Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Lelaki Penyembah Pink
2
Suka
12
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suara riuh terdengar memenuhi ruangan ini. Para perempuan bersahut-sahutan dengan Boni dan Jono gara-gara perkataan kedua lelaki itu yang merendahkan perempuan.

Mereka terang-terangan mengaku menyukai organ intim perempuan yang berwarna pink. Menurut mereka, warna itu lebih bersih, lebih wangi, dan menarik. Katanya, warna hitam itu jorok, jelek, dan bikin tidak selera.

Entah referensi dari mana yang mereka gunakan, aku sampai bergidik mendengarnya. 

Aku membayangkan betapa renyahnya suara laptop ini ketika menghantam kepala salah satu lelaki yang duduk beberapa kubikel di depanku itu. Namun, aku takut laptop rusak dan bos akan memotong gajiku untuk menggantinya. 

Mereka terbahak-bahak setiap kali mendengar pembelaan para perempuan. Bukannya berhenti, keduanya malah terus mencari celah untuk merendahkan lawan bicara mereka.

Aku menekan tombol-tombol keyboard kuat-kuat hingga menimbulkan suara berisik. Kepalaku sedang pusing memikirkan ide desain produk yang diminta bos, mereka malah membuat gaduh dengan obrolan tidak penting. Kenapa mereka tidak fokus bekerja saja? Aku mengembuskan napas kasar. Mungkin yang duo itu konsumsi saat bayi dulu bukan ASI, tetapi tai. 

"Diam!" Aku menggebrak meja. Suara-suara itu terlalu menusuk telingaku.

Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju padaku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan sebelum membuka mulut.

"Udah, girls! Kita nggak perlu sakit hati atau meributkan pilihan dan selera mereka, kok," kataku.

Boni dan Jono langsung tersenyum puas. Keduanya mengangguk-angguk, seolah baru saja memenangkan sidang. 

"Tuh, kan! Rani yang cantik aja nggak masalah. Kalian aja yang lebay," kata Boni sambil menatap teman-teman perempuanku. 

“Jangan-jangan punya kalian berkerak, berjengger pula,” sahut Jono sambil menunjuk para perempuan dengan gaya mengejek. Tawa mereka semakin keras. 

Teman-temanku mulai menatapku dengan sorot tidak suka. Mungkin mereka bertanya-tanya bagaimana bisa aku membela dua lelaki yang terang-terangan merendahkan perempuan.

Aku mengangkat bahu, memasang wajah polos sebelum kembali bersuara. "Wajar kok kalau mereka maunya yang pink. Soalnya, kan, mereka lahir dari organ intim ibunya yang pink dan wangi itu. Lelaki, kan, memang cenderung mencari yang seperti ibunya. Iya, kan?"

Aku menatap Boni dan Jono bergantian meminta persetujuan dengan raut wajah selugu mungkin. Keduanya terdiam. Ekspresi puas di wajah mereka perlahan berubah menjadi kejengkelan.

Sementara itu, teman-teman perempuanku mulai tertawa. Bahkan, salah seorang dari mereka ikut menimpali.

"Nggak kebayang, se-pink apa punya ibunya sampai anaknya terlahir dengan otak sekopong ini." Tawa para perempuan semakin riuh.

"Bacot lo pada!" ketus Jono. Dia melirikku dengan kesal.

Aku hanya mencebikkan bibir, berpura-pura tidak tahu apa-apa, lalu kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanku.

Ruangan kembali hening. Sesekali terdengar tawa para perempuan yang berusaha mereka tahan. Aku tak peduli. Yang kupikirkan saat ini hanyalah menemukan ide untuk desain produk yang sedang kukerjakan.

Selera tinggi, tetapi tak sadar diri. Coba lihat penampilan mereka sendiri. Seperti tak terurus. Boni, rambutnya kering seperti tak pernah mandi. Jono, wajahnya gersang seperti tanah di musim kemarau. Mereka sangat cocok menjadi saudara, hanya saja beda rahim. Aku tersenyum sendiri, geli membayangkan penampilan mereka.

Ya ampun, pikiran julidku ini! Bukannya memikirkan ide desain, malah sibuk memikirkan dua orang tak penting itu.

Aku menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir bayangan wajah mereka. Otak ini terlalu berharga untuk diisi anomali itu.

"Hus!" gumamku pelan, seperti megusir lalat. 

Jam istirahat, aku melenggang sendirian menuju kantin. Perutku sudah protes sejak tadi. Energiku terkuras hanya untuk memikirkan ide desain, belum lagi ditambah drama Boni dan Jono tadi yang membuat kepalaku semakin penuh. 

"Lupakan semua itu dengan semangkuk bakso dan es teh manis," gumamku, seolah merapal mantra sihir. 

Aku tak perlu menunggu seseorang yang mau menemaniku atau ikut denganku. Sendirian juga tak akan membuatku mati. 

Terdengar suara ketukan sepatu dari belakang yang mendekat ke arahku. "Rani, tunggu!" Aku menghentikan langkah dan menoleh. Dita dan Ema berlari menghampiriku.

"Eh, nggak nyangka lo bisa bikin si Boni sama Jono terdiam kayak tadi," kata Dita, lalu tertawa kecil, mungkin teringat tingkah kedua lelaki itu.

"Iya, kita aja udah jelasin dengan ilmu medis, mereka tetap aja cari celah buat berdebat," sahut Ema. Kami kembali melangkah menuju kantin.

Aku mengembuskan napas. "Ya, ngadepin orang kayak gitu nggak usah pakai ilmu. Otaknya nggak bakal nyampe. Isinya udah penuh sama tai," sahutku.

Dita dan Ema langsung tertawa semakin keras. "Ternyata mulut lo yang ceplas-ceplos itu ada gunanya juga," kata Dita.

"Yeee, emang kapan gue nggak berguna?" balasku. Kami pun kembali tertawa sepanjang perjalanan menuju kantin.

Sesampainya di kantin, kami segera memesan makanan masing-masing lalu mencari tempat duduk. 

“Orang waras pasti tahu kalau warna dan bentuk organ intim tiap perempuan itu bervariasi. Namanya juga tubuh manusia, bukan barang produksi pabrik yang harus seragam. Lagian, sejak kapan ciptaan Tuhan harus mengikuti standar manusia?” kataku sambil menarik kursi kantin. Obrolan kami masih berlanjut tentang hal itu.

"Bener tuh, nggak pernah baca apa gimana sih dua orang itu? Nggak coba cari tahu gitu, minimal searching di internet?" kata Dita.

"Iya, gini hari, era digital, informasi mudah didapat, malah betah dengan ketololan," sahutku. Kami pun kembali tertawa.

Sambil menunggu pesananku datang, aku mengeluarkan ponsel dan berselancar di internet. Sebuah iklan produk perawatan perempuan muncul di layar. Seorang perempuan mengoleskan krim pada selangkangannya yang semula berwarna gelap. Setelahnya, kulit di area itu tampak putih mulus.

Aku melongo, tak habis pikir, perempuan itu begitu totalitas sampai berani mempertontonkan area intimnya demi iklan, atau jangan-jangan rasa malunya memang sudah hilang?

Zaman dulu, iklan krim seperti itu paling banter dioleskan di tangan. Sekarang, selangkangan pun ikut dipamerkan. Memangnya, sejak kapan warna kulit di sana menjadi masalah yang harus diperbaiki?

Ah, apa aku sudah tua? Atau hanya tak bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern?

Namun, rasanya di usia dua puluh sembilan tahun ini, aku masih muda. Meski belum menikah, aku tak merasa tua. Jiwaku masih sama seperti Dita dan Ema, dua juniorku ini, pikirku.

Aku juga tak mengizinkan mereka memanggilku dengan embel-embel "Kak". Maunya dipanggil nama saja, biar berasa sebaya. Hehe.

Aku kembali menatap layar yang belum kugeser itu. Mungkin, inilah salah satu penyebab pikiran bahwa tubuh perempuan harus begini, begitu, tumbuh subur di kepala lelaki seperti Boni dan Jono. Akarnya begitu kuat, bahkan sampai mengalahkan akal sehat mereka untuk mencari kebenaran.

Jangan-jangan, mereka terlalu sering menonton film porno sampai menganggap apa yang mereka lihat di layar sebagai standar tubuh perempuan di dunia nyata. Mereka lupa bahwa apa yang ditampilkan dalam film belum tentu mencerminkan keragaman tubuh perempuan yang sebenarnya.

Aku menghela napas. Mereka hanya mau mengonsumsi konten yang mendukung pemikiran mereka sendiri. Dokter yang sudah bertahun-tahun menuntut ilmu saja tak mau mereka dengarkan, apalagi aku dan perempuan-perempuan biasa di luar sana. Mata mereka telah dibutakan oleh ekspektasi dan imajinasi kotor yang bersarang di kepala mereka. Padahal, ini bukan masalah medis, melainkan standar palsu. 

Aku mematikan ponsel, lalu meletakkannya di atas meja. Ah, sudahlah. Aku tak punya kewajiban meluruskan isi kepala lelaki di dunia ini. Apalagi mereka yang merasa paling tahu, tetapi malas mencari tahu. Biarlah Boni dan Jono tetap menjadi penyembah pink.

Aku dan perempuan-perempuan lain tak perlu ikut tunduk apalagi berguru pada standar itu. Lagi pula, tubuh kami bukan tempat mereka menguji selera, apalagi menentukan mana yang layak dan tidak.

Pesanan bakso akhirnya datang. Setidaknya, masih ada sesuatu yang lebih penting kupikirkan siang ini daripada sekadar warna yang sebenarnya bukan masalah. 

SELESAI

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Lelaki Penyembah Pink
Dara Kirana
Flash
Kesabaran Sang Sosialita
Freya
Flash
Bronze
Hantu koplak
penulis kacangan
Flash
Gema Piano di Rumah Tua
Lukitokarya
Flash
Bronze
Sahwa dan George
Diyah Ayu NH
Flash
Bronze
Lintah Dayat
Setiyarini
Flash
Bronze
Aku lupa besok senin, selasa, rabu, kamis, jumaat, sabtu atau minggu
Okhie vellino erianto
Flash
Bronze
Putri Kami
Rere Valencia
Flash
SHAMPOO
Katangga
Flash
Bronze
Memadu kasih
penulis kacangan
Cerpen
Bronze
Paket xxx
Rizal Syaiful Hidayat
Flash
Mio Yang Tetap Mengeong
Rere Valencia
Flash
Ghina, Ayo Move On!
Yooni SRi
Flash
Perguruan Silat
Nunik Farida
Cerpen
Menunggu Hukuman Mati
Noer Eka
Rekomendasi
Cerpen
Lelaki Penyembah Pink
Dara Kirana
Novel
Bronze
Perempuan yang Memilih Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Aku Sendiri Saja
Dara Kirana
Cerpen
Bapakku Tak Kaya
Dara Kirana
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Cerpen
Semangkuk Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Cinta Tumbuh Dari Dompet
Dara Kirana
Cerpen
Ceker Ayam Favorit Ibu
Dara Kirana
Cerpen
Ibu dan Segala Ocehannya
Dara Kirana
Cerpen
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Dara Kirana
Cerpen
Simfoni Di Dapur Panas
Dara Kirana
Cerpen
Kita Tak Perlu Till Jannah
Dara Kirana
Cerpen
Sepiring Nasi Ikan
Dara Kirana
Cerpen
Selamat Tinggal Cinta
Dara Kirana