Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ada satu konspirasi semesta yang tak tertulis namun lebih akurat daripada ramalan cuaca BMKG: Polisi Lalu Lintas adalah makhluk dimensi lain yang kemunculannya ditentukan oleh tingkat dosa administrasi kendaraanmu.
Coba perhatikan pola ini. Saat dompetmu tebal, SIM masih aktif sampai kiamat kurang dua hari, STNK sudah diperpanjang, helm SNI kinclong, spion lengkap kiri-kanan, dan knalpot motor bunyinya sopan seperti santri baru mondok, polisi mendadak punah. Kamu keliling kota mencari pos polisi rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Langka. Sekalinya ketemu, mereka cuma berdiri gagah sambil senyum manis, melambaikan tangan, seolah berkata, "Silakan lewat, Warga Negara Teladan. Hati-hati di jalan, Sayang."
TAPI... Di saat dompetmu tertinggal, atau saat SIM-mu sudah mati sejak zaman Presiden SBY, atau saat kamu lupa pakai helm karena cuma mau beli cabe di warung depan... BOOM! Mereka ada di mana-mana. Mereka bersembunyi di balik pohon rindang. Mereka menyamar jadi tiang listrik. Bahkan aku curiga, kucing oren yang lagi jilatin kaki di perempatan itu sebenarnya adalah Kanit Lantas yang sedang menyamar.
Saat itu, aku sadar posisi tawarku di mata hukum adalah nol besar. Lebih rendah dari nol, malah minus. Motor kesayanganku, "motor beat biru zaman majapahit", adalah monumen dosa berjalan.
Alasanku klasik: Sibuk. Sibuk apa? Ya sibuk nganggur, sibuk main, dan sibuk stalking IG Story gebetan yang isinya pamer kemesraan sama musangnya. Intinya, aku belum punya uang buat bayar pajak.
Kondisi ini membuatku mengidap penyakit Paranoid Akut Stadium 4. Setiap lihat warna hijau neon di jalan, jantungku langsung moonwalk pindah ke dengkul. Lihat tukang parkir Alfamart yang pakai rompi oranye saja aku bisa reflek minta dikasihani. Hidupku tidak tenang. Aku adalah buronan yang bersembunyi di balik topeng warga sipil biasa.
Hari itu adalah hari Selasa yang terik. Matahari bersinar tanpa filter, seolah menantang siapa saja yang berani keluar rumah tanpa sunscreen. Aku memutuskan keluar rumah. Tujuannya mulia: Cari makan siang, makan angin.
Aku memacu Si beat biru dengan kecepatan santai 40 km/jam. Menikmati angin sepoi-sepoi yang bercampur debu jalanan. Aku memilih rute jalan raya yang biasa kulewati. Jalan ini adalah jalan lurus panjang yang diapit oleh tembok pabrik tinggi di kiri dan kanan. Jalur satu arah, tanpa belokan, tanpa jalan keluar. Sekali masuk, pantang mundur.
Namun, sekitar 200 meter di depan, mataku menangkap fenomena alam yang mengerikan. Lalu lintas melambat. Mobil-mobil menepi. Dan di sela-sela mobil itu, terlihat warna yang paling kutakuti: Cokelat dan Hijau Neon.
Itu bukan parade karnaval. Itu bukan syuting film. Itu adalah RAZIA GABUNGAN OPERASI ZEBRA. Lengkap. Ada Polisi Lantas, ada Dinas Perhubungan (Dishub) yang bawa pentungan oren, dan... ya Tuhan, ada Polisi Militer (PM) yang berdiri tegak kayak patung Jenderal Sudirman.
"Mati aku," gumamku. Suaraku tercekat di tenggorokan. Keringat dingin langsung membanjiri punggung, merembes ke celana dalam. Otakku berputar cepat mencari solusi.
Opsi A: Putar balik. Mustahil. Di belakangku ada truk tronton pengangkut pasir yang klaksonnya bunyinya HOOONG!!! kayak kapal Titanic. Kalau aku ngerem mendadak, aku bakal jadi stiker di bumper truk itu.
Opsi B: Terobos. Sama saja bunuh diri. Beat karbu ini lari 60 km/jam aja bodinya udah goyang dombret, dikejar motor Patwal Yamaha XJ900 seperti nangkep siput.
Opsi C: Pasrah. Artinya motor disita, denda jutaan, dan aku harus jalan kaki pulang sambil nangis.
Di tengah kepanikan level dewa itu, di mana adrenalin memacu otakku bekerja 1000% lebih cepat dari biasanya, mataku melihat sebuah gerbang tua berkarat di sebelah kiri jalan, tepat 20 meter sebelum titik razia.
Di atas gerbang itu tertulis dengan cat putih yang mulai mengelupas: TPU (TEMPAT PEMAKAMAN UMUM) HUSNUL KHOTIMAH.
Sebuah ide gila, absurd, dan brilian muncul di kepalaku. Bisikan gaib (mungkin dari penghuni makam) masuk ke telingaku: "Masuk sini, Bro! Polisi nggak berani nilang mayat! Pura-pura ziarah adalah kunci keselamatan!"
Benar juga! Polisi lalu lintas mana yang tega nanya STNK ke orang yang lagi nangis di kuburan? Itu melanggar kode etik kemanusiaan! Tanpa pikir panjang, aku menyalakan lampu sein kiri (yang kedipnya cepet banget kayak lampu disko karena bohlamnya mau putus), lalu membanting setir masuk ke area pemakaman.
Lolos! Aku berhasil masuk ke area TPU tanpa dicurigai... setidaknya untuk sementara. Dari sudut mata, aku melihat seorang Polisi yang berdiri di pinggir jalan melirikku tajam. Tatapannya penuh selidik, seolah berkata: "Itu anak mau ziarah apa mau kabur?"
Sial. Dia masih ngeliatin. Aku harus akting total. Aku harus meyakinkan dia bahwa aku adalah seorang peziarah yang saleh, yang datang untuk mendoakan leluhur, bukan buronan pajak.
Aku memarkir motor di bawah pohon kamboja besar. Melepas helm dengan gerakan lambat dan dramatis, seolah beban hidupku sangat berat. Wajahku kusetel ke mode: "Anak Yatim Piatu yang Rindu Kasih Sayang Orang Tua yang kebetulan kebelet berak". Sedih, nanar, dan sedikit depresi.
Aku berjalan masuk ke hamparan nisan-nisan bisu. Masalah baru muncul: Makam siapa yang harus kudoakan? Aku nggak kenal siapa-siapa di sini! cap... cip... cup... kembang kuncup... aku memilih-milih makam.
Akhirnya, mataku tertuju pada satu makam di bawah pohon rindang. Posisinya strategis, VVIP Class. Nisannya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Kiri-kanannya ada bangku beton untuk duduk peziarah. Lantainya dikeramik bersih. Teduh dan nyaman. "Nah, ini dia! Makam orang kaya! Pasti amalnya banyak, nebeng doa (baca:duduk) di sini aman," pikirku.
Aku langsung menuju makam itu. Duduk bersimpuh di samping nisan marmer hitam itu. Aku menundukkan kepala. Mengangkat kedua tangan. Aku melirik sedikit ke arah gerbang. Pak Polisi itu masih berdiri di sana, menatap ke arahku. "Mampus, dia nungguin. Oke, keluarkan bakat aktingmu. Bayangkan tagihan paylater-mu gagal bayar."
Aku mulai komat-kamit. Mulutku bergerak-gerak acak. "Ya Allah... jauhkanlah hamba dari surat tilang warna biru maupun merah... butakanlah mata polisi itu... lindungi dompet hamba yang isinya tinggal Pattimura bawa golok..."
Aku bergoyang-goyang kecil ke depan dan belakang, meniru gaya ustadz yang sedang khusyuk berdzikir. Aku bahkan mengusap wajahku kasar, pura-pura menghapus air mata (padahal menghapus keringat dan debu). Setelah 5 menit berakting, aku merasa aman. Polisi itu mulai sibuk memberhentikan truk. "Fiuuhh... aman. Tinggal nunggu razia bubar."
Tepat ketika aku hendak berdiri untuk meregangkan kakiku, terdengar suara langkah kaki mendekat. Tap... tap... tap... Suara sepatu hak tinggi beradu dengan paving block. Diikuti aroma parfum melati yang menyengat (bukan melati kuburan, tapi parfum mahal).
"Assalamualaikum..." tegur suara wanita yang berat dan berwibawa.
JLEB. Jantungku berhenti berdetak. Paru-paruku lupa cara mengambil oksigen. Aku menoleh perlahan dengan gerakan patah-patah seperti robot rusak.
Di belakangku, berdiri dua sosok wanita. Yang pertama, Ibu-ibu usia 50-an, sosialita abis. Pakai kacamata hitam lebar (segede piring), baju gamis sutra, tas Hermes (atau minimal KW super), dan jari-jarinya penuh cincin emas akik. Yang kedua, seorang gadis muda usia 20-an. Cantik banget, putih, bening, tapi mukanya jutek setengah mati. Dia memegang payung hitam memayungi ibunya.
Mereka menatapku dengan tatapan: "Siapa lu??"
"W-W-Waalaikumsalam Bu..." jawabku gagap.
"Masnya siapa ya? Kok doa di makam keluarga saya?" tanya si Ibu Sosialita. Nadanya tidak marah, tapi penuh selidik. Matanya menembus kacamata hitamnya, memindai penampilanku yang kucel: Kaos oblong, celana jeans dekil, dan muka penuh minyak.
Otakku buffering. Sinyal logika putus. Kalau aku jujur: "Saya lagi ngumpet dari polisi Bu, numpang duduk ya," pasti aku diusir sedangkan bapak-bapak berseragam masih ada didepan. Aku harus bohong. Bohong demi kelangsungan hidup.
"Anu Bu... Saya... Saya kenalannya Bapak..." jawabku spontan. Ide terburuk.
Si Ibu mengernyitkan dahi. Gadis di sebelahnya mengangkat alis curiga. "Bapak? Bapak siapa Mas?" tanya si Ibu. "Ya... Bapak ini... Almarhum yang di sini..." Aku menunjuk nisan marmer itu.
Si Ibu membuka kacamata hitamnya. Menatapku tajam. "Mas... Ini makam Eyang Putri, Mas. Namanya Hj. Lastri."
DUAR!!! Rasanya ada petir menyambar tepat di ubun-ubun. Aku melirik tulisan di nisan marmer itu. Benar saja. Tertulis dengan tinta emas: Hj. SRI LASTRI WIDYANINGSIH. Perempuan. Tulen.
Mati gue. Skakmat. Tamat riwayatku. Wajahku memerah padam, panas seperti disetrika. "E-Eh? I-Iya itu maksud saya Bu! Eyang Putri!" Aku mencoba ngeles secepat kilat.
"Tadi bilangnya Bapak?" Si Ibu masih curiga. Otakku yang sedang konslet tiba-tiba melempar ide paling absurd dari alam bawah sadar.
"I-Itu Bu... Anu... Dulu saya lama jadi TKI. Kerja di pedalaman Afrika Tengah, di suku Zulu. Nah, di sana itu... panggilan 'Bapak' adalah gelar kehormatan tertinggi untuk wanita agung yang sakti, Bu. Jadi saya kebiasaan panggil beliau Bapak Eyang Putri... sebagai tanda hormat..."
Hening. Gagak di pohon berhenti bunyi. Angin berhenti berhembus. Alasan macam apa itu?! Afrika Tengah?! Suku Zulu?! Jawaban macam apa itu? Aku ingin menampar mulutku sendiri.
Ajaibnya... Si Ibu manggut-manggut. "Oalah... gitu to? Mas TKI to? Pantesan kulitnya agak eksotis kebakar matahari." Sialan, itu penghinaan halus. Tapi syukurlah dia percaya! Orang kaya kadang polosnya nggak ketulungan.
"Masnya kenal dekat sama Eyang Putri?" tanya si Ibu lagi, kini nadanya lebih ramah. Dia duduk di bangku beton di seberangku. Anaknya masih berdiri, menatapku datar.
"D-Dekat banget Bu... Semasa hidup, beliau sangat berjasa bagi saya. Sering membantu saya di masa-masa sulit..." Aku memasang wajah sedih lagi, mendalami peran.
Si Ibu tersenyum bangga. "Alhamdulillah... Saya senang dengarnya. Eyang Putri memang orang baik." Lalu, pertanyaan maut itu muncul.
"Masnya ini... Pasien atau Murid?"
Deg. Pilihan ganda lagi. Kalau jawab Murid, resikonya besar, aku ga tahu dia guru apaan? Kalau jawab Pasien, kedengarannya lebih aman. Paling dikira pasien sakit gigi, atau asam urat, atau encok.
Dengan mantap aku menjawab: "Saya Pasien, Bu. Pasien setia Eyang Putri."
Begitu kata "Pasien" keluar dari mulutku, reaksi mereka berubah. Si Gadis cantik di sebelah ibunya tiba-tiba menutup mulut, menahan tawa. Bahunya terguncang-guncang. Matanya melirik ke arah... (maaf) selangkanganku.
Si Ibu tersenyum lebar, senyum penuh kepuasan dan understanding. "Wah... Syukurlah kalau manjur ya Mas. Eyang Putri memang legendaris. Beliau itu satu-satunya praktisi Pijat Alternatif Pembesar Alat Vital yang paling topcer di sini."
HENING. Dunia runtuh. Langit runtuh. Harga diriku menguap ke atmosfer.
Hah? Apa? Pembesar Alat Vital? Mak Erot cabang sini?!
Jadi... barusan aku mengaku sebagai Pasien Setia Pembesar Alat Vital? Di depan ibu-ibu sosialita? Dan di depan cewek cantik yang mungkin seumuran denganku?
Secara tidak langsung, aku baru saja membuat pengumuman terbuka, sebuah konferensi pers, sebuah deklarasi proklamasi bahwa: "PERMISI, PUNYA SAYA KECIL. SAYA SEDANG DALAM MASA PERBAIKAN."
Aku ingin mati. Aku ingin ditelan bumi. Aku ingin masuk ke dalam nisan marmer itu dan nemenin Eyang Putri main gaple. Si Gadis cantik itu kini sudah tidak bisa menahan tawa. Dia membuang muka ke arah pohon pisang, badannya bergetar hebat menahan ngakak. Wajahku bukan merah lagi, tapi sudah ungu.
"I-Iya Bu... A-Alhamdulillah... ada... perkembangan..." jawabku lirih, dengan sisa-sisa nyawa yang ada. "Baguslah Mas. Harus rajin dirawat ya, biar nggak balik ke setelan pabrik," nasihat si Ibu polos tapi nyelekit.
"Ya sudah Mas," kata si Ibu memecah keheningan yang menyiksa itu. "Mumpung Masnya di sini, dan kelihatannya Masnya ini orang alim yang sudah merasakan mukjizat Eyang, tolong pimpin doa ya?"
"Hah? Saya Bu?" "Iya. Kami ini kurang fasih doa bahasa Arab. Mas kan TKI Afrika, pasti doanya makbul. Tolong doakan Eyang biar tenang di sana."
Mampus kuadrat. Aku disuruh memimpin doa? Ga banyak doa bahasa arab yang kuhapal.
Tapi aku tidak punya pilihan. Polisi di depan masih razia. Si Ibu menatap penuh harap. Aku harus melakukan ini.
"B-Baik Bu. Mari kita doakan Eyang Putri..." Aku mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Memejamkan mata rapat-rapat. Aku mencoba mengingat segala jenis doa yang pernah kuingat seumur hidup.
Otakku blank. Kosong. Yang terlintas hanya doa-doa random sehari-hari. Ya sudahlah! Campur aduk yang penting Arab!
Aku menarik napas panjang, memasang nada suara bergetar ala Imam Masjidil Haram.
"Bismillahirrohmanirrohim..." (Oke, pembukaan aman). "Allahumma bariklana fii ma rozaktana waqina adzabannar..." (Doa mau makan). "Allahumma inni audzubika minal khubutsi wal khobaa its..." (Doa masuk WC ). "Bismika allahuma ahya wa amut..." (Doa tidur). "Dzahabadzhoma'u wabtalatil 'uruqu wa tsa batal ajru insyaAllah..." (Doa buka puasa).
Ku lirik sedikit, Si Ibu dan anaknya menunduk khusyuk, mengamini dengan serius. "Aamiin... Aamiin..." isak si Ibu.
Sedikit melirik si ibu dan anaknya tadi, bikin aku nge blank, sial doa apa lagi?? doa apa lagi?? Admin di kepalaku seperti sedang ribut mencari-cari berkas ‘Doa Arab’. Tanpa ragu, aku aku melanjutkannya lagi dengan nada tilawah yang syahdu mendayu-dayu.
"NAWAITUL GHUSLA... LIROF'IL HADASIL AKBARI... "
Aku mengulang bagian "Hadasil Akbari" (Hadas Besar) sampai tiga kali dengan vibrasi suara nangis. "Hadasil Akbariiii... Hiks... Akbariiii..."
Dalam hati aku berteriak: "YA ALLAH MAAFKAN HAMBA! Hamba mendoakan arwah Eyang Putri pakai niat mandi junub!!"
"Aamiin Ya Rabbal Alamin..." tutupku sambil mengusap wajah. Si Ibu dan anaknya juga mengusap wajah. Mata mereka basah. "Masya Allah... Doanya menyentuh sekali Mas. Terasa getarannya sampai ke hati," kata si Ibu sambil menyeka hidungnya dengan tisu. "Iya Bu. Itu doa sapu jagat versi Suku Zulu. Sangat sakral," jawabku asal-asalan. Mereka beneran ga tau apa aja yang aku baca tadi?
Aku melirik jam tangan. Sudah 30 menit. Aku melirik ke gerbang TPU. Alhamdulillah! Mobil truk polisi sudah pergi! Razia sudah bubar! Jalanan sudah lengang!
Ini saatnya kabur sebelum kebohonganku terungkap lebih jauh. "Waduh Bu, mohon maaf sekali. Saya baru ingat ada panggilan dinas mendadak. Saya harus segera pergi," kataku sambil berdiri tegak (sebisa mungkin menutupi area selangkangan biar nggak dilirik lagi).
"Lho, buru-buru amat Mas? Nggak mau mampir ke rumah dulu?" tawar si Ibu ramah banget.
"Ke rumah? Ngapain Bu?" tanyaku was-was.
Si Ibu tersenyum, senyum marketing. "Siapa tahu mau maintenance? Anak saya ini, Si Rini, sekarang yang nerusin praktek Eyang. Tangannya lebih sakti lho. Siapa tahu Mas mau nambah ukuran lagi? Diskon 50% buat alumni."
Si Rini, gadis cantik itu, menatapku sambil menaik-turunkan alisnya nakal. "Boleh Mas, mampir aja. Nanti saya kasih treatment spesial..."
MATI AKU. Tawaran macam apa ini?! Wajahku panas membara. Malunya sudah menembus tulang sumsum.
"TIDAK USAH BU! TERIMA KASIH! INI SUDAH CUKUP JUMBO! SAYA SUDAH PUAS! PERMISI!" Teriakku histeris.
Aku lari terbirit-birit menuju motor Si Beat karbu. Memasang helm asal-asalan (terjepit kuping biarin aja). Menyalakan mesin. Brum! Dan tancap gas meninggalkan area TPU dengan kecepatan cahaya.
Di jalan pulang, aku masih gemetar. Hari ini aku sukses menghindari tilang polisi senilai 500 ribu. Tapi gantinya... Aku kehilangan harga diri di depan janda kaya dan anaknya. Aku mengaku punya "aset" kecil. Dan aku menistakan Eyang Putri dengan doa mandi junub. Sejak hari itu, aku bersumpah. Aku akan bayar pajak STNK. Aku akan beli spion baru. Asal aku nggak perlu lewat tempat itu lagi.