Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
'Kau laksana setitik terang diantara kegelapan
Kau terangi hatiku yang suram ini
Kau hidupkan kembali jiwaku yang telah mati
Kau... penyelamatku...'
- Canise Mogan -
Aku berada disini, di kamarku yang tak pantas dikatakan sebagai kamar. Lebih pantas disebut gudang. Memencet layar smartphone ku yang terbilang kecil. Merangkai kata demi kata nan elok yang nantinya akan melahirkan sebuah sajak nan menyayat hati. Kuutarakan seluruh perasaanku, kubiarkan liquid mengalir dari ujung mataku selagi tanganku bergerak.
Ya, inilah keseharianku. Tidak berubah. Hanya berdiam diri di kasur seraya bersosialisasi di internet bersama teman-temanku di sosial media ataupun mengarang cerita dan puisi abal-abal. Bukan berarti aku tak punya teman di dunia nyata loh ya, aku punya, banyak. Tapi, yang benar-benar mengerti aku sepenuhnya hanya satu. Kami sudah seperti tak terpisahkan.
Aku lebih sering berada di rumah. Paling-paling aku keluar rumah untuk kerja kelompok, atau sekedar berkumpul dengan 'teman-teman'ku. Menyenangkan memang, berkumpul dan berbincang dengan mereka, tapi kesenangan itu hanya berlaku sementara. Besoknya? Dan besoknya lagi? Saling tatap pun mungkin tidak.
Dan jangan pikir dengan sikapku yang anti-sosial ini tak ada laki-laki yang tertarik denganku. Begini-begini aku sudah pernah 3x pacaran loh! Dan sampai sekarang masih ada satu laki-laki yang sepertinya menyukaiku, tapi dia belum menunjukkan tanda-tanda akan menembakku sih, udah lah, biarin aja. Toh aku gak suka dia.
Prestasiku di sekolah cukup baik. Aku masuk di kelas unggul dan berada di posisi unggul pula, 10 besar. Aku juga sudah menyumbangkan sebuah piala FLS2N untuk cabang lomba vokal grup. Bisa dibilang, aku termasuk murid yang disenangi guru.
Dan jangan kalian pikir aku ini anak rajin -atau setidaknya alim dan teladan-, kepribadianku sangat jauh dari 3 kata kunci di atas. Aku pemalas, sangat malas. Kadang sekedar berjalan ke kantin saja kakiku terasa lemas 'tuk melakukannya. Dan aku juga tidak bisa dibilang alim. Meski aku tidak nakal dan suka cari masalah, tapi dari segi penampilan... bagi yang belum kenal aku, pasti akan mengira aku anak preman.
Aku berpenampilan begitu bukan tanpa alasan, pertama, aku memang terlalu malas untuk merapikan bajuku, kedua, supaya aku tak dikatai sok alim.
Semua yang mereka lihat, baik penampilan maupun tingkah lakuku, adalah 'topeng'. 'Topeng' untuk menutupi kekuranganku, menutupi sifat asliku yang tertutup. Aku tak mau dicap aneh. Aku ingin dianggap orang normal. Aku ingin bisa berbaur dengan semua orang!
Tapi, rasa-rasanya, usahaku sia-sia saja. Seberapa banyakpun orang di sekitarku, segaduh apapun suasana di sekelilingku. Aku tetap kesepian.
Rasa kesepian di hatiku yang terdalam ini, entah bagaimana lagi cara menyembuhkannya. Bahkan, keluarga serta sahabatku yang bagai tak terpisahkan pun tak bisa mengobati kesepian ini seluruhnya.
Hampir setiap malam aku menangis, menangis karena tak bisa menghapus rasa kesendirian, karena tak mampu membuat orang melirik kearahku, sebagaimanapun aku menarik perhatian mereka. Aku tetap jadi 'tempat singgah' mereka. Tanpa bisa menjalin hubungan lebih lama.
Terlebih lagi, keluargaku yang sedang bertengkar diluar. Makin memperkeruh suasana hatiku. Aku disini tak bisa apa-apa, jika aku ikut berargumen disana, pastilah masalahnya bertambah panjang.
Mereka tak mengerti perasaanku! Mereka tau aku tak suka ada ribut-ribut di rumah, tapi kenapa mereka masih saja begitu?
Kemudian, terdengarlah suara kaca yang pecah serta panci yang dilempar. Sudah memakai cara kasar, ternyata.
Ya sudah, kalau kalian main kasar, aku juga pakai cara 'kasar'! Aku ga berguna kan? Aku ga bisa ngasih duit buat kalian hidup kan? Yaudah, ngapain aku hidup?
Kuambil obat paracetamol di kotak obat, kutelan puluhan tablet sekaligus. Ah, kurasa masih kurang. Ku telan lagi beberapa obat yang tak kukenali nama dan fungsinya. Tinggal menunggu waktu saja sampai efek sampingnya bekerja. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, mencari posisi senyaman mungkin.
Kira-kira, bagaimana reaksi orang-orang jikalau aku mati? Apakah ada yang sedih? Apakah mereka akan merindukanku? Apakah mereka mau mendoakan ketenanganku?
Semakin ku pikir, semakin aku menyesali keputusanku. Tak seharusnya aku bunuh diri seperti ini. Aku takut, bagaimana jika nanti aku disiksa di neraka? Atau aku bergentayangan di bumi?
Semua sudah terlambat. Aku tahu itu. Sebentar lagi hidupku di dunia ini akan berakhir. Tak ada gunanya aku menyesal.
Sebelum aku mati, alangkah baiknya aku meninggalkan pesan pada sahabatku. Wasiatku untuknya, teman-teman lain, keluarga, kuketik berpanjang lebar dalam satu kali kirim. Banyak sekali kesalahan ketik disana, namun kubiarkan saja. Mataku sudah terlalu lelah untuk meneliti dan tanganku pun sudah tak cukup kuat untuk mengetik lebih banyak.
Kubuka galeri foto di handphone ku. Memandang kembali wajah orang-orang yang akan kutinggalkan. Hasil karyaku baik gambar manual maupun desain grafis, serta foto pasangan dua dimensi kesukaanku. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Hingga kemudian, semua berubah menjadi gelap.
Ketika aku tersadar, aku telah berada di sebuah hutan... ya, jika dilihat dari siluet-siluet yang membentuk pepohonan di seberang sana. Hutan yang teramat gelap dan sunyi. Hanya warna hitam dan seberkas warna putih yang terlihat sejauh mata memandang. Seperti pada dunia monokrom.
Aku berusaha bangun hingga sekiranya posisiku terduduk. Lalu kukuatkan tulang-tulang kakiku yang seperti jelly ini untuk menopang tubuhku.
Iris mataku masih saja menelaah keseluruhan tempat di mana aku berada. Di sebelah kiriku seperti tak ada apa-apanya, betul-betul hitam. Sementara di sebelah kanan terdapat satu titik putih, bagai secercah harapan diantara ketiadaan.
Aku pun berjalan ke arah di mana titik itu berada, semakin dekat, dekat, dekat...
Ternyata, cahaya putih itu adalah sesosok lelaki.
Lelaki itu tinggi, putih, tampan, berhidung mancung. Mukanya persis sekali seperti pria dua dimensi yang kucintai. Bedanya, jika yang dua dimensi itu dikelilingi aura hitam, maka pria di depanku ini berselimutkan cahaya terang, penuh kehangatan.
Ia tersenyum ramah padaku. Ah, senyumnya saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk melupakan segala rasa gundahku. Semua masalah, semua penyesalan aku buang jauh-jauh.
Entah ini hanya imajinasiku yang ketinggian atau bukan, pria itu mendekatiku, lalu berkata sesuatu padaku seraya menyentuh lembut pipi kananku. Aku tak tau apa yang dikatakannya. Aku lebih suka memandangi wajahnya.
"Ehm... Maaf... apa kamu mendengarkan saya?"
Hah, apa aku tak salah dengar? Dia bertanya padaku? Aku tidak mimpi kan?
"Ya, kau tak bermimpi. Dan aku ini juga nyata, kok. Bukan cuma sekedar bayanganmu." Ah, ternyata ia dapat membaca pikiranku.
"A-aku tak bermimpi? Lah, terus sekarang kita ada dimana? Gelap begini..." tanyaku. Ia menjawab.
"Kita berada di antara surga dan neraka. Atau biasa disebut 'Limbo'." Ucapnya tanpa melepaskan senyuman manis itu dari wajahnya.
Pria itu pun tak lama kemudian menjelaskan, apa itu limbo dan siapa yang bisa masuk ke dalamnya. Tempat ini hanya bisa didatangi oleh orang-orang tertentu yang dirasa tidak cukup baik untuk masuk surga, dan tak cukup jahat pula untuk disiksa di neraka. Eits, bukan berarti jiwa-jiwa yang dikirim disini akan tetap berada disini selamanya. Jiwa-jiwa yang masuk ke sini masih akan dirundingkan oleh orang-orang 'atas', jika beruntung, kau dibawa ke surga. Jika sedang sial, kau digiring ke neraka. Sebagian besar jiwa yang berada di Limbo ini akan dikembalikan ke bumi. Entah itu dia hidup kembali, atau reinkarnasi. Tergantung berapa lama amal budi jiwa itu dirundingkan.
"Jadi sekarang aku sedang dibicarakan oleh 'mereka'?" tanyaku saat pria itu selesai menjelaskan.
"Ya." jawabnya singkat.
"Sambil menunggu, maukah kau temani aku sementara disini? Aku bosan, beberapa tahun ini tak ada arwah yang dikirim kesini." pintanya. Mimik mukanya yang imut membuat aku tak sanggup berkata 'tidak'. Ia menari kegirangan ketika mendengar jawabanku. Dan itu berhasil membuat jantungku berdegup kencang.
Dia mengajakku masuk ke dalam hutan. Duduk berdua di bawah pohon yang senantiasa meneteskan air perlahan, membasahi rambut kami. Ah, inikah yang namanya 'dunia milik berdua'? Betapa indahnya... Meskipun gelap gulita.
Ada satu hal penting yang lupa kutanyakan. Nama. Ya, nama. Sampai sekarang aku belum tau namanya. Aku bingung mau memanggilnya apa sedari tadi.
"Oh iya, daritadi kita curhat terus, jadi lupa nanya, nih. Namamu siapa ya?" dia melirik kearahku sebentar. Tersenyun miris, lalu menjawab.
"Aku tak punya nama."
"Bagaimana bisa?"
"Aku sejak 'lahir' memang seperti ini. Sejak lahir aku sudah ada di dunia serba hitam ini. Aku tak punya orang tua, dan yang aku tau. Yang 'Maha Kuasa' memanggilku 'Sang Penjaga Pintu'." jadi, dia dulunya bukan manusia? Dia diciptakan semata-mata untuk menjaga tempat ini saja? Pantas saja ia begitu kesepian. Aku menepuk bahunya pelan. Berusaha menunjukkan cengiran terbaikku.
"Bagaimana kalau aku memberimu nama?" ia nampak terkejut, tapi juga antusias. Ia mengangguk. Lalu aku pun menyambung perkataanku.
"Baiklah, namamu Bryan Viskiginia."
Tak ada respon...
"Nama apa itu? Aku tak pernah dengar..." ucapnya sembari memiringkan kepala.
"Memang aneh, tapi lumayan kan? Aku ambil nama itu dari 'seseorang' yang mirip denganmu, kemudian aku acak hurufnya dan jadilah nama itu." jelasku. Kedua sudut bibirku membentu setengah lingkaran.
"Mulai sekarang itu namamu ya! Aku panggil kau 'Bryan'."
Setelah itu, ia mengajakku berkeliling, melewati pepohonan rindang, sungai-sungai, gua, dan tempat-tempat lainnya. Overall, semua yang ada di sini sama dengan yang ada di bumi. Bedanya, di sini serba itam dan putih.
Kami berhenti di sebuah air terjun. Mengistirahatkan kakiku yang sudah pegal. Bryan duduk di sampingku, menenggelamkan telapak kakinya ke dalam air. Aku pun mencoba mengikutinya. Nyaman. Itulah kata yang pertama kali muncul di benakku.
Pikiranku melayang kemana-mana, seperti biasanya. Membayangkan apa yang sedang terjadi di bumi, lalu apa yang tengah dibicarakan orang-orang atas kematianku, dan entah kenapa, aku malah memikirkan ide cerita baru. Tentang gadis yang jomblo sampai mati lalu mendapat pacar di dunia akhirat. Wah, kayaknya itu bagus. Nanti aku ketik ah...
Dan aku baru sadar, kalau aku sudah mati. Gak mungkin bisa ketik cerita lagi. Ngenes banget, sumpah. Siapapun tolong putarkan lagu 'Kiss the Rain', donk.
'Hihihihihihihihihi...' Anjir, beneran dibukain pula. Si Bryan ada-ada aja deh.
"Lah, aku benar kan? Toh kamu sendiri yang minta dibukain lagunya. Harusnya kau berterimakasih donk!"
"Iiiiiihhhh... Ngapain aku berterimakasih sama kamu? Ga level!"
"Loh, kok ga level sih? Memangnya kamu siapa?"
"Aku yang punya tepat ini!"
"Perasaan yang punya tempat ini aku deh."
"Iya aku tau, tadi itu canda doank, hehehehe..." kataku diikuti dengan tawa renyah, Bryan pun ikut tertawa.
Waktu terus berjalan, entah sudah berapa lama aku berada di Limbo ini. Berdua saja dengan Bryan sang penjaga. Pria yang baik luar maupun dalamnya tak memiliki kekurangan sedikit pun. Ia adalah pelangi di antara hitam dan putih, kunang-kunang di antara langit malam, nyala api putih di antara hamparan kegelapan. Ia adalah segalanya bagiku.
"Hey, Canise, sepertinya tak lama lagi hasil sidang akan segera diumumkan." ucapnya, membuyarkan lamunanku.
"Hah? Cepat sekali... Aku masih mau disini..."
"Kenapa? Menurutku kau lebih pantas berada di surga dibandingkan di tempat ini..."
"Nggak! Aku ingin terus bersamamu!"
"Tidak bisa, aku sudah ditakdirkan untuk menjag-"
"AKU MENCINTAIMU!"
"A- apa maksudm-"
"I LOVE YOU!" speechless. Itulah reaksinya saat mendengar pengakuanku.
"TE AMO! ICH LIEBE DICH! RAKASTAN SINUA! YA TEBYA LYUBLYU" ia masih terdiam. Masih tak percaya.
"Harus kukatakan dalam berapa bahasa lagi baru kau mengerti? Aku suka kamu! Dari pertama aku bertemu denganmu! Aku tak mau dipisahkan darimu!" ucapku selagi meninggikan nada suaraku. Nafasku sengal. Harus kuakui, hal ini cukup menguras tenaga.
Bryan menatapku dengan mata berkaca-kaca, dahinya berkerut, suara sesengukan perlahan terdengar. Ia menyeka wajahnya yang basah terkena air matanya sendiri. Ia lalu menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya sambil sesekali mengusap-usap punggung lebarnya.
"Terima kasih, terima kasih..." ucapnya, masih memelukku.
"Terima kasih sudah mau repot-repot mencintaiku, sudah bersedia jadi temanku untuk beberapa hari, sungguh aku tak menyangka, ada orang yang sungguh-sungguh menyukaiku dan mau terus bersamaku..." sambungnya, ia mendekap kedua pipiku, mengelap pipiku yang kini dibasahi oleh air mata. Aku mengalungkan tanganku ke lehernya, mempersempit jarak diantara kami.
Detik-detik terindah yang pernah kulalui, dengan terpaksa kuakhiri ketika mendengar bunyi sangkalala dari atas, diikuti dengan seorang malaikat yang turun, disinari cahaya cinta perlahan menyilaukan.
"Canise Mogan, hasil sidang sudah kami umumkan. Anda akan dikirim kembali ke bumi sebagai diri anda sendiri. Saya akan mengantar anda sekarang." kata sang malaikat sopan.
"Tu-tunggu dulu! Bisakah kau beri aku waktu sebentar?" selaku, yah, setidaknya beri aku kesempatan terakhir untuk bicara dengannya...
"Bryan... " betapa bodohnya aku, aku yang meminta waktu, tapi aku juga yang tak tahu harus ngomong apa.
"Semoga saja kita dapat bertemu lagi ya..." ucapnya seraya tersenyum lirih. Aku mengangguk, lalu berjalan mendekati si malaikat.
"Selamat tinggal..."
Kini aku telah berada di rumah sakit, ayah, ibu, kakak, keponakan, dan teman-temanku semuanya mengerubungiku. Mereka memandangku dengan tatapan terkejut, ibuku malah pingsan saking terkejutnya. Kakak sulungku menangis haru.
"Canise! Cici' kira kamu udah mati, kamu gak bangun-bangun selama berbulan-bulan, hampir kami lepas alat bantu nafasmu..." kata kakakku sedikit tak jelas karena sambil menangis.
"Aku kira aku bakal kelihang- keli- kehilangan sahabat terbaik aku..." kali ini, sahabatku yang berbicara, gaya bicaranya yang gagap itu selalu berhasil menorehkan senyum di wajahku.
"Ya nggak lah, masa' sih Canise yang awesome ini mati secepat itu." kataku berusaha mencairkan suasana.
Selanjutnya, aku menjalani satu hari ini dengan bahagia. Tetap pada rutinitas sehari-hari. Pegang hp, buka aplikasi chat, dan menceritakan pengalamanku pada teman-teman dari luar kota -dan luar negeri-. Banyak yang tidak percaya, tapi ada juga yang percaya dan terkagum-kagum dengan ceritaku. Katanya, mereka juga ingin bertemu dengan-nya.
Setiap hari, aku tak pernah absen untuk berdoa, bersyukur atas segala karunia yang telah Ia berikan, atas pengalaman yang tak ternilai harganya, serta aku memohon agar suatu saat kami dapat dipertemukan kembali. Tak pernah lagi ada lelaki lain selain dirinya di hatiku. Sebab, aku telah berjanji pada diriku sendiri, untuk tak mencintai orang lain, setia menunggu sampai waktunya tiba.
Tiga puluh tahun sudah setelah kejadian itu. Aku telah menjadi wanita karir yang sukses, aku menikmati pekerjaanku sebagai Dubes Indonesia untuk Rusia, menjaga hubungan baik antar negara, mengabdi untuk kedua negara ini.
Aku juga harus berterimakasih pada pekerjaanku ini yang telah mengantarkanku pada seorang warga Rusia, yang menjadi pendamping hidupku. Dia lima belas tahun lebih muda dariku, namun kami tak peduli dengan itu. Sebab, cinta tak memandang usia.
Dia adalah lelaki tinggi berparas imut, berhidung mancung, dan memiliki senyuman yang mempesona. Dia pun amat baik, pengertian, dan bijaksana. Meskipun ia juga sedikit cengeng dan manja untuk ukuran pria, seringkali ia datang menghambur padaku ketika aku pulang dari kantor larut malam, memelukku sekuat mungkin, dengan alibi kangen lah, kesepian lah, ini lah, itu lah, kadang aku pun jengkel dibuatnya kalau sudah begitu. Tapi, sejengkel-jengkelnya aku, pasti ujung-ujungnya aku luluh juga. Aku lebih menganggapnya sebagai anak ketimbang suami.
Dan kalian tahu, siapa nama suamiku ini?
Dia bernama...
Bryan Viskiginia.