Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan deras mengguyur setiap rumah di desa, disertai petir yang menyambar, membuat suasana mencekam yang luar biasa. Pohon–pohon yang berdiri tegak, ditumbangkan angin ribut begitu saja. Dahsyatnya sebuah badai membuat penduduk ketakutan. Udara dingin berhembus, menusuk tulang – tulang. Badai telah melanda kawasan ini kurang lebih tiga hari. Kelaparan, persediaan kian menipis. Lebih daripada itu, pertumpahan darah sedang berkelindung tak jauh dari desa. Tak ada seorang pun yang berani pergi mencari persediaan pangan di hutan; mereka takut mati.
Di sebuah rumah kayu kecil, seorang pemuda duduk sila menatap cahaya lilin. Matanya terus memperhatikan nyalanya api kecil, tak ingin menoleh pada apa pun. Tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri pemuda tersebut. “Rasendra lagi apa?” tanya seorang wanita paruh baya. Pemuda yang dipanggil Rasendra itu tak menjawab, seolah dia bisu. “Sudah makan?” Wanita paruh baya itu kembali bertanya, dan seperti tadi Rasendra tidak menjawabnya.
Wanita itu menghembuskan nafas panjang, kesal dengan perlakuan Rasendra. “Lihat ibu kalo sedang berbicara nak!” Meskipun ibunya sedikit menaikkan nada bicara, Rasendra tetap bisu dan terus menatap lilin. Wanita yang menyebutnya ibu, menepuk-nepuk pundak pemuda yang terus diam. Merasa tak dihiraukan, Ibu Rasendra pergi menuju kamar, namun ketika itu terjadi Rasendra membuka mulutnya “ibu tahu? Api di simbolkan sebagai ikatan, harapan, kejujuran, semangat juang dan kegembiraan. Di saat hari jadi kita meniup api lilin untuk meminta sesuatu yang baik dan di saat bersamaan, hari bahagia tersebut, keluarga, teman, semua yang memiliki ikatan dengan kita saat itu, ikut senang dan permainan mengasyikkan membuat kesenangan tiada tara, disertai obrolan bersama kerabat yang hampir lama terputus, terikat kembali.” Rasendra tersenyum kecil.
Rasendra mengambil nafas. “Ibu, apa Rasendra sudah jujur mengutarakan yang tersimpan di hati Rasendra?” Ibu hanya mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang diucapkan anaknya itu. “Itu semua benar isi hati Rasendra saat ini ibu, dan yang dimaksud kejujuran adalah ini. Ketika kita hanya menatap lalu merenungkan semuanya, maka hati tak akan berbohong lagi. Hati itu tak ada yang tahu, kadang kuat, kadang rapuh. Semua itu diakibatkan perasaan yang tak bisa dikendalikan dan sedikitnya tekad. Tapi kebanyakan di luar sana, orang di hantui rasa bimbang dan ketakutan. Rasendra mau tolong mereka semua, melindungi apa yang telah dikatakan Rasendra dan menjadikannya tekad. Desa ini harus begitu, tak boleh ada yang menghancurkannya.” Pemuda itu mengambil lilin lain dan lantas menyalakannya dengan lilin yang ia tatap, lalu memberikannya kepada ibunya. Rasendra beranjak berdiri sembari membawa lilinnya pergi untuk menerangi kamanya yang gelap gulita.
Badai masih berlangsung. Rasendra sedang tiduran di kasur bawah yang hanya memakai alas karpet tipis. Dalam cahaya remang-remang , ia terus melamun. Pikirannya meluas. Banyak hal yang dipikirkannya, termasuk desa tempat kelahirannya di Nutara ini yang sedang dilema perang dan musibah. Tebing bukit, pepohonan lebat, sungai dan air terjun yang jernihnya bukan main serta yang lainnya di daerah Nutara, Rasendra bertekad menghentikan kerusakan perang yang merugikan alam dan ingin melindungi keasrian tanah kelahirannya.
Semakin lama Rasendra melamun, semakin memberat kantuk matanya. Dengan rasa mengantuk yang luar biasa, ia menghentikan lamunannya lalu mendekat ke arah lilin kemudian meniupnya hingga padam tak menyisakan cahaya api yang terang dan hangat lagi.
Awan mendung telah lenyap, tak ada lagi hujan badai. Namun kerusakannya masih meninggalkan jejak. Pohon yang tumbang mengakibat penduduk desa bergotong royong memindahkan pohon tersebut. Hanya orang dewasa, pemuda? Entahlah, mungkin mereka menjelajahi suatu tempat yang selalu dilarang oleh orang tua mereka karena berbahaya dan mereka pergi secara diam-diam tanpa diketahui siapa pun.
Hutan Zaboza. Hutan yang membentang luas seolah tak berujung, pepohonannya yang menjulang tinggi, daun-daun bergemeresik setiap kali angin berhembus, seolah menyimpan rahasia yang tak terucap. Di bawahnya, hamparan rerumputan hijau subur menyelimuti tanah dengan kelembutan alami. Rasendra dan temanya sedang berlomba, siapa yang cepat sampai ke tebing bukit Zolan, ia menang. Yang kalah? Hukumannya adalah rol depan menuruni turunan bukit.
Rasendra melesat bagaikan seekor kuda. Kaki tanpa alas apa pun itu, sudah erlatih dengan sangat baik di alam bebas. Tak usah diragukan, penduduk desa menjuluki Rasendra sebagai “Tenaga Kuda.” Belum ada satu pun yang mampu mengimbanginya. Tubuh gesit dan langkah kaki yang cepat serta medan lintasan balapan yang telah dikuasai, membuat Rasendra menang telak. Bahkan di dalam perlombaan, ia menyempatkan meloncat ke pohon untuk mengambil buah persik.
Rasendra dan temannya yang setengah mati mengejar si Kaki Kuda akhirnya sampai di sebuah tempat sangat indah. Jurang Boza. Pemandangan yang sangat memanjakan penglihatan, semuanya terlihat, desa tempat kelahiran kedua pemuda tersebut nampak terlihat kecil dari atas tebing, aliran sungai biru yang membentang panjang, air terjun yang indah dan deras alirannya, membawa kecintaan pada alam. Rasendra dan temannya duduk di sebuah baru besar sembari memakan buah yang mereka petik tak jauh dari tempat mereka duduk.
Di tengah-tengah menikmati keindahan alam, teman Rasendra membuka pembicaraan. “Sen, apakah alam yang kita berdua lihat ini akan terus ada?” Rasendra menatap temannya, ia melihat ekspresi temannya yang begitu sangat menginginkan menyayangi tanah kelahirannya. “Tentu saja, aku akan melindungi semua ini. Semuanya. Perang yang sedang terjadi akan kuhentikan, orang-orang perusak alam pun akan aku usir mereka.” Temannya tersenyum lebar.
“Begitulah kamu Sen, optimis dan bertekad kuat. Bagai api yang membara, semangatmu tak akan mudah padam kecuali melihat sendiri sesuatu yang berharga lenyap tanpa jejak sedikit pun.” Rasendra masih menatap temannya.
Tak lama ia menepuk pundak temannya. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku sudah berjanji kan? Jadi jangan terlalu banyak memikirkannya.” ujar Rasendra.
“Sudah, ayo kita pulang. Matahari sudah semakin naik, orang tua kita nanti curiga kalo kita gak ada di desa.” Rasendra kembali menepuk temannya, namun pundak sebelahnya lagi kini ikut di tepuk.
Kedua pemuda tersebut beranjak pergi pulang. Di tengah perjalanan mereka melihat sekumpulan burung yang bersinggah di pepohonan. “Lihat! Itu ada burung jalak, kenari dan pipit. Kenapa mereka berkumpul dalam satu lingkup ya?” tanya teman Rasendra.
Rasendra hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, tak berselang lama ia mengomentari pertanyaan temannya. “Alam itu penuh pertanyaan, kita diperintahkan untuk mencari tahu. Tiada jawaban tanpa soalan, Tiada kedewasaan tanpa kekanak-kanakan, itulah pelajaran hidup yang di sebut keingintahuan atau ilmu pengetahuan.”
Teman Rasendra ternganga, ia sangat terkesima. “Wah, Sen kamu bijak banget.” Rasendra tersenyum angkuh, “Ah, tidak jug........”, Sebelum selesai berbicara, tiba-tiba tanah terguncang, suara ledakan, kebulan asap hitam terlihat dan nyaringnya bunyi teriakan yang kedua pemuda itu dengar. Rasendra dan temannya panik, mereka bergegas menuju ke desa rumah mereka.
Janggela yang hijau daunnya mulai terbakar oleh si jago merah, kepulan asap hitam mulai menyebar ke seluruh penjuru. Hewan-hewan tunggang langgang keluar dari hutan Dengan sisa tenaga Rasendra dan temannya berhasil menuju desa.
Mata mereka membulat besar, kaget dengan pemandangan yang ada dihadapan mereka. Jago api melahap desa. "Radri, bukan kah tadi desa kita damai?" ujar Rasendra. Radri berlutut lemas, ekspresi wajahnya sudah tak bisa dibohongi. Sedih dan putus asa.
Pagi itu, langit kelam menggelayuti desa Boza yang porak-poranda. Rasendra dan Radri terus menggiring para. penduduk yang selamat, meski kelelahan sudah merasuk dalam tubuh mereka. Hanya nyala api dari hutan yang terbakar yang menerangi perjalanan. Setiap langkah terasa berat, tetapi Rasendra berusaha menyembunyikan rasa letih demi menenangkan orang-orang di sekitarnya.
Saat mereka tiba di bukit Boza, desa yang mereka tinggalkan tampak seperti bara api di kejauhan. Satu per satu penduduk yang selamat mulai berkumpul, menciptakan lingkaran kecil untuk menenangkan diri. Radri terdiam dengan pandangan kosong, terpaku pada nyala api yang menyala jauh di bawah sana. Rasendra menarik napas panjang, membiarkan embusan angin malam mengalir dalam pikirannya. la menyadari bahwa penderitaan ini bukan hanya milik mereka. Ada banyak desa lain yang bernasib sama karena kekejaman para penjajah. Kesedihan itu bertransformasi menjadi tekad yang membara dalam hatinya
Hari berganti malam dan kobaran api mulai padam. Di tengah malam yang sunyi, Rasendra mendekati Radri yang duduk termenung di atas batu besar. Radri mendongak dan menatap sahabatnya dengan mata yang penuh ketidakpastian. "Kau tahu, Dri?" Rasendra berbicara dengan nada lirih namun penuh keyakinan. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil tanah ini tanpa perlawanan. Ini tanah kelahiran kita, tanah yang menghidupi kita." Radri menelan ludah, menunduk sebelum akhirnya membalas dengan nada cemas. "Sen, kau benar-benar ingin melawan mereka? Lihatlah apa yang mereka lakukan pada desa kita. Mereka bukan manusia biasa, mereka kejam dan tidak berperikemanusiaan." "Justru karena itu, kita tidak boleh berdiam diri," ujar Rasendra tegas. "Aku akan bertarung demi negeri ini. Lindungi negeri ini, karena ini adalah tanah air kita, dan negeri ini akan menjadi kuburan mereka.".
Radri terdiam, namun kata-kata Rasendra berhasil menyulut kembali semangat yang sempat pudar di hatinya. Mereka pun mengumpulkan beberapa pemuda yang masih sanggup bertarung dan mulai merancang strategi. Tak ada senjata mewah, hanya tombak-tombak kayu, batu, dan segala yang bisa mereka temukan di alam sekitar.
Fajar mulai menyingsing ketika mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa. Para penjajah masih berkeliaran, mencari penduduk yang selamat atau barang-barang berharga yang tersisa. Rasendra dan para pemuda bersembunyi di balik pepohonan, menunggu momen yang tepat.
Dengan aba-aba, Rasendra memberi isyarat, dan mereka mulai bergerak perlahan. Seorang penjajah yang memegang obor di depannya tampak terkejut ketika tombak Rasendra menembus dadanya, membuat obornya jatuh dan memadamkan nyala api "Kuburan kalian ada di sini! teriak Rasendra lantang. "Ini tanah air kami, dan kami tidak akan menyerah!" Perlawanan kecil itu memicu kekacauan di antara para penjajah. Mereka terkejut dan tidak menyangka bahwa penduduk desa berani melawan. Rasendra memimpin pertempuran dengan keberanian yang luar biasa, meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding para penjajah.
Setiap kali seorang penjajah terjatuh, semangat para pemuda semakin membara. Namun, mereka pun menyadari bahwa kekuatan mereka semakin berkurang. Satu per satu dari mereka mulai terluka, termasuk Radri yang terjatuh karena terkena serangan tombak musuh. Rasendra segera menghampiri Radri, mengangkatnya dan memintanya untuk mundur.
Namun, Radri bersikeras untuk tetap bertarung. "Aku tidak akan mundur, Sen. Jika ini akhir dari perjalanan kita, biarlah kita mati bersama untuk negeri ini." Namun, pada saat itu, sebuah pukulan keras mengenai tubuh Rasendra, membuatnya terjatuh. la menoleh, melihat bahwa para penjajah yang tersisa mengelilingi mereka, menyeringai dengan kejam.
Dengan napas tersengal, Rasendra masih berusaha bangkit. Dalam pikirannya, ia teringat pada desa yang dulu damai, pada harapan dan kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama keluarganya. Bayangan tersebut memberikan kekuatan terakhir baginya. la berdiri, meski tubuhnya penuh luka, dan menerjang ke arah musuh terakhir yang berdiri di hadapannya.
"Lindungi negeri ini, lindungi tanah air tercinta!" serunya lagi sebelum akhirnya tubuhnya terhantam oleh senjata musuh, membuatnya terkapar di tanah. Radri yang melihat kejadian itu berteriak histeris, memanggil nama sahabatnya. Tetapi, saat ia hendak menghampiri, ia pun terjatuh karena luka yang dideritanya. Pandangannya mulai kabur, dan air mata mengalir di wajahnya saat ia menyadari bahwa sahabat terbaiknya telah pergi.
Ketika para penjajah akhirnya pergi, meninggalkan desa yang telah mereka hancurkan, pagi yang dingin menyelimuti tanah Boza. Penduduk yang selamat berjalan pelan menuju tempat di mana Rasendra dan Radri terbaring. Mereka mendapati tubuh Rasendra yang sudah tak bernyawa, namun dengan senyum kecil di wajahnya, seolah menunjukkan bahwa ia pergi dengan penuh kebanggaan karena berhasil mempertahankan tanah kelahirannya.
Radri, meski masih hidup, terbaring lemah dengan luka yang cukup parah. Dalam hati, ia bersumpah bahwa ia akan melanjutkan perjuangan sahabatnya. la tahu bahwa Rasendra telah berjuang bukan hanya untuk desanya, tetapi juga untuk seluruh negeri ini. Warisan semangat Rasendra kini ada di pundaknya.
Para penduduk desa berlutut, mengheningkan cipta untuk mengenang perjuangan Rasendra. Mereka merasa kehilangan sosok pemuda yang begitu mencintai desanya, yang rela mengorbankan nyawa demi melindungi keasrian alam dan tanah kelahirannya. Dari tempatnya yang tinggi di bukit Boza, Radri menatap desa yang porak-poranda. Meski kesedihan menyelimuti hatinya, la merasa bahwa keinginan dan impian Rasendra untuk menjaga desa akan terus hidup dalam dirinya. Langit perlahan cerah, dan matahari pagi yang mulai muncul eakan menjadi tanda bahwa harapan masih ada, bahwa perjuangan Rasendra takkan sia-sia.
Dalam keheningan pagi itu, Radri berjanji dalam hati bahwa ia akan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh sahabatnya. .
---
Di tengah pulang abu-abu, bayangan Rasendra terasa hadir bersama mereka. Seakan angin senja yang berembus lembut membisikkan pesan abadi, semangatnya membekas dalam jiwa yang tersisa. Meski raganya telah tiada, kehadirannya tetap abadi dalam setiap langkah yang mereka tapaki.
Langkah mereka perlahan namun pasti, mengiringi senja yang meredup di ujung cakrawala. Radri berjalan paling depan, menatap lurus ke depan seolah pandangannya menembus masa yang belum terwujud, masa depan yang diimpikan Rasendra untuk mereka semua, sebuah masa penuh kedamaian yang lahir dari pengorbanan tanpa pamrih.
Di antara reruntuhan bangunan yang berserakan, Radri berhenti. Matanya tertuju pada satu titik yang hanya dia pahami—mungkin tempat di mana Rasendra menghembuskan napas terakhir, menitipkan cita dan harapan yang kini menjadi amanah bagi mereka. Di sana, di tengah kesunyian senja yang kian gelap, mereka berdiri dalam hening. Wajah-wajah mereka menunduk, memberikan penghormatan terakhir tanpa suara, hanya lewat doa yang terucap dalam hati masing-masing.
"Di sinilah dia," bisik Radri, suaranya nyaris hilang dalam hembusan angin.
Dalam keheningan itu, setiap dari mereka merasakan kehadiran Rasendra. Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan rasa kehilangan ini. Mereka tahu, Rasendra telah pergi, tapi semangatnya tetap hidup. Ia meninggalkan warisan yang lebih berharga daripada harta apa pun di dunia ini: ia meninggalkan sebuah semangat, keberanian untuk menghadapi apa pun demi mereka yang tercinta.
Radri, dengan mata yang berkaca-kaca, mengangkat wajahnya dan berkata, “Kita tidak boleh mengecewakan Rasendra. Ia telah memberikan hidupnya demi kita. Sekarang, tugas kita adalah melanjutkan perjuangannya.”
Kata-kata Radri menggema di hati mereka. Satu per satu, mereka berdiri, dengan tekad yang baru. Rasa duka yang tadi menyesak, perlahan berubah menjadi kobaran semangat. Mereka berjanji dalam hati, bahwa perjuangan Rasendra akan mereka lanjutkan, tak peduli seberapa panjang dan berat jalan di depan.
---
Saat malam tiba dan bintang mulai memercikkan cahayanya di langit kelam, mereka kembali ke desa. Langit yang gelap dengan bulan sabit yang redup seakan ikut berkabung, mengiringi langkah mereka yang letih tapi penuh makna. Di udara yang dingin, abu sisa-sisa pertempuran masih melayang, menjadi saksi bisu dari kenangan yang tak mungkin pudar.
Di lapangan desa, mereka berkumpul, tempat di mana Rasendra sering berbicara penuh semangat dan memberikan harapan pada mereka yang ragu. Semua mata kini tertuju pada Radri, sosok yang sekarang menjadi harapan mereka, menggantikan posisi yang Rasendra tinggalkan.
"Kita telah melihat sendiri," ujar Radri dengan suara tenang namun tegas, "betapa mahalnya harga yang harus kita bayar untuk bertahan. Kita kehilangan banyak hal, tapi yang paling berharga adalah kita masih memiliki satu sama lain."
Dia berhenti, matanya menyapu setiap wajah yang menatapnya penuh harapan. "Rasendra telah memberikan hidupnya demi kita. Maka, jangan biarkan pengorbanannya berlalu tanpa arti."
Kata-katanya seperti air di gurun, mengalir dan menyegarkan semangat yang mulai layu. Di balik wajah-wajah yang lelah, terlihat secercah harapan yang kembali menyala. Mereka saling berbisik, saling menyemangati, lalu mulai bergerak, mengumpulkan kayu, memperbaiki rumah yang roboh, menata ulang puing-puing yang berserakan. Mereka ingin menunjukkan kepada Rasendra bahwa perjuangan ini akan terus berlanjut, bahwa api yang telah ia nyalakan akan terus mereka jaga.
Malam semakin larut, tetapi semangat mereka justru semakin berkobar. Di tengah keramaian itu, Radri berdiri di sudut lapangan, memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Meski terlihat lelah, ada binar kebanggaan dalam matanya, sebuah kebanggaan bahwa ia bukan berdiri sendiri.
---
Hari demi hari bergulir, desa mereka perlahan bangkit dari abu kehancuran. Rumah-rumah mulai berdiri kembali, anak-anak berlarian, tertawa dengan ceria yang tulus, dan orang tua mulai tersenyum melihat desa mereka kembali pulih, seperti seutas pelangi yang hadir setelah badai panjang. Meski demikian, tak ada satu pun yang melupakan jasa Rasendra. Dalam setiap senyuman dan kebahagiaan, mereka selalu mengenang pengorbanan sahabat mereka.
Di sebuah malam peringatan, tepat setahun sejak kepergian Rasendra, mereka berkumpul lagi di lapangan desa. Di bawah cahaya bulan yang pucat, mereka berdoa, memanjatkan syukur dan memohon kekuatan. Radri berdiri di tengah, menyalakan sebuah lilin kecil, lalu berkata dengan lembut, “Api ini adalah semangat Rasendra, yang akan terus hidup di hati kita.”
Satu per satu, mereka menyalakan lilin masing-masing dari api kecil itu, hingga lapangan pun dipenuhi cahaya. Dalam hening yang penuh haru, mereka berjalan ke arah makam Rasendra, meletakkan lilin-lilin itu di sana. Mereka sadar, bahwa walau mereka tak lagi bisa melihat wajahnya atau mendengar suaranya, Rasendra tetap hadir dalam jiwa mereka—dalam semangat yang tak akan pernah padam.
Di bawah cahaya lilin yang berkelap-kelip, mereka berjanji lagi dalam hati bahwa perjuangan Rasendra tidak akan berakhir. Mereka akan melanjutkan langkahnya, akan menjaga desa ini, dan akan merawat satu sama lain, demi masa depan yang Rasendra impikan.
---
Di malam yang hening itu, mereka berjanji bahwa semangat Rasendra akan terus menyala dalam setiap langkah mereka. Bahwa lilin-lilin kecil yang mereka nyalakan malam ini adalah simbol dari keberanian, cinta, dan pengorbanan yang abadi—cahaya yang akan menuntun mereka, meski jalan di depan masih penuh tantangan dan misteri dan di setiap paginya, penduduk desa akan membabati rumput gajah agar jalan yang selalu di lewati oleh Rasendra terus terjaga dan juga memudahkan para penduduk desa mencari sumber daya alam yang melimpah.
---
Beberapa tahun berlalu. Radri terduduk di sebuah batu yang biasa ia dan Rasendra duduki setiap bermain ke dekat tebing bukit Boza. Pemuda itu, telah tumbuh menjadi dewasa, ia menatap desa tanah kelahirannya yang telah berubah menjadi sebuah kota. Mata Radri menatap langit, mengingat semua yang terjadi saat Rasendra masih hidup. Tak lama suara seorang gadis kecil memanggilnya “Ayah? Kenapa ayah di sini sendiri? Bukannya tadi ayah mau pergi ke toilet?” tanya anak gadis tersebut.
Radri tersenyum kepada anaknya. “Putri ayah, ayah kesini untuk mengenang semuanya, dahulu tempat ini sangat indah, pohon-pohon lebat dan sungai jernih yang mengalir deras, hingga pemandangan air terjun yang indah menjadi pelengkapnya.”
Radri menepuk pundak anak gadisnya. “Kau tahu anakku, Lazuardi yang kita lihat menyimpan banyak kenangan, meskipun kita yang sudah berubah, Lazuardi akan tetap sama warnanya dan masih menyimpan semua itu.”
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya ke kanan, “Maksud ayah apa?”, Radri tersenyum lagi dan kini ditambah tawa kecil, “ Maksud ayah, langit biru yang kita lihat selalu menyimpan banyak kenangan, di saat kita bermain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan, bahkan kenangan pahit pun bisa ikut tersimpan. Sebisa mungkin ingatlah itu semua anakku dan jika bisa, lindungilah apa yang berharga bagimu.”
“Aku tidak mengerti ayah.” ujar gadis kecil tersebut. “Dahulu ini adalah tempat di mana ayah dan teman ayah bermain, kami selalu bersama, membahas apa yang berharga dan penting bagi tanah kelahiran ayah ini. Tapi kini semua itu tinggal kenangan.” Anak gadis itu malah semakin bingung.
“Sudah, ayo kita pulang, ibu pasti sudah menunggu di rumah.” Ajakan itu di balas dengan anggukan yang gembira. Dalam hati Radri, ia berakata “Lihatlah Sen! Tanah kelahiran kita sudah menjadi sebuah kota degan alam yang masih terjaga. Langit biru ini dan hutan ini akan menjadi saksi bahwa dahulu tempat ini memiliki cerita yang takkan terlupakan oleh orang-orang yang lahir di sini dan masih hidup seperti aku.” Radri dan anaknya pergi dengan mobilnya melewati langit bitu yang membentang di Nutara, menuju rumahnya.