Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kusebut ini adalah bagian kedua dari perjalanan alam bersama Ann dan temannya dan suami temannya—dan Ann membawa temannya lagi sekarang. Kali ini aku yang menginginkan perjalanan ini, sehingga aku membiarkan mereka membawa apa pun atau siapa pun. Pada perjalanan yang lain, setelah hujan berhenti menari di tengah-tengah kota Jakarta berbulan-bulan sejak perjalanan pertama kami. Setelah Ayah menyusul Ibu ke tempat pembaringan terakhirnya. Setelah aku menjadi sebatangkara. Kami bertolak menjauh dari peliknya ibu kota untuk mencari penawar sekali lagi. Setelah meninggalkan gedung-gedung tinggi yang berbaris sepanjang jalan dan padatnya kendaraan yang memenuhi setiap lajur jalan, kami melewati lorong malam berselimut kabut. Jalanan sepi dan mencekam. Berbicara omong kosong tentang perjalanan hidup sepanjang jalan untuk menikam waktu. Kami menertawakan diri kami sendiri yang telah sampai pada perjalanan yang lain yang sebenarnya pahit namun terasa manis. Hubungan kami berkembang menjadi bunga, namun bukanlah bunga mawar yang mengisyaratkan tentang cinta pada sang kekasih. Aku merasa kami telah menjadi sebuah kawanan yang sedang mencari tempat untuk menjeda isi kepala dari riuhnya pekerjaan kami.
Sebelum fajar tumbuh, memadamkan cahaya-cahaya kecil di tengah laut yang berasal dari kapal nelayan sekaligus menerangi dermaga yang terbuat dari susunan kayu-kayu tua. Bahtera tak terlalu besar membawa kami pergi sekali lagi bukan untuk mengenang sesuatu yang tertinggal di masa lalu, tapi untuk membuat kenangan baru yang akan kami ingat kelak di masa depan. Kami mengarungi Selat Sunda yang sama dengan perjalanan sebelumnya, namun tujuannya bukanlah anak gunung yang saat ini sedang mendengkur. Kami menuju tempat yang menjadi titik paling utara di Pulau Jawa dan menjadi rumah bagi banyak sekali satwa langka.
Deru mesin kapal tak lagi menyakiti hatiku karena memang, aku sedang tidak terluka. Namun biru kelam samudera yang dalam selalu membuatku takut. Aku tak bisa terlelap meski ragaku letih. Orang-orang bermimpi menuju surga sementara aku menghitung hentakan ombak untuk menuju surga bagi badak Jawa yang telah hidup begitu lama dan hampir punah. Aku termenung mencari luka-luka yang masih tersisa dalam tubuhku agar kubuang seluruhnya ke dalam lautan ini. Tapi sepertinya tak ada lagi duri yang tinggal di dalamnya. Hanya bekas luka yang takkan pernah hilang dan kadang akan terasa sakit jika penyebab lukanya muncul lagi di hadapanku.
Menyusuri tepian ujung Pulau Jawa hingga matahari kian tinggi. Kami menepi di sebuah pulau kecil dengan dermaga biru mengapung di atas air yang jernih yang membuat kapal kami seakan melayang. Gaduh suka cita dari para penumpang membangunkan Ann dan teman-temannya. Kami membawa tas-tas dengan melompat ke kapal yang diparkir berjejer tiga, lalu melompat lagi ke dermaga dan disambut angin laut yang lembut. Gapura selamat datang menyambut di batas dermaga dengan daratan, disusul pohon bangkal berbaris hingga sampai di sebuah tanah lapang dengan bilik-bilik kayu di pinggirnya. Ternyata tempat singgah belum disiapkan. Kami harus kembali ke kapal dengan membawa tas berat yang berjumlah dua kali lipat dari rombongan kami. Orang-orang memberikan kabar sesuka hati, mengecewakan Ann dan teman-temannya, tapi mereka tetap tertawa. Begitu seharusnya, bukan? Luka-luka yang bertubi-tubi menghujam tak harus diterima dengan tangisan dan penderitaan. Kadang, dengan tetap merasa baik-baik saja menjadi jalan keluar yang tepat.
Untung saja tempat ini sangat indah. Barisan bukit tak terlalu tinggi saling menatap, berwarna hijau pekat hingga biru muda, mengapit kapal-kapal kecil yang berlalu-lalang di selat berwarna hijau toska, gradasi biru muda sampai biru tua pekat. Jika diibaratkan, bagai gedung-gedung tinggi dan jalanan hitam dengan lalu-lalang kendaraan. Cuaca panas membuat bentang alam menjadi sebuah lukisan yang tak bisa kami temui di ibu kota. Alam menjadi salah satu obat yang mujarab untuk menyembuhkan luka batin. Alam menjadi terapi paling menyenangkan untuk jiwa-jiwa yang kelelahan.
Waktu berlalu begitu saja. Matahari hampir berada tepat di atas kepala. Kami pergi menuju sebuah tempat di tengah laut yang juga memiliki keindahan alam tersembunyi di dalamnya. Orang-orang melompat ke laut sambil berteriak. Aku mengikutinya, lalu menyuruh teman-temanku untuk segera menyusul. Saat tubuh ini tenggelam dengan mata terbuka, seakan aku melayang di atas barisan rumah-rumah ikan yang memenuhi dasar laut. Ribuan jenis karang dan tumbuhan laut memenuhi setiap sisinya. Kehidupan yang lain yang tak pernah dituntut apa pun bertahan selama ribuan tahun di bawah sana. Warna-warni ikan berenang bebas tanpa aturan, tanpa membayar pajak. Mereka hanya hidup dan tumbuh untuk menjadi indah, lalu mati dengan tenang. Tak ada yang menangis di sini. Atau sebenarnya ada yang menangis, namun air mata telah melebur bersama keindahan yang menyembuhkan luka-luka. Aku menenggelamkan tubuhku sekali lagi dan merasakan kehidupan bawah laut yang sunyi dan tenang, seakan air laut menyumbat rapat telingaku.
Kami kembali ke pulau setelah kembung karena menelan banyak air. Aku menulis cerita bersama mereka yang jauh sebelumnya tak pernah kubayangkan. Mereka masih tetap orang asing bagiku. Bahkan Ann. Alam yang juga asing bagiku. Tapi kami melengkapi lukisan semesta yang kugores pelan-pelan dalam hatiku, dan kubuka lagi suatu saat nanti sebagai sebuah kenangan yang manis. Kami menjadikan hamparan pasir putih sebagai panggung pentas. Aku dan Ann berlari saling mengejar dan kembali ke arah yang lain. Teman Ann dan kekasihnya terus-menerus melempar hati dan saling berbalas. Ian, gadis yang dipungut Ann dari kerasnya hidup, berada di antara kami menyempurnakan perjalanan jauh menuju tempat yang dihuni hewan-hewan liar. Dia menari, melompat, dan berlarian dikejar ombak. Tawanya seakan menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan dalam hati. Bagaimana orang melewati kesengsaraan sepanjang hidupnya? Bagaimana orang memaafkan takdir kehidupan? Atau bagaimana orang berdamai dengan waktu yang terus bergulir namun tak pernah sesuai dengan harapan-harapan?
Di tengah kebahagiaan yang baru saja dibangun, tiba-tiba hujan turun tanpa mendung. Turun sangat deras menghapus gradasi warna-warna alam yang cantik. Orang-orang berhamburan menuju bilik-bilik wisatawan untuk berteduh, padahal mereka sudah tenggelam dalam lautan sebelumnya. Kecuali kami berlima yang tetap berada di tempat hujan menari. Kawanan rusa keluar dari dalam hutan yang menjadi rumah mereka, menengadahkan kepala seakan mereka telah menunggu hujan sejak lama karena dahaga. Aku menyukainya. Aku menyukai waktu saat hujan turun di tempat yang indah untuk menikmatinya. Aku selalu menyukai perjalanan-perjalanan yang membuat luka-luka tertinggal di sana.
Kisahku dan Ann belum selesai. Aku membiarkan waktu dan takdir yang akan menuntun ke arah mana jalan kami akan berlabuh. Ke tempat indah bagian mana lagi kami akan mengukir kisah? Dan bagaimana kelak kisah ini akan berakhir? Aku tidak menyerah dan juga tidak mengejar. Aku berjalan mengikuti ke mana takdir akan membawaku. Teman Ann telah mendapatkan setengah bagian dirinya. Pengembaraan hatinya telah selesai. Dia dan suaminya menjadi sepasang kaki yang terus berjalan beriringan. Kadang, aku merasa duka yang kulewati adalah yang terberat di antara miliaran manusia yang hidup di Bumi ini. Tapi Ian telah melewati hidupnya begitu saja, meski sayatan-sayatan begitu dalam tak bisa sembuh. Atau sebenarnya memang tak pernah sembuh. Rumah yang dia tinggali runtuh, menyisakan dirinya dan ketiga adiknya yang baru saja tumbuh. Menyisakan kepingan-kepingan hati kecil yang seharusnya terawat dengan baik. Perjalanan mereka masih sangat panjang untuk berada di titik yang pernah aku rasakan saat rumahku juga hilang.
Kami berada di bangunan tua tak terawat menunggu hujan reda. Rumah ini memerangkap kami dari hujan meski waktu terus bergerak maju. Rusa-rusa hidup dengan tenang melewati halaman. Ibu rusa mengawasi anak-anaknya yang berlari ke padang rumput bermain hujan. Kami duduk di kursi-kursi yang menjadi rumah untuk laba-laba. Tempat ini usang dan sangat menyedihkan karena tak memiliki nyawa yang membuatnya hidup. Bukan aku atau Ann. Hujan dan tempat ini mengembalikan ingatan-ingatan perih Ian yang selalu dia bunuh sebelum mengendalikan tubuhnya.
“Bagaimana kau melewati semuanya?” Aku bertanya saat semua menjadi senyap kecuali suara hujan menderu.
“Karena aku masih hidup dan karena hidup harus terus berjalan.” Jawabannya menunjukkan seberapa jauh dia telah melewati jalan yang sulit. Dan dia melewatinya dengan baik.
“Aku pikir masa-masa remajaku akan berakhir dengan menyenangkan di dalam pesta kelulusan yang meriah, kembang api, dan teriakan suka cita. Ternyata seseorang yang seharusnya menjadi kekuatan untuk hidup justru meninggalkanku bersama adik-adikku. Meninggalkan kami seperti kaleng-kaleng yang telah kosong. Aku duduk di bangku kelas tiga dan sebentar lagi lulus. Kenapa ibuku tidak bisa menungguku sampai selesai? Dia dikuasai oleh hasratnya hingga tega membiarkanku mencari uang sendiri untuk menyelesaikan sekolah. Bahkan rusa-rusa mengawasi anak-anak mereka dari bahaya binatang buas, kan?” Ian membentangkan kain-kain basah untuk dijemur di pagar rumah. Air matanya tak pernah berderai lagi. Atau telah mengering di hari kelulusannya.
Hari semakin redup. Hujan masih menjadi penguasa alam di sini. Aku tumbuh dengan baik dalam keluarga sederhana dan hangat. Tetapi Ian dan adik-adiknya ditemukan kakeknya di dalam rumah yang runtuh seperti anak-anak kucing dalam kardus yang ditemukan seseorang dan dibawa pulang untuk dirawat. Setiap rasa sakit selalu memiliki penawarnya. Begitu dia merasa tenang menjalani takdir berat yang menyeretnya hingga dia bertemu dengan Ann, dan membawanya pada perjalanan yang indah yang tak akan pernah terjadi lagi.
“Kakek meninggal, lalu kami pindah ke rumah nenek dari ibu hingga dia juga meninggal dan akhirnya aku tinggal bersama Ann. Orang-orang baik pergi satu per satu. Tapi Ibu dan Bapak tetap hidup seakan tak pernah menginginkan kami lahir. Semua beban berada di pundakku saat itu.” Ian melewati hidup yang berat dengan begitu ringan. Sedangkan aku sangat sulit menyembuhkan bahkan untuk satu luka saja.
“Kita semua telah melewati hal-hal berat dan kita semua berhasil. Setidaknya kita punya hal itu untuk dibanggakan. Ya, kan?” Ann masih menjadi seorang peri yang membawa penawar.
Suasana menjadi sangat hening ketika hujan pergi begitu saja. Kami bersiap lagi untuk kembali berpetualang di alam yang indah tempat tinggal burung merak. Tak seharusnya waktu terbuang sia-sia di tempat seindah ini. Kapal membawa kami sekali lagi menuju sebuah pantai kecil tanpa dermaga yang dikelilingi pohon meranti yang menjadi pagar dan menutupi isi pulau. Saat langkah kaki semakin jauh ke dalam hutan melewati rawa-rawa, kami tiba di hamparan padang rumput sebagai ruang tengah rumah ini. Hutan ini adalah rumah yang ditinggalkan. Badak Jawa telah diburu demi kerakusan hidup manusia hingga rumah-rumahnya menjadi kosong. Namun, burung merak jantan berjalan bebas mencari biji-biji pohon bangkal yang tanggal. Luka-luka yang sembuh memberikan kehidupan yang baru di sini. Yang hidup menggantikan yang mati.
Tak ingin mengusik kehidupan alam terlalu lama, akhirnya kami kembali. Meninggalkan satwa liar di tempat yang seharusnya. Dalam perjalanan kembali mengarungi lautan menuju rumah tua, senja meredam panas dan hujan. Dia bertengger di ujung samudera dengan kilau emasnya yang menyilaukan mataku. Mesin kapal berhenti. Semua orang duduk menyaksikan keindahan yang lain yang disuguhkan alam. Pada perjalanan sebelumnya, kami—tanpa Ian—menunggu senja di atas anak gunung, namun dia bersembunyi di balik mendung. Hari ini senja yang lain merengkuh hatiku baik-baik, memberi penawar untuk kubawa sebagai oleh-oleh. Tak ada ombak sore itu. Angin bertiup sepoi membelai daun telingaku, menyibak selendang Ann yang dia jadikan sebagai penutup kepala. Tak banyak suara kecuali angin menyapu lembut air laut membelai dinding kapal. Senja membungkuk berpamitan dengan sempurna hingga hari padam. Rona jingga masih membekas di awan-awan yang berarak pulang. Juga membekas dalam ingatanku. Ini adalah salah satu senja terindah yang pernah kutemui. Hatiku dipenuhi perasaan lapang, damai, penuh penerimaan, dan suka cita.
Tak ada listrik di tempat rusa-rusa tinggal. Lampu-lampu redup menyala dari mesin penerangan seadanya menuntun jalan kami menuju rumah tua. Kami melewati malam penuh suka cita di dalam hutan yang sangat jauh dari gedung perkotaan. Tak ada ketakutan dan keresahan meski kayu-kayu tua hampir membunuhku karena runtuh. Bagaimana jika luka-luka yang akan datang di masa depan bisa ditertawakan seperti ini? Semuanya menjadi tak berarti kecuali sebagai kenangan indah. Bagaimana bisa seseorang tak pernah melakukan perjalanan untuk menyembuhkan luka, tapi sekaligus bisa membunuh luka-luka itu dalam sekejap?
Malam yang kelam membuat bintang-bintang bertaburan sangat terang. Sangat indah meski datang dari masa lalu. Kami menyelesaikan hari ini tanpa penyesalan, tanpa rasa kecewa, meski sedikit letih.
“Bintang yang kita lihat sekarang mungkin datang dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Saat itu, orang tuaku masih hidup. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya terluka saat mereka berada di sisiku. Aku mendapat kehidupan yang sangat baik dan diimpikan oleh semua anak.” Aku merawat luka yang sengaja takkan pernah kusembuhkan. Aku ingin membawa orang tuaku ke mana pun aku pergi hingga kepergianku untuk menemui mereka kelak. Ketika rindu-rindu terobati, ketika semua tentang kehidupan ini telah selesai.
“Ayahku juga. Dia masih hidup saat itu.” Kata Ann. Kepala kami menatap langit tanpa penghalang apa pun. Meletakkan sekujur tubuh di atas rumput yang terbentang.
“Nenekku juga. Nenek sangat berarti dalam hidupku. Lebih dari ibuku sendiri. Lebih dari diriku sendiri. Dan lebih dari apa pun.” Ian tak mau kalah. Ayah dan ibunya masih hidup, tapi dia merindukan neneknya yang telah pergi. Kami berdialog di tengah romantisnya sepasang suami istri yang terus memadu kasih sepanjang perjalanan menuju tempat ini.
“Mungkin bintang-bintang itu telah hidup sejak orang tuaku bersama. Seandainya ayah tak pernah menikah lagi dengan orang yang sangat kubenci.” Ian melanjutkan. Aku menghitung ada berapa orang yang telah membuatnya hancur, tapi dia masih bertahan.
“Bagaimana rasanya dihianati oleh orang-orang yang seharusnya memberimu kehidupan yang baik?” Aku bertanya padanya. Pada orang yang telah membunuh hatinya sendiri agar bisa tetap bertahan hidup.
“Rasanya? Aku sudah lupa. Tapi aku rasa, emmm... Sampai di titik aku tak ingin melihat wajahnya. Atau? Entah seperti apa menggambarkannya.” Bahkan Ian tak bisa mengukur seberapa dalam rasa sakitnya. Aku tahu itu sebenarnya yang dia rasakan. Sakit yang tak terukur.
“Apa kau masih bertemu mereka?” Dalam hatiku yang sangat merindukan ayah dan ibu yang tak bisa kutemui lagi di belahan dunia mana pun.
“Masih. Saat ibuku menikah lagi, pacarku menyuruhku memaafkan semua masa lalu kelam yang dia buat. Akhirnya aku berusaha menerimanya kembali dalam hidupku yang sebatangkara ini.” Tatapannya tajam mengarah pada satu bintang paling terang. Mungkin saja dia berharap pada kehidupannya kelak, semua akan baik-baik saja. Kami kelelahan. Angin membuai malam ini semakin dalam. Malam yang panjang menyembuhkan letih yang kami bawa dari rumah. Tempat ini adalah tempat pelarian yang sempurna.
“Hidupmu bergantung pada pacarmu sekarang?” Aku menutup dengan pertanyaan terakhir sebelum kami meninggalkan bintang-bintang.
“Tentu saja tidak. Hidup sebatang kara lebih baik daripada hidup dalam keluarga yang tak sehat. Hidup sendiri lebih baik daripada hidup berdua tapi saling menghianati. Aku merawat baik-baik hatiku untuk masa depan. Untuk orang yang akan menemani hidupku kelak. Pacarku menerimaku apa adanya. Dia menemaniku selama tujuh tahun, bukan saat hidupku dalam gelimang harta, tapi saat aku tak memiliki apa pun, bahkan tempat untuk menangis dan meluruhkan segala beban.” Dia sedang membanggakan dirinya. Entah sejak kapan aku terpejam. Aku terbangun lagi saat semua terlelap. Malam terasa sangat panjang, seakan waktu telah berhenti.
Fajar tak pernah tumbuh di dalam hutan, tapi sinar matahari kembali menerangi tempat kami bermukim semalaman. Memberikan kehidupan baru bagi tunas-tunas yang mulai tumbuh dari patahan. Ibu rusa keluar ke halaman mencari makan, diikuti anak-anak dan rusa muda berlarian. Kami berjalan ke dalam hutan menuju sebuah pohon yang juga telah hidup di sana selama ratusan tahun untuk menjaga pulau ini. Pohon kiara menyaksikan gunung mengamuk hingga anaknya tumbuh besar. Gunung yang pernah kami kunjungi waktu itu. Pohon kiara mencengkeram pohon-pohon kecil di sekitarnya agar bisa menjulang tinggi menjadi raksasa yang abadi. Akar-akarnya merambat ke segala arah, menopang tubuh yang tak terlihat di mana kepalanya. Tempat ini menjadi tujuan terakhir dari rangkaian perjalanan menyembuhkan luka-luka kali ini. Kami kembali ke rumah tua untuk berpamitan. Tak ada yang tertinggal di dalam ruang kosong ini kecuali kenangan kami pernah bermalam di sini.
Mesin kapal mengundang kami untuk segera pergi. Dermaga biru masih mengapung di atas laut yang dihuni rombongan bermacam-macam ikan. Aku memandang sekali lagi. Untuk yang terakhir barangkali takdir takkan membawaku kembali ke tempat ini. Kapal menjauh dari keindahan alam. Mimpi-mimpi telah menjadi kenyataan. Dalam perjalanan pulang yang panjang. Hujan kembali turun sangat deras, mengantarkan kami kembali dengan perasaan suka cita.
“Aku ingin makan ikan bakar.” Ian telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
“Ayo... Aku juga ingin makan ikan.” Kata teman Ann kepada suaminya. Tatapanku terus menuju daratan samar yang akan menyandarkan kapal ini. Entah berapa kali aku merasakannya, tapi aku ingin segera pulang.
Senja melambaikan jingganya sekali lagi di ujung samudera. Kami bertolak semakin jauh untuk kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Tak ada perasaan apa pun yang kubawa kecuali rasa tenang dan bersyukur. Meski aku tak bisa membunuh luka-lukaku seperti Ian. Rasanya, luka-lukaku telah disembuhkan oleh perjalanan ini. Tak pernah ada yang tahu bagaimana manusia menerima luka dan rasa sakit, dan bagaimana mereka menyembuhkan atau membunuh segera perasaan itu. Tapi dari banyaknya orang yang kutemui dalam perjalanan, aku belajar bahwa semua orang telah belajar untuk menjadi kuat. Karena perjalanan hidup takkan pernah semakin mudah. Di depan, hanya akan ada badai-badai yang terus menghantam jalan. Jadilah semakin kuat.