Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Lelakiku
1
Suka
14,090
Dibaca

Kutarik handle koperku dan langsung menyeretnya keluar dari gedung terminal bandara. Delay membuat pesawat yang kutumpangi menjadi pesawat terakhir yang mendarat di kota ini. Sengaja kupilih penerbangan terakhir dari Jakarta, agar saat tiba disini tubuhku sudah terlalu lelah untuk sekedar mengingat alasanku kembali menjejakkan kaki di kotamu.

Langkahku terhenti di depan sebuah coffee shop yang buka 24 jam. Aroma kopi yang menguar dari dalamnya menghipnotisku seketika. Aku mendesah, teringat betapa kamu membenci minuman yang menjadi favorite-ku. Senyumku terbit begitu saja. Mengenangmu selalu membuat rasaku tumpang tindih, antara rindu dan separuh benci.

Kupilih sebuah kursi di sudut terdekat dari pintu masuk, aku menjadi satu-satunya pengunjung coffee shop bernuansa retro ini. Kulihat seorang pelayan berkulit hitam manis langsung tersenyum sambil membungkuk ke arahku. Dia menarik buku menu dari atas meja kemudian melangkah cepat mendekatiku. Caffé latte dan brownie mix with chocolate chips yang menjadi pilihanku, meskipun sebenarnya aku ingin sekali memesan double espresso tanpa setetes pun cairan gula. Aku sudah bosan dengan segala hal yang serba manis, terlalu banyak kemunafikan di dalamnya, seperti yang kudapati di dirimu.

Pandanganku kembali ke dalam terminal bandara, menyaksikan lalu lalang petugas yang menyeret langkahnya dengan berat. Wajah-wajah mereka tampak begitu lelah, beberapa diantaranya bahkan nyaris seperti Zombie. Aku tersenyum sinis, setidaknya mereka masih lebih hidup daripada aku.

Kutilik jam di pergelangan tangan, masih pukul dua dini hari. Cangkir berisi caffe latte di hadapanku sudah hampir tandas, tetapi sepasang mataku masih juga terasa berat. Sebenarnya aku sudah memesan sebuah kamar hotel yang letaknya tidak jauh dari Pantai Senggigi, hanya saja aku masih ragu untuk menuju kesana. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal di kota ini, menyusupkan seberkas ketakutan akan rasa sakit yang mungkin akan muncul secara berlebihan.

Aku mendengus. Kukerjapkan mataku berkali-kali untuk menghapus kelebatan wajahmu di pelupuk mata. Butuh usaha keras untuk bisa melenyapkan kamu dari pikiranku. Kamu nyaris seperti hantu yang terus saja membayangiku. Lelah rasanya bergelut melawan rindu yang nyatanya sudah menjadi tabu. Kupikir menapaki kembali jejak-jejak masalalu bersamamu akan memudahkanku untuk melepasmu, tetapi sepertinya aku keliru.

***

Aku tahu, kamu pasti menungguku di situ. Duduk bersembunyi di balik tumpukan buku-buku. Jauh dari jangkauan teman-teman mediamu, dan jauh dari jangkauan peserta acara yang mungkin beberapa diantaranya masih akan menanyakan kabarku padamu.

“Manda, gadis kecilku!” Sambutmu dengan senyum yang masih sama seperti dalam ingatanku. "Aku benar-benar kangen kamu!" Tanpa rasa canggung, kamu menarikku ke dalam pelukan. Bodohnya, untuk menolakmu rasanya aku enggan.

“Mari kita bernostalgia, Manda!” Kamu membimbingku ke dalam ruangan tempat acara Lombok Writers and Readers Festival diadakan. Aku mengikuti dengan sedikit segan. Mungkin kamu belum lupa kalau empat tahun lalu, di acara yang sama seperti hari ini, seorang perempuan asing tiba-tiba menyapaku dan memperkenalkan diri sebagai calon istrimu. 

“Tangan kamu gemetar, Manda?” suaramu menggugahku seketika.

“Kamu sakit?” Aku menggeleng. Entahlah, kenangan itu sepertinya telah menimbulkan lubang tersendiri di dalam rongga dadaku. Rasanya begitu menyakitkan. Kuhembuskan napasku yang terasa berat. Entah kenapa pada saat-saat seperti ini justru genggaman tanganmu terasa cukup menguatkan.

“Kamu banyak berubah, Manda!” vonismu ketika kita tiba di Pantai Senggigi, setelah hampir seharian aku menemanimu meliput acara Lombok Writers and Readers Festival. Aku sendiri sebenarnya hanya mengisi acara sekitar satu jam dan selebihnya hanya bernostalgia dengan beberapa teman lama.

“Empat tahun lalu, saat melihat ketegaranmu mendengar perjodohanku, rasanya antara lega bercampur kecewa," Kamu berhenti melangkah dan langsung menjatuhkan diri ke atas pasir. Menatap senja yang muram dibalik Matahari yang mulai tenggelam. Sementara aku masih berdiri sambil bersidekap di belakangmu, menatap lautan luas di depan sana. Lautan yang sama yang pernah menjadi saksi mimpi-mimpi kita. Awal perkenalan kita pun di pantai ini, Fad. Aku yakin kamu belum lupa. Ketika itu aku sedang berlibur bersama teman-teman sekolahku, acara perpisahan SMA, dan kamu sudah menjadi mahasiswa yang sering membolos hanya demi memotret di pantai ini. Aku yang masih terlalu lugu akhirnya menjadi korban objek fotomu sekaligus kegombalanmu waktu itu.

Sorry, saya sudah mengambil fotomu tanpa ijin” katamu dengan senyum tanpa dosa. “Entah kenapa saya tiba-tiba tertarik untuk memotret kamu diantara sekian banyak objek yang ada disini.” Kamu mengedarkan pandangan sekilas. “Seperti magnet!” 

“Manda,” teguranmu mengembalikanku pada realitas. “Apa kamu hidup dengan baik setelah kembali ke Jakarta?”

Aku hanya meringis sebelum ikut menjatuhkan diri di sebelahmu. Mengeluarkan pak rokok dari dalam tas cangklong dan menyulutnya dengan pematik. Kulihat dari sudut mata, kamu tampak mengawasiku dengan sorot mata tajam. “Bukannya kamu sudah berhenti merokok?”

Aku terkekeh sambil menghembuskan kepulan asap pertamaku ke udara. “Hanya demi lelaki yang pernah memintaku untuk berhenti merokok,” tandasku seraya mengerling padamu. “Lelaki yang akhirnya tetap memilih perempuan lain, meskipun aku sudah berhenti merokok.”

Kamu menggeleng-geleng mendengar kalimat sarkastisku dan dengan cepat merampas rokok di sela-sela jariku. Menekan apinya ke atas pasir. “Kenapa dulu kamu tidak memintaku untuk tetap bersamamu, Manda?”

Aku mengangkat bahu acuh tak acuh. Kurebahkan punggungku ke atas pasir, menengadah menatap langit senja yang mulai kemerahan. Sejak dulu aku tidak pernah menyukai senja, Fad. Aku tidak menyukai semburat warnanya yang muram, seperti kisah kita.

“Pergilah, Fad. Biarkan aku sendiri”

Kudengar suara tarikan napasmu yang berat. Alih-alih pergi, kamu justru ikut merebahkan diri di sebelahku. “Aku akan tetap disini, Manda.”

“Istrimu akan membunuhku kalau tahu kamu disini bersamaku!”

“Biarkan saja, aku akan bunuh diri kalau sampai itu terjadi!” Kalimat bodohmu selalu berhasil membuatku tertawa, Fadli. Sesederhana itu kamu bisa membuatku melupakan dosa-dosa masa lalumu.

***

 “Lindiana mengundangmu untuk datang ke rumah kami sebelum kembali ke Jakarta!” Sederet kalimat itu yang kamu ucapkan ketika menemuiku di lobby hotel, aku sedang bersiap check out karena memang tidak berniat menghabiskan waktu lebih lama di kotamu. “Kumohon, Manda…”

Kuhela napas panjang. Sepanjang harapanku untuk bisa melepas segala kenangan tentangmu. Aku sudah terlalu lelah terus membawa semua marah dan sisa cinta yang kusimpan sendirian. Sungguh, aku ingin berdamai dengan diriku sendiri. Aku ingin kembali hidup yang benar-benar hidup. Bukan sekedar hidup seperti yang kujalani selama ini.

Perempuan itu, Baiq Lindiana, yang kini telah menjadi istrimu, menyambutku di depan pintu. Sementara aku, tertegun menyaksikan keindahan rumah yang kamu bangun dengan gaya arsitektur Shoal Bay Bach, rumah pantai di Selandia Baru. Rumah peristirahatan yang menjadi rumah impianku dulu. Rumah impian yang sering kuceritakan padamu.

“Apa kabar, Manda?”

Teguran perempuan itu membuatku terkesiap. Senyumnya tersungging ketika mempersilakanku masuk. Kuikuti langkahnya dengan pandangan mata yang tak bisa lepas menatap setiap detail interior rumahmu yang terbuat dari kayu. Bahkan, pintu geser kacanya pun kamu buat menghadap ke arah pantai sehingga matahari terbit yang memecah langit pagi bisa langsung disaksikan dari sofa bed yang kamu letakkan disana.

“Bagaimana selama di Lombok, Manda?” Suara Lindiana menggugah lamunanku. Dia menyodorkan secangkir teh hangat dan sepiring kue keciput, kue khas Lombok yang bentuknya mirip onde-onde.

“Biasa saja.” jawabku tanpa minat.

“Setahuku, kamu pernah kuliah dan tinggal selama empat tahun lebih disini" dia kembali berbasa basi. Sementara aku semakin malas menanggapi.

“Kupikir Lombok akan seperti rumah kedua bagimu,” Lindiana duduk di sofa tepat di sisi kananmu. “Apalagi beberapa novelmu rata-rata mengambil setting di kota ini...”

Kupikir sikap diamku akan membuatnya berhenti berbicara, tetapi lagi-lagi aku salah. Perempuanmu itu sepertinya suka sekali memancing perkara. “Kudengar, Novel Senja di Ujung Senggigi menjadi novel terakhir yang kamu tulis?”

Kali ini aku benar-benar menggeram dan langsung menoleh padamu. Entah apa yang ada di pikiran Lindiana, dia seperti sengaja ingin menelanjangiku. “Apa kota Jakarta tidak memberimu inspirasi untuk menulis, Manda?”

Pertanyaannya kali ini benar-benar sudah menguras kesabaranku. Demi semesta alam dan segala isinya, apakah kamu tidak pernah mengajarinya bahwa terlalu ikut campur urusan orang lain sangatlah tidak sopan?

“Saya harus pamit,” gumamku bergegas bangkit. “Flight saya satu jam lagi!”

Lindiana ikut bangkit menjajariku. Senyum simpul masih juga terkembang di bibirnya. Aku yang sudah terlalu muak melihatnya langsung berbalik dan melengos pergi.

“Aku antar kamu ke bandara!” suaramu menguntit di belakangku.

“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi!” tolakku tanpa menoleh sedikit pun.

“Tolong, Manda!” Kamu mencekal lenganku dan menarikku menuju jeep putih yang kamu gunakan untuk menjemputku tadi. “Beri aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku!”

Aku menggeleng jengah. “Tidak ada yang salah, Fad! Aku hanya perempuan bodoh yang masih terjebak dalam masalalu!” Kubuka pintu jeep-mu dan menarik koperku keluar. “Sementara kamu sudah bahagia dengan istri dan hidup barumu”

“Manda, please!” Kamu kembali mencekal lenganku hingga terasa sakit. “Kamu pikir aku membangun rumah ini karena apa?”

Aku mengangkat bahu tak peduli. “Aku juga masih mencintaimu, Manda!”

Aku membuang muka, rasanya benar-benar memuakkan mendengar kalimatmu barusan. “Kalau dulu kamu memintaku untuk memilihmu, aku pasti akan menolak perjodohan itu, tetapi kamu memutuskan untuk kembali ke kotamu dan melepasku, apa kamu sudah lupa, Manda?”

Kulepaskan cekalan tanganmu perlahan. “Mungkin kamu tidak tahu, Fad. Perempuan yang memilih pergi itu ingin diperjuangkan, bukan dibiarkan... "

"Shit!" Kulihat kamu menarik rambut pendekmu dengan frustasi sebelum menghantamkan sebuah tinju ke arah jeepmu. “Lalu sekarang aku harus apa, Manda? Apa aku harus meninggalkan Lindiana?”

Aku menggeleng cepat. “Nostalgia kita sudah selesai, Fad! Kali ini aku pergi untuk melepaskan," Kuraih wajahmu dengan kedua telapak tangan. "Terima kasih sudah menjadi bagian terindah di hidupku."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Senior
Mizan Publishing
Novel
Heal A Heart
Jessie YiCha
Novel
Bronze
Terjerat Sugar Baby
Rita Cisan
Novel
Bronze
Kertas Putih
Pasar
Flash
Bronze
dari APRIL
Muhammad Yunus
Flash
Sepucuk Surat Terakhir
MONSEUR
Cerpen
Lelakiku
Tri Wahyuningsih
Novel
Samudera
Annisa Yulianti
Novel
Aksara Lara
Zulfa Laeli Ahlina
Flash
Twilight
Rama Sudeta A
Novel
Gold
Lesap
Falcon Publishing
Novel
Bronze
Delha & Anggara
Edelshia Sallipadang
Cerpen
Bronze
Tatapan dari Lubang Jendela
El falach
Novel
Bronze
Awas Ada Si Bos!
Serenade18
Novel
Bronze
Feel Special
Ntalagewang
Rekomendasi
Cerpen
Lelakiku
Tri Wahyuningsih
Novel
Siluet
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Valentine Untuk Baskara
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Marshmallow Merah Jambu
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Senja di Bontang Kuala
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Euforia Hipokampus
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Siluet
Tri Wahyuningsih
Novel
KULMINASI
Tri Wahyuningsih
Cerpen
Bronze
Rahasia Hati
Tri Wahyuningsih