Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lima Syarat Surga Jalur VIP
Di kamar perawatan kelas Presidential Suite Rumah Sakit Medika Utama yang bertarif tiga belas juta rupiah semalam, H. Kohar terbaring lemah di bawah temaram lampu gantung kristal.
Pengusaha konstruksi berusia enam puluh lima tahun itu baru saja lolos dari serangan jantung tingkat menengah. Di dadanya terpasang tiga stang kateter. Tapi bukan ring jantung itu yang membuat napasnya menggeos-geos seperti mesin stoom balap tua.
Melainkan berita di saluran televisi kabel di dinding: KPK baru saja menetapkan mitra bisnisnya sebagai tersangka kasus suap izin tambang pasir. Dan nama 'H. Kohar' disebut empat kali dalam konferensi pers sore tadi.
"Ustaz..." suara H. Kohar parau, matanya yang sembap menatap cemas sosok di sebelah ranjangnya. "Saya ini... rasanya sudah tidak lama lagi. Kalau KPK datang atau malaikat maut yang datang duluan, saya sama-sama takutnya. Ada tidak... cara cepat supaya saya bisa amankan posisi di surga tanpa perlu lewat hisab yang berbelit-belit?"
Ustaz Syahrul—penceramah selebritis bertarif ratusan juta yang malam itu mengenakan gamis sutra impor dan kacamata bertangkai emas—membetulkan posisi duduknya. Dia mengeluarkan sebuah iPad Pro terbaru dari tas kulit hermes-nya, mengusap layarnya, lalu tersenyum selembut marmer masjid raya.
"Agama itu fleksibel, Pak Kohar," tutur Ustaz Syahrul dengan vokal bass yang terlatih dan menenangkan. "Di dunia ada fasilitas Fast Track bandara, di akhirat pun ada jalur khusus bagi hamba-hamba Allah yang diberi kelebihan rezeki untuk berinvestasi di jalan-Nya. Asal Bapak memenuhi Lima Syarat Paket VIP yang saya rancang ini, insya Allah kepulangan Bapak akan mulus."
H. Kohar memajukan kepalanya, matanya berbinar. "Apa saja lima syarat itu, Ustaz? Sebutkan angkanya. Berapa pun saya bayar!"
Ustaz Syahrul mengetuk layar iPad-nya.
Syarat Pertama: Diversifikasi Aset Pahala (Waqaf Blue Chip)
"Bapak tidak bisa cuma mengandalkan salat lima waktu dan puasa Ramadhan," jelas Ustaz Syahrul sambil menunjukkan grafik simulasi di layar tabletnya. "Itu cuma tabungan reguler. Untuk kelas pengusaha seperti Bapak, Bapak butuh Waqaf Blue Chip yang terus memproduksi pahala secara pasif. Saya sarankan Bapak membiayai pembangunan Kompleks Islamic Center 'Al-Kohar' seluas dua hektar di Bogor. Lengkap dengan sumur bor air minum gratis."
"Pahalanya bagaimana?" tanya Kohar antusias.
"Setiap tetes air yang diminum jamaah dan setiap sujud para santri akan masuk sebagai dividen pahala otomatis ke rekening akhirat Bapak. Bahkan saat Bapak sedang tidur pulas di alam kubur, pahalanya tetap mengalir 24 jam sehari. Bebas inflasi."
"Berapa biayanya?"
"Cuma lima miliar rupiah, Pak Kohar. Kecil untuk ukuran investasi akhirat."
H. Kohar mengangguk cepat. "Setuju! Catat! Lanjut syarat kedua!"
Syarat Kedua: Hedging Dosa (Penebusan Terstruktur)
"Syarat kedua adalah lindung nilai atau hedging dosa," lanjut Ustaz Syahrul dengan nada meyakinkan. "Bapak kan pernah beberapa kali main proyek... ya, sedikit menabrak aturan hukum manusia lah. Menggeser patok tanah warga, kasih amplop ke pejabat..."
H. Kohar terbatuk-batuk kecil, mukanya memerah. "Ya... ya begitulah, Ustaz. Namanya juga bisnis di Indonesia."
"Tenang, Pak. Dalam fiqih transaksi modern, neraca beban dosa bisa ditutup dengan surplus amal kebajikan di sebelah kanan. Syarat kedua ini: Bapak harus menyantuni lima ratus anak yatim piatu secara rutin dan memberangkatkan lima puluh tokoh masyarakat umrah VIP."
"Umrah VIP?"
"Iya, Pak. Kalau umrah yang biasa, doanya kadang tertahan di awan karena desak-desakan. Tapi kalau umrah VIP lima bintang, doanya langsung tembus ke Arsy tanpa hambatan lalu lintas langit. Dosa-dosa suap Bapak otomatis ter-cover oleh doa lima puluh jamaah VIP itu."
"Oke! Bagus! Saya eksekusi!" sahut Kohar gembira.
Syarat Ketiga: Tax Amnesty Akhirat (Pembersihan Aset)
"Nah, ini yang paling krusial," Ustaz Syahrul menurunkan volume suaranya, memajukan badannya. "Bapak masih punya rekening lima puluh miliar di bank asing yang belum sempat dilaporkan ke dinas pajak dan KPK, kan?"
H. Kohar melotot terkejut. "Ustaz tahu dari mana?"
"Allah Maha Tahu, Pak Kohar... dan saya punya kenalan di biro perbankan," senyum Ustaz Syahrul manis sekali. "Uang haram atau uang syubhat yang mendekam di rekening itu bisa menjadi bahan bakar api neraka yang menyala-nyala. Tapi kita bisa lakukan Tax Amnesty Akhirat."
"Caranya?"
"Keluarkan zakat pencucian sebesar sepuluh persen dari total dana itu—lima miliar rupiah—langsung ke Yayasan Bina Umat milik saya. Begitu dana sepuluh persen itu saya stempel sebagai infak dakwah, maka sisa empat puluh lima miliar di rekening Bapak otomatis dianggap bersih dan halal secara syariat. Bebas hisab di padang mahsyar!"
H. Kohar menepuk dahinya. "Luar biasa! Kenapa tidak dari dulu saya kenal Ustaz! Catat lima miliar!"
Syarat Keempat: Fast Track Sakaratul Maut (Doa Paralel 100 Hafiz)
"Syarat keempat adalah proteksi saat nyawa Bapak hendak dicabut," kata Ustaz Syahrul anggun. "Proses sakaratul maut itu sakit sekali, Pak Kohar. Rasanya seperti dikuliti kambing hidup-hidup. Tapi kita bisa sewa layanan Fast Track."
"Bagaimana teknisnya?"
"Saya akan siapkan seratus santri hafiz Al-Qur'an untuk bertugas secara shift di luar kamar ICU ini. Mereka tidak boleh berhenti mengaji Yasin dan Ar-Rahman secara paralel. Jadi saat malaikat Izrail datang hendak mencabut nyawa Bapak, dia akan segan karena mendengar gemuruh lantunan ayat suci dari seratus penghafal Al-Qur'an. Sakaratul maut Bapak akan terasa selembut diusap bulu domba."
"Berapa sewa santrinya, Ustaz?"
"Cuma lima ratus juta rupiah untuk paket siaga dua minggu."
"Murah! Saya ambil paket dua minggu!" seru H. Kohar penuh semangat.
Syarat Kelima: Pelunasan Honorarium & Sertifikat Khusnul Khotimah
"Dan syarat kelima... yang paling menentukan," Ustaz Syahrul mengeluar lembaran draf Kesepakatan Konsultasi Spiritual bermaterai sepuluh ribu. "Pelunasan honorarium konsultan dan garansi pendampingan spiritual sampai ke liang lahat."
"Berapa total semuanya, Ustaz?"
Ustaz Syahrul menekan kalkulator di iPad-nya. "Waqaf lima miliar, Umrah lima puluh orang tiga miliar, Tax Amnesty lima miliar, Doa Paralel lima ratus juta, plus fee konsultasi saya dua setengah miliar. Totalnya enam belas setengah miliar rupiah."
H. Kohar tidak ragu sedikit pun. Baginya, angka enam belas setengah miliar rupiah adalah harga yang sangat murah untuk membeli kavling surga VIP dan bebas dari kejaran neraka.
Dengan tangan gemetar namun puas, H. Kohar mengambil pulpen Montblanc-nya dan mencoretkan tanda tangan di atas draf MoU. Dia lalu mengambil buku cek Bank Swasta milik pribadinya dan menuliskan angka: Rp 16.500.000.000,- (Enam Belas Miliar Lima Ratus Juta Rupiah) atas nama Ustaz Syahrul.
"Ini ceknya, Ustaz..." kata H. Kohar sambil mengulurkan kertas berharga itu. "Jamin saya masuk surga ya, Ustaz..."
Ustaz Syahrul menerima cek itu dengan kedua tangannya, mencium aroma kertas cek yang wangi, lalu tersenyum mengangguk khusyuk. "Tenang, Pak Kohar. Surat garansi khusnul khotimah Bapak sudah aktif detik ini juga."
H. Kohar mendesah lega. Semua beban di dadanya mendadak menguap. KPK, dosa suap, perampasan tanah, dan ketakutan akan neraka... semuanya sudah selesai ditransaksikan dengan rapi.
Dia memejamkan matanya, mengulas senyum paling bahagia yang pernah dia miliki, lalu tertidur lelap.
Tiga menit kemudian, monitor jantung di samping ranjangnya berbunyi bip panjang yang datar: Biiiiiiiiiiiiiiipppp...
Garis merah di layar menjadi lurus. H. Kohar meninggal dunia dalam keadaan tersenyum tenang—meninggal dengan perasaan bangga bahwa dia baru saja menyuap surga.
Satu jam kemudian.
Ustaz Syahrul bergegas keluar dari Rumah Sakit Medika Utama membawa tas hermes dan cek sebesar enam belas setengah miliar rupiah. Dia langsung meluncur ke Kantor Cabang Utama Bank Swasta di pusat kota sebelum jam tutup kasir.
Dengan langkah tegap dan senyum mengembang, Ustaz Syahrul menyerahkan cek itu ke meja teller VIP.
"Saya mau cairkan cek tunai ini sekarang, Mbak," kata Ustaz Syahrul penuh percaya diri.
Gadis teller berwajah ramah itu menerima cek tersebut, menggesekkan barcode-nya ke scanner komputer, lalu menekan beberapa tombol keyboard.
Tiba-tiba, dahi teller itu berkerut. Layar komputernya berkedip-kedip merah.
"Maaf, Pak Ustaz..." kata teller itu ragu-ragu. "Cek atas nama Rekening H. Kohar ini tidak bisa dicairkan."
Senyum Ustaz Syahrul mendadak membeku. "Tidak bisa dicairkan? Kenapa? Saldo Pak Kohar itu ada ratusan miliar!"
"Saldonya memang ada, Pak..." jelas teller sambil menunjuk layar monitornya. "Tapi lima belas menit yang lalu, surat penetapan dari Pengadilan Negeri dan Penyidik KPK baru saja masuk ke sistem pusat kami. Seluruh rekening, aset, dan simpanan atas nama H. Kohar resmi diblokir total dan disita oleh negara terkait kasus tindak pidana pencucian uang."
Ustaz Syahrul berdiri membatu di depan loket. Wajahnya yang tadi berseri-seri mendadak pucat pasi seperti mayat.
"Ja-jadi... cek enam belas miliar ini tidak ada artinya?" suara Ustaz Syahrul gemetar hebat.
"Sama sekali tidak bernilai, Pak. Cuma selembar kertas kosong."
Di luar gedung bank, ponsel Ustaz Syahrul berdering kencang. Panggilan dari kontraktor proyek masjid Bogor dan agen travel umrah VIP yang menagih uang muka puluhan miliar. Di belakangnya, seratus santri hafiz Al-Qur'an sudah siap menagih uang sewa siaga dua minggu.
Sementara itu, jauh di alam kubur, H. Kohar mungkin sedang tersenyum menanti kavling surga VIP-nya datang—tanpa tahu bahwa cek pembayaran amalnya baru saja mental (cheque diblokir) di dunia!
Belitung, 2026
Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen".