangan. Maka ada pula yang datang membawa luka yang bahkan bukan miliknya. Aku termasuk yang terakhir. Awalnya aku mengira setiap manusia bertanggung jawab atas luka yang ia goreskan kepada orang lain. Namun setelah mengenalmu, aku mulai memahami bahwa tidak semua orang menyakiti karena ingin melukai. Sebagian hanya terlalu sibuk menatap darah dari lukanya sendiri.

Kalian berjalan dari satu kehidupan menuju kehidupan lain sambil membawa pecahan-pecahan masa lalu yang belum sempat dicabut dari dada yang lain. Lalu, tanpa sadar, serpihan-serpihan itu melukai siapa pun yang berusaha memeluk kalian. Begitulah caramu hadir dalam hidupku. Dan begitulah caramu mengubahku jadi seseorang yang akhirnya belajar bahwa niat baik tidak selalu cukup untuk menyelamatkan dua orang sekaligus.

Aku mengenalmu pada musim ketika hujan mulai jarang turun. Langit lebih sering cerah. Angin membawa aroma bunga yang sedang bermekaran di taman kota. Orang-orang menyebutnya musim yang baik untuk memulai sesuatu. Aku percaya itu.

Kau datang dengan senyum yang tampak lelah. Kelelahan yang hanya dirasakan oleh seseorang yang terlalu lama berperang dengan pikirannya sendiri.

"Aku tidak pandai bercerita," katamu pada pertemuan pertama.

Aku tersenyum, lalu membalas, "Aku cukup pandai mendengarkan."

Saat itu aku belum tahu bahwa, kadang, menjadi pendengar adalah cara paling sunyi untuk ikut terluka.

Hubungan kita tumbuh perlahan dengan tidak tergesa. Kita lebih banyak berbincang daripada saling mengumbar kata-kata manis. Tentang buku, musik, bahkan mimpi-mimpi yang belum sempat diwujudkan. Atau tentang kehidupan yang ternyata tidak sesederhana pada saat kita bayangkan semasa remaja.

Aku menyukai caramu tertawa. Namun lebih dari itu, aku menyukai caramu diam. Sebab dalam diam itulah aku merasa kau sedang mempercayaiku sedikit demi sedikit. Aku tidak pernah memaksamu membuka semua luka. Sebab aku percaya setiap manusia memiliki ruang yang hanya bisa dimasuki ketika ia sendiri sudah siap membukakan pintunya. Aku hanya menunggu, dan kau pun mulai bercerita.

Ceritamu tentang seseorang yang pernah menjadi seluruh duniamu. Namanya jarang kau sebut. Namun bayangannya selalu hadir di setiap kisah yang kau ceritakan.

"Aku sudah melupakannya."

Aku mengangguk, mungkin karena ingin mempercayaimu. Atau mungkin karena aku lebih memilih mempercayai harapan daripada kenyataan. Kini aku tahu, orang yang benar-benar selesai tidak perlu berkali-kali mengatakan bahwa dirinya telah selesai.

Hari-hari berikutnya berjalan tenang. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Kita mulai terbiasa menghabiskan sore bersama. Menikmati kopi yang perlahan mendingin karena terlalu asyik berbicara. Menyusuri trotoar tanpa tujuan. Menghitung lampu-lampu gedung yang mulai menyala ketika malam datang.

Aku mulai merasa nyaman. Kenyamanan membuatku sadar bahwa itu jadi awal dari keberanian. Dan keberanian perlahan berubah menjadi cinta. Aku tidak pernah mengucapkannya lebih dulu. Namun kurasa kau mengetahuinya. Caraku menatapmu telah lebih jujur daripada kata-kata itu sendiri.

Suatu malam, ketika hujan turun perlahan di balik kaca kafe, ponselmu bergetar. Aku masih ingat bagaimana wajahmu berubah karena sesuatu yang selama ini kau kubur tiba-tiba kembali mengetuk pintu.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku.

Kau buru-buru mematikan layar ponsel. "Iya."

Namun senyummu tidak lagi sama. Sepanjang malam itu, matamu berkali-kali melayang ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja. Aku berpura-pura tidak menyadarinya. Kadang cinta membuat seseorang memilih buta, padahal penglihatannya masih bekerja dengan sangat baik.

Aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang berubah. Kurasa, sesuatu yang belum terlihat, tapi terasa. Seperti langit yang mendadak terlalu tenang sebelum badai datang.

Perubahan itu perlahan menjadi nyata. Pesan-pesanmu mulai lebih singkat. Pertemuan kita lebih sering dibatalkan. Kau menjadi mudah kehilangan fokus ketika kita sedang berbicara. Sesekali aku memergokimu tersenyum sendiri ketika membaca sesuatu di layar ponsel.

Aku tidak bertanya, tapi justru terus meyakinkan diriku bahwa setiap hubungan memang memiliki musimnya masing-masing. Ada musim berbunga. Ada musim meranggas. Dan setiap pohon akan kembali hijau bila cukup sabar menunggu. Sayangnya, tidak semua pohon sedang menunggu hujan. Sebagian justru sedang bersiap ditebang.

Beberapa minggu kemudian, akhirnya kau bercerita.

"Ia menghubungiku lagi."

Aku terdiam. Meski telah menduganya sejak lama, kenyataan tetap punya cara sendiri untuk melukai.

"Dia hanya ingin minta maaf."

Aku mengangguk. "Lalu?"

"Kami cuma ngobrol."

Aku tersenyum kecil. "Itu bagus."

Aku bahkan berhasil terdengar tulus. Padahal jauh di dalam dada, ada sesuatu yang mulai kehilangan pijakan.

Sejak malam itu, namanya perlahan kembali tinggal di antara kita. Ia tidak pernah duduk di kursi yang sama. Tidak pernah ikut berjalan di samping kita. Namun anehnya, kehadirannya terasa lebih nyata daripada diriku. Setiap percakapan kita selalu berbelok menuju cerita tentangnya. Tentang bagaimana dulu kalian bertemu, tentang kenangan-kenangan yang belum selesai, tentang penyesalan, tentang harapan.

Aku mendengarkan semuanya sambil diam-diam bertanya kepada diriku sendiri.

Sebenarnya aku ini siapa? Seorang kekasih? Atau hanya ruang tunggu tempat seseorang beristirahat sebelum kembali mengejar masa lalunya?

Suatu sore, kita duduk di taman kota. Angin membawa dedaunan kering berputar di sekitar bangku tempat kita berbincang. Namun kali ini, tidak ada percakapan panjang. Kau hanya memandang langit, lalu berkata pelan, "Menurutmu... orang bisa jatuh cinta lagi kepada orang yang sama?"

Aku menoleh kepadamu. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagiku, ia seperti vonis yang telah ditulis jauh sebelum sidang dimulai.

Aku menarik napas panjang. "Bisa."

Kau menatapku penuh harap. "Lalu menurutmu, itu salah?"

Aku memandang daun yang jatuh perlahan ke tanah.

"Tidak."

"Lalu, apa yang salah?"

Aku tersenyum pahit.

"Kalau saat itu ada seseorang yang sedang berusaha mencintaimu dengan sungguh-sungguh, jangan biarkan dia menjadi korban dari cerita yang bahkan tidak dialaminya."

Kau terdiam. Aku pun demikian. Dan di dalam keheningan sore itu, aku mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kuakui. Aku tidak sedang bersaing dengan masa lalumu. Sebab aku hanya kebetulan berdiri di jalur ketika kenangan itu memutuskan pulang.

Sejak percakapan di taman itu, aku mulai belajar mengenali jenis-jenis keheningan. Ada diam yang lahir karena nyaman. Ada diam yang lahir karena lelah. Pula ada diam yang sesungguhnya sedang menyembunyikan seseorang yang tidak pernah ikut hadir secara fisik. Di antara kita, diam yang terakhir tumbuh semakin sering. Kita masih bertemu. Masih berjalan di trotoar yang sama. Masih duduk di kafe yang sama. Bahkan masih tertawa pada hal-hal kecil yang dulu selalu berhasil membuat sore terasa lebih panjang. Namun setiap kali tawamu selesai, matamu selalu pergi ke tempat lain, yaitu ke dalam dirimu sendiri. Seolah ada seseorang yang diam-diam sedang kau ajak berbicara. Dan aku tahu persis siapa orang itu.

Aku tidak pernah membencinya. Laki-laki yang pernah menjadi masa lalumu itu bahkan tidak pernah kukenal. Aku tidak tahu bagaimana suaranya. Aku tidak tahu bagaimana cara ia tertawa. Aku bahkan tidak tahu apakah ia benar-benar mencintaimu dulu. Yang kutahu hanya satu: Ia telah pergi, lalu kembali. Dan kehadirannya sekali lagi mengubah arah hidup kita.

Ironisnya, orang yang paling banyak menangis justru bukan dirinya. Bukan pula dirimu. Namun, aku. Seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi bagian dari cerita kalian.

Kadang aku berpikir, hidup punya selera humor yang kejam. Aku dipertemukan dengan seseorang yang sedang belajar melupakan, lalu tanpa aba-aba, orang yang ingin ia lupakan kembali hadir. Sedangkan aku hanya berubah menjadi penonton yang perlahan kehilangan tempat duduknya sendiri.

Suatu malam, kau meneleponku. Kudengar suaramu bergetar. "Aku boleh ke rumahmu?"

Aku langsung mengiyakan.

Setengah jam kemudian, kau berdiri di depan pintu kosku dengan mata sembap. Tanpa banyak kata, kau memelukku dengan tubuhmu yang gemetar.

"Ia pergi lagi."

Aku membalas pelukan itu dengan sangat pelan dan hati-hati. Seolah aku sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh.

"Kami mencoba lagi..., tapi ternyata tetap tidak berhasil."

Aku memejamkan mata. Dadaku mendadak sesak karena baru saat itulah aku sadar bahwa selama beberapa minggu terakhir, aku bahkan tidak pernah tahu kalian telah mencoba kembali. Aku kini hanya jadi orang terakhir yang mengetahui perubahan terbesar dalam hubungan kalian. Dan anehnya, yang pertama kali kau cari setelah semuanya gagal adalah aku.

Sejujurnya aku ingin marah. Ingin bertanya mengapa aku hanya diingat ketika seseorang yang lain kembali meninggalkanmu. Namun yang keluar dari mulutku hanyalah satu kalimat.

"Sudah, tidak apa-apa."

Kalimat itu terasa begitu asing, karena aku tahu, sebenarnya ada yang tidak baik-baik saja. Bukan hanya dirimu, tapi juga aku.

Hari-hari berikutnya, aku menjadi tempatmu bercerita tentang bagaimana ia datang. Tentang bagaimana kalian mencoba memperbaiki semuanya. Tentang mengapa akhirnya tetap gagal. Tentang betapa hancur perasaanmu.

Aku mendengarkan seperti biasa. Sesekali mengangguk. Sesekali memberi saran. Sesekali menenangkanmu. Lalu ketika kau pulang, aku duduk sendirian di ruang tamu. Barulah air mataku jatuh. Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri. Mengapa aku harus ikut memperbaiki hati seseorang yang sebelumnya menghancurkan hatiku? Mengapa aku terus menjadi bahu tempatmu menangis, padahal aku sendiri tidak pernah punya bahu untuk bersandar?

Mungkin beginilah rasanya menjadi seseorang yang terlalu mencintai. Kita rela menjadi obat, bahkan ketika tubuh kita sendiri sedang dipenuhi luka.

Suatu sore, sahabatku datang berkunjung. Ia menelitiku cukup lama untuk mengetahui bahwa aku sedang berpura-pura baik-baik saja.

"Kamu capek?"

Aku tersenyum. "Kelihatan?"

"Iya."

Kami duduk di balkon di sela langit yang mulai berubah jingga. Setelah cukup lama diam, ia bertanya pelan, "Kalau boleh jujur, kamu ini pacarnya atau terapisnya?"

Aku tertawa kecil. Tawa yang bahkan tidak berhasil terdengar sebagai tawa.

"Maksudmu?"

"Kamu selalu ada ketika dia hancur."

"Aku memang menyayanginya."

"Iya. Tapi siapa yang ada ketika kamu hancur?"

Aku tidak menjawab karena ternyata aku memang tidak punya jawaban. Aku begitu sibuk memastikan kau tidak tenggelam dalam kesedihanmu sendiri, sampai lupa bahwa aku diam-diam sedang karam.

Beberapa hari kemudian, aku membuka galeri foto di ponsel. Ada ratusan foto kita. Namun setelah kuperhatikan lebih lama, ada pola yang membuat dadaku terasa sesak. Di hampir semua foto, aku sedang menatapmu. Sedangkan kau, sering kali tidak sedang menatapku. Matamu mengarah ke tempat lain. Ke langit, ke jalan, ke keramaian. Atau hanya kosong.

Aku membayangkan betapa seringnya aku mengira kau sedang melihat masa depan. Padahal mungkin sejak awal kau hanya sedang mencari bayangan seseorang yang pernah hilang. Tiba-tiba aku teringat satu kalimat yang pernah kubaca bertahun-tahun lalu.

"Manusia hanya mampu hadir sepenuhnya di tempat yang hatinya memilih untuk tinggal."

Aku mematikan layar ponsel. Kemudian, aku bertanya dengan jujur. Selama ini, apakah tubuhmu memang bersamaku, tetapi hatimu tidak pernah benar-benar ada untukku?

Malam itu kita kembali bertemu. Kau tampak lebih tenang. Mungkin karena tangismu mulai habis. Atau mungkin karena akhirnya kau menerima kenyataan.

Kita berjalan cukup lama tanpa berbicara, lalu tiba-tiba kau berkata, "Aku merasa bersalah padamu."

Aku menoleh. "Kenapa?"

"Aku sudah membuatmu ikut terluka."

Aku tersenyum tipis.

"Tidak."

"Kok tidak?"

"Kamu tidak mengajakku masuk ke luka itu."

"Lalu?"

"Aku sendiri yang memilih tinggal."

Kau menatapku dengan mata yang mulai berkaca. "Aku benar-benar minta maaf."

Aku mengangguk pelan. Namun kali ini, aku tidak lagi menjawab bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena ada satu hal yang akhirnya kupahami, bahwa maaf memang bisa menghapus niat buruk, tetapi ia tidak selalu mampu menghapus akibat. Sama seperti hujan yang mampu memadamkan api. Namun tidak pernah bisa mengembalikan rumah yang telah habis terbakar.

Ketika kita berpisah malam itu, aku sengaja berjalan sendirian melewati jalan yang lebih jauh. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya di atas aspal yang baru diguyur hujan. Orang-orang berlalu-lalang tanpa mengetahui bahwa di antara mereka ada seorang lelaki yang baru saja menyadari satu kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Selama ini aku terus bertanya mengapa kau menjauh dariku. Aku mengira aku telah melakukan kesalahan. Aku mencari-cari kekurangan dalam diriku. Menyalahkan caraku mencintai. Menyalahkan kesabaranku yang mungkin kurang. Menyalahkan diriku yang mungkin belum cukup baik. Padahal jawabannya jauh lebih sederhana, bahwa aku tidak pernah menjadi penyebab lukamu. Tetapi entah mengapa, aku ikut menerima akibatnya. Dan kali ini aku benar-benar memahami bahwa ada luka yang salah arah. Kau yang seharusnya kembali kepada masa lalu. Namun justru singgah di dada seseorang yang tidak pernah menjadi bagian dari kesalahan itu.

Aku berhenti di bawah lampu jalan. Menatap bayanganku sendiri yang memanjang di atas trotoar. Lalu sebuah pertanyaan muncul begitu saja.

Jika selama ini aku hanya menjadi tempat persinggahan bagi seseorang yang terus ingin kembali ke masa lalunya, masih pantaskah aku menyebut hubungan ini sebagai rumah? Atau sejak awal aku hanyalah ruang tunggu yang kebetulan terasa nyaman, sampai kereta yang sebenarnya ia nanti akhirnya datang kembali?

Pagi datang tanpa membawa jawaban. Cahaya matahari menyusup perlahan melalui sela-sela tirai kamar kosan. Debu-debu kecil menari di udara, seolah semesta sedang memperlihatkan bahwa bahkan sesuatu yang nyaris tak terlihat pun tetap punya arah ketika tersentuh cahaya.

Aku menatap langit cukup lama. Ada masa ketika setiap pagi kuawali dengan harapan bahwa hari ini kau akan benar-benar hadir untukku. Kini, harapan itu berubah sama sekali. Aku hanya berharap mampu melewati satu hari tanpa lagi mempertanyakan mengapa aku tidak pernah menjadi tujuanmu. Barangkali, itulah bentuk kedewasaan yang paling sunyi. Berhenti mencari jawaban dari seseorang yang bahkan belum selesai bertanya kepada dirinya sendiri.

Siang itu kau menghubungiku.

"Boleh kita bertemu?"

Aku mengiyakan karena beberapa cerita memang pantas ditutup dengan mata terbuka. Akhirnya kita bertemu di kafe kecil tempat semuanya pernah terasa begitu sederhana.

Meja di dekat jendela masih kosong. Kopi yang sama. Lagu-lagu yang sama. Hanya kita yang tidak lagi sama. Kau demikian tampak lebih tenang. Sebab kulihat ada kelelahan di wajahmu, tetapi juga sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Penerimaan.

"Aku banyak berpikir."

Aku tersenyum tipis, lalu membalas, "Aku pun demikian."

Kau menatap kedua tanganmu sendiri. "Aku baru sadar, selama ini aku selalu memintamu mengerti."

Aku terdiam.

"Tapi aku tidak pernah benar-benar bertanya apa yang kamu rasakan."

Kalimat itu datang terlambat karena beberapa kesadaran memang membutuhkan waktu yang terlalu panjang untuk singgah.

Aku mengaduk kopi yang mulai kehilangan uap seraya berkata, "Tidak apa."

Kau pun menggeleng. "Tidak. Aku membuatmu ikut membayar kesalahan yang bahkan tidak kamu lakukan."

Aku mengangkat wajah, sebab aku merasa kau benar-benar melihatku bukan sebagai tempat pulang, bukan sebagai sandaran, tapi sebagai manusia yang juga bisa terluka.

"Kamu tahu...," aku menjelaskan dengan pelan, "selama ini aku sering menyalahkan diriku sendiri."

Matamu terangkat, sementara aku tetap menerangkan.

"Aku pikir aku kurang sabar. Aku pikir aku kurang dewasa. Aku pikir cintaku kurang besar."

Di tengah-tengah penjelasan itu, aku tertawa getir.

"Lucunya, aku terus memperbaiki sesuatu yang ternyata tidak pernah rusak."

Keningmu tampak berkerut.

"Apa maksudmu?"

"Aku." Kutunjuk dada sendiri. "Selama ini aku sibuk mencari kekurangan dalam diriku, padahal masalahnya bukan karena aku kurang, tapi karena hatimu masih terlalu penuh oleh seseorang yang lain."

Ruangan mendadak terasa begitu sunyi. Suara mesin kopi dari balik meja kasir terdengar begitu jauh. Beberapa pengunjung tertawa. Dunia tetap bergerak seperti biasa. Padahal di meja kecil dekat jendela itu, dua manusia sedang mengakui kenyataan yang selama berbulan-bulan mereka hindari.

"Aku benar-benar minta maaf."

Aku mengangguk. "Ya, aku percaya padamu."

"Lalu, apa kita masih punya kesempatan?"

Aku memandangmu cukup lama. Seandainya cinta hanya soal perasaan, mungkin jawabannya sangat mudah. Aku masih mencintaimu, bahkan setelah semua luka itu. Namun aku akhirnya memahami sesuatu, ada perbedaan antara mencintai seseorang, dan membiarkan diri sendiri terus terluka olehmu.

Aku tersenyum tipis.

"Kamu pernah bertanya kenapa aku tetap bertahan."

Kau mengangguk.

"Dulu aku pikir, bertahan adalah bukti bahwa cintaku besar."

Aku menghela napas.

"Sekarang aku tahu, kadang bertahan hanya berarti aku takut kehilangan harapan."

Kata-kataku terhenti sejenak.

"Lalu aku sadar, harapan yang terus meminta seseorang mengorbankan dirinya sendiri perlahan berubah menjadi penjara."

Air matamu kembali jatuh. Namun kali ini aku tidak merasa ingin menghapusnya. Sebab aku percaya, setiap manusia perlu melihat air matanya sendiri agar benar-benar memahami dari mana datangnya kesalahan.

"Aku tidak membencimu." Aku melanjutkan. "Aku juga tidak menyesal pernah mencintaimu.”

“Kalau begitu kenapa kamu memilih pergi?"

Aku memandang langit di balik kaca. Tampak awan bergerak perlahan. Tidak ada yang saling mengejar. Tidak ada yang saling menahan. Mereka hanya tahu ke mana angin membawa mereka.

"Aku pergi karena aku tidak ingin lagi menjadi pelabuhan bagi kapal yang diam-diam masih mencari laut lain."

Kita keluar dari kafe menjelang senja. Langit mulai berubah keemasan. Trotoar dipenuhi bayangan pepohonan yang memanjang. Kita berjalan berdampingan. Ya, seperti dahulu. Namun kali ini, tidak ada lagi keinginan untuk saling meyakinkan. Yang ada hanya penerimaan, tak lagi penyangkalan.

Di ujung jalan, kau berhenti melangkah.

"Aku takut suatu hari nanti kamu melupakanku."

Aku tersenyum.

"Tidak. Kamu tidak akan kulupakan."

"Lalu?"

"Aku hanya akan berhenti tinggal di cerita yang membuatku terus kehilangan diriku sendiri."

Kau menundukkan kepala. "Kalau saja waktu bisa diputar."

Aku menggeleng pelan. "Tidak perlu berandai-andai."

"Kenapa?"

"Karena kalaupun waktu bisa diputar kembali, aku mungkin tetap akan memilih mencintaimu. Dan kita akan kembali mengulang luka yang sama."

Aku melihat senyum kecil muncul di balik air matamu. Senyum yang pahit, tentu saja, tetapi jujur.

Sebelum kita berpisah, kau memanggil namaku sekali lagi.

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

Aku menunggu.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kamu satu-satunya orang yang tidak pernah menyakitiku, meski aku berkali-kali menyakitimu."

Aku menatapmu lama, lalu menjawab pelan, "Tidak. Kamu juga tidak pernah benar-benar berniat menyakitiku."

"Lalu, kenapa semua ini terjadi?"

Akhirnya aku menemukan jawaban yang sejak awal menjadi inti dari seluruh cerita ini.

"Karena luka tidak selalu memilih arah ketika ia jatuh. Luka bisa mengenai siapa saja. Bahkan orang yang datang membawa kasih sayang. Bahkan seseorang yang hanya ingin menjadi rumah. Dan aku kebetulan berdiri tepat di titik jatuhnya.”

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar tentangmu. Katanya, kau mulai menjalani hidup yang lebih tenang. Kata mereka, kau perlahan belajar memaafkan masa lalumu. Kata orang-orang, kau tidak lagi mencoba mengejar seseorang yang terus meninggalkanmu.

Aku tersenyum karena akhirnya luka itu pulang ke tempat yang seharusnya. Bukan lagi kepadaku.

Suatu sore, aku kembali duduk sendirian di taman kota. Bangku yang sama. Angin yang sama. Langit yang sama. Namun lelaki yang duduk di sana bukan lagi lelaki yang dulu. Aku memandang anak-anak yang berlarian mengejar gelembung sabun. Salah satu gelembung itu melayang ke arahku, memantulkan cahaya senja sebelum akhirnya pecah di udara.

Betapa sederhana. Beberapa hal memang indah bukan karena bertahan lama, tapi menurutku karena pernah ada.

Aku menunduk, lalu tersenyum kecil. Selama ini aku mengira kisah kita adalah tentang kalah dan menang. Tentang dipilih atau ditinggalkan. Tentang siapa yang akhirnya bersama siapa. Ternyata bukan. Kisah kita justru hanyalah pelajaran bahwa tidak semua orang yang melukaimu adalah orang jahat. Sebagian hanya datang dengan luka yang terlalu besar untuk mereka pahami sendiri. Namun memahami alasan seseorang menyakitimu tidak berarti kau harus terus menerima luka itu. Empati tidak pernah meminta kita mengorbankan diri sendiri. Dan cinta yang sehat tidak seharusnya tumbuh dari rasa kasihan.

Aku berdiri, berjalan dengan langkah yang terasa ringan, sebab akhirnya aku berhenti memikul beban yang sejak awal tidak kumiliki.

Senja perlahan tenggelam di balik gedung-gedung kota. Aku memandang cahaya terakhir yang masih tersisa di ufuk barat. Demikian aku mengerti bahwa luka yang paling sulit sembuh bukanlah luka yang paling dalam. Namun luka yang terus kita anggap sebagai tanggung jawab sendiri, padahal ia lahir dari perang yang tidak pernah kita mulai.

Aku menarik napas panjang, melanjutkan langkah untuk meninggalkan taman itu. Aku pergi karena akhirnya aku tahu ke mana luka itu harus kukembalikan. Hanya waktu yang mampu mengajarkan bahwa tidak semua cinta gagal karena kurangnya kasih sayang. Sebagian gagal karena datang kepada seseorang yang belum selesai berdamai dengan bayang-bayangnya sendiri. Dan di penghujung perjalanan itu, aku akhirnya tidak lagi melihat diriku sebagai lelaki yang kalah. Aku hanyalah seseorang yang pernah hadir pada musim yang keliru dengan tujuan mengajarkan, bahwa bahkan hati yang paling tulus pun tidak bisa menjadi rumah bagi seseorang yang masih menganggap masa lalunya sebagai alamat pulang.

Itulah luka yang sesungguhnya. Luka yang salah arah, dan akhirnya, aku memilih berhenti menjadi tempat jatuhnya.

-II-

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
My Fiction Boy
Amanda Ketsia
Cerpen
Luka Salah Arah
Marion D'rossi
Novel
Bronze
DIGDAYA
Wulan Kashi Dhamar
Flash
Menolak Lupa 4
Shin No Hikari
Cerpen
Bronze
Seekor Anjing Bernama Si Jon
Habel Rajavani
Novel
How to Be A Girl 101
nisa
Novel
Bronze
BENGAWAN
Herman Siem
Novel
Teori Konspirasi Kulkas
Suci Mulyati
Novel
Bronze
Fake Me vs Real Me
Seira
Skrip Film
A Better Day
Arum Gandasari NK
Novel
Bronze
Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan
Imajinasiku
Cerpen
Bronze
Gaun Hitam Pengantin
Silvarani
Novel
Ineffable
nisaaa
Novel
No Matter What You Are
Adristia Kusumo P
Skrip Film
Semesta berbicara
Indra Putra Riyanto
Rekomendasi
Cerpen
Luka Salah Arah
Marion D'rossi
Novel
TUSELAK
Marion D'rossi
Novel
AISENODNI
Marion D'rossi
Cerpen
DISTORSI
Marion D'rossi
Novel
Paradoks Waktu: Timeline
Marion D'rossi
Novel
Rela Miskin Demi Cinta
Marion D'rossi
Novel
Haram Jadah: Hari Pembalasan
Marion D'rossi
Novel
Di Antara Dua Hati
Marion D'rossi
Cerpen
Tetanggaku yang Pendiam
Marion D'rossi
Novel
I am Your Boss
Marion D'rossi
Cerpen
Senjakala Sebuah Janji
Marion D'rossi
Novel
Kekasih Pinjaman
Marion D'rossi
Cerpen
Teori Pertemuan Dua Makna Hidup
Marion D'rossi
Novel
Malam Takziah
Marion D'rossi
Novel
Lovertone
Marion D'rossi