Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Tapi aku kan baru cuti hari ini, lagian Aku udah selesaikan tugas terakhirku masak nasi goreng bumbu cinta. Apa lagi?”
Suara gerutuku terdengar keras bahkan di kamar apartemen kecilku sendiri. Selimut hangat masih membungkus kaki sementara salju mulai turun di luar.
Di seberang telepon, suara Bang Adrian terdengar memelas.
“Justru itu karena nasi goreng masakan terakhirmu itu, pelanggan istimewa di hotel kita jatuh cinta sama masakanmu, dan nggak mau pesan makanan apa pun selain makanan buatanmu.”
Aku langsung mendelik.
“Hah?”
“Dia akan membayar berapa pun kamu menyebutkan harganya.”
Aku mendengus.
“Bahkan kalau aku sebut satu miliar?”
“Kayaknya juga bakal dibayar.”
Aku bangkit duduk dengan kesal.
“Aku nggak mau menyia-nyiakan cutiku cuma karena satu pelanggan sok spesial yang minta dilayani harus dari masakanku. Kan ada Chef Henri yang senior, atau Chef Chen yang baru pulang dari Perancis.”
“Rei,” Bang Adrian menghela napas panjang. “Dia nggak mau makan masakan chef-chef itu meskipun sudah aku bilang mereka lulusan dari salah satu sekolah chef terbaik di Perancis, Le Cordon Bleu.”
“Terus?”
“Katanya nggak ada urusan sekolah tinggi dengan soal lidah dan cita rasa.”
Aku memicingkan mata.
“Sok bijak amat.”
“Dia bilang, ini soal cinta yang sesungguhnya.”
Aku terdiam beberapa detik.
“Maksudnya dia cinta sama masakanku atau sama aku?”
“Nah itu aku nggak tahu. Mungkin bisa kamu tanyakan sendiri.”
“Gila apa? Ini tengah malam!”
“Katanya nggak ada urusan tengah malam atau pagi kalau perut sudah minta diisi.”
“Dasar orang sok hebat,” gerutuku sambil bangkit dari tempat tidur. “Nggak tahu sekarang dia udah ganggu privasi orang karena maksa orang yang lagi cuti dan tidur, buat masak.”
“Sudahlah, datang aja ke sini.”
“Atau kamu mau apa?” aku menyipitkan mata curiga. “Mecat aku?”
“Enggak, Rei. Tapi tolonglah, ini demi reputasi hotel dan chef kita.”
“Iya, dan demi reputasi itu harus ngorbanin aku, tidurku, dan kenyamananku di saat salju mulai turun sekarang.”
“Aku transfer bonus sekarang juga.”
Aku langsung diam.
“Berapa?”
Bang Adrian tertawa kecil.
“Nah, gitu dong.”
“Huh.”
Aku mendengus kesal sambil bangkit menuju lemari mantel.
“Kayaknya dia memang nggak bisa dibantah ya?”
“Begitulah makanya aku minta kamu datang.”
Aku memasang syal dengan malas.
“Sehebat apa sih dan seganteng apa sih manusia yang soknya kelewatan begitu? Jadi penasaran aku.”
“Baguslah. Makanya ke sini.”
“Enak aja, maunya.”
“Ya kami juga mau dong kamu datang biar semua urusan di sini beres. Apalagi katanya dia kenal baik sama pemilik hotel dan restoran ini.”
Aku memejamkan mata beberapa detik.
“Kalau ternyata mukanya biasa aja, aku pulang.”
***
Dua puluh menit kemudian aku tiba di hotel.
Lobby masih terang meski hampir tengah malam, beberapa staf langsung terlihat lega saat melihatku datang.
“Chef Riela akhirnya datang!”
“Iya, iya, aku datang, jangan lebay.”
Bang Adrian langsung menyambutku seperti menemukan harapan hidup.
“Syukurlah.”
“Mana orangnya?”
Bang Adrian menunjuk ke arah private dining room lantai dua.
“Di sana.”
“Presiden?”
“Bukan.”
“Pangeran Arab?”
“Bukan.”
“Aktor Hollywood?”
“Lebih nyebelin.”
Aku mendecih.
“Kalau ternyata dia cuma orang kaya kurang kerjaan, aku sumpahin keselek parsley.”
Bang Adrian menahan tawa sambil membuka pintu ruangan perlahan.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Seorang laki-laki duduk sendiri di dekat jendela besar dengan pemandangan hamparan square yang berbalut salju. Jas hitamnya rapi, tangannya memegang cangkir kopi hangat. Rahangnya tegas, rambut hitamnya sedikit berantakan.
Aku berhenti melangkah.
Oke.
Sedikit terlalu tampan.
Saat mendengar pintu terbuka, dia menoleh pelan.
Matanya tajam, tapi anehnya terlihat kosong.
Dia berdiri.
“Akhirnya chef nasi goreng itu datang.”
Suaranya rendah dan tenang.
Aku melipat tangan di dada.
“Dan akhirnya saya bisa lihat pelanggan yang bikin satu hotel panik cuma karena lapar tengah malam.”
Bukannya marah, laki-laki itu malah tersenyum.
“Saya Ezra.”
“Riela.”
“Saya tahu.”
“Tentu saja tahu, Anda kan udah meneror hotel demi saya.”
Ezra terkekeh pelan.
Aku sedikit salah tingkah.
Sial.
Bahkan suara tawanya enak didengar.
Bang Adrian diam-diam kabur meninggalkan kami berdua.
Pengkhianat.
Ezra menarik kursi di depannya.
“Duduk?”
“Aku bukan tamu.”
“Tapi malam ini saya pelangganmu.”
Aku akhirnya duduk sambil mendesah malas.
“Jadi sebenarnya apa masalah anda? Kenapa harus saya?”
Ezra memperhatikanku beberapa saat sebelum menjawab.
“Saya sulit makan.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
“Saya kehilangan nafsu makan sejak dua tahun terakhir.”
“Nggak cocok sama makanan hotel?”
“Nggak cocok sama hidup mungkin.”
Aku mendadak diam.
Tapi dia melanjutkan dengan nada santai.
“Semua makanan terasa hambar. Mau chef bintang Michelin sekalipun hasilnya sama.”
“Lalu nasi gorengku tiba-tiba menyelamatkan hidup anda?”
“Kurang lebih begitu.”
Aku tertawa kecil tak percaya.
“Anda yakin bukan cuma lapar?”
“Saya sudah mencoba ratusan restoran.”
Ezra menatapku lurus.
“Tapi masakanmu beda.”
Aku mendadak salah tingkah.
Bahaya.
Aku paling nggak tahan dipuji serius begini.
“Mungkin karena aku masaknya sambil kesel.”
“Itu resep rahasia?”
“Mungkin.”
Ezra kembali tertawa kecil.
“Apa malam ini kamu mau memasak untuk saya?”
“Kalau aku bilang nggak?”
“Saya akan tetap duduk di sini sampai pagi.”
“Keras kepala.”
“Sangat.”
“Nyebelin.”
“Saya sering dengar itu.”
Aku berdiri.
“Oke. Tapi satu menu. Setelah itu aku pulang.”
Ezra mengangguk santai.
“Berapa pun harganya.”
Aku menoleh cepat.
“Serius?”
“Serius.”
“Kalau aku bilang sepuluh ribu dolar?”
“Saya bayar.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Fix. Anda memang gila.”
***
Malam itu aku memasak sup krim hangat dengan roti bawang panggang.
Ezra memakan suapan pertama perlahan.
Lalu berhenti.
Aku langsung waspada.
“Kenapa?”
Dia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya wajahnya terlihat hidup.
“Aneh.”
“Aneh gimana?”
“Saya bisa merasakan semuanya.”
Aku mengernyit.
“Memangnya sebelumnya lidah anda rusak?”
“Mungkin hati saya yang rusak.”
Deg.
Aku langsung memalingkan wajah sambil pura-pura sibuk membereskan meja.
Sial.
Kalimat itu terlalu bagus untuk jam segini.
Ezra menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Lalu mendongak.
“Saya mau pesan lagi.”
Aku melotot.
“HAH?!”
***
Malam itu aku pulang hampir subuh.
Dan sejak malam itu hidupku berubah total.
Ezra benar-benar mulai memesan makanan dariku setiap hari.
Awalnya hanya lewat hotel.
Lalu perlahan dia mulai meminta aku memasak langsung di penthouse miliknya.
Dan laki-laki itu benar-benar menepati ucapannya.
Dia membayar mahal.
Sangat mahal.
Dalam sekali memasak aku bisa mendapat puluhan ribu dolar.
Tabunganku untuk masuk Le Cordon Bleu perlahan mulai terkumpul.
***
Suatu malam aku sedang memasak onion soup di dapur apartemennya ketika Ezra duduk memperhatikanku dari kitchen island.
“Kamu sadar nggak?”
“Apa?”
“Kamu ngomel terus tiap masak.”
Aku melirik tajam.
“Aku multitasking.”
“Lucu.”
“Kamu juga aneh. Orang makan sambil merhatiin chef terus.”
Ezra tersenyum kecil.
“Saya suka melihat orang yang mencintai pekerjaannya.”
Aku memutar mata.
“Kata-kata orang kaya emang puitis ya.”
“Kalau saya miskin tetap puitis.”
Aku tertawa ringan tanpa sadar.
Dan itu mulai berbahaya.
Karena semakin lama, aku semakin nyaman dengannya.
Aku hafal kopi favoritnya, ekspresinya saat lapar, dan bahkan hafal cara dia diam memperhatikanku saat memasak.
Dan yang paling menyebalkan, Aku mulai menunggu pesan darinya.
Suatu malam saat aku selesai memasak beef stew, Ezra tiba-tiba bertanya,
“Kenapa kamu belum punya pacar?”
Aku hampir tersedak air.
“Itu pertanyaan apa?”
“Pertanyaan normal.”
“Nggak normal ditanya pelanggan.”
“Kita masih hubungan pelanggan dan chef?”
Aku mendadak diam.
Ezra berdiri lalu berjalan mendekat perlahan.
Deg.
“Tahu nggak kapan saya mulai tertarik sama kamu?”
Aku mencoba terdengar santai.
“Pas aku bikin nasi goreng cinta itu?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Pas kamu marah-marah waktu dipanggil tengah malam.”
Aku melotot.
“Hah?”
“Kamu cantik waktu kesal.”
“Penyakit anda ternyata parah.”
Ezra tertawa pelan.
“Tapi saya jatuh cinta setelah mencicipi masakan pertama itu.”
Jantungku seperti berhenti sesaat.
“Ezra.”
“Kamu tahu kenapa makananmu beda?”
Aku menelan ludah.
“Kenapa?”
“Karena kamu memasak dengan hati.”
Dia berdiri tepat di depanku sekarang, bahkan sangat dekat.
“Aku kira,” suaraku mengecil, “aku cuma chef buat kamu.”
Ezra menggeleng pelan.
“Kalau cuma chef, saya nggak mungkin cari alasan supaya kamu datang setiap hari.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Jadi selama ini,”
“Saya memang sengaja.”
“Manipulatif.”
“Sedikit.”
Aku menahan senyum.
Ezra ikut tersenyum kecil.
“Jadi sekarang saya mau tanya.”
“Apa?”
“Kalau saya minta kamu tinggal lebih lama di hidup saya.”
Tatapannya kali ini lembut seperti white lamp yang romantis.
"Berapa harga yang harus saya bayar, Chef Riela?”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu mendekat pelan sambil menahan senyum.
“Mahal.”
“Sebut saja.”
Aku menatap matanya lurus.
“Satu hati.”
Lelaki setenang Ezra terlihat langsung kalah telak.
Benar kata orang-orang, cinta datang bukan cuma lewat mata, tapi lewat lidah yang akhirnya bisa menemukan rumahnya.