Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Le...
Dibuka dong Qur'annya...
Jangan main hape terus...
Ibu selalu saja menceramahi Dika di kala baru kembali dari perkuliahan. Belum ada satu jam ia menggulir Instagram, membalas berbagai pesan, dan me-refresh otak yang kian berasap. Respon ibunya hanya mengulangi kalimat yang sama tanpa peduli respon anaknya.
Gerutu menyebalkan tanpa bangkit dari posisinya, Dika terus melanjutkan kesibukan—bermain game, membalas pesan teman, menggulir video Tik Tok dan lainnya. “Apalah ibu ini… Susah banget kayaknya liat anaknya istirahat sebentar.”
Hari demi hari kalimat itu selalu dilontarkan tanpa pernah sekalipun Dika mengiyakan.
***
Le...
Dibuka dong Qur'annya...
Jangan main hape terus...
Kala itu ibu mengirim pesan lewat Whatsapp. Pesan singkat yang hampir sama ketika Dika berada di rumah. Pesan itu diterima pukul 22.49 ketika ia hendak pulang ke rumah karena rapat organisasi tadi yang terlalu lama.
Le...
Dibuka dong Qur'annya...
Jangan main hape terus...
Pesan singkat yang di-forward dari teman sekelasnya secara mendadak.
"Dika, nyokap lu nge-chat gua. Katanya itu.”
Dika menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Kalimat itu terpampang jelas di ruang obrolan WhatsApp
“Le... Dibuka dong Qur'annya... Jangan main hape terus...”
Pesan itu dikirim dari nomor ibu Dika tepat pukul 22.50.
"Nyokap lu kenapa, Dik? Kok tumben nge-chat gua?" tanya temannya, agak heran. “Mana nyuruh baca Qur’an segala. Gua kira bakal nanyain anaknya karena pulang kemaleman.”
Dika tidak menjawab. Tubuhnya mendadak kaku, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung. Di atas motor, tepat di basement parkiran kampus yang sepi dan remang-remang dan motor-motor terbilang hitungan jari, jarak ke pintu keluar sangat begitu jauh.
"Dik? jawab."
Dika menelan ludah yang terasa kesat. Dengan tangan bergetar, ia membuka ponselnya sendiri. Ia mencari kontak ibunya, lalu membuka ruang obrolan mereka. Pesan yang sama, yang ia terima beberapa menit lalu, masih ada di sana.
Satu hal yang membuat Dika begitu mematung. Fakta yang tidak diketahui oleh temannya itu.
Ibu Dika sudah meninggal dunia satu minggu yang lalu.
Ponsel ibunya bahkan disimpan dengan aman di dalam laci meja rias yang terkunci di kamar almarhumah.
Rumah mereka kosong malam ini karena ayah Dika sedang dinas di luar kota.
"Gua... gua balik ya, Pin" pamit Dika terkirim lewat chat Whatsapp. Tanpa menunggu balasan temannya, ia langsung menyalakan mesin motor dan memacu kendaraannya membelah jalanan malam.
Sepanjang jalan, pikiran Dika berkecamuk. Siapa yang memainkan ponsel ibunya? Apakah ada pencuri yang masuk ke rumah? Tapi kenapa pesannya selalu sama? Mengapa kalimat "ceramah" yang biasa ia dengar saat ibunya masih hidup kini terasa begitu mengancam?
Pukul 23.15, Dika tiba di depan rumahnya. Suasana rumah begitu gelap dan sunyi. Pagar besi yang berkarat berderit ngilu saat ia dorong.
Ting.
Ponsel di saku celananya bergetar. Dika merogohnya dengan gemetar.
“Le... Ibu sudah nunggu di dalam kamar. Dibuka dong Qur'annya... Jangan main hape terus…”
Dika menatap pintu depan rumahnya yang tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, ia bisa melihat samar-samar cahaya lampu dari arah kamar ibunya menyala. Padahal, ia ingat betul sebelum berangkat kuliah tadi siang, seluruh lampu di bagian dalam rumah sudah dimatikan.
Dari dalam rumah yang sunyi itu, sayup-sayup terdengar suara ketukan pelan dari balik jendela kamar ibunya.
Dika tersentak bangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi seluruh kaus kuliahnya. Ia menoleh ke sekeliling dengan liar; ia masih berada di sofa ruang tengah rumahnya. Jam dinding menunjukkan pukul 02.15 WIB.
"Mimpi..." Dika mengusap wajahnya yang basah, mencoba meredakan detak jantungnya yang menggila. Ibunya memang sudah meninggal seminggu yang lalu, tapi pesan-pesan WhatsApp di parkiran kampus tadi hanyalah manifestasi dari rasa bersalah yang terkunci di alam bawah sadarnya.
Dika menghembuskan napas lega, namun kelegaannya tidak bertahan lama. Mimpi itu berlalu, tetapi teror psikologis yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kalimat yang awalnya terdengar seperti perhatian biasa seorang ibu kini berubah menjadi gema yang menyiksa batinnya setiap detik.
“Le...
Dibuka dong Qur'annya...
Jangan main hape terus…”
Kalimat itu seperti kaset rusak yang berputar tanpa henti di dalam kepalanya. Setiap kali Dika menyentuh ponselnya untuk memeriksa tugas kuliah, suara lembut namun dingin milik ibunya seolah berbisik tepat di lubang telinganya. Ketika ia membuka Instagram, bayangan wajah ibunya yang kecewa mendadak terlintas di layar, membuat Dika refleks melempar ponselnya ke lantai.
Dika mulai dihantui rasa bersalah yang amat pekat. Ia teringat betapa sering ia mengabaikan ucapan itu saat ibunya masih hidup. Kini, setelah sang ibu tiada, kalimat itu bertransformasi menjadi sebuah kutukan batin.
Tiga hari berlalu, Dika tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, suara ibunya kembali bergema, makin lama makin keras, makin menuntut, dan makin terdengar... marah.
Puncaknya terjadi pada malam keempat. Dika yang sudah sangat kelelahan secara mental, duduk meringkuk di sudut kamarnya. Rumahnya sangat sepi. Ia sengaja mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam laci, berharap bisa mendapatkan ketenangan.
Namun, di tengah keheningan malam yang mencekam itu, Dika mendengar sesuatu yang membuat seluruh darahnya tersirap. Suara bisikan itu terdengar jelas, berasal dari kolong tempat tidurnya yang gelap pekat.
"Le...
Dibuka dong Qur'annya...
Jangan main hape terus…”
Dika menggoyangkan kasur, menepuk berulang secara kasar, menggusah tuk mengusir suara bisikan dari kolong tempat tidur dan meredakan gemuruh di dadanya, ia buru-buru menyalakan ponselnya kembali. Dengan jari gemetar, ia membuka aplikasi YouTube, mencari tayangan ceramah penyejuk hati atau murottal Al-Qur'an—apa saja yang bisa mengusir sunyi yang mencekam ini.
Namun, lingkaran pemuatan (loading) di layar ponselnya berputar tanpa henti. Sinyal di ponsel Dika mendadak hilang total. Indikator di pojok kanan atas layarnya menunjukkan tanda silang.
Di tengah keputusasaan mencari jaringan, jemari Dika secara refleks bolak-balik membuka aplikasi WhatsApp. Ia menyegarkan halaman obrolan berkali-kali, berharap ada satu bar sinyal yang masuk. Saat itulah, matanya tertuju pada sebuah pesan lama yang tertimbun jauh di bawah.
Itu adalah ruang obrolan dengan ibunya dari dua tahun yang lalu.
Di sana, terselip sebuah pesan suara (Voice Note) berdurasi tujuh detik yang belum pernah ia hapus. Jantung Dika berdegup kencang. Kerinduan dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu di dadanya. Dengan tangan yang kian basah oleh keringat dingin, ia memberanikan diri menekan tombol putar.
Suara statis berdesis pelan, disusul suara napas yang sangat familier.
"Le... Dibuka dong Qur'annya... Jangan main hape terus..."
Air mata Dika menetes. Itu benar-benar suara asli ibunya dua tahun lalu. Nada suaranya begitu lembut, penuh kasih sayang, sangat berbeda dengan bisikan dingin yang bergaung di kepalanya akhir-akhir ini. Dika mendekatkan ponsel itu ke telinganya, menangis tersedu-sedu meratapi penyesalannya yang mendalam karena selalu mengabaikan perintah sederhana itu semasa ibunya hidup.
Namun, Voice Note itu belum selesai. Durasi tujuh detik itu masih berjalan.
Tepat di detik kelima, nada suara di dalam rekaman itu mendadak berubah drastis. Suara lembut sang ibu berubah menjadi berat, serak, dan penuh distorsi yang menyakitkan telinga.
"...dibilangin kok susah banget toh, Le?"
Bersamaan dengan berakhirnya VN tersebut, lampu kamar Dika mendadak padam total. Suasana menjadi hitam pekat. Dan dari kegelapan di ujung tempat tidurnya, layar ponsel Dika yang masih menyala samar-samar menerangi sebuah tangan pucat yang perlahan merayap naik dari bawah kasur.
Dika membeku. Seluruh persendiannya seolah terkunci oleh rasa takut yang luar biasa. Tangan pucat dengan kuku-kuku hitam keunguan itu kini telah mencengkeram pinggiran kasurnya.
Dari balik kegelapan kolong tempat tidur, sebuah kepala perlahan muncul. Wajah itu menyerupai ibunya, namun dengan mata yang hitam legam tanpa bagian putih, serta senyum yang menyorok lebar hingga ke batas telinga.
"Le... Ibu dibilangin kok susah banget toh, Le?" sosok itu berbisik. Suaranya kini bukan lagi sekadar bisikan halus, melainkan perpaduan antara suara ibunya yang terdistorsi dan gema parau yang menggetarkan dada Dika.
Seketika itu juga, ponsel di tangan Dika bergetar hebat. Layarnya yang semula mati mendadak menyala terang, menampilkan ribuan pesan WhatsApp yang masuk secara bersamaan dari nomor ibunya. Layar itu terus-menerus memunculkan kalimat yang sama, bergulir begitu cepat seperti air bah: Dibuka dong Qur'annya... Jangan main hape terus... Jangan main hape terus... JANGAN MAIN HAPE TERUS!
Cahaya dari layar ponsel memantulkan bayangan sosok di depan Dika yang mulai merayap naik ke atas kasur, mendekatinya dengan gerakan patah-patah yang mengerikan.
Rasa penyesalan, ketakutan, dan keputusasaan melebur menjadi satu di kepala Dika. Ia sadar, ini bukan sekadar teror hantu biasa. Ini adalah perwujudan dari dosa dan kelalaiannya yang selama ini meremehkan sapaan suci sang ibu demi kesenangan semu di layar kaca.
Dengan sisa tenaga dan keberanian yang tersisa, Dika melempar ponselnya ke lantai hingga layarnya retak seribu. Ia tidak lagi peduli pada benda mati itu.
Sambil menangis histeris di dalam kegelapan, Dika merangkak dengan bertumpu pada kedua lututnya. Tangannya meraba-raba dengan liar ke atas meja belajar di samping kasur. Di antara tumpukan buku kuliah yang tebal, jemarinya menyentuh sebuah permukaan kain beludru yang sangat ia kenal.
Sebuah mushaf Al-Qur'an kecil yang dihadiahkan ibunya saat ia masuk kuliah, yang selama ini hanya menjadi pajangan berdebu.
Dika mendekap erat Al-Qur'an itu ke dadanya. Sosok pucat di hadapannya mendadak berhenti merayap, mengeluarkan suara mendesis yang menyakitkan telinga seperti daging yang terbakar.
"Ibu... Dika minta maaf..." ratap Dika dengan suara parau, air matanya tumpah membasahi sampul mushaf tersebut.
Dika memejamkan mata erat-erat. Di tengah kegelapan batinnya, ia mencoba mengingat ayat-ayat suci yang dulu sering ia lunturkan bersama ibunya setelah magrib. Dengan bibir gemetar, ia mulai melafalkan Ayat Kursi. Pada kalimat pertama, sosok di depannya menjerit melengking, membuat kaca jendela kamar bergetar hebat.
Dika terus mengaji dengan suara yang semakin keras, menembus ketakutannya, menembus pekatnya malam.
Brakk!
Lampu kamar mendadak menyala terang benderang. Suara desisan dan hawa dingin yang mencekam lenyap seketika.
Dika membuka matanya perlahan. Kamarnya kosong. Tidak ada tangan pucat, tidak ada sosok menyeramkan di atas kasurnya. Di lantai, ponselnya tergeletak dengan layar yang mati total—rusak sepenuhnya.
Dika terduduk lemas di lantai, masih mendekap erat Al-Qur'an di dadanya. Kali ini, kepalanya benar-benar porak-poranda. Tidak ada lagi gema kaset rusak yang menyiksanya. Teror itu telah usai, meninggalkan Dika dengan sebuah pertobatan yang terukir dalam di lubuk hatinya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Dika membuka lembaran mushafnya dan mulai mengaji hingga fajar menyingsing.