Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Setelah Katong menguasai kota Wengker, Tosari diutus untuk menyampaikan pesan pada raja Majapahit, Brawijaya. Tujuannya cuma satu, menyindir raja yang terlena akan pengaruh permaisuri. Ia diperkenakan membawa pasukan gajah sejumlah sembilan ekor. Di samping itu juga, ia diperintahkan untuk mengawal sang putri agar bisa menjalin hubungan erat dalam ikatan pernikahan.
Mereka berjalan ke selatan. Jalur yang dilalui sangatlah terjal dan berbahaya, bahkan untuk ukuran seekor gajah. Puncaknya, salah satu dari hewan tunggangan tersebut sakit akibat menginjak tulang rusuk ular yang mati, di leleng sebuah gunung yang belum terjamah manusia.
“Panglima, bagaimana ini?” tanya seorang prajurit.
“Bawa yang tersisa.
Mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi lereng gunung. Di sana tercium wewangian tumbuhan dan mengira dari bunga yang sangat banyak. Tosari berlari karena ingin mengambil untuk diberikan pada sang putri.
Ternyata mereka salah. Di sana hanya ada tumbuhan daun berduri tanpa ada bunga sedikit pun. Situasai dirasakan berbahaya bagi pasukan, ia segera membabatnya. Lembaran daun itu dikumpulkan pada suatu tempat untuk dibakar. Namun, dia terlambat. Daun tersebut terlanjut dibuat mainan bagian sang putri, sebagaian diberi makan untuk gajah.
“Nona, ini sangat berbahaya. Nanti anda bisa terluka.” Tosari mengambil anyaman yang telah dibuat sang putri.
Karena dimarahi seorang prajurit, putri tersebut tersinggung dan melarikan diri tanpa sepengetahui pengawal.
Tosari dan yang lain menjadi bingung. Mereka menelusuri sepanjang bukit, bahkan sampai di dekat hutan. Sang putri tidak ditemukan juga. Akhirnya mereka berkumpul di tepi sungai dan bermusyawarah.
“Pencarian kita bagi menjadi tiga. Srono, bawa pasukanmu ke selatan mengambil jalur aman dan bawah dua gajah. Untuk Purwo lewati jalur sempit dengan tiga gajah ke utara. Sedangkan aku akan ke timur dengan dua gajah. Kita bertemu lagi di sini, di antara gunung Pandan dan Gajah,” perintah Tosari sambil menunjukkan kedua gunung yang diberi nama atas kesepakatan.
Pasukan tersebut berpisah sesuai dengan yang direncanakan.
Setelah melewati puncak gunung, gajah yang dikendarai Tosari mengalami keanehan. Hewan tersebut tak mau lagi berjalan seperti biasa dan seperti merasa kesakitan. Semula, Tosari bersi keras agar kendaraan tersebut melanjutkan pencarian. Namun, hewan tersebut ambruk tak berdaya di bawah sebuah pohon sawo.
“Panglima, hewan kita kelihatannya kebanyakan makan pandan. Bagaimana kalau kita beristirahat di sini saja,” kata seorang prajurit.
“Keselamatan Putri tidak bisa ditunda. Kalian istirahat dulu, aku sendiri yang akan mencari putri,” kata Tosari.
Lelaki itu menuruni bukit bersama dengan seorang sahabat. Di sana ia melihat ada buah besar yang terlihat enak. Tosari dan sahabatnya mendekat. Namun, mereka dihadap seekor werewolf sebelum menyeberangi sungai.
“Kisana mau kemana?” tanya sang werewolf.
Toran sang sahabat yang sudah tak tahan lagi tergiur buah-buahan memukul werewolf tersebut dengan sekuat tenaga. “Minggir kau!”
Sang werewolf pun membalas pukulan tersebut dengan cakar tangan kiri.
Tosari merespon dengan sebuah keris. Senjata yang dibanggakan itu pahat, ia mengambil kayu sawo. Tangan kirinya menampar werwolf tersebut sekali lagi. Sang werewolf membalasnya dengan sebuah tendangan, Tosari terpental beberapa meter. Begitu juga dengan Toran.
Kekalahan tersebut membuat Tosari dan Todan harus berlari menghindari sang werewolf ke utara. Keduanya sampai di tepi aliran air kecil dan tak tahu harus ke mana. Di seberang dinding jurang terlalu tinggi dan mustahil untuk di daki. Kiri dan kanan banyak pohon bambo yang dihuni ular berbisa. Sedangkan di depan sang werewolf telah sedia untuk menyerang. Senjata juga mereka tak punya. Sudah tidak ada jalan lain kecuali itu menyerah.
“Maafkan kami Kisanak. Kami hanya ingin makan saja dan tidak berniat untuk menyakitimu.” Tosari berlutut untuk meminta ampun.
“Aku larang kalian bukan karena aku pelit. Yang kalian incar tadi buah maja, rasanya sangat pahit. Mari aku antar ke pohon sawo.”
Ternyata sang werwolf berbaik hati menuntun mereka sampai ke sebuah pohon sawo yang rindang. Buahnya besar dan manis. Tosari dan Toran bisa makan sampai puas.
Di saat beristirahat, ia di datangi seorang prajurit yang terluka. Kendaraan yang dinaiki berdarah dan tergeletak di bawah pohon sawo. Tosari langsung menolongnya dengan mmeberi air dan buah yang tersisa.
“Ada apa denganmu, Purwo? Siapa yang melakukan ini?” tanya Tosari.
“Kami mendapati Putri masuk ke wilayah seseorang. Karena mereka tidak mau memberikan Tuan Putri, terpaksa kami lawan. Tapi, mereka memiliki kekuatan sakti dan kami kalah dalam perang. Hanya aku yang bisa ke sini,” jawab Purwo.
Senjata tidak ada, pasukan juga masih berpencar. Hal itu membuat Tosari frustasi. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
“Kisanak, bolehkah kami minta bantuan?” Tosari menatap pada sang werewolf.
“Aku tak mau ikut campur urusan kalian. Silahkan saja berperang sendiri. Tapi aku kenal seorang ahli senjata yang ada di balik gunung kecil tersebut. Di sana kiai Semar tinggal. Mungkin saja beliau mau membantu.” Sang werewolf menunjuk pada sebuah gunung yang tak terlalu tinggi.
Tidak ada pilihan lain buat Tosari. Toran diperintahkan untuk mengantarkan Purwo ke tempat pasukan yang tersisa bertedun. Sedangkan ia sendiri berangkat mencari kiai Semar seperti yang diceritakan sang werewolf.
Sebuah kayu pohon sawo digunakan sebagai senjata cadangan. Tentu juga pedang milik Purwo dibawa sebagai ganti keris yang dipatahkan si werewolf. Jalan yang masih tertutup semat dibersihkan.
Di tengah perjalanan, ia menukan makhluk seperti manusia, tetapi bagian bawah berupa ekor. Warnanya hijau sehingga menyamarkan dari dedaunan di sekitar. Matanya berwarna kucing dengan lensa tajam mematikan. Sesosok makhluk naga tersebut menyerang ahool si kalong besar dengan cepat.
“Wow, sangat menakutkan. Bagaimana aku bisa melawan?” pikir Tosari.
Sebuah rantinng tak sengaja dipatahkan. Perhatian naga yangb sedang makan teralihkan ke Tosari. Serang cepat nan mematikan dilakukan.
Pedang ditebaskan, tak berpengaruh pada makhluk tersebut. Si naga membuka mulut lebar, taring seperti belati beraciun diperlihatkan. Tosari menahan gigitan tersebut dengan batang pohon sawo.
Sudah tidak ada senjata lagi, Tosari mengambil sebuah batu dan dipukulkan apda kepala naga yang sedang terbuka. Makhluk tersebut sedikit pusing dan tidak bisa melepaskan batu yang terlanjur masuk ke dalam mulut. Tosari mengambil pedangnya dan ditusukkan ke kepala naga. Namun, senjata tersebut malah patah, sedangkan si naga sedikit mengalami luka lecet.
Duh Gusti, bagaimana cara membunuh hewan itu?” Tosari berlari secepat mungkin.
Sang naga mengejar, lelaki itu lari secepat yang ia mampu. Kepala terbuka lebar, Tosari meraih sebuah ranting pohon kecil dan bermanuver tajam. Hampir saja pakaiannya mesuk ke dalam mulut naga. Beberapa batu dilemparkan sebelum melarikan diri.
Di tengah dua gunung yang tidak begitu tinggi, Tosari berjumpa lagi dengan si werewolf. Tidak ada waktu untuyk bertanya, ia berlari zigzag menghindari pohon dan semak berduri.
“Tosari, aku baru ingat sesuatu. Kamu masuk ke wilayah naga yang bernama Trenggulun,” kata sang werewolf.
“Mengapa kau tidak bilang tadi tadi?” tanya Tosari yang hampir kehabisan napaskarena berlari jauh.
“Maafkan aku yang lupa memberitahukanmu.”
“Bisakah kamu membantuku?”
Jalur Tosari telah diperhitungkan sang werewolf. Makhluk seperti serigala itu menunggu di atas sebuah batu bagaikan kucing yang bersedia menyerap. Tosari telah lewat, batu besar dilemparkan, tetapi yang mengenai setengah ekor naga hanya karena terlambat sedikit saja.
Perhatian Trenggulun si naga teralihkan ke Sega si werewolf. Makhluk tersebut berbalik arah menyerang dengan mulut besar penuh rasa. Sega menahan dengan kedua cakar. Namun, ia terkena Ayunan ekor yang mematikan. Sang werewolf terpental beberapa meter dan hampir saja terkena ujung kayu yang sangat tajam. Cakar tangan kiri menghentikannya di sebuah pohon.
Trenggulun memegang ekor yang terluka. Di saat itulah kesempatan Sega untuk menyerang. Cakr tangan dan kaki diayunkan secara bergantian. Kadang tertahan, kadang juga mengenai tubuh naga.
Sega menyerang dengan tendangan kaki kiri. Sayang serang tersebut ditahan si naga. Malah dia mendapatkan serangan balik. Mulut beracun terbuka lebar siap menelan kepalanya. Ia menahan sambil mundur sedikit diam sedikit. Ketiadaan kemampuan melihat membuatnya tak tahu arah. Ia terpojopk pada sebuah dinding jurang.
Di saat itulah Tosari datang dengan sebuah pedang cahaya. Tusukan ke bagian kepala naga dilakukan, tetapi tidak bisa tembus dan hanya meninggalkan bekas luka saja. Ia mencobanya berkali kali hingga perhatian si naga beralihkan.
Tenaga pada pegangan kaki melemah, tangan juga tidak menahan serangan naga. Sega mengayunkan kaki dan melepaskan diri dari cengkraman sang naga. Ia berbalik arah menyerang dengan cakar tangan dan kaki.
Serangan pedang cahaya mengurangi kewaspadaan dan metabolisme sang naga. Hal itulah yang membuat Trenggulun kesulitan karena pedang tersebut bercahaya, salah satu kelemahan si naga. Belum lagi werewolf menyerang dari belakang. Ia sudah tak kuat lagi menahan itu dan ambruk di tepi sungai.
“Huh, hampir saja aku mati. Bagaimana kamu menemukan pedang itu?” Sega si werewolf bersandar pada sebuah pohon untuk mengambil napas.
“Aku temukan tergeletak di atas sebuah batu. Karena menarik aku ambil saja. Suatu hari nanti, tempat ini kuberi nama Temon.” Tosari duduk di dekat Sega.
“Kau siapa?”
“Panglima pengawal kerajaan Demak Bintoro, utusan Tuan Katong penguasai baru Wengker yang ditugaskan untuk mengantar Tuan Putri untuk dibawa ke kerajaan Majapahit.”
“Terserah kamu saja.”
Setelah beristirahat, Tosari dan Sega melanjutkan perjalan mengitari gunung kecil yang mereka sepakati dengan nama Ledok alias cekungan karena tinggi gunung itu jauh di bawah yang lain. Sampailah mereka di sebuah pertapaan. Bangunan di sana sangat sederhana, hanya ada satu rumah untuk tempat tinggal. Yang lain tempat entah apa fungsinya.
Pintu rumah diketuk. Sang pemilik rumah pun keluar bersama keluarga. Pakaiannya lengkap seperti guru mereka di pusat kerajaan. Di tangan terdapat sebuah buku tebal.
“Maaf Kisanak, apakah Kiai Semar ada di sini?” tanya Tosari.
“Anda siapa dan apa tujuannya?” tanya balik lelaki tersebut.
“Namaku Tosari dan aku utusan Tuan katong. Kebetulan senjataku rusak dan aku butuhkan itu untuk melawan Brojo yang mencuri Sang Putri.”
“Kamu salah orang. Benar ini petilasan kiai Semar, tapi beliau tidak tinggal di sini. Namaku Kumbul dan di sinilah keluargaku tinggal.”
“Apakah Kisanak bisa membantuku untuk membunuh Brojo?”
“Aku bukankah kesatria sepertimu dan Sega. Aku dulu bersahabat dengan Brojo dan aku tahu senjata yang tepat. Silahkan bawa ini.” Kumbul membawakan sebuah tombak petir dengan ujung seperti keris.
Setelah mendapatkan senjata tersebut, Tosari dan Sega kembali ke pohon sawo, tempat Purwo dan Toran beristirahat. Namun, di sana tidak ada siapapun. Tosari ingat pada pasukan yang ditinggalkan di atas. Ia berniat menuju ke sana dan bertemu dengan pasukan setelah berjalan ratusan meter.
“Panglima, kami sudah siap untuk menyelamatkan Putri. Kapan kita menyerang?” tanya Toran.
“Petarungan nanti akan lama. Sebaiknya kita makan dulu.”
Setelah tenaga terkumpul, mereka berangkat untuk berperang. Gajah yang tersisa disiapkan dengan matang. Strategi gitu pun digunakan.
Serangan pertama pasukan gajah mengobrak -abrik lahan perkebunan Brojo. Hal itu emmbuat sang pemilik marah. Mereka menyerang dari berbagai sisi.
Rencana pertama berhasil, Tosari dan Sega menyergap. Paduan serangan tombak petir dari Tosari dan pedang cahaya dari Sega membuat mereka bisa membabat pasukan tersebut. Tak butuh waktu lama untuk melumpuhkan mereka.
Serangan tersebut menimbulkan cahaya yang sangat menyilaukan. Hal itulah yang memancing Brojo dan pasukannya untuk keluar. Mereka membawa senjata sakti yang jauh lebih kuat.
“Bukankah kau yang dulu bilang menyerah, Sega?” Brojo menuding dengan sebuah gada emas.
“Itu sebelum aku menemukan pedang Serat Kusumo. Kini keadaannya berbeda. Kau tidak bisa menindasku seenaknya.” Sega menendang jauh seorang prajurit yang mendekat.
“Lancang kau!”
Pertarungan dua musuh bebuyutan pun tidak terelakkan. Brojo mengayunkan gada yang begitu besar, sedangkan Sega menahan dengan pedang cahaya. Pertarungan dua senjata sakti pun tidak terelakkan lagi. Mereka saling serang dan bertahan. Energi yang terpancarkan mengakibatkan area di sana menjadi harus dan berantakan.
Meskipun sudah menggunakan pedang sakti, Sega masih kalah melawan Brojo si butho berwajah seram dengan gigi taring tajam. Serangan yang sangat cepat dan mematikan tak bisa mengalahkan Brojo yang sangat buas dan garang. Ia kerap bertahan dan harus mundur akibat serangan tersebut. Sang werewolf harus mundur sampai tersudut.
Tombak petir membuat Tosari menyelesaikan petarungan dengan cepat. Hanya butuh beberapa hempasan senjata membuatnya memenangkan pertarungan tersebut. Ia melihat Sega terdesak, Tosari berlari kencang.
“Rasakan ini Brojo!” teriak lelaki itu sambil melemparkan cahaya petir.
Tentu saja teriakan itu didengarkan Brojo. Reflek yang begitu cepat membuatnya bisa menghindari serangan dan mengarah ke Sega.
Sang werewolf menerima serangan tersebut dengan pedang cahaya. Petir pun dipantulan ke Brojo. Serangan dadakan tersebut tidak bisa dihindari dan mengenai sasaran.
Sekujur tubuh Brojo teras terkena sengatan petir.
Sega tahun cara bekerja kedua senjata tersebut, begitu juga dengan Tosari. Mereka saling melemparkan cahaya. Target utama tepat Brojo. Tosari yang menusukkan petir dari belakang Brojo. Serangan yang terelakkan itu dipantulkan mengenai Brojo. Begitu juga serangan dari pedang cahaya yang terhindarkan. Kadang bisa dipantulkan mengenai Brojo, kadang juga meleset. Malah kadang juga langsung tepat sasaran. Sedangkan serangan dari Brojo sangat jarang mengenai sasaran.
Setelah menerima puluhan kali serangan pantulan, Brojo tak kuat lagi. Lelaki itu bertekuk lutut di hadapan Sega dan Tosari. Gada emas yang selama ini tak terpisah lepas di tangan. Ia hanya bisa berpasrah diri.
“Tujuanku ke sini hanya satu, beritahu di mana Tuan Putri berada.” Tosari mengancam Brojo dengan ujung tombak petir.
“Aku tidak menculik, Putri sendiri yang datang ke sini dan tak mau dipaksa kawin,” kata Brojo.
“Jangan banyak alasan.” Tosari mendekatkan tombak pada leher Brojo.
Di saat itulah muncul sang Putri. Keadaannya terawat dengan baik. Tidak ada satu pun luka di tubuh. Ia terlihat bugar seperti setelah mandi. “Tosari, hentikan itu,” perintahnya.
“Ada apa, Tuan Putri? Mengapa Brojo tak boleh dibunuh?” tanya Tosari.
“Mohon dengarkan aku, Brojo tidak bersalah. Akulah yang datang ke sini untuk lari dari pernikahan. Tolonglah mengerti aku dan kembalilah ke keraton,” kata sang Putri.
“Tuan Putri, kalau aku gagal melaksanakan tugas ini, nyawaku bisa terancam. Sudilah Tuan Putri menyelamatkan nyawa hamba yang rendah ini. Mohon kembalilah dan teruskan perjalanan,” rayu Tosari.
“Pokoknya tidak.” Sang Putri berbalik arah dengan wajah yang cemberut.
Perang telah usai, Brojo dibebaskan tanpa syarat. Namun, mereka masih di sana menantikan sang Putri agar mau ikut. Gadis itu tidak mau walau[pun dibujuk selama beberapa bulan.
Tahun telah berganti, pasukan yang diutus Katong harus segera berangkat. Tosari sang pemimpin rombongan tak beranjak dari sana. Di bawah pohon sawo, ia menatap kediaman Brojo dari jarak jauh. Tekadnya untuk membawa sang Putri begitu kuat dan tidak bisa tergantikan.
“Panglima, kita harus berangkat. Jika tidak kami akan dihukum gantung. Mohon Panglima mengerti keadaan kami,” ucap Toran.
“Maafkan aku, Toran. Aku tidak bisa pergi tanpa Tuan Putri. Aku tidak masalah hilangnya nyawa ini demi Tuan Putri sampai ke Ibukota Majapahit. Tolong sampaikan ini pada tuan dan aku akan selalu menunggu di sini.
Rombongan pasukan itu pun berangkat tanpa sang panglima yang memimpin. Sedangkan Tosari terus menunggu sang putri depanjang waktu, di bawah pohon besar yang bernama sawo.