Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SUDET, YARKO, DAN SEPIRING RAWON
Sepiring nasi rawon di atas meja. Asap putih mengepul tipis dari timbunan nasi putih yang nyaris tenggelam dalam kuah hitam. Beberapa potong dagingnya bermunculan di permukaannya, bak pulau-pulau kecil menjanjikan seribu nikmat. Beberapa potong kecambah terserak di pinggir, sebagiannya bersolek warna merah dari segumpal sambal merah menantang.
Pria yang sedang menghadapi sepiring rawon itu bernama Yarko. Temannya, Sudet namanya, duduk di depannya. Kedua tangannya yang berkulit gelap dan kurus memeluk satu lututnya yang naik ke atas kursi panjang itu.
Yarko, tangan kanan dan kirinya sudah erat memegang sendok dan garpu, mengeduk timbunan nasi dan daging sapi di piringnya dan menyuapkannya ke mulutnya. Sejenak dia mengunyah-ngunyah, lalu bergumam “Emmmh . . .!”. Matanya setengah terpejam.
“Mak nyus ya?” tanya Sudet, matanya lekat menatap suapan pertama itu.
“Apa? Mak nyus?!” Yarko agak protes. “Beh, itu mah ungkapan lama. Yang ini bukan mak nyus lagi, tapi . . . . kek gimana ya? Jlegeeer gitu-“ Yarko berhenti sebentar mengusap bibirnya yang sempat memuncratkan setitik air liurnya. “Rasa gurihnya menerjang tanpa ampun ke semua bagian mulutmu, hangat, gurih, dan . . . . sssshhhh, sulit digambarkan persis!”
Sudet menatap nanar daging rawon itu. Terbayang empuknya. Seolah tahu pikiran temannya, Yarko menyendok sekerat daging itu dan mengangkatnya di atas piring. Kuah bertetesan dari daging tersebut, yang lalu lenyap dibalik mulut Yarko.
“Biyuh, dagingnya Det, empuk banget, yaoloohh!” katanya setelah mengunyah tiga kali. Ia keduk lagi piringnya.
“Dahsyat pasti enaknya!” Surip berkata lirih. Lalu menelan ludah.
Yarko meneruskan kunyahannya. Mulutnya menggembung penuh nasi dan daging. Setelah menelan, ia suapkan lagi satu sendok nasi dengan daging berlumur kuah, kecambah, dan sambal merah.
Mata Sudet lekat menatap ke sesuap rawon itu lenyap di balik mulut Yarko. Sendok ditarik dalam keadaan sudah kosong. Kembali Yarko mengunyah, mulut menggembung, kepala sedikit mengangguk-angguk merasakan cita rasa panganan laknat itu.
Sudet berjuang susah payah menahan gejolak air liurnya dalam mulutnya.
“Terus ditambah ini,” Yarko menyendok sedikit sambal dari pinggir piring dan memasukkannya ke mulutnya yang masih setengah penuh. Mengunyah sejenak, lantas mulutnya berdesis.
“Beh! Pri, ini gila!” ucapnya menggelengkan kepala. “Rawon, cambah, plus sambal pedas. Enak gila, Pri!” ucapannya berhenti karena dia lalu berdesis-desis menahan pedas.
Yarko menyendok lagi sedikit kuah dan menyesapnya.
“Bahkan kuahnya pun nikmat sekali dihirup begini,” ocehnya.
Sekali lagi sendok itu meraup nasi, daging, kecambah dan sambal. Sekali lagi mulut Yarko menggembung dan gigi geliginya sibuk mengunyah. Sekali lagi desisan menahan pedas itu menguar dari lidah dan tenggorokannya. Mata Sudet tak berkedip menatap Yarko lumat dalam nikmat sepiring rawon.
“Kamu dah makan, Det?”
“Aku? Belum, he he he . . . .” Sudet terkekeh datar sambil menatap mata temannya.
Beberapa sendok nasi bersama daging, kecambah, bersalut sambal dan kuyup dengan kuah gurih itu masuk lagi ke mulut Yarko. Akhirnya habislah sepiring rawon itu. Piring licin tandas. Hanya sedikit kuah menggenang di pinggirannya bak sisa genangan air hujan di tengah panas terik.
Yarko bersendawa keras. “Alhamdulillaah, . . .” katanya dengan suara keras.
Sudet tersenyum. Pasrah dan kecut.
LIMA MANUSIA DI SATU MEJA
Perlahan Deetox menyusuri pinggir ruangan. Sekelompok wanita bersenda gurau di satu meja. Seorang di antaranya membisikkan beberapa kata, lalu teman-temannya meledak tertawa. Di meja sebelahnya, seorang pria paruh baya mendongak dan melihat ke arahnya. Tangannya melambai dan senyumnya merekah ke seorang lain di belakangnya. Mereka lalu bertegur sapa dan mulai berbicara entah tentang apa.
Deetox melangkah terus ke depan ruangan,melewati sebuah meja penuh tumpukan berkas dan kotak. Seraut wajah serius seorang wanita 30 an tahun sedang menekuni beberapa lembar kertas di atas meja itu, seolah-olah hidup matinya tergantung pada informasi di kertas-kertas itu.
Deetox sampai ke meja di ujung kiri ruangan. Dua orang sedang duduk di kursi-kursi di sekeliling meja itu. Salah satunya, seorang wanita berambut panjang dengan blazer hitam, sedang tenggelam ke dalam ponselnya. Orang satunya, seorang pria berkacamata dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih, duduk bersedekap sambil pandangannya menatap setengah kosong ke arah panggung. Deetox menyeret salah satu kursi tepat di sebelah si wanita. Pelan ia mendudukkan dirinya ke kursi.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut pendek dan berjaket kulit coklat muda datang ke meja itu. Senyum dan tawanya langsung merekah melihat sang wanita berblazer tadi. Mereka saling menyapa sambil berjabat tangan. Si pria mengambil kursi persis di sebelah sang wanita dan mereka langsung tenggelam ke dalam percakapan asyik. Si pria tua berkacamata tadi menengok sekilas ke arah mereka lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Seorang pria bertubuh tegap, berkacamata dengan bingkai hitam kotak dan berbaju batik dengan motif parang rusak datang dari belakang Deetox. Ia duduk di sebelah kanannya, mengeluarkan laptop dari tas hitamnya, lalu sibuk mengetik.
Tak lama kemudian, acara dimulai. Setelah pembukaan singkat oleh pembawa acara, beberapa pejabat penting memberikan sambutannya.
Deetox diam duduk di kursinya. Hanya sepenggal dari isi pidato-pidato sambutan itu yang bisa dia pahami, selebihnya hanya berupa untaian suara nyaris tanpa makna.
Pria berbaju batik tadi memakai parfum yang baunya menyegarkan. Aroma Citrus.
Pria berjaket coklat di sisi satunya terus mengeluarkan suara berdehem dan hirupan nafas kuat ke hidungnya. Mungkin dia sedang sedikit pilek, atau mungkin itu sudah fitur khas dari jati dirinya.
Wanita berblazer hitam di sebelahnya tekun menyimak setiap pidato. Sesekali senyumnya merekah, diiringi tepuk tangan singkat.
Bapak berambut putih di depan sendiri menerawang setengah hampa ke depan panggung. Sekali dia menoleh ke belakang menanyakan sesuatu. Tak ada yang menjawab. Deetox mengatakan sesuatu untuk menjawab pertanyaannya. Si bapak masih tetap dengan ekspresi tanyanya, lalu dia menghadap kembali ke depan. Mungkin pendengarannya sudah berkurang, atau mungkin dia tidak paham jawaban Deetox.
Acara selesai sekitar tiga jam kemudian. Deetox menghabiskan air putih di gelas yang sudah disediakan di meja itu. Sang pria berbatik mengemasi laptopnya, bangkit dari kursi, dan melangkah pergi. Sang bapak tua masih duduk di kursinya, tertegun-tegun sendiri entah kenapa atau tentang apa. Si pria tukang berdehem dan si wanita berblazer kembali terlibat percakapan seru.
Deetox memesan taksi Grab dari ponselnya.
BINTIK KERINGAT DI DAHI SANG MAKE UP ARTIST
Wanita ini Paitun namanya.
“Mbak Paitun?” tanya sang Make Up Artist (MUA) itu mengkonfirmasi.
“Yance,” jawab sang empunya nama. “Di KTP Paitun, tapi biasanya saya dipanggil Yance.”
“Oh, baiklah, mbak Yance.”
“Saya tahu dari manajer saya nama Anda sebagai MUA paling ngetop di kawasan ini,” kata Yance. “Saya sudah beberapa kali dirias MUA yang lain, tapi sampai sekarang belum ada yang memuaskan. Makanya saya datang kesini.”
“Mau menghadiri acara apa, mbak Yance?”
“Peresmian kantor Pusat Media Digital di hotel Arya,” jawab Yance. “Ada pak Walikota dan beberapa pimpinan perusahaan media dari seluruh Jawa. Saya jadi penerima tamu nanti.”
Sesaat mata sang MUA, Demix namanya, memandang lekat wajah Yance bak pemindai meneliti satu berkas dokumen.
Kulit wajahnya coklat gelap. Beberapa bintik hitam menodai pipi kirinya, sedikit di atas bibir. Kedua matanya lebar di bawah sepasang alis abu-abu nyaris lurus tanpa lengkungan. Bulu matanya pendek-pendek saja. Hidungnya agak pesek dengan kedua lubangnya sedikit mendongak. Bibir tebalnya yang merah redup mendekati gelap terkatup rapat.
“Bisa senyum dikit, mbak?” kata Demix seraya menyunggingkan senyum tipis ramah. Senyum kuda Yance sedikit merekah menguakkan beberapa gigi berukuran besar di balik bibirnya.
Sang MUA menyentuh dagu kliennya sedikit, mengangkatnya tipis untuk melihat lehernya. Leher itu pendek saja dan terkesan tebal, bak leher Mike Tyson sang petinju dahsyat yang sudah pensiun itu.
“Saya akan berusaha menyeimbangkan karakteristik wajah mbak sehingga terpancar sesuatu kecantikan yang alami,” Demix menjelaskan.
Dahi Yance agak berkerut mendengarnya. “Ya pokoknya bikin saya kelihatan cantik aja, mbak Demix,” katanya. “Saya ketemu banyak orang penting nanti.”
Demix mengulaskan cairan pelembap tidak berminyak pada wajah pelanggannya. Lalu ia dengan cermat menyapukan liquid foundation ringan pada wajah itu. Setengah jalan, gerakannya agak merandeg. Alisnya berkerut sedikit.
Ia teruskan lagi sapuan foundationnya.
Jemari Demix yang lentik memungut sebuah pensil alis soft black. Ia gunakan pensil alis itu untuk membentuk ulang alis Yance. Raut wajahnya serius dan nafasnya sedikit tertahan ketika jemarinya berupaya keras membentuk lengkung alis minimalis itu. Beberapa kali ia berhenti sejenak untuk mengamati hasil karyanya. Sesekali menggigit bibirnya dan menghembuskan nafas panjang sementara pandangannya lekat ke sepasang alis kliennya. Pada tahap akhir ia mengarsir sepasang alis itu dengan teknik sapuan rambut yang halus.
“Saya sudah bentuk ulang alis mbak, dan saya usahakan untuk membuatnya tetap kelihatan alami,” Demix menerangkan.
Kembali jemari lentiknya cekatan menjemba eyeshadow berwarna deep plum dan mengulaskannya pada sekeliling mata Yance. Selesai itu, ia mengulaskan eyeliner di garis bulu mata bagian dalam atas. Beberapa kali gerakannya seperti tersendat, pandangannya lekat menatap kedua mata kliennya di cermin, sebelum akhirnya tangannya bergerak lagi. Akhirnya ia letakkan pensil pembentuk tepian mata itu.
Kali ini tangan Demix sigap menjumput foundation. Ia ulaskan bahan itu ke wajah Yance, berusaha keras membuat hasil akhir yang berkesan satin. Di tengah jalan ia terhenti. Segera dihapusnya riasan itu dari wajah sang klien. Yance menatapnya dengan pandangan penuh tanya. “Kok?”
“Ya, maaf,” tukas Demix. “Yang tadi terlalu kuat. Nanti jadi kelihatan kayak pake topeng. Saya harus bikin hasilnya ringan sehingga kelihatan menyatu dengan warna kulit mbak Yance.”
Kembali jemarinya bekerja keras menyapukan foundation itu. Beberapa kali ia terhenti, memastikan hasilnya sudah pas, kemudian melanjutkan lagi. Beberapa bintik keringat muncul di dahinya. Ia jemba selembar tisu dan ia hapus butiran keringat itu.
Menengok jam tangannya, Demix berpindah ke mata Yance. Ia ulaskan concealer dengan undertone hangat. Kembali jemari lentik tangannya bekerja keras menggarap daerah mata sang klien.
“Ini untuk membuat daerah mata mbak Yance lebih cerah,” ujarnya.
Beberapa menit kemudian, ia selesai. Ia pandang hasil akhirnya. Wajahnya menatap lama, kepalanya sedikit miring seolah mencari sudut pandang yang lebih memuaskan. Ia hembuskan sekilas nafas pendek, lalu bergerak ke langkah selanjutnya.
Kembali jemari sang MUA beraksi. Kali ini menggarap wilayah sekitar hidungnya. “Saya bikin kontur yang pas supaya hidung mbak Yance kelihatan–” ia berhenti sebentar, perhatiannya terfokus penuh ke tepi hidung sang klien. “--lebih menonjol.”
“Lebih mancung, maksudnya?” Yance bertanya. Sang MUA mengangguk sambil merekahkan senyum penghiburan.
Selesai di area hidung, kembali tangan sang MUA bergerak cepat menyapukan highlighter berwarna emas. Kuasnya merambah tulang pipi, batang hidung, dan lengkungan di atas bibir. Lalu berhenti sejenak. Kembali Demix menatap bagian-bagian itu, seolah menunggu keajaiban sentuhan kuas highlighternya tadi.
“Nah, sekarang bibir, mbak,” ucap Demix.
Kembali jemari lentik Demix mengulaskan lip liner coklat, disusul lipstick berwarna berry pada bibir Yance. Sekali lagi ia menatap hasil garapannya pada sepasang bibir tebal itu. Ekspresi wajahnya datar.
“Nah, lanjut ke bulu mata, ya, mbak,” Debbi berujar.
Ia pasangkan maskara agak panjang untuk melengkapi paket riasan mata itu.
Lalu ia menatap lama pantulan wajah Yance di cermin. Ekspresinya masih datar. “Sudah selesai, mbak Yance,” akhirnya ia berkata lirih.
Yance terdiam agak lama menatap wajahnya yang sudah berhiaskan riasan dari sang MUA. Ia palingkan kepalanya sedikit ke kiri dan ke kanan. Dengan kening agak berkerut, ia cermati semua anggota wajahnya, mulai dari dahi, alis, bulu mata, pipi, dan bibirnya. Ia angkat sedikit alisnya, dan menggerakkan dan melipat bibirnya beberapa kali. Di belakangnya, wajah Demix menyeruak, ikut menatap raut pelanggannya sambil mengatupkan kedua bibirnya erat.
“Sudah lebih cantik,” Demix berujar membuat pernyataan. “Nanti kalau mbak Yance sudah di luar ruangan dan kena sinar lampu, pasti akan kelihatan lebih glowing.”
Yance lalu bangkit dari kursinya, menyelesaikan pembayaran, lalu melangkah keluar pergi meninggalkan ruangan. Demix masih dalam hati mengharapkan sekedar ucapan “terima kasih” dari Yance, namun kata itu tak terucap. Yance hanya mengangguk sekilas kepadanya lalu melenggang pergi bak angin lalu.
Grace, sang asisten yang sejak tadi mengamati Demix merias Yance, muncul di belakangnya. “Selesai, mbak?” tanyanya. “Bagaimana?”
“Fiyuuh . . . sampai berkeringat aku,” Demix berkata. Tawa getirnya terlontar.