Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pagi yang cerah menyapa Pak Syamsul dari pembaringan. Kemarin malam ia tidur dengan nyenyak sehingga dapat bangun dalam keadaan bugar. Meski ada hal kecil yang mengganjal tapi itu tak terlalu ia pikirkan.
Dingin keramik menyapa telapak kakinya yang melangkah mantap masuk ke kamar mandi dalam. Siraman air dingin menyentak syaraf dan seluruh indranya untuk bekerja dalam kondisi paling prima. Usai menyegarkan diri, Pak Syamsul tak langsung mengambil baju. Ia melakukan peregangan kecil, menatap cermin besar, dan merapalkan kalimat afirmasi.
“Semua baik! Semua sehat! Semua bisa sejahtera!" Slogan itu menggema dalam pikirannya seperti ombak yang tak berhenti berdebur.
Jas mahal berjejer rapi didominasi warna netral. Namun, ada yang mengganjal pikiran Pak Syamsul. Sepertinya ada warna yang absen dari deretan busananya. Waktu terlalu berharga untuk memikirkan hal tersebut, segera ia mengempas secuil rasa penasaran itu.
Pak Syamsul mengambil kemeja putih untuk memberikan kesan bersih, dipadukan celana panjang warna krem tua yang santai, tetapi tetap terlihat berkelas. Agar tidak terlalu sederhana ia membelenggu pergelangan kiri dengan jam tangan paling mahal untuk menambah aura wibawanya sebagai pejabat.
Pukul sembilan Pak Syamsul keluar dari kamar. Pelayan setianya, Mbok Darmi, tengah membersihkan meja ruang keluarga. Alis Mbok Darmi bertaut melihat majikannya berdandan perlente abis seperti hendak pergi ke acara khusus, padahal di hari itu ia tak mengingat ada agenda yang diperintahkan padanya.
"P-Pak Syamsul? Mau kemana?" tanya Mbok Darmi sambil membenarkan jilbab.
"Kampanye lah, mbok. Ke dusun yang sebelah waduk itu. Saya dengar di sana paling padat penduduk.”
Seperti ada petir menyambar kepala Mbok Darmi. Wanita paruh baya itu menelan ludah, "Oh.. Oalah.” Tak mampu berkata ia menyeka keringat imajiner yang tak meluncur dari pelipisnya.
“Saya mau makan dulu biar kuat menghadapi hari ini. Sarapannya sudah siap 'kan? Apa saja?”
“Oh, iya! Sarapan, anu ... biasa pak, ikan nila panggang, sayur asem, dan nasi merah,” lega Mbok Darmi menjawab, untung saja subuh ia sudah menyiapkan semuanya.
“Mantap! Langsung disiapkan saja, mbok. Porsi agak banyak, ya! Biar kuat!” ucap Pak Syamsul sambil mengepalkan tangan.
“I- iya. Baik, Pak. Sebentar saya siapkan.” Mbok Darmi bergegas ke dapur, mengambilkan sepiring besar sarapan dan segelas jus buah.
Sembari menyantap makan pagi, Pak Syamsul menyiapkan segala hal untuk safari politik hari ini. Merangkum data, merangkai isi pidato, menghitung daerah yang paling berpotensi mendulang banyak suara, dan tetek bengek lainnya.
Mbok Darmi mendatangi Pak Syamsul, kali ini ia hadir bersama Jupri, supir pribadi Pak Syamsul.
“Pak Syamsul, hari ini mau diantar kemana?” tanya Jupri.
“Oh, hari ini agendanya pergi ke rumah Pak Lurah di daerah waduk untuk ijin sosialisasi kampanye. Harusnya Edi sudah mengatur jadwal appointmentnya. Edi di mana? Kok gak kelihatan?”
Mbok Darmi dan Jupri saling bertatapan.
“Anu, em, Edi sepertinya masih ada jadwal lain sehingga belum bisa datang ke mari.”
“Loh! Kok bisa? Di waktu penting seperti ini kok malah pergi. Yasudah saya telepon dulu!” Pak Syamsul mengeluarkan gawai dari tas. Jujur saja beliau tak begitu cakap menggulir layar. Butuh sejumput ketidakyakinan dan kebingungan untuk menekan tombol panggil berseta fitur pengeras suara.
Nada tunggu berdering. Satu, dua, tiga, hingga suara perempuan menjawab penantian Pak Syamsul.
‘Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah Beberapa saat lagi. The number you are calling….’
Pak Syamsul meradang menghunus tajam ke arah layar, “Loh! Gimana sih, Edi! Kok tidak dijawab?” Ia kembali melakukan panggilan ulang meski responnya tetap sama. Gusar membuat pak Syamsul tak nafsu makan. Ia hanya menenggak jus buah dalam satu teguk sambil jarinya terus menggulir layar, tersesat dalam mayantara.
“Duh, siapa ini yang bisa bantu aku? Edi ini juga kemana, sih? Padahal sudah aku bayar mahal buat urus ini itu. Masak masih kurang?”
Sayup suara salam mengalihkan perhatian ketiganya. Pada panggilan kedua terdengar jelas arahnya berasal dari pintu depan. Mbok Darmi membelalak ke arah Jupri, seolah bertanya, kenapa ada orang bisa masuk ke dalam rumah? Jupri lari tunggang langgang menuju pintu depan. Seorang lelaki bergamis putih, mengenakan peci, dan kacamata hitam memberikan salut kepada Jupri.
“Assalamualaikum, Pak Jupri!”
“Wa’alaikumsalam. Loh, kok kamu bisa masuk?”
“Loh, pintu kecil depan itu dibuka, kok. Pak Jupri kali yang lupa nutup?” Jupri menampar dahinya sendiri kemudian beristighfar.
“Oiya, tadi dipanggil si Darmi soalnya. Saking banyak pikirannya ini sampai lupa nutup pintu!”
“Pikiran apa sih, Pak Jupri?” ucap lelaki itu sambil tertawa.
“Anu… si bapak mau pergi kampanye ke dusun dekat danau.”
“Oalah, begitu situasinya. Sudah ga usah banyak dipikir. Biar saya saja yang urus. Bapak ada di dalam ‘kan?”
“I-iya, bapak ada. Ya sudah, mari masuk. Saya tutup pintu gerbang dulu!”
Dengan dada membusung dan langkah lebar, lelaki berbaju gamis itu melenggang santai seolah rumah itu adalah rumahnya sendiri. Begitu menemukan sosok linglung Pak Syamsul ia segera memberikan salut kepada beliau.
“Assalamualaikum, Pak Syamsul!” Pak Syamsul ternganga keheranan. Bergantian ia menatap Mbok Darmi dan lelaki misterius tersebut.
“Lah? Siapa ini?” Mengabaikan etika, lelaki itu menjabat erat tangan pak Syamsul, menepuk-nepuk punggung tangan yang sudah tua dan kasar, seolah-olah meyakinkan bahwa mereka berdua adalah dua orang karib yang amat dekat selayaknya saudara.
“Pak Syamsul gimana sih? Saya Afkar Fakhrudin bin Ahmad Iskandariah, yang biasa dipanggil Gus Affak. Masak baru ketemu kemarin sudah lupa?” Gus Affak menepuk bahu Pak Syamsul, kemudian memancing tawa dari penghuni yang ada di situ untuk mencairkan suasana.
“Memang kita kemarin ketemu?”
“Loh. Gimana sih, Pak Syamsul? Kita kan kemarin sudah janjian mau buat pengajian akbar di desa yang sebelah danau itu. Kata Pak Syamsul daerah situ yang paling banyak penduduknya, makanya mau kampanye di situ.”
“Oh, begitu ya?” Seperti sihir, sekejap itu kecurigaan Pak Syamsul lenyap. Ia tersenyum lebar pada Gus Affak lalu balik menepuk bahunya.
“Ya, ya. Haduh, aku ini dari tadi kenapa sih kok kayak orang bingung. Anda sudah makan belum? Ayo kita makan terus mendiskusikan acara pengajian akbarnya. Kira-kira nanti pakai panggung besar tidak? Kalau saya sih pengennya panggung konser yang megah gitu.”
“Loh, kenapa mikirnya sampai ke situ? Gausah dipikir! Saya saja yang mikir! Dibikin santai, Pak Syamsul!”
Pak Syamsul mengangguk-angguk mendengarkan keterangan Gus Affak. Begitu serius ia meyakinkan Pak Syamsul soal pengajian akbar tersebut mulai dari tema dakwah, massa yang dikerahkan, dan berbagai hal yang dapat memompa angan indah Pak Syamsul.
Tak terasa hampir dua jam lamanya mereka berdiskusi sambil mengobrol hal yang tak penting kesana-kemari. Gus Affak pamit pulang tak lupa meninggalkan banyak catatatan dan kontak yang bisa dihubungi Pak Syamsul.
“Pokoknya Pak Syamsul duduk diam santai saja di rumah, semua nanti saya yang urus. Wong orang kayak saya ini ya nggak mungkin kan kalau sampai bohong. Dosa, Pak!” ucap Gus Affak dari balik jendela mobil sebelum meluncur meninggalkan kediaman Pak Syamsul.
Pria tambun rambut cepak tersebut melambaikan tangan ke Gus Affak sambil tersenyum lebar. Ia membayangkan ribuan jemaah beserta warga kampung berbondong-bondong datang meneriakkan namanya dan bersumpah akan memilihnya nanti. Begitu membuncah hingga ia tak bisa sabar menunggu akhir pekan tiba.
“Jupri!” Jupri yang saat itu hendak menyeruput secangkir kopi di tengah istirahat siang gelagapan menaruh gelasnya, tancap gas berlari menuju majikan.
“Ya, Pak Syamsul!” lapor Jupri lalu memberi hormat.
“Siapkan mobil!” Jupri lemas tak kuasa sambil melirik gelas kopinya. Lincah Jupri mengeluarkan mobil dari garasi, mengamankan gawai ke phone holder lalu membuka peta digital. Pak Syamsul menyerahkan catatan kecil.
“Ini kata Gus Affak nama pondoknya Pondok Songgo Langit. Coba kita ke situ,” perintah Pak Syamsul. Jupri memasukan kata kunci, tetapi tak menemukan tempat yang dimaksud.
“Di sini tidak ada yang namanya Pondok Songgo Langit, Pak. Adanya malah Warung Songgo Langit.” Wajah Pak Syamsul berkerut.
“Ah, nggak mungkin! Katanya tadi daerah sebelum pasar. Coba kamu cari pondok dekat pasar.” Jupri menggaruk-garuk kepalanya, memang ia tak mungkin menang debat dengan sang majikan.
“Eh, kalau pondok yang dekat pasar itu, Pondok Putra Salahuddin. Bukan Songgo Langit.”
“Oh, yaudah kita ke situ! Mungkin tadi salah ucap saja,” desak Pak Syamsul. Jupri mengela napas panjang. Ia berbisik dalam hati, ‘Memang sulit bicara dengan orang gila.’ sambil melajukan kendaraan pelan.
Pak Syamsul duduk di kursi penumpang, bersender pada jendela melihat pemandangan hijau segar di depan mata. Hutan jati, pohon trembesi raksasa, sawah-sawah siap panen, kabel semrawut di perempatan besar, dan hingar bingar pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan itu kembali muncul serpihan yang mengganjal pikirannya.
Sampailah mereka ke pondok yang dituju. Pondok yang masih terbilang baru dibalut cat warna hijau. Mereka masuk melewati gapura tanpa pagar cantik berhias lukisan bergaya mosaik islami. Sebuah sedan mewah kinclong mentereng tak mungkin tak disadari oleh penjaga pondok. Dua lelaki berpakaian satpam, berpeci putih mendatangi Pak Syamsul.
“Assalamuailaikum warohmatullahi wabarokatuh. Ada yang bisa kami bantu?” sapa yang terlihat lebih tua.
“Wa’alaikum salam. Oh, ya. Tadi ada ustaz yang datang ke rumah saya. Namanya Gus Affak. Katanya beliau kenal dengan pemilik pondok ini dan mau mengadakan pengajian akbar. Saya kemari untuk memastikan perijinan kegiatannya, sambil melihat-lihat calon suara, eh, maksudnya kegiatan pondok ini apa saja.”
Kedua satpam bertatapan, mereka kompak mengucapkan pertanyaan yang sama.
“Ha? Gus Affak?” Pak Syamsul dibuat bingung dengan reaksi mereka.
“Iya. Gus Affak. Beliau bilang kalau dia teman pemilik ponpes ini. Hari Minggu besok kita mau mengadakan pengajian akbar sebagai rangkaian kampanye pemilu saya.”
“Pemilu apa, Pak?”
“Loh? Gimana, sih? Memang kalian tidak melihat spanduk yang ada wajahnya saya? Harusnya ada banyak di jalan-jalan! Pak Syamsulhadikusumo!”
“Maaf, tapi pemilu sudah lewat setahun lalu,” sanggah satpam yang lain. Air muka Pak Syamsul langsung pucat.
“S-sudah lewat bagaimana? Saya Syamsulhadikusumo, caleg dewan yang warnanya biru muda … Astaghfirullah!”
Satu persatu perasaan janggal yang Pak Syamsul rasakan sejak bangun tidur kini terjawab. Seragam kampanye yang seharusnya berjejer di dalam lemari kini tak ada lagi, Edi asisten setianya yang tak dapat dijangkau, serta jalan yang bersih dari spanduk kampanye. Beliau terhuyung, tangannya mencari sandaran.
“Jupri! Jupri!”
“Iya, Pak Syamsul! Jupri datang!” Jupri memapah Pak Syamsul masuk ke dalam mobil. Supir berambut ikal itu mengambilkan air minum dan kipas tangan. Sambil menempelkan gawai ke telinga, Jupri mendekati satpam pondok.
“Maaf ya, mas. Beliau ini stress berat setelah kalah pemilu. Kadang suka berhalusinasi. Ini sedang saya telponkan petugas RSJ.”
Wajah datar kedua satpam bersirobok, kompak menggeleng pelan, seolah tak kaget dengan kondisi yang menimpa para pembual-pembual yang selalu mengatasnamakan rakyat. Mereka memutuskan membantu Jupri mengipasi Pak Syamsul.
Sepanjang perjalanan menuju RSJ Pak Syamsul menyerukan kalimat yang lemah dan menyanyat jiwa.
“Saya Syamsulhadikusumo! Semua baik! Semua sehat! Semua bisa sejahtera!”
***
Pagi yang cerah menyapa Pak Syamsul dari pembaringan. Kemarin malam ia tidur dengan nyenyak sehingga dapat bangun dalam keadaan bugar. Meski ada hal kecil yang mengganjal tapi itu tak terlalu ia pikirkan.