Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Lelaki Tua di Serambi Makam
0
Suka
18
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator
1

"Apakah kepalamu masih sakit?"

Pertanyaan itu datang dari seorang lelaki tua yang hampir setiap sore duduk di serambi musala, di area pemakaman itu.

Di hadapan lelaki tua itu, secangkir kopi mulai kehilangan uap. Sementara matanya memandang pohon asam yang bergoyang pelan diterpa angin senja.

Sakti mengangguk pelan. Ia menekan pelipisnya yang berdenyut kencang, menahan rasa sakit yang menusuk hingga ke belakang mata.

"Masih, Kek. Migrainnya malah lebih parah dari kemarin. Rasanya seperti ada tali yang mengikat kuat dan mencengkeram isi kepala saya."

Lelaki tua itu tidak segera menjawab. Ia menuangkan sedikit kopi ke tatakan cangkir, membiarkannya mendingin sejenak sebelum disesap.

"Kadang," katanya pelan tanpa menorehkan tatapan, "sakit di kepala itu bukan karena ada yang salah dengan fisikmu. Itu alarm bahwa pikiranmu terlalu penuh memikul beban yang bukan urusanmu. Kau terlalu lelah memikirkan omongan manusia."

Sakti tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir. "Lalu apa yang harus kulakukan agar sakit ini reda?"

"Jangan terburu-buru mencari obat untuk menghilangkannya."

"Lalu apa yang harus kucari di tempat sesunyi ini?"

"Dirimu sendiri. Yang telanjur kau tinggalkan di tengah keramaian."

2

Sudah beberapa hari ini Sakti benar-benar kepayahan. Serangan migrain itu datang tanpa kenal waktu, puncaknya adalah siang tadi ketika ia sedang menunaikan salat. Saat berdiri di rakaat kedua, rasa cengkeraman di kepalanya mendadak menguat, membuat denyut di pelipisnya terasa begitu menyiksa.

Bersamaan dengan rasa sakit yang menusuk itu, sebuah titik hitam muncul di sudut pelupuk matanya. Pandangannya mengabur. Ketika membungkuk untuk rukuk dan turun menuju sujud, dunia di sekitarnya seolah berputar. Sakti terpaksa menahan bobot tubuhnya lebih lama saat bersujud, menekan dahinya ke sejadah demi menyembunyikan tubuhnya yang gemetar menahan nyeri. Titik hitam itu menetap di sana, pekat dan sunyi, bahkan setelah ia mengucapkan salam.

Kondisi ini melempar ingatan Sakti ke masa beberapa tahun lalu, saat ia masih menjadi mahasiswa. Dulu, ia adalah pemuda yang terlalu idealis, seorang pemikir yang selalu memasukkan setiap kritik dan penilaian orang ke dalam hati. Setiap kali ekspektasinya patah oleh realitas, kepalanya akan bereaksi dengan rasa sakit yang sama.

Kini, setelah ia kembali aktif di komunitas, penyakit lama itu kambuh lagi. Lebih intens, dan entah mengapa, terasa lebih mengintimidasi ketenangan jiwanya.

Di tengah rasa frustrasinya menghadapi sakit fisik itu, Sakti teringat sepotong nasihat yang pernah ia dengar dari seorang guru sufi: "Ke mana pun engkau memandang, di sanalah ada tanda-tanda Ilahi."

Kalimat yang dulunya selalu berhasil menenangkan hatinya itu, kini justru terasa seperti cermin yang memantulkan kepedihan. Sakti membatin dalam hati, jika di setiap sudut bumi ini tersimpan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang mendatangkan damai, mengapa orang-orang di dalam komunitasnya justru lebih sibuk mencari-cari celah dan aib sesamanya? Mengapa manusia lebih mahir menciptakan kebisingan daripada menjemput ketenangan?

3

Di dalam komunitas itu, desas-desus bergerak lebih cepat daripada embusan angin.

Sore itu, Sakti berjalan melewati koridor tempat anak-anak komunitas biasa berkumpul. Dari kejauhan, ia melihat beberapa pengurus sedang asyik mengobrol dengan posisi saling mendekat. Namun, begitu langkah kaki Sakti mendekat dan bayangannya tertangkap oleh sudut mata mereka, obrolan itu mendadak terputus. Sunyi yang canggung langsung menyergap selasar.

Sakti memaksakan sebuah senyuman kecil, lalu mengangguk sopan ke arah mereka. Tak ada yang membalas senyuman itu. Mereka hanya menatapnya dengan pandangan dingin, seolah Sakti adalah orang asing yang salah memasuki ruangan. Begitu Sakti berjalan beberapa meter melewati mereka, suara bisikan lirih yang disusul tawa tertahan kembali terdengar di punggungnya.

Seketika itu juga, pelipis Sakti berdenyut hebat. Migrainnya kambuh, menyerang dengan rasa sakit yang menusuk tepat di belakang matanya. Ia mengepalkan tangan di dalam saku celana, mempercepat langkah kaki untuk segera pergi dari sana.

Sakti berusaha meredam pikirannya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin hanya paranoianya yang berlebihan, bahwa mereka mungkin sedang menertawakan hal lain. Namun, hari-hari berikutnya membuktikan hal yang sama. Tatapan-tatapan sinis itu terlalu nyata untuk dianggap ilusi. Seakan-akan ada seseorang yang dengan sangat tekun merangkai cerita bohong tentang dirinya, lalu menyebarkannya dari satu mulut ke mulut yang lain, hingga seluruh anggota komunitas perlahan-lahan mulai menjaga jarak darinya.

4

Dengan kepala yang berdenyut kencang dan batin yang lelah, Sakti kembali menemui lelaki tua di serambi musala makam itu.

"Apakah manusia memang sebahagia itu saat membicarakan keburukan orang lain, Kek?" tanya Sakti. Suaranya terdengar bergetar menahan perih.

Lelaki tua itu tersenyum tipis, matanya tetap menatap lurus ke arah deretan nisan di depan mereka. "Karena membicarakan borok diri sendiri jauh lebih sulit dan menyakitkan, Nak."

"Lalu apa yang harus kulakukan? Kepala saya rasanya mau pecah memikirkan cara untuk meluruskan fitnah mereka."

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan, mengambil sehelai daun kering yang baru saja jatuh di atas lantai serambi, lalu memperlihatkannya kepada Sakti.

"Lihat daun ini. Ketika masih hijau dan melekat di ranting, ia harus mengerahkan seluruh energinya untuk melawan terpaan angin dari segala arah agar tidak robek atau patah. Namun ketika ia gugur, ia berhenti melawan. Ia membiarkan dirinya dibawa angin ke mana saja."

Sakti mengernyitkan dahi, menahan sakit di pelipisnya. "Apa maksud Kakek? Aku harus menyerah begitu saja?"

"Kadang, yang membuat kepalamu migrain bukan karena embusan anginnya," kata lelaki tua itu sambil melepaskan daun itu kembali ke tanah, "melainkan keinginanmu yang keras kepala untuk menentukan dari mana angin harus datang dan ke mana ia harus bertiup. Angin tidak pernah meminta izin pada daun ke mana ia akan berembus."

Sakti tertegun. Kata-kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada rasa sakit di kepalanya. Senja mulai merambat perlahan, menyapukan warna jingga kemerahan di ujung ranting pohon asam.

Pada detik itulah, Sakti menyadari sesuatu. Yang membuat kepalanya sakit selama ini bukanlah bisik-bisik orang di luar sana, melainkan keterikatan egonya yang terlalu besar pada penilaian mereka. Ia terlalu sibuk memikirkan gema suara manusia yang fana, hingga telinganya tuli dan tak lagi mampu mendengar ketenangan yang sejatinya terus memanggil di kedalaman hatinya.

Lelaki tua itu seakan mampu membaca isi kepala Sakti yang mulai tenang.

"Seorang salik," bisik lelaki tua itu lirih, "tidak akan pernah menemukan jalan pulang selama jiwanya lebih sibuk mendengar kebisingan manusia daripada mendengarkan suara keheningan yang menuntunnya kembali kepada Al-Haqq."

Bersamaan dengan kalimat itu, entah mengapa, cengkeraman migrain di kepala Sakti perlahan-lahan mulai mengendur. Untuk pertama kalinya dalam minggu ini, ia bisa menarik napas dengan lapang.

5

Beberapa hari kemudian, kejelasan dari desas-desus itu akhirnya datang. Sore itu, Bram—satu-satunya kawan dari komunitas yang masih sering mengajak Sakti sekadar minum kopi bersama—datang berkunjung ke rumah. Bram adalah tipe orang yang lurus; ia tidak suka ikut campur urusan politik kepengurusan, tetapi ia juga tidak tega melihat Sakti dikucilkan tanpa tahu apa-apa.

Sambil meletakkan helmnya di teras, Bram tersenyum agak canggung. "Sengaja mampir, Sak. Mau memastikan keadaanmu saja. Akhir-akhir ini kamu jarang kelihatan di sekretariat."

Sakti mengajak Bram duduk di kursi teras, lalu menyuguhkan dua gelas air putih. "Ya begitulah, Bram. Kepalaku sering migrain belakangan ini. Jadi lebih banyak istirahat di rumah. Ada kabar apa di luar?"

Bram menghela napas, bersandar pada kursi bambu. Ia menatap Sakti dengan tatapan prihatin. "Sebenarnya, ada obrolan ganjil yang berputar di antara anak-anak komunitas. Beberapa orang mulai meniupkan isu aneh. Katanya, kamu sengaja bikin kubu sendiri di dalam untuk memecah belah. Malah, ada yang menyindir dan menjulukimu paduka sekarang."

Sakti tertegun sejenak. Namun, tidak seperti biasanya di mana kepalanya akan langsung berdenyut nyeri, kali ini sebuah tawa kecil yang santai justru lolos dari bibirnya. "Paduka? Atas dasar apa mereka memanggilku begitu?"

"Ya tidak ada dasarnya," jawab Bram sambil menggeleng heran. "Tapi isunya digulirkan terus di obrolan warung kopi. Ujung-ujungnya, ada kasak-kusuk kalau kamu sudah tidak sejalan lagi dan sebaiknya dikeluarkan saja dari kepengurusan. Biar tidak memengaruhi anggota yang lain, katanya."

"Siapa yang pertama kali melempar omongan itu, Bram?" tanya Sakti tenang. Dadanya sempat berdesir, tetapi ingatan tentang daun kering yang luruh membuat emosinya tetap stabil.

Bram mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu. "Kamu tahu sendiri bagaimana watak orang-orang kita. Tak ada nama, tak ada wajah yang berani bicara langsung di depanmu. Hanya bisikan anonim yang berpindah dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lain. Tiba-tiba sudah jadi cerita yang dianggap benar saja karena diulang-ulang."

Sakti mengangguk perlahan. Di hadapan Bram yang bicara jujur apa adanya, Sakti justru merasa beruntung. Ia menyadari satu hal: bisik-bisik memang hanya hidup di dalam tempurung kepala orang-orang yang terlalu penakut untuk berbicara terang. Dan ia tidak perlu mengotori kepalanya untuk itu.

6

Menjelang magrib, dengan keputusan yang sudah bulat, Sakti kembali duduk di serambi musala.

"Saya ingin pergi, Kek. Saya memutuskan untuk keluar dari komunitas," ucap Sakti memecah kesunyian malam yang mulai turun.

Lelaki tua di sampingnya mengangguk pelan, seolah sudah meramalkan kalimat itu sejak awal. "Pergi karena amarah?"

"Bukan."

"Karena takut menghadapi mereka?"

"Bukan, Kek."

"Lalu karena apa?"

Sakti memandang langit barat yang perlahan memar oleh warna merah keunguan. "Karena saya ingin tetap menjadi manusia. Saya tidak ingin membiarkan diri saya berubah menjadi monster yang penuh dendam dan prasangka seperti mereka."

Lelaki tua itu tersenyum. Sebuah senyuman teduh yang tidak menghakimi siapa pun. "Kalau begitu, pergilah tanpa ragu."

"Apakah dengan pergi berarti saya kalah dan mereka menang?" tanya Sakti lagi, memastikan sisa keraguan di hatinya.

"Tidak ada yang kalah," jawab lelaki tua itu lirih. "Kau hanya sedang belajar membedakan mana jalan yang ramai dan berlumpur oleh riuh suara manusia, dengan jalan sunyi yang diterangi oleh cahaya Tuhan."

Lelaki tua itu kemudian bangkit, berjalan perlahan menjauh ke arah barisan nisan. Sakti berkedip sejenak karena silau oleh lampu musala yang baru saja dinyalakan, dan tiba-tiba saja sosok itu sudah tidak ada. Di hadapannya kini hanya terhampar deretan makam yang diam membisu di bawah lindungan pohon asam yang digoyang angin malam.

Sakti menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu melangkah keluar dari area pemakaman dengan langkah kaki yang mantap.

Kini dadanya terasa lapang, dan keajaiban itu terjadi: cengkeraman migrain yang menyiksanya berhari-hari telah hilang sepenuhnya. Kepalanya terasa ringan. Ia akhirnya paham bahwa racun kehidupan tidak selalu masuk melalui makanan atau minuman yang tercemar. Kadang, ia meresap dengan sangat halus melalui kata-kata buruk yang dipelihara, prasangka yang diwariskan, dan kebencian yang disamarkan sebagai kebenaran.

Di dalam hatinya, Sakti berjanji untuk menjaga benteng pertahanannya. Ia harus menyelamatkan hati, sebab hati yang terus-menerus dikotori oleh gema pujian dan makian makhluk akan sulit menjadi cermin bersih bagi cahaya Al-Haqq.

Bersamaan dengan ketenangan spiritual itu, Sakti menyalakan kembali nalar rasionalnya yang sempat lumpuh oleh kepanikan. Logika yang sehat kini ia jadikan perisai luar untuk memilah mana kritik yang nyata dan mana kepalsuan yang sengaja dirancang untuk menjatuhkannya. Ia tidak lagi peduli pada bisikan di punggungnya. Sambil menatap jalan raya di depannya yang terang oleh lampu-lampu kota, Sakti tersenyum kecil. Ah, inikah lika-liku hidup yang sebenarnya?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Lelaki Tua di Serambi Makam
Best Siallagan
Cerpen
Bronze
Benang Merah Kehidupan
Larasatijingga
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Cerpen
24 Jam
Devi Wulandari
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Cemas
AKKu
Cerpen
Bronze
Hanya Untukmu
mareta amelia
Cerpen
Bronze
Pinjaman
Trippleju
Cerpen
Bronze
Memecat Bos
Ravistara
Cerpen
Bronze
Manusia Dan Mesin
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Baliho
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Syamsul dan Senja yang Jujur
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Setelah Malin Menjadi Batu: Hasnah dan Debur Ombak
Jasma Ryadi
Cerpen
Aku Bersimpuh di Hadapan Kopi yang Tengah Ku Seduh
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Counter Clockwise
Nida C
Rekomendasi
Cerpen
Lelaki Tua di Serambi Makam
Best Siallagan
Novel
Bronze
Telur Dadar Spesial
Best Siallagan
Novel
Suamiku Menikahi Adikku
Best Siallagan
Novel
Reinkarnasi Sang Dokter
Best Siallagan
Flash
Misteri Kematian Besok
Best Siallagan
Cerpen
Catatan Si Gelas Retak
Best Siallagan
Novel
Bronze
Mantan Suami Ingin Rujuk Setelah 3 Tahun Bercerai
Best Siallagan
Cerpen
Bronze
Saya, Ayah dan Waktu
Best Siallagan
Flash
Pria Dalam Lemari
Best Siallagan
Flash
Setitik Noda di Pualam Putih
Best Siallagan