Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namaku Rachel, seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibi yang tidak memiliki anak. sebenarnya mereka punya, hanya tidak mengingatnya saja, bagaimana bisa? Kemana anak itu sekarang? Tentu bisa, dan hanya aku yang mengingatnya. Tapi jika kau bertanya tentang keberadaannya sekarang, Aku pun tak tahu harus menjawab apa.
Ceritanya berawal 7 tahun lalu saat ia berusia 15 tahun, dihari itu, paman mengajaknya berlayar ke kota pelabuhan terdekat. Untuk apa? Untuk membeli kebutuhan hidup kami. Akan ku jelaskan sedikit, pamanku bekerja sebagai penjaga mercusuar, sementara ayah dan ibuku adalah perwira yang sering ditugaskan di daerah penuh konflik, mereka hanya akan mengunjungi ku satu bulan sekali, ayah setiap hari kamis di awal bulan dan ibu pada hari senin di pekan terakhir.
Sementara di hari-hari lain hanya ada paman yang terkadang mengunjungiku, memastikan aku makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak. Hingga di suatu senin pekan terakhir, beberapa hari setelah ayah gugur dalam tugasnya, paman datang membawa berita serupa, kapal ibu yang hendak berlayar kemari tiba-tiba mendapat serangan tak terduga yang menewaskan seluruh penumpangnya. Tapi sebenarnya aku yakin ibu masih hidup di suatu tempat.
Atas kebaikan hati paman, ia membawaku yang saat itu berusia 6 tahun ke rumah mercusuar. Disanalah aku bertemu anaknya, Raul. Coba pikirkan saja olehmu, tinggal di tengah samudera tanpa satu pun teman kecuali seorang anak laki-laki yang selalu perhatian padamu.
Ia adalah sosok yang selalu ku impikan dalam sepinya hidupku selama ini, Raul tak akan beranjak dari kamarku saat aku sakit, tak akan berhenti membujuk ku saat aku menangis, dan tak akan berhenti membacakan buku hingga aku bosan. terlepas dari hubungan darah yang masih mengikat kami, Aku menyukainya.
Hari itu, Raul mendobrak pintu kamarku sepulangnya ia dari kota pelabuhan. Dia bercerita padaku tentang sesuatu yang menurutmu mustahil, putri duyung.
“Apa kau tau Rachel? Rambutnya bergelombang dan kulitnya bersinar ditimpa sinar senja”
Begitu bersemangat ia menceritakan putri duyung pada malam itu. Sementara aku hanya menatap dan mendengarkannya.
Terlepas dari benar tidaknya apa yang ia saksikan sendiri, aku menyukai ekspresinya yang seperti itu, terlihat bersemangat dengan senyum menawan.
Hal itu terus terjadi setiap Raul berlayar ke kota pelabuhan, malam hari ia menemuiku, antusias menceritakan pertemuannya dengan putri duyung. Ceritanya selalu sama, putri duyung yang cantik tapi tak pernah bicara.
Sejak hari itu, aku juga mulai membaca beberapa buku koleksi bibi yang mungkin dapat menjawab sedikit rasa penasaran ku.
Di kali kesekian Raul berlayar, wajahnya terlihat lesu, tidak ada sorot mata penuh antusias yang selalu dibawanya sepulang berlayar. Saat ku coba untuk mendekatinya, Raul tersenyum hangat sambil berkata
“Putri duyung tidak muncul hari ini Rachel”.
Lihatlah, Raul tetap tetap tersenyum menatapku tanpa kehadiran kata putri duyung dari mulutnya.
Tapi aku lebih suka senyum antusias karena putri duyung yang ia perlihatkan setiap pulang berlayar. Meski antusiasme itu bukan untukku, tapi putri duyung tidak melihat wajah senyum berseri nya saat bercerita dihadapanku. Biarlah putri duyung terus muncul hingga aku bosan mendengar ceritanya dari Raul.
Di satu malam, bibi meminta Raul untuk menyalakan lampu mercusuar bagi kapal-kapal yang akan lewat. Aku yang selesai dengan tugas dan makan malam naik ke kamarku untuk beristirahat. Dari jendela kamar aku dapat melihat Raul yang berada di menara, sinar lampunya beberapa kali mampir di kamarku.
Mataku tak beralih dari sosok Raul yang berdiri mengamati laut, mengapa ia tak kunjung turun?. Dan malam itu entah mengapa rasanya mataku tak ingin lepas dari Raul. Tiba-tiba Raul terlihat menuruni menara dengan tergesa-gesa, begitu cepat bayangnya pergi dari pengawasan ku.
Bayangan kecil Raul berhenti di depan pintu menara, menghadap Laut dibentengi batu karang, langkahnya mengarah kesana, dan di ujung batu karang, terlihatlah olehku sosok yang membuatku menyaksikan senyum indah Raul, putri duyung.
Meski tak nampak jelas olehku, namun purnama yang menyiramnya mengisyaratkan keindahan yang sebenarnya. Terpaku tubuhku sejenak, benar-benar di luar kendal ikuti hingga kewarasan kembali menghampiri.
Jika aku yang hanya menatap dari kejauhan saja dapat tersihir akan keelokan nya, bagaimana dengan Raul yang berdiri disana?, bagaimana dengan Raul yang selalu menyaksikan dari dekat betapa menawannya sang putri duyung?.
Tubuh Raul yang berdiri, perlahan membungkuk, mencoba lebih dekat pada sosok putri duyung. Suara apa ini?, begitu pelan, menawan, sayup-sayup terdengar seperti nyanyian. Apa ini nyanyian putri duyung?.
Di salah satu buku milik bibi yang telah kubaca, pernah ada kisah tentang putri duyung. Putri duyung hidup sendirian di tengah samudera, tidak ada kapal yang melewati wilayahnya, mereka lebih baik memutar daripada harus singgah di perairan tempat putri duyung tinggal. Hingga suatu hari seorang pemuda mengarahkan kapalnya kesana, putri duyung yang kesepian merasa gembira dengan kehadiran pemuda tersebut, sang pemuda pun nampak senang bertemu putri duyung.
Begitu senangnya putri duyung membuat ia serakah, pemuda itu tidak boleh pergi, putri duyung tidak mau kembali dalam kesendirian, ikan ikan kecil tidak mampu menghiburnya, hanya pemuda itu. Maka putri duyung pun membujuk pemuda itu dengan nyanyiannya, dan tanpa sadar sang pemuda terbujuk dalam kidung yang menawan itu, mengikuti putri duyung yang membawanya masuk lebih dalam, lenyap, menyisakan kapal yang kosong.
Bisa kurasakan betapa tak berdayanya pemuda dalam cerita terhadap alunan putri duyung. Sementara aku yang hanya berdiri di kejauhan tak dapat melakukan sesuatu melihat tubuh Raul yang perlahan masuk ke air. Masuk ke dalam air? Ya. Raul telah terbuai dalam lantunan merdu putri duyung. Sama seperti pemuda dalam cerita, sama sepertiku, Raul terbelenggu oleh alunan magis milik sang putri samudera.
Kedua pipiku basah menyadari tubuh Raul yang telah menghilang, jantungku seakan pergi dari tubuh, apa yang kulakukan? Seharusnya aku menghampiri Raul dan membawanya pulang, tapi aku terkunci dalam ketidakberdayaan. Benar-benar sebuah alunan magis milik putri samudera.
Dan pada akhirnya, hanya aku yang masih mengingat keberadaan Raul diantara kami, karena aku menyaksikan kepergiannya dalam belenggu laut biru.
Setelah apa yang terjadi malam itu, tidak ada yang mengenal siapa Raul, bibi berusaha menenangkanku yang histeris. Ia mendekapku dalam pelukannya, dan dalam lirih aku bertanya
“Bibi, benarkah kalian tidak mengingat Raul barang sedikitpun? “
Masih terdapat harapan dalam kalimat ku.
Tetapi bibi hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun, hal yang membuatku menangis lebih dalam tanpa suara.
Kini, seorang Raul hanya ada dalam ingatanku, tanpa seorang pun selain aku yang akan mengingatnya. Dia hilang, lenyap tanpa diketahui kemana perginya, namun kutahu, bahwa laut telah membawanya.