Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku selalu gila setiap pagi, meski kau tidak membenarkannya. Sebelum ayam bertelur diiringi dengan matahari yang merangkak di permukaan langit Timur, mataku sudah melotot di depan tabung-tabung reaksi. Cairan senyawa yang berbeda kugabung-gabungkan, menyatukannya menjadi satu warna sebagai percobaan. Aku memiliki sebuah proyek minuman segar, minuman tersebut kuberi label Cairan Kejujuran. Kelak, jika ia terealisasikan, produk akan didistribusikan oleh perusahaan minuman kemasan bergengsi, Aquario di kotamu.
Kau sering datang pulang dan pergi, meninggalkan jejak sepatu bututmu yang berlumpur usai membajak sawah di kampung halaman. Kau menggeraikan rambutmu, tersenyum tipis, kemudian menungguku di laboratorium kesayanganku. Saat aku sedang sibuk dengan gelas ukurku, kau tak pernah mengganggu, meskipun sudah berjam-jam aku tak menyapamu. Hebatnya aku memilikimu, karena kau tak pernah marah, meskipun aku diciptakan menjadi pria berkacamata yang sibuk menekuni penelitian-penelitian tak penting bagimu. Saat ini, aku mendapatkan pekerjaan baru, membuat ramuan kejujuran untuk diperjual belikan di pasar-pasar Internasional.
Hari itu kau duduk di sofa luar laboratorium, mengintipku dari jendela, kemudian melambaikan tanganmu yang berkerut-kerut, bekasmu mensabiti rumput. Kau adalah wanita petani asli yang dikaruniai kecantikan kelas menengah, senyummu indah jika dipadukan dengan senja penjemput malam. Kulitmu memang tak seputih Aktris Korea, namun berkat ramuan kecantikanku yang kubuatkan untukmu setahun yang lalu, kini kau memiliki kulit seputih awan. Meskipun keluargamu sempat tak terima dengan perubahan warna kulit pada fisikmu, mereka menyalahkanku dan nyaris memenjarakanku, kau tetap datang menghampiriku, memberikan segenap rasa dan ide-ide brilianmu kepadaku.
Ya, ketahuilah, Kawan. Aku mampu menjadi Profesor Ramuan Kenyataan di muka bumi ini tersebab dirimu. Aku sering diundang untuk menghadiri seminar-seminar tingkat dunia untuk menjelaskan proses pembuatan Ramuan Kecantikan yang memutihkan kulit, Ramuan Kepandaian yang menandingi kecerdasan komputer, sehingga oleh Perusahaan Elektronik Asing aku diberi kepercayaan menciptakan chip-chip penyimpanan dengan kapasitas besar, menggunakan otakku yang dipikir mereka cerdas. Selain itu aku juga pernah menciptakan Ramuan Penyubur Tanah, sehingga hasil pertanian di dunia ini menjadi melimpah. Hanya saja, ramuan yang kuciptakan sering tak cocok dengan kantong orang-orang awam, seringkali perusahaan menjual produk hasil ramuanku dengan harga yang melambung tinggi. Jadilah, mereka yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
Namun tidak dengan dirimu, kau seorang wanita jenius, bukan lagi cerdas. Meskipun aku berulangkali memberikanmu Ramuan Penyubur secara gratis, kau selalu menolaknya dengan kalimat lembut yang menentramkan.
“Biarlah mereka hidup apa adanya, terkadang campur tangan manusia, membuat keadaaan menjadi lebih buruk, meskipun kenyataannya keuntungan mereka melimpah. Kita tidak akan tahu rencana Tuhan!”
“Bukankah baik jika hasil panenmu tahun ini melimpah?”
“Aku cukup dengan apa yang diberikan Tuhan hari ini, lagi pula untuk apa panenku melimpah jika aku sendiri tak pandai membelanjakan hasilnya? Khawatirnya saat aku mendapatkan hasil yang lebih, aku bodoh dalam menjaganya, hasil panenku bisa saja tergelincir di kantong-kantong manusia yang kurang bertanggungjawab karena diriku lalai, bukan?
“Maksudmu jika kau mendapatkan keuntungan melimpah kau akan lupa?”
“Jika belum pada waktunya, aku harus mengimbangi hasil yang kudapatkan dengan perjuangan yang kulakukan. Hal-hal cepat terkadang tak nikmat, bukankah kau akan membenarkannya?” kau mengedipkan matamu. Saat itu kau sedang membantuku mengambil stempel darah dari mayat-mayat korban bencana gempa bumi di Palau. Kau menusukkan jarum ke tangan mayat yang sedang dikemas ke dalam kantong jenazah.
Aku membenarkan letak masker di hidungku. Engap, ruang penampungan mayat itu berbau busuk. Ratusan mayat tergeletak di setiap sudut ruangan yang hanya berukuran 40 x 50 m, tak cukup luas jika dibandingkan dengan makhluk hidup dan mati yang berada di dalamnya, lebih banyak orang meratap menangisi kekasih, sanak keluarga, atau teman yang meninggalkannya di bumi. Sementara pasukan lalat ikut serta membantu dirimu mengambil stempel darah yang masih basah, bedanya milikmu akan kau bawa pulang ke laboratoriumku, sementara milik mereka dijadikan ramuan pemanjang nyawa.
“Entahlah, aku bingung dengan jalan pikir orang di dunia ini, aku sering mendapatkan proyek untuk membuat ramuan instan, mereka berdalih manusia akan sangat terbantu jika apa yang mereka miliki didapatkan dengan mudah.”
“Mereka hanya berpikir tentang orientasi menumpuk harta benda di dalam pertu sendiri,”
“Hah, kau bisa saja. Tapi menurutku tak ada salahnya juga, aku pernah membuat ramuan penyembuh untuk manusia-manusia difabel, beruntungnya itu sukses, hasilnya kau bisa melihat sendiri di muka bumi ini tak ada orang yang cacat, semuanya cantik-cantik, bisa berjalan, berbicara, mendengar, dan melihat dengan lancar.”
“Ya, tapi jiwa mereka yang cacat! Teknologi dan Ilmu manusia berkembang, tapi mereka tercipta menjadi sosok yang individualis. Kadang aku berpikir lebih baik banyak manusia yang cacat fisik…” kau berhenti sejeneka, memotong kalimatmu untuk mengambil napas, “mereka akan membutuhkan orang lain untuk dapat berinteraksi, hal itu akan menumbuhkan sikap dan karakteristik yang baik bagi jiwa seseorang, setidaknya mereka akan menjadi orang yang saling bantu.”
Maskermu kau lepas, kau merasa sangat engap dengan alat bantu itu. Bau busuk membuat perutmu mual namun kau menahannya.
“Mereka sembuh dengan cara yang cepat, membuat mereka tak bisa mengambil sebuah pelajaran yang bermutu, buat apa bersyukur jika penderitaan berjalan dengan singkat? Manusia akan mudah bersyukur dan terus menunduk, jika cobaan yang dihadapinya berat, takdir menyebutnya sebagai ujian hidup! Manusia butuh proses untuk menjadi baik dan lebih baik, sementara dirimu? Kau mempercepat semuanya, jadilah mereka orang yang lupa dengan kehidupannya sendiri, yang mereka pikirkan adalah bagaimana berpenampilan baik dan menjadi orang yang terpandang baik,”
“Ah, klarifikasimu sangat tepat, tapi jika aku tidak menciptakan itu semua, dari mana aku bisa mendapatkan uang dan tempat tinggal untuk hidup? Kenyataannya hal buruk dan hal baik seperti mata rantai yang selalu terikat, tak bisa dipisahkan, dengan kata lain mereka saling memberikan keuntungan!”
“Ya, kau akan berkata seperti ini karena kau sendiri mendapatkan keuntungan!”
“Namun dalam hidup ini ada satu hal yang membuatku heran,” aku memberi jeda pada kalimatku. Kau menatapku, menghentikan suntikanmu, memasukkan darah-darah mereka ke dalam kantong plastik kemudian meletakkan ke dalam kotak es yang kubawa. Aku menahan kalimatku sampai kau dan aku naik ke pesawat pribadiku.
Aku menyuruh pilot untuk terbang kembali ke kotaku. Mayat dan ribuan bangunan yang roboh di atas tanah retak penuh debu itu kami tinggalkan.
“Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda, ada yang baik, ada yang buruk, ada yang rajin, ada yang malas, ada yang jujur ada yang dipenuhi dengan kebohongan, kau perlu mencampur darah-darah mereka, agar ramuan kejujuranmu tercipta. Sifat manusia telah menyatu pada diri mereka, termasuk pada segala komponen tubuh yang mereka miliki, salah satunya adalah darah mereka! Bahkan manusia bisa saja memiliki sikap seperti binatang jika mereka sering mengkonsumsi binatang secara berlebih, sebab DNA binatang tersebut telah tercampur dengan darahnya. Konklusinya, dengan mencampur beberapa sempel darah manusia, kau akan mendapatkan sebuah kejelasan dari karakter mereka.” Ucapmu ketika lampau lalu aku menjelaskan proyekku tentang Ramuan Kejujuran.
“Apa yang membuatmu heran?”
“Mungkinkah jatuh cintaku padamu instan? Aku tak pernah memberimu ramuan cinta, tapi mengapa dirimu dan diriku tertarik dengan cepat!” kau langsung menimpuk kepalaku.
“ITU PERASAAN!” pandanganmu mendadak dibuang ke luar jendela pesawat. Kau perhatikan gumpalan awan tipis yang menutup permukaan laut. Aku tersenyum tipis dan pura-pura kesakitan.
Selama bertahun-tahun lamanya aku mencari darah manusia yang mau kujadikan sebagai kelinci percobaan, sayangnya aku tak pernah berani menjelaskan maksudku meminta sempel darah mereka. Khawatirnya akan timbul artikel tak mengenakkan di media masa jika itu terjadi. Perintah dari perusahaan proyek ini harus dikerjakan secara rahasia dan sangat hati-hati, karena kelak sasaran konsumennya bukan sembarang manusia.
Beruntung di tahun, 8012 banyak bencana di muka bumi, salah satunya adalah gempa di Palau dan Tsunami di Selat Dasun yang menghubungkan Kota Teban dengan Kota Pumlang, bangunan banyak yang porak-poranda, mobil rusak bercecer di mana-mana, ATM-ATM jebol, uang berhamburan, tiang-tiang listrik ambruk, dan tak ada yang berminat mengamankannya selain menyelamatkan diri dari musibah itu.
Banyak yang sedih atas tragedi tersebut, di sisi lain aku merasa diuntungkan. Mayat-mayat yang tergeletak bisa kujadikan sebagai kelinci percobaan di laboratoriumku. Seminggu pasca terjadinya gempa, ketika Tim Sar masih sibuk mengaduk-aduk tanah dan bangunan yang retak untuk mencari para korban yang tewas, aku terbang ke Palau untuk mencuri sempel darah mereka. Aku pernah ditanya petugas, untuk apa semua sampel darah yang kuambil, “Meneliti DNA Korban.” Maka petugas tak lagi bertanya hal yang lain-lain, mereka menganggap aku adalah seorang dokter.
Pada percobaan pertama, ruang laboratoriumku meledak. Kau kurang hati-hati dalam mencampur zat senyawa dengan beberapa sampel darahnya. Reaksinya menjadi buruk. Aku sudah menjelaskan kepadamu untuk menambahkan CO2 sebagai pengimbang semua zat, namun kau lupa. Beberapa bulan penelitianku kacau, kau sedikit kecewa dengan sikapku yang sering membentakmu, pada akhirnya kau memutuskan pulang ke kotamu. Kau sempat bertemu dengan Presdir Aquario, menjelaskan penelitianku yang berhenti sejenak karena laboratoriumku hancur. Presdir memakluminya, ia memberi bantuan dana untuk memulihkan laboratoriumku.
Kembali kumulai dari pertama. Aku menunggu ada bencana lagi. Sebulan setelah ruanganku berdiri menjadi baru, bencana banjir bandang meluluhlantakkan negara tetangga. Aku mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Aku tak pernah tahu, mengapa Presdir Aquario sangat tertarik dengan proyek tersebut, ia bernafsu sekali dan berharap aku segera berhasil. Seolah-olah Ramuan Kejujuran yang akan aku ciptakan memberikan banyak keuntungan kepadanya. Bahkan ia rela mengeluarkan triliunan dana demi keberhasilan tersebut.
Pada tahun pertama aku gagal, tahun kedua sampai tahun kelima, aku gagal pula. Anehnya dirimu justru berbangga ria, kau tak lagi marah dan kecewa dengan sikapku. Pada tahun keenam, kau sering berkunjung ke tempatku lagi, membawakan serantang nasi lengkap dengan lauk dan pauknya. Kita sering makan bersama.
“Aku percaya bahwa ini akan menjadi proyek terbesar dalam sejarah! Kali ini ramuanmu tidak instan!” katamu dengan mata berbinar-binar. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirmu.
Tahun ke tujuh merupakan tahun yang paling mendebarkan. Aku berhasil menciptakan ramuan yang diinginkan oleh presdir. Sebelumnya aku meminumkan ramuan tersebut kepada anjing peliharaan dan anjing liar. Ada sebuah perbedaan, leher anjing peliharaan berputar. Itu tandanya ia pernah membohongi majikannya. Aku membuat ramuan yang bisa menjadikan leher peminumnya berputar jika melakukan keburukan. Siapa pun, termasuk binatang yang meminum ramuan tersebut, darahnya akan tercampur dengan ramuannya, maka sewaktu-waktu berbuat hal yang melanggar norma hidup dan norma sosial di muka bumi, lehernya akan berputar otomatis.
Perusahaan Aquario puas, ia memberiku uang triliunan juta. Aku senang dan dirimu tambah jatuh cinta padaku. Presdir tak menjelaskan bahwa apa yang ia distribusikan di perusahaannya adalah Ramuan Kejujuran, ia hanya mencampurkan ramuan tersebut pada minuman kemasan yang ia jual ke mall dan pasar-pasar Internasional. Sejak saat itu, kepala manusia banyak yang menghadap ke punggung dengan raut wajah tegang dan dipenuhi ketakutan.
Zaman terus berkembang, ramuan-ramuanku terus kuproduksi, sejauh itu, bodohnya manusia tak mau berpikir, mereka justru menganggap bahwa kejadian itu terjadi secara spontan dan merupakan hal yang alamiah. Mereka tak sadar, bahwa itu terjadi karena minuman kemasan yang mereka tenggak, bahkan karyawan di Perusahaan Aquario banyak yang lehernya berputar ke belakang, mereka pun dipecat masal, Presdir hanya menyisakan orang-orang berleher normal. Penjabat dan oknum-oknum yang duduk di kursi-kursi pelayanan rakyat banyak lehernya yang berputar. Aku tak mau ambil pusing tentang para penjabat, yang jelas pada tahun ke delapan, aku dan dirimu menikah. Aku bertambah cinta padamu, karena lehermu belum pernah menghadap ke belakang, barangkali hanya sedetik.
Magelang, 05 Januari 2019.