Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Lensa yang Retak
0
Suka
10
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jam dinding itu terus memperhatikanku di tengah kesunyian malam. Aku berusaha menatapnya balik secara cuma-cuma, mempertegas diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Namun nihil, mataku masih belum juga terpejam.

Sudah enam bulan terakhir ini aku akrab dengan insomnia. Burnout karena pekerjaan benar-benar menyita waras yang kupunya. Orang-orang mengenalku sebagai fotografer yang handal, si paling bisa menangkap momen bahagia lewat lensa kamera. Akibatnya, rentetan proyek dari klien terus berdatangan dengan tenggat waktu yang mencekik, membuatku kehilangan waktu untuk sekadar menarik napas dan mengisi ulang energiku sendiri.

Di tengah heningnya malam, lamunanku terpecah. Besok agenda paling mendebarkan bagiku. Untuk pertama kalinya, aku menerima tawaran membuat video promosi di sebuah tempat yang asing, yakni klinik psikiatri bernama "Cahaya Hati".  

Aku memang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan insomnia dan kecemasan ini. Saking lamanya, perlahan-lahan aku mulai kehilangan minat pada dunia fotografi hal yang dulunya sangat kucintai. Rasanya luar biasa melelahkan. Bagaimana tidak? Pekerjaanku menuntutku untuk terus menjelajah, memeras kreativitas, dan mengeksplorasi sudut pandang baru dalam setiap pemotretan. Sementara di satu sisi, raga dan jiwaku justru sudah muak dan ingin berhenti.

Beberapa temanku sebenarnya sudah berulang kali menyarankan agar aku pergi ke profesional. Namun, aku selalu menolak, berlindung di balik egoku yang keras kepala. Aku masih termakan stigma usang masyarakat. Ketakutan bahwa melangkah ke psikolog atau psikiater sama saja dengan melabeli diriku sendiri sebagai orang gila. Aku tidak mau dicap lemah, apalagi tidak waras.

Padahal, setiap harinya kecemasanku selalu bertambah. Aku mulai takut akan banyak hal yang diluar nalar. Sensasi aneh dalam tubuhku perlahan-lahan mengecohku dengan pintar. Jantungku berdetak cepat hingga nafas tersenggal-senggal. Tangan dan kakiku mendadak dingin seperti es. Kepalaku terasa sangat berat hingga hampir beberapa kali hilang keseimbangan. Bahkan, rasa mual tak tertahankan membuatku kehilangan fokus ketika memotret. Namun ironisnya, setiap kali aku panik dan memeriksakan diri ke dokter, hasil laboratorium selalu menunjukkan hal yang sama, fisikku normal dan baik-baik saja.

*****

Aku beranjak menyambut pagi dengan kantung mata yang menggantung, benar-benar tidak tidur semalaman. Nampak di cermin, wajahku kusam tidak beraura. Lesu dan nampak malas. Tetapi, hari ini aku harus bekerja secara professional mengingat agenda pembuatan video promosi di klinik Cahaya Hati.

Aku memaksakan diri untuk bersiap meski tubuhku seperti menolak. Lantas, tanganku segera mengemas kamera, lensa dan beberapa alat tempur dalam tas biru andalanku. Mempercepat langkahku untuk segera mandi dan bersiap.

Namun, sepanjang perjalanan di atas motor, kepalaku tidak bisa tenang. Pikiranku terus dipenuhi ketakutan.

"Bagaimana situasi di sana nanti? Bagaimana kalau di tengah-tengah syuting, serangan panik itu datang lagi?"

Sudahlah, mungkin memang sudah sepertinya aku mengalami hal seperti ini. Kini saatnya bekerja kembali. 

Sesampainya di Klinik Cahaya Hati, langkahku tertahan. Pandanganku disambut oleh hamparan rumput hijau yang rapi, diselingi kelopak mawar yang bermekaran seolah-olah sedang menyambut kedatanganku. Langit yang tadinya mendung kelabu, mendadak berangsur terang, siap menyapa bumi. Suasana ini, perlahan membuat debaran di dadaku berangsur reda.

Aku melangkah masuk, menyusuri setiap ruangan yang nantinya akan kujadikan spot utama dalam video promosi. Langkah kakiku mendadak terhenti ketika berada di taman klinik. Banyak sekali pasien psikiatri dari mulai yang muda sampai yang tua. Mataku tertuju kepada mereka yang sedang menjalani sesi terapi di luar ruangan. Beberapa diantaranya ada yang sedang memainkan bola voli, menyanyikan sebuah lagu, menari-nari, mengobrol satu sama lainnya. Mereka nampak seperti orang-orang pada umumnya.

Keasinganku perlahan memudar. Tripod sudah mulai ku pasang di setiap sudut halaman. Aku mulai membidikan lensa, merekam setiap momen untuk dijadikan bahan highlight utama dalam video promosiku.

Saat aku sedang sibuk memutar fokus lensa untuk menangkap salah satu ekspresi seorang pasien dari kejauhan, tiba-tiba bayangan seseorang sedang mendekat. Bidikan lensaku mendadak gelap. Rupanya terhalang oleh seseorang pasien. Sesegera mungkin aku menurunkan kamera lalu mendongak ke arahnya.

Seorang pria muda bertubuh atletis seumuranku berdiri tepat di depanku. Dia mengenakan kaos putih dan celana jeans biru sambil tersenyum hangat menyapaku. Di tangannya, membawa buku catatan harian yang tebal miliknya.

"Kameranya bagus mas, cocok banget buat ambil gambar candid di taman kayak gini. Pake lensa prime ya?" sapanya santai, sambil menebak alat tempurku.

Aku mematung beberapa detik, kedengarannya aneh. Bukan karena dia mengerti soal fotografi, tetapi karena berperawakan rapi dan pembawaannya yang tenang. Lantas, dia mempekenalkan dirinya kepadaku. Namanya adalah Fadil.

"Eh, iya Mas.. ini lensa ukuran 50 mm," jawabku gugup sambil menjabat tangannya.

"Dulu saya pernah belajar fotografi dikit-dikit sebelum akhirnya kepala saya eror dikit, hehe," Fadil tertawa ringan dengan leluconnya. 

"Saya pasien disini dan sekarang lagi nunggu jadwal terapi siang ini Mas," ucapnya hangat.

Mendengar pengakuannya, dadaku kembali berguncang. Aku melihat sekeliling, lalu berdesir ke arah Fadil.

"Maaf Mas, nggak canggung berobat ke tempat seperti ini?" ucapku dengan sangat amat pelan penuh kehati-hatian.

Fadil justru tidak tersinggung. Dia terkekeh pelan dan tertawa. Matanya mengarah ke lensa kameraku yang bergantung rapi dileherku.

"Awalnya iya Mas, takut banget dicap gila atau kurang bersyukur sama orang-orang. Tapi, setelah dipikir-pikir berobat kesini tuh sama aja kayak kita berobat ke dokter umum. Mas nya fotografer kan?" ucap Fadil sambil menerawang taman, lalu menatapku kembali.

Aku mengangguk pelan dan masih menyimaknya.

"Mas, kalau misalnya kamera punya Mas kena debu, autofokusnya buyar, atau mekanik didalamnya eror sampai gak bisa motret Mas bakal diem aja? atau kameranya mau Mas umpetin di lemari karena malu?" 

"Ya enggak lah Mas, pasti langsung ku bawa ke tukang service, biar langsung diperbaiki sama ahlinya," jawabku spontan.

Fadil tersenyum lebar, lalu menjentikkan jari jemarinya.

"Tepat sekali. Begitupun ketika jiwa kita rusak, lagi burnout, ngerasa stuck, hampa, cemas, nggak bisa fokus buat ngelihat masa depan. Berarti, sudah saatnya kita fokus perbaikan. Makannya saya, memberanikan diri ke Psikolog sama Psikiater untuk memperbaiki itu Mas. Kabar baiknya, emosiku perlahan stabil."

Aku mengangguk pelan dan sedikit mematung. Sulit mempercayai bahwa orang yang sedang berbicara denganku adalah orang yang sama persis dengan apa yang kualami selama enam bulan terakhir. 

"Psikolog atau Psikiater itu adalah mekanik buat jiwa kita yang lagi eror. Bukan, berarti kita beneran gila Mas," ucap Fadil santai.

"Oh iya Mas, Mas nya hebat. Semangat pulih ya," ucapan itu tiba-tiba terlontar dalam bibirku tanpa aba-aba.

Aku tertegun, dan begitu terpukau oleh penuturan Fadil. Seketika, perkataannya mulai meruntuhkan ego ku. Hatiku kembali berbicara, untuk segera menemui professional. Aku tidak boleh membiarkan kameraku rusak selamanya.

Tidak lama setelah itu, seorang perawat memanggil nama Fadil melalui pengeras suara. Fadil berpamitan denganku sambil menepuk pundakku pelan, menyisakan kehangatan yang menjalar di hatiku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku dengan sisa energi yang entah datang dari mana.

*****

Seminggu kemudian, konten video promosi klinik Cahaya Hati sudah kubuat. Kesannya hangat, indah, penuh harapan dan jauh dari kata menyeramkan. Pihak klinik sangat puas ketika melihat hasilnya. Hari itu juga, aku datang bukan sebagai fotografer tetapi juga pasien psikiatri. Aku datang tanpa membawa tas biru berisi peralatan tempurku, melainkan diriku yang sudah lama rapuh. 

Setelah menyerahkan flashdisk hasil video jadi ke kepala klinik, langkahku tidak berjalan ke parkiran. Aku dengan keikhlasan hati, mendaftarkan diriku menuju meja pendaftaran.

​"Mbak, saya mau buat janji temu dengan psikolog untuk minggu ini. Atas nama saya sendiri."

​Saat selembar kartu antrean berpindah ke tanganku, aku menatap langit siang yang cerah di luar jendela. Untuk pertama kalinya setelah enam bulan yang kelam, aku merasa duniaku perlahan-lahan mulai menemukan fokusnya kembali.

Tamat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Lensa yang Retak
Skaya
Novel
Bronze
10% : Sepuluh Persen
Hendra Setiawan
Novel
Derita Istri Muda
Novia dewi
Novel
Aksara Harsa
P' Jee
Flash
Kursi Goyang Nenek
Sulistiyo Suparno
Novel
MENYENTUH HATI
Voni lilia
Novel
Bronze
MEMOAR SANG PENULIS
Ratna Ning
Cerpen
Bronze
Terima Kasih Pernah Singgah Di Hati
Daud Farma
Novel
BOBI
Andika Putra Adi Prasetyo
Novel
Bank Rahasia
Johanes Gurning
Komik
Bronze
I For myself
Astira Izzatul Azzahra
Novel
TETANGGA RAYA
Alfiatun Umi Latifah
Cerpen
Bronze
Kenapa Anggi Memutuskan Arwan dan Memintanya Menikahi Ane
Habel Rajavani
Flash
Senjata Andalan
Mufidah Raihana
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Rekomendasi
Cerpen
Lensa yang Retak
Skaya
Cerpen
Kado Seharga Kelas Pekerja
Skaya
Cerpen
Anastesi di Jari Jemari Kiri
Skaya
Cerpen
UMR PAS-PASAN
Skaya
Flash
Memendam Rasa
Skaya
Cerpen
Anak Jalanan
Skaya
Flash
Have Fun, Muka Dua!
Skaya