Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
LEMBAYUNG (Perempuan yang Kupanggil Mama)
2
Suka
110
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ini bukan cerita tentang luka yang kualami, namun sebuah kisah tentang luka yang kutemukan. Aku fikir mengenal seseorang itu sangat mudah, apa lagi kita tinggal serumah dengannya, makan bersama setiap pagi malam, dan selalu mendengarkan ceritanya setiap hari.

Ternyata aku salah.

mungkin aku tau makanan kesukaannya, aku hafal bagaimana suara tawanya, aku tau minuman yang selalu ia pesan, bahkan akupun tau bagaimana ia mengalihkan pembicaraan setiap kali tidak ingin menjawab pertanyaanku.

Tapi.... aku melupakan sesuatu

Aku tidak tahu siapa Mama sebelum menjadi mamaku, aku hanya melihat sosoknya sebagai mama, tanpa benar-benar tahu ada apa dan siapa di baliknya.

Dan aku baru menyadari, bahwa aku tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana masa kecil mama? bagaimana perasaan mama? Hingga bagaimana dia melewati hari-harinya. Yapss.... Dan itulah penyesalan terbesar dalam hidupku.

“Aku terlambat mengenal perempuan yang selama ini kupanggil Mama.”

Namaku lembayung, anak muda yang beranjak dewasa dan sedang membantu mamaku sembuh dari luka masa kecilnya dengan bercerita. Awalnya aku mengira hal paling menyakitkan adalah putus cinta. Ternyata hal itu tidak seberapa menyakitkan, hingga aku mengetahui orang yang kusayangi  menyimpan banyak luka masa lalu. Dan, ya... itu jauh lebih menyakitkan buat ku.

Waktu itu mungkin usia mama lebih muda dari ku, i think 12 atau 14 tahun, entahlah mama pun juga lupa. Mama ku mengalami lupa ingatan yang sampai saat ini masih membuatnya tidak mengingat apapun tentang dirinya. Lucunya dia ingat semua rumus kimia mulai dari Hidrogen (H) sampai oganeson (OG). Mama sudah berobat ke dokter saraf spesialis memori, Namun tidak ada diagnosis yang mamaku dapat, segala obat telah di minumnya, segala jamu herbal pun sudah larut dalam darahnya. Tapi ingatannya? Tetap saja tidaaakkk kembali.

Tapi ada satu hal lagi yang harus kalian tau, ingatan mama tentang papaku tidak pernah hilang sama sekali. Mulai dimana dia ketemu papa, bagaimana baiknya papa, bagaimana perhatian papa, hingga dimana pertama kali mereka makan keluar pun mama ingat. Hahahahaha..... lucu memang, dan dari situlah secelah harapan muncul dalam diriku.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mama. Aku hanya seorang anak yang sedang berusaha memahami luka yang tidak pernah kualami sendiri. Karena itu, aku mulai membaca berbagai artikel dan mencoba memahami mengapa seseorang bisa kehilangan sebagian ingatannya. Dari semua yang kubaca, aku menemukan istilah amnesia disosiatif, yang mana merupakan sebuah kondisi ketika pikiran memilih untuk menyembunyikan sebagian kenangan karena luka yang terlalu berat untuk dihadapi. Aku tidak tahu apakah itu yang dialami mamaku atau bukan, aku pun masih bertanya-tanya sampai cerita ini kutulis. Namun, satu hal yang kutahu, aku ingin mama kembali mendapatkan apa yang seharusnya mamaku miliki, aku tidak ingin cerita-cerita mama ikut dikubur bersama kakek seperti yang sering mama katakan padaku dengan candaan khasnya. Karena itulah, aku mulai mengajaknya bercerita, dan menuliskan setiap kepingan kenangan yang mungkin dapat aku temukan saat ku gali lebih dalam lagi.

Mamaku sendiri merupakan seorang yang cukup mengalami fase naik turun dalam hidupnya, semua berawal dari kelihangan papanya untuk selama-lamanya, wich is itu my grandpa gaesss.... Yassshhh kakek aku udah meninggal sejak mama berusia 17bulan, dimana anak yang seharusnya selalu berjumpa dengan ayahnya kini harus berjumpa dengan kenyataan kalo mama harus kehilangan sosok itu.

Kenapa pahit? Karna dari situlah semua berawal. Mamaku bukan lahir dari keluarga kaya, bahkan sepeninggalan kakek, nenek harus berjualan dari sd ke sd untuk mengganti sebuah telur yang dipinjamnya malam sebelumnya. Dengan status keluarga yang cukup memprihatinkan, goresan-goresan tajam pun sering menyayat hati keluarga kecil mamaku. Waktupun terus berlalu, dengan semangat dan keyakinan mama, eyang uti, dan mama citra, keluarga kecil ini mampu melewati semuanya dengan suka cita. Waittttt kalian pasti bertanya kan siapa mama citra? Oke oke, mama citra ini adalah kakak mamaku, di keluarga kami memang seperti itu paggilannya, tidak ada bude maupun aunty layaknya orang-orang diluar sana.

Hari demi hari berganti, keluarga kecil ini mulai membuka warung dawet dan oseng mercon di ruko pinggir jalan. Satu tahun berlalu dengan cukup menyenangkan. Semuanya bahkan terlihat sempurna. Namun, pada siang yang terik itu, ponsel Eyang Uti berdering..

Seorang laki-laki tua menelepon Eyang Uti saat itu. Laki-laki tersebut adalah adik dari Uyutku, sebut saja Mbah Sura. "Halo sar, assalamu'alaikum"

Dengan nada baik eyang ku menjawab " Waalaikumsalam, mbah sura" eyangku terlihat  senang waktu itu, kata mama. Mungkin dipikirnya akan ada kabar pesanan masuk siang itu.

Namun Bukannya pesanan masuk yang di dapat, justru sebuah kabar aneh yang akhirnya mengubah banyak hal.

"Sar ini mbak ana mimpi dapat wasiat suruh mencarikan istri untuk pak Adi bojone. Lha di mimpi itu dia minta kamu jadi istrinya. Kira-kira bisa ketemu kapan? Buat kita bahas lg" Seketika udara siang itu terasa panas dingin tak menentu untuk eyangku.

Penolakan dari eyang uti ku sama sekali tidak mempan. Makin hari warung kecil itu semakin terasa sesak, bukan karna pembeli namun dari kunjungan keluarga yang terus berusaha memberikan berbagai kisah yang membuat keluarga kecil mama terasa terpojok.

Tak terasa dua bulan berlalu hubungan eyang uti dan bapak Adi ini semakin dekat. Semua keluarga tadi senang sekali sampai lupa memikirkan perasaan putri kecil eyang yang selalu bilang "aku gak mau punya papa". Mendengar cerita mama ini, cukup membuatku bertanya dalam hati apa yang mereka pikirkan saat itu, atau mungkin sebuah surga? Lalu bagaimana jika perjodohan ini terus membuat luka yang tak pernah sembuh?

Aku tidak tahu jawabannya, bahkan aku belum ada di sana ketika semua itu terjadi. Aku hanya bisa mendengarkan cerita Mama dari potongan-potongan ingatan yang masih tersisa. Dan semakin banyak aku mendengarnya, semakin aku sadar bahwa mungkin ada banyak hal yang dulu tidak pernah benar-benar dipahami orang-orang di sekitarnya. Termasuk perasaan seorang anak kecil yang hanya tahu bahwa ia tidak ingin kehilangan tempatnya di sisi Eyang.

Ucapan mama yang terus berulang, dibarengi rengekan seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, sempat membuat eyang ragu. Berkali-kali beliau menolak. Berkali-kali pula keluarga datang dengan berbagai alasan yang membuat penolakan itu perlahan runtuh. Sampai akhirnya, ada satu hari ketika eyang datang ke rumah Pak Adi untuk merawatnya yang sedang sakit. Mungkin, rasa iba memang sering datang tanpa permisi. Dari situlah semuanya berubah.

Tiga bulan setelah perkenalan itu, di tengah berbagai cerita, bujukan, bahkan fitnah yang terus bermunculan, eyang akhirnya menerima lamaran Pak Adi. Yasshhh... beliau adalah eyang kakung ku sekarang.

Lalu, apakah mama bahagia dengan pilihan eyang? Tentu, mamaku ikut bahagia melihat eyang menemukan teman hidupnya. Tapi di saat yang sama, mama juga sedang berduka. Mengingat cinta pertamanya telah lama pergi dan tak mungkin kembali, kini... rumah yang selama ini selalu menunggunya, perlahan berubah menjadi milik banyak orang.

Mama hanya duduk diam di meja penerima tamu sepanjang acara pernikahan itu berlangsung. Tidak ada yang mencarinya, tidak ada yang mengajaknya berfoto. Bertahun-tahun kemudian, saat aku membuka album pernikahan itu, aku baru menyadari satu hal. Hampir semua orang ada di dalam setiap lembar foto itu. Eyang uti, eyang Adi, anak-anak eyang Adi, bahkan keluarga besar lainnya.

Tapi mama....? Tidak ada.

 Hanya ada satu foto mama duduk di meja penerima tamu bersama satu wanita lainnya. Senyumnya tetap mengembang, tetapi tatapannya kosong, seolah tubuhnya ada di sana, sementara hatinya tertinggal di tempat lain.

Bayangkan saja, seorang anak berusia dua belas tahun yang seharusnya menerima kasih sayang dan belajar memahami dunia dari orang-orang yang paling ia cintai. Sekarang justru dipaksa belajar menerima kehilangan untuk kedua kalinya. Hari itu mama memang tidak kehilangan eyang, namun mama kehilangan satu lagi tempat pulangnya. Anak kecil yang seharusnya duduk di barisan paling depan bersama keluarga, justru berada di sudut yang paling jauh dari orang yang paling ia cintai.

Jujur, saat ku menuliskan bagian ini, dadaku terasa sesak. Aku membayangkan bagaimana bingungnya mama saat itu. Seperti ada begitu banyak perasaan yang datang bersamaan, tetapi usianya masih terlalu kecil untuk memahami semuanya. Bahkan saat ku tanya

"mama oke menceritakan ini?"

Mama hanya mengangguk dan tersenyum sembari bilang "tp mama gak tau mama dulu disana ngapain aja dek, mama lupa" Sembari tersenyum dan mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh cukup deras. 

"It's okay, Ma," kataku sambil menggenggam tangannya. "Ayun sayang mama. Kita sudahi dulu ya. Ceritanya bisa kita lanjutkan nanti, kalau mama sudah siap."

Tidak ada lagi jawaban dari beliau, hanya pelukan erat dan bahu basahku yang membuat ku tersadar ada luka yang begitu dalam sampai-sampai ingatannya pun memilih menyembunyikannya.

Ma, Ayun nggak pernah tahu apa yang sudah mama lewati. Seberapa berat hari-hari yang mama simpan sendirian. Tapi setiap kali mama tersenyum sambil berkata, "Mama lupa," Ayun merasa bukan ingatan mama yang pergi, tapi ada bagian dari hidup mama yang sedang berusaha melindungi diri mama atau mungkin ada kenangan yang memang terlalu sakit untuk mama ingat.

Mungkin kali ini aku memang terlambat mengenal Mamaku. Tapi kali ini pula aku nggak mau terlambat lagi untuk mengenalnya lebih dalam.

Ma, maafkan Ayun selama ini Ayun terlalu sibuk hingga tak menyadari ini semua, maafkan ayun lupa kalo Mama juga pernah menjadi seorang anak, kalo mama juga memiliki masa lalu, kalo mama pernah punya rumah, punya ketakutan, punya kesedihan, punya cerita yang mungkin tidak pernah sempat diceritakan kepada siapa pun.

Maaf karena Ayun terlambat mengenal Mama.....

Maaf karena selama ini Ayun hanya tahu bagaimana menjadi anak Mama, tetapi tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana rasanya menjadi Mama.......

Terima kasih ma.......

“Terima kasih telah menjadi mama hebat yang tidak pernah mewariskan luka masa kecil mama ke Ayun.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
LEMBAYUNG (Perempuan yang Kupanggil Mama)
Agustia Dzikir Maulani
Cerpen
Bronze
Rahasia di Balik Surat Cerai
Dewi Anggraini
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
Percakapan Error
Nursan
Cerpen
Melepas Kala
Nurul faizah
Cerpen
Bronze
TRIJATHA
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
Pembaca Baju
Ferdiagus Rudi Junaedi
Cerpen
FISIKA oh FISIKA
Rian Widagdo
Cerpen
Bau Yang Tidak Pernah Pergi
Yovinus
Cerpen
Porsi yang sudah ditentukan
Aris Setiawan
Cerpen
Bronze
ALE
aelan savory keron lewar
Cerpen
Bronze
Jejak yang Tak Luntur
Ezra Jo
Cerpen
MAS DIMA
Sarjana MIPA
Cerpen
Bronze
Kognisi
Arba Sono
Cerpen
The Moon
Shinta Puspita Sari
Rekomendasi
Cerpen
LEMBAYUNG (Perempuan yang Kupanggil Mama)
Agustia Dzikir Maulani